Senin, 02 Februari 2026

MENJAGA SANAD

SANAD

Poin Penting Mengenai Pemerintahan Sanad
 
1. Kegiatan Nasyrussanad telah berjalan selama 13 hari dan berhasil diselesaikan dengan lancar. Kegiatan ini berfokus pada ngaji kitab Shahih Bukhari dan Muslim, yang merupakan warisan keilmuan dari pendiri Pesantren Tebuireng KH. Hasyim Asy’ari.
2. Tradisi Ngaji Kitab Hadis sudah ada sejak masa KH. Hasyim Asy’ari, yang biasa melaksanakannya pada bulan Ramadan. Dahulu proses ngaji bisa berlangsung lebih dari satu bulan karena meliputi penjelasan mendalam, bahkan terkadang membutuhkan dua kali Ramadan untuk menyelesaikan kitab Bukhari.
3. Fokus Saat Ini lebih pada penyambungan sanad keilmuan. Santri dan kiai di masing-masing pesantren sudah belajar secara mandiri, sehingga forum Nasyrussanad digunakan untuk memastikan kesinambungan sanad dari guru ke murid.
4. Perubahan Pelaksanaan terjadi seiring waktu: dahulu santri pulang menjelang Idulfitri atau bahkan tidak pulang sama sekali, kini libur dimulai sekitar tanggal 17 Ramadan sehingga pengajian harus dimulai lebih awal. Meskipun demikian, nilai dan semangat tradisi tetap dipertahankan.
5. Inisiasi dan Jejaring program Nasyrussanad berasal dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) atas arahan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf. Saat ini telah ada 52 pesantren yang terhubung dalam jaringan sanad, dengan harapan dapat terus diperluas hingga seluruh Indonesia.
6. Tujuan Utama dari pemeliharaan sanad adalah untuk menyambungkan keilmuan hingga kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta menjaga tradisi baik sesuai prinsip al-muhafadhah ‘ala al-qadimi ash-shalih

ENGLISH

SANAD
 
Key Points Regarding the Preservation of Sanad
 
1. The Nasyrussanad activity has been running for 13 days and was successfully completed smoothly. This activity focuses on studying the Shahih Bukhari and Muslim books, which are the scholarly heritage of KH. Hasyim Asy’ari, the founder of Tebuireng Islamic Boarding School.
2. The tradition of studying hadith books has existed since the time of KH. Hasyim Asy’ari, who usually carried it out during the month of Ramadan. In the past, the study process could take more than a month because it included in-depth explanations, and sometimes even required two Ramadan periods to complete the Bukhari book.
3. The current focus is more on the continuation of scholarly sanad. Students (santri) and Islamic scholars (kiai) in each boarding school already study independently, so the Nasyrussanad forum is used to ensure the continuity of sanad from teacher to student.
4. Changes in implementation have occurred over time: in the past, students went home close to Eid al-Fitr or even did not go home at all; now, holidays start around the 17th of Ramadan, so the study sessions must begin earlier. Nevertheless, the values and spirit of the tradition are still maintained.
5. The Nasyrussanad program was initiated and networked by Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) under the direction of the General Chairman of PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf. Currently, 52 Islamic boarding schools are connected in the sanad network, with the hope that it can continue to be expanded throughout Indonesia.
6. The main purpose of preserving sanad is to connect knowledge back to the Prophet Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, as well as to maintain good traditions in accordance with the principle of al-muhafadhah ‘ala al-qadimi ash-shalih (preserving good old traditions)