KISAH LUAR BIASA: AHLI KUBUR REBUTAN HADIAH PAHALA, TAPI ADA YANG TIDAK PEDULI
Sebagian ahli ilmu menceritakan sebuah kisah yang sangat menakjubkan. Ada seorang laki-laki yang bermimpi melihat para penghuni kubur keluar dari liang lahat mereka menuju permukaan tanah.
Dalam mimpi itu, tampak mereka sedang sibuk memungut sesuatu, namun sang pemimpi tidak tahu benda apa yang mereka ambil tersebut.
"Apa yang sedang mereka pungut itu?" tanyanya kepada salah seorang dari mereka yang duduk santai dan tidak ikut mengambil apa-apa.
"Itu adalah hadiah dan kiriman dari kaum muslimin yang masih hidup," jawab orang tersebut. "Mereka memungut pahala dari bacaan Al-Qur'an, sedekah, dan doa-doa yang dihadiahkan kepada mereka."
Sang pemimpi semakin heran, lalu bertanya lagi, "Kalau begitu, kenapa engkau tidak ikut mengambilnya?"
Orang itu menjawab dengan tenang, "Aku sudah kaya dan tidak membutuhkan semua itu."
"Dengan apa engkau menjadi kaya raya di alam sana?" tanyanya penasaran.
"Dengan khataman Al-Qur'an yang dibacakan dan dihadiahkan kepadaku setiap hari oleh anakku. Dia berjualan jalabiyah di pasar tersebut," jawabnya bangga.
Seketika itu juga sang pemimpi terbangun. Karena penasaran, ia segera pergi ke pasar yang disebutkan dalam mimpinya. Benar saja, di sana ia melihat seorang pemuda sedang sibuk melayani pembeli sambil terus menggerak-gerakkan bibirnya.
"Wahai anak muda, apa yang sedang engkau baca?" tanyanya.
"Aku sedang membaca Al-Qur'an, Pak. Aku hadiahkan seluruh pahalanya untuk ayahku yang sudah meninggal dunia," jawab pemuda itu dengan tulus.
Beberapa waktu berlalu, sang pencerita kembali bermimpi. Kali ini pemandangannya sangat berbeda. Ia kembali melihat para ahli kubur keluar dan memungut hadiah pahala seperti biasa.
Namun, kali ini ia melihat sosok yang dulu tidak pernah mengambil apa-apa, kini ikut sibuk memungut hadiah bersama yang lain.
Seketika ia terbangun dan merasa sangat heran. Segera ia pergi lagi ke pasar untuk mencari kabar pemuda penjual jalabiyah itu.
Namun apa yang terjadi? Ternyata pemuda baik hati itu sudah meninggal dunia.
Maka, kini ayahnya pun harus mengambil pahala dari kiriman orang lain seperti yang lainnya, karena sumber pahala utamanya yang setiap hari mengalir deras sudah tiada lagi.
Sumber: Kitab I'anatut Thalibin, Juz 2 Halaman 143
ENGLISH
EXTRAORDINARY STORY: THE DEAD COMPETING FOR REWARDS, YET ONE MAN REMAINED UNBOTHERED
Scholars narrate a truly amazing story. A man once had a dream where he saw the inhabitants of the graves rising from their tombs to the surface.
In his dream, they seemed busy collecting something, but he did not know what it was.
"What are they gathering?" he asked one man who was sitting calmly and not taking anything.
"These are gifts and offerings from the Muslims who are still alive," the man replied. "They are collecting the spiritual rewards (pahala) from the recitation of the Quran, charity, and prayers that people dedicate to them."
The dreamer grew even more curious and asked, "If that is so, why don't you take any for yourself?"
The man answered calmly, "I am already 'rich' and have no need for those."
"What makes you so wealthy in the afterlife?" asked the dreamer.
"Because of the complete recitation of the Quran (Khatam) that my son reads and dedicates to me every single day. He sells jalabiya (traditional Middle Eastern pastries/desserts) at the market," he replied with pride.
Immediately, the man woke up. Driven by curiosity, he went straight to the market mentioned in the dream. Sure enough, he found a young man busy serving customers while constantly moving his lips as if whispering.
"Young man, what are you reciting?" he asked.
"I am reading the Quran, Sir. I dedicate all the rewards to my father who has passed away," the young man answered sincerely.
Some time passed, and the narrator had the dream again. This time, the scene was very different. He once more saw the deceased coming out to collect their rewards as usual.
However, this time he saw the man who had previously refused to take anything was now busy gathering gifts together with everyone else.
He woke up feeling astonished. Immediately, he went back to the market to check on the young pastry seller.
But what had happened? The kind-hearted young man had passed away.
Therefore, his father now had to receive rewards from other people's donations just like everyone else, because his main source of abundant daily blessings was gone.
Source: Kitab I'anatut Thalibin, Volume 2, Page 143
DALIL
وحكى بعض أهل العلم أن رجلا رأى فى المنام أهل القبور فى بعض المقابر قد خرجوا من قبورهم إلى ظاهر المقبرة، وإذا بهم يلتقطون شيئا ما يدرى ما هو
Sebagian ahli ilmu menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bermimpi dalam tidurnya, dia melihat ahli kubur di salah satu tempat pemakaman keluar dari kuburannya ke atas maqbaroh, dan tiba-tiba mereka memungut sesuatu yang tidak diketahui apa itu.
Some scholars narrated that a man saw in his dream the inhabitants of the grave coming out of their graves into the cemetery, and suddenly they were picking up something whose nature was unknown
قال: فتعجبت من ذلك، ورأيت رجلا منهم جالسا لا يلتقط معهم شيئا، فدنوت منه وسألته: ما الذى يلتقط هؤلاء؟ فقال: يلتقطون ما يهدى إليهم المسلمون من قراءة القرآن والصدقة والدعاء
Lalu dia berkata; "Aku kagum dengan hal itu." Kemudian aku melihat seorang laki-laki dari mereka, ia duduk dan tidak ikut memungut sesuatu tadi bersama mereka. Aku mendekatinya dan bertanya; "Apa yang mereka pungut itu?", dia menjawab; "Mereka memungut hadiah dari orang-orang muslim yang diberikan pada mereka, berupa bacaan Al Qur'an, sedekah dan doa."
Then he said, "I was amazed by what I saw." Then I saw one of them sitting alone and not gathering anything with the others. I approached him and asked, "What is it that they are gathering?" He replied, "They are collecting the gifts sent to them by fellow Muslims, such as the reward from reciting the Quran, charity, and prayers"
فقال: فقلت له؛ فلم لا تلتقط أنت معهم؟ قال أنا غني عن ذلك
Aku bertanya kepadanya; "Kenapa engkau tidak ikut memungut itu bersama mereka?", dia menjawab; "Aku tidak memerlukan semua itu."
I asked him, "Why don't you come and collect those things with them?" He replied, "I do not need all of that."
فقلت: بأي شئ أنت غني؟ قال بختمة يقرؤها ويهديها إلىّ كل يوم ولدى يبيع الزلابية فى السوق الفلاني
Aku lanjut bertanya; "Apa yang membuatmu tidak memerlukan itu?", dia menjawab; "Khataman Al Qur'an yang dibaca dan dihadiahkan untukku setiap hari oleh anakku yang berjualan jalabiyah di pasar fulan."
I continued asking, 'What makes you not in need of all that?' He answered, 'It is the complete recitation of the Quran (Khatam) which is read and gifted to me every day by my son who sells jalabiyah at such-and-such market"
فلما استيقظت ذهبت إلى السوق حيث ذكر، فإذا شاب يبيع الزلابية، ويحرك شفتيه
Setelah aku bangun, aku pergi ke pasar yang disebutkan dan kutemui seorang pemuda yang berjualan jalabiyah seraya menggerak-gerakan kedua bibirnya
After I woke up, I went to the market mentioned and found a young man selling jalabiyah while moving his lips
فقلت: بأي شئ تحرك شفتيك؟ قال أقرأ القرآن وأهديه إلى والدى فى قبره
Aku bertanya; "Kenapa kamu menggerak-gerakkan kedua bibirmu?", dia menjawab; "Aku membaca Al Qur'an dan ku hadiahkan pahalanya untuk ayahku di alam kuburnya."
I asked, "Why are you moving your lips?" He replied, "I am reciting the Quran and dedicating its reward to my father in his grave."
قال: فلبثت مدة من الزمان، ثم رأيت الموتى قد خرجوا من القبور، وإذا بالرجل الذى كان لا يلتقط صار يلتقط، فاستيقظت وتعجبت من ذلك، ثم ذهبت إلى السوق لأتعرف خبر ولده فوجدته قد مات
Aku berkata; "Kemudian aku diam sesaat, lalu melihat dalam mimpi, orang-orang yang sudah mati pada keluar dari kuburan mereka, dan tiba-tiba aku melihat laki-laki yang waktu itu tidak ikut memungut, sekarang dia ikut memungut.
Kemudian aku terbangun dan merasa heran dengan hal itu. Setelah itu aku pergi ke pasar untuk mencari tahu kabar anaknya tadi, dan tenyata dia sudah meninggal."
I said; "Then I remained silent for a moment, and saw in the dream that the deceased had come out of their graves, and suddenly I saw the man who previously did not collect anything, now he was collecting it too"
EMPAT BAYI YANG DIANUGERAHI KEMAMPUAN BERBICARA SEJAK KECIL
Dalam sejarah Islam dan kisah-kisah para nabi serta orang-orang shaleh, terdapat banyak mukjizat dan keajaiban yang menjadi bukti kekuasaan Allah SWT. Salah satu keajaiban yang sangat luar biasa adalah adanya bayi atau anak kecil yang dapat berbicara dengan sempurna layaknya orang dewasa, padahal usia mereka masih sangat dini.
Imam Ibrahim meriwayatkan dari Imam Muhajir bin Mujahid, beliau berkata
"Tidaklah ada anak kecil yang dapat berbicara saat usianya masih sangat muda, kecuali hanya empat orang saja."
Siapakah mereka? Berikut adalah keempat sosok istimewa tersebut:
1. Nabi Isa Alaihissalam, Putra Maryam
Ini adalah kisah yang paling masyhur. Ketika ibunya, Siti Maryam, melahirkan beliau dan membawanya kembali kepada kaumnya, mereka menuduh Maryam telah melakukan perbuatan buruk. Atas izin Allah, bayi Nabi Isa yang baru lahir itu langsung berbicara menegaskan kebenaran ibunya dan menyatakan dirinya adalah seorang hamba dan utusan Allah.
2. Sahabat Ashabul Ukhdud
Dalam kisah Ashabul Ukhdud (Pemilik Parit), diceritakan tentang seorang tukang kayu yang memiliki seorang anak kecil. Ketika sang anak melihat kezaliman yang dilakukan penguasa yang membakar orang-orang beriman, ia berbicara dan memerintahkan ayahnya untuk tetap teguh memegang agama Allah dan sabar dalam menghadapi cobaan tersebut.
3. Sahabat Juraij Ar-Rahib
Juraij adalah seorang ahli ibadah yang sangat taat. Suatu hari, seorang wanita berniat menjebaknya dengan menuduh bahwa Juraijlah yang telah menghamili dirinya. Ketika bayi itu lahir, orang-orang mengerumuni Juraij dengan marah. Namun, atas izin Allah, bayi tersebut berbicara dan menunjuk orang yang sebenarnya sebagai ayahnya, sehingga membersihkan nama baik Juraij dari fitnah besar.
4. Sahabat Nabi Yusuf Alaihissalam
Dalam riwayat disebutkan tentang bayi yang muncul dalam kisah Nabi Yusuf AS. Bayi ini berbicara untuk membuktikan atau memberikan kesaksian yang berkaitan dengan kebenaran atau peristiwa yang terjadi pada masa itu, menjadi bukti nyata bahwa Allah mampu berbicara melalui mulut bayi sekalipun demi menegakkan kebenaran.
Keempat kisah ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Bahwa segala sesuatu adalah di bawah kekuasaan Allah SWT. Bayi yang seharusnya belum bisa berkata-kata, dapat menjadi penegas kebenaran dan pembela kebenaran atas izin-Nya.
Sumber: Kitab Tanbihul Ghafilin, Halaman 232
ENGLISH
FOUR INFANTS BLESSED WITH THE ABILITY TO SPEAK FROM INFANCY
In Islamic history and the stories of the Prophets and righteous people, there are numerous miracles and wonders that serve as proof of the absolute power of Allah SWT. One of the most extraordinary wonders is the existence of infants or young children who were able to speak perfectly like adults, even though they were still at a very tender age.
Imam Ibrahim narrated from Imam Muhajir bin Mujahid, who said:
"No child has ever spoken while still very young except for four individuals."
Who were they? Here are the details of these four special figures:
1. Prophet Jesus (Isa) Alaihissalam, Son of Maryam
This is the most well-known story. When his mother, Lady Maryam, gave birth to him and brought him back to her people, they accused her of immoral conduct. By the permission of Allah, the newborn Prophet Jesus immediately spoke to affirm his mother's innocence and declared that he was indeed a servant and Messenger of Allah.
2. The Companion of Ashabul Ukhdud
In the story of Ashabul Ukhdud (The People of the Ditch), it is narrated that there was a carpenter who had a small child. When the child witnessed the tyranny committed by the king who burned the believers alive, he spoke up and instructed his father to remain firm in his faith in Allah and to be patient in facing the trial.
3. The Companion of Juraij Ar-Rahib
Juraij was a devout worshipper. One day, a woman intended to frame him by falsely accusing Juraij of being the one who had impregnated her. When the baby was born, the people surrounded Juraij in anger. However, by the will of Allah, the infant spoke and pointed to the real father, thus clearing Juraij's name from the great slander.
4. The Companion of Prophet Yusuf Alaihissalam
Historical narrations mention an infant who appeared in the story of Prophet Yusuf AS. This baby spoke to bear witness and testify to the truth regarding the events of that time. It stands as clear evidence that Allah is capable of making even an infant speak in order to uphold justice and truth.
These four stories hold valuable lessons for us all. They remind us that everything is under the absolute power of Allah SWT. An infant, who naturally cannot yet speak, can become a voice of truth and a defender of justice by His permission.
Source: Kitab Tanbihul Ghafilin, Page 232
DALIL
وروى ابراهيم عن مهاجر بن مجاهد قال: ما تكلم صبي في حال صغره وهو طفل إلا أربعة عيسى بن مريم عليهما السلام وصاحب الأخدود وصاحب جريج الراهب وصاحب يوسف عليه الصلاة والسلام
Imam Ibrahim meriwayatkan dari Imam Muhajir bin Mujahid, beliau berkata:
Tidaklah seorang anakpun yang berbicara di waktu kecil kecuali 4 anak;
1- Nabi Isa as. putra Maryam
2- Bayi pada kisah Ashabul Ukhdud
3- Bayi pada kisah Juraij Al Rahib
4- Bayi pada kisah Nabi Yusuf as
Imam Ibrahim narrated from Imam Muhajir bin Mujahid, who said:
No child has ever spoken while still young except for four children:
1. Prophet Isa AS, son of Maryam
2. The infant in the story of Ashabul Ukhdud
3. The infant in the story of Juraij Ar-Rahib
4. The infant in the story of Prophet Yusuf AS
TENTANG PENAMAAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN RABI'UL AWWAL
Rabi'ul Awwal adalah bulan ketiga dalam urutan dua belas bulan Hijriyah. Kata Rabi' (رَبِيع) merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah Arbi'ā (أَرْبِعَاء) atau Arbi'ah (أَرْبِعَة).
Pemberian nama bulan-bulan ini oleh bangsa Arab memiliki alasan tersendiri, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sirah An-Nabawiyyah karya Abu Syuhbah (jilid 1/140):
"Bangsa Arab sebelum masa Islam terbentuk menamakan bulan-bulan Arab dengan nama-nama yang dikenal, dengan memperhatikan keadaan, ciri khas waktu tersebut, serta kondisi yang mereka alami saat menetapkan nama-nama itu"
Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir menjelaskan alasan penamaan bulan ini dalam tafsirnya (juz 4/halaman 146):
"Bulan Rabi'ul Awwal dinamakan demikian karena pada bulan itulah bangsa Arab menetap dan menempati bangunan tempat tinggal mereka yang berbentuk empat persegi (mungkin maksud nya bangunan arabian kuno yang ada di reruntuhan zaman now Wallahu a'lam)"
Bulan ini pun menyimpan berbagai peristiwa mulia dan berharga, seperti tertulis dalam kitab Ajaib Al-Makhlukat halaman 70:
Rabi'ul Awwal adalah bulan yang penuh berkah. Di dalamnya, Allah Ta'ala membukakan pintu-pintu kebahagiaan bagi seluruh alam yang dia ciptakan meliputi alam dunia alam malaikat dll melalui kelahiran Pemimpin Para Rasul ﷺ. Beberapa peristiwa agung yang terjadi di bulan ini antara lain:
- Tanggal 8: Kedatangan Rasulullah ﷺ ke kota Madinah
- Tanggal 10: Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha
- Tanggal 12: Kelahiran Rasulullah ﷺ ﷺ
ENGLISH
ON THE NAMING AND SPECIAL VIRTUES OF THE MONTH OF RABI'UL AWWAL
Rabi'ul Awwal is the third month in the sequence of the twelve Hijri months. The word Rabi' (رَبِيع) is in its singular form, while its plural forms are Arbi'ā (أَرْبِعَاء) or Arbi'ah (أَرْبِعَة).
The naming of these months by the Arab people follows specific reasons, as explained in the book Sirah An-Nabawiyyah by Abu Syuhbah (Volume 1, page 140):
"Before the advent of Islam, the Arab people named the Arab months by their well-known designations, taking into account the prevailing circumstances, the distinctive traits of each period, and the conditions they experienced when assigning these names."
Accordingly, Imam Ibn Kathir explains the reason behind this month’s name in his commentary (Tafsir, Juz 4, page 146):
"The month of Rabi'ul Awwal was named such because in this month, the Arab people would settle and occupy their square-shaped dwellings (likely referring to ancient Arab structures whose ruins still exist today – Allah knows best)."
This month also holds many noble and precious events, as recorded in the book Ajaib Al-Makhlukat (page 70):
Rabi'ul Awwal is a month full of blessings. In it, Allah Ta'ala opened the gates of happiness for all of creation including the mortal world, the realm of angels, and all that exists through the birth of the Leader of all Messengers ﷺ. Some of the great events that took place in this month are:
- 8th of Rabi'ul Awwal: The arrival of Rasulullah ﷺ in the city of Madinah
- 10th of Rabi'ul Awwal: The marriage of Rasulullah ﷺ to Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha
- 12th of Rabi'ul Awwal: The birth of Rasulullah ﷺ ﷺ
DALIL
ثم سمت العرب قبل الإسلام الشهور العربية بالأسماء المعروفة مراعين أيضا الأحوال، وخصائص هذه الأوقات، والأوضاع التي كانوا عليها عند وضع هذه الأسماء.
"Kemudian Orang Arab memberi Nama bulan sebelum islam dengan nama yang terkenal dengan harapan mereka menjaga kebiasaannya, Kekhususan masing-masing waktu Dan Kejadian yang sesuai dalam Lafadz"
"Then, the Arabs named the months before Islam by the names that became well-known, with the intention of preserving their customs, the distinctive characteristics of each period, and the circumstances that corresponded to those names"
شهر ربيع أول: سمي بذلك لارتباعهم فيه. والارتباع الإقامة في عمارة الربع.
"Bulan Rabi'ul Awwal dinamakan demikian karena orang Arab mendirikan Dan menempati bangunan segi empat di bulan tersebut"
"The month of Rabi'ul Awwal was named as such because the Arab people would build and settle in square-shaped dwellings during this month"
هو شهر مبارك فتح الله فيه أبواب السعادات على العالمين بوجود سيد المرسلين ﷺ، الثامن منه قدم رسول الله ﷺ المدينة، والعاشر منه تزوج رسول الله ﷺ خديجة رضي الله عنها، والثاني عشر منه مولد رسول الله ﷺ.
Bulan Rabi'ul Awwal Adalah bulan Yang Berkah, Alloh ta'ala membukakan didalamnya pintu-pintu kebahagian bagi Penduduk Alam dengan Lahirnya Pemimpin Para utusan Shollallohu 'ala nabiyyina Wa'alaihim. Di tanggal 8 kanjeng nabi datang ke Madinah, pada tanggal 10 kanjeng nabi menikahi Sayyidah Khodijah Radiyallohu 'anha Dan pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal kanjeng nabi dilahirkan
Rabi'ul Awwal is a blessed month. In it, Allah Ta'ala opened the gates of happiness for all of creation through the birth of the Leader of all Messengers ﷺ. On the 8th day, the Prophet ﷺ arrived in Madinah; on the 10th day, the Prophet ﷺ married Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha; and on the 12th day of Rabi'ul Awwal, the Prophet ﷺ was born
SEKELUMIT TENTANG WAKTU KELAHIRAN DAN HIKMAH LAHIRNYA KANJENG NABI DI BULAN RABI'UL AWWAL
Sudah sangat masyhur di kalangan umat Islam bahwa Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awwal di Tahun Gajah. Berikut adalah penjelasan para ulama mengenai hal ini serta hikmah di baliknya.
Dalam kitab Mawahib Al-Laduniyyah jilid 1/85 disebutkan:
"Pendapat yang masyhur menyatakan bahwa beliau ﷺ dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Pendapat ini merupakan riwayat dari Imam Ibnu Ishaq dan para ulama lainnya."
Hal senada juga disampaikan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah jilid 1/74 melalui perkataan Muhammad bin Ishaq:
"Rasulullah ﷺ dilahirkan pada hari Senin, di Tahun Gajah, pada malam ke-12 bulan Rabi'ul Awwal."
hikmah kelahiran mulia ini
Imam Al-Qosthoni dalam Mawahib Al-Laduniyyah jilid 1/86 menjelaskan: Beliau ﷺ dilahirkan di bulan Rabi'ul Awwal menurut pendapat yang shahih dan bukan di bulan Muharram, Rajab, Ramadhan, maupun bulan-bulan mulia lainnya. Sebab, Kanjeng Nabi tidak menjadi mulia karena waktu, melainkan waktu dan tempatlah (tempat kelahirannya) yang menjadi mulia karena kehadiran beliau. Seandainya beliau lahir di bulan yang sudah dikenal suci, dikhawatirkan orang akan menyangka kemuliaan beliau didapat dari bulan tersebut. Maka Allah menetapkan kelahiran beliau di bulan ini, agar terlihat jelas anugerah dan kemuliaan yang Allah berikan khusus kepada Rasul-Nya.
Sementara itu, Imam Az-Zurqoni menambahkan sudut pandang lain dalam Syarah Az-Zurqoni jilid 1/249: Hikmah kelahiran beliau di bulan Rabi'ul Awwal juga selaras dengan makna musim semi (rabi'). Musim semi adalah waktu yang paling seimbang (mungkin maksud nya kiasan peralihan zaman nabi dan zaman tanpa nabi/zaman sahabat imam wali kiyai dll), begitu pula syariat yang dibawa beliau adalah syariat yang paling lurus dan seimbang. Nama "Rabi'" pun menyimpan harapan baik: pada musim ini bumi menampakkan segala nikmat yang tersimpan di dalamnya. Kelahiran beliau di bulan ini menjadi isyarat nyata akan tingginya derajat beliau, serta penegasan bahwa beliau sungguh-sungguh merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta
ENGLISH
A BRIEF LOOK AT THE TIME OF THE PROPHET’S BIRTH AND THE WISDOM BEHIND HIS BIRTH IN THE MONTH OF RABI'UL AWWAL
It is widely known among Muslims that the Prophet Muhammad ﷺ was born on a Monday, the 12th of Rabi'ul Awwal, in the Year of the Elephant. Below is the explanation given by scholars on this matter, as well as the wisdom behind it.
As stated in the book Mawahib Al-Laduniyyah, Volume 1, page 85:
"The well-known view holds that he ﷺ was born on Monday, the 12th of Rabi'ul Awwal. This is the narration recorded by Imam Ibn Ishaq and other scholars."
Imam Al-Baihaqi also confirms the same in Dala'il An-Nubuwwah, Volume 1, page 74, quoting Muhammad bin Ishaq:
"The Messenger of Allah ﷺ was born on a Monday, in the Year of the Elephant, on the night of the 12th of Rabi'ul Awwal."
The Wisdom Behind This Noble Birth
Imam Al-Qastallani explains in Mawahib Al-Laduniyyah, Volume 1, page 86: According to the most authentic opinion, he ﷺ was born in Rabi'ul Awwal not in Muharram, Rajab, Ramadan, or any other already venerated month. This is because the Prophet does not derive his greatness from time; rather, time and place (including his birthplace) are made noble because of his presence. Had he been born in a month already known as sacred, people might have mistakenly assumed his dignity came from that month instead. So Allah ordained his birth in this month, to make it clear that his honor and distinction are special gifts bestowed directly by Allah.
Meanwhile, Imam Az-Zurqoni offers another perspective in Syarah Az-Zurqoni, Volume 1, page 249: The wisdom of his birth in Rabi'ul Awwal also aligns with the meaning of rabi', or spring. Spring is the most balanced of seasons likely a metaphor for the transition from the age without a prophet to the time of the Prophet, then the era of his companions, imams, saints, and scholars and likewise, the shari'ah he brought is the most upright and balanced way of life. The word Rabi' also carries good tidings: in spring, the earth reveals all the blessings hidden within it. His birth in this month is a clear sign of his lofty station, and a confirmation that he is truly a mercy to all the worlds
DALIL
والمشهور: أنه ولد يوم الاثنين ثانى عشر شهر ربيع الأول، وهو قول ابن إسحاق وغيره.
"Menurut Pendapat masyhur Bahwa Kanjeng nabi dilahirkan pada Hari senin tanggal 12 Rabi'ul awwal. Pendapat ini Adalah Riwayat imam Ibnu Ishaq dan ulama yang lain"
"According to the well-established view, the Prophet ﷺ was born on Monday, the 12th of Rabi'ul Awwal. This view is based on the narration of Imam Ibn Ishaq and other scholars"
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: وُلِدَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، عَامَ الْفِيلِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةٍ مَضَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ.
"Telah berkata muhammad bin Ishaq : Kanjeng nabi dilahirkan pada Hari senin tahun Gajah tanggal 12 Bulan Rabi'ul Awwal"
"Muhammad bin Ishaq stated: The Prophet ﷺ was born on a Monday, in the Year of the Elephant, on the 12th day of the month of Rabi'ul Awwal"
وإنما كان فى شهر ربيع على الصحيح ولم يكن فى المحرم، ولا فى رجب، ولا فى رمضان، ولا فى غيرها من الأشهر ذوات الشرف، لأنه عليه السلام- لا يتشرف بالزمان، وإنما الزمان يتشرف به كالأماكن، فلو ولد فى شهر من الشهور المذكورة، لتوهم أنه تشرف بها، فجعل الله تعالى مولده ﷺ- فى غيرها ليظهر عنايته به وكرامته عليه.
"Sesungguhnya kanjeng nabi dilahirkan di bulan Rabi'ul Awwal menurut Pendapat yang shohih, bulan bulan muharram, Rajab, Ramadhan Dan bulan-bulan mulia yang lain. Kerena Kanjeng nabi itu tidak mulia karena Zaman, Akan tetapi Zaman yang menjadi Mulia karena Lahirnya kanjeng nabi, seperti halnya tempat. Seandainya kanjeng nabi dilahirkan di bulan-bulan mulia Maka Ada prasangka Bahwa Kanjeng nabi mulia sebab Lahir di bulan mulia. Maka Gusti Alloh menjadikan waktu Lahirnya kanjeng nabi diselain bulan-bulan mulia agar tampak anugerah Alloh Dan kemulian Alloh untuk kanjeng nabi"
"Verily, according to the most authentic view, the Prophet ﷺ was born in the month of Rabi'ul Awwal, and not in Muharram, Rajab, Ramadan, or any other of the noble months. This is because the Prophet is not made noble by time; rather, time is made noble by his birth just as is the case with places. Had he been born in one of those already venerated months, there would have been a misconception that his nobility came merely from being born in a sacred month. Therefore, Allah Almighty appointed his birth to be in this month, distinct from the others, so that His special favour and honour bestowed upon His Messenger may be made manifest"
وحكمة كونه في شهر ربيع ما في شرعه من شبه زمن الربيع، فإنه أعدل الفصول وشرعه أعدل الشرائع، ولأن في ظهوره فيه إشارة لمن تفطن لها بالنسبة إلى اشتقاق لفظة ربيع؛ لأن فيه تفاؤلا حسنا ببشارة أمته، فالربيع تنشق الأرض عما في بطنها من نعم الله، ومولده في ربيع إشارة ظاهرة إلى التنويه بعظيم قدره، وأنه رحمة للعالمين،
Hikmah kanjeng nabi dilahirkan bulan Rabi'ul Awwal itu karena syari'at kanjeng Nabi yang serupa dengan Musim Semi, Sesungguhnya Musim semi itu paling ideal Dan Syari'at kanjeng nabi Adalah Syari'at paling ideal. Dan dilahirkannya kanjeng nabi di bulan Rabi'ul Awwal terdapat isyarah bagi orang yang faham dengan dinisbatkan ke Cetakan Lafadz Rabi' tersebut. Karena dalam Lafadz Rabi' terdapat Tafaúl dan kebaikan kabar gembira bagi Umat kanjeng nabi muhammad Shollallohu 'Alaihi wasallam. Musim Rabi' itu membedah bumi yang didalamnya terdapat nikmat Alloh ta'ala. Dan Lahirnya kanjeng nabi di bulan Rabi'ul Awwal sebuah isyarah jelas pada kehormatan dengan keagungan derajatnya. Dan sesungguhnya Kanjeng nabi Adalah Rahmat bagi Alam semesta
The wisdom behind the Prophet’s birth in the month of Rabi'ul Awwal lies in the harmony between his shari'ah and the nature of spring. For spring is the most ideal of seasons, and likewise, the shari'ah he brought is the most perfect and balanced way of life. His birth in this month also holds a profound sign for those who reflect upon the very meaning of the word Rabi'. This term carries good omens and glad tidings for his community, for just as spring opens the earth to reveal all the blessings stored within it, his arrival is a clear symbol of his lofty station and honor and truly, he is a mercy to the entire universe