Maksud Khutbah
Artikel ini bertujuan untuk mengingatkan umat Islam agar selalu mensyukuri nikmat Allah SWT dan menjauhi sifat tamak, karena syukur akan membawa kebahagiaan, ketenangan batin, dan penambahan nikmat, sedangkan tamak akan menyebabkan keresahan dan merusak hubungan serta kehormatan diri.
Poin Penting
1. Dampak buruk tamak dan kurang syukur: Menghilangkan ketenangan batin, merusak hubungan dengan orang lain, dan membuat terjebak dalam rasa tidak cukup.
2. Kewajiban bersyukur: Syukur adalah bukti keimanan dan pengakuan atas karunia Allah; nikmat seperti kesehatan, keluarga rukun, dan rezeki halal adalah anugerah yang tak ternilai.
3. Ayat Al-Qur'an tentang syukur: QS Ibrahim [14]:7 menyatakan bahwa orang yang bersyukur akan diberi tambahan nikmat, sedangkan yang mengingkari akan mendapatkan azab pedih.
4. Hadits tentang keberuntungan: Orang yang masuk Islam, diberi rezeki cukup, dan merasa puas dengan apa yang diberikan adalah orang yang beruntung (HR Muslim).
5. Penjelasan Imam Ibnul Jauzi: Aflaha berarti beruntung/selamat, kafaf adalah rezeki yang mencukupi, dan qana'ah adalah ridha serta meninggalkan kerakusan.
6. Pesan tentang kekayaan sejati: Kekayaan bukanlah banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa dengan rasa cukup dan syukur (HR Bukhari dan Muslim).
7. Penjelasan Imam Nawawi: Kekayaan yang terpuji adalah lapangnya jiwa dan sedikitnya tamak; orang yang terus mengejar tambahan tidak memiliki kekayaan sejati.
8. Ajakan akhir: Merawat jiwa dengan syukur dan qana'ah, menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, dan tidak diperbudak oleh keinginan yang tak berujung
ENGLISH
GREED
Purpose of the Sermon
This article aims to remind Muslims to always be grateful for the blessings of Allah SWT and avoid the trait of greed. For gratitude brings happiness, inner peace, and an increase in blessings, while greed causes distress and damages relationships as well as one's dignity.
Key Points
1. Harmful effects of greed and lack of gratitude: Eliminates inner peace, damages relationships with others, and traps one in a feeling of never being satisfied.
2. Obligation of gratitude: Gratitude is proof of faith and an acknowledgment of Allah's blessings. Blessings such as good health, harmonious family, and lawful sustenance are invaluable gifts.
3. Qur'anic verse about gratitude: Surah Ibrahim [14]:7 states that those who are grateful will be given additional blessings, while those who deny (Allah's blessings) will face severe punishment.
4. Hadith about good fortune: A person who embraces Islam, is provided with sufficient sustenance, and is content with what is given is fortunate (HR Muslim).
5. Explanation by Imam Ibnul Jauzi: Aflaha means fortunate/safe, kafaf refers to sufficient sustenance, and qana'ah is contentment and refraining from greed.
6. Message about true wealth: Wealth is not about having abundant possessions, but rather wealth of the soul through contentment and gratitude (HR Bukhari and Muslim).
7. Explanation by Imam Nawawi: Praiseworthy wealth is a broad soul and little greed. Those who constantly seek to acquire more do not possess true wealth.
8. Final appeal: Nurture the soul with gratitude and qana'ah, accept Allah's decree with an open heart, and do not be enslaved by endless desires
DALIL
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS Ibrahim, [14]: 7)
Meaning, '(Remember) when your Lord proclaimed, "Indeed, if you are grateful, I will surely increase you in favor; but if you deny (My favors), indeed, My punishment is severe indeed." ' (QS Ibrahim [14]: 7)
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah membuatnya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim)
Meaning, 'Indeed, fortunate is the one who embraces Islam, is given sufficient provision, and Allah makes them content with what has been given to them.' (HR Muslim)
بِمَعْنَى فَازَ وَنَجَا، وَالْكَفَافُ مَا كَفَّ عَنِ الْاِحْتِيَاجِ وَكَفَى، وَالْقَنَاعَةُ الرِّضَا بِالْكَفَافِ وَتَرْكُ الشَّرَهِ إِلىَ الْاِزْدِيَادِ
Artinya, “Maknanya adalah frasa aflaha berarti beruntung dan selamat. Kafaf adalah sesuatu yang menutupi dari kebutuhan dan mencukupi. Sedangkan qana’ah adalah ridha terhadap kecukupan dan meninggalkan kerakusan untuk menambah lebih banyak"
"Meaning, 'The meaning is that the phrase "aflaha" means fortunate and safe. "Kafaf" refers to something that covers [one's] needs and is sufficient. Meanwhile, "qana’ah" is contentment with sufficiency and leaving behind greed to acquire more"
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةَ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Meaning, 'The meaning is that the phrase "aflaha" means fortunate and safe. "Kafaf" refers to something that covers [one's] needs and is sufficient. Meanwhile, "qana’ah" is contentment with sufficiency and leaving behind greed to acquire more"
وَمَعْنَى الْحَدِيْثِ: الْغِنَى الْمَحْمُوْدُ غِنَى النَّفْسِ وَشَبَعُهَا وَقِلَّةُ حِرْصِهَا لاَ كَثْرَةُ الْمَالِ مَعَ الْحِرْصِ عَلىَ الزِّيَادَةِ لِأَنَّ مَنْ كَانَ طَالِبًا لِلزِّيَادَةِ لَمْ يَسْتَغْنِ بِمَا مَعَهُ فَلَيْسَ لَهُ غِنًى
Artinya, “Maksud hadits: kekayaan yang terpuji adalah kekayaan jiwa, kenyang-nya jiwa, dan sedikitnya rasa rakus. Bukan banyaknya harta disertai ambisi untuk terus menambah, karena siapa saja yang terus mengejar tambahan maka ia tidak akan merasa cukup dengan apa yang ada padanya, maka ia tidak memiliki kekayaan yang sejati"
Meaning of the hadith: Praiseworthy wealth is the wealth of the soul, the contentment of the soul, and little greed. It is not the abundance of possessions accompanied by ambition to keep acquiring more, because whoever keeps striving for more will never be satisfied with what they have, thus they do not possess true wealth"