SESAJEN HARAM
1. Pro Kontra Sesajen: Muncul karena sebagian aliran Islam mengharamkannya dengan tuduhan musyrik dan bid’ah, tanpa membedakan antara syariat agama dan budaya lokal.
2. Sejarah Sesajen: Sudah ada di Nusantara sebelum masuknya agama-agama besar, dan hingga kini masih digunakan sebagai bagian dari acara atau pesta.
3. Definisi dan Bentuk Sesajen: Merupakan hidangan makanan/minuman, bisa berupa masakan nusantara (nasi tumpeng, ayam ingkung, klepon, dll.), makanan impor Barat yang diadaptasi menjadi halal, atau hidangan khas Arab. Bisa disajikan dalam berbagai wadah dan bentuk susunan.
4. Pesan Utama: Jangan langsung menghukumi sesajen sebagai haram hanya karena bentuk atau sebutannya. Halal-haramnya makanan ditentukan oleh agama (Al-Qur’an, Hadits, Ijma, Qiyas), sedangkan bentuk kreasi makanan merupakan bagian dari budaya manusia. Orang yang menyantap sesajen umumnya hanya merasa kenyang dan bersyukur kepada Allah, bukan berbuat syirik.
5. Contoh Kasus: Penolakan terhadap klepon yang bahan-bahannya seluruhnya halal dianggap tidak masuk akal, mengingat banyak makanan lain yang juga tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW namun tetap dikonsumsi
ENGLISH
SESAJEN IS FORBIDDEN
1. Debates on Sesajen: Arise because some Islamic schools of thought prohibit it, accusing it of being polytheistic and an innovation (bid’ah), without distinguishing between religious law and local culture.
2. History of Sesajen: Has existed in the Nusantara (Indonesian archipelago) before the arrival of major religions, and is still used today as part of events or celebrations.
3. Definition and Forms of Sesajen: Refers to food and drink offerings. It can include Nusantara dishes (such as tumpeng rice, ingkung chicken, klepon, etc.), Western imported foods adapted to be halal, or traditional Arab dishes. It can be served in various containers and arrangements.
4. Main Message: Do not immediately judge sesajen as forbidden solely based on its form or name. The permissibility (halal) or prohibition (haram) of food is determined by religion (Al-Qur’an, Hadith, Ijma, Qiyas), while the creative presentation of food is part of human culture. People who consume sesajen generally only feel full and grateful to Allah, rather than committing polytheism.
5. Case Example: The rejection of klepon—whose ingredients are entirely halal—is considered unreasonable, considering many other foods that also did not exist during the time of the Prophet Muhammad SAW are still consumed