Sabtu, 01 Agustus 2026

KIYAI MENERIMA GAJI


MENERIMA AMPLOP = MENJUAL AGAMA?
 
Seringkali, ayat ini dijadikan rujukan utama untuk menuduh seseorang "menjual agama":
 
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 41)
 
Menurut Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 halaman 244, makna ayat ini adalah:
 
“Janganlah kalian menyembunyikan kebenaran, memutarbalikkan fakta, atau menutup ilmu yang bermanfaat hanya demi mempertahankan kedudukan atau mengejar keuntungan duniawi yang sedikit (misal kiyai menyuruh santriwati memijit padahal udah jelas jika bukan muhrim bersentuhan fisik walau rambut doang haram), hina, dan akan lenyap.”
 
Lalu, apakah penceramah atau pengajar agama yang menerima amplop atau imbalan bisa disebut menjual agama?
 
Jawabannya: TIDAK. Alasannya:
 
1. Mayoritas ulama masa kini berpendapat hukumnya boleh menerima hadiah, bisyarah, atau ujrah (imbalan) atas kegiatan mengajar dan berdakwah.
2. Istilah "menjual agama" sesungguhnya ditujukan bagi mereka yang menggunakan nama agama untuk membenarkan kemungkaran, menghalalkan yang haram, atau mendukung hal-hal yang bertentangan syariat.
 
Contoh nyata menjual agama adalah menerima keuntungan besar untuk mendukung hal yang bertentangan ajaran agama, seperti liberalisme, perzinahan, atau menghalalkan perbuatan yang dilarang syariat. Orang yang melakukan hal tersebutlah yang layak disebut menjual agama, meskipun ia dipanggil dengan gelar ulama, kyai, guru, atau sebutan mulia lainnya.
 
Sebagaimana ditegaskan Syekh Wahbah az-Zuhaili:
 
“Ulama muta’akhirin berfatwa: diperbolehkan menerima imbalan atas pengajaran Al-Qur’an, tugas menjadi imam, khutbah, adzan, dan seluruh amal ibadah lainnya. Sebab jika mereka harus sibuk bertani, berdagang, atau bekerja di bidang lain untuk menghidupi diri, maka syiar-syiar agama justru akan terbengkalai (gak ada ustadz yang terjun)”
(Subulul Istifadah..., halaman 23)

ENGLISH 

RECEIVING AN ENVELOPE = SELLING ONE'S FAITH?
 
This verse is often cited as the main reference to accuse someone of "selling their faith":
 
“Do not trade My verses for a low price, and fear Me and Me alone.” (QS. Al-Baqarah: 41)
 
According to Tafsir Ibnu Katsir, Volume 1, Page 244, the meaning of this verse is:
 
“Do not hide the truth, twist facts, or conceal beneficial knowledge merely to maintain status or chase small worldly gains such as a religious leader asking a female student to give a massage, even though it is clearly forbidden for non-mahram persons to touch each other, even if only touching hair gains that are base and fleeting.”
 
Then, does a religious speaker or teacher who receives an envelope or remuneration count as selling their faith?
 
The answer is: NO. Here is why:
 
1. The majority of contemporary scholars hold that it is permissible to accept gifts, tokens of appreciation, or ujrah (remuneration) for teaching and preaching.
2. The term "selling one's faith" truly refers to those who use religion to justify wrongdoing, declare what is forbidden as lawful, or support matters contrary to the Shari’ah.
 
A clear example of selling one's faith is accepting large profits to back ideas that contradict religious teachings such as religious liberalism, adultery, or normalizing acts prohibited by Islamic law. Those who do such things are the ones rightly called sellers of faith, even if they are addressed with honorable titles like scholar, Kyai, teacher, or other respected names.
 
As Shaykh Wahbah az-Zuhaili stated:
 
“Later generations of scholars have ruled: it is permissible to accept remuneration for teaching the Qur’an, serving as imam, delivering sermons, calling the adhan, and performing all other acts of worship. For if they had to busy themselves with farming, trading, or other work to earn a living, the symbols of religion would be neglected there would be no one to tend to religious duties.”
(Subulul Istifadah..., Page 23)

DALIL 

وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)

"Do not trade My verses for a low price, and fear Me and Me alone." (QS. Al-Baqarah: 41)

مَعْنَاهُ لَا تَعْتَاضُوا عَنِ الْبَيَانِ وَالْإِيضَاحِ وَنَشْرِ الْعِلْمِ النَّافِعِ فِي النَّاسِ بِالْكِتْمَانِ وَاللَّبْسِ لِتَسْتَمِرُّوا عَلَى رِيَاسَتِكُمْ فِي الدُّنْيَا الْقَلِيلَةِ الْحَقِيرَةِ الزَّائِلَةِ عَنْ قَرِيبٍ
Maknanya, jangan menyembunyikan ilmu dan memutarbalikkan kebenaran hanya demi mempertahankan jabatan atau mengejar keuntungan dunia yang sementara

Its meaning is: do not hide knowledge or twist the truth merely to hold onto position or chase fleeting worldly gain

أَفْتَى الْمُتَأَخِّرُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ بِجَوَازِ أَخْذِ الْأُجْرَةِ عَلَى تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَعَلَى وَظَائِفِ الْإِمَامَةِ وَالْخَطَابَةِ وَالْأَذَانِ وَسَائِرِ الطَّاعَاتِ --- فَلَوْ اشْتَغَلَ بِالِاكْتِسَابِ مِنْ زِرَاعَةٍ أَوْ تِجَارَةٍ أَوْ صِنَاعَةٍ لَزِمَ ضِيَاعُ الْقُرْآنِ وَإِهْمَالُ تِلْكَ الشَّعَائِرِ

Ulama muta’akhirin berfatwa:
Boleh (mubah) bagi seseorang untuk menerima insentif atas pengajaran Al-Quran, tugas mejadi imam shalat, tugas khutbah, tugas adzan, dan seluruh aktivitas keagamaan lain.

Karena bila mereka sibuk bekerja di bidang pertanian, perdagangan, atau atau pertukangan, maka syiar² agama akan terbengkalai"

"Scholars of the later generations have ruled:
It is permissible for a person to receive incentives for teaching the Qur'an, serving as an imam for prayer, delivering sermons, calling the adhan, and performing all other religious duties.
 
For if they were occupied with work in agriculture, trade, or craftsmanship, the symbols of religion would be neglected"