Senin, 10 Agustus 2026

DURHAKA NYA ORANG TUA KE ANAK


ORANG TUA YANG JUGA BISA "DURHAKA" KEPADA ANAKNYA
 
Suatu hari, seorang ayah datang menghadap Khalifah Umar bin Khattab untuk mengadukan kelakuan anak laki-lakinya yang dianggap durhaka.
 
Sayyidina Umar pun memanggil anak tersebut dan mulai menegurnya. Namun sang anak bertanya:
"Wahai Amirul Mukminin, apakah seorang anak tidak memiliki hak atas ayahnya?"
 
"Tentu saja ada," jawab Sayyidina Umar.
 
"Apa saja hak-hak itu?" tanya anak itu lagi.
 
"Memilihkan ibu yang baik, memberikan nama yang bagus, serta mengajarkannya Al-Qur'an," jelas Sayyidina Umar.
 
Mendengar itu, sang anak berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, tidak satu pun dari ketiga hal itu dilakukan oleh ayahku. Ibuku adalah budak berkulit hitam milik orang Majusi. Ayahku menamaiku Ju’ala yang berarti kumbang hitam, dan dia tidak mengajarkanku satu huruf pun dari Al-Qur'an."
 
Sayyidina Umar kemudian menatap sang ayah dengan tegas dan berkata:
"Kamu mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal kamu sendiri telah mendurhakainya lebih dulu. Kamu berbuat buruk kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu."
 
Seringkali kita hanya membahas dosa anak yang menyakiti orang tua. Padahal tak sedikit dari kita yang tanpa sadar menyakiti hati anak-anak kita. Semoga kita semua ditakdirkan menjadi orang tua yang baik, sekaligus tetap menjadi anak yang taat kepada orang tua 🙏
 
Sumber: Fawaidul Mukhtar, halaman 83–84

ENGLISH

PARENTS CAN ALSO BE "DISOBEDIENT" TO THEIR CHILDREN
 
One day, a father came to Caliph Umar bin Khattab to complain about his son, whom he considered disobedient.
 
Sayyidina Umar then summoned the young man and began to admonish him. But the son asked:
"O Commander of the Faithful, does a child have no rights over his father?"
 
"Of course he does," replied Sayyidina Umar.
 
"What are those rights?" asked the son again.
 
"That he chooses a good mother for you, gives you a fine name, and teaches you the Quran," Sayyidina Umar explained.
 
Hearing this, the son said:
"O Commander of the Faithful, my father has done none of these three things. My mother was a black slave owned by a Zoroastrian. He named me Ju’ala — which means black beetle — and he has never taught me even a single letter of the Quran."
 
Sayyidina Umar then looked firmly at the father and said:
"You complain that your son is disobedient, yet you have been disobedient to him first. You wronged him before he ever wronged you."
 
We often speak only of the sin of children hurting their parents. Yet many of us hurt our own children’s hearts without even realizing it. May we all be destined to be good parents, while remaining obedient children to our own parents 🙏
 
Source: Fawaidul Mukhtar, pages 83–84

ANJURAN MEMULIAKAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM
 
Memuliakan anak merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang tua. Perbuatan ini bahkan tergolong ibadah, akan memperkuat rasa cinta anak kepada orang tuanya, dan termasuk wujud penghormatan jika orang tua menyekolahkan ke pondok pesantren
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
"Muliakanlah anak-anak kalian, dan perbaikilah adab mereka."
(HR. Sunan Ibnu Majah 4/636)
 
Dalam penjelasannya, As-Sanadi menjelaskan bahwa memuliakan anak akan membuat mereka semakin menyayangi orang tua. Sebaliknya, jika orang tua tidak menghormati dan memuliakan anak memicu tidak ber adab
 
Imam Al-Munawi mencontohkan wujud memuliakan anak yang benar, bukan dengan memanjakan dengan perhiasan atau kesenangan duniawi, melainkan:
 
1. Mengajarkan melatih kendali diri dan menanamkan akhlak yang mulia
2. Membimbing dan mendorong mereka menuju segala perbuatan yang bernilai tinggi
3. Melatih mereka tekun menjalankan segala kewajiban yang diperintahkan agama

(hal utama)
 
Syekh Nawawi Al-Bantani juga menegaskan:
 
"Menikah adalah berkah, dan anak adalah rahmat. Maka muliakanlah anak-anak kalian, sebab memuliakan anak itu adalah ibadah."
(Tanqih Al-Qoul, hal. 40)
 
Orang tua juga dianjurkan untuk tidak terlalu mengekang atau menekan anak dalam hal-hal yang diperbolehkan agama, misalnya menikmati makanan yang enak atau berlibur ke tempat yang menyenangkan. Memberikan kebebasan dalam hal yang halal adalah wujud kasih sayang, sekaligus memberi semangat bagi anak dalam menjalankan kewajiban yang berat (penyemangat)

ENGLISH

ENCOURAGEMENT TO HONOUR CHILDREN IN ISLAMIC TEACHINGS
 
Honouring children is a matter of great importance for every parent. This act is even considered a form of worship, strengthens the child’s love for their parents, and sending a child to an Islamic boarding school is also regarded as a way to honour them .
 
Rasulullah ﷺ said:
 
"Honour your children, and refine their manners."
(Narrated in Sunan Ibnu Majah 4/636)
 
In his explanation, As‑Sanadi stated that honouring children will make them love their parents even more. On the contrary, when parents do not respect and honour their children, it often leads to poor behaviour and disrespect.
 
Imam Al‑Munawi gave examples of how to truly honour children—not by spoiling them with adornments or worldly pleasures, but by:
 
1. Teaching them self‑restraint and instilling noble character
2. Guiding and encouraging them toward all righteous and praiseworthy deeds
3. Training them to be diligent in fulfilling all obligations commanded by the religion
 
Sheikh Nawawi Al‑Bantani also affirmed:
 
"Marriage is a blessing, and children are a mercy. So honour your children, for honouring them is worship."
(Tanqih Al‑Qoul, p. 40)
 
Parents are also advised not to be overly restrictive or press their children regarding matters permitted by the religion—such as enjoying good food or taking them on pleasant outings. Granting freedom in lawful matters is an expression of affection, and also serves to encourage children in carrying out their difficult duties

DALIL

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - ﷺ - قَالَ: «أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ، وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ»

Diriwayatkan dari kanjeng Rasulallah Shalallahu 'alaihi wasallam ngendikan "Muliakanlah Anak-anak kalian dan Perbaikilah adabnya mereka"

Narrated from the Messenger of Allah (Rasulullah saw), peace and blessings be upon him, who said: "Honour your children and refine their manners"

قَوْلُهُ: (أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ) فَإِنَّ إِكْرَامَهُمْ يَزِيدُهُمْ حُبًّا لِلْآبَاءِ، وَأَمَّا لَوِ الْإِكْرَامُ قَدْ يُفْضِي إِلَى سُوءِ الْأَدَبِ.

Dawuh (أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ) itu menyebabkan bertambah cinta anak kepada orang tuanya. Dan seandainya orang tua tidak memuliakan anaknya maka terkadang hal tersebut mendatangkan suul adab"

"The saying 'Honour your children' causes a child's love for their parents to grow. Conversely, if parents do not honour their children, this may sometimes lead them to behave with bad manners"

(أكرموا أولادكم وأحسنوا آدابهم) بأن تعلموهم رياضة النفس ومحاسن الأخلاق وتخرجوهم في الفضائل وتمرنوهم على المطلوبات الشرعية ولم يرد إكرامهم بزينة الدنيا وشهواتها 

Imam Al-munawi mencontohkan memuliakan anak sebagai berikut :
1. Mengajarkan Anak-anak untuk Melatih nafsu dan Akhlak yang baik. 
2. Menyuruh mereka mendatangi keutamaan
3. Melatih berbuat amal yang diperintah oleh agama. 
Dan hadits tersebut tidak menghendaki memuliakan anak dengan perhiasan dan kesenangan duniawi

Imam Al-Munawi gives the following examples of how to honour children:
 
1. Teaching children to discipline their desires and cultivate good character.
2. Guiding and encouraging them to pursue virtues.
3. Training them to perform acts of worship and duties commanded by the religion.
 
This hadith does not mean honouring children by showering them with worldly luxuries or material pleasures

التزويج بركة والولد رحمة فأكرموا أولادكم فان كرامة الأولاد عبادة. 
"Menikah Itu berkah dan Anak adalah Rahmat, maka muliakanlah Anak-anak kalian, karena Memuliakan anak itu ibadah"

"Marriage is a blessing, and children are a mercy. Therefore, honour your children, for honouring them is an act of worship"

KEWAJIBAN MENGAJARKAN ADAB DAN ILMU
 
Salah satu hak utama anak yang wajib dipenuhi orang tua adalah memberikan pendidikan adab serta ilmu agama. Oleh karena itu, mendidik anak sejak usia dini merupakan tugas pokok dan tanggung jawab mutlak setiap orang tua.
 
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
 
"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pemimpin kaum adalah pemimpin bagi mereka dan ia akan diminta pertanggungjawaban. Dan laki-laki adalah pemimpin di keluarganya, dan ia pun akan diminta pertanggungjawaban atas mereka."
(HR. Sunan Abi Dawud 3/130)
 
Imam Ibnu Ruslan menjelaskan dalam syarahnya bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya soal nafkah, pakaian, dan kebutuhan fisik keluarga saja. Ia wajib mengajarkan apa yang dibutuhkan anak dalam soal wudhu, shalat, serta urusan agama lainnya. Bahkan, kewajiban mengajarkan ilmu agama jauh lebih utama dibandingkan nafkah dan pakaian. Sebab, nafkah bisa gugur jika orang tua benar-benar tidak mampu, namun kewajiban memberi ilmu tidak gugur. Jika orang tua belum memahaminya, ia wajib belajar terlebih dahulu, bertanya kepada ulama, atau menitipkan anak kepada orang yang mampu mendidiknya.
 
Hal ini juga ditegaskan dalam kitab Fathul Qorib, bahwa di antara hak anak atas orang tuanya adalah bimbingan adab serta pengajaran segala amalan agama yang perlu diketahui dan diamalkan.
 
Dari sini dapat disimpulkan: tugas ayah tidak sekadar memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Ia wajib menanamkan adab mulia dan ilmu agama kepada anak dan istri. Jika orang tua belum memahami atau belum sempat mendidik secara langsung, langkah terbaik adalah menitipkan mereka kepada guru atau ulama yang terpercaya salah satu caranya adalah dengan menyekolahkan ke pondok pesantren

ENGLISH

THE DUTY TO TEACH MANNERS AND KNOWLEDGE
 
One of the fundamental rights of a child that parents must fulfill is providing education in good manners as well as religious knowledge. Therefore, educating children from an early age is the primary task and absolute responsibility of every parent.
 
Rasulullah ﷺ said in a hadith:
 
"Know that every one of you is a guardian, and every one of you will be held accountable for those under your care. The leader of a people is a guardian over them and will be held accountable for them. A man is a guardian over the members of his household, and he too will be held accountable for them."
(Narrated in Sunan Abi Dawud 3/130)
 
In his commentary, Imam Ibnu Ruslan explained that a father will be held accountable in the Hereafter not only for providing livelihood, clothing, and physical needs of his family. He is obliged to teach his children what they need regarding wudu, prayer, and all other religious matters. In fact, the duty to teach religious knowledge is far more important than providing sustenance and clothing. This is because the obligation to provide for physical needs may be lifted if a parent is truly unable, but the duty to impart knowledge can never be excused. If a parent does not yet understand these matters himself, he must learn first, consult learned scholars, or entrust his children to someone who is able to educate them properly.
 
This is also affirmed in the book Fathul Qorib, which states that among the rights of a child over their parents is guidance in noble manners and instruction in all religious practices that they need to know and practice.
 
Thus we may conclude: a father’s duty goes far beyond merely providing food and clothing. He is obliged to instill noble character and religious knowledge in his children and wife. If he lacks the knowledge or cannot teach them directly, the best course is to entrust them to trusted teachers or scholars one proven way being to send them to an Islamic boarding school

DALIL

عن عبد الله بن عمر، أن رسول الله ﷺ قال: «ألا كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير الذي على الناس راع عليهم، وهو مسئول عنهم، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، الحديث. 

Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar, Sesungguhnya Rasulallah Shollallohu 'alaihi wasallam dawuh "Ingat, Setiap kalian itu pemimpin, Dan setiap kalian Akan diminta pertanggungjawaban Dari Rakyatnya. Maka Pemerintah manusia itu pemimpin manusia, Dan ia akan diminta pertanggungjawaban dari mereka. Dan Laki-laki itu pemimpin Ahli baitnya Dan ia akan diminta pertanggungjawaban Dari mereka" (Al-hadits)

It is narrated from Abdullah bin Umar that the Messenger of Allah ﷺ said: "Beware, every one of you is a guardian, and every one of you will be held accountable for those under your care. The ruler over the people is a guardian over them, and he shall be answerable for them. And a man is the guardian of his household, and he shall be answerable for them.' (Hadith)"

والرجل مسؤول عن نفقة زوجته وخادمه وأولاده وكسوتهم وما يحتاجون إليه، وعن تعليمهم ما يحتاجون إليه في صلاتهم ووضوئهم، وما يحتاجون إليه في أمر دينهم وهو أهم من الكسوة والنفقة، فإنها تسقط عنه إذا كان معسرا وعاجزًا عن التكسب،وأما تعليم دينهم فإن لم يعرف فيتعلم ويعلمهم، أو يسأل، أو يسلمهم إلى من يعلمهم عليه. 

"Orang laki-laki akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) tentang nafkah istrinya, pelayan nya, Anak-anak nya. Dan pakaian mereka dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Dan Akan ditanya diakhirat tentang mengajarkan mereka, tentang sesuatu yang mereka butuhkan dalam sholat dan wudhunya. Dan sesuatu yang mereka butuhkan dalam urusan agamanya (Ilmu agama). Dan memenuhi kebutuhan ilmu jauh lebih penting daripada pakaian dan Nafkah. Karena pakaian dan nafakah akan gugur dari seseorang lelaki jika ia tidak mampu bekerja. Apapun ketika seorang laki-laki yang tidak Faham ilmu maka ia harus belajar kemudian mengajarkan istri dan anak-anaknya. Atau dia bertanya kepada orang alim. Atau menghantarkan mereka kepada orang yang mampu mengajarkan agamanya"

"A man will be questioned (held accountable) for providing sustenance, clothing, and all necessary needs for his wife, his dependents, and his children. He will also be questioned in the Hereafter about teaching them what they need to know regarding prayer, ablution, and all other matters of their religion. Fulfilling their need for religious knowledge is far more important than providing clothing and sustenance. This is because the obligation to provide material needs may be lifted if a man is truly unable to earn a living. However, if a man himself lacks this knowledge, he must first learn it so he may teach his wife and children, or consult learned scholars, or entrust them to those who are qualified to teach them their faith"

فائدة: جاء في الحديث وإن لولدك عليك حقا الحديث فيه أن على الأب تأديب ولده وتعليمه ما يحتاج إليه من وظائف الدين

(Faidah) "Telah jelas didalam hadits sesungguhnya ada hak untuk anakmu, hadits yang menerangkan tentang hak anak ialah sesungguhnya bagi seseorang bapak mengajarkan adab kepada anaknya dan mengajarkan anaknya terhadap sesuatu yang ia butuhkan yang berupa amaliyah agama islam"

(Benefit)
"It is clearly established in the hadith that your child has rights over you. Among the rights of a child, as explained in this narration, is that a father must teach his child good manners, and instruct them in all religious practices of Islam that they need to know and practice"