Latest Posts

Minggu, 22 Maret 2026

ilustration of imam ahmad

SANTRI TIDAK PULANG 
 
1. Banyak santri tidak mudik Lebaran
Alasan utamanya bisa karena tirakat, uzlah, atau hal lainnya.
2. Syair dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi'i
Mengajak untuk merantau dari tanah kelahiran guna mencari derajat yang mulia, karena dalam perjalanan terdapat lima keutamaan.
3. Empat keutamaan berpergian
- Mendapatkan nafkah hidup
- Menimba ilmu pengetahuan
- Memperoleh akhlak dan adab yang baik
- Menemukan teman atau sahabat yang mulia dan agung
4. Contoh dari Imam Ahmad bin Hanbal
Beliau keliling dunia sebanyak dua kali hingga berhasil menyusun kitab Musnad yang terdiri dari puluhan jilid.
5. Merantau kepada ulama sangat dianjurkan
Hal ini telah menjadi kebiasaan bagi para ulama dan orang-orang shaleh, serta kebaikannya sudah sangat dikenal dan tersebar luas di masyarakat

ENGLISH 

SANTRI DO NOT GO HOME
 
1. Many santri do not travel home for Eid al-Fitr
The main reasons may include tirakat (spiritual retreat), uzlah (seclusion for worship), or other matters.
2. A poem attributed to Imam Asy-Syafi'i
It encourages leaving one's hometown to seek noble status, as there are five virtues in traveling.
3. Four virtues of traveling
- Earning a livelihood
- Seeking knowledge
- Gaining good morals and etiquette
- Finding noble and great friends or companions
4. Example from Imam Ahmad bin Hanbal
He traveled around the world twice until he successfully compiled the book Musnad, which consists of dozens of volumes.
5. Traveling to meet scholars is highly recommended
This has become a practice among scholars and pious people, and its goodness is well-known and widely spread in society

DALIL

ومما عزي للشافعي:
تغرب عن الأوطان في طلب العلا # وسافر ففي الأسفار خمس 

"Merantaulah dari tanah kelahiran untuk mencari derajat luhur, Dan pergilah karena dalam Berpergian terdapat lima keutamaan"

"Leave your homeland to seek noble status, and go forth, for there are five virtues in traveling"

فوائد تفرج هم واكتساب معيشة # وعلم وآداب وصحبة ماجد

"Hilangnya susah, memperoleh kehidupan, mendapatkan ilmu, adab dan teman yang Agung"

"The removal of hardship, the attainment of livelihood, the acquisition of knowledge, good manners, and noble companions"

أَنَّ الْإِمَامَ أَحْمَدَ دَارَ الدُّنْيَا مَرَّتَيْنِ حَتَّى جَمَعَ الْمُسْنَدَ. وَلَمْ تَزَلْ الرِّحْلَةُ فِي الْعُلَمَاءِ مَطْلُوبَةً، وَهِيَ إلَى الْأَئِمَّةِ وَالْأَخْيَارِ مَنْسُوبَةٌ، وَحُسْنُ ذَلِكَ شَاعَ وَذَاعَ، وَمَلَأَ الْأَسْمَاعَ،

"Sesungguhnya imam Ahmad bin hanbal keliling dunia dua kali, sehingga beliau menyusun kitab musnadnya (puluhan jilid). Dan Tidak henti-hentinya seseorang dianjurkan berkelana kepada ulama. Dan hal itu dilakukan oleh para ulama dan orang-orang baik. dan kebaikan merantau sudah masyhur dan tersebar luas dan tidak asing dalam pendengaran"

"Indeed, Imam Ahmad bin Hanbal traveled around the world twice, thus compiling his book Musnad (consisting of dozens of volumes). Moreover, traveling to seek out scholars is continuously recommended. This practice is carried out by scholars and virtuous people, and the goodness of traveling has become famous and widely spread, familiar to all who hear of it"

SANTRI TIDAK PULANG DAN ALASAN NYA

ilustration of imam ahmad

SANTRI TIDAK PULANG 
 
1. Banyak santri tidak mudik Lebaran
Alasan utamanya bisa karena tirakat, uzlah, atau hal lainnya.
2. Syair dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi'i
Mengajak untuk merantau dari tanah kelahiran guna mencari derajat yang mulia, karena dalam perjalanan terdapat lima keutamaan.
3. Empat keutamaan berpergian
- Mendapatkan nafkah hidup
- Menimba ilmu pengetahuan
- Memperoleh akhlak dan adab yang baik
- Menemukan teman atau sahabat yang mulia dan agung
4. Contoh dari Imam Ahmad bin Hanbal
Beliau keliling dunia sebanyak dua kali hingga berhasil menyusun kitab Musnad yang terdiri dari puluhan jilid.
5. Merantau kepada ulama sangat dianjurkan
Hal ini telah menjadi kebiasaan bagi para ulama dan orang-orang shaleh, serta kebaikannya sudah sangat dikenal dan tersebar luas di masyarakat

ENGLISH 

SANTRI DO NOT GO HOME
 
1. Many santri do not travel home for Eid al-Fitr
The main reasons may include tirakat (spiritual retreat), uzlah (seclusion for worship), or other matters.
2. A poem attributed to Imam Asy-Syafi'i
It encourages leaving one's hometown to seek noble status, as there are five virtues in traveling.
3. Four virtues of traveling
- Earning a livelihood
- Seeking knowledge
- Gaining good morals and etiquette
- Finding noble and great friends or companions
4. Example from Imam Ahmad bin Hanbal
He traveled around the world twice until he successfully compiled the book Musnad, which consists of dozens of volumes.
5. Traveling to meet scholars is highly recommended
This has become a practice among scholars and pious people, and its goodness is well-known and widely spread in society

DALIL

ومما عزي للشافعي:
تغرب عن الأوطان في طلب العلا # وسافر ففي الأسفار خمس 

"Merantaulah dari tanah kelahiran untuk mencari derajat luhur, Dan pergilah karena dalam Berpergian terdapat lima keutamaan"

"Leave your homeland to seek noble status, and go forth, for there are five virtues in traveling"

فوائد تفرج هم واكتساب معيشة # وعلم وآداب وصحبة ماجد

"Hilangnya susah, memperoleh kehidupan, mendapatkan ilmu, adab dan teman yang Agung"

"The removal of hardship, the attainment of livelihood, the acquisition of knowledge, good manners, and noble companions"

أَنَّ الْإِمَامَ أَحْمَدَ دَارَ الدُّنْيَا مَرَّتَيْنِ حَتَّى جَمَعَ الْمُسْنَدَ. وَلَمْ تَزَلْ الرِّحْلَةُ فِي الْعُلَمَاءِ مَطْلُوبَةً، وَهِيَ إلَى الْأَئِمَّةِ وَالْأَخْيَارِ مَنْسُوبَةٌ، وَحُسْنُ ذَلِكَ شَاعَ وَذَاعَ، وَمَلَأَ الْأَسْمَاعَ،

"Sesungguhnya imam Ahmad bin hanbal keliling dunia dua kali, sehingga beliau menyusun kitab musnadnya (puluhan jilid). Dan Tidak henti-hentinya seseorang dianjurkan berkelana kepada ulama. Dan hal itu dilakukan oleh para ulama dan orang-orang baik. dan kebaikan merantau sudah masyhur dan tersebar luas dan tidak asing dalam pendengaran"

"Indeed, Imam Ahmad bin Hanbal traveled around the world twice, thus compiling his book Musnad (consisting of dozens of volumes). Moreover, traveling to seek out scholars is continuously recommended. This practice is carried out by scholars and virtuous people, and the goodness of traveling has become famous and widely spread, familiar to all who hear of it"

Sabtu, 21 Maret 2026


KEUTAMAAN SILATURAHMI

Silaturahim adalah kebiasaan terpuji yang sering dilakukan masyarakat Indonesia, baik sebelum Idul Fitri (saat mudik) maupun setelahnya bagi yang tinggal dekat dengan keluarga. Bahkan, hal ini bisa dianggap sebagai ibadah. Dalam Kitab Tanbih Al-gafilin, terdapat sepuluh keistimewaan dari melaksanakan silaturahim, yaitu:
 
1. Mendapatkan keridhaan Allah SWT
2. Membuat hati kerabat menjadi bahagia
3. Menyenangkan malaikat
4. Mendapat pujian dari sesama umat Islam
5. Menyedihkan iblis yang terkutuk
6. Diberikan tambahan umur panjang
7. Rizkinya mendapatkan berkah
8. Membahagiakan orang-orang yang telah wafat
9. Meningkatkan rasa cinta antar sesama
10. Mendapatkan tambahan pahala setelah wafat, karena ketika kebaikan seseorang yang sudah mati disebutkan, pahalanya akan bertambah

ENGLISH

MERITS OF FRIENDSHIP
 
Silaturahmi is a commendable tradition often practiced by the Indonesian people, both before Eid al-Fitr (during the homecoming trip known as mudik) and after the celebration for those who live close to their families. In fact, this practice can be regarded as an act of worship. The book Tanbih Al-gafilin outlines ten excellences of performing silaturahmi, as follows:
 
1. Gaining the pleasure of Allah SWT
2. Bringing joy to the hearts of relatives
3. Pleasing the angels
4. Receiving praise from fellow Muslims
5. Saddening the accursed devil (Iblis)
6. Being granted an extension of lifespan
7. Having one’s sustenance blessed
8. Bringing comfort to those who have passed away
9. Increasing feelings of love among people
10. Receiving additional rewards after death, because when the good deeds of someone who has died are mentioned, their rewards will be increased

SILATURAHMI


KEUTAMAAN SILATURAHMI

Silaturahim adalah kebiasaan terpuji yang sering dilakukan masyarakat Indonesia, baik sebelum Idul Fitri (saat mudik) maupun setelahnya bagi yang tinggal dekat dengan keluarga. Bahkan, hal ini bisa dianggap sebagai ibadah. Dalam Kitab Tanbih Al-gafilin, terdapat sepuluh keistimewaan dari melaksanakan silaturahim, yaitu:
 
1. Mendapatkan keridhaan Allah SWT
2. Membuat hati kerabat menjadi bahagia
3. Menyenangkan malaikat
4. Mendapat pujian dari sesama umat Islam
5. Menyedihkan iblis yang terkutuk
6. Diberikan tambahan umur panjang
7. Rizkinya mendapatkan berkah
8. Membahagiakan orang-orang yang telah wafat
9. Meningkatkan rasa cinta antar sesama
10. Mendapatkan tambahan pahala setelah wafat, karena ketika kebaikan seseorang yang sudah mati disebutkan, pahalanya akan bertambah

ENGLISH

MERITS OF FRIENDSHIP
 
Silaturahmi is a commendable tradition often practiced by the Indonesian people, both before Eid al-Fitr (during the homecoming trip known as mudik) and after the celebration for those who live close to their families. In fact, this practice can be regarded as an act of worship. The book Tanbih Al-gafilin outlines ten excellences of performing silaturahmi, as follows:
 
1. Gaining the pleasure of Allah SWT
2. Bringing joy to the hearts of relatives
3. Pleasing the angels
4. Receiving praise from fellow Muslims
5. Saddening the accursed devil (Iblis)
6. Being granted an extension of lifespan
7. Having one’s sustenance blessed
8. Bringing comfort to those who have passed away
9. Increasing feelings of love among people
10. Receiving additional rewards after death, because when the good deeds of someone who has died are mentioned, their rewards will be increased


INTROPEKSI SETELAH RAMADHAN
 
Ramadhan bukan hanya bulan berpuasa semata, melainkan sebuah periode pembelajaran dan pembinaan diri yang perlu kita evaluasi setelahnya. Berikut poin-poin pentingnya:
 
1. Ramadhan Sebagai Madrasah (Tempat Belajar)
 
Menurut Mbah Moen Zubair, "Ramadhan adalah madrasah. Barangsiapa yang tidak menjadi lebih baik setelah Ramadhan, berarti puasanya belum berhasil." Artinya, jika puasa (gak makan gak minum) sukses. tapi tidak berkembang. maka belum sukses puasa nya

2. Ramadhan Menentukan Kesejahteraan Setahun
 
Beberapa sumber kitab agama menyampaikan pesan penting dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para ulama:
 
- Dari Syekh Abdul Qodir (Algunyah) dan Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumiddin): "Jika hari Jumat selamat, maka hari-hari lainnya juga selamat; jika bulan Ramadhan selamat, maka setahun akan selamat."
- Dari Nuzhah Al-Majalis: "Ramadhan adalah hati dari satu tahun. Jika Ramadhan selamat, maka setahun penuh juga selamat."
(taat pada tuhan)
 
3. Pentingnya Memanfaatkan Hari-hari Istimewa
 
Menurut Qut Al-Qulub, sebagian ulama menyatakan bahwa ada lima hari istimewa yang menjadi kesempatan untuk mendapatkan anugrah dan kemuliaan dari Allah SWT, yaitu:
 
- Dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha)
- Hari Jumat
- Hari 'Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)
- Hari Asyuro (tanggal 10 Muharram)
 
Jika kita hanya sibuk dengan urusan dunia dan hawa nafsu di hari-hari tersebut, maka kesempatan untuk mendapatkan kebaikan akhirat akan terlewatkan

ENGLISH

SELF-REFLECTION AFTER RAMADHAN
 
Ramadan is not merely a month of fasting, but a period of learning and self-development that we need to evaluate once it ends. Here are the key points:
 
1. Ramadan as a School (Place of Learning)
 
According to Mbah Moen Zubair, "Ramadan is a school. Whoever does not become better after Ramadan means their fasting has not been successful." This means that even if one successfully refrains from eating and drinking during fasting, if there is no personal growth, then the fasting is not truly successful.
 
2. Ramadan Determines the Well-Being of the Entire Year
 
Several Islamic scholarly sources convey important messages from the Prophet Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam and scholars:
 
- From Sheikh Abdul Qadir (Algunyah) and Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumiddin): "If Friday is safe and sound, then the other days will also be safe and sound; if the month of Ramadan is safe and sound, then the entire year will be safe and sound."
- From Nuzhah Al-Majalis: "Ramadan is the heart of the year. If Ramadan is safe and sound, then the whole year will be safe and sound."
 
(Here, "safe and sound" refers to being obedient to God.)
 
3. Importance of Utilizing Special Days
 
According to Qut Al-Qulub, some scholars state that there are five special days which are opportunities to receive blessings and honor from Allah SWT, namely:
 
- The two Eids (Eid al-Fitr and Eid al-Adha)
- Fridays
- The Day of 'Arafah (9th of Dhu al-Hijjah)
- The Day of Ashura (10th of Muharram)
 
If we are only busy with worldly matters and our desires on these days, the opportunity to attain goodness for the hereafter will be missed

DALIL

عن رسول الله -ﷺ- أنه قال: «إذا سلم يوم الجمعة سلمت الأيام وإذا سلم شهر رمضان سلمت السنة».

Diriwayatkan dari kanjeng Rasulullah Shallallahu wasallam Beliau bersabda "Jika hari Jum'at selamat maka selamat pula hari-hari yang lain, Dan jika selamat bulan Ramadhan Maka setahun akan selamat"

It is narrated from the Prophet Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam that He said, "If Friday is safe and sound, then the other days will also be safe and sound; and if the month of Ramadan is safe and sound, then the entire year will be safe and sound"

رمضان قلب السنة إذا سلم سلمت السنة كلها

"Ramadhan adalah Hatinya satu tahun, jika Ramadhan selamat maka selamat pula setahun penuh"

"Ramadan is the heart of the year; if Ramadan is safe and sound, then the entire year will be safe and sound"

وقال بعض علمائنا: من أخذ مهناه في هذه الأيام الخمسة في الدنيا لم ينل مهناه في الآخرة وقال هذه الأيام يرجى فيها الفضل من الله تعالى والمزيد، فإذا اشتغلت فيها بهواك وعاجل الدنيا فمتى ترجو الفضل والمزيد يعني بالأيام الخمسة العيدين ويوم الجمعة ويوم عرفة ويوم عاشوراء،

Sebagian ulama kita berkata "Barangsiapa yang menjadikan profesinya (kesibukannya) di lima hari (untuk) di dunia maka dia tidak menemukan profesi nya di akhirat. Dan ia berkata "Lima hari ini diharapkan anugrah dan kemuliaan Dari Alloh ta'ala, maka jika dirimu menyibukkan dihari tersebut dengan hawa nafsumu dan perkara duniawi maka kapan dirimu mengharapkan anugrah dan kemuliaan?". Yang dikehendaki Lima Hari tersebut ialah dua hari raya, hari jum'at, hari 'arofah (tanggal 9 Dzulhijjah) dan Hari asyuro (tanggal 10 Muharram)

Some of our scholars said, "Whoever makes their occupation (busyness) on these five days focused on worldly matters will not find their purpose in the Hereafter." They also said, "These five days are meant to seek blessings and honor from Allah the Almighty. So if you occupy yourself on these days with your desires and worldly affairs, when will you seek those blessings and honor?" The intended five days are the two Eids, Fridays, the Day of 'Arafah (9th of Dhu al-Hijjah), and the Day of Ashura (10th of Muharram)

KEBERHASILAN RAMADHAN MENURUT MBAH MOEN


INTROPEKSI SETELAH RAMADHAN
 
Ramadhan bukan hanya bulan berpuasa semata, melainkan sebuah periode pembelajaran dan pembinaan diri yang perlu kita evaluasi setelahnya. Berikut poin-poin pentingnya:
 
1. Ramadhan Sebagai Madrasah (Tempat Belajar)
 
Menurut Mbah Moen Zubair, "Ramadhan adalah madrasah. Barangsiapa yang tidak menjadi lebih baik setelah Ramadhan, berarti puasanya belum berhasil." Artinya, jika puasa (gak makan gak minum) sukses. tapi tidak berkembang. maka belum sukses puasa nya

2. Ramadhan Menentukan Kesejahteraan Setahun
 
Beberapa sumber kitab agama menyampaikan pesan penting dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para ulama:
 
- Dari Syekh Abdul Qodir (Algunyah) dan Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumiddin): "Jika hari Jumat selamat, maka hari-hari lainnya juga selamat; jika bulan Ramadhan selamat, maka setahun akan selamat."
- Dari Nuzhah Al-Majalis: "Ramadhan adalah hati dari satu tahun. Jika Ramadhan selamat, maka setahun penuh juga selamat."
(taat pada tuhan)
 
3. Pentingnya Memanfaatkan Hari-hari Istimewa
 
Menurut Qut Al-Qulub, sebagian ulama menyatakan bahwa ada lima hari istimewa yang menjadi kesempatan untuk mendapatkan anugrah dan kemuliaan dari Allah SWT, yaitu:
 
- Dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha)
- Hari Jumat
- Hari 'Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)
- Hari Asyuro (tanggal 10 Muharram)
 
Jika kita hanya sibuk dengan urusan dunia dan hawa nafsu di hari-hari tersebut, maka kesempatan untuk mendapatkan kebaikan akhirat akan terlewatkan

ENGLISH

SELF-REFLECTION AFTER RAMADHAN
 
Ramadan is not merely a month of fasting, but a period of learning and self-development that we need to evaluate once it ends. Here are the key points:
 
1. Ramadan as a School (Place of Learning)
 
According to Mbah Moen Zubair, "Ramadan is a school. Whoever does not become better after Ramadan means their fasting has not been successful." This means that even if one successfully refrains from eating and drinking during fasting, if there is no personal growth, then the fasting is not truly successful.
 
2. Ramadan Determines the Well-Being of the Entire Year
 
Several Islamic scholarly sources convey important messages from the Prophet Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam and scholars:
 
- From Sheikh Abdul Qadir (Algunyah) and Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumiddin): "If Friday is safe and sound, then the other days will also be safe and sound; if the month of Ramadan is safe and sound, then the entire year will be safe and sound."
- From Nuzhah Al-Majalis: "Ramadan is the heart of the year. If Ramadan is safe and sound, then the whole year will be safe and sound."
 
(Here, "safe and sound" refers to being obedient to God.)
 
3. Importance of Utilizing Special Days
 
According to Qut Al-Qulub, some scholars state that there are five special days which are opportunities to receive blessings and honor from Allah SWT, namely:
 
- The two Eids (Eid al-Fitr and Eid al-Adha)
- Fridays
- The Day of 'Arafah (9th of Dhu al-Hijjah)
- The Day of Ashura (10th of Muharram)
 
If we are only busy with worldly matters and our desires on these days, the opportunity to attain goodness for the hereafter will be missed

DALIL

عن رسول الله -ﷺ- أنه قال: «إذا سلم يوم الجمعة سلمت الأيام وإذا سلم شهر رمضان سلمت السنة».

Diriwayatkan dari kanjeng Rasulullah Shallallahu wasallam Beliau bersabda "Jika hari Jum'at selamat maka selamat pula hari-hari yang lain, Dan jika selamat bulan Ramadhan Maka setahun akan selamat"

It is narrated from the Prophet Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam that He said, "If Friday is safe and sound, then the other days will also be safe and sound; and if the month of Ramadan is safe and sound, then the entire year will be safe and sound"

رمضان قلب السنة إذا سلم سلمت السنة كلها

"Ramadhan adalah Hatinya satu tahun, jika Ramadhan selamat maka selamat pula setahun penuh"

"Ramadan is the heart of the year; if Ramadan is safe and sound, then the entire year will be safe and sound"

وقال بعض علمائنا: من أخذ مهناه في هذه الأيام الخمسة في الدنيا لم ينل مهناه في الآخرة وقال هذه الأيام يرجى فيها الفضل من الله تعالى والمزيد، فإذا اشتغلت فيها بهواك وعاجل الدنيا فمتى ترجو الفضل والمزيد يعني بالأيام الخمسة العيدين ويوم الجمعة ويوم عرفة ويوم عاشوراء،

Sebagian ulama kita berkata "Barangsiapa yang menjadikan profesinya (kesibukannya) di lima hari (untuk) di dunia maka dia tidak menemukan profesi nya di akhirat. Dan ia berkata "Lima hari ini diharapkan anugrah dan kemuliaan Dari Alloh ta'ala, maka jika dirimu menyibukkan dihari tersebut dengan hawa nafsumu dan perkara duniawi maka kapan dirimu mengharapkan anugrah dan kemuliaan?". Yang dikehendaki Lima Hari tersebut ialah dua hari raya, hari jum'at, hari 'arofah (tanggal 9 Dzulhijjah) dan Hari asyuro (tanggal 10 Muharram)

Some of our scholars said, "Whoever makes their occupation (busyness) on these five days focused on worldly matters will not find their purpose in the Hereafter." They also said, "These five days are meant to seek blessings and honor from Allah the Almighty. So if you occupy yourself on these days with your desires and worldly affairs, when will you seek those blessings and honor?" The intended five days are the two Eids, Fridays, the Day of 'Arafah (9th of Dhu al-Hijjah), and the Day of Ashura (10th of Muharram)


URUTAN PAHALA SHODAQOH BERDASARKAN PENERIMANYA
 
Menurut Imam Suyuti dalam kitab khomasinya (seperti juga disebutkan dalam Bughyatul Musytarsidin), pahala shodaqoh memiliki tingkatan berbeda sesuai dengan siapa yang menerima, yaitu:
 
1. Pahala dilipatgandakan 10 kali → diberikan kepada orang yang sehat secara jasmani.
2. Pahala dilipatgandakan 90 kali → diberikan kepada orang buta atau orang yang sedang mengalami musibah.
3. Pahala dilipatgandakan 900 kali → diberikan kepada kerabat yang sedang dalam keadaan membutuhkan.
4. Pahala dilipatgandakan 100 ribu kali → diberikan kepada kedua orang tua.
5. Pahala dilipatgandakan 900 ribu kali → diberikan kepada orang yang berilmu atau ahli fikih

ENGLISH

ORDER OF CHARITY REWARDS BASED ON RECIPIENTS
 
According to Imam Suyuti in his Khomasiyah (as also mentioned in Bughyatul Musytarsidin), the reward for charity (shodaqoh) has different levels depending on who receives it, as follows:
 
1. Reward multiplied 10 times → given to those who are physically healthy.
2. Reward multiplied 90 times → given to blind people or those experiencing hardship/calamity.
3. Reward multiplied 900 times → given to relatives in need.
4. Reward multiplied 100,000 times → given to both parents.
5. Reward multiplied 900,000 times → given to scholars or Islamic jurists
 
IMPORTANT
 
Charity can be in any form, as long as it does not humiliate, harm, or involve anything forbidden, and so on. Think carefully for yourself

DALIL

(فائدة) ذكر السيوطي في خماسيه أن ثواب الصدقة خمسة أنواع واحدة بعشرة وهي على صحيح الجسم، وواحدة بتسعين وهي على الأعمى والمبتلي، وواحدة بتسعمائة وهي على ذي قرابة محتاج، وواحدة بمائة ألف وهي على الأبوين وواحدة بتسعمائة ألف وهي على عالم أو فقيه اهـ

(Manfaat) Al-Suyuti menyebutkan dalam lima bukunya bahwa pahala sedekah ada lima macam: pertama, sepuluh kali lipat untuk orang sehat; kedua, sembilan puluh kali lipat untuk orang buta dan orang yang menderita; ketiga, sembilan ratus kali lipat untuk kerabat yang membutuhkan; keempat, seratus ribu kali lipat untuk orang tua; dan keempat, sembilan ratus ribu kali lipat untuk ulama atau ahli fikih

(Benefit) Al-Suyuti states in his five works that the reward for charity comes in five types: first, tenfold for healthy people; second, ninetyfold for blind people and those who are suffering; third, nine hundredfold for needy relatives; fourth, one hundred thousandfold for parents; and fifth, nine hundred thousandfold for scholars or Islamic jurists

PAHALA SEDEKAH


URUTAN PAHALA SHODAQOH BERDASARKAN PENERIMANYA
 
Menurut Imam Suyuti dalam kitab khomasinya (seperti juga disebutkan dalam Bughyatul Musytarsidin), pahala shodaqoh memiliki tingkatan berbeda sesuai dengan siapa yang menerima, yaitu:
 
1. Pahala dilipatgandakan 10 kali → diberikan kepada orang yang sehat secara jasmani.
2. Pahala dilipatgandakan 90 kali → diberikan kepada orang buta atau orang yang sedang mengalami musibah.
3. Pahala dilipatgandakan 900 kali → diberikan kepada kerabat yang sedang dalam keadaan membutuhkan.
4. Pahala dilipatgandakan 100 ribu kali → diberikan kepada kedua orang tua.
5. Pahala dilipatgandakan 900 ribu kali → diberikan kepada orang yang berilmu atau ahli fikih

ENGLISH

ORDER OF CHARITY REWARDS BASED ON RECIPIENTS
 
According to Imam Suyuti in his Khomasiyah (as also mentioned in Bughyatul Musytarsidin), the reward for charity (shodaqoh) has different levels depending on who receives it, as follows:
 
1. Reward multiplied 10 times → given to those who are physically healthy.
2. Reward multiplied 90 times → given to blind people or those experiencing hardship/calamity.
3. Reward multiplied 900 times → given to relatives in need.
4. Reward multiplied 100,000 times → given to both parents.
5. Reward multiplied 900,000 times → given to scholars or Islamic jurists
 
IMPORTANT
 
Charity can be in any form, as long as it does not humiliate, harm, or involve anything forbidden, and so on. Think carefully for yourself

DALIL

(فائدة) ذكر السيوطي في خماسيه أن ثواب الصدقة خمسة أنواع واحدة بعشرة وهي على صحيح الجسم، وواحدة بتسعين وهي على الأعمى والمبتلي، وواحدة بتسعمائة وهي على ذي قرابة محتاج، وواحدة بمائة ألف وهي على الأبوين وواحدة بتسعمائة ألف وهي على عالم أو فقيه اهـ

(Manfaat) Al-Suyuti menyebutkan dalam lima bukunya bahwa pahala sedekah ada lima macam: pertama, sepuluh kali lipat untuk orang sehat; kedua, sembilan puluh kali lipat untuk orang buta dan orang yang menderita; ketiga, sembilan ratus kali lipat untuk kerabat yang membutuhkan; keempat, seratus ribu kali lipat untuk orang tua; dan keempat, sembilan ratus ribu kali lipat untuk ulama atau ahli fikih

(Benefit) Al-Suyuti states in his five works that the reward for charity comes in five types: first, tenfold for healthy people; second, ninetyfold for blind people and those who are suffering; third, nine hundredfold for needy relatives; fourth, one hundred thousandfold for parents; and fifth, nine hundred thousandfold for scholars or Islamic jurists

Jumat, 20 Maret 2026


ANJURAN KALA LEBARAN

Hari Raya merupakan momen penting bagi umat Islam, dan terdapat beberapa anjuran yang disarankan untuk dilakukan, antara lain:
 
1. Melakukan Takbiran
mengumandangkan takbir. habis magerib- sebelum sholat eid di masjid mushola dsb
2. Menyiapkan Diri Sebelum Sholat Idul Fitri
Mandi pagi hari, berpakaian rapi dan menggunakan wewangian. Bagi laki-laki, lebih utama menggunakan selendang dan imamah. Sedangkan anak kecil tidak disarankan memakai sutra, dan perempuan tidak perlu berhias ketika keluar rumah.
3. Berjalan dengan Jalan yang Berbeda
Ketika berangkat menuju tempat sholat Idul Fitri, gunakan satu jalan. Setelah selesai sholat dan pulang kembali, gunakan jalan yang berbeda – sebagaimana sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
4. Melaksanakan Sholat Id di Lapangan
Sunnah sholat Id dilakukan di lapangan terbuka, kecuali di Mekkah dan Baitul Maqdis. Jika terjadi hujan, sholat dapat dilakukan di masjid saja.
5. Menjaga Waktu Sholat Idul Fitri
Waktu pelaksanaan sholat dimulai sejak matahari terbit hingga matahari mulai menyilang (sekitar pukul 7 atau hari agak terang).
6. Adab Saat Menuju Tempat Sholat
Keluar menuju tempat sholat sambil membaca takbir. Setelah imam datang, tidak perlu duduk terlebih dahulu dan tidak perlu melaksanakan sholat sunnah.
7. Menyembelih Hewan Kurban pada Idul Adha
Pada hari Idul Adha, imam menyembelih hewan kurban sebagai bagian dari ibadah yang dianjurkan

ENGLISH

RECOMMENDATIONS FOR EID AL-FITR AND EID AL-ADHA
 
Eid (the Islamic festive days) is an important moment for Muslims, and there are several recommended practices to observe, including:
 
1. Performing Takbiran
 
chanting takbir on the first day, from after sunset to before Eid prayer
 
2. Preparing for Eid al-Fitr Prayer
 
Take a bath in the morning, dress neatly, and use fragrance. For men, it is preferable to wear a selendang (scarf) and imamah (turban-like head covering). Children are not advised to wear silk, and women do not need to adorn themselves when going out of the house.
 
3. Taking Different Routes
 
When heading to the place of Eid al-Fitr prayer, take one route. After the prayer is finished and returning home, take a different route – as practiced by the Prophet Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
 
4. Performing Eid Prayer in an Open Field
 
It is the Sunnah (prophetic practice) to perform the Eid prayer in an open field, except in Makkah and Jerusalem (Baitul Maqdis). If it rains, the prayer may be held in a mosque instead.
 
5. Observing the Timing for Eid al-Fitr Prayer
 
The prayer time begins when the sun rises until the sun starts to decline (7 o'clock or when a day bit light)
 
6. Etiquette When Going to the Prayer Venue
 
Leave for the prayer venue while reciting Takbiran. Once the imam arrives, there is no need to sit first or perform a voluntary (sunnah) prayer.
 
7. Sacrificing an Animal on Eid al-Adha
 
On Eid al-Adha, the imam slaughters a sacrificial animal as part of the recommended worship

ANJURAN DI HARI RAYA


ANJURAN KALA LEBARAN

Hari Raya merupakan momen penting bagi umat Islam, dan terdapat beberapa anjuran yang disarankan untuk dilakukan, antara lain:
 
1. Melakukan Takbiran
mengumandangkan takbir. habis magerib- sebelum sholat eid di masjid mushola dsb
2. Menyiapkan Diri Sebelum Sholat Idul Fitri
Mandi pagi hari, berpakaian rapi dan menggunakan wewangian. Bagi laki-laki, lebih utama menggunakan selendang dan imamah. Sedangkan anak kecil tidak disarankan memakai sutra, dan perempuan tidak perlu berhias ketika keluar rumah.
3. Berjalan dengan Jalan yang Berbeda
Ketika berangkat menuju tempat sholat Idul Fitri, gunakan satu jalan. Setelah selesai sholat dan pulang kembali, gunakan jalan yang berbeda – sebagaimana sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
4. Melaksanakan Sholat Id di Lapangan
Sunnah sholat Id dilakukan di lapangan terbuka, kecuali di Mekkah dan Baitul Maqdis. Jika terjadi hujan, sholat dapat dilakukan di masjid saja.
5. Menjaga Waktu Sholat Idul Fitri
Waktu pelaksanaan sholat dimulai sejak matahari terbit hingga matahari mulai menyilang (sekitar pukul 7 atau hari agak terang).
6. Adab Saat Menuju Tempat Sholat
Keluar menuju tempat sholat sambil membaca takbir. Setelah imam datang, tidak perlu duduk terlebih dahulu dan tidak perlu melaksanakan sholat sunnah.
7. Menyembelih Hewan Kurban pada Idul Adha
Pada hari Idul Adha, imam menyembelih hewan kurban sebagai bagian dari ibadah yang dianjurkan

ENGLISH

RECOMMENDATIONS FOR EID AL-FITR AND EID AL-ADHA
 
Eid (the Islamic festive days) is an important moment for Muslims, and there are several recommended practices to observe, including:
 
1. Performing Takbiran
 
chanting takbir on the first day, from after sunset to before Eid prayer
 
2. Preparing for Eid al-Fitr Prayer
 
Take a bath in the morning, dress neatly, and use fragrance. For men, it is preferable to wear a selendang (scarf) and imamah (turban-like head covering). Children are not advised to wear silk, and women do not need to adorn themselves when going out of the house.
 
3. Taking Different Routes
 
When heading to the place of Eid al-Fitr prayer, take one route. After the prayer is finished and returning home, take a different route – as practiced by the Prophet Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
 
4. Performing Eid Prayer in an Open Field
 
It is the Sunnah (prophetic practice) to perform the Eid prayer in an open field, except in Makkah and Jerusalem (Baitul Maqdis). If it rains, the prayer may be held in a mosque instead.
 
5. Observing the Timing for Eid al-Fitr Prayer
 
The prayer time begins when the sun rises until the sun starts to decline (7 o'clock or when a day bit light)
 
6. Etiquette When Going to the Prayer Venue
 
Leave for the prayer venue while reciting Takbiran. Once the imam arrives, there is no need to sit first or perform a voluntary (sunnah) prayer.
 
7. Sacrificing an Animal on Eid al-Adha
 
On Eid al-Adha, the imam slaughters a sacrificial animal as part of the recommended worship

photo of a muslim scholar

KEMENANGAN SESUNGGUHNYA

Apa itu Al-Falah?
Al-Falah berarti kemenangan atau kebahagiaan, dan ada dua jenisnya yang menjadi tujuan hidup seorang muslim:
 
1. Kemenangan Pertama
Selamat dari siksa neraka di akhirat, serta terhindar dari berbagai celaka dan bencana di dunia ini.
2. Kemenangan Kedua
Meraih kebahagiaan karena pertolongan Allah SWT untuk menjalankan segala perintah-Nya di dunia, dan mendapatkan kebahagiaan abadi di surga kelak.
 
Ayat Al-Qur'an yang Mendukung:
 
- Surat Al-Mu'minun ayat 1: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman meraih kebahagiaan".
- Surat Al-'Ala ayat 14: "Sesungguhnya orang-orang yang bersih meraih kebahagiaan". Orang yang bersih di sini adalah mereka yang mendapatkan hidayah untuk berzakat dan menjaga kebersihan iman serta takwa dari dosa.
- Surat Yunus ayat 17: "Sesungguhnya para pendurhaka itu tidak beruntung".
 
Semoga kita semua termasuk orang yang meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin

ENGLISH

TRUE VICTORY
 
What is Al-Falah?
 
Al-Falah means victory or happiness, and there are two types that serve as the life goals of a Muslim:
 
1. The First Victory
 
Saved from the torment of Hell in the Hereafter, and protected from various calamities and disasters in this world.
 
2. The Second Victory
 
Attaining happiness through the protection of Allah SWT to carry out all His commands in this world, and gaining eternal happiness in Paradise in the Hereafter.
 
Supporting Verses from the Qur'an:
 
- Surah Al-Mu'minun verse 1: "Indeed, the believers have attained success/happiness."
- Surah Al-'Ala verse 14: "Indeed, he who purifies himself has attained success/happiness." Those who are pure here are those who receive guidance to give zakat and maintain the purity of their faith and piety from sin.
- Surah Yunus verse 17: "Indeed, the wrongdoers will not attain success/happiness."
 
May we all be among those who attain happiness in this world and the Hereafter. Aamiin

DALIL

﴿قد أفلح المؤمنون﴾ [المؤمنون: ١]

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman meraih kebahagiaan"

"Indeed, the believers have attained happiness"

﴿قد أفلح من تزكى﴾ [الأعلى: ١٤]

"Sesungguhnya orang-orang yang bersih meraih kebahagiaan"

"Indeed, those who purify themselves have attained happiness"

﴿إنه لا يفلح المجرمون﴾ [يونس: ١٧]

"Sesungguhnya para pendurhaka itu tidak Beruntung"


"Indeed, the wrongdoers will not attain happiness"

KEMENANGAN SEJATI

photo of a muslim scholar

KEMENANGAN SESUNGGUHNYA

Apa itu Al-Falah?
Al-Falah berarti kemenangan atau kebahagiaan, dan ada dua jenisnya yang menjadi tujuan hidup seorang muslim:
 
1. Kemenangan Pertama
Selamat dari siksa neraka di akhirat, serta terhindar dari berbagai celaka dan bencana di dunia ini.
2. Kemenangan Kedua
Meraih kebahagiaan karena pertolongan Allah SWT untuk menjalankan segala perintah-Nya di dunia, dan mendapatkan kebahagiaan abadi di surga kelak.
 
Ayat Al-Qur'an yang Mendukung:
 
- Surat Al-Mu'minun ayat 1: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman meraih kebahagiaan".
- Surat Al-'Ala ayat 14: "Sesungguhnya orang-orang yang bersih meraih kebahagiaan". Orang yang bersih di sini adalah mereka yang mendapatkan hidayah untuk berzakat dan menjaga kebersihan iman serta takwa dari dosa.
- Surat Yunus ayat 17: "Sesungguhnya para pendurhaka itu tidak beruntung".
 
Semoga kita semua termasuk orang yang meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin

ENGLISH

TRUE VICTORY
 
What is Al-Falah?
 
Al-Falah means victory or happiness, and there are two types that serve as the life goals of a Muslim:
 
1. The First Victory
 
Saved from the torment of Hell in the Hereafter, and protected from various calamities and disasters in this world.
 
2. The Second Victory
 
Attaining happiness through the protection of Allah SWT to carry out all His commands in this world, and gaining eternal happiness in Paradise in the Hereafter.
 
Supporting Verses from the Qur'an:
 
- Surah Al-Mu'minun verse 1: "Indeed, the believers have attained success/happiness."
- Surah Al-'Ala verse 14: "Indeed, he who purifies himself has attained success/happiness." Those who are pure here are those who receive guidance to give zakat and maintain the purity of their faith and piety from sin.
- Surah Yunus verse 17: "Indeed, the wrongdoers will not attain success/happiness."
 
May we all be among those who attain happiness in this world and the Hereafter. Aamiin

DALIL

﴿قد أفلح المؤمنون﴾ [المؤمنون: ١]

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman meraih kebahagiaan"

"Indeed, the believers have attained happiness"

﴿قد أفلح من تزكى﴾ [الأعلى: ١٤]

"Sesungguhnya orang-orang yang bersih meraih kebahagiaan"

"Indeed, those who purify themselves have attained happiness"

﴿إنه لا يفلح المجرمون﴾ [يونس: ١٧]

"Sesungguhnya para pendurhaka itu tidak Beruntung"


"Indeed, the wrongdoers will not attain happiness"

Kamis, 19 Maret 2026


BAJU BARU

Memakai pakaian terbaik di hari raya bukan sekadar kebiasaan, melainkan ada dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik pada dua hari raya (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Sahabat Ibnu Umar RA juga senantiasa memakai bajunya yang terbaik di hari raya, dan Imam Asy-Syafi’i juga menganjurkannya. Bahkan, pakar fiqih Maliki menjelaskan bahwa "pakaian baik" yang dimaksud bisa berupa baju baru, meskipun warnanya hitam.
 
2. Tiga Hikmah di Baliknya
Anjuran ini memiliki makna mendalam, bukan untuk pamer atau menunjukkan diri:
 
- Sebagai wujud syukur: Memakai baju baru adalah salah satu cara untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan.
- Untuk mengagungkan hari raya: Hari raya adalah momen khusus yang patut diperhatikan dan dihormati, salah satunya dengan memperhatikan penampilan kita.
- Untuk mengagungkan malaikat: Pada hari raya, malaikat hadir di sekitar manusia, sehingga kita perlu menunjukkan penghormatan dengan mengenakan pakaian yang baik

ENGLISH

NEW CLOTHES
 
Wearing the best clothes on Eid is not merely a tradition, but has a basis in Islamic teachings. The Prophet Muhammad SAW commanded his followers to wear their best clothing on the two Eids (narrated by Al-Baihaqi and Al-Hakim). The companion Ibn Umar RA also always wore his best clothes on Eid, and Imam Asy-Syafi’i also recommended it. Even, the Maliki fiqh scholar explains that the "good clothing" referred to can be new clothes, even if they are black.
 
2. Three Wisdoms Behind It
 
This recommendation has profound meaning, not for showing off or displaying oneself:
 
- As a form of gratitude: Wearing new clothes is one way to express thanks to Allah SWT for all the blessings bestowed.
- To honor Eid: Eid is a special moment that deserves attention and respect, one way being by taking care of our appearance.
- To honor the angels: On Eid, angels are present among humans, so we need to show respect by wearing good clothes

DALIL

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبِسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ 

 Artinya, “Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW telah memerintahkan kami pada dua hari raya agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan,’” (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Hadits lain menceritakan sahabat Ibnu Umar RA yang mengenakan pakaian bagus di hari raya
 
"It means, 'Narrated from Al-Hasan bin Ali RA, he said, 'The Prophet Muhammad SAW commanded us on the two Eids to wear the best clothing we can find,'" (narrated by Al-Baihaqi and Al-Hakim). Another hadith tells of the companion Ibn Umar RA, who wore fine clothing on Eid"

عَنْ نَافِعٍ : أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَلْبَسُ فِى الْعِيدَيْنِ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ

 Artinya, “Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar RA memakai baju terbaiknya di dua hari raya,” (HR Al-Baihaqi dan Ibnu Abid Dunya dengan sanad shahih)

It means, "Narrated from Nafi' that Ibn Umar RA wore his best clothes on the two Eids" (narrated by Al-Baihaqi and Ibn Abid Dunya with a sound chain of transmission)

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ تَعَالَى : فَأُحِبُّ في الْعِيدَيْنِ أَنْ يَخْرُجَ بِأَحْسَنَ ما يَجِدُ من الثِّيَابِ 

 Artinya : Imam As-Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata "maka aku senang dalam dua hari raya orang hendaknya ke luar dengan baju terbaik yang ia temukan,’” (Al-umm I/248). Kemudian hadits, atsar, dan ijtihad ulama yang menganjurkan memakai baju terbaik pada hari raya ini dimaknai sebagai anjuran untuk memakai baju baru sebagaimana dikatakan oleh pakar fiqih Maliki Syekh Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi (wafat 1126 H/1714 M), “Yang dimaksud dengan ‘baju baik’ (yang disunahkan) dalam hari raya adalah baju baru, meskipun berwarna hitam.” (Al-Fawakihud Dawani 2/651)

It means: Imam As-Syafi’i, may Allah have mercy on him, said, "Thus, I like it that on the two Eids, people should go out wearing the best clothing they can find,'" (Al-Umm, Volume 1, Page 248). Furthermore, the hadiths, narrations of the Companions (atsar), and scholarly reasoning (ijtihad) that encourage wearing the best clothing on Eid are interpreted as a recommendation to wear new clothes, as stated by the Maliki fiqh scholar Sheikh Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi (passed away 1126 AH / 1714 CE): "What is meant by 'good clothing' (that is recommended) on Eid is new clothing, even if it is black in color," (Al-Fawakihud Dawani, Volume 2, Page 651)

وَمِنْ مَظَاهِرِ الشُّكْرِ لُبْسُ أَحْسَنِ الثِّيَابِ يَوْمَ الْفِطْرِ

 Artinya : “Dan di antara ekspresi syukur (kepada Allah) adalah memakai pakaian terbaik pada hari raya Idul Fitri,”( Bariqoh mahmadiyyah 2/177). Syekh Abu Sa’id Al- Khadimi mengatakan sebagai berikut:

 إنَّمَا هُوَ لِتَعْظِيمِ تِلْكَ الْأَوْقَاتِ لَا لِتَحْسِينِ مَنْظَرِ النَّاسِ، أَوْ لِتَعْظِيمِ الْمَلَائِكَةِ الْحَاضِرِينَ فِي تِلْكَ الْأَوْقَاتِ.

 Artinya, “Anjuran memakai baju bagus pada hari Jumat dan hari raya niscaya untuk mengagungkan waktu-waktu tersebut, bukan agar telihat baik dalam pandangan manusia; atau untuk mengagungkan malaikat yang hadir (di sekeliling manusia) pada waktu-waktu tersebut,” (Bariqoh Mahmadiyyah 2/440). Inilah tiga hikmah dianjurkannya memakai baju baru di hari raya yang selayaknya dijaga dan diperhatikan, bukan karena alasan untuk pamer dan gagah-gagahan di hadapan orang. Wallahu a’lam

It means: "And among the expressions of gratitude (to Allah) is wearing the best clothing on Eid al-Fitr,"(Bariqoh Mahmadiyyah, Volume 2, Page 177). Sheikh Abu Sa'id Al-Khadimi stated the following:
 
It means, "The recommendation to wear fine clothing on Fridays and Eids is certainly to honor those occasions, not to look good in the eyes of people; nor is it only to honor the angels who are present (among humans) during those times,' (Bariqoh Mahmadiyyah, Volume 2, Page 440). These are the three wisdoms behind the recommendation to wear new clothes on Eid, which should be upheld and observed not for the sake of showing off or boasting in front of others. Allah knows best"

HUKUM BAJU BARU LEBARAN


BAJU BARU

Memakai pakaian terbaik di hari raya bukan sekadar kebiasaan, melainkan ada dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik pada dua hari raya (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Sahabat Ibnu Umar RA juga senantiasa memakai bajunya yang terbaik di hari raya, dan Imam Asy-Syafi’i juga menganjurkannya. Bahkan, pakar fiqih Maliki menjelaskan bahwa "pakaian baik" yang dimaksud bisa berupa baju baru, meskipun warnanya hitam.
 
2. Tiga Hikmah di Baliknya
Anjuran ini memiliki makna mendalam, bukan untuk pamer atau menunjukkan diri:
 
- Sebagai wujud syukur: Memakai baju baru adalah salah satu cara untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan.
- Untuk mengagungkan hari raya: Hari raya adalah momen khusus yang patut diperhatikan dan dihormati, salah satunya dengan memperhatikan penampilan kita.
- Untuk mengagungkan malaikat: Pada hari raya, malaikat hadir di sekitar manusia, sehingga kita perlu menunjukkan penghormatan dengan mengenakan pakaian yang baik

ENGLISH

NEW CLOTHES
 
Wearing the best clothes on Eid is not merely a tradition, but has a basis in Islamic teachings. The Prophet Muhammad SAW commanded his followers to wear their best clothing on the two Eids (narrated by Al-Baihaqi and Al-Hakim). The companion Ibn Umar RA also always wore his best clothes on Eid, and Imam Asy-Syafi’i also recommended it. Even, the Maliki fiqh scholar explains that the "good clothing" referred to can be new clothes, even if they are black.
 
2. Three Wisdoms Behind It
 
This recommendation has profound meaning, not for showing off or displaying oneself:
 
- As a form of gratitude: Wearing new clothes is one way to express thanks to Allah SWT for all the blessings bestowed.
- To honor Eid: Eid is a special moment that deserves attention and respect, one way being by taking care of our appearance.
- To honor the angels: On Eid, angels are present among humans, so we need to show respect by wearing good clothes

DALIL

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبِسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ 

 Artinya, “Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW telah memerintahkan kami pada dua hari raya agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan,’” (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Hadits lain menceritakan sahabat Ibnu Umar RA yang mengenakan pakaian bagus di hari raya
 
"It means, 'Narrated from Al-Hasan bin Ali RA, he said, 'The Prophet Muhammad SAW commanded us on the two Eids to wear the best clothing we can find,'" (narrated by Al-Baihaqi and Al-Hakim). Another hadith tells of the companion Ibn Umar RA, who wore fine clothing on Eid"

عَنْ نَافِعٍ : أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَلْبَسُ فِى الْعِيدَيْنِ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ

 Artinya, “Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar RA memakai baju terbaiknya di dua hari raya,” (HR Al-Baihaqi dan Ibnu Abid Dunya dengan sanad shahih)

It means, "Narrated from Nafi' that Ibn Umar RA wore his best clothes on the two Eids" (narrated by Al-Baihaqi and Ibn Abid Dunya with a sound chain of transmission)

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ تَعَالَى : فَأُحِبُّ في الْعِيدَيْنِ أَنْ يَخْرُجَ بِأَحْسَنَ ما يَجِدُ من الثِّيَابِ 

 Artinya : Imam As-Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata "maka aku senang dalam dua hari raya orang hendaknya ke luar dengan baju terbaik yang ia temukan,’” (Al-umm I/248). Kemudian hadits, atsar, dan ijtihad ulama yang menganjurkan memakai baju terbaik pada hari raya ini dimaknai sebagai anjuran untuk memakai baju baru sebagaimana dikatakan oleh pakar fiqih Maliki Syekh Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi (wafat 1126 H/1714 M), “Yang dimaksud dengan ‘baju baik’ (yang disunahkan) dalam hari raya adalah baju baru, meskipun berwarna hitam.” (Al-Fawakihud Dawani 2/651)

It means: Imam As-Syafi’i, may Allah have mercy on him, said, "Thus, I like it that on the two Eids, people should go out wearing the best clothing they can find,'" (Al-Umm, Volume 1, Page 248). Furthermore, the hadiths, narrations of the Companions (atsar), and scholarly reasoning (ijtihad) that encourage wearing the best clothing on Eid are interpreted as a recommendation to wear new clothes, as stated by the Maliki fiqh scholar Sheikh Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi (passed away 1126 AH / 1714 CE): "What is meant by 'good clothing' (that is recommended) on Eid is new clothing, even if it is black in color," (Al-Fawakihud Dawani, Volume 2, Page 651)

وَمِنْ مَظَاهِرِ الشُّكْرِ لُبْسُ أَحْسَنِ الثِّيَابِ يَوْمَ الْفِطْرِ

 Artinya : “Dan di antara ekspresi syukur (kepada Allah) adalah memakai pakaian terbaik pada hari raya Idul Fitri,”( Bariqoh mahmadiyyah 2/177). Syekh Abu Sa’id Al- Khadimi mengatakan sebagai berikut:

 إنَّمَا هُوَ لِتَعْظِيمِ تِلْكَ الْأَوْقَاتِ لَا لِتَحْسِينِ مَنْظَرِ النَّاسِ، أَوْ لِتَعْظِيمِ الْمَلَائِكَةِ الْحَاضِرِينَ فِي تِلْكَ الْأَوْقَاتِ.

 Artinya, “Anjuran memakai baju bagus pada hari Jumat dan hari raya niscaya untuk mengagungkan waktu-waktu tersebut, bukan agar telihat baik dalam pandangan manusia; atau untuk mengagungkan malaikat yang hadir (di sekeliling manusia) pada waktu-waktu tersebut,” (Bariqoh Mahmadiyyah 2/440). Inilah tiga hikmah dianjurkannya memakai baju baru di hari raya yang selayaknya dijaga dan diperhatikan, bukan karena alasan untuk pamer dan gagah-gagahan di hadapan orang. Wallahu a’lam

It means: "And among the expressions of gratitude (to Allah) is wearing the best clothing on Eid al-Fitr,"(Bariqoh Mahmadiyyah, Volume 2, Page 177). Sheikh Abu Sa'id Al-Khadimi stated the following:
 
It means, "The recommendation to wear fine clothing on Fridays and Eids is certainly to honor those occasions, not to look good in the eyes of people; nor is it only to honor the angels who are present (among humans) during those times,' (Bariqoh Mahmadiyyah, Volume 2, Page 440). These are the three wisdoms behind the recommendation to wear new clothes on Eid, which should be upheld and observed not for the sake of showing off or boasting in front of others. Allah knows best"

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top