Latest Posts

Sabtu, 20 Juni 2026


RUSAKNYA AMAL TANPA ILMU
 
Dalam Islam, beramal saleh dan beribadah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Namun, tahukah kamu bahwa amal yang dilakukan tanpa didasari oleh ilmu yang benar justru bisa mendatangkan kerusakan lebih banyak daripada manfaatnya?
 
Imam Al-Khotib Al-Bagdadi dalam kitab Al-Faqih Wa Al-Mutafaqih (1/109) meriwayatkan sabangsa dari Umar bin Abdul Aziz:
 
"Barang siapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih banyak daripada kemashlahatan (kebaikan) yang didapat."
 
Ibadah Tanpa Ilmu Tidak Akan Sah
 
Hal ini dipertegas oleh Syekh Abu Bakar Satta dalam kitab I'anah Attholibin (1/22). Beliau menjelaskan bahwa intinya kita wajib mengetahui tata cara pelaksanaan ibadah, mulai dari shalat, zakat, hingga haji.
 
Kita harus memahami dengan jelas apa saja rukunnya, syarat sahnya, serta hal-hal yang dapat membatalkannya. Sebab, ibadah yang dilakukan tanpa memahami hal-hal dasar tersebut hukumnya tidak sah.
 
Amal Ditolak Karena Kurang Ilmu
 
Lebih jauh lagi, Imam Ibnu Ruslan dalam kitab Matan Zubad menegaskan peringatan yang sangat keras:
 
"Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya akan ditolak dan tidak diterima oleh Allah SWT."
 
Kesimpulan
 
Dari dalil-dalil di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ilmu adalah pondasi. Sebelum melangkah untuk beramal atau beribadah, wajib bagi kita untuk belajar dan memahaminya terlebih dahulu agar ibadah kita diterima, sah, dan membawa berkah, bukan justru menjadi sia-sia.
 
Semoga kita semua termasuk orang yang berilmu sebelum beramal

ENGLISH

THE DAMAGE OF DEEDS DONE WITHOUT KNOWLEDGE
 
In Islam, doing good deeds and worshipping is an obligation for every Muslim. However, did you know that actions performed without being based on correct knowledge can actually cause more harm than good?
 
Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, in his book Al-Faqih Wa Al-Mutafaqih (1/109), narrated a statement from Umar bin Abdul Aziz:
 
"Whoever acts without knowledge will cause more corruption than benefit."
 
Worship Without Knowledge Is Not Valid
 
This point was further emphasized by Sheikh Abu Bakar Satta in the book I'anah Attholibin (1/22). He explained that it is essential for us to understand the correct procedures of worship, such as prayer (Salah), charity (Zakat), and pilgrimage (Hajj).
 
We must clearly understand the pillars, the conditions of validity, and the things that can invalidate them. This is because worship performed without understanding these basic principles is not valid.
 
Deeds Are Rejected Due to Lack of Knowledge
 
Furthermore, Imam Ibnu Ruslan in the book Matan Zubad stated a very strict warning:
 
"Whoever performs deeds without knowledge, their actions are rejected and not accepted by Allah SWT."
 
Conclusion
 
From the explanations above, we learn that knowledge is the foundation. Before we proceed to act or worship, it is obligatory for us to learn and understand first. This ensures that our worship is accepted, valid, and brings blessings, rather than being done in vain.
 
May we all be among those who seek knowledge before putting it into practice

DALIL

عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: «مَنْ عَمِلَ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ، كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ»

Diriwayatkan Dari Umar bin Abdul Aziz, Beliau berkata "Barang siapa yang beramal tanpa didasari ilmu maka kerusakan akan lebih banyak daripada kemashlahatan padanya"

Narrated from Umar bin Abdul Aziz, he said: "Whoever acts without knowledge will cause more corruption than benefit"

والمراد معرفة كيفية الصلاة والزكاة والحج، وذلك يكون بمعرفة أركانها وشروطها ومفسداتها، إذ العبادة بغير معرفة ذلك غير صحيحة. 

"Dan yang dimaksud ialah Mengetahui Tatacara Sholat, Zakat dan haji. Dan Mengetahui demikan yaitu dengan cara mengetahui Rukun-rukun, Syarat-syarat dan Pembatalannya. Karena ibadah tanpa pengetahuan hal yang telah disebutkan maka tidak sah"

"And what is meant by this is knowing the proper procedures for Prayer, Zakat, and Hajj. And knowing these things means understanding their pillars, conditions, and invalidators. Indeed, worship performed without knowledge of these matters is not valid"

وكل من بِغَيْر علم يعْمل # أَعماله مَرْدُودَة لَا تقبل

"Setiap orang yang beramal tanpa ilmu maka amal-amalnya ditolak dan tidak diterima"

"Whoever acts without knowledge, their deeds are rejected and not accepted"

PENTING NYA SINAU


RUSAKNYA AMAL TANPA ILMU
 
Dalam Islam, beramal saleh dan beribadah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Namun, tahukah kamu bahwa amal yang dilakukan tanpa didasari oleh ilmu yang benar justru bisa mendatangkan kerusakan lebih banyak daripada manfaatnya?
 
Imam Al-Khotib Al-Bagdadi dalam kitab Al-Faqih Wa Al-Mutafaqih (1/109) meriwayatkan sabangsa dari Umar bin Abdul Aziz:
 
"Barang siapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih banyak daripada kemashlahatan (kebaikan) yang didapat."
 
Ibadah Tanpa Ilmu Tidak Akan Sah
 
Hal ini dipertegas oleh Syekh Abu Bakar Satta dalam kitab I'anah Attholibin (1/22). Beliau menjelaskan bahwa intinya kita wajib mengetahui tata cara pelaksanaan ibadah, mulai dari shalat, zakat, hingga haji.
 
Kita harus memahami dengan jelas apa saja rukunnya, syarat sahnya, serta hal-hal yang dapat membatalkannya. Sebab, ibadah yang dilakukan tanpa memahami hal-hal dasar tersebut hukumnya tidak sah.
 
Amal Ditolak Karena Kurang Ilmu
 
Lebih jauh lagi, Imam Ibnu Ruslan dalam kitab Matan Zubad menegaskan peringatan yang sangat keras:
 
"Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya akan ditolak dan tidak diterima oleh Allah SWT."
 
Kesimpulan
 
Dari dalil-dalil di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ilmu adalah pondasi. Sebelum melangkah untuk beramal atau beribadah, wajib bagi kita untuk belajar dan memahaminya terlebih dahulu agar ibadah kita diterima, sah, dan membawa berkah, bukan justru menjadi sia-sia.
 
Semoga kita semua termasuk orang yang berilmu sebelum beramal

ENGLISH

THE DAMAGE OF DEEDS DONE WITHOUT KNOWLEDGE
 
In Islam, doing good deeds and worshipping is an obligation for every Muslim. However, did you know that actions performed without being based on correct knowledge can actually cause more harm than good?
 
Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, in his book Al-Faqih Wa Al-Mutafaqih (1/109), narrated a statement from Umar bin Abdul Aziz:
 
"Whoever acts without knowledge will cause more corruption than benefit."
 
Worship Without Knowledge Is Not Valid
 
This point was further emphasized by Sheikh Abu Bakar Satta in the book I'anah Attholibin (1/22). He explained that it is essential for us to understand the correct procedures of worship, such as prayer (Salah), charity (Zakat), and pilgrimage (Hajj).
 
We must clearly understand the pillars, the conditions of validity, and the things that can invalidate them. This is because worship performed without understanding these basic principles is not valid.
 
Deeds Are Rejected Due to Lack of Knowledge
 
Furthermore, Imam Ibnu Ruslan in the book Matan Zubad stated a very strict warning:
 
"Whoever performs deeds without knowledge, their actions are rejected and not accepted by Allah SWT."
 
Conclusion
 
From the explanations above, we learn that knowledge is the foundation. Before we proceed to act or worship, it is obligatory for us to learn and understand first. This ensures that our worship is accepted, valid, and brings blessings, rather than being done in vain.
 
May we all be among those who seek knowledge before putting it into practice

DALIL

عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، قَالَ: «مَنْ عَمِلَ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ، كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ»

Diriwayatkan Dari Umar bin Abdul Aziz, Beliau berkata "Barang siapa yang beramal tanpa didasari ilmu maka kerusakan akan lebih banyak daripada kemashlahatan padanya"

Narrated from Umar bin Abdul Aziz, he said: "Whoever acts without knowledge will cause more corruption than benefit"

والمراد معرفة كيفية الصلاة والزكاة والحج، وذلك يكون بمعرفة أركانها وشروطها ومفسداتها، إذ العبادة بغير معرفة ذلك غير صحيحة. 

"Dan yang dimaksud ialah Mengetahui Tatacara Sholat, Zakat dan haji. Dan Mengetahui demikan yaitu dengan cara mengetahui Rukun-rukun, Syarat-syarat dan Pembatalannya. Karena ibadah tanpa pengetahuan hal yang telah disebutkan maka tidak sah"

"And what is meant by this is knowing the proper procedures for Prayer, Zakat, and Hajj. And knowing these things means understanding their pillars, conditions, and invalidators. Indeed, worship performed without knowledge of these matters is not valid"

وكل من بِغَيْر علم يعْمل # أَعماله مَرْدُودَة لَا تقبل

"Setiap orang yang beramal tanpa ilmu maka amal-amalnya ditolak dan tidak diterima"

"Whoever acts without knowledge, their deeds are rejected and not accepted"

Jumat, 19 Juni 2026




ASAL USUL TASYAKURAN KITAB IHYA ULUMUDDIN

 

Simbah KH. Idris Marzuki pernah menceritakan sejarah menarik mengenai asal mula diadakannya tasyakuran atau khataman Kitab Ihya Ulumuddin.

 

 

 

Si Penentang yang Bermimpi

 

Dahulu kala, ada seorang tokoh atau ulama yang sangat keras penentangannya (fanatik membenci) terhadap kitab karya Imam Al-Ghazali ini. Ia berniat kuat untuk memusnahkan kitab tersebut dari peredaran masyarakat.

 

Namun, malam sebelum rencana pemusnahan itu dilaksanakan, beliau bermimpi bertemu langsung dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keempat Khulafaur Rasyidin: Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

 

Dalam mimpi itu, beliau juga melihat Imam Al-Ghazali datang menghadap untuk mempresentasikan kitabnya agar dinilai oleh Rasulullah dan para sahabat.

 

 

 

Kitab Ihya Diterima dan Dihargai

 

Kanjeng Nabi SAW menerima, membaca, dan memberikan apresiasi bahwa Kitab Ihya ini adalah benar dan baik. Hal senada juga disampaikan oleh Sayyidina Abu Bakar dan sahabat lainnya.

 

Kemudian Sayyidina Umar bertanya:

"Lantas siapa yang sebenarnya salah, dan apa hukumannya?"

 

Akhirnya diputuskan bahwa tokoh penentang itulah yang bersalah. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan Sayyidina Umar untuk "menjilid" (memukul/cambuk) tokoh tersebut.

 

 

 

Terbangun dengan Bekas di Punggung

 

Seketika itu juga tokoh tersebut terbangun dari tidurnya. Betapa kagetnya ia, ternyata di punggungnya terdapat bekas jilidan/memar sebagaimana yang dialaminya dalam mimpi.

 

Dengan segera, beliau membatalkan niatnya untuk memusnahkan kitab tersebut. Ia pun memohon maaf kepada Imam Al-Ghazali.

 

Sebagai bentuk taubat dan syukur, keesokan harinya justru beliau mengadakan Tasyakuran Kitab Ihya secara besar-besaran. Sejak itulah tradisi ini terus dilestarikan.

 

 

 

📚 Sumber: Ceramah Yai Idris Lirboyo


ENGLISH 


THE ORIGIN OF THE TASYAKURAN (THANKSGIVING) CEREMONY FOR THE BOOK IHYA ULUMUDDIN

 

Simbah KH. Idris Marzuki once narrated an interesting history regarding the origin of holding a Tasyakuran or completion ceremony for the book Ihya Ulumuddin.

 

 

 

The Opponent Who Had a Dream

 

Long ago, there was a prominent figure or scholar who was extremely opposed (fanatically hateful) towards this book written by Imam Al-Ghazali. He had a strong intention to destroy and eliminate the book from society.

 

However, on the night before the planned destruction was to take place, he had a dream. In the dream, he met directly with Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, along with the four Rightly Guided Caliphs: Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, and Ali bin Abi Thalib.

 

In that dream, he also saw Imam Al-Ghazali coming forward to present his book so that it could be evaluated by the Prophet and the Companions.

 

 

 

The Book Ihya Was Accepted and Praised

 

The Prophet SAW received, read, and expressed appreciation that the Book Ihya was indeed true and good. Similar approval was given by Sayyidina Abu Bakar and the other Companions.

 

Then Sayyidina Umar asked:

 

"Then who is actually wrong, and what is their punishment?"

 

Finally, it was decided that the opposing scholar was the one in the wrong. The Prophet SAW then commanded Sayyidina Umar to "strike" (whip/hit) the man.

 

 

 

Woke Up With Marks on His Back

 

Immediately, the man woke up from his sleep. He was shocked to find real bruises and marks of being beaten on his back, exactly as he had experienced in the dream.

 

Without delay, he canceled his intention to destroy the book. He even asked forgiveness from Imam Al-Ghazali.

 

As a form of repentance and gratitude, the very next day he instead held a grand Tasyakuran (Thanksgiving Ceremony) for the Book Ihya. Since then, this tradition has been preserved and continued until today.

 

 

 

📚 Source: Lecture by Yai Idris Lirboyo

KISAH RASULULLAH MEMBACA KITAB IHYA SECARA GHAIB




ASAL USUL TASYAKURAN KITAB IHYA ULUMUDDIN

 

Simbah KH. Idris Marzuki pernah menceritakan sejarah menarik mengenai asal mula diadakannya tasyakuran atau khataman Kitab Ihya Ulumuddin.

 

 

 

Si Penentang yang Bermimpi

 

Dahulu kala, ada seorang tokoh atau ulama yang sangat keras penentangannya (fanatik membenci) terhadap kitab karya Imam Al-Ghazali ini. Ia berniat kuat untuk memusnahkan kitab tersebut dari peredaran masyarakat.

 

Namun, malam sebelum rencana pemusnahan itu dilaksanakan, beliau bermimpi bertemu langsung dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keempat Khulafaur Rasyidin: Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

 

Dalam mimpi itu, beliau juga melihat Imam Al-Ghazali datang menghadap untuk mempresentasikan kitabnya agar dinilai oleh Rasulullah dan para sahabat.

 

 

 

Kitab Ihya Diterima dan Dihargai

 

Kanjeng Nabi SAW menerima, membaca, dan memberikan apresiasi bahwa Kitab Ihya ini adalah benar dan baik. Hal senada juga disampaikan oleh Sayyidina Abu Bakar dan sahabat lainnya.

 

Kemudian Sayyidina Umar bertanya:

"Lantas siapa yang sebenarnya salah, dan apa hukumannya?"

 

Akhirnya diputuskan bahwa tokoh penentang itulah yang bersalah. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan Sayyidina Umar untuk "menjilid" (memukul/cambuk) tokoh tersebut.

 

 

 

Terbangun dengan Bekas di Punggung

 

Seketika itu juga tokoh tersebut terbangun dari tidurnya. Betapa kagetnya ia, ternyata di punggungnya terdapat bekas jilidan/memar sebagaimana yang dialaminya dalam mimpi.

 

Dengan segera, beliau membatalkan niatnya untuk memusnahkan kitab tersebut. Ia pun memohon maaf kepada Imam Al-Ghazali.

 

Sebagai bentuk taubat dan syukur, keesokan harinya justru beliau mengadakan Tasyakuran Kitab Ihya secara besar-besaran. Sejak itulah tradisi ini terus dilestarikan.

 

 

 

📚 Sumber: Ceramah Yai Idris Lirboyo


ENGLISH 


THE ORIGIN OF THE TASYAKURAN (THANKSGIVING) CEREMONY FOR THE BOOK IHYA ULUMUDDIN

 

Simbah KH. Idris Marzuki once narrated an interesting history regarding the origin of holding a Tasyakuran or completion ceremony for the book Ihya Ulumuddin.

 

 

 

The Opponent Who Had a Dream

 

Long ago, there was a prominent figure or scholar who was extremely opposed (fanatically hateful) towards this book written by Imam Al-Ghazali. He had a strong intention to destroy and eliminate the book from society.

 

However, on the night before the planned destruction was to take place, he had a dream. In the dream, he met directly with Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, along with the four Rightly Guided Caliphs: Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, and Ali bin Abi Thalib.

 

In that dream, he also saw Imam Al-Ghazali coming forward to present his book so that it could be evaluated by the Prophet and the Companions.

 

 

 

The Book Ihya Was Accepted and Praised

 

The Prophet SAW received, read, and expressed appreciation that the Book Ihya was indeed true and good. Similar approval was given by Sayyidina Abu Bakar and the other Companions.

 

Then Sayyidina Umar asked:

 

"Then who is actually wrong, and what is their punishment?"

 

Finally, it was decided that the opposing scholar was the one in the wrong. The Prophet SAW then commanded Sayyidina Umar to "strike" (whip/hit) the man.

 

 

 

Woke Up With Marks on His Back

 

Immediately, the man woke up from his sleep. He was shocked to find real bruises and marks of being beaten on his back, exactly as he had experienced in the dream.

 

Without delay, he canceled his intention to destroy the book. He even asked forgiveness from Imam Al-Ghazali.

 

As a form of repentance and gratitude, the very next day he instead held a grand Tasyakuran (Thanksgiving Ceremony) for the Book Ihya. Since then, this tradition has been preserved and continued until today.

 

 

 

📚 Source: Lecture by Yai Idris Lirboyo




ENAM FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN MENURUT IMAM DZUNNUN AL-MISHRI

 

Imam Dzunnun Al-Mishri rahimahullah pernah mengungkapkan sebab-sebab utama mengapa kehidupan manusia bisa menjadi rusak dan hancur. Beliau merangkumnya dalam enam poin yang sangat mendalam:

 

 

 

1. Lemahnya Niat dalam Beramal untuk Akhirat

dia tidak terlalu fokus untuk mencari ridho illahi dan mengumpulkan pahala dan menolak dosa2

2. Badan Dijadikan Jaminan untuk Syahwat

menuruti hawa nafsu misal zina nonton video dll

3. Terlalu Panjang Angan-angan, Padahal Kematian Sudah Dekat

Sering merasa muda dan panjang umur, sehingga menunda-nunda kebaikan. Padahal usia itu rahasia dan kematian bisa datang sewaktu-waktu. maksud nya tujuan premier duniawi tujuan sekunder akhirat harus nya di balik

 

4. Mendahulukan Ridho Makhluk daripada Ridho Khaliq

Lebih takut tidak disukai manusia daripada takut kepada Allah. Mencari pujian orang lain lebih diutamakan daripada mencari keridhaan Sang Pencipta.

 

5. Mengikuti Hawa Nafsu dan Meninggalkan Sunnah

mengikuti hawa nafsu nya misal di atas atau ingin pangkat sok alim mengabaikanperintah nabi misal rendah hati dll

6. Memperbesar Kesalahan Ulama, Melupakan Kebaikan Mereka

misal menyamaian Walisongo sama diri nya padahal dia bukan siapa2 di bandingkan beliau yang udah terjamin hati dan fikiran nya kebal dari hal2 sesat

(Al-Gunyah hal. 208)


ENGLISH 


SIX FACTORS THAT CAUSE CORRUPTION ACCORDING TO IMAM DZUNNUN AL-MISHRI

 

Imam Dzunnun Al-Mishri rahimahullah once explained the main reasons why human life becomes damaged and destroyed. He summarized this in six profound points:

 

 

 

1. Weak Intentions in Acting for the Hereafter

 

One does not focus enough on seeking the pleasure of Allah, collecting rewards, and avoiding sins. Worldly goals often become the priority while the afterlife becomes secondary, when it should actually be the other way around.

 

2. The Body is Held Hostage by Desires

 

Living solely to follow carnal lust and passions, such as committing adultery, watching immoral videos, and other forbidden acts.

 

3. Having Excessively Long Hopes, While Death is Near

 

People often feel young and assume they have a long life ahead, so they keep postponing good deeds. In reality, lifespan is a secret, and death can come at any moment. The mistake is making worldly goals the primary aim and the Hereafter secondary, while it should be reversed.

 

4. Prioritizing the Pleasure of Creatures Over the Pleasure of the Creator

 

Fearing the disapproval of people more than fearing Allah. Seeking praise and validation from others is prioritized above seeking the pleasure of the Almighty Creator.

 

5. Following Desires and Abandoning the Sunnah

 

Following personal whims and wants, or seeking status and pretending to be pious, while ignoring the commands and example of the Prophet, such as the obligation to be humble and sincere.

 

6. Magnifying the Mistakes of Scholars, While Forgetting Their Virtues

 

For example, comparing oneself to the great Saints (Walisongo) as if they are equals, even though they are nobody compared to those noble figures whose hearts and minds are guaranteed to be protected from deviation and misguidance.


(Al-Gunyah page 208)


DALIL

وقال ذو النون المصري رحمه الله:إنما دخل الفساد على الخلق من ستة أشياء: أولها: ضعف النية بعمل الآخرة.والثاني: صارت أبدانهم رهينة بشهواتهم. والثالث: طول الأمل مع قرب الأجل. والرابع: آثروا رضى المخلوقين على رضا الخالق.والخامس: اتبعوا أهواءهم، ونبذوا سنة نبيهم -ﷺ- وراء ظهورهم. والسادس: جعلوا قليل زلات السلف حجة أنفسهم، ودفنوا كثير مناقبهم

Dzunnun al mishri semoga Allah merahmatinya, berkata: “Kerusakan telah masuk ke dalam umat manusia melalui enam hal: Pertama, lemahnya niat dalam beramal untuk akhirat. Kedua, tubuh mereka telah diperbudak oleh hawa nafsu. Ketiga, mereka memiliki harapan yang panjang meskipun kematian sudah dekat. Keempat, mereka lebih mengutamakan kesenangan makhluk ciptaan daripada kesenangan Sang Pencipta. Kelima, mereka mengikuti hawa nafsu dan mengabaikan Sunnah Nabi mereka, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya. Keenam, mereka menggunakan sedikit kesalahan para pendahulu sebagai pembenaran bagi diri mereka sendiri dan mengubur banyak kebaikan mereka.”


"Dzunnun al-Mishri, may Allah have mercy upon him, said: "Corruption has entered upon humanity through six things: Firstly, weakness of intention in working for the Hereafter. Secondly, their bodies have been enslaved by their desires. Thirdly, they have long hopes even though death is near. Fourthly, they prefer the pleasure of the created beings over the pleasure of the Creator. Fifthly, they follow their own desires and abandon the Sunnah of their Prophet, may peace and blessings be upon him. Sixthly, they take the minor mistakes of the predecessors as an excuse for themselves, and bury their many virtues"

JIKA GAK MAU HANCUR HINDARI INI




ENAM FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN MENURUT IMAM DZUNNUN AL-MISHRI

 

Imam Dzunnun Al-Mishri rahimahullah pernah mengungkapkan sebab-sebab utama mengapa kehidupan manusia bisa menjadi rusak dan hancur. Beliau merangkumnya dalam enam poin yang sangat mendalam:

 

 

 

1. Lemahnya Niat dalam Beramal untuk Akhirat

dia tidak terlalu fokus untuk mencari ridho illahi dan mengumpulkan pahala dan menolak dosa2

2. Badan Dijadikan Jaminan untuk Syahwat

menuruti hawa nafsu misal zina nonton video dll

3. Terlalu Panjang Angan-angan, Padahal Kematian Sudah Dekat

Sering merasa muda dan panjang umur, sehingga menunda-nunda kebaikan. Padahal usia itu rahasia dan kematian bisa datang sewaktu-waktu. maksud nya tujuan premier duniawi tujuan sekunder akhirat harus nya di balik

 

4. Mendahulukan Ridho Makhluk daripada Ridho Khaliq

Lebih takut tidak disukai manusia daripada takut kepada Allah. Mencari pujian orang lain lebih diutamakan daripada mencari keridhaan Sang Pencipta.

 

5. Mengikuti Hawa Nafsu dan Meninggalkan Sunnah

mengikuti hawa nafsu nya misal di atas atau ingin pangkat sok alim mengabaikanperintah nabi misal rendah hati dll

6. Memperbesar Kesalahan Ulama, Melupakan Kebaikan Mereka

misal menyamaian Walisongo sama diri nya padahal dia bukan siapa2 di bandingkan beliau yang udah terjamin hati dan fikiran nya kebal dari hal2 sesat

(Al-Gunyah hal. 208)


ENGLISH 


SIX FACTORS THAT CAUSE CORRUPTION ACCORDING TO IMAM DZUNNUN AL-MISHRI

 

Imam Dzunnun Al-Mishri rahimahullah once explained the main reasons why human life becomes damaged and destroyed. He summarized this in six profound points:

 

 

 

1. Weak Intentions in Acting for the Hereafter

 

One does not focus enough on seeking the pleasure of Allah, collecting rewards, and avoiding sins. Worldly goals often become the priority while the afterlife becomes secondary, when it should actually be the other way around.

 

2. The Body is Held Hostage by Desires

 

Living solely to follow carnal lust and passions, such as committing adultery, watching immoral videos, and other forbidden acts.

 

3. Having Excessively Long Hopes, While Death is Near

 

People often feel young and assume they have a long life ahead, so they keep postponing good deeds. In reality, lifespan is a secret, and death can come at any moment. The mistake is making worldly goals the primary aim and the Hereafter secondary, while it should be reversed.

 

4. Prioritizing the Pleasure of Creatures Over the Pleasure of the Creator

 

Fearing the disapproval of people more than fearing Allah. Seeking praise and validation from others is prioritized above seeking the pleasure of the Almighty Creator.

 

5. Following Desires and Abandoning the Sunnah

 

Following personal whims and wants, or seeking status and pretending to be pious, while ignoring the commands and example of the Prophet, such as the obligation to be humble and sincere.

 

6. Magnifying the Mistakes of Scholars, While Forgetting Their Virtues

 

For example, comparing oneself to the great Saints (Walisongo) as if they are equals, even though they are nobody compared to those noble figures whose hearts and minds are guaranteed to be protected from deviation and misguidance.


(Al-Gunyah page 208)


DALIL

وقال ذو النون المصري رحمه الله:إنما دخل الفساد على الخلق من ستة أشياء: أولها: ضعف النية بعمل الآخرة.والثاني: صارت أبدانهم رهينة بشهواتهم. والثالث: طول الأمل مع قرب الأجل. والرابع: آثروا رضى المخلوقين على رضا الخالق.والخامس: اتبعوا أهواءهم، ونبذوا سنة نبيهم -ﷺ- وراء ظهورهم. والسادس: جعلوا قليل زلات السلف حجة أنفسهم، ودفنوا كثير مناقبهم

Dzunnun al mishri semoga Allah merahmatinya, berkata: “Kerusakan telah masuk ke dalam umat manusia melalui enam hal: Pertama, lemahnya niat dalam beramal untuk akhirat. Kedua, tubuh mereka telah diperbudak oleh hawa nafsu. Ketiga, mereka memiliki harapan yang panjang meskipun kematian sudah dekat. Keempat, mereka lebih mengutamakan kesenangan makhluk ciptaan daripada kesenangan Sang Pencipta. Kelima, mereka mengikuti hawa nafsu dan mengabaikan Sunnah Nabi mereka, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya. Keenam, mereka menggunakan sedikit kesalahan para pendahulu sebagai pembenaran bagi diri mereka sendiri dan mengubur banyak kebaikan mereka.”


"Dzunnun al-Mishri, may Allah have mercy upon him, said: "Corruption has entered upon humanity through six things: Firstly, weakness of intention in working for the Hereafter. Secondly, their bodies have been enslaved by their desires. Thirdly, they have long hopes even though death is near. Fourthly, they prefer the pleasure of the created beings over the pleasure of the Creator. Fifthly, they follow their own desires and abandon the Sunnah of their Prophet, may peace and blessings be upon him. Sixthly, they take the minor mistakes of the predecessors as an excuse for themselves, and bury their many virtues"

Rabu, 17 Juni 2026




 SHOLAT HAJAT

 

Pengertian

 

- Shalat hajat merupakan salah satu ibadah shalat sunnah yang juga dianjurkan dalam Islam.

- Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Nihayatuz Zain menyarankan agar seseorang yang sedang berhajat untuk melaksanakan shalat hajat.

- “Orang yang sedang mengalami kesempitan, berhajat untuk membuat mashlahat agama dan dunianya, dan merasakan kesulitan karenanya, hendaklah melakukakun shalat hajat sebagaimana berikut,”

 

Tata Cara

 

- Dapat dilaksanakan 2 sampai 12 rakaat dengan dengan satu salam dalam tiap-tiap dua rakaat sehingga berjumlah 12 rakaat.

- Pada pokoknya, shalat sunnah hajat tidak berbeda jauh dengan shalat-shalat sunnah yang lainnya.

 

1. Niat shalat hajat.


Ushallī sunnatal hājati rak‘ataini adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah hajat dua rakaat tunai karena Allah SWT.”

2. Membaca surat Al-Fatihah.

3. Membaca surat-surat pendek (dianjurkan untuk membaca surat Al-Ikhlas dan ayat kursi. Akan tetapi juga diperbolehkan membaca surat-surat pendek yang lainnya).

4. Selesai melaksanakan shalat dua rakaat, seseorang dianjurkan untuk membaca shalawat dan berdoa.

 

Doa Setelah Shalat

 

- Doa pertama

Artinya, “Mahasuci Zat yang mengenakan keagungan dan berkata dengannya. Mahasuci Zat yang menaruh iba dan menjadi mulia karenanya. Mahasuci Zat pemilik keagungan dan kemuliaan. Mahasuci Zat pemilik karunia. Aku memohon kepada-Mu agar bershalawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dengan garis-garis luar mulia Arasy-Mu, puncak rahmat kitab-Mu, dan dengan nama-Mu yang sangat agung, kemuliaan-Mu yang tinggi, kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dan umum yang tidak dapat dilampaui oleh hamba yang taat dan durjana,”

- Doa kedua

Artinya, “Tiada Tuhan selain Allah yang santun dan pemurah. Tiada Tuhan selain Allah yang maha tinggi dan agung. Mahasuci Allah, Tuhan Arasy yang megah. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”

- Doa Rasulullah SAW riwayat Imam At-Tirmidzi

Artinya, “Tiada Tuhan selain Allah yang maha lembut dan maha mulia. Maha suci Allah, penjaga Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Aku mohon kepada-Mu bimbingan amal sesuai rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, kesempatan meraih sebanyak kebaikan, dan perlindungan dari segala dosa. Janganlah Kau biarkan satu dosa tersisa padaku, tetapi ampunilah. Jangan juga Kau tinggalkanku dalam keadaan bimbang, karenanya bebaskanlah. Jangan pula Kau telantarkanku yang sedang berhajat sesuai ridha-Mu karena itu penuhilah hajatku. Hai Tuhan yang maha pengasih,”

 

Waktu Pelaksanaan

 

- Dapat dilaksanakan dalam semalam atau tiga sampai tujuh malam, tergantung pada penting dan urgensinya serta maksud tujuan yang hendak di capai


ENGLISH 

SALAT HAJAT

 

Definition

 

- Salat al-Hajat is one of the voluntary prayers (sunnah) recommended in Islam.

- Syekh Nawawi al-Bantani in his book Nihayatuz Zain advises that anyone who has a need or desire should perform Salat al-Hajat.

- "Whoever is experiencing hardship, has a need for the betterment of their religion and worldly affairs, and feels difficulty because of it, let them perform Salat al-Hajat as follows,"

 

Procedure

 

- It can be performed in 2 up to 12 rak'ahs, concluding with one taslim (greeting of peace) for every two rak'ahs, making a total of 12 rak'ahs.

- Essentially, Salat al-Hajat is not much different from other voluntary prayers.

 

1. Intention (Niyyah) for Salat Hajat

 

Ushallī sunnatal hājati rak‘ataini adā’an lillāhi ta‘ālā.

 

Meaning: "I intend to perform the voluntary prayer of need, two rak'ahs, as an offering to Allah the Almighty."

 

2. Recite Surah Al-Fatihah.

3. Recite short chapters from the Quran (it is recommended to recite Surah Al-Ikhlas and Ayatul Kursi. However, it is also permissible to recite other short chapters).

4. After completing the two rak'ahs, it is recommended to send blessings upon the Prophet (salawat) and make supplications (du'a).

 

Prayers After Prayer

 

- First Prayer

 

Meaning: "Glory be to the One who wears Majesty and speaks with it. Glory be to the One who clothes Himself with Honor and is generous with it. Glory be to the Owner of Majesty and Generosity. Glory be to the Owner of Bounty. I ask You by the anchors of Power from Your Throne, the utmost extent of Mercy from Your Book, by Your Greatest Name, Your Most High Glory, and Your perfect and complete Words which neither the righteous nor the sinful can transgress, that You send blessings upon our master Muhammad and upon the family of our master Muhammad."

 

- Second Prayer

 

Meaning: "There is no god but Allah, the Forbearing and Generous. There is no god but Allah, the Most High and the Magnificent. Glory be to Allah, Lord of the Magnificent Throne. And all praise is due to Allah, Lord of all the worlds."

 

- Prayer of the Prophet Muhammad SAW, narrated by Imam At-Tirmidzi

 

Meaning: "There is no god but Allah, the Most Gentle and the Most Generous. Glory be to Allah, the Guardian of the Magnificent Throne. All praise is due to Allah, Lord of the universe. O Allah, I ask You for the things that bring Your Mercy, the resolute matters of Your Forgiveness, the gain from every act of righteousness, and safety from every sin. Leave no sin of mine unforgiven, no worry unrelieved, and no need that is pleasing to You unfulfilled, O Most Merciful of the Merciful."

 

Time of Performance

 

- It can be performed in one night, or over three to seven nights, depending on its importance, urgency, and the purpose one wishes to achieve


DOA


Niat



أُصَلِّيْ سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى


doa pertama 


 

سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ العِزَّ وَقَالَ بِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالمَجْدِ وَتَكَرَّمَ بِهَ، سُبْحَانَ ذِي العِزِّ وَالكَرَمِ، سُبْحَانَ ذِي الطَوْلِ أَسْأَلُكَ بِمَعَاقِدِ العِزِّ مِنْ عَرْشِكَ وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ وَبِاسْمِكَ الأَعْظَمِ وَجَدِّكَ الأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ العَامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌّ وَلَا فَاجِرٌ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  


 doa kedia


لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الحَلِيمُ الكَرِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ العَلِيُّ العَظِيْمُ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْمِ والحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ


setelah itu orang yang punya hajat tertentu baca ini



   اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لَا تَدَعْ لِيْ ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضىً إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   



 


SHOLAT HAJAT




 SHOLAT HAJAT

 

Pengertian

 

- Shalat hajat merupakan salah satu ibadah shalat sunnah yang juga dianjurkan dalam Islam.

- Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Nihayatuz Zain menyarankan agar seseorang yang sedang berhajat untuk melaksanakan shalat hajat.

- “Orang yang sedang mengalami kesempitan, berhajat untuk membuat mashlahat agama dan dunianya, dan merasakan kesulitan karenanya, hendaklah melakukakun shalat hajat sebagaimana berikut,”

 

Tata Cara

 

- Dapat dilaksanakan 2 sampai 12 rakaat dengan dengan satu salam dalam tiap-tiap dua rakaat sehingga berjumlah 12 rakaat.

- Pada pokoknya, shalat sunnah hajat tidak berbeda jauh dengan shalat-shalat sunnah yang lainnya.

 

1. Niat shalat hajat.


Ushallī sunnatal hājati rak‘ataini adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah hajat dua rakaat tunai karena Allah SWT.”

2. Membaca surat Al-Fatihah.

3. Membaca surat-surat pendek (dianjurkan untuk membaca surat Al-Ikhlas dan ayat kursi. Akan tetapi juga diperbolehkan membaca surat-surat pendek yang lainnya).

4. Selesai melaksanakan shalat dua rakaat, seseorang dianjurkan untuk membaca shalawat dan berdoa.

 

Doa Setelah Shalat

 

- Doa pertama

Artinya, “Mahasuci Zat yang mengenakan keagungan dan berkata dengannya. Mahasuci Zat yang menaruh iba dan menjadi mulia karenanya. Mahasuci Zat pemilik keagungan dan kemuliaan. Mahasuci Zat pemilik karunia. Aku memohon kepada-Mu agar bershalawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dengan garis-garis luar mulia Arasy-Mu, puncak rahmat kitab-Mu, dan dengan nama-Mu yang sangat agung, kemuliaan-Mu yang tinggi, kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dan umum yang tidak dapat dilampaui oleh hamba yang taat dan durjana,”

- Doa kedua

Artinya, “Tiada Tuhan selain Allah yang santun dan pemurah. Tiada Tuhan selain Allah yang maha tinggi dan agung. Mahasuci Allah, Tuhan Arasy yang megah. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”

- Doa Rasulullah SAW riwayat Imam At-Tirmidzi

Artinya, “Tiada Tuhan selain Allah yang maha lembut dan maha mulia. Maha suci Allah, penjaga Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Aku mohon kepada-Mu bimbingan amal sesuai rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, kesempatan meraih sebanyak kebaikan, dan perlindungan dari segala dosa. Janganlah Kau biarkan satu dosa tersisa padaku, tetapi ampunilah. Jangan juga Kau tinggalkanku dalam keadaan bimbang, karenanya bebaskanlah. Jangan pula Kau telantarkanku yang sedang berhajat sesuai ridha-Mu karena itu penuhilah hajatku. Hai Tuhan yang maha pengasih,”

 

Waktu Pelaksanaan

 

- Dapat dilaksanakan dalam semalam atau tiga sampai tujuh malam, tergantung pada penting dan urgensinya serta maksud tujuan yang hendak di capai


ENGLISH 

SALAT HAJAT

 

Definition

 

- Salat al-Hajat is one of the voluntary prayers (sunnah) recommended in Islam.

- Syekh Nawawi al-Bantani in his book Nihayatuz Zain advises that anyone who has a need or desire should perform Salat al-Hajat.

- "Whoever is experiencing hardship, has a need for the betterment of their religion and worldly affairs, and feels difficulty because of it, let them perform Salat al-Hajat as follows,"

 

Procedure

 

- It can be performed in 2 up to 12 rak'ahs, concluding with one taslim (greeting of peace) for every two rak'ahs, making a total of 12 rak'ahs.

- Essentially, Salat al-Hajat is not much different from other voluntary prayers.

 

1. Intention (Niyyah) for Salat Hajat

 

Ushallī sunnatal hājati rak‘ataini adā’an lillāhi ta‘ālā.

 

Meaning: "I intend to perform the voluntary prayer of need, two rak'ahs, as an offering to Allah the Almighty."

 

2. Recite Surah Al-Fatihah.

3. Recite short chapters from the Quran (it is recommended to recite Surah Al-Ikhlas and Ayatul Kursi. However, it is also permissible to recite other short chapters).

4. After completing the two rak'ahs, it is recommended to send blessings upon the Prophet (salawat) and make supplications (du'a).

 

Prayers After Prayer

 

- First Prayer

 

Meaning: "Glory be to the One who wears Majesty and speaks with it. Glory be to the One who clothes Himself with Honor and is generous with it. Glory be to the Owner of Majesty and Generosity. Glory be to the Owner of Bounty. I ask You by the anchors of Power from Your Throne, the utmost extent of Mercy from Your Book, by Your Greatest Name, Your Most High Glory, and Your perfect and complete Words which neither the righteous nor the sinful can transgress, that You send blessings upon our master Muhammad and upon the family of our master Muhammad."

 

- Second Prayer

 

Meaning: "There is no god but Allah, the Forbearing and Generous. There is no god but Allah, the Most High and the Magnificent. Glory be to Allah, Lord of the Magnificent Throne. And all praise is due to Allah, Lord of all the worlds."

 

- Prayer of the Prophet Muhammad SAW, narrated by Imam At-Tirmidzi

 

Meaning: "There is no god but Allah, the Most Gentle and the Most Generous. Glory be to Allah, the Guardian of the Magnificent Throne. All praise is due to Allah, Lord of the universe. O Allah, I ask You for the things that bring Your Mercy, the resolute matters of Your Forgiveness, the gain from every act of righteousness, and safety from every sin. Leave no sin of mine unforgiven, no worry unrelieved, and no need that is pleasing to You unfulfilled, O Most Merciful of the Merciful."

 

Time of Performance

 

- It can be performed in one night, or over three to seven nights, depending on its importance, urgency, and the purpose one wishes to achieve


DOA


Niat



أُصَلِّيْ سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى


doa pertama 


 

سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ العِزَّ وَقَالَ بِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالمَجْدِ وَتَكَرَّمَ بِهَ، سُبْحَانَ ذِي العِزِّ وَالكَرَمِ، سُبْحَانَ ذِي الطَوْلِ أَسْأَلُكَ بِمَعَاقِدِ العِزِّ مِنْ عَرْشِكَ وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ وَبِاسْمِكَ الأَعْظَمِ وَجَدِّكَ الأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ العَامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌّ وَلَا فَاجِرٌ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  


 doa kedia


لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الحَلِيمُ الكَرِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ العَلِيُّ العَظِيْمُ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْمِ والحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ


setelah itu orang yang punya hajat tertentu baca ini



   اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لَا تَدَعْ لِيْ ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضىً إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   



 



MENCARI TEMAN: JANGAN CARI YANG SEMPURNA
 
Memilih teman atau sahabat memang hal yang sangat penting dalam hidup. Namun, bukan berarti kita harus mencari seseorang yang benar-benar sempurna tanpa cela sedikitpun.
 
 
 
Siapa yang Mencari Sahabat Tanpa Aib...
 
Imam Al-Fudail bin 'Iyad rahimahullah pernah bersabda:
 
"Barangsiapa yang mencari teman tanpa memiliki aib/cela sedikitpun, maka selamanya ia akan hidup tanpa teman."
— (Syu’ab Al-Iman 6/330)
 
Manusia tempatnya salah dan lupa. Jika kita terlalu perfeksionis, kita akan kesepian.
 
 
 
Selalu Berikan Keringanan dan Maaf
 
Jika kita mendengar kabar atau melihat sikap teman yang tidak kita sukai, ada adab yang sangat indah yang diajarkan oleh para ulama.
 
Diriwayatkan dari Abi Qilabah, beliau bersabda:
 
"Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kamu tidak sukai, maka carilah alasan dan keringanan untuknya sebisa mungkin. Jika kamu tidak menemukannya, maka katakanlah dalam hatimu: 'Mungkin saudaraku mempunyai alasan yang aku tidak mengetahuinya'."
— (Hilyah Al-Aulia 2/285)
 
 
 
Pelajaran untuk Mencari Pasangan Hidup
 
Saya sangat terkesan dengan nasihat yang menyamakan hal di atas dalam masalah mencari jodoh atau pasangan hidup.
 
Tidak bisa dipungkiri, orang yang susah menikah biasanya karena terlalu banyak pilihan dan mencari yang "sempurna" dalam segala hal.
 
Padahal, menurut pandangan yang bijak: Cukup sudah tahu asal-usul orang tuanya, dan dia senang mengaji, itu sudah selesai. Tidak perlu berlebihan

ENGLISH

FINDING FRIENDS: DON'T LOOK FOR PERFECTION
 
Choosing friends or companions is indeed a very important matter in life. However, this does not mean we must look for someone who is absolutely perfect without any flaws at all.
 
 
 
Whoever Seeks a Friend Without Faults...
 
Imam Al-Fudail bin 'Iyad rahimahullah once said:
 
"Whoever seeks a friend without any flaws or defects, will forever remain without a friend."
 
— (Syu’ab Al-Iman 6/330)
 
Human beings are prone to mistakes and forgetfulness. If we are too perfectionist, we will end up lonely.
 
 
 
Always Give Benefit of the Doubt and Forgiveness
 
If we hear news or see behavior from a friend that we dislike, there is a beautiful etiquette taught by the scholars.
 
Narrated from Abi Qilabah, he said:
 
"If news reaches you about your brother that you dislike, then try your best to find an excuse for him. If you cannot find one, then say to yourself: 'Perhaps my brother has a reason that I do not know about'."
 
— (Hilyah Al-Aulia 2/285)
 
 
 
Lesson for Finding a Life Partner
 
I am very impressed by the advice that applies the same principle to the matter of seeking a spouse or life partner.
 
It cannot be denied that people who struggle to get married are often those who have too many options and are looking for someone "perfect" in every way.
 
Whereas, according to this wise view: It is enough to know their family background, and that they love to study religion (ngaji). That is sufficient. There is no need to be excessive

DALIL

قال الفضيل بن عياض: من طلب أخا بلا عيب بقي بلا أخ.

Imam Al-Fudail bin 'iyad dawuh : "Barangsiapa yang mencari Teman tanpa Aib Maka selamanya ia hidup tanpa teman" (Syu'ab Al-iman 6/330)

Imam Al-Fudail bin 'Iyad said: "Whoever seeks a friend without any flaws, will remain forever without a friend." (Syu’ab Al-Iman 6/330)"

عن أبي قلابة قال: إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له العذر جهدك، فإن لم تجد له عذرا فقل في نفسك لعل لأخي عذرا لا أعلمه.

Diriwayatkan dari Abi Qilabah, Beliau ndawuh "Jika Sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kamu tidak sukai Maka Carilah alasan dengan kemampuanmu, Jika kamu tidak menemukannya maka katakanlah pada dirimu 'Mungkin saudaraku mempunyai alasan yang aku tidak mengetahuinya".(Hilyah Al-aulia 2/285)

Narrated from Abi Qilabah, he said: 'If news reaches you about your brother that you dislike, then seek an excuse for him to the best of your ability. If you cannot find one, then say to yourself: Perhaps my brother has a reason which I do not know'
 
(Hilyah Al-Aulia 2/285)

PERTEMANAN DALAM ISLAM


MENCARI TEMAN: JANGAN CARI YANG SEMPURNA
 
Memilih teman atau sahabat memang hal yang sangat penting dalam hidup. Namun, bukan berarti kita harus mencari seseorang yang benar-benar sempurna tanpa cela sedikitpun.
 
 
 
Siapa yang Mencari Sahabat Tanpa Aib...
 
Imam Al-Fudail bin 'Iyad rahimahullah pernah bersabda:
 
"Barangsiapa yang mencari teman tanpa memiliki aib/cela sedikitpun, maka selamanya ia akan hidup tanpa teman."
— (Syu’ab Al-Iman 6/330)
 
Manusia tempatnya salah dan lupa. Jika kita terlalu perfeksionis, kita akan kesepian.
 
 
 
Selalu Berikan Keringanan dan Maaf
 
Jika kita mendengar kabar atau melihat sikap teman yang tidak kita sukai, ada adab yang sangat indah yang diajarkan oleh para ulama.
 
Diriwayatkan dari Abi Qilabah, beliau bersabda:
 
"Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kamu tidak sukai, maka carilah alasan dan keringanan untuknya sebisa mungkin. Jika kamu tidak menemukannya, maka katakanlah dalam hatimu: 'Mungkin saudaraku mempunyai alasan yang aku tidak mengetahuinya'."
— (Hilyah Al-Aulia 2/285)
 
 
 
Pelajaran untuk Mencari Pasangan Hidup
 
Saya sangat terkesan dengan nasihat yang menyamakan hal di atas dalam masalah mencari jodoh atau pasangan hidup.
 
Tidak bisa dipungkiri, orang yang susah menikah biasanya karena terlalu banyak pilihan dan mencari yang "sempurna" dalam segala hal.
 
Padahal, menurut pandangan yang bijak: Cukup sudah tahu asal-usul orang tuanya, dan dia senang mengaji, itu sudah selesai. Tidak perlu berlebihan

ENGLISH

FINDING FRIENDS: DON'T LOOK FOR PERFECTION
 
Choosing friends or companions is indeed a very important matter in life. However, this does not mean we must look for someone who is absolutely perfect without any flaws at all.
 
 
 
Whoever Seeks a Friend Without Faults...
 
Imam Al-Fudail bin 'Iyad rahimahullah once said:
 
"Whoever seeks a friend without any flaws or defects, will forever remain without a friend."
 
— (Syu’ab Al-Iman 6/330)
 
Human beings are prone to mistakes and forgetfulness. If we are too perfectionist, we will end up lonely.
 
 
 
Always Give Benefit of the Doubt and Forgiveness
 
If we hear news or see behavior from a friend that we dislike, there is a beautiful etiquette taught by the scholars.
 
Narrated from Abi Qilabah, he said:
 
"If news reaches you about your brother that you dislike, then try your best to find an excuse for him. If you cannot find one, then say to yourself: 'Perhaps my brother has a reason that I do not know about'."
 
— (Hilyah Al-Aulia 2/285)
 
 
 
Lesson for Finding a Life Partner
 
I am very impressed by the advice that applies the same principle to the matter of seeking a spouse or life partner.
 
It cannot be denied that people who struggle to get married are often those who have too many options and are looking for someone "perfect" in every way.
 
Whereas, according to this wise view: It is enough to know their family background, and that they love to study religion (ngaji). That is sufficient. There is no need to be excessive

DALIL

قال الفضيل بن عياض: من طلب أخا بلا عيب بقي بلا أخ.

Imam Al-Fudail bin 'iyad dawuh : "Barangsiapa yang mencari Teman tanpa Aib Maka selamanya ia hidup tanpa teman" (Syu'ab Al-iman 6/330)

Imam Al-Fudail bin 'Iyad said: "Whoever seeks a friend without any flaws, will remain forever without a friend." (Syu’ab Al-Iman 6/330)"

عن أبي قلابة قال: إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له العذر جهدك، فإن لم تجد له عذرا فقل في نفسك لعل لأخي عذرا لا أعلمه.

Diriwayatkan dari Abi Qilabah, Beliau ndawuh "Jika Sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kamu tidak sukai Maka Carilah alasan dengan kemampuanmu, Jika kamu tidak menemukannya maka katakanlah pada dirimu 'Mungkin saudaraku mempunyai alasan yang aku tidak mengetahuinya".(Hilyah Al-aulia 2/285)

Narrated from Abi Qilabah, he said: 'If news reaches you about your brother that you dislike, then seek an excuse for him to the best of your ability. If you cannot find one, then say to yourself: Perhaps my brother has a reason which I do not know'
 
(Hilyah Al-Aulia 2/285)

Selasa, 16 Juni 2026


NASIHAT TENTANG HUTANG
 
Dalam sebuah pengajian Ihya Ulumuddin, Romo Yai ku pernah memberikan pesan yang sangat sederhana namun menyentuh hati:
 
"Prinsip kulo, utang niku kudu disaur. Neng ngga ono duit, menengo disik."
 
(Prinsip saya, hutang itu wajib dibayar lunas. Namun jika belum punya uang, maka kita jangan berhutang)
 
 
 
Mengapa Hutang Bisa Menakutkan?
 
Ternyata, nasihat tersebut sangat selaras dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kitab Majma’ Az-Zawaid (4/126):
 
[BAB MENGENAI HUTANG]
 
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
 
"Janganlah kalian menakut-nakuti diri kalian sendiri setelah merasa aman."
 
Para sahabat bertanya: "Apakah maksudnya itu, wahai Rasulullah?"
 
Beliau menjawab:

"(Yaitu) Hutang."
 
Hutang bisa mengubah rasa tenang menjadi rasa was-was, dan rasa aman menjadi rasa takut.
 
 
 
Hidup Merdeka Tanpa Beban
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Az-Zawajir (1/413) meriwayatkan dari Imam Al-Baihaqi:
 
"Kurangilah dosa-dosamu, maka kematian akan terasa ringan bagimu. Dan kurangilah berhutang, maka engkau akan hidup dalam kebebasan dan kemerdekaan"

ENGLISH

ADVICE REGARDING DEBT
 
During a religious gathering (Ihya Ulumuddin), my respected teacher, Romo Yai, once conveyed a message that is very simple yet deeply touching:
 
"Prinsip kulo, utang niku kudu disaur. Neng ngga ono duit, menengo disik."
 
(Translation: "My principle is that debt must definitely be repaid. However, if you do not have the money yet, then you Avoid getting into debt)
 
 
 
Why Can Debt Be Frightening?
 
It turns out that this advice is perfectly aligned with the saying of Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. In the book Majma’ Az-Zawaid (4/126):
 
[CHAPTER REGARDING DEBT]
 
Narrated from Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, the Prophet SAW said:
 
"Do not frighten your own selves after you have felt secure."
 
The Companions asked: "What does that mean, O Messenger of Allah?"
 
He answered:
 
"(It is) Debt."
 
Debt can turn a feeling of calmness into anxiety, and a feeling of security into fear.
 
 
 
Living Freely Without Burden
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami in the book Az-Zawajir (1/413) narrated from Imam Al-Baihaqi:
 
"Reduce your sins, and death will feel light for you. And reduce your debts, and you will live in freedom and liberty"

DALIL

[بَابُ مَا جَاءَ فِي الدَّيْنِ]
٦٦٢٣ - عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ «أَنَّ النَّبِيَّ - ﷺ - قَالَ: «لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا». قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الدَّيْنُ»».

Diriwayatkan dari uqbah bin Amir Sesungguhnya kanjeng nabi dawuh "Janganlah menakuti diri kalian sendiri setelah merasa Aman. Sahabat bertanya " Apa yang dimaksud Menakuti diri setelah Merasa Aman, wahai Rasulullah?". Kanjeng nabi menjawab "yaitu Hutang"

Narrated from Uqbah bin Amir: Indeed, the Prophet said: "Do not frighten your own selves after you have felt secure." The Companions asked: "What does it mean to frighten oneself after feeling secure, O Messenger of Allah?" The Prophet answered: "It is debt"

وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ: «أَقِلَّ مِنْ الذُّنُوبِ يَهُنْ عَلَيْك الْمَوْتُ، وَأَقِلَّ مِنْ الدَّيْنِ تَعِشْ حُرًّا» .

Imam Al-baihaqi Meriwayatkan hadits "Sedikitkanlah dosa-dosa Maka kematian akan ringan pada mu, dan sedikitkanlah hutang maka hidupmu akan merdeka"

Imam Al-Baihaqi narrated the Hadith: "Reduce your sins, and death will be light upon you, and reduce your debts, and your life will be free"

JANGAN BER HUTANG


NASIHAT TENTANG HUTANG
 
Dalam sebuah pengajian Ihya Ulumuddin, Romo Yai ku pernah memberikan pesan yang sangat sederhana namun menyentuh hati:
 
"Prinsip kulo, utang niku kudu disaur. Neng ngga ono duit, menengo disik."
 
(Prinsip saya, hutang itu wajib dibayar lunas. Namun jika belum punya uang, maka kita jangan berhutang)
 
 
 
Mengapa Hutang Bisa Menakutkan?
 
Ternyata, nasihat tersebut sangat selaras dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kitab Majma’ Az-Zawaid (4/126):
 
[BAB MENGENAI HUTANG]
 
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
 
"Janganlah kalian menakut-nakuti diri kalian sendiri setelah merasa aman."
 
Para sahabat bertanya: "Apakah maksudnya itu, wahai Rasulullah?"
 
Beliau menjawab:

"(Yaitu) Hutang."
 
Hutang bisa mengubah rasa tenang menjadi rasa was-was, dan rasa aman menjadi rasa takut.
 
 
 
Hidup Merdeka Tanpa Beban
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Az-Zawajir (1/413) meriwayatkan dari Imam Al-Baihaqi:
 
"Kurangilah dosa-dosamu, maka kematian akan terasa ringan bagimu. Dan kurangilah berhutang, maka engkau akan hidup dalam kebebasan dan kemerdekaan"

ENGLISH

ADVICE REGARDING DEBT
 
During a religious gathering (Ihya Ulumuddin), my respected teacher, Romo Yai, once conveyed a message that is very simple yet deeply touching:
 
"Prinsip kulo, utang niku kudu disaur. Neng ngga ono duit, menengo disik."
 
(Translation: "My principle is that debt must definitely be repaid. However, if you do not have the money yet, then you Avoid getting into debt)
 
 
 
Why Can Debt Be Frightening?
 
It turns out that this advice is perfectly aligned with the saying of Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. In the book Majma’ Az-Zawaid (4/126):
 
[CHAPTER REGARDING DEBT]
 
Narrated from Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, the Prophet SAW said:
 
"Do not frighten your own selves after you have felt secure."
 
The Companions asked: "What does that mean, O Messenger of Allah?"
 
He answered:
 
"(It is) Debt."
 
Debt can turn a feeling of calmness into anxiety, and a feeling of security into fear.
 
 
 
Living Freely Without Burden
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami in the book Az-Zawajir (1/413) narrated from Imam Al-Baihaqi:
 
"Reduce your sins, and death will feel light for you. And reduce your debts, and you will live in freedom and liberty"

DALIL

[بَابُ مَا جَاءَ فِي الدَّيْنِ]
٦٦٢٣ - عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ «أَنَّ النَّبِيَّ - ﷺ - قَالَ: «لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا». قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الدَّيْنُ»».

Diriwayatkan dari uqbah bin Amir Sesungguhnya kanjeng nabi dawuh "Janganlah menakuti diri kalian sendiri setelah merasa Aman. Sahabat bertanya " Apa yang dimaksud Menakuti diri setelah Merasa Aman, wahai Rasulullah?". Kanjeng nabi menjawab "yaitu Hutang"

Narrated from Uqbah bin Amir: Indeed, the Prophet said: "Do not frighten your own selves after you have felt secure." The Companions asked: "What does it mean to frighten oneself after feeling secure, O Messenger of Allah?" The Prophet answered: "It is debt"

وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ: «أَقِلَّ مِنْ الذُّنُوبِ يَهُنْ عَلَيْك الْمَوْتُ، وَأَقِلَّ مِنْ الدَّيْنِ تَعِشْ حُرًّا» .

Imam Al-baihaqi Meriwayatkan hadits "Sedikitkanlah dosa-dosa Maka kematian akan ringan pada mu, dan sedikitkanlah hutang maka hidupmu akan merdeka"

Imam Al-Baihaqi narrated the Hadith: "Reduce your sins, and death will be light upon you, and reduce your debts, and your life will be free"

Senin, 15 Juni 2026


SEKELUMIT TENTANG ASYHUR AL-HURUM DAN KEISTIMEWAAN BULAN MUHARRAM
 
Di antara bulan-bulan dalam kalender Islam, terdapat bulan-bulan yang memiliki kemuliaan dan kehormatan khusus di sisi Allah SWT. Berikut adalah penjelasan ringkas mengenai Asyhur Al-Hurum dan keistimewaan Bulan Muharram.
 
 
 
1. Muharram Termasuk Asyhur Al-Hurum (Bulan-bulan yang Dihormati)
 
Menurut kesepakatan (Ijma') para ulama, terdapat empat bulan yang disebut sebagai Al-Asyhur Al-Hurum, yaitu:
Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
 
"Empat bulan ini yang dimaksud dengan Al-Asyhur Al-Hurum menurut ijma' ulama."
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 1/182
 
 
 
2. Keutamaan Asyhur Al-Hurum
 
Allah Azza wa Jalla mengkhususkan bulan-bulan ini dengan kemuliaan yang luar biasa. Di dalamnya, Allah melarang perbuatan zalim karena besarnya kehormatan bulan-bulan tersebut.
 
"Termasuk perkara yang utama ialah empat bulan yang mulia ini... Allah telah mengkhususkan di bulan-bulan tersebut larangan berbuat dzalim karena agung kemuliaannya. Begitu pula, amal ibadah di dalamnya memiliki keutamaan di atas bulan-bulan yang lain."
— Qut Al-Qulub 1/115
 
 
 
3. Kenapa Dinamakan "Hurum"?
 
Dinamakan Hurum (yang diharamkan/dihormati) karena pada masa Jahiliyah pun bangsa Arab sudah mengagungkannya. Mereka mengharamkan peperangan di bulan-bulan ini, bahkan jika seseorang bertemu dengan pembunuh ayah atau saudaranya, mereka tidak akan membalasnya.
 
Dalam Islam, kemuliaan ini semakin ditinggikan.
✅ Kebaikan & Taat: Pahalanya dilipatgandakan.
❌ Kejahatan & Dosa: Hukumannya jauh lebih berat dibanding bulan lain.
 
Oleh karena itu, sangat dilarang untuk merusak kehormatan bulan-bulan mulia ini dengan perbuatan maksiat.
 
Tafsir Al-Khozin 2/357
 
 
 
4. Keistimewaan Bulan Muharram
 
Bulan Muharram adalah bulan yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.
 
"Ketahuilah, sesungguhnya Bulan Muharram adalah bulan yang Agung, dan keutamaannya banyak serta umum sekali."
Kanzu Annajah Wa As-Surur hal. 64
 
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Muharram disebut sebagai "Syaahrullah" (Bulan Allah). Bulan ini adalah awal permulaan tahun. Di dalamnya terdapat hari yang istimewa, di mana jika ada kaum yang bertaubat pada hari tersebut, Allah Ta'ala akan menerima taubat mereka dengan sempurna.
 
At-Tarikh Al-Ausath 1/16

ENGLISH

A BRIEF OVERVIEW OF ASYHUR AL-HURUM AND THE VIRTUES OF THE MONTH OF MUHARRAM
 
Among the months in the Islamic calendar, there are specific months that possess special glory and honor in the sight of Allah SWT. Here is a concise explanation regarding Asyhur Al-Hurum and the special virtues of the Month of Muharram.
 
 
 
1. Muharram is Part of Asyhur Al-Hurum (The Sacred Months)
 
According to the consensus (Ijma') of the scholars, there are four months referred to as Al-Asyhur Al-Hurum, namely:
Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, and Rajab.
 
"These four months are what is meant by Al-Asyhur Al-Hurum according to the consensus of the scholars."
Imam An-Nawawi in Syarah Shohih Muslim 1/182
 
 
 
2. The Virtues of Asyhur Al-Hurum
 
Allah Azza wa Jalla has specifically distinguished these months with immense greatness. In these months, Allah forbids acts of oppression and injustice due to the high sanctity of these times.
 
"Among the most virtuous matters are these four noble months... Allah has specifically forbidden oppression during them because of their great majesty. Likewise, acts of worship performed within them hold a virtue above those done in other months."
Qut Al-Qulub 1/115
 
 
 
3. Why are they called "Hurum"?
 
They are named Hurum (meaning forbidden, sacred, or honored) because even during the pre-Islamic era (Jahiliyah), the Arabs held them in high regard. They prohibited warfare and fighting during these months, to the point that even if someone encountered the killer of their father or brother, they would not retaliate.
 
In Islam, this sanctity is further elevated:
✅ Good Deeds & Obedience: Rewards are multiplied manifold.
❌ Evil & Sins: The punishment is far more severe compared to other months.
 
Therefore, it is strictly forbidden to violate the honor of these noble months with sinful acts.
 
Tafsir Al-Khozin 2/357
 
 
 
4. The Special Virtues of the Month of Muharram
 
The Month of Muharram is a truly great month, and its virtues are numerous and all-encompassing.
 
"Know that indeed, the Month of Muharram is a great month, and its virtues are many and universal."
Kanzu Annajah Wa As-Surur page 64
 
In another narration, Muharram is referred to as "Shaahrullah" (The Month of Allah). It marks the beginning of the new year. Within it lies a special day, where it is said that if a people repent on that day, Allah Ta'ala will accept their repentance perfectly.
 
At-Tarikh Al-Ausath 1/16

DALIL

وَالْأَشْهُرُ الْحُرُمُ هِيَ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ هَذِهِ الْأَرْبَعَةُ هِيَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ الْفُنُونِ 

"Al-Ashur Al-hurum ialah bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Al-muharram dan Rajab. Empat bulan ini yang dimaksud Al-Asyhur Al-hurum menurut ijma' ulama dari Ashab Al-Funun"

"Al-Asyhur Al-Hurum are the months of Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al-Muharram, and Rajab. These four months are what is meant by Al-Asyhur Al-Hurum according to the consensus of the scholars from Ashab Al-Funun"

ومن الفاضل الشهور الأربعة الحرم وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب خصهن الله عز وجل بالنهي عن الظلم فيهن لعظم حرمتهن، فكذلك الأعمال لها فيهن فضل على غيرها

"Termasuk perkara yang utama ialah empat bulan yang mulia, ialah bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Alloh azza wajalla telah mengkhususkan dibulan-bulan tersebut larangan dzolim karena agung kemulianya. Begitupula beramal didalamnya yang memiliki keutamaan diatas bulan-bulan yang lain"

"Among the most virtuous matters are these four noble months, namely Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, and Rajab. Allah Azza wa Jalla has specifically forbidden oppression during these months due to their immense greatness. Likewise, acts of worship performed within them hold a virtue above those done in other months"

وإنما سميت حرما لأن العرب في الجاهلية كانت تعظمها وتحرم فيها القتال حتى لو أن أحدهم لقي قاتل أبيه وابنه وأخيه في هذه الأربعة الأشهر لم يهجه 

Dinamakan Hurum karena Orang arab dizaman jahiliyah mengagungkanmya dan mengharamkan peperangan didalamnya, Sehingga seandainya salah satu dari mereka bertemu orang yang membunuh bapaknya, anaknya dan saudaranya di empat bulan-bulan ini dia tidak mencelanya

They are called 'Hurum' because even in the pre-Islamic era (Jahiliyah), the Arabs used to venerate them and prohibit warfare and fighting during these months. So much so that if one of them were to meet the killer of his father, son, or brother within these four months, he would not attack or harm him

ولما جاء الإسلام لم يزدها إلا حرمة وتعظيما ولأن الحسنات والطاعات فيها تتضاعف وكذلك السيئات أيضا أشد من غيرها فلا يجوز انتهاك حرمة الأشهر الحرم

Dan ketika islam datang maka empat bulan yang telah disebutkan tidak bertambah terkecuali dihormati dan diagungkan, karena Kebaikan-kebaikan dan keta'atan didalamnya dilipatgandakan. Begitupun pula, keburukan-keburukan akan lebih berat balasanya di selain Bulan-bulan ini. Maka tidak diperbolehkan merusak kehormatan bulan-bulan mulia

And when Islam came, these four aforementioned months gained nothing but increased respect and glorification. This is because good deeds and acts of obedience are multiplied manifold within them. Similarly, evil deeds carry a far heavier punishment than they do in other months. Therefore, it is not permissible to violate the sanctity of these noble months

اعلم : أن المحرم شهر عظيم ، وفضله كثير عميم. 

Ketahuilah, Sesungguhnya Bulan Muharram Bulan yang Agung, dan keutamaanya banyak dan umum sekali

Know that indeed, the Month of Muharram is a great month, and its virtues are many and all-encompassing

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ إِنَّ الْمُحَرَّمَ شَهْرُ اللَّهِ وَهُوَ رَأْسُ السَّنَةِ فِيهِ يُكْسَى الْبَيْتُ وَيُؤَرَّخُ التَّارِيخُ وَيُضْرَبُ فِيهِ الْوَرِقُ وَفِيهِ يَوْمٌ كَانَ تَابَ فِيهِ قَوْمٌ فَتَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Diriwayatkan dari Ubaid bin Umair ia berkata : "Sesungguhnya bulan Muharram ialah bulan Alloh Ta'ala, bulan permulaan tahun, didalamnya Baitullah dipakaikan kiswah, dimulai tanggal baru, dicetak uang di dalamnya. Dan di bulan Muharram ada hari yang mana Kaum bertaubat didalamnya maka Alloh Ta'ala akan menerima Taubat mereka"

Narrated from Ubaid bin Umair, he said: "Indeed, the month of Muharram is the month of Allah Ta'ala, the first month of the year. In it, the Kaaba is clothed with its covering (Kiswah), the new calendar begins, and currency is minted. And in the month of Muharram, there is a special day wherein if a people repent, Allah Ta'ala will accept their repentance"

BULAN MUHARRAM


SEKELUMIT TENTANG ASYHUR AL-HURUM DAN KEISTIMEWAAN BULAN MUHARRAM
 
Di antara bulan-bulan dalam kalender Islam, terdapat bulan-bulan yang memiliki kemuliaan dan kehormatan khusus di sisi Allah SWT. Berikut adalah penjelasan ringkas mengenai Asyhur Al-Hurum dan keistimewaan Bulan Muharram.
 
 
 
1. Muharram Termasuk Asyhur Al-Hurum (Bulan-bulan yang Dihormati)
 
Menurut kesepakatan (Ijma') para ulama, terdapat empat bulan yang disebut sebagai Al-Asyhur Al-Hurum, yaitu:
Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
 
"Empat bulan ini yang dimaksud dengan Al-Asyhur Al-Hurum menurut ijma' ulama."
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 1/182
 
 
 
2. Keutamaan Asyhur Al-Hurum
 
Allah Azza wa Jalla mengkhususkan bulan-bulan ini dengan kemuliaan yang luar biasa. Di dalamnya, Allah melarang perbuatan zalim karena besarnya kehormatan bulan-bulan tersebut.
 
"Termasuk perkara yang utama ialah empat bulan yang mulia ini... Allah telah mengkhususkan di bulan-bulan tersebut larangan berbuat dzalim karena agung kemuliaannya. Begitu pula, amal ibadah di dalamnya memiliki keutamaan di atas bulan-bulan yang lain."
— Qut Al-Qulub 1/115
 
 
 
3. Kenapa Dinamakan "Hurum"?
 
Dinamakan Hurum (yang diharamkan/dihormati) karena pada masa Jahiliyah pun bangsa Arab sudah mengagungkannya. Mereka mengharamkan peperangan di bulan-bulan ini, bahkan jika seseorang bertemu dengan pembunuh ayah atau saudaranya, mereka tidak akan membalasnya.
 
Dalam Islam, kemuliaan ini semakin ditinggikan.
✅ Kebaikan & Taat: Pahalanya dilipatgandakan.
❌ Kejahatan & Dosa: Hukumannya jauh lebih berat dibanding bulan lain.
 
Oleh karena itu, sangat dilarang untuk merusak kehormatan bulan-bulan mulia ini dengan perbuatan maksiat.
 
Tafsir Al-Khozin 2/357
 
 
 
4. Keistimewaan Bulan Muharram
 
Bulan Muharram adalah bulan yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.
 
"Ketahuilah, sesungguhnya Bulan Muharram adalah bulan yang Agung, dan keutamaannya banyak serta umum sekali."
Kanzu Annajah Wa As-Surur hal. 64
 
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Muharram disebut sebagai "Syaahrullah" (Bulan Allah). Bulan ini adalah awal permulaan tahun. Di dalamnya terdapat hari yang istimewa, di mana jika ada kaum yang bertaubat pada hari tersebut, Allah Ta'ala akan menerima taubat mereka dengan sempurna.
 
At-Tarikh Al-Ausath 1/16

ENGLISH

A BRIEF OVERVIEW OF ASYHUR AL-HURUM AND THE VIRTUES OF THE MONTH OF MUHARRAM
 
Among the months in the Islamic calendar, there are specific months that possess special glory and honor in the sight of Allah SWT. Here is a concise explanation regarding Asyhur Al-Hurum and the special virtues of the Month of Muharram.
 
 
 
1. Muharram is Part of Asyhur Al-Hurum (The Sacred Months)
 
According to the consensus (Ijma') of the scholars, there are four months referred to as Al-Asyhur Al-Hurum, namely:
Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, and Rajab.
 
"These four months are what is meant by Al-Asyhur Al-Hurum according to the consensus of the scholars."
Imam An-Nawawi in Syarah Shohih Muslim 1/182
 
 
 
2. The Virtues of Asyhur Al-Hurum
 
Allah Azza wa Jalla has specifically distinguished these months with immense greatness. In these months, Allah forbids acts of oppression and injustice due to the high sanctity of these times.
 
"Among the most virtuous matters are these four noble months... Allah has specifically forbidden oppression during them because of their great majesty. Likewise, acts of worship performed within them hold a virtue above those done in other months."
Qut Al-Qulub 1/115
 
 
 
3. Why are they called "Hurum"?
 
They are named Hurum (meaning forbidden, sacred, or honored) because even during the pre-Islamic era (Jahiliyah), the Arabs held them in high regard. They prohibited warfare and fighting during these months, to the point that even if someone encountered the killer of their father or brother, they would not retaliate.
 
In Islam, this sanctity is further elevated:
✅ Good Deeds & Obedience: Rewards are multiplied manifold.
❌ Evil & Sins: The punishment is far more severe compared to other months.
 
Therefore, it is strictly forbidden to violate the honor of these noble months with sinful acts.
 
Tafsir Al-Khozin 2/357
 
 
 
4. The Special Virtues of the Month of Muharram
 
The Month of Muharram is a truly great month, and its virtues are numerous and all-encompassing.
 
"Know that indeed, the Month of Muharram is a great month, and its virtues are many and universal."
Kanzu Annajah Wa As-Surur page 64
 
In another narration, Muharram is referred to as "Shaahrullah" (The Month of Allah). It marks the beginning of the new year. Within it lies a special day, where it is said that if a people repent on that day, Allah Ta'ala will accept their repentance perfectly.
 
At-Tarikh Al-Ausath 1/16

DALIL

وَالْأَشْهُرُ الْحُرُمُ هِيَ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ هَذِهِ الْأَرْبَعَةُ هِيَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ الْفُنُونِ 

"Al-Ashur Al-hurum ialah bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Al-muharram dan Rajab. Empat bulan ini yang dimaksud Al-Asyhur Al-hurum menurut ijma' ulama dari Ashab Al-Funun"

"Al-Asyhur Al-Hurum are the months of Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al-Muharram, and Rajab. These four months are what is meant by Al-Asyhur Al-Hurum according to the consensus of the scholars from Ashab Al-Funun"

ومن الفاضل الشهور الأربعة الحرم وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب خصهن الله عز وجل بالنهي عن الظلم فيهن لعظم حرمتهن، فكذلك الأعمال لها فيهن فضل على غيرها

"Termasuk perkara yang utama ialah empat bulan yang mulia, ialah bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Alloh azza wajalla telah mengkhususkan dibulan-bulan tersebut larangan dzolim karena agung kemulianya. Begitupula beramal didalamnya yang memiliki keutamaan diatas bulan-bulan yang lain"

"Among the most virtuous matters are these four noble months, namely Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, and Rajab. Allah Azza wa Jalla has specifically forbidden oppression during these months due to their immense greatness. Likewise, acts of worship performed within them hold a virtue above those done in other months"

وإنما سميت حرما لأن العرب في الجاهلية كانت تعظمها وتحرم فيها القتال حتى لو أن أحدهم لقي قاتل أبيه وابنه وأخيه في هذه الأربعة الأشهر لم يهجه 

Dinamakan Hurum karena Orang arab dizaman jahiliyah mengagungkanmya dan mengharamkan peperangan didalamnya, Sehingga seandainya salah satu dari mereka bertemu orang yang membunuh bapaknya, anaknya dan saudaranya di empat bulan-bulan ini dia tidak mencelanya

They are called 'Hurum' because even in the pre-Islamic era (Jahiliyah), the Arabs used to venerate them and prohibit warfare and fighting during these months. So much so that if one of them were to meet the killer of his father, son, or brother within these four months, he would not attack or harm him

ولما جاء الإسلام لم يزدها إلا حرمة وتعظيما ولأن الحسنات والطاعات فيها تتضاعف وكذلك السيئات أيضا أشد من غيرها فلا يجوز انتهاك حرمة الأشهر الحرم

Dan ketika islam datang maka empat bulan yang telah disebutkan tidak bertambah terkecuali dihormati dan diagungkan, karena Kebaikan-kebaikan dan keta'atan didalamnya dilipatgandakan. Begitupun pula, keburukan-keburukan akan lebih berat balasanya di selain Bulan-bulan ini. Maka tidak diperbolehkan merusak kehormatan bulan-bulan mulia

And when Islam came, these four aforementioned months gained nothing but increased respect and glorification. This is because good deeds and acts of obedience are multiplied manifold within them. Similarly, evil deeds carry a far heavier punishment than they do in other months. Therefore, it is not permissible to violate the sanctity of these noble months

اعلم : أن المحرم شهر عظيم ، وفضله كثير عميم. 

Ketahuilah, Sesungguhnya Bulan Muharram Bulan yang Agung, dan keutamaanya banyak dan umum sekali

Know that indeed, the Month of Muharram is a great month, and its virtues are many and all-encompassing

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ إِنَّ الْمُحَرَّمَ شَهْرُ اللَّهِ وَهُوَ رَأْسُ السَّنَةِ فِيهِ يُكْسَى الْبَيْتُ وَيُؤَرَّخُ التَّارِيخُ وَيُضْرَبُ فِيهِ الْوَرِقُ وَفِيهِ يَوْمٌ كَانَ تَابَ فِيهِ قَوْمٌ فَتَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Diriwayatkan dari Ubaid bin Umair ia berkata : "Sesungguhnya bulan Muharram ialah bulan Alloh Ta'ala, bulan permulaan tahun, didalamnya Baitullah dipakaikan kiswah, dimulai tanggal baru, dicetak uang di dalamnya. Dan di bulan Muharram ada hari yang mana Kaum bertaubat didalamnya maka Alloh Ta'ala akan menerima Taubat mereka"

Narrated from Ubaid bin Umair, he said: "Indeed, the month of Muharram is the month of Allah Ta'ala, the first month of the year. In it, the Kaaba is clothed with its covering (Kiswah), the new calendar begins, and currency is minted. And in the month of Muharram, there is a special day wherein if a people repent, Allah Ta'ala will accept their repentance"

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top