Latest Posts

Sabtu, 16 Mei 2026


MEMAHAMI LAFAZ مِنَّا (MINNA)
 
Dalam ilmu Nahwu, lafaz مِنَّا (minna) terbentuk dari penggabungan dua kata dasar, yaitu مِنْ (min) dan نَا (nā).
 
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai arti, proses pembentukan, dan perbedaannya dengan lafaz lain:
 
 
 
Arti Kata
 
Secara bahasa, مِنَّا (minna) memiliki arti "dari kami" atau "dari kita".
 
 
 
Proses Pembentukan Lafaz
 
- Asal kata: مِنْ + نَا (min + nā)
- Proses perubahan: Ketika huruf Nun sukun (ْن) pada kata min bertemu dengan huruf Nun berharakat (نَ) pada kata nā, maka kedua huruf tersebut dileburkan (idgham).
- Hasil akhir: Ditulis dengan tanda tasydid menjadi مِنَّا (minna).
 
 
 
Perbedaan Penting
 
Harap berhati-hati agar tidak tertukar dengan lafaz yang memiliki tulisan mirip namun berbeda harakat dan makna:
 
1. مِنَّا (Minna)
 
- Terbentuk dari gabungan kata.
- Artinya: "Dari kami / dari kita".
 
2. مِنَ (Mina)
 
- Hanya terdiri dari Harf Jar min yang berubah harakat sukunnya menjadi fathah.
- Perubahan ini terjadi untuk menghindari pertemuan dua sukun saat bertemu kata yang diawali Alif Lam (contoh: مِنَ اللهِ - minallahi).
- Artinya: Hanya "dari" (from).
 
 
 
Catatan: Penjelasan mengenai contoh kalimat "Minal" yang terdapat pada naskah asli merupakan materi tambahan yang terpisah, namun kuncinya adalah: gunakan "Minal" jika kata setelahnya ber-ال, dan "Min" jika tidak ber-ال

PERBEDAAN مِنَّا (MINNÂ) DAN مِنَ (MINA)
 
Dalam mempelajari Bahasa Arab, seringkali kita menemukan kata-kata yang memiliki kemiripan bunyi namun makna dan cara bacanya berbeda. Salah satu contoh yang paling sering membingungkan adalah perbedaan antara مِنَّا dan مِنَ.
 
Perbedaan utamanya terletak pada harakat huruf Nun dan fungsi tata bahasanya (Nahwu). Berikut adalah penjelasan ringkasnya:
 
 
 
1. مِنَّا (Minnâ)
 
Ciri: Nun Bertasydid + Alif
 
- Arti: Dari kami / dari kita.
- Komponen: Merupakan gabungan dari kata مِنْ (dari) dan kata ganti نَا (kami/kita).
- Kaedah Nahwu: Huruf Nun pada kata min melebur (idgham) dengan Nun pada kata ganti na. Karena itu, bacaan wajib dipanjangkan (mad) sebanyak dua harakat.
 
 
 
2. مِنَ (Mina)
 
Ciri: Nun Berharakat Fathah Pendek
 
- Arti: Dari.
- Komponen: Murni merupakan kata depan/hurf jar مِنْ.
- Kaedah Nahwu: Aslinya huruf Nun berharakat sukun (mati). Namun, jika setelahnya terdapat kata yang diawali oleh Alif Lam (ال), maka harakat Nun diubah menjadi fathah. Hal ini dilakukan untuk menghindari bertemunya dua sukun (iltiqa as-sakainain), sehingga dibaca pendek.- Contoh: مِنَ الْمَسْجِدِ (Dari masjid).
 
 
 
Kesimpulan
 
Secara singkat, jika Anda melihat tulisan مِنَّا dengan tasydid dan alif, artinya "dari kami/kita" dan dibaca panjang. Sedangkan مِنَ dengan fathah biasa, artinya "dari" dan dibaca pendek karena bertemu dengan kata berawalan Al

ENGLISH

UNDERSTANDING THE WORD مِنَّا (MINNA)
 
In the science of Nahwu (Arabic Grammar), the word مِنَّا (minna) is formed by combining two basic words: مِنْ (min) and نَا (nā).
 
Here is the complete explanation regarding its meaning, formation process, and how to distinguish it from similar words:
 
 
 
Meaning
 
Literally, مِنَّا (minna) means "from us".
 
 
 
Formation Process
 
- Original words: مِنْ + نَا (min + nā)
- Change process: When the Sukun Nun (ْن) from min meets the Vowel Nun (نَ) from nā, the two letters are merged (idgham).
- Final result: It is written with a Tasydid (double letter) becoming مِنَّا (minna).
 
 
 
Important Distinction
 
Be careful not to confuse it with words that look similar but have different vowels and meanings:
 
1. مِنَّا (Minna)
 
- Formed by combining two words.
- Meaning: "From us".
 
2. مِنَ (Mina)
 
- It is simply the preposition min whose Sukun vowel changes to Fathah.
- This change occurs to avoid meeting two Sukun letters when followed by a word starting with Alif Lam (Example: مِنَ اللهِ - minallahi).
- Meaning: Simply "from".
 
 
 
Note: The explanation regarding "Minal" examples in the original text is separate material. The key rule is: use "Minal" if the following word has ال, and use "Min" if it does not

THE DIFFERENCE BETWEEN مِنَّا (MINNÂ) AND مِنَ (MINA)
 
When learning Arabic, we often encounter words that sound similar but have different meanings and pronunciations. One common example that often causes confusion is the difference between مِنَّا and مِنَ.
 
The main difference lies in the vowel marks (harakat) of the letter Nun and their grammatical functions (Nahwu). Here is a brief explanation:
 
 
 
1. مِنَّا (Minnâ)
 
Characteristics: Nun with Tashdid (double letter) + Alif
 
- Meaning: From us.
- Structure: It is a combination of the preposition مِنْ (min, meaning "from") and the pronoun نَا (na, meaning "us/our").
- Grammar Rule (Nahwu): The letter Nun from min merges (idgham) with the letter Nun from the pronoun na. Therefore, the pronunciation must be elongated (mad) for two vowel counts.
 
 
 
2. مِنَ (Mina)
 
Characteristics: Nun with a short Fathah vowel
 
- Meaning: From.
- Structure: It is purely the original preposition مِنْ.
- Grammar Rule (Nahwu): Originally, the letter Nun has a Sukun (silent/mute) vowel (مِنْ). However, if it is followed by a word beginning with Alif Lam (ال - "the"), the vowel changes to Fathah (مِنَ). This rule is applied to avoid meeting two silent letters (iltiqa as-sakainain), so it is pronounced short.- Example: مِنَ الْمَسْجِدِ (Minal-masjidi) - From the mosque.
 
 
 
Conclusion
 
In short:
 
- If you see مِنَّا with Tashdid and Alif, it means "from us" and is read long.
- If you see مِنَ with a regular Fathah, it means "from" and is read short because it is followed by a word starting with Al (ال)

NAHWU 2


MEMAHAMI LAFAZ مِنَّا (MINNA)
 
Dalam ilmu Nahwu, lafaz مِنَّا (minna) terbentuk dari penggabungan dua kata dasar, yaitu مِنْ (min) dan نَا (nā).
 
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai arti, proses pembentukan, dan perbedaannya dengan lafaz lain:
 
 
 
Arti Kata
 
Secara bahasa, مِنَّا (minna) memiliki arti "dari kami" atau "dari kita".
 
 
 
Proses Pembentukan Lafaz
 
- Asal kata: مِنْ + نَا (min + nā)
- Proses perubahan: Ketika huruf Nun sukun (ْن) pada kata min bertemu dengan huruf Nun berharakat (نَ) pada kata nā, maka kedua huruf tersebut dileburkan (idgham).
- Hasil akhir: Ditulis dengan tanda tasydid menjadi مِنَّا (minna).
 
 
 
Perbedaan Penting
 
Harap berhati-hati agar tidak tertukar dengan lafaz yang memiliki tulisan mirip namun berbeda harakat dan makna:
 
1. مِنَّا (Minna)
 
- Terbentuk dari gabungan kata.
- Artinya: "Dari kami / dari kita".
 
2. مِنَ (Mina)
 
- Hanya terdiri dari Harf Jar min yang berubah harakat sukunnya menjadi fathah.
- Perubahan ini terjadi untuk menghindari pertemuan dua sukun saat bertemu kata yang diawali Alif Lam (contoh: مِنَ اللهِ - minallahi).
- Artinya: Hanya "dari" (from).
 
 
 
Catatan: Penjelasan mengenai contoh kalimat "Minal" yang terdapat pada naskah asli merupakan materi tambahan yang terpisah, namun kuncinya adalah: gunakan "Minal" jika kata setelahnya ber-ال, dan "Min" jika tidak ber-ال

PERBEDAAN مِنَّا (MINNÂ) DAN مِنَ (MINA)
 
Dalam mempelajari Bahasa Arab, seringkali kita menemukan kata-kata yang memiliki kemiripan bunyi namun makna dan cara bacanya berbeda. Salah satu contoh yang paling sering membingungkan adalah perbedaan antara مِنَّا dan مِنَ.
 
Perbedaan utamanya terletak pada harakat huruf Nun dan fungsi tata bahasanya (Nahwu). Berikut adalah penjelasan ringkasnya:
 
 
 
1. مِنَّا (Minnâ)
 
Ciri: Nun Bertasydid + Alif
 
- Arti: Dari kami / dari kita.
- Komponen: Merupakan gabungan dari kata مِنْ (dari) dan kata ganti نَا (kami/kita).
- Kaedah Nahwu: Huruf Nun pada kata min melebur (idgham) dengan Nun pada kata ganti na. Karena itu, bacaan wajib dipanjangkan (mad) sebanyak dua harakat.
 
 
 
2. مِنَ (Mina)
 
Ciri: Nun Berharakat Fathah Pendek
 
- Arti: Dari.
- Komponen: Murni merupakan kata depan/hurf jar مِنْ.
- Kaedah Nahwu: Aslinya huruf Nun berharakat sukun (mati). Namun, jika setelahnya terdapat kata yang diawali oleh Alif Lam (ال), maka harakat Nun diubah menjadi fathah. Hal ini dilakukan untuk menghindari bertemunya dua sukun (iltiqa as-sakainain), sehingga dibaca pendek.- Contoh: مِنَ الْمَسْجِدِ (Dari masjid).
 
 
 
Kesimpulan
 
Secara singkat, jika Anda melihat tulisan مِنَّا dengan tasydid dan alif, artinya "dari kami/kita" dan dibaca panjang. Sedangkan مِنَ dengan fathah biasa, artinya "dari" dan dibaca pendek karena bertemu dengan kata berawalan Al

ENGLISH

UNDERSTANDING THE WORD مِنَّا (MINNA)
 
In the science of Nahwu (Arabic Grammar), the word مِنَّا (minna) is formed by combining two basic words: مِنْ (min) and نَا (nā).
 
Here is the complete explanation regarding its meaning, formation process, and how to distinguish it from similar words:
 
 
 
Meaning
 
Literally, مِنَّا (minna) means "from us".
 
 
 
Formation Process
 
- Original words: مِنْ + نَا (min + nā)
- Change process: When the Sukun Nun (ْن) from min meets the Vowel Nun (نَ) from nā, the two letters are merged (idgham).
- Final result: It is written with a Tasydid (double letter) becoming مِنَّا (minna).
 
 
 
Important Distinction
 
Be careful not to confuse it with words that look similar but have different vowels and meanings:
 
1. مِنَّا (Minna)
 
- Formed by combining two words.
- Meaning: "From us".
 
2. مِنَ (Mina)
 
- It is simply the preposition min whose Sukun vowel changes to Fathah.
- This change occurs to avoid meeting two Sukun letters when followed by a word starting with Alif Lam (Example: مِنَ اللهِ - minallahi).
- Meaning: Simply "from".
 
 
 
Note: The explanation regarding "Minal" examples in the original text is separate material. The key rule is: use "Minal" if the following word has ال, and use "Min" if it does not

THE DIFFERENCE BETWEEN مِنَّا (MINNÂ) AND مِنَ (MINA)
 
When learning Arabic, we often encounter words that sound similar but have different meanings and pronunciations. One common example that often causes confusion is the difference between مِنَّا and مِنَ.
 
The main difference lies in the vowel marks (harakat) of the letter Nun and their grammatical functions (Nahwu). Here is a brief explanation:
 
 
 
1. مِنَّا (Minnâ)
 
Characteristics: Nun with Tashdid (double letter) + Alif
 
- Meaning: From us.
- Structure: It is a combination of the preposition مِنْ (min, meaning "from") and the pronoun نَا (na, meaning "us/our").
- Grammar Rule (Nahwu): The letter Nun from min merges (idgham) with the letter Nun from the pronoun na. Therefore, the pronunciation must be elongated (mad) for two vowel counts.
 
 
 
2. مِنَ (Mina)
 
Characteristics: Nun with a short Fathah vowel
 
- Meaning: From.
- Structure: It is purely the original preposition مِنْ.
- Grammar Rule (Nahwu): Originally, the letter Nun has a Sukun (silent/mute) vowel (مِنْ). However, if it is followed by a word beginning with Alif Lam (ال - "the"), the vowel changes to Fathah (مِنَ). This rule is applied to avoid meeting two silent letters (iltiqa as-sakainain), so it is pronounced short.- Example: مِنَ الْمَسْجِدِ (Minal-masjidi) - From the mosque.
 
 
 
Conclusion
 
In short:
 
- If you see مِنَّا with Tashdid and Alif, it means "from us" and is read long.
- If you see مِنَ with a regular Fathah, it means "from" and is read short because it is followed by a word starting with Al (ال)

Jumat, 15 Mei 2026


MENERIMA NASIHAT

kali ini, kita akan mengulas sisi lainnya yang tak kalah penting, yaitu tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menerima nasihat untuk diri sendiri.
 
Memberikan nasihat kepada orang lain terasa jauh lebih mudah daripada menerimanya untuk diri sendiri. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad:
 
"Nasihat itu mudah diberikan, namun yang sulit adalah menerimanya. Karena bagi orang yang mengikuti hawa nafsu, nasihat terasa pahit di lidah dan perasaan."
 
Padahal, prinsip dalam mencari kebenaran menuntut kita untuk bersikap objektif. Kebenaran harus diterima dari siapa pun yang menyampaikannya, baik itu orang yang kita cintai maupun orang yang tidak kita sukai. Sebaliknya, kebatilan harus ditolak, siapapun pembawanya.
 
Hal ini sebagaimana sabda Ubay bin Ka'ab r.a. yang tercatat dalam Hilyah Al-Auliya:
 
"Terimalah kebenaran dari orang yang membawakannya kepadamu, walaupun ia orang yang jauh dan tidak disukai. Dan tolaklah kebatilan dari orang yang membawakannya, walaupun ia orang yang sangat dicintai dan dekat denganmu."
 
Oleh karena itu, kunci utama agar nasihat dapat bermanfaat adalah kelembutan hati. Jika hati sudah keras dan membatu, maka nasihat sekilat pun tidak akan mampu menembusnya. Sebagaimana syair yang sangat menyentuh hati:
 
"Jika hati telah keras, maka nasihat tidak akan berguna baginya. Bagaikan tanah yang terlalu gersang dan keras, air hujan pun tak lagi mampu menghidupinya."
 
Semoga Allah senantiasa melunakkan hati kita sehingga selalu terbuka untuk menerima kebenaran dan nasihat dari siapapun

ENGLISH

ACCEPTING ADVICE
 
This time, we will discuss another equally important aspect, which is how we should behave when receiving advice for ourselves.
 
Giving advice to others feels much easier than accepting it for ourselves. As stated by Imam Al-Ghazali in the book Ayyuhal Walad:
 
"Giving advice is easy, but what is difficult is accepting it. Because for those who follow their own desires, advice tastes bitter to the feelings."
 
However, the principle of seeking truth requires us to be objective. The truth must be accepted from whoever conveys it, whether they are someone we love or someone we dislike. Conversely, falsehood must be rejected, no matter who brings it.
 
This is as stated by Ubay bin Ka'ab (may Allah be pleased with him), recorded in Hilyah Al-Auliya:
 
"Accept the truth from whoever brings it to you, even if they are a stranger or unpleasant to you. And reject falsehood from whoever brings it, even if they are someone dearly loved and close to you."
 
Therefore, the main key to benefiting from advice is having a soft heart. If the heart becomes hard and stone-like, even the best advice will not be able to penetrate it. As the touching poem says:
 
"If the heart has hardened, advice will be of no benefit to it. Just like arid and hard soil, even rainwater can no longer bring it to life."
 
May Allah always soften our hearts so that we remain open to accepting the truth and advice from anyone

DALIL

النصيحة سهلة والمشكل قبولها لأنها في مذاق متبعي الهوى مُر

"Nasihat itu mudah, dan yang sulit ialah menerimanya , karena Nasihat dalam perasaan yang diikuti hawa nafsu itu pahit"

"Advice is easy to give, but what is difficult is accepting it, because advice tastes bitter to those who follow their own desires"

فقال له: اقبل الحق ممن جاءك به وإن كان بعيدا بغيضا واردد الباطل على من جاءك به وإن كان حبيبا قريبا

Ubay bin Ka'ab berkata kepada seorang laki-laki "Terimalah kebenaran dari orang yang datang kepada mu walaupun dia orang yang jauh dan yang tidak disukai, Dan Tinggalkanlah kebatilan dari orang yang datang padamu walaupun dia orang yang dicintai dan yang dekat"

Ubay bin Ka'ab said to a man: "Accept the truth from whoever brings it to you, even if they are distant and disliked. And reject falsehood from whoever brings it, even if they are beloved and close"

وَأَنْشَدَ ابْنُ عَائِشَةَ: [البحر البسيط]
إِذَا قَسَا الْقَلْبُ لَمْ تَنْفَعْهُ مَوْعِظَةٌ # كَالْأَرْضِ إِنْ سَبَخَتْ لَمْ يَحْيِهَا الْمَطَرُ

"Jika Hati telah Keras Maka mauidzoh tidak akan bermanfaat baginya, Sepertihalnya Tanah gersang yang tidak mendapatkan manfaat dari air hujan (Ibnu Abdul bar jami' bayan Al-ilmi wa fadhlihi 1/700)"

"If the heart has hardened, then advice (mau'izah) will be of no benefit to it. Just like arid land that gains no benefit from rainwater."
(Ibn Abdul Barr, Jami' Bayan Al-'Ilmi wa Fadhlihi 1/700)

SOAL NASEHAT


MENERIMA NASIHAT

kali ini, kita akan mengulas sisi lainnya yang tak kalah penting, yaitu tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menerima nasihat untuk diri sendiri.
 
Memberikan nasihat kepada orang lain terasa jauh lebih mudah daripada menerimanya untuk diri sendiri. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad:
 
"Nasihat itu mudah diberikan, namun yang sulit adalah menerimanya. Karena bagi orang yang mengikuti hawa nafsu, nasihat terasa pahit di lidah dan perasaan."
 
Padahal, prinsip dalam mencari kebenaran menuntut kita untuk bersikap objektif. Kebenaran harus diterima dari siapa pun yang menyampaikannya, baik itu orang yang kita cintai maupun orang yang tidak kita sukai. Sebaliknya, kebatilan harus ditolak, siapapun pembawanya.
 
Hal ini sebagaimana sabda Ubay bin Ka'ab r.a. yang tercatat dalam Hilyah Al-Auliya:
 
"Terimalah kebenaran dari orang yang membawakannya kepadamu, walaupun ia orang yang jauh dan tidak disukai. Dan tolaklah kebatilan dari orang yang membawakannya, walaupun ia orang yang sangat dicintai dan dekat denganmu."
 
Oleh karena itu, kunci utama agar nasihat dapat bermanfaat adalah kelembutan hati. Jika hati sudah keras dan membatu, maka nasihat sekilat pun tidak akan mampu menembusnya. Sebagaimana syair yang sangat menyentuh hati:
 
"Jika hati telah keras, maka nasihat tidak akan berguna baginya. Bagaikan tanah yang terlalu gersang dan keras, air hujan pun tak lagi mampu menghidupinya."
 
Semoga Allah senantiasa melunakkan hati kita sehingga selalu terbuka untuk menerima kebenaran dan nasihat dari siapapun

ENGLISH

ACCEPTING ADVICE
 
This time, we will discuss another equally important aspect, which is how we should behave when receiving advice for ourselves.
 
Giving advice to others feels much easier than accepting it for ourselves. As stated by Imam Al-Ghazali in the book Ayyuhal Walad:
 
"Giving advice is easy, but what is difficult is accepting it. Because for those who follow their own desires, advice tastes bitter to the feelings."
 
However, the principle of seeking truth requires us to be objective. The truth must be accepted from whoever conveys it, whether they are someone we love or someone we dislike. Conversely, falsehood must be rejected, no matter who brings it.
 
This is as stated by Ubay bin Ka'ab (may Allah be pleased with him), recorded in Hilyah Al-Auliya:
 
"Accept the truth from whoever brings it to you, even if they are a stranger or unpleasant to you. And reject falsehood from whoever brings it, even if they are someone dearly loved and close to you."
 
Therefore, the main key to benefiting from advice is having a soft heart. If the heart becomes hard and stone-like, even the best advice will not be able to penetrate it. As the touching poem says:
 
"If the heart has hardened, advice will be of no benefit to it. Just like arid and hard soil, even rainwater can no longer bring it to life."
 
May Allah always soften our hearts so that we remain open to accepting the truth and advice from anyone

DALIL

النصيحة سهلة والمشكل قبولها لأنها في مذاق متبعي الهوى مُر

"Nasihat itu mudah, dan yang sulit ialah menerimanya , karena Nasihat dalam perasaan yang diikuti hawa nafsu itu pahit"

"Advice is easy to give, but what is difficult is accepting it, because advice tastes bitter to those who follow their own desires"

فقال له: اقبل الحق ممن جاءك به وإن كان بعيدا بغيضا واردد الباطل على من جاءك به وإن كان حبيبا قريبا

Ubay bin Ka'ab berkata kepada seorang laki-laki "Terimalah kebenaran dari orang yang datang kepada mu walaupun dia orang yang jauh dan yang tidak disukai, Dan Tinggalkanlah kebatilan dari orang yang datang padamu walaupun dia orang yang dicintai dan yang dekat"

Ubay bin Ka'ab said to a man: "Accept the truth from whoever brings it to you, even if they are distant and disliked. And reject falsehood from whoever brings it, even if they are beloved and close"

وَأَنْشَدَ ابْنُ عَائِشَةَ: [البحر البسيط]
إِذَا قَسَا الْقَلْبُ لَمْ تَنْفَعْهُ مَوْعِظَةٌ # كَالْأَرْضِ إِنْ سَبَخَتْ لَمْ يَحْيِهَا الْمَطَرُ

"Jika Hati telah Keras Maka mauidzoh tidak akan bermanfaat baginya, Sepertihalnya Tanah gersang yang tidak mendapatkan manfaat dari air hujan (Ibnu Abdul bar jami' bayan Al-ilmi wa fadhlihi 1/700)"

"If the heart has hardened, then advice (mau'izah) will be of no benefit to it. Just like arid land that gains no benefit from rainwater."
(Ibn Abdul Barr, Jami' Bayan Al-'Ilmi wa Fadhlihi 1/700)

Kamis, 14 Mei 2026

 



MEMAHAMI KULLU DSB

Dalam mempelajari ilmu Nahwu dan Sharaf, seringkali kita menjumpai kata-kata yang memiliki tulisan atau bunyi yang mirip namun memiliki makna dan fungsi tata bahasa yang sangat berbeda. Salah satu materi dasar yang penting untuk dikuasai adalah pembahasan mengenai Kullu DSB.

 

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai berbagai cara membaca dan maknanya, beserta analisis gramatikalnya:

 

 

 

1. Dibaca: Kullu (كُلُّ) / Kulla / Kulli

 

- Arti: Setiap atau Semua.

- Analisis Nahwu: Berfungsi sebagai Isim Mudhaf, yaitu isim yang dihubungkan dengan kata atau isim lainnya yang berada tepat setelahnya.

 

2. Dibaca: Kal... (كَالْـ)

 

- Arti: Seperti... / Bagaikan... (biasanya diikuti oleh isim yang bertanda Alif Lam / definited).

- Analisis Nahwu: Merupakan gabungan dari Harf Jar Kaf (huruf jar yang bermakna seperti) dan Alif Lam (alamat kata tertentu/definite article).

 

3. Dibaca: Ka... (كَـ) - Hanya di Awal Kata

 

- Arti: Seperti... / Bagaikan... (diikuti oleh isim yang tidak bertanda Alif Lam / indefinite).

- Contoh: كَمَاءٍ (Ka-maa-in) = Seperti air.

 

4. Dibaca: ...ka (كَ) - Hanya di Akhir Kata

 

- Arti: -mu / Kamu (khusus untuk laki-laki tunggal).

- Contoh: كِتَابُكَ (Kitabuka) = Buku kamu / Buku engkau.

- Analisis Nahwu: Berfungsi sebagai Isim Dhamir Muttashil (kata ganti orang yang melekat pada kata sebelumnya).

 

 

 

Latihan: Uji Pemahaman Anda

 

Cobalah tebak arti dari dua kata di bawah ini berdasarkan cara bacanya:

 

1. قَلَمُكَ (Qalamuka)

2. كَالْقَمَرِ (Kal-qamari)


ENGLISH 

UNDERSTANDING KULLU ETC

 

In the study of Nahwu (Syntax) and Sharaf (Morphology), we often encounter words that look or sound similar but carry completely different meanings and grammatical functions. One of the fundamental topics that must be mastered is the explanation of Kullu DSB.

 

Below is a complete explanation of the various readings, meanings, and grammatical analyses:

 

 

 

1. Read as: Kullu (كُلُّ) / Kulla / Kulli

 

- Meaning: Every or All.

- Nahwu Analysis: Functions as Isim Mudhaf (a noun that is annexed/connected to another noun that comes immediately after it).

 

2. Read as: Kal... (كَالْـ)

 

- Meaning: Like... / As... / Similar to... (usually followed by a noun marked with Alif Lam / definite).

- Nahwu Analysis: A combination of Harf Jar Kaf (a preposition meaning "like") and Alif Lam (the definite article).

 

3. Read as: Ka... (كَـ) – Only at the Beginning of a Word

 

- Meaning: Like... / As... (followed by a noun without Alif Lam / indefinite).

- Example: كَمَاءٍ (Ka-maa-in) = Like water.

 

4. Read as: ...ka (كَ) – Only at the End of a Word

 

- Meaning: Your (specifically for one male person).

- Example: كِتَابُكَ (Kitabuka) = Your book.

- Nahwu Analysis: Functions as Isim Dhamir Muttashil (an attached pronoun).

 

 

 

Exercise: Test Your Understanding

 

Try to guess the meaning of the two words below based on their pronunciation:

 

1. قَلَمُكَ (Qalamuka)

2. كَالْقَمَرِ (Kal-qamari)


NAHWU 1

 



MEMAHAMI KULLU DSB

Dalam mempelajari ilmu Nahwu dan Sharaf, seringkali kita menjumpai kata-kata yang memiliki tulisan atau bunyi yang mirip namun memiliki makna dan fungsi tata bahasa yang sangat berbeda. Salah satu materi dasar yang penting untuk dikuasai adalah pembahasan mengenai Kullu DSB.

 

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai berbagai cara membaca dan maknanya, beserta analisis gramatikalnya:

 

 

 

1. Dibaca: Kullu (كُلُّ) / Kulla / Kulli

 

- Arti: Setiap atau Semua.

- Analisis Nahwu: Berfungsi sebagai Isim Mudhaf, yaitu isim yang dihubungkan dengan kata atau isim lainnya yang berada tepat setelahnya.

 

2. Dibaca: Kal... (كَالْـ)

 

- Arti: Seperti... / Bagaikan... (biasanya diikuti oleh isim yang bertanda Alif Lam / definited).

- Analisis Nahwu: Merupakan gabungan dari Harf Jar Kaf (huruf jar yang bermakna seperti) dan Alif Lam (alamat kata tertentu/definite article).

 

3. Dibaca: Ka... (كَـ) - Hanya di Awal Kata

 

- Arti: Seperti... / Bagaikan... (diikuti oleh isim yang tidak bertanda Alif Lam / indefinite).

- Contoh: كَمَاءٍ (Ka-maa-in) = Seperti air.

 

4. Dibaca: ...ka (كَ) - Hanya di Akhir Kata

 

- Arti: -mu / Kamu (khusus untuk laki-laki tunggal).

- Contoh: كِتَابُكَ (Kitabuka) = Buku kamu / Buku engkau.

- Analisis Nahwu: Berfungsi sebagai Isim Dhamir Muttashil (kata ganti orang yang melekat pada kata sebelumnya).

 

 

 

Latihan: Uji Pemahaman Anda

 

Cobalah tebak arti dari dua kata di bawah ini berdasarkan cara bacanya:

 

1. قَلَمُكَ (Qalamuka)

2. كَالْقَمَرِ (Kal-qamari)


ENGLISH 

UNDERSTANDING KULLU ETC

 

In the study of Nahwu (Syntax) and Sharaf (Morphology), we often encounter words that look or sound similar but carry completely different meanings and grammatical functions. One of the fundamental topics that must be mastered is the explanation of Kullu DSB.

 

Below is a complete explanation of the various readings, meanings, and grammatical analyses:

 

 

 

1. Read as: Kullu (كُلُّ) / Kulla / Kulli

 

- Meaning: Every or All.

- Nahwu Analysis: Functions as Isim Mudhaf (a noun that is annexed/connected to another noun that comes immediately after it).

 

2. Read as: Kal... (كَالْـ)

 

- Meaning: Like... / As... / Similar to... (usually followed by a noun marked with Alif Lam / definite).

- Nahwu Analysis: A combination of Harf Jar Kaf (a preposition meaning "like") and Alif Lam (the definite article).

 

3. Read as: Ka... (كَـ) – Only at the Beginning of a Word

 

- Meaning: Like... / As... (followed by a noun without Alif Lam / indefinite).

- Example: كَمَاءٍ (Ka-maa-in) = Like water.

 

4. Read as: ...ka (كَ) – Only at the End of a Word

 

- Meaning: Your (specifically for one male person).

- Example: كِتَابُكَ (Kitabuka) = Your book.

- Nahwu Analysis: Functions as Isim Dhamir Muttashil (an attached pronoun).

 

 

 

Exercise: Test Your Understanding

 

Try to guess the meaning of the two words below based on their pronunciation:

 

1. قَلَمُكَ (Qalamuka)

2. كَالْقَمَرِ (Kal-qamari)


Rabu, 13 Mei 2026


ILMU YANG BERMANFAAT
 
Seorang Kiai pernah menasihati: Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, sedangkan ilmu yang berkah adalah ilmu yang disertai dengan pengabdian (khidmah)
 
Penjelasan Imam Al-Ghazali
 
Dalam kitab Bidayah Al-Hidayah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat memiliki ciri-ciri:
 
1. Meningkatkan rasa takut kepada Allah Ta'ala.
2. Membuka mata hati terhadap  aib diri sendiri
3. Menambah pemahaman dalam beribadah
4. Mengurangi kecintaan kepada dunia dan memperbesar kecintaan pada akhirat
5 Membuka hatimu sehingga memperbaiki amal
6. Memberikan pemahaman terhadap tipu daya setan.
 
Penjelasan Kitab Ta'lim Al-Muta'allim
 
Ilmu yang bermanfaat akan meninggalkan jejak kebaikan dan nama baik yang abadi bahkan setelah pemiliknya wafat. Sebab, ilmu yang bermanfaat adalah kehidupan yang kekal.
 
Kesimpulan
 
Tanggung jawab seorang yang berilmu adalah mengamalkan ilmunya sebaik mungkin dan berusaha agar manfaatnya terus mengalir hingga akhir hayat, terutama dengan cara mengajarkannya kepada orang lan

ENGLISH

BENEFICIAL KNOWLEDGE
 
A scholar once advised: Beneficial knowledge is knowledge that is put into practice, while blessed knowledge is knowledge that is accompanied by sincere service (Khidmah).
 
 
 
Explanation by Imam Al-Ghazali
 
In the book Bidayah Al-Hidayah, Imam Al-Ghazali explained that beneficial knowledge has the following characteristics:
 
1. It increases the fear of Allah Ta'ala.
2. It opens one's heart to recognize their own faults and weaknesses.
3. It deepens the understanding of how to worship correctly.
4. It reduces the love for worldly matters and increases the longing for the Hereafter.
5. It helps a person realize their mistakes so they can improve their deeds.
6. It provides awareness against the deception and tricks of Satan.
 
 
 
Explanation from the Book Ta'lim Al-Muta'allim
 
Beneficial knowledge leaves behind a legacy of goodness and a lasting good reputation, even after the person passes away. This is because beneficial knowledge is like an eternal life.
 
 
 
Conclusion
 
The responsibility of someone who possesses knowledge is to practice it in the best way possible and ensure that its benefits continue to flow until the end of their life, especially by teaching it to others

DALIL

والعلم النافع هو ما يزيد في خوفك من الله تعالى، ويزيد في بصيرتك بعيوب نفسك، ويزيد في معرفتك بعبادة ربك، ويقلل من رغبتك في الدنيا، ويزيد في رغبتك في الآخرة، ويفتح بصيرتك بآفات أعمالك حتى تحترز منها، ويطلعك على مكايد الشيطان وغروره.

"Ilmu yang manfaat ialah ilmu yang menambahkna Rasa takutmu kepada Alloh ta'ala, Menambah pandangan Hati terhadap aib-aib dirimu sendiri, menambah pengetahuan untuk ibadah kepada Tuhanmu, Mensedikitkan cinta pada dunia, menambah cinta pada Akhirat, Membuka Hatimu pada kerusakan amalmu sehingga engkau menjaganya, memberikan pandangan atas Rekayasa dan Tipu daya setan"

"Beneficial knowledge is that which increases your fear of Allah Ta'ala, opens your heart to see your own faults and shortcomings, deepens your understanding of how to worship your Lord, lessens your love for the world and increases your love for the Hereafter, makes you aware of the flaws in your deeds so that you can guard against them, and gives you insight into the tricks and deceptions of Satan"

والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته فإنه حياة أبدية

"Ilmu yang bermanfaat itu menghasilkan baiknya sebutan dan Tetapnya penyebutan baik setelah wafatnya orang yang memiliki ilmu tersebut, karena ilmu yang bermanfaat adalah kehidupan yang abadi"

"Beneficial knowledge brings about a good reputation, and this good name remains even after the person who possesses it passes away. Indeed, beneficial knowledge is an eternal life"

ILMU YANG SEBENARNYA BERMANFAAT ADALAH INI DIA


ILMU YANG BERMANFAAT
 
Seorang Kiai pernah menasihati: Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, sedangkan ilmu yang berkah adalah ilmu yang disertai dengan pengabdian (khidmah)
 
Penjelasan Imam Al-Ghazali
 
Dalam kitab Bidayah Al-Hidayah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat memiliki ciri-ciri:
 
1. Meningkatkan rasa takut kepada Allah Ta'ala.
2. Membuka mata hati terhadap  aib diri sendiri
3. Menambah pemahaman dalam beribadah
4. Mengurangi kecintaan kepada dunia dan memperbesar kecintaan pada akhirat
5 Membuka hatimu sehingga memperbaiki amal
6. Memberikan pemahaman terhadap tipu daya setan.
 
Penjelasan Kitab Ta'lim Al-Muta'allim
 
Ilmu yang bermanfaat akan meninggalkan jejak kebaikan dan nama baik yang abadi bahkan setelah pemiliknya wafat. Sebab, ilmu yang bermanfaat adalah kehidupan yang kekal.
 
Kesimpulan
 
Tanggung jawab seorang yang berilmu adalah mengamalkan ilmunya sebaik mungkin dan berusaha agar manfaatnya terus mengalir hingga akhir hayat, terutama dengan cara mengajarkannya kepada orang lan

ENGLISH

BENEFICIAL KNOWLEDGE
 
A scholar once advised: Beneficial knowledge is knowledge that is put into practice, while blessed knowledge is knowledge that is accompanied by sincere service (Khidmah).
 
 
 
Explanation by Imam Al-Ghazali
 
In the book Bidayah Al-Hidayah, Imam Al-Ghazali explained that beneficial knowledge has the following characteristics:
 
1. It increases the fear of Allah Ta'ala.
2. It opens one's heart to recognize their own faults and weaknesses.
3. It deepens the understanding of how to worship correctly.
4. It reduces the love for worldly matters and increases the longing for the Hereafter.
5. It helps a person realize their mistakes so they can improve their deeds.
6. It provides awareness against the deception and tricks of Satan.
 
 
 
Explanation from the Book Ta'lim Al-Muta'allim
 
Beneficial knowledge leaves behind a legacy of goodness and a lasting good reputation, even after the person passes away. This is because beneficial knowledge is like an eternal life.
 
 
 
Conclusion
 
The responsibility of someone who possesses knowledge is to practice it in the best way possible and ensure that its benefits continue to flow until the end of their life, especially by teaching it to others

DALIL

والعلم النافع هو ما يزيد في خوفك من الله تعالى، ويزيد في بصيرتك بعيوب نفسك، ويزيد في معرفتك بعبادة ربك، ويقلل من رغبتك في الدنيا، ويزيد في رغبتك في الآخرة، ويفتح بصيرتك بآفات أعمالك حتى تحترز منها، ويطلعك على مكايد الشيطان وغروره.

"Ilmu yang manfaat ialah ilmu yang menambahkna Rasa takutmu kepada Alloh ta'ala, Menambah pandangan Hati terhadap aib-aib dirimu sendiri, menambah pengetahuan untuk ibadah kepada Tuhanmu, Mensedikitkan cinta pada dunia, menambah cinta pada Akhirat, Membuka Hatimu pada kerusakan amalmu sehingga engkau menjaganya, memberikan pandangan atas Rekayasa dan Tipu daya setan"

"Beneficial knowledge is that which increases your fear of Allah Ta'ala, opens your heart to see your own faults and shortcomings, deepens your understanding of how to worship your Lord, lessens your love for the world and increases your love for the Hereafter, makes you aware of the flaws in your deeds so that you can guard against them, and gives you insight into the tricks and deceptions of Satan"

والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته فإنه حياة أبدية

"Ilmu yang bermanfaat itu menghasilkan baiknya sebutan dan Tetapnya penyebutan baik setelah wafatnya orang yang memiliki ilmu tersebut, karena ilmu yang bermanfaat adalah kehidupan yang abadi"

"Beneficial knowledge brings about a good reputation, and this good name remains even after the person who possesses it passes away. Indeed, beneficial knowledge is an eternal life"




HUKUM ZIARAH KUBUR NON-MUSLIM:


Pengertian Ziarah Kubur

 

- Kegiatan mengunjungi makam untuk mendoakan arwah, menghormati jasa, dan sebagai refleksi spiritual serta pengingat akan kematian.

 

Hukum Ziarah Kubur Non-Muslim

 

- Hukum dasarnya adalah mubah atau diperbolehkan.

- Berbeda dengan ziarah kubur orang Muslim yang hukumnya sunah, ziarah ke makam non-Muslim tidak disunahkan, namun boleh dilakukan.

 

Syarat dan Tujuan

 

- Diperbolehkan selama tujuannya adalah untuk mengambil i’tibar (pelajaran), mengingat kematian, dan mempersiapkan diri untuk alam akhirat.

- Jika tujuannya semata-mata untuk mengambil pelajaran dan mengingat mati, menurut sebagian ulama hukumnya bisa menjadi sunah atau mandub.

 

Prinsip Tambahan

 

- Jika menziarahi non-Muslim setelah meninggal saja diperbolehkan, maka menziarahi atau menjenguk mereka ketika masih hidup jauh lebih utama dan lebih baik.

 

 

 

Sumber: Kitab Fathul Wahhab, Syarh Muslim, Hasyiyah As-Syirwani, dan Hasyiyaul Bujairami


ENGLISH 


THE RULING ON VISITING THE GRAVES OF NON-MUSLIMS

 

Definition of Visiting Graves

 

- An activity of visiting graves to pray for the deceased, honor their services, and serve as spiritual reflection as well as a reminder of death.

 

The Ruling on Visiting the Graves of Non-Muslims

 

- The basic ruling is Mubah (permissible/allowed).

- Unlike visiting the graves of Muslims, which is Sunnah (recommended), visiting non-Muslim graves is not Sunnah, but it is permitted to do so.

 

Conditions and Intentions

 

- It is allowed as long as the purpose is to take I’tibar (lessons/wisdom), remember death, and prepare for the afterlife.

- If the intention is purely to learn a lesson and remember death, according to some scholars, the ruling can become Sunnah or Mandub (recommended).

 

Additional Principle

 

- If visiting non-Muslims after they have passed away is permissible, then visiting or checking on them while they are still alive is far more prioritized and better.

 

Sources: Kitab Fathul Wahhab, Syarh Muslim, Hasyiyah As-Syirwani, and Hasyiyaul Bujairami


DALIL 




أَمَّا زِيَارَةُ قُبُورِ الْكُفَّارِ فَمُبَاحَةٌ --زكريا الأنصاري، فتح الوهاب، بيروت-دار الكتب العلمية، 1418هـ، ج، 1، ص. 176






Artinya: Bahwa berziarah ke kuburan orang-orang kafir itu mubah (diperbolehkan) (Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, Bairut-Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H, juz, 1, halaman 176)


Meaning: Verily, visiting the graves of the disbelievers is Mubah (permissible/allowed) (Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, Beirut-Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H, Vol. 1, Page 176)




إِذَا جَازَتْ زِيَارَتُهُمْ بَعْدَ الْوَفَاةِ فَفِي الْحَيَاةِ أَوْلَى (محي الدين شرف النووي، شرح النووي، على صحيح مسلم، بيروت-دار إحياء التراث العربي، الطبعة الثانية، 1392 هـ، ج، 8، ص. 45) 






Artinya: Jika boleh menziarahi mereka (non-Muslim) setelah meninggal dunia, maka menziarahi mereka ketika masih hidup itu lebih utama (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ala Shahihi Muslim, Bairut-Daru Ihya`it Turats al-‘Arabi, cet ke-II, 1392 H, juz, VIII, halaman 45)




Meaning: If it is permissible to visit them (non-Muslims) after they have passed away, then visiting them while they are still alive is even more prioritized/better. (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ala Shahihi Muslim, Beirut-Daru Ihya’it Turats al-‘Arabi, 2nd Edition, 1392 H, Vol. VIII, Page 45)




وإنَّما تُسَنُّ الزِّيارَةُ لِلِاعْتِبارِ والتَّرَحُّمِ والدُّعاءِ أخْذًا مِن قَوْلِ الزَّرْكَشِيّ إنّ نَدْبَ الزِّيارَةِ مُقَيَّدٌ بِقَصْدِ الِاعْتِبارِ أوْ التَّرَحُّمِ والِاسْتِغْفارِ أوْ التِّلاوَةِ والدُّعاءِ ونَحْوِهِ ويَكُونُ المَيِّتُ مُسْلِمًا أيْ ولَوْ أجْنَبِيًّا لا يَعْرِفُهُ لَكِنَّها فِيمَن يَعْرِفُهُ آكَدُ فَلا تُسَنُّ زِيارَةُ الكافِرِ بَلْ تُباحُ كَما فِي المَجْمُوعِ






Artinya: Sejatinya ziarah kubur disunahkan karena tujuan mengambil pelajaran atas kematian seseorang, mengasihi dan berdoa. Hal tersebut sebagaimana yang dipahami dari keterangan Imam Az-Zarkasyi. Selain itu, kesunahan ziarah juga disyaratkan kepada mayit yang beragama Islam, meskipun orang tersebut bukan kerabat atau bahkan tidak dikenalinya. Hanya saja ziarah ke orang yang dikenali hukumnya lebih dianjurkan. Maka dari itu tidak sunah berziarah ke kuburan orang non-Muslim. Namun hukumnya mubah (Imam As-Syirwani, Hasiyatus Syirwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, juz III, halaman 300)




Meaning: Essentially, visiting graves is Sunnah (recommended) with the intention of taking a lesson from someone's death, showing compassion, and praying for them. This is understood from the explanation of Imam Az-Zarkasyi.


 


Furthermore, the recommendation of visiting graves is specifically for deceased Muslims, even if the person is not a relative or is a stranger. However, visiting someone known is more highly recommended. Therefore, visiting the graves of non-Muslims is not Sunnah, yet it is permissible (Mubah) (Imam As-Syirwani, Hasiyatus Syirwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, Volume III, page 300)




أمّا زِيارَةُ قُبُورِ الكُفّارِ فَمُباحَةٌ، وقِيلَ مُحَرَّمَةٌ، شَرْحُ المَنهَجِ نَعَمْ إنْ كانَتْ الزِّيارَةُ بِقَصْدِ الِاعْتِبارِ وتَذَكُّرِ المَوْتِ كانَتْ مَندُوبَةً مُطْلَقًا إطْفِيحِيٌّ






Artinya: Adapun ziarah ke kuburan orang-orang non-Muslim hukumnya diperbolehkan (mubah). Sedangkan menurut pendapat yang lemah hukumnya haram. Namun, jika ziarah ke kuburan nonmuslim disertai tujuan mengambil pelajaran atas kematian seseorang atau untuk mengingat kematian, maka hukumnya adalah sunah secara mutlak (Sulaiman Al-Bujairami, Hasyiyaul Bujairami ‘alal Khatib, juz II, halaman 301)




Meaning: As for visiting the graves of non-Muslims, the ruling is permissible (mubah). Meanwhile, according to a weak opinion, the ruling is forbidden (haram). However, if the visit is intended to take a lesson from the person's death or to remember death itself, then the ruling is absolutely recommended (sunnah) (Sulaiman Al-Bujairami,

 Hasyiyaul Bujairami ‘alal Khatib, Volume II, page 301)




ZIARAH KE NON MUSLIM




HUKUM ZIARAH KUBUR NON-MUSLIM:


Pengertian Ziarah Kubur

 

- Kegiatan mengunjungi makam untuk mendoakan arwah, menghormati jasa, dan sebagai refleksi spiritual serta pengingat akan kematian.

 

Hukum Ziarah Kubur Non-Muslim

 

- Hukum dasarnya adalah mubah atau diperbolehkan.

- Berbeda dengan ziarah kubur orang Muslim yang hukumnya sunah, ziarah ke makam non-Muslim tidak disunahkan, namun boleh dilakukan.

 

Syarat dan Tujuan

 

- Diperbolehkan selama tujuannya adalah untuk mengambil i’tibar (pelajaran), mengingat kematian, dan mempersiapkan diri untuk alam akhirat.

- Jika tujuannya semata-mata untuk mengambil pelajaran dan mengingat mati, menurut sebagian ulama hukumnya bisa menjadi sunah atau mandub.

 

Prinsip Tambahan

 

- Jika menziarahi non-Muslim setelah meninggal saja diperbolehkan, maka menziarahi atau menjenguk mereka ketika masih hidup jauh lebih utama dan lebih baik.

 

 

 

Sumber: Kitab Fathul Wahhab, Syarh Muslim, Hasyiyah As-Syirwani, dan Hasyiyaul Bujairami


ENGLISH 


THE RULING ON VISITING THE GRAVES OF NON-MUSLIMS

 

Definition of Visiting Graves

 

- An activity of visiting graves to pray for the deceased, honor their services, and serve as spiritual reflection as well as a reminder of death.

 

The Ruling on Visiting the Graves of Non-Muslims

 

- The basic ruling is Mubah (permissible/allowed).

- Unlike visiting the graves of Muslims, which is Sunnah (recommended), visiting non-Muslim graves is not Sunnah, but it is permitted to do so.

 

Conditions and Intentions

 

- It is allowed as long as the purpose is to take I’tibar (lessons/wisdom), remember death, and prepare for the afterlife.

- If the intention is purely to learn a lesson and remember death, according to some scholars, the ruling can become Sunnah or Mandub (recommended).

 

Additional Principle

 

- If visiting non-Muslims after they have passed away is permissible, then visiting or checking on them while they are still alive is far more prioritized and better.

 

Sources: Kitab Fathul Wahhab, Syarh Muslim, Hasyiyah As-Syirwani, and Hasyiyaul Bujairami


DALIL 




أَمَّا زِيَارَةُ قُبُورِ الْكُفَّارِ فَمُبَاحَةٌ --زكريا الأنصاري، فتح الوهاب، بيروت-دار الكتب العلمية، 1418هـ، ج، 1، ص. 176






Artinya: Bahwa berziarah ke kuburan orang-orang kafir itu mubah (diperbolehkan) (Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, Bairut-Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H, juz, 1, halaman 176)


Meaning: Verily, visiting the graves of the disbelievers is Mubah (permissible/allowed) (Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, Beirut-Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H, Vol. 1, Page 176)




إِذَا جَازَتْ زِيَارَتُهُمْ بَعْدَ الْوَفَاةِ فَفِي الْحَيَاةِ أَوْلَى (محي الدين شرف النووي، شرح النووي، على صحيح مسلم، بيروت-دار إحياء التراث العربي، الطبعة الثانية، 1392 هـ، ج، 8، ص. 45) 






Artinya: Jika boleh menziarahi mereka (non-Muslim) setelah meninggal dunia, maka menziarahi mereka ketika masih hidup itu lebih utama (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ala Shahihi Muslim, Bairut-Daru Ihya`it Turats al-‘Arabi, cet ke-II, 1392 H, juz, VIII, halaman 45)




Meaning: If it is permissible to visit them (non-Muslims) after they have passed away, then visiting them while they are still alive is even more prioritized/better. (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ala Shahihi Muslim, Beirut-Daru Ihya’it Turats al-‘Arabi, 2nd Edition, 1392 H, Vol. VIII, Page 45)




وإنَّما تُسَنُّ الزِّيارَةُ لِلِاعْتِبارِ والتَّرَحُّمِ والدُّعاءِ أخْذًا مِن قَوْلِ الزَّرْكَشِيّ إنّ نَدْبَ الزِّيارَةِ مُقَيَّدٌ بِقَصْدِ الِاعْتِبارِ أوْ التَّرَحُّمِ والِاسْتِغْفارِ أوْ التِّلاوَةِ والدُّعاءِ ونَحْوِهِ ويَكُونُ المَيِّتُ مُسْلِمًا أيْ ولَوْ أجْنَبِيًّا لا يَعْرِفُهُ لَكِنَّها فِيمَن يَعْرِفُهُ آكَدُ فَلا تُسَنُّ زِيارَةُ الكافِرِ بَلْ تُباحُ كَما فِي المَجْمُوعِ






Artinya: Sejatinya ziarah kubur disunahkan karena tujuan mengambil pelajaran atas kematian seseorang, mengasihi dan berdoa. Hal tersebut sebagaimana yang dipahami dari keterangan Imam Az-Zarkasyi. Selain itu, kesunahan ziarah juga disyaratkan kepada mayit yang beragama Islam, meskipun orang tersebut bukan kerabat atau bahkan tidak dikenalinya. Hanya saja ziarah ke orang yang dikenali hukumnya lebih dianjurkan. Maka dari itu tidak sunah berziarah ke kuburan orang non-Muslim. Namun hukumnya mubah (Imam As-Syirwani, Hasiyatus Syirwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, juz III, halaman 300)




Meaning: Essentially, visiting graves is Sunnah (recommended) with the intention of taking a lesson from someone's death, showing compassion, and praying for them. This is understood from the explanation of Imam Az-Zarkasyi.


 


Furthermore, the recommendation of visiting graves is specifically for deceased Muslims, even if the person is not a relative or is a stranger. However, visiting someone known is more highly recommended. Therefore, visiting the graves of non-Muslims is not Sunnah, yet it is permissible (Mubah) (Imam As-Syirwani, Hasiyatus Syirwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, Volume III, page 300)




أمّا زِيارَةُ قُبُورِ الكُفّارِ فَمُباحَةٌ، وقِيلَ مُحَرَّمَةٌ، شَرْحُ المَنهَجِ نَعَمْ إنْ كانَتْ الزِّيارَةُ بِقَصْدِ الِاعْتِبارِ وتَذَكُّرِ المَوْتِ كانَتْ مَندُوبَةً مُطْلَقًا إطْفِيحِيٌّ






Artinya: Adapun ziarah ke kuburan orang-orang non-Muslim hukumnya diperbolehkan (mubah). Sedangkan menurut pendapat yang lemah hukumnya haram. Namun, jika ziarah ke kuburan nonmuslim disertai tujuan mengambil pelajaran atas kematian seseorang atau untuk mengingat kematian, maka hukumnya adalah sunah secara mutlak (Sulaiman Al-Bujairami, Hasyiyaul Bujairami ‘alal Khatib, juz II, halaman 301)




Meaning: As for visiting the graves of non-Muslims, the ruling is permissible (mubah). Meanwhile, according to a weak opinion, the ruling is forbidden (haram). However, if the visit is intended to take a lesson from the person's death or to remember death itself, then the ruling is absolutely recommended (sunnah) (Sulaiman Al-Bujairami,

 Hasyiyaul Bujairami ‘alal Khatib, Volume II, page 301)




Selasa, 12 Mei 2026


HATI YANG PALING DICINTAI ALLAH TA'ALA

Para ulama shalih menjelaskan bahwa hati yang paling dicintai Allah Ta'ala memiliki empat sifat utama, sebagaimana tertuang dalam kitab Bujairim Alal-Khotib 1/114 dan Tafsir Al-Alusi 8/522.
 
Dalam sebuah hadis disebutkan:
 
"Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki wadah di muka bumi-Nya, yaitu hati para hamba-Nya yang shalih. Dan hati yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut, paling bersih, dan paling kokoh."
 
Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu menafsirkan:
 
"Hati yang paling kokoh artinya teguh dalam urusan agama, paling bersih artinya murni dalam keyakinan, dan paling lembut artinya penuh kasih sayang kepada sesama muslim."
 
Dari penjelasan tersebut, disimpulkan empat sifat hati yang dicintai Allah:
 
1. Lembut: Mudah menerima kebenaran dan penuh kasih sayang kepada sesama.
2. Kokoh: Teguh memegang prinsip agama dan menjaga kebenaran.
3. Bersih: Murni dari keraguan dan keyakinan yang kuat kepada Allah.
4. Halus: Sama artinya dengan hati yang bersih, mampu memahami dan melihat kebenaran dengan jernih

ENGLISH

THE HEART MOST BELOVED TO ALLAH TA'ALA
 
Righteous scholars have explained that the heart most beloved to Allah Ta'ala possesses four main characteristics, as stated in the books Bujairim Alal-Khotib (1/114) and Tafsir Al-Alusi (8/522).
 
In a Hadith, it is narrated:
 
"Verily, Allah Ta'ala has vessels upon His earth, and these vessels are the hearts of His righteous servants. The most beloved to Him are those that are the softest, the purest, and the firmest."
 
Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu explained:
 
"The firmest means steadfast in religion, the purest means sincere in faith, and the softest means full of compassion towards fellow Muslims."
 
From this explanation, four qualities of a heart beloved to Allah are summarized:
 
1. Soft (Layyin): Ready to accept the truth and full of kindness towards others.
2. Firm (Salb): Unwavering in holding onto religious principles and guarding the truth.
3. Pure (Saf): Free from doubt and possessing strong conviction in Allah.
4. Delicate (Raqiq): Similar in meaning to a pure heart, able to understand and perceive the truth with clarity

DALIL

وَفِي الْحَدِيثِ: «إنَّ لِلَّهِ آنِيَةً فِي أَرْضِهِ وَهِيَ قُلُوبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَأَحَبُّهَا إلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَصْفَاهَا وَأَصْلَبُهَا» . 

"Sesungguhnya Alloh ta'ala memiliki Wadah di muka bumi nya, wadah tersebut ialah Hati para Hambanya yang sholih. Dan Hati yang paling dicintai Alloh Ialah hati yang paling Lembut, Paling Bersih dan paling kokoh"

"Verily, Allah Ta'ala has vessels upon His earth, and these vessels are the hearts of His righteous servants. And the hearts most beloved to Him are those that are the softest, the purest, and the firmest"

قَالَ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: أَصْلَبُهَا فِي الدِّينِ وَأَصْفَاهَا فِي الْيَقِينِ وَأَرَقُّهَا عَلَى الْمُسْلِمِينَ اهـ.

Sayyidina Ali Radiyallahu 'Anhu berkata "Hati yang paling kokoh maksudnya dalam urusan Agama, Dan Hati paling bersih ialah dalam Keyakinan, Dan Hati yang paling lembut ialah hati yang lemah lembut kepada seluruh muslimin"

Sayyidina Ali Radiyallahu Anhu said: "The firmest heart means being steadfast in religious matters, the purest heart means having sincere faith, and the softest heart means being gentle and compassionate towards all Muslims"

ويعلم من مجموع الحديثين أربع صفات للقلب الأحب إليه تعالى اللين وهو لقبول الحق والصلابة وهي لحفظه فالمراد بها صفة تجامع اللين والصفاء والرقة وهما لرؤيته. 

Diketahui dari kumpulan hadits-hadits (yang telah dituturkan) ada empat Sifat hati yang paling dicintai Alloh ta'ala :

1. Hati yang lembut, ialah hati yang menerima kebenaran. 
2. Hati yang kokoh, ialah hati yang menjaga Kebenaran. 
3. Hati yang bersih, ialah hati yang memandang kebenaran. 
4. Hati yang Tipis, sama dengan nomor tiga

Based on the collection of narrations, there are four characteristics of the heart that are most beloved to Allah Ta'ala:
 
1. The Soft Heart: A heart that readily accepts the truth.
2. The Firm Heart: A heart that firmly preserves and upholds the truth.
3. The Pure Heart: A heart that perceives and sees the truth clearly.
4. The Delicate Heart: Carries the same meaning as point number three

HATI PALING DI CINTAI ALLAH TA'ALA


HATI YANG PALING DICINTAI ALLAH TA'ALA

Para ulama shalih menjelaskan bahwa hati yang paling dicintai Allah Ta'ala memiliki empat sifat utama, sebagaimana tertuang dalam kitab Bujairim Alal-Khotib 1/114 dan Tafsir Al-Alusi 8/522.
 
Dalam sebuah hadis disebutkan:
 
"Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki wadah di muka bumi-Nya, yaitu hati para hamba-Nya yang shalih. Dan hati yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut, paling bersih, dan paling kokoh."
 
Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu menafsirkan:
 
"Hati yang paling kokoh artinya teguh dalam urusan agama, paling bersih artinya murni dalam keyakinan, dan paling lembut artinya penuh kasih sayang kepada sesama muslim."
 
Dari penjelasan tersebut, disimpulkan empat sifat hati yang dicintai Allah:
 
1. Lembut: Mudah menerima kebenaran dan penuh kasih sayang kepada sesama.
2. Kokoh: Teguh memegang prinsip agama dan menjaga kebenaran.
3. Bersih: Murni dari keraguan dan keyakinan yang kuat kepada Allah.
4. Halus: Sama artinya dengan hati yang bersih, mampu memahami dan melihat kebenaran dengan jernih

ENGLISH

THE HEART MOST BELOVED TO ALLAH TA'ALA
 
Righteous scholars have explained that the heart most beloved to Allah Ta'ala possesses four main characteristics, as stated in the books Bujairim Alal-Khotib (1/114) and Tafsir Al-Alusi (8/522).
 
In a Hadith, it is narrated:
 
"Verily, Allah Ta'ala has vessels upon His earth, and these vessels are the hearts of His righteous servants. The most beloved to Him are those that are the softest, the purest, and the firmest."
 
Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu explained:
 
"The firmest means steadfast in religion, the purest means sincere in faith, and the softest means full of compassion towards fellow Muslims."
 
From this explanation, four qualities of a heart beloved to Allah are summarized:
 
1. Soft (Layyin): Ready to accept the truth and full of kindness towards others.
2. Firm (Salb): Unwavering in holding onto religious principles and guarding the truth.
3. Pure (Saf): Free from doubt and possessing strong conviction in Allah.
4. Delicate (Raqiq): Similar in meaning to a pure heart, able to understand and perceive the truth with clarity

DALIL

وَفِي الْحَدِيثِ: «إنَّ لِلَّهِ آنِيَةً فِي أَرْضِهِ وَهِيَ قُلُوبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَأَحَبُّهَا إلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَصْفَاهَا وَأَصْلَبُهَا» . 

"Sesungguhnya Alloh ta'ala memiliki Wadah di muka bumi nya, wadah tersebut ialah Hati para Hambanya yang sholih. Dan Hati yang paling dicintai Alloh Ialah hati yang paling Lembut, Paling Bersih dan paling kokoh"

"Verily, Allah Ta'ala has vessels upon His earth, and these vessels are the hearts of His righteous servants. And the hearts most beloved to Him are those that are the softest, the purest, and the firmest"

قَالَ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: أَصْلَبُهَا فِي الدِّينِ وَأَصْفَاهَا فِي الْيَقِينِ وَأَرَقُّهَا عَلَى الْمُسْلِمِينَ اهـ.

Sayyidina Ali Radiyallahu 'Anhu berkata "Hati yang paling kokoh maksudnya dalam urusan Agama, Dan Hati paling bersih ialah dalam Keyakinan, Dan Hati yang paling lembut ialah hati yang lemah lembut kepada seluruh muslimin"

Sayyidina Ali Radiyallahu Anhu said: "The firmest heart means being steadfast in religious matters, the purest heart means having sincere faith, and the softest heart means being gentle and compassionate towards all Muslims"

ويعلم من مجموع الحديثين أربع صفات للقلب الأحب إليه تعالى اللين وهو لقبول الحق والصلابة وهي لحفظه فالمراد بها صفة تجامع اللين والصفاء والرقة وهما لرؤيته. 

Diketahui dari kumpulan hadits-hadits (yang telah dituturkan) ada empat Sifat hati yang paling dicintai Alloh ta'ala :

1. Hati yang lembut, ialah hati yang menerima kebenaran. 
2. Hati yang kokoh, ialah hati yang menjaga Kebenaran. 
3. Hati yang bersih, ialah hati yang memandang kebenaran. 
4. Hati yang Tipis, sama dengan nomor tiga

Based on the collection of narrations, there are four characteristics of the heart that are most beloved to Allah Ta'ala:
 
1. The Soft Heart: A heart that readily accepts the truth.
2. The Firm Heart: A heart that firmly preserves and upholds the truth.
3. The Pure Heart: A heart that perceives and sees the truth clearly.
4. The Delicate Heart: Carries the same meaning as point number three


SHOLATNYA ORANG YANG DIPERBAN
 
1. Jabiroh pada Anggota Tayamum (Wajah dan Kedua Tangan)
 
Hukum: WAJIB MENGULANG SHALAT
 
Jika perban menutupi bagian wajah atau tangan, maka shalatnya wajib diulang secara mutlak. Ketentuan ini berlaku dalam segala kondisi, baik perban tersebut menutupi bagian sehat melebihi kebutuhan maupun tidak, dan baik dipasang dalam keadaan suci maupun tidak.
 
Alasan: Karena pada anggota tersebut terjadi kekurangan pada dua alat bersuci sekaligus, yaitu tidak bisa menggunakan air (terhalang perban) dan juga tidak bisa menggunakan debu (terhalang perban).
 
 
 
2. Jabiroh di Luar Anggota Tayamum
 
(Misalnya pada kaki, lengan atas, atau badan)
 
Hukumnya dibagi menjadi dua kondisi:
 
✅ TIDAK WAJIB MENGULANG SHALAT
 
Shalatnya sah dan tidak perlu diulang jika memenuhi dua syarat:
 
1. Perban hanya menutupi bagian yang sehat seperlunya saja (sekadar untuk menguatkan ikatan).
2. Perban dipasang dalam keadaan suci (sudah berwudu sebelumnya).
 
❌ WAJIB MENGULANG SHALAT
 
Shalatnya tidak sah dan wajib diulang jika:
 
1. Perban menutupi bagian yang sehat melebihi ukuran yang dibutuhkan.
2. Perban dipasang dalam keadaan tidak suci (sedang berhadas/belum wudu).
 
 
 
RINGKASAN HUKUM
 
Secara garis besar, ada 6 kondisi yang dapat diringkas menjadi:
 
3 Kondisi Wajib Mengulang Shalat:
 
1. Terletak di anggota tayamum (wajah/tangan).
2. Menutupi bagian sehat secara berlebihan.
3. Dipasang saat sedang berhadas/tidak suci.
 
3 Kondisi Tidak Wajib Mengulang Shalat:
 
1. Terletak di luar anggota tayamum.
2. Dipasang saat dalam keadaan suci.
3. Hanya menutupi bagian sehat secukupnya.
 
 
 
TAMBAHAN PENTING
 
Pengertian Jabiroh:
Adalah alat penyangga seperti kayu, bambu, atau penutup seperti perban, plester, dan obat oles yang digunakan pada bagian tubuh yang sakit atau patah, sehingga menghalangi masuknya air.
 
Cara Bersuci:
Bagi shohibul jabiroh, tata caranya adalah:
 
- Membasuh bagian tubuh yang sehat dengan air.
- Mengusap air di atas permukaan perban.
- Melakukan tayamum sebagai pengganti bagian yang tidak terkena air

ENGLISH

PRAYER WITH BANDAGES OR CASTS
 
(Rulings for the Injured Person)
 
 
 
1. Bandages on Parts for Tayammum (Face and Hands)
 
Ruling: PRAYER MUST BE REPEATED
 
If the bandage covers the face or hands, the prayer must be repeated, regardless of the situation. This rule applies absolutely, whether the bandage covers more healthy skin than necessary or not, and whether it was applied while in a state of purity or not.
 
Reason: Because for these body parts, there is a deficiency in both methods of purification: water cannot reach the skin, and dust (for Tayammum) also cannot reach the skin, as both are blocked by the covering.
 
 
 
2. Bandages on Other Body Parts
 
(Examples: legs, arms, or torso)
 
The ruling is divided into two conditions:
 
✅ PRAYER IS VALID (DO NOT NEED TO REPEAT)
 
The prayer is valid and does not need to be repeated if both conditions are met:
 
1. The bandage only covers healthy skin as necessary (just enough to secure the dressing).
2. The bandage was applied while the person was in a state of purity (already performed Wudu).
 
❌ PRAYER IS INVALID (MUST BE REPEATED)
 
The prayer is invalid and must be repeated if:
 
1. The bandage covers healthy skin more than what is necessary.
2. The bandage was applied while the person was in a state of impurity (had not performed Wudu).
 
 
 
SUMMARY OF RULINGS
 
In total, there are 6 scenarios which can be summarized as follows:
 
3 Conditions Requiring Repetition:
 
1. Located on the face or hands.
2. Covers healthy skin excessively.
3. Applied while in a state of impurity.
 
3 Conditions NOT Requiring Repetition:
 
1. Located on other body parts (not face/hands).
2. Applied while in a state of purity.
3. Only covers healthy skin as needed.
 
 
 
IMPORTANT NOTES
 
Definition of Jabirah:
Refers to supports such as wood or splints, or coverings like bandages, plasters, and ointments used on injured or broken bones, which prevent water from reaching the skin.
 
How to Perform Purification:
For an injured person, the method is:
 
- Wash the healthy parts of the body with water.
- Wipe water over the surface of the bandage/cast.
- Perform Tayammum (dry purification with dust) to replace the part that water cannot reach

SHOLAT DENGAN PERBAN


SHOLATNYA ORANG YANG DIPERBAN
 
1. Jabiroh pada Anggota Tayamum (Wajah dan Kedua Tangan)
 
Hukum: WAJIB MENGULANG SHALAT
 
Jika perban menutupi bagian wajah atau tangan, maka shalatnya wajib diulang secara mutlak. Ketentuan ini berlaku dalam segala kondisi, baik perban tersebut menutupi bagian sehat melebihi kebutuhan maupun tidak, dan baik dipasang dalam keadaan suci maupun tidak.
 
Alasan: Karena pada anggota tersebut terjadi kekurangan pada dua alat bersuci sekaligus, yaitu tidak bisa menggunakan air (terhalang perban) dan juga tidak bisa menggunakan debu (terhalang perban).
 
 
 
2. Jabiroh di Luar Anggota Tayamum
 
(Misalnya pada kaki, lengan atas, atau badan)
 
Hukumnya dibagi menjadi dua kondisi:
 
✅ TIDAK WAJIB MENGULANG SHALAT
 
Shalatnya sah dan tidak perlu diulang jika memenuhi dua syarat:
 
1. Perban hanya menutupi bagian yang sehat seperlunya saja (sekadar untuk menguatkan ikatan).
2. Perban dipasang dalam keadaan suci (sudah berwudu sebelumnya).
 
❌ WAJIB MENGULANG SHALAT
 
Shalatnya tidak sah dan wajib diulang jika:
 
1. Perban menutupi bagian yang sehat melebihi ukuran yang dibutuhkan.
2. Perban dipasang dalam keadaan tidak suci (sedang berhadas/belum wudu).
 
 
 
RINGKASAN HUKUM
 
Secara garis besar, ada 6 kondisi yang dapat diringkas menjadi:
 
3 Kondisi Wajib Mengulang Shalat:
 
1. Terletak di anggota tayamum (wajah/tangan).
2. Menutupi bagian sehat secara berlebihan.
3. Dipasang saat sedang berhadas/tidak suci.
 
3 Kondisi Tidak Wajib Mengulang Shalat:
 
1. Terletak di luar anggota tayamum.
2. Dipasang saat dalam keadaan suci.
3. Hanya menutupi bagian sehat secukupnya.
 
 
 
TAMBAHAN PENTING
 
Pengertian Jabiroh:
Adalah alat penyangga seperti kayu, bambu, atau penutup seperti perban, plester, dan obat oles yang digunakan pada bagian tubuh yang sakit atau patah, sehingga menghalangi masuknya air.
 
Cara Bersuci:
Bagi shohibul jabiroh, tata caranya adalah:
 
- Membasuh bagian tubuh yang sehat dengan air.
- Mengusap air di atas permukaan perban.
- Melakukan tayamum sebagai pengganti bagian yang tidak terkena air

ENGLISH

PRAYER WITH BANDAGES OR CASTS
 
(Rulings for the Injured Person)
 
 
 
1. Bandages on Parts for Tayammum (Face and Hands)
 
Ruling: PRAYER MUST BE REPEATED
 
If the bandage covers the face or hands, the prayer must be repeated, regardless of the situation. This rule applies absolutely, whether the bandage covers more healthy skin than necessary or not, and whether it was applied while in a state of purity or not.
 
Reason: Because for these body parts, there is a deficiency in both methods of purification: water cannot reach the skin, and dust (for Tayammum) also cannot reach the skin, as both are blocked by the covering.
 
 
 
2. Bandages on Other Body Parts
 
(Examples: legs, arms, or torso)
 
The ruling is divided into two conditions:
 
✅ PRAYER IS VALID (DO NOT NEED TO REPEAT)
 
The prayer is valid and does not need to be repeated if both conditions are met:
 
1. The bandage only covers healthy skin as necessary (just enough to secure the dressing).
2. The bandage was applied while the person was in a state of purity (already performed Wudu).
 
❌ PRAYER IS INVALID (MUST BE REPEATED)
 
The prayer is invalid and must be repeated if:
 
1. The bandage covers healthy skin more than what is necessary.
2. The bandage was applied while the person was in a state of impurity (had not performed Wudu).
 
 
 
SUMMARY OF RULINGS
 
In total, there are 6 scenarios which can be summarized as follows:
 
3 Conditions Requiring Repetition:
 
1. Located on the face or hands.
2. Covers healthy skin excessively.
3. Applied while in a state of impurity.
 
3 Conditions NOT Requiring Repetition:
 
1. Located on other body parts (not face/hands).
2. Applied while in a state of purity.
3. Only covers healthy skin as needed.
 
 
 
IMPORTANT NOTES
 
Definition of Jabirah:
Refers to supports such as wood or splints, or coverings like bandages, plasters, and ointments used on injured or broken bones, which prevent water from reaching the skin.
 
How to Perform Purification:
For an injured person, the method is:
 
- Wash the healthy parts of the body with water.
- Wipe water over the surface of the bandage/cast.
- Perform Tayammum (dry purification with dust) to replace the part that water cannot reach

Senin, 11 Mei 2026




SAKTI BUKAN TANDA WALI

  

Poin Penting:

 

1. Standar Ukuran Wali

Kewalian itu dinilai bukan dari kemampuan supranatural, melainkan dari keteguhan dalam mengamalkan syariat dan sunnah. Seorang wali yang sebenarnya adalah mereka yang istiqamah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

2. Kesaktian Bukan Jaminan Kelebihan

Orang-orang yang disebutkan dalam sejarah (seperti Bal'am, Firaun, Qarun, dan Musailamah) memiliki kekuatan luar biasa, namun mereka bukanlah wali

3. Ujian di Akhir Zaman

Di akhir zaman, orang-orang yang memamerkan kesaktian akan semakin banyak. Hal ini terjadi karena minat masyarakat yang cenderung lebih mudah terpesona oleh hal-hal yang bersifat gaib dan instan, daripada mempelajari ilmu syariat.

4. Ciri Guru yang Sebenarnya

Para ulama dan guru kita di pesantren tidak pernah memamerkan kesaktian, bukan berarti mereka tidak hebat. Justru kehebatan mereka terletak pada kesabaran, mengamalkan dan keteladanan dalam mengajarkan agama.

5. Peringatan Imam Syafi'i

Imam Syafi'i rahimahullah mengingatkan:"Jika kalian melihat seseorang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, janganlah kalian terpedaya, sampai kalian melihat apakah perilakunya sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah atau tidak."

 

Oleh karena itu, menjadi prinsip kita untuk lebih berhati-hati. Menjauhi orang yang mengaku sakti atau bertingkah aneh bukanlah tindakan sombong, melainkan upaya menjaga keimanan agar tidak goyah


ENGLISH 


SPIRITUAL POWER IS NOT THE SIGN OF A TRUE SAINT

 

Key Points:

 

1. The True Measure of Sainthood

Being a righteous servant of God (Wali) is not measured by supernatural abilities or miracles. The true standard is consistency in following the divine laws (Syariat) and the teachings of the Prophets. A true saint is one who is steadfast in obeying God's commands and avoiding what is forbidden.

 

2. Power Does Not Guarantee Goodness

Historical figures such as Bal'am, Pharaoh, Qarun, and Musailamah possessed extraordinary power. However, because they deviated from the truth, they were not considered righteous or holy.

 

3. A Test of the End Times

In the end times, people who claim to have special powers will increase in number. This happens because society is often more attracted to the mysterious, magical, and instant results, rather than learning and practicing true religious knowledge.

 

4. The Mark of a True Teacher

Our religious scholars and teachers do not show off supernatural powers. This does not mean they are not great; rather, their greatness lies in their patience, good character, and dedication in teaching the right path.

 

5. The Advice of Imam Al-Shafi'i

Imam Al-Shafi'i (may Allah have mercy on him) warned:

 

"If you see someone walking on water or flying in the air, do not be fooled by them. First, check if their actions and behavior are truly in accordance with the Holy Scripture and the Prophetic traditions."

 

Therefore, we must be very careful. Keeping a distance from those who claim to have magical powers or act strangely is not arrogance. It is simply a way to protect our faith and keep it strong


DALIL 


إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ ، فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

(البداية والنهاية:١٣ /٢٥١)

Jika kalian melihat orang berjalan di atas air atau terbang di udara, jangan tertipu, sampai kalian melihat prilakunya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah

If you see someone walking on water or flying in the air, do not be deceived until you see whether their conduct is in accordance with the Quran and Sunnah

SAKTI BUKAN BERARTI WALI




SAKTI BUKAN TANDA WALI

  

Poin Penting:

 

1. Standar Ukuran Wali

Kewalian itu dinilai bukan dari kemampuan supranatural, melainkan dari keteguhan dalam mengamalkan syariat dan sunnah. Seorang wali yang sebenarnya adalah mereka yang istiqamah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

2. Kesaktian Bukan Jaminan Kelebihan

Orang-orang yang disebutkan dalam sejarah (seperti Bal'am, Firaun, Qarun, dan Musailamah) memiliki kekuatan luar biasa, namun mereka bukanlah wali

3. Ujian di Akhir Zaman

Di akhir zaman, orang-orang yang memamerkan kesaktian akan semakin banyak. Hal ini terjadi karena minat masyarakat yang cenderung lebih mudah terpesona oleh hal-hal yang bersifat gaib dan instan, daripada mempelajari ilmu syariat.

4. Ciri Guru yang Sebenarnya

Para ulama dan guru kita di pesantren tidak pernah memamerkan kesaktian, bukan berarti mereka tidak hebat. Justru kehebatan mereka terletak pada kesabaran, mengamalkan dan keteladanan dalam mengajarkan agama.

5. Peringatan Imam Syafi'i

Imam Syafi'i rahimahullah mengingatkan:"Jika kalian melihat seseorang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, janganlah kalian terpedaya, sampai kalian melihat apakah perilakunya sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah atau tidak."

 

Oleh karena itu, menjadi prinsip kita untuk lebih berhati-hati. Menjauhi orang yang mengaku sakti atau bertingkah aneh bukanlah tindakan sombong, melainkan upaya menjaga keimanan agar tidak goyah


ENGLISH 


SPIRITUAL POWER IS NOT THE SIGN OF A TRUE SAINT

 

Key Points:

 

1. The True Measure of Sainthood

Being a righteous servant of God (Wali) is not measured by supernatural abilities or miracles. The true standard is consistency in following the divine laws (Syariat) and the teachings of the Prophets. A true saint is one who is steadfast in obeying God's commands and avoiding what is forbidden.

 

2. Power Does Not Guarantee Goodness

Historical figures such as Bal'am, Pharaoh, Qarun, and Musailamah possessed extraordinary power. However, because they deviated from the truth, they were not considered righteous or holy.

 

3. A Test of the End Times

In the end times, people who claim to have special powers will increase in number. This happens because society is often more attracted to the mysterious, magical, and instant results, rather than learning and practicing true religious knowledge.

 

4. The Mark of a True Teacher

Our religious scholars and teachers do not show off supernatural powers. This does not mean they are not great; rather, their greatness lies in their patience, good character, and dedication in teaching the right path.

 

5. The Advice of Imam Al-Shafi'i

Imam Al-Shafi'i (may Allah have mercy on him) warned:

 

"If you see someone walking on water or flying in the air, do not be fooled by them. First, check if their actions and behavior are truly in accordance with the Holy Scripture and the Prophetic traditions."

 

Therefore, we must be very careful. Keeping a distance from those who claim to have magical powers or act strangely is not arrogance. It is simply a way to protect our faith and keep it strong


DALIL 


إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ ، فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

(البداية والنهاية:١٣ /٢٥١)

Jika kalian melihat orang berjalan di atas air atau terbang di udara, jangan tertipu, sampai kalian melihat prilakunya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah

If you see someone walking on water or flying in the air, do not be deceived until you see whether their conduct is in accordance with the Quran and Sunnah




HEWAN TERTABRAK MOTOR, LALU DISEMBELIH: HALALKAH?
 
1. Hukum Dasar
 
Hewan tersebut halal dikonsumsi jika pada saat disembelih masih memiliki Hayatul Mustaqirrah (kehidupan yang masih stabil/nyawa yang masih menetap).
 
Artinya, kematian hewan tersebut harus disebabkan oleh proses penyembelihan, bukan karena akibat tabrakan sebelumnya.
 
2. Tanda-tanda Masih Memiliki Kehidupan Stabil
 
Sebelum pisau menyentuh leher, hewan harus menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang jelas, seperti:
 
- Masih melakukan gerakan yang kuat.
- Masih bisa melihat atau merespons rangsangan.
- Masih bisa berusaha menghindar atau lari jika dihalau/dikejar.
 
Jika tanda-tanda di atas tidak ada, maka hewan tersebut hukumnya haram dan dianggap sebagai bangkai.
 
Dalil:
"Apabila pada saat penyembelihan tidak ada kehidupan yang stabil, lalu hewan itu disembelih, maka dihukumi bangkai."
 
3. Alasan Mengapa Harus Ada Syarat Ini
 
Syarat adanya kehidupan yang stabil diberlakukan karena tabrakan motor termasuk dalam kategori sebab yang biasanya mengantarkan pada kematian.
 
Oleh karena itu, harus dipastikan bahwa nyawa hewan tersebut belum hilang akibat benturan sebelum ia disembelih.
 
 
 
Sumber: Kitab I'anatu At-thalibin juz 2 hal 346

ENGLISH 

ANIMAL HIT BY A MOTORCYCLE THEN SLAUGHTERED: IS IT PERMISSIBLE (HALAL)?
 
1. Basic Ruling
The animal is permissible to consume if, at the time of slaughter, it still possesses Hayatul Mustaqirrah (stable life / the soul is still firmly present).
 
This means the animal's death must be caused by the act of slaughtering, and not as a result of the previous accident or impact.
 
2. Signs of Stable Life
Before the knife touches the neck, the animal must show clear signs of being alive, such as:
 
- Making strong movements.
- Being able to see or respond to stimuli/touch.
- Attempting to avoid or run away when chased or disturbed.
 
If these signs are absent, then the animal is forbidden (Haram) to eat and is considered carrion (maytah).
 
Evidence:
"If there is no stable life at the time of slaughter, yet the animal is slaughtered, then it is ruled as carrion."
 
3. Reason for This Condition
The requirement for stable life is applied because being hit by a vehicle is considered a cause that commonly leads to death.
 
Therefore, it must be confirmed that the animal had not already died from the impact before it was slaughtered.
 
Source: Kitab I'anatu At-thalibin Volume 2, Page 346

DALIL 

‎ فَإِنْ لَمْ تُوجَدِ الْحَيَاةُ الْمُسْتَقِرَّةُ أَوَّلَ الذَّبْحِ ذُبِحَ، كَانَ مَيْتَةً

‎Apabila pada saat penyembelihan tidak ada kehidupan yang stabil, lalu hewan itu disembelih, maka dihukumi bangkai

If there is no stable life at the time of slaughter, yet the animal is slaughtered, then it is ruled as carrion

أَنَّ مَحَلَّ اشْتِرَاطِ وُجُودِ الْحَيَاةِ الْمُسْتَقِرَّةِ فِي أَوَّلِ الذَّبْحِ عِنْدَ تَقَدُّمِ سَبَبٍ يُحَالُ عَلَيْهِ الْهَلَاكُ ـ كَأَكْلِ نَبَاتٍ مُضِرٍّ ـ وَإِلَّا بِأَنْ لَمْ يَتَقَدَّمْ سَبَبٌ أَصْلًا أَوْ تَقَدَّمَ سَبَبٌ لَكِنْ لَا يُحَالُ عَلَيْهِ الْهَلَاكُ ـ كَالْمَرَضِ ـ فَلَا يُشْتَرَطُ ذَلِكَ

‎Diberlakukannya syarat "hayat mustaqirrah" (kehidupan yang stabil) pada saat penyembelihan adalah ketika sebelumnya ada sebab yang biasanya mengantarkan pada kematian seperti memakan tumbuhan berbahaya
Adapun jika sebelumnya tidak ada sebab kematian, atau ada sebab tetapi biasanya tidak menyebabkan kematian seperti sakit² biasa, maka tdk ada syarat hayatul mustaqirrah

The condition of hayat mustaqirrah (stable life) being required at the time of slaughter applies when there was a preceding cause that normally leads to death, such as eating poisonous plants. However, if there was no preceding cause of death, or if there was a cause but it does not usually result in death such as a common illness then the condition of hayatul mustaqirrah is not required

HEWAN TERTABRAK. HALAL KAH?




HEWAN TERTABRAK MOTOR, LALU DISEMBELIH: HALALKAH?
 
1. Hukum Dasar
 
Hewan tersebut halal dikonsumsi jika pada saat disembelih masih memiliki Hayatul Mustaqirrah (kehidupan yang masih stabil/nyawa yang masih menetap).
 
Artinya, kematian hewan tersebut harus disebabkan oleh proses penyembelihan, bukan karena akibat tabrakan sebelumnya.
 
2. Tanda-tanda Masih Memiliki Kehidupan Stabil
 
Sebelum pisau menyentuh leher, hewan harus menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang jelas, seperti:
 
- Masih melakukan gerakan yang kuat.
- Masih bisa melihat atau merespons rangsangan.
- Masih bisa berusaha menghindar atau lari jika dihalau/dikejar.
 
Jika tanda-tanda di atas tidak ada, maka hewan tersebut hukumnya haram dan dianggap sebagai bangkai.
 
Dalil:
"Apabila pada saat penyembelihan tidak ada kehidupan yang stabil, lalu hewan itu disembelih, maka dihukumi bangkai."
 
3. Alasan Mengapa Harus Ada Syarat Ini
 
Syarat adanya kehidupan yang stabil diberlakukan karena tabrakan motor termasuk dalam kategori sebab yang biasanya mengantarkan pada kematian.
 
Oleh karena itu, harus dipastikan bahwa nyawa hewan tersebut belum hilang akibat benturan sebelum ia disembelih.
 
 
 
Sumber: Kitab I'anatu At-thalibin juz 2 hal 346

ENGLISH 

ANIMAL HIT BY A MOTORCYCLE THEN SLAUGHTERED: IS IT PERMISSIBLE (HALAL)?
 
1. Basic Ruling
The animal is permissible to consume if, at the time of slaughter, it still possesses Hayatul Mustaqirrah (stable life / the soul is still firmly present).
 
This means the animal's death must be caused by the act of slaughtering, and not as a result of the previous accident or impact.
 
2. Signs of Stable Life
Before the knife touches the neck, the animal must show clear signs of being alive, such as:
 
- Making strong movements.
- Being able to see or respond to stimuli/touch.
- Attempting to avoid or run away when chased or disturbed.
 
If these signs are absent, then the animal is forbidden (Haram) to eat and is considered carrion (maytah).
 
Evidence:
"If there is no stable life at the time of slaughter, yet the animal is slaughtered, then it is ruled as carrion."
 
3. Reason for This Condition
The requirement for stable life is applied because being hit by a vehicle is considered a cause that commonly leads to death.
 
Therefore, it must be confirmed that the animal had not already died from the impact before it was slaughtered.
 
Source: Kitab I'anatu At-thalibin Volume 2, Page 346

DALIL 

‎ فَإِنْ لَمْ تُوجَدِ الْحَيَاةُ الْمُسْتَقِرَّةُ أَوَّلَ الذَّبْحِ ذُبِحَ، كَانَ مَيْتَةً

‎Apabila pada saat penyembelihan tidak ada kehidupan yang stabil, lalu hewan itu disembelih, maka dihukumi bangkai

If there is no stable life at the time of slaughter, yet the animal is slaughtered, then it is ruled as carrion

أَنَّ مَحَلَّ اشْتِرَاطِ وُجُودِ الْحَيَاةِ الْمُسْتَقِرَّةِ فِي أَوَّلِ الذَّبْحِ عِنْدَ تَقَدُّمِ سَبَبٍ يُحَالُ عَلَيْهِ الْهَلَاكُ ـ كَأَكْلِ نَبَاتٍ مُضِرٍّ ـ وَإِلَّا بِأَنْ لَمْ يَتَقَدَّمْ سَبَبٌ أَصْلًا أَوْ تَقَدَّمَ سَبَبٌ لَكِنْ لَا يُحَالُ عَلَيْهِ الْهَلَاكُ ـ كَالْمَرَضِ ـ فَلَا يُشْتَرَطُ ذَلِكَ

‎Diberlakukannya syarat "hayat mustaqirrah" (kehidupan yang stabil) pada saat penyembelihan adalah ketika sebelumnya ada sebab yang biasanya mengantarkan pada kematian seperti memakan tumbuhan berbahaya
Adapun jika sebelumnya tidak ada sebab kematian, atau ada sebab tetapi biasanya tidak menyebabkan kematian seperti sakit² biasa, maka tdk ada syarat hayatul mustaqirrah

The condition of hayat mustaqirrah (stable life) being required at the time of slaughter applies when there was a preceding cause that normally leads to death, such as eating poisonous plants. However, if there was no preceding cause of death, or if there was a cause but it does not usually result in death such as a common illness then the condition of hayatul mustaqirrah is not required

Rabu, 06 Mei 2026


FALSAFAH ORANG JAWA: MAKNA DI BALIK "NGOPI" ☕
 
Jika mampu kerjakan, jika belum mampu, NGOPI dulu.
 
Sejatinya manusia butuh NGOPI (Ngolah Pikiran). Itulah sebabnya kopi terasa PAHIT, namun sepahit apa pun tetap bisa dibuat manis dengan menambahkan:
 
LEGI (Legowo ning ati)
Hati yang harus berlapang dada. Caranya dengan menambahkan GULO.
 
GULO (Gulangane Roso)
Mengelola perasaan baik dan berpikir positif. Gula berasal dari TEBU.
 
TEBU (Anteb ning Kalbu)
Keyakinan yang mantap dan kokoh di dalam hati. Kemudian dituangkan ke dalam CANGKIR.
 
CANGKIR (Nyancangne Pikir)
Memperkuat dan meneguhkan pikiran. Lalu disiram dengan WEDANG.
 
WEDANG (Wejangan Sing Marahi Padang)
Nasehat atau ilmu yang dapat menerangi dan mencerahkan hati. Jangan lupa di-UDHEG
 
UDHEG (Usahane Ojo Nganti Mandeg)
Berusaha terus menerus tanpa henti dan jangan mudah lelah. Diaduk menggunakan SENDOK.
 
SENDOK (Sendhekno Marang Sing Nduwe Kautaman)
Berserah diri dan pasrahkan segala urusan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tunggu hingga ADEM.
 
ADEM (Ati digowo Lerem)
Hati menjadi tenang dan damai. Setelah itu, baru di-SERUPUT.
 
SERUPUT (Sedoyo Rubedo Bakal Luput)
Dihirup pelan-pelan, maka segala rintangan, masalah, dan godaan akan terhindar serta hilang.
 
Inilah makna mendalam dari filosofi "Ngopi" orang Jawa.
 
Silahkan... Ngopiii ☕

ENGLISH 

JAVANESE PHILOSOPHY: THE MEANING BEHIND "NGOPI (DRINKING COFFEE)" ☕
 
If you are able, do it. If not yet, take a moment to NGOPI first.
 
Essentially, humans need NGOPI (Ngolah Pikiran), which means PROCESSING YOUR THOUGHTS. This is why coffee tastes BITTER. However, no matter how bitter it is, it can still be made sweet by adding:
 
LEGI (Legowo ning ati)
SINCERE & OPEN-HEARTEDNESS. Have a broad chest and accept things sincerely. To achieve this, add GULO.
 
GULO (Gulangane Roso)
MANAGING GOOD FEELINGS and thinking positively. Sugar comes from TEBU.
 
TEBU (Anteb ning Kalbu)
FIRM & STEADFAST BELIEF rooted deep in the heart. Then pour it into a CANGKIR.
 
CANGKIR (Nyancangne Pikir)
STRENGTHENING YOUR MIND and thoughts. Then pour in the WEDANG.
 
WEDANG (Wejangan Sing Marahi Padang)
ADVICE OR KNOWLEDGE that enlightens and illuminates the heart. Do not forget to UDHEG (stir it).
 
UDHEG (Usahane Ojo Nganti Mandeg)
KEEP STRIVING continuously without stopping and never get tired. Stir it using a SENDOK.
 
SENDOK (Sendhekno Marang Sing Nduwe Kautaman)
ENTRUST & SURRENDER all matters to God the Almighty. Wait until it becomes ADEM.
 
ADEM (Ati digowo Lerem)
CALMNESS OF THE HEART. The heart becomes peaceful and serene. After that, take a SERUPUT.
 
SERUPUT (Sedoyo Rubedo Bakal Luput)
SIp SLOWLY, and all obstacles, problems, and temptations will be avoided and disappear.
 
This is the deep meaning behind the Javanese philosophy of "Ngopi".
 
Please... Enjoy your coffee ☕

BELAJAR HIDUP DARI NGOPI


FALSAFAH ORANG JAWA: MAKNA DI BALIK "NGOPI" ☕
 
Jika mampu kerjakan, jika belum mampu, NGOPI dulu.
 
Sejatinya manusia butuh NGOPI (Ngolah Pikiran). Itulah sebabnya kopi terasa PAHIT, namun sepahit apa pun tetap bisa dibuat manis dengan menambahkan:
 
LEGI (Legowo ning ati)
Hati yang harus berlapang dada. Caranya dengan menambahkan GULO.
 
GULO (Gulangane Roso)
Mengelola perasaan baik dan berpikir positif. Gula berasal dari TEBU.
 
TEBU (Anteb ning Kalbu)
Keyakinan yang mantap dan kokoh di dalam hati. Kemudian dituangkan ke dalam CANGKIR.
 
CANGKIR (Nyancangne Pikir)
Memperkuat dan meneguhkan pikiran. Lalu disiram dengan WEDANG.
 
WEDANG (Wejangan Sing Marahi Padang)
Nasehat atau ilmu yang dapat menerangi dan mencerahkan hati. Jangan lupa di-UDHEG
 
UDHEG (Usahane Ojo Nganti Mandeg)
Berusaha terus menerus tanpa henti dan jangan mudah lelah. Diaduk menggunakan SENDOK.
 
SENDOK (Sendhekno Marang Sing Nduwe Kautaman)
Berserah diri dan pasrahkan segala urusan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tunggu hingga ADEM.
 
ADEM (Ati digowo Lerem)
Hati menjadi tenang dan damai. Setelah itu, baru di-SERUPUT.
 
SERUPUT (Sedoyo Rubedo Bakal Luput)
Dihirup pelan-pelan, maka segala rintangan, masalah, dan godaan akan terhindar serta hilang.
 
Inilah makna mendalam dari filosofi "Ngopi" orang Jawa.
 
Silahkan... Ngopiii ☕

ENGLISH 

JAVANESE PHILOSOPHY: THE MEANING BEHIND "NGOPI (DRINKING COFFEE)" ☕
 
If you are able, do it. If not yet, take a moment to NGOPI first.
 
Essentially, humans need NGOPI (Ngolah Pikiran), which means PROCESSING YOUR THOUGHTS. This is why coffee tastes BITTER. However, no matter how bitter it is, it can still be made sweet by adding:
 
LEGI (Legowo ning ati)
SINCERE & OPEN-HEARTEDNESS. Have a broad chest and accept things sincerely. To achieve this, add GULO.
 
GULO (Gulangane Roso)
MANAGING GOOD FEELINGS and thinking positively. Sugar comes from TEBU.
 
TEBU (Anteb ning Kalbu)
FIRM & STEADFAST BELIEF rooted deep in the heart. Then pour it into a CANGKIR.
 
CANGKIR (Nyancangne Pikir)
STRENGTHENING YOUR MIND and thoughts. Then pour in the WEDANG.
 
WEDANG (Wejangan Sing Marahi Padang)
ADVICE OR KNOWLEDGE that enlightens and illuminates the heart. Do not forget to UDHEG (stir it).
 
UDHEG (Usahane Ojo Nganti Mandeg)
KEEP STRIVING continuously without stopping and never get tired. Stir it using a SENDOK.
 
SENDOK (Sendhekno Marang Sing Nduwe Kautaman)
ENTRUST & SURRENDER all matters to God the Almighty. Wait until it becomes ADEM.
 
ADEM (Ati digowo Lerem)
CALMNESS OF THE HEART. The heart becomes peaceful and serene. After that, take a SERUPUT.
 
SERUPUT (Sedoyo Rubedo Bakal Luput)
SIp SLOWLY, and all obstacles, problems, and temptations will be avoided and disappear.
 
This is the deep meaning behind the Javanese philosophy of "Ngopi".
 
Please... Enjoy your coffee ☕

Selasa, 05 Mei 2026


BAHASA YANG DIGUNAKAN MALAIKAT MUNKAR DAN NAKIR
 
- Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada ahli kubur menggunakan bahasa yang biasa digunakan oleh orang tersebut sehari-hari saat masih hidup di dunia. Hal ini bertujuan agar ahli kubur dapat memahami pertanyaan dengan jelas.
 
Pertanyaan yang Diajukan
 
- Para malaikat akan menanyakan hal-hal fundamental mengenai keimanan, antara lain:- Siapa Tuhanmu?
- Apa Agamamu?
- Siapa Nabimu?
- Apa Kiblatmu?
- Siapa saudaramu?
- Apa pedoman/imammu?
- Bagaimana jalan hidup dan amalmu?
- Apa pendapatmu mengenai Nabi Muhammad SAW?
 
Jawaban Orang Beriman
 
- Orang yang beriman akan dapat menjawab dengan tegas dan benar, menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan, Islam adalah agama, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
- Sebagai balasan, malaikat akan memintanya untuk beristirahat dengan tenang "sebagaimana tidurnya pengantin" hingga hari kiamat tiba.
 
Jawaban Orang Kafir dan Munafik
 
- Sebaliknya, orang kafir dan munafik akan merasa panik, bingung, dan diliputi ketakutan.
- Mereka tidak mampu menjawab dengan benar dan hanya akan mengatakan, "Aku tidak tahu"

ENGLISH

THE LANGUAGE USED BY THE ANGELS MUNKAR AND NAKIR
 
- The Angels Munkar and Nakir will question the deceased using the language that the person commonly spoke in daily life while still alive in the world. This is so that the deceased can understand the questions clearly.
 
The Questions Asked
 
- The angels will ask fundamental matters regarding faith, including:- Who is your Lord?
- What is your religion?
- Who is your Prophet?
- What is your Qiblah (direction of prayer)?
- Who are your brothers/sisters?
- What is your guide/Imam?
- What is your way of life and your deeds?
- What is your opinion regarding the Prophet Muhammad SAW?
 
The Answer of a Believer
 
- A believer will be able to answer firmly and correctly, confirming that Allah is the Lord, Islam is the religion, and Prophet Muhammad is the Messenger of Allah.
- In response, the angels will tell them to rest peacefully "like the sleep of a bride/groom" until the Day of Judgment arrives.
 
The Answer of Disbelievers and Hypocrites
 
- In contrast, disbelievers and hypocrites will feel panic, confusion, and overwhelming fear.
- They will not be able to answer correctly and will only say, "I do not know"

DALIL

ويسألان كل إنسان بلغته ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك 

 
Artinya: Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, "Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Apa kiblatmu? Siapa saudaramu? Apa imammu? Apa jalan hidupmu? Apa amalmu?" (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: Both (the Angels Munkar and Nakir) ask every deceased person in their respective language. They ask, "Who is your Lord? What is your religion? Who is your Prophet? What is your Qiblah? Who are your brothers? What is your Imam? What is your way of life? What are your deeds?" (Sheikh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no year listed], page 17)

والمؤمن يقول لهما ربي الله وحده لا شريك له والإسلام ديني ومحمد نبي وهو خاتم النبيين والكعبة قبلتي والمؤمنون إخوتي والقرآن إمامي والسنة منهاجي وأنا قرأت كتاب الله فآمنت به وصدقته ويقولان له إذا وفق للجواب صدقت ونم نوم العروس الذي لا يوقظه إلا أحب الناس إليه


Artinya: Orang mukmin menjawab keduanya, "Tuhanku adalah Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. Islam agamaku. Muhammad adalah nabiku, ia penutup para nabi. Ka’bah adalah kiblatku. Orang-orang mukmin adalah saudaraku. Al-Qur’an adalah imamku. Sunnah rasul adalah jalan hidupku. Aku membaca kitabullah, dan beriman serta membenarkannya. Kedua malaikat itu berkata kepada ahli kubur yang beriman itu ketika mendapat taufiq untuk menjawabnya: Kau benar. Tidurlah sebagaimana tidur para pengantin yang tiada dapat membangunkannya kecuali orang yang paling mengasihinya (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: The believer answers them both, "My Lord is Allah, the One and Only, there is no partner unto Him. Islam is my religion. Muhammad is my Prophet, he is the Seal of the Prophets. The Kaaba is my Qiblah. The believers are my brothers. The Quran is my guide. The Sunnah of the Messenger is my way of life. I read the Book of Allah, and I believe in and affirm its truth." The two angels then say to the believing soul who is granted the ability to answer correctly: "You have spoken the truth. Sleep now like the sleep of a bride and groom, whom none shall wake except the one most beloved to them."
 
(See Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: n.d.], page 17)

وفي رواية البخاري ومسلم إنهما يقولان له ما كنت تقول في هذا النبي محمد صلى الله عليه وسلم فيقول المؤمن اشهد أنه عبد الله ورسوله انتهى وأما الكافر والمنافق فيحصل لهما رعب فيقولان لهما هاه هاه لا أدري 

 
Artinya: Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, kedua malaikat itu bertanya kepada ahli kubur,"Apa pendapatmu perihal nabi ini, Nabi Muhammad SAW?’ Ahli kubur yang beriman itu menjawab keduanya, ‘Saksikanlah bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) itu hamba dan utusan Allah. Selesai. Adapun orang kafir dan munafik diliputi rasa takut. Keduanya (orang kafir dan munafik) menjawab: Oh, oh, aku tidak tahu," (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: According to the narration of Al-Bukhari and Muslim, the two angels ask the deceased, "What is your opinion regarding this Prophet, Prophet Muhammad SAW?" The believing deceased answers them, "Bear witness that he (Prophet Muhammad SAW) is the servant and Messenger of Allah." That is all. As for the disbelievers and hypocrites, they are overwhelmed by fear. They (the disbelievers and hypocrites) answer: "Oh, oh, I do not know."
 
(Sheikh M Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no date], page 17)

MALAIKAT MUNKAR NAKIR


BAHASA YANG DIGUNAKAN MALAIKAT MUNKAR DAN NAKIR
 
- Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada ahli kubur menggunakan bahasa yang biasa digunakan oleh orang tersebut sehari-hari saat masih hidup di dunia. Hal ini bertujuan agar ahli kubur dapat memahami pertanyaan dengan jelas.
 
Pertanyaan yang Diajukan
 
- Para malaikat akan menanyakan hal-hal fundamental mengenai keimanan, antara lain:- Siapa Tuhanmu?
- Apa Agamamu?
- Siapa Nabimu?
- Apa Kiblatmu?
- Siapa saudaramu?
- Apa pedoman/imammu?
- Bagaimana jalan hidup dan amalmu?
- Apa pendapatmu mengenai Nabi Muhammad SAW?
 
Jawaban Orang Beriman
 
- Orang yang beriman akan dapat menjawab dengan tegas dan benar, menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan, Islam adalah agama, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
- Sebagai balasan, malaikat akan memintanya untuk beristirahat dengan tenang "sebagaimana tidurnya pengantin" hingga hari kiamat tiba.
 
Jawaban Orang Kafir dan Munafik
 
- Sebaliknya, orang kafir dan munafik akan merasa panik, bingung, dan diliputi ketakutan.
- Mereka tidak mampu menjawab dengan benar dan hanya akan mengatakan, "Aku tidak tahu"

ENGLISH

THE LANGUAGE USED BY THE ANGELS MUNKAR AND NAKIR
 
- The Angels Munkar and Nakir will question the deceased using the language that the person commonly spoke in daily life while still alive in the world. This is so that the deceased can understand the questions clearly.
 
The Questions Asked
 
- The angels will ask fundamental matters regarding faith, including:- Who is your Lord?
- What is your religion?
- Who is your Prophet?
- What is your Qiblah (direction of prayer)?
- Who are your brothers/sisters?
- What is your guide/Imam?
- What is your way of life and your deeds?
- What is your opinion regarding the Prophet Muhammad SAW?
 
The Answer of a Believer
 
- A believer will be able to answer firmly and correctly, confirming that Allah is the Lord, Islam is the religion, and Prophet Muhammad is the Messenger of Allah.
- In response, the angels will tell them to rest peacefully "like the sleep of a bride/groom" until the Day of Judgment arrives.
 
The Answer of Disbelievers and Hypocrites
 
- In contrast, disbelievers and hypocrites will feel panic, confusion, and overwhelming fear.
- They will not be able to answer correctly and will only say, "I do not know"

DALIL

ويسألان كل إنسان بلغته ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك 

 
Artinya: Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, "Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Apa kiblatmu? Siapa saudaramu? Apa imammu? Apa jalan hidupmu? Apa amalmu?" (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: Both (the Angels Munkar and Nakir) ask every deceased person in their respective language. They ask, "Who is your Lord? What is your religion? Who is your Prophet? What is your Qiblah? Who are your brothers? What is your Imam? What is your way of life? What are your deeds?" (Sheikh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no year listed], page 17)

والمؤمن يقول لهما ربي الله وحده لا شريك له والإسلام ديني ومحمد نبي وهو خاتم النبيين والكعبة قبلتي والمؤمنون إخوتي والقرآن إمامي والسنة منهاجي وأنا قرأت كتاب الله فآمنت به وصدقته ويقولان له إذا وفق للجواب صدقت ونم نوم العروس الذي لا يوقظه إلا أحب الناس إليه


Artinya: Orang mukmin menjawab keduanya, "Tuhanku adalah Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. Islam agamaku. Muhammad adalah nabiku, ia penutup para nabi. Ka’bah adalah kiblatku. Orang-orang mukmin adalah saudaraku. Al-Qur’an adalah imamku. Sunnah rasul adalah jalan hidupku. Aku membaca kitabullah, dan beriman serta membenarkannya. Kedua malaikat itu berkata kepada ahli kubur yang beriman itu ketika mendapat taufiq untuk menjawabnya: Kau benar. Tidurlah sebagaimana tidur para pengantin yang tiada dapat membangunkannya kecuali orang yang paling mengasihinya (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: The believer answers them both, "My Lord is Allah, the One and Only, there is no partner unto Him. Islam is my religion. Muhammad is my Prophet, he is the Seal of the Prophets. The Kaaba is my Qiblah. The believers are my brothers. The Quran is my guide. The Sunnah of the Messenger is my way of life. I read the Book of Allah, and I believe in and affirm its truth." The two angels then say to the believing soul who is granted the ability to answer correctly: "You have spoken the truth. Sleep now like the sleep of a bride and groom, whom none shall wake except the one most beloved to them."
 
(See Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: n.d.], page 17)

وفي رواية البخاري ومسلم إنهما يقولان له ما كنت تقول في هذا النبي محمد صلى الله عليه وسلم فيقول المؤمن اشهد أنه عبد الله ورسوله انتهى وأما الكافر والمنافق فيحصل لهما رعب فيقولان لهما هاه هاه لا أدري 

 
Artinya: Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, kedua malaikat itu bertanya kepada ahli kubur,"Apa pendapatmu perihal nabi ini, Nabi Muhammad SAW?’ Ahli kubur yang beriman itu menjawab keduanya, ‘Saksikanlah bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) itu hamba dan utusan Allah. Selesai. Adapun orang kafir dan munafik diliputi rasa takut. Keduanya (orang kafir dan munafik) menjawab: Oh, oh, aku tidak tahu," (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: According to the narration of Al-Bukhari and Muslim, the two angels ask the deceased, "What is your opinion regarding this Prophet, Prophet Muhammad SAW?" The believing deceased answers them, "Bear witness that he (Prophet Muhammad SAW) is the servant and Messenger of Allah." That is all. As for the disbelievers and hypocrites, they are overwhelmed by fear. They (the disbelievers and hypocrites) answer: "Oh, oh, I do not know."
 
(Sheikh M Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no date], page 17)

Senin, 04 Mei 2026


SABAR ITU ADA TIGA MACAM
 
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda bahwa sabar terbagi menjadi tiga macam dengan tingkatan yang berbeda-beda:
 
1. Sabar dalam Ketaatan
Yaitu ketabahan dalam menjalankan perintah Allah dan ibadah dengan konsisten.
2. Sabar atas Musibah
Yaitu ketabahan dalam menerima segala ujian, kesulitan, dan cobaan yang menimpa dengan hati yang ikhlas.
3. Sabar dari Maksiat
Yaitu ketabahan dalam menahan diri dan menjauhi segala larangan Allah serta perbuatan dosa.
 
 
 
Pahala dan Tingkatannya
 
Setiap jenis kesabaran memiliki ganjaran derajat yang sangat mulia di sisi Allah SWT, yaitu:
 
- Barangsiapa bersabar dari maksiat hingga menolaknya dengan sebaik-baiknya, maka Allah mencatat baginya 300 derajat.
- Barangsiapa bersabar dalam ketaatan, maka Allah mencatat baginya 600 derajat.
- Barangsiapa bersabar atas musibah, maka Allah mencatat baginya 900 derajat.
 
Wallahu a'lam bish-shawab

ENGLISH

THERE ARE THREE TYPES OF SABR (PATIENCE)
 
It is narrated from the Prophet Muhammad ﷺ that he said patience (Sabar) is divided into three types with different levels:
 
1. Sabar in Obedience
Being steadfast in carrying out the commands of Allah and worship consistently.
 
2. Sabar in the Face of Calamity
Being steadfast in accepting all trials, difficulties, and tests with a sincere heart.
 
3. Sabar in Avoiding Disobedience
Being steadfast in restraining oneself and staying away from all prohibitions of Allah and sinful acts.
 
 
 
Rewards and Levels
 
Each type of patience has a noble reward and rank with Allah SWT, as follows:
 
- Whoever is patient in avoiding disobedience and rejects it in the best way, Allah records for them 300 degrees.
- Whoever is patient in obedience, Allah records for them 600 degrees.
- Whoever is patient in the face of calamity, Allah records for them 900 degrees.
 
Wallahu a'lam bish-shawab
(And Allah knows best what is correct)

SABAR ITU ADA 3


SABAR ITU ADA TIGA MACAM
 
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda bahwa sabar terbagi menjadi tiga macam dengan tingkatan yang berbeda-beda:
 
1. Sabar dalam Ketaatan
Yaitu ketabahan dalam menjalankan perintah Allah dan ibadah dengan konsisten.
2. Sabar atas Musibah
Yaitu ketabahan dalam menerima segala ujian, kesulitan, dan cobaan yang menimpa dengan hati yang ikhlas.
3. Sabar dari Maksiat
Yaitu ketabahan dalam menahan diri dan menjauhi segala larangan Allah serta perbuatan dosa.
 
 
 
Pahala dan Tingkatannya
 
Setiap jenis kesabaran memiliki ganjaran derajat yang sangat mulia di sisi Allah SWT, yaitu:
 
- Barangsiapa bersabar dari maksiat hingga menolaknya dengan sebaik-baiknya, maka Allah mencatat baginya 300 derajat.
- Barangsiapa bersabar dalam ketaatan, maka Allah mencatat baginya 600 derajat.
- Barangsiapa bersabar atas musibah, maka Allah mencatat baginya 900 derajat.
 
Wallahu a'lam bish-shawab

ENGLISH

THERE ARE THREE TYPES OF SABR (PATIENCE)
 
It is narrated from the Prophet Muhammad ﷺ that he said patience (Sabar) is divided into three types with different levels:
 
1. Sabar in Obedience
Being steadfast in carrying out the commands of Allah and worship consistently.
 
2. Sabar in the Face of Calamity
Being steadfast in accepting all trials, difficulties, and tests with a sincere heart.
 
3. Sabar in Avoiding Disobedience
Being steadfast in restraining oneself and staying away from all prohibitions of Allah and sinful acts.
 
 
 
Rewards and Levels
 
Each type of patience has a noble reward and rank with Allah SWT, as follows:
 
- Whoever is patient in avoiding disobedience and rejects it in the best way, Allah records for them 300 degrees.
- Whoever is patient in obedience, Allah records for them 600 degrees.
- Whoever is patient in the face of calamity, Allah records for them 900 degrees.
 
Wallahu a'lam bish-shawab
(And Allah knows best what is correct)


7 KEMULIAAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU MESKIPUN TIDAK FAHAM

Dijelaskan dalam kitab Tanbihul Ghafilin halaman 159, bahwa seseorang yang duduk bersama orang alim meskipun tidak mampu menghafal ilmunya, tetap akan memperoleh tujuh kemuliaan dari Allah SWT:
 
Tujuh Kemuliaan Utama:
 
1. Mendapatkan keutamaan para penuntut ilmu.
2. Terhindar dari perbuatan dosa dan kesalahan
3. Turunnya rahmat Allah saat ia berangkat ke majelis
4. Ikut mendapatkan rahmat dan keberkahan dari para ulama.
5. Setiap ilmu yang didengarnya dicatat sebagai amal kebaikan.
6. Para malaikat melindungi dengan sayapnya selama ia berada di sana.
7. Setiap langkah kakinya menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, dan penambah kebaikan
 
Enam Kemuliaan Tambahan:
Selain itu, Allah juga menganugerahkan enam kemuliaan lainnya, yaitu:
 
1. Dimuliakan karena kecintaannya menyaksikan majelis ilmu.
2. Mendapatkan pahala setara dengan para ulama tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
3. Mendapatkan syafaat (pertolongan) jika salah seorang di antara mereka diampuni Allah.
4. Hatinya menjadi sejuk dari orang-orang fasik
5. Termasuk dalam golongan orang-orang yang belajar dan orang-orang shalih.
6. Dijadikan sebagai orang yang Rabbani (bijaksana dan mengamalkan ilmu), sesuai firman Allah SWT.
 
Kemuliaan-kemuliaan ini diperoleh meskipun ia tidak hafal ilmunya. Bagi yang mampu menghafal dan memahami, maka kemuliaannya akan berlipat ganda.
 
 
 
📚 Sumber: Tanbihul Ghafilin, Hal. 159

ENGLISH

7 GLORIES OF ATTENDING A RELIGIOUS GATHERING EVEN IF YOU DO NOT UNDERSTAND
 
As explained in the book Tanbihul Ghafilin page 159, a person who sits with scholars, even if they cannot memorize the knowledge, will still receive seven honors from Allah SWT:
 
The Seven Main Honors:
 
1. Gaining the virtue of being a seeker of knowledge.
2. Being protected from committing sins and mistakes.
3. The mercy of Allah descends upon them while traveling to the gathering.
4. Receiving mercy and blessings alongside the scholars.
5. Every piece of knowledge heard is recorded as a good deed.
6. The angels surround and protect them with their wings.
7. Every step taken erases sins, raises their rank, and adds good deeds.
 
Six Additional Honors:
 
Furthermore, Allah bestows six more honors, namely:
 
1. Being honored for their love of attending religious gatherings.
2. Receiving rewards equal to the scholars, without decreasing their rewards in the slightest.
3. Obtaining intercession (syafa'at) if one among them is forgiven by Allah.
4. Having a heart that finds comfort away from wicked people.
5. Being included in the group of learners and righteous people.
6. Being raised as a Rabbani person (wise and practicing knowledge), according to the word of Allah SWT.
 
These honors are granted even if one does not memorize the knowledge. For those who are able to memorize and understand, their rewards will be multiplied manifold.
 
📚 Source: Tanbihul Ghafilin, Page 159

MENDATANGI MAJELIS TANPA FAHAM


7 KEMULIAAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU MESKIPUN TIDAK FAHAM

Dijelaskan dalam kitab Tanbihul Ghafilin halaman 159, bahwa seseorang yang duduk bersama orang alim meskipun tidak mampu menghafal ilmunya, tetap akan memperoleh tujuh kemuliaan dari Allah SWT:
 
Tujuh Kemuliaan Utama:
 
1. Mendapatkan keutamaan para penuntut ilmu.
2. Terhindar dari perbuatan dosa dan kesalahan
3. Turunnya rahmat Allah saat ia berangkat ke majelis
4. Ikut mendapatkan rahmat dan keberkahan dari para ulama.
5. Setiap ilmu yang didengarnya dicatat sebagai amal kebaikan.
6. Para malaikat melindungi dengan sayapnya selama ia berada di sana.
7. Setiap langkah kakinya menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, dan penambah kebaikan
 
Enam Kemuliaan Tambahan:
Selain itu, Allah juga menganugerahkan enam kemuliaan lainnya, yaitu:
 
1. Dimuliakan karena kecintaannya menyaksikan majelis ilmu.
2. Mendapatkan pahala setara dengan para ulama tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
3. Mendapatkan syafaat (pertolongan) jika salah seorang di antara mereka diampuni Allah.
4. Hatinya menjadi sejuk dari orang-orang fasik
5. Termasuk dalam golongan orang-orang yang belajar dan orang-orang shalih.
6. Dijadikan sebagai orang yang Rabbani (bijaksana dan mengamalkan ilmu), sesuai firman Allah SWT.
 
Kemuliaan-kemuliaan ini diperoleh meskipun ia tidak hafal ilmunya. Bagi yang mampu menghafal dan memahami, maka kemuliaannya akan berlipat ganda.
 
 
 
📚 Sumber: Tanbihul Ghafilin, Hal. 159

ENGLISH

7 GLORIES OF ATTENDING A RELIGIOUS GATHERING EVEN IF YOU DO NOT UNDERSTAND
 
As explained in the book Tanbihul Ghafilin page 159, a person who sits with scholars, even if they cannot memorize the knowledge, will still receive seven honors from Allah SWT:
 
The Seven Main Honors:
 
1. Gaining the virtue of being a seeker of knowledge.
2. Being protected from committing sins and mistakes.
3. The mercy of Allah descends upon them while traveling to the gathering.
4. Receiving mercy and blessings alongside the scholars.
5. Every piece of knowledge heard is recorded as a good deed.
6. The angels surround and protect them with their wings.
7. Every step taken erases sins, raises their rank, and adds good deeds.
 
Six Additional Honors:
 
Furthermore, Allah bestows six more honors, namely:
 
1. Being honored for their love of attending religious gatherings.
2. Receiving rewards equal to the scholars, without decreasing their rewards in the slightest.
3. Obtaining intercession (syafa'at) if one among them is forgiven by Allah.
4. Having a heart that finds comfort away from wicked people.
5. Being included in the group of learners and righteous people.
6. Being raised as a Rabbani person (wise and practicing knowledge), according to the word of Allah SWT.
 
These honors are granted even if one does not memorize the knowledge. For those who are able to memorize and understand, their rewards will be multiplied manifold.
 
📚 Source: Tanbihul Ghafilin, Page 159

Minggu, 03 Mei 2026


BEDA HUKUM MENGONSUMSI KADAL GURUN DAN BIAWAK
 
1. Persepsi Umum Mengenai Biawak
 
- Biawak adalah hewan yang sering ditemukan di tempat lembap, rawa-rawa, dan dekat perairan.
- Di beberapa daerah, daging biawak diolah menjadi makanan dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan, seperti meningkatkan stamina dan mencegah penyakit tertentu.
- Banyak masyarakat menganggap biawak halal dimakan karena menyamakannya dengan hewan Dlabb yang disebutkan dalam hadits.
 
2. Perbedaan Antara Hewan Dlabb dan Biawak
 
Secara hukum Islam, sangat penting membedakan definisi kedua hewan ini karena memiliki status hukum yang berbeda:
 
A. Hewan Dlabb (Kadal Gurun)
 
- Nama lain: Uromastyx atau Kadal Gurun.
- Habitat: Hidup di daerah gurun pasir, bukan di rawa-rawa atau air.
- Makanan: Memakan rerumputan dan belalang (bukan hewan buas/pemangsa).
- Ciri fisik: Tubuh kasar dan tebal, ekor lebar dan tidak terlalu panjang, ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan biawak.
- Keterangan khusus: Menurut kitab fiqih, hewan ini memiliki karakteristik khusus seperti jarang minum air dan kencing hanya sekali dalam 40 hari.
- Hukum: HALAL. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Al-Bukhari yang menyatakan bahwa sahabat Nabi pernah memakannya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Makanlah, karena daging itu halal... akan tetapi bukan makananku."
 
B. Hewan Biawak
 
- Nama Arab: Al-Waral.
- Habitat: Hidup di rawa-rawa, sungai, dan tempat yang lembap.
- Makanan: Termasuk hewan buas yang memangsa kodok, ikan, tikus, burung, dan hewan kecil lainnya.
- Ciri fisik: Tubuh lebih besar, ekor panjang dan licin, serta hidup berdekatan dengan air.
- Hukum: HARAM.
 
3. Dalil dan Dasar Hukum Keharaman Biawak
 
- Meskipun bentuk fisiknya mirip, biawak bukanlah hewan Dlabb yang dimaksud dalam hadits.
- Hal ini ditegaskan dalam kitab Bulghah at-Thullab yang menyatakan: "Hewan yang dikenal dengan nama biawak itu sejatinya bukanlah binatang Dlabb, maka haram mengonsumsinya."
- Ketetapan ini juga telah diputuskan sejak lama dalam Muktamar ke-7 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan pada tanggal 9 Agustus 1932 M di Bandung.
- Alasan keharamannya adalah karena biawak tergolong hewan yang menjijikkan (qadharah) menurut pandangan tabiat orang Arab secara umum dan bersifat buas.
 
4. Kesimpulan
 
- Kadal Gurun (Dlabb) adalah hewan yang Halal dimakan berdasarkan dalil hadits.
- Biawak (Al-Waral) adalah hewan yang Haram dimakan berdasarkan ketetapan ulama dan keputusan organisasi Islam (NU), karena berbeda jenis dan sifatnya dengan Dlabb.
- Seorang Muslim wajib memperhatikan status halal atau haram makanan, tidak hanya melihat dari sisi kelezatan atau manfaat kesehatan semata

ENGLISH

DIFFERENCES IN THE RULING ON CONSUMPTION OF SPINY-TAILED LIZARD (UROMASTYX) AND MONITOR LIZARD
 
1. General Perception Regarding Monitor Lizards
 
- Monitor lizards are animals often found in humid areas, swamps, and near water bodies.
- In several regions, monitor lizard meat is processed into food and is believed to have health benefits, such as increasing stamina and preventing certain diseases.
- Many people consider monitor lizards lawful (halal) to eat because they equate it with the animal called Dlabb mentioned in the Hadith.
 
2. Differences Between Dlabb and Monitor Lizard
 
In Islamic law, it is very important to distinguish between these two animals as they have different legal statuses:
 
A. Animal Dlabb (Spiny-tailed Lizard)
 
- Other names: Uromastyx or Desert Lizard.
- Habitat: Lives in desert areas, not in swamps or water.
- Diet: Feeds on grass and locusts (not a predatory/wild animal).
- Physical characteristics: Rough and thick body, wide and not overly long tail, smaller in size compared to the monitor lizard.
- Special characteristics: According to Fiqh books, this animal has unique traits such as rarely drinking water and urinating only once every 40 days.
- Ruling: LAWFUL (HALAL). This is based on the Hadith narrated by Al-Bukhari, which states that the Companions of the Prophet ate it, and the Prophet Muhammad ﷺ said: "Eat it, for it is lawful... however, it is not part of my diet."
 
B. Monitor Lizard
 
- Arabic name: Al-Waral.
- Habitat: Lives in swamps, rivers, and humid places.
- Diet: Classified as a wild animal that preys on frogs, fish, rats, birds, and other small animals.
- Physical characteristics: Larger body, long and smooth tail, and lives near water.
- Ruling: UNLAWFUL (HARAM).
 
3. Evidence and Basis for the Prohibition of Consuming Monitor Lizard
 
- Although physically similar, the monitor lizard is not the Dlabb referred to in the Hadith.
- This is confirmed in the book Bulghah at-Thullab, which states: "The animal known to us as the monitor lizard is truly not the Dlabb, therefore it is forbidden to consume."
- This ruling was also established long ago during the 7th Congress of Nahdlatul Ulama, held on August 9, 1932, in Bandung.
- The reason for its prohibition is that the monitor lizard is considered a repugnant/loathsome animal (qadharah) according to the natural disposition (fitrah) of the Arabs and is classified as a predatory animal.
 
4. Conclusion
 
- The Spiny-tailed Lizard (Dlabb) is Lawful (Halal) to eat based on the evidence of the Hadith.
- The Monitor Lizard (Al-Waral) is Unlawful (Haram) to eat based on the rulings of scholars and the decision of the Islamic organization (NU), because it differs in type and nature from Dlabb.
- A Muslim is obliged to pay attention to the lawful or unlawful status of food, and not only consider its taste or health benefits alone

DALIL

كَانَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ سَعْدٌ فَذَهَبُوا يَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمٍ فَنَادَتْهُمْ امْرَأَةٌ مِنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ فَأَمْسَكُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا أَوْ اطْعَمُوا فَإِنَّهُ حَلَالٌ أَوْ قَالَ لَا بَأْسَ بِهِ شَكَّ فِيهِ وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي

 
Artinya, “Orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam yang di antara mereka terdapat Sa’ad sedang makan daging. Kemudian salah seorang istri Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memanggil mereka seraya berkata: ‘Itu daging dlabb’. Mereka pun berhenti makan. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Makanlah, karena karena daging itu halal’ atau beliau bersabda, ‘Tidak masalah (daging itu) dimakan, akan tetapi daging hewan itu bukanlah makananku” (HR al-Bukhari)

Meaning: "Some of the Companions of the Prophet Muhammad, may Allah bless him and grant him peace, among whom was Sa'd, were eating some meat. Then one of the wives of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, called out to them saying: 'That is the meat of dlabb.' So they stopped eating it. Then the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said: 'Eat it, for it is lawful' or he said: 'There is no harm in eating it, however it is not part of my food.'" (Narrated by al-Bukhari)

(قَوْلُهُ وَضَبٌّ) وَهُوَ حَيَوَانٌ يُشْبِهُ الْوَرَلَ يَعِيْشُ نَحْوَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ شَأْنِهِ أَنَّهُ لاَ يَشْرَبُ الْمَاءَ. وَأَنَّهُ يَبُوْلُ فِيْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا مَرَّةً وَأَنَّهُ لِلأُنْثَى مِنْهُ فَرْجَانِ وَلِلذَّكَرِ ذَكَرَانِ .

 
Artinya, “Binatang dlabb adalah binatang yang menyerupai biawak yang hidup sekitar tujuh ratus tahun. Sebagian dari spesifikasi binatang ini adalah tidak minum air dan kencing satu kali dalam empat puluh hari. Hewan dlabb yang betina mempunyai dua alat kelamin, dan yang jantan pun mempunyai dua alat kelamin” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Juz IV, Hal. 259)

Meaning: “The dlabb animal is a creature that resembles a monitor lizard and lives for approximately seven hundred years. Among its characteristics are that it does not drink water and urinates only once every forty days. The female dlabb has two private parts, and the male also has two private parts” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Volume IV, p. 259)

الحَيَوَانُ المَعْرُوْفُ عِنْدَنَا المُسَمَّى بِنْيَاوَاكْ سَلِيْرَا لَيْسَ هُوَ الضَّبُّ فَيَحْرُمُ أَكْلُهُ

 
Artinya, “Hewan yang dikenal di kalangan (sekitar) kita dengan nama biawak seliro itu sejatinya bukanlah binatang dlabb, maka haram mengonsumsinya” (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, Hal. 357)

Meaning: "The animal known among us as 'biawak seliro' is in reality not the dlabb animal, therefore it is forbidden to consume it" (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, p. 357)

HUKUM MAKAN KADAL GURUN


BEDA HUKUM MENGONSUMSI KADAL GURUN DAN BIAWAK
 
1. Persepsi Umum Mengenai Biawak
 
- Biawak adalah hewan yang sering ditemukan di tempat lembap, rawa-rawa, dan dekat perairan.
- Di beberapa daerah, daging biawak diolah menjadi makanan dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan, seperti meningkatkan stamina dan mencegah penyakit tertentu.
- Banyak masyarakat menganggap biawak halal dimakan karena menyamakannya dengan hewan Dlabb yang disebutkan dalam hadits.
 
2. Perbedaan Antara Hewan Dlabb dan Biawak
 
Secara hukum Islam, sangat penting membedakan definisi kedua hewan ini karena memiliki status hukum yang berbeda:
 
A. Hewan Dlabb (Kadal Gurun)
 
- Nama lain: Uromastyx atau Kadal Gurun.
- Habitat: Hidup di daerah gurun pasir, bukan di rawa-rawa atau air.
- Makanan: Memakan rerumputan dan belalang (bukan hewan buas/pemangsa).
- Ciri fisik: Tubuh kasar dan tebal, ekor lebar dan tidak terlalu panjang, ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan biawak.
- Keterangan khusus: Menurut kitab fiqih, hewan ini memiliki karakteristik khusus seperti jarang minum air dan kencing hanya sekali dalam 40 hari.
- Hukum: HALAL. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Al-Bukhari yang menyatakan bahwa sahabat Nabi pernah memakannya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Makanlah, karena daging itu halal... akan tetapi bukan makananku."
 
B. Hewan Biawak
 
- Nama Arab: Al-Waral.
- Habitat: Hidup di rawa-rawa, sungai, dan tempat yang lembap.
- Makanan: Termasuk hewan buas yang memangsa kodok, ikan, tikus, burung, dan hewan kecil lainnya.
- Ciri fisik: Tubuh lebih besar, ekor panjang dan licin, serta hidup berdekatan dengan air.
- Hukum: HARAM.
 
3. Dalil dan Dasar Hukum Keharaman Biawak
 
- Meskipun bentuk fisiknya mirip, biawak bukanlah hewan Dlabb yang dimaksud dalam hadits.
- Hal ini ditegaskan dalam kitab Bulghah at-Thullab yang menyatakan: "Hewan yang dikenal dengan nama biawak itu sejatinya bukanlah binatang Dlabb, maka haram mengonsumsinya."
- Ketetapan ini juga telah diputuskan sejak lama dalam Muktamar ke-7 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan pada tanggal 9 Agustus 1932 M di Bandung.
- Alasan keharamannya adalah karena biawak tergolong hewan yang menjijikkan (qadharah) menurut pandangan tabiat orang Arab secara umum dan bersifat buas.
 
4. Kesimpulan
 
- Kadal Gurun (Dlabb) adalah hewan yang Halal dimakan berdasarkan dalil hadits.
- Biawak (Al-Waral) adalah hewan yang Haram dimakan berdasarkan ketetapan ulama dan keputusan organisasi Islam (NU), karena berbeda jenis dan sifatnya dengan Dlabb.
- Seorang Muslim wajib memperhatikan status halal atau haram makanan, tidak hanya melihat dari sisi kelezatan atau manfaat kesehatan semata

ENGLISH

DIFFERENCES IN THE RULING ON CONSUMPTION OF SPINY-TAILED LIZARD (UROMASTYX) AND MONITOR LIZARD
 
1. General Perception Regarding Monitor Lizards
 
- Monitor lizards are animals often found in humid areas, swamps, and near water bodies.
- In several regions, monitor lizard meat is processed into food and is believed to have health benefits, such as increasing stamina and preventing certain diseases.
- Many people consider monitor lizards lawful (halal) to eat because they equate it with the animal called Dlabb mentioned in the Hadith.
 
2. Differences Between Dlabb and Monitor Lizard
 
In Islamic law, it is very important to distinguish between these two animals as they have different legal statuses:
 
A. Animal Dlabb (Spiny-tailed Lizard)
 
- Other names: Uromastyx or Desert Lizard.
- Habitat: Lives in desert areas, not in swamps or water.
- Diet: Feeds on grass and locusts (not a predatory/wild animal).
- Physical characteristics: Rough and thick body, wide and not overly long tail, smaller in size compared to the monitor lizard.
- Special characteristics: According to Fiqh books, this animal has unique traits such as rarely drinking water and urinating only once every 40 days.
- Ruling: LAWFUL (HALAL). This is based on the Hadith narrated by Al-Bukhari, which states that the Companions of the Prophet ate it, and the Prophet Muhammad ﷺ said: "Eat it, for it is lawful... however, it is not part of my diet."
 
B. Monitor Lizard
 
- Arabic name: Al-Waral.
- Habitat: Lives in swamps, rivers, and humid places.
- Diet: Classified as a wild animal that preys on frogs, fish, rats, birds, and other small animals.
- Physical characteristics: Larger body, long and smooth tail, and lives near water.
- Ruling: UNLAWFUL (HARAM).
 
3. Evidence and Basis for the Prohibition of Consuming Monitor Lizard
 
- Although physically similar, the monitor lizard is not the Dlabb referred to in the Hadith.
- This is confirmed in the book Bulghah at-Thullab, which states: "The animal known to us as the monitor lizard is truly not the Dlabb, therefore it is forbidden to consume."
- This ruling was also established long ago during the 7th Congress of Nahdlatul Ulama, held on August 9, 1932, in Bandung.
- The reason for its prohibition is that the monitor lizard is considered a repugnant/loathsome animal (qadharah) according to the natural disposition (fitrah) of the Arabs and is classified as a predatory animal.
 
4. Conclusion
 
- The Spiny-tailed Lizard (Dlabb) is Lawful (Halal) to eat based on the evidence of the Hadith.
- The Monitor Lizard (Al-Waral) is Unlawful (Haram) to eat based on the rulings of scholars and the decision of the Islamic organization (NU), because it differs in type and nature from Dlabb.
- A Muslim is obliged to pay attention to the lawful or unlawful status of food, and not only consider its taste or health benefits alone

DALIL

كَانَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ سَعْدٌ فَذَهَبُوا يَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمٍ فَنَادَتْهُمْ امْرَأَةٌ مِنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ فَأَمْسَكُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا أَوْ اطْعَمُوا فَإِنَّهُ حَلَالٌ أَوْ قَالَ لَا بَأْسَ بِهِ شَكَّ فِيهِ وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي

 
Artinya, “Orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam yang di antara mereka terdapat Sa’ad sedang makan daging. Kemudian salah seorang istri Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memanggil mereka seraya berkata: ‘Itu daging dlabb’. Mereka pun berhenti makan. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Makanlah, karena karena daging itu halal’ atau beliau bersabda, ‘Tidak masalah (daging itu) dimakan, akan tetapi daging hewan itu bukanlah makananku” (HR al-Bukhari)

Meaning: "Some of the Companions of the Prophet Muhammad, may Allah bless him and grant him peace, among whom was Sa'd, were eating some meat. Then one of the wives of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, called out to them saying: 'That is the meat of dlabb.' So they stopped eating it. Then the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said: 'Eat it, for it is lawful' or he said: 'There is no harm in eating it, however it is not part of my food.'" (Narrated by al-Bukhari)

(قَوْلُهُ وَضَبٌّ) وَهُوَ حَيَوَانٌ يُشْبِهُ الْوَرَلَ يَعِيْشُ نَحْوَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ شَأْنِهِ أَنَّهُ لاَ يَشْرَبُ الْمَاءَ. وَأَنَّهُ يَبُوْلُ فِيْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا مَرَّةً وَأَنَّهُ لِلأُنْثَى مِنْهُ فَرْجَانِ وَلِلذَّكَرِ ذَكَرَانِ .

 
Artinya, “Binatang dlabb adalah binatang yang menyerupai biawak yang hidup sekitar tujuh ratus tahun. Sebagian dari spesifikasi binatang ini adalah tidak minum air dan kencing satu kali dalam empat puluh hari. Hewan dlabb yang betina mempunyai dua alat kelamin, dan yang jantan pun mempunyai dua alat kelamin” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Juz IV, Hal. 259)

Meaning: “The dlabb animal is a creature that resembles a monitor lizard and lives for approximately seven hundred years. Among its characteristics are that it does not drink water and urinates only once every forty days. The female dlabb has two private parts, and the male also has two private parts” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Volume IV, p. 259)

الحَيَوَانُ المَعْرُوْفُ عِنْدَنَا المُسَمَّى بِنْيَاوَاكْ سَلِيْرَا لَيْسَ هُوَ الضَّبُّ فَيَحْرُمُ أَكْلُهُ

 
Artinya, “Hewan yang dikenal di kalangan (sekitar) kita dengan nama biawak seliro itu sejatinya bukanlah binatang dlabb, maka haram mengonsumsinya” (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, Hal. 357)

Meaning: "The animal known among us as 'biawak seliro' is in reality not the dlabb animal, therefore it is forbidden to consume it" (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, p. 357)

Sabtu, 02 Mei 2026


ADAKAH CARA MENDAPATKAN RIDHO ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT?
 
Ridho orang tua tidak terputus meskipun mereka telah meninggal dunia. Seorang anak masih bisa mendapatkan dan memelihara ridho mereka melalui tiga perkara utama:
 
1. Menjadi Anak yang Shaleh
Menjadi pribadi yang baik dan taat kepada Allah SWT merupakan hal yang paling dicintai dan membanggakan bagi kedua orang tua.
2. Menyambung Tali Silaturahim
Terus menjaga hubungan baik dengan kerabat keluarga serta teman-teman dekat orang tua, sebagaimana yang diajarkan dalam hadits untuk memuliakan sahabat dan melaksanakan janji mereka.
3. Mendoakan dan Beramal untuk Mereka
Senantiasa memohonkan ampunan, mendoakan kebaikan, dan bersedekah yang pahalanya disampaikan kepada kedua orang tua.
 
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Tanbihul Ghafilin bahwa kewajiban berbakti masih dapat dilaksanakan dengan memohonkan ampunan, melaksanakan janji, memuliakan teman, dan menyambung tali persaudaraan yang terhubung melalui mereka

ENGLISH 

IS THERE A WAY TO GAIN THE BLESSINGS OF DECEASED PARENTS?
 
A parent's blessing does not end even after they have passed away. A child can still earn and maintain their blessings through three main ways:
 
1. Becoming a Righteous Child
Being a good person and obedient to Allah SWT is what brings the most love and pride to your parents.
 
2. Maintaining Family Ties
Continue to keep good relationships with family relatives and your parents' close friends. As taught in the Hadith, honor their friends and fulfill their promises.
 
3. Praying and Doing Good Deeds for Them
Always ask for forgiveness, pray for their well-being, and give charity, dedicating the rewards to your parents.
 
This is in accordance with the saying of the Prophet Muhammad SAW, as narrated in Tanbihul Ghafilin, that the duty to be dutiful to one's parents can still be fulfilled by seeking forgiveness for them, fulfilling their promises, honoring their friends, and maintaining family ties connected through them

DALIL

وَذُكِرَ اَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي سَلَمَة جَاءَ اِلى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: إِنَّ اَبَوَيًَ قَدْ مَاتَا فَهَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّهِمَا عَلَيًَ شَيْءٌ قَالَ: نَعَمْ، الِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

Disebutkan bahwa ada seseorang dari Bani Salamah datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: 
Sesungguhnya kedua orangtuaku telah wafat, apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk kedua orang tuaku?’ Nabi menjawab: ‘Iya, engkau memohonkan ampunan untuk mereka, melaksanakan janjinya, memuliakan teman mereka, dan menyambung tali silaturahmi dengan kerabat mereka

It is narrated that a man from the tribe of Bani Salamah came to the Prophet Muhammad (peace be upon him) and said:
 
"Verily, my parents have passed away. Is there anything left that I can do for them?"
 
The Prophet replied: "Yes. Seek forgiveness for them, fulfill their promises, honor their friends, and maintain good relations with their relatives"

CARA MENDAPATKAN RIDHO ORANG TUA YANG UDAH WAFAT


ADAKAH CARA MENDAPATKAN RIDHO ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT?
 
Ridho orang tua tidak terputus meskipun mereka telah meninggal dunia. Seorang anak masih bisa mendapatkan dan memelihara ridho mereka melalui tiga perkara utama:
 
1. Menjadi Anak yang Shaleh
Menjadi pribadi yang baik dan taat kepada Allah SWT merupakan hal yang paling dicintai dan membanggakan bagi kedua orang tua.
2. Menyambung Tali Silaturahim
Terus menjaga hubungan baik dengan kerabat keluarga serta teman-teman dekat orang tua, sebagaimana yang diajarkan dalam hadits untuk memuliakan sahabat dan melaksanakan janji mereka.
3. Mendoakan dan Beramal untuk Mereka
Senantiasa memohonkan ampunan, mendoakan kebaikan, dan bersedekah yang pahalanya disampaikan kepada kedua orang tua.
 
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Tanbihul Ghafilin bahwa kewajiban berbakti masih dapat dilaksanakan dengan memohonkan ampunan, melaksanakan janji, memuliakan teman, dan menyambung tali persaudaraan yang terhubung melalui mereka

ENGLISH 

IS THERE A WAY TO GAIN THE BLESSINGS OF DECEASED PARENTS?
 
A parent's blessing does not end even after they have passed away. A child can still earn and maintain their blessings through three main ways:
 
1. Becoming a Righteous Child
Being a good person and obedient to Allah SWT is what brings the most love and pride to your parents.
 
2. Maintaining Family Ties
Continue to keep good relationships with family relatives and your parents' close friends. As taught in the Hadith, honor their friends and fulfill their promises.
 
3. Praying and Doing Good Deeds for Them
Always ask for forgiveness, pray for their well-being, and give charity, dedicating the rewards to your parents.
 
This is in accordance with the saying of the Prophet Muhammad SAW, as narrated in Tanbihul Ghafilin, that the duty to be dutiful to one's parents can still be fulfilled by seeking forgiveness for them, fulfilling their promises, honoring their friends, and maintaining family ties connected through them

DALIL

وَذُكِرَ اَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي سَلَمَة جَاءَ اِلى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: إِنَّ اَبَوَيًَ قَدْ مَاتَا فَهَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّهِمَا عَلَيًَ شَيْءٌ قَالَ: نَعَمْ، الِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

Disebutkan bahwa ada seseorang dari Bani Salamah datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: 
Sesungguhnya kedua orangtuaku telah wafat, apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk kedua orang tuaku?’ Nabi menjawab: ‘Iya, engkau memohonkan ampunan untuk mereka, melaksanakan janjinya, memuliakan teman mereka, dan menyambung tali silaturahmi dengan kerabat mereka

It is narrated that a man from the tribe of Bani Salamah came to the Prophet Muhammad (peace be upon him) and said:
 
"Verily, my parents have passed away. Is there anything left that I can do for them?"
 
The Prophet replied: "Yes. Seek forgiveness for them, fulfill their promises, honor their friends, and maintain good relations with their relatives"

illustration of syaikh abdul qadir al jilani


ARIF MASYHUR DAN MASTUR

Sejak zaman dahulu, kedudukan orang yang Arif billah (mengenal Allah) terbagi menjadi dua keadaan: ada yang masyhur (terkenal dan dikenal luas oleh masyarakat), namun ada pula yang mastur (tersembunyi dan tidak viral).
 
Hal ini tergambar dalam peristiwa Isra Wal Mi'raj, ketika Rasulullah SAW bertemu dua sosok manusia yang jasadnya masih utuh. Salah satunya terbuka, dan yang lainnya tertutup
 
Malaikat Jibril menjelaskan soal jasad:
 
- Yang terbuka/keturunan nabi saw: Adalah keturunan beliau kelak yang menjadi Wali besar dan terkenal, yaitu Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- Yang tertutup: Juga seorang Wali Allah yang memiliki kedudukan sangat tinggi (Quthub), yaitu Uwais Al-Qoroni, namun namanya tidak banyak dikenal orang.
 
Hingga kini, kebesaran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani terbukti sangat masyhur. Banyak orang mengamalkan ajarannya, bertawasul, membaca manaqib, dan berziarah ke makamnya
 
ENGLISH

ARIF MASYHUR AND MASTUR
 
Since ancient times, the status of those who are Arif billah (those who truly know Allah) has been divided into two states: some are masyhur (famous and widely known by the people), while others are mastur (hidden and not viral).
 
This is illustrated in the event of Isra Wal Mi'raj, when the Prophet Muhammad ﷺ encountered two human figures whose bodies remained intact. One was open/exposed, while the other was covered.
 
Angel Jibril explained:
 
- The one that was open: He is one of your descendants who will become a great and famous Wali (Saint of Allah), namely Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- The one that was covered: He is also a great Wali of Allah with the highest rank (Quthub), namely Uwais Al-Qoroni, however, not many people know about him.
 
Until today, the greatness of Syekh Abdul Qodir Al-Jilani is indeed very famous. Many people practice his teachings, make tawasul, read his manaqib (biography of virtues), and visit his shrine

DALIL

المشهور ببركة المستور 

"Orang-orang yang masyhur sebab keberkahan Orang-orang yang mastur"

"The famous ones exist because of the blessings of the hidden ones"

NABI SAW UDAH PERNAH MENDENGAR RAMALAN SYAIKH ABDUL QADIR

illustration of syaikh abdul qadir al jilani


ARIF MASYHUR DAN MASTUR

Sejak zaman dahulu, kedudukan orang yang Arif billah (mengenal Allah) terbagi menjadi dua keadaan: ada yang masyhur (terkenal dan dikenal luas oleh masyarakat), namun ada pula yang mastur (tersembunyi dan tidak viral).
 
Hal ini tergambar dalam peristiwa Isra Wal Mi'raj, ketika Rasulullah SAW bertemu dua sosok manusia yang jasadnya masih utuh. Salah satunya terbuka, dan yang lainnya tertutup
 
Malaikat Jibril menjelaskan soal jasad:
 
- Yang terbuka/keturunan nabi saw: Adalah keturunan beliau kelak yang menjadi Wali besar dan terkenal, yaitu Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- Yang tertutup: Juga seorang Wali Allah yang memiliki kedudukan sangat tinggi (Quthub), yaitu Uwais Al-Qoroni, namun namanya tidak banyak dikenal orang.
 
Hingga kini, kebesaran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani terbukti sangat masyhur. Banyak orang mengamalkan ajarannya, bertawasul, membaca manaqib, dan berziarah ke makamnya
 
ENGLISH

ARIF MASYHUR AND MASTUR
 
Since ancient times, the status of those who are Arif billah (those who truly know Allah) has been divided into two states: some are masyhur (famous and widely known by the people), while others are mastur (hidden and not viral).
 
This is illustrated in the event of Isra Wal Mi'raj, when the Prophet Muhammad ﷺ encountered two human figures whose bodies remained intact. One was open/exposed, while the other was covered.
 
Angel Jibril explained:
 
- The one that was open: He is one of your descendants who will become a great and famous Wali (Saint of Allah), namely Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- The one that was covered: He is also a great Wali of Allah with the highest rank (Quthub), namely Uwais Al-Qoroni, however, not many people know about him.
 
Until today, the greatness of Syekh Abdul Qodir Al-Jilani is indeed very famous. Many people practice his teachings, make tawasul, read his manaqib (biography of virtues), and visit his shrine

DALIL

المشهور ببركة المستور 

"Orang-orang yang masyhur sebab keberkahan Orang-orang yang mastur"

"The famous ones exist because of the blessings of the hidden ones"

Jumat, 01 Mei 2026


SUDAHKAH TANDA-TANDA INI KITA RASAKAN?
 
Dalam kitab Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, diterangkan beberapa tanda dekatnya hari kiamat yang bersumber dari hadis riwayat Imam Ahmad dan Al-Bukhari.
 
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu kita renungkan:
 
1. Maraknya Dunia Bisnis
Begitu pesatnya kegiatan usaha hingga seorang istri turut membantu dan bekerja sama dengan suaminya dalam mencari nafkah.
2. Putusnya Tali Persaudaraan
Semakin banyak orang yang mengabaikan, memutus, atau tidak lagi menjaga hubungan baik dengan kerabat dan sesama manusia.
3. Meluasnya Tulisan dan Informasi
Banyaknya tulisan yang tersebar luas di mana-mana, seiring dengan kemudahan orang menyampaikan pikiran dan berita melalui berbagai media.
4. Banyaknya Kesaksian yang Tidak Benar
Maraknya ucapan atau keterangan palsu demi keuntungan pribadi, hingga kebenaran menjadi sulit dibedakan dengan kebohongan.
 
Tanda-tanda ini bukan sekadar berita masa depan, melainkan cerminan zaman yang kini kita jalani. Semoga kita senantiasa dapat menjaga diri dan tetap berpegang pada kebenaran

ENGLISH

HAVE WE WITNESSED THESE SIGNS?
 
In the book Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah by Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, several signs indicating the approach of the Day of Judgment are explained. These are sourced from Hadith narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari.
 
Here are the important points for us to reflect upon:
 
1. The Rise of Business and Trade
Economic activities grow so rapidly that a wife assists and works together with her husband in earning a living.
 
2. The Severing of Family Ties
More and more people neglect, break off, or fail to maintain good relationships with relatives and fellow human beings.
 
3. The Widespread Use of Writing and Information
Written words and information spread everywhere, along with the ease for people to share thoughts and news through various media.
 
4. The Prevalence of False Testimony
Lies and false statements become common for personal gain, making it difficult to distinguish truth from falsehood.
 
These signs are not merely news about the future, but a reflection of the times we are living in today. May we always be able to protect ourselves and hold fast to the truth

DALIL

وَمِنْهَا (أَمَارَةُ السَّاعَةِ) فَشْوُ التِّجَارَةِ حَتَّى تُعِيْنَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعُ الْأَرْحَامِ، وَفَشْوُ الْقَلَمِ، وَظُهُورُ الشَّهَادَاتِ بِالزُّورِ. (رواه الإمام أحمد والبخاري عن ابن مسعود)

Tanda-tanda Kiamat antara lain meluasnya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang, terputusnya ikatan keluarga, meluasnya penggunaan tulisan, dan munculnya kesaksian palsu. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud)

Among the signs of the Day of Judgment are the spread of trade until a woman helps her husband in business, the severing of family ties, the widespread use of writing, and the appearance of false testimony. (Narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari from Ibn Mas'ud)

TANDA2 KIAMAT YANG TIDAK KITA SADARI


SUDAHKAH TANDA-TANDA INI KITA RASAKAN?
 
Dalam kitab Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, diterangkan beberapa tanda dekatnya hari kiamat yang bersumber dari hadis riwayat Imam Ahmad dan Al-Bukhari.
 
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu kita renungkan:
 
1. Maraknya Dunia Bisnis
Begitu pesatnya kegiatan usaha hingga seorang istri turut membantu dan bekerja sama dengan suaminya dalam mencari nafkah.
2. Putusnya Tali Persaudaraan
Semakin banyak orang yang mengabaikan, memutus, atau tidak lagi menjaga hubungan baik dengan kerabat dan sesama manusia.
3. Meluasnya Tulisan dan Informasi
Banyaknya tulisan yang tersebar luas di mana-mana, seiring dengan kemudahan orang menyampaikan pikiran dan berita melalui berbagai media.
4. Banyaknya Kesaksian yang Tidak Benar
Maraknya ucapan atau keterangan palsu demi keuntungan pribadi, hingga kebenaran menjadi sulit dibedakan dengan kebohongan.
 
Tanda-tanda ini bukan sekadar berita masa depan, melainkan cerminan zaman yang kini kita jalani. Semoga kita senantiasa dapat menjaga diri dan tetap berpegang pada kebenaran

ENGLISH

HAVE WE WITNESSED THESE SIGNS?
 
In the book Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah by Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, several signs indicating the approach of the Day of Judgment are explained. These are sourced from Hadith narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari.
 
Here are the important points for us to reflect upon:
 
1. The Rise of Business and Trade
Economic activities grow so rapidly that a wife assists and works together with her husband in earning a living.
 
2. The Severing of Family Ties
More and more people neglect, break off, or fail to maintain good relationships with relatives and fellow human beings.
 
3. The Widespread Use of Writing and Information
Written words and information spread everywhere, along with the ease for people to share thoughts and news through various media.
 
4. The Prevalence of False Testimony
Lies and false statements become common for personal gain, making it difficult to distinguish truth from falsehood.
 
These signs are not merely news about the future, but a reflection of the times we are living in today. May we always be able to protect ourselves and hold fast to the truth

DALIL

وَمِنْهَا (أَمَارَةُ السَّاعَةِ) فَشْوُ التِّجَارَةِ حَتَّى تُعِيْنَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعُ الْأَرْحَامِ، وَفَشْوُ الْقَلَمِ، وَظُهُورُ الشَّهَادَاتِ بِالزُّورِ. (رواه الإمام أحمد والبخاري عن ابن مسعود)

Tanda-tanda Kiamat antara lain meluasnya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang, terputusnya ikatan keluarga, meluasnya penggunaan tulisan, dan munculnya kesaksian palsu. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud)

Among the signs of the Day of Judgment are the spread of trade until a woman helps her husband in business, the severing of family ties, the widespread use of writing, and the appearance of false testimony. (Narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari from Ibn Mas'ud)

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top