WUDHU DAN TAYAMUM DI GUNUNG ARJUNA: MENYEIMBANGKAN KEBUTUHAN AGAMA DAN ALAM
Di kawasan Gunung Arjuna, terutama ketika mendirikan perkemahan di Lembah Lengekahan, pendakipun sering menghadapi tantangan unik terkait ibadah sholat, khususnya soal wudhu dan tayamum.
Mata air di Gunung Arjuna memang ada, namun jaraknya cukup jauh dari lokasi perkemahan di lembah tersebut. Jika harus bolak-balik hanya untuk mengambil air wudhu, hal itu akan memberatkan dan memakan banyak energi, terutama setelah seharian beraktivitas di gunung. Selain itu, air di sana juga menjadi kebutuhan pokok yang terbatas untuk minum dan keperluan sehari-hari lainnya.
Karena alasan itu, alternatif yang dianjurkan adalah melakukan tayamum (sholat dengan memakai debu) sebagai pengganti wudhu. Namun, tantangan lain muncul: di sabana gunung, seringkali sulit menemukan debu murni yang sesuai syariat untuk tayamum.
Dalam kondisi seperti ini, prinsip yang harus diutamakan adalah menghormati waktu sholat (sholat li hurmatil wakti)
Kembali ke pertanyaan mengapa tidak melakukan wudhu: selain jarak yang jauh dan memakan energi, pertimbangan utama adalah menjaga ketersediaan air sebagai kebutuhan pokok yang vital. Menggunakan air untuk wudhu bisa menguras persediaan yang sudah terbatas, sehingga lebih bijak menggunakan alternatif tayamum atau li hurmatil wakti
ENGLISH
WUDHU AND TAYAMMUM ON MOUNT ARJUNA: BALANCING RELIGIOUS NEEDS AND NATURE
In the Mount Arjuna area, especially when camping in Lengekahan Valley, climbers often face unique challenges related to the prayer ritual, particularly concerning wudhu (ritual ablution) and tayammum (dry ablution).
There are indeed water springs on Mount Arjuna, but their distance from the camping site in the valley is quite far. If one has to go back and forth just to get water for wudhu, it would be burdensome and take a lot of energy, especially after a full day of activities on the mountain. Additionally, water there is also a limited basic necessity for drinking and other daily needs.
For this reason, the recommended alternative is to perform tayammum (prayer using dust) as a substitute for wudhu. However, another challenge arises: on mountain savannas, it is often difficult to find pure dust that meets the sharia requirements for tayammum.
In such conditions, the principle that must be prioritized is respecting the prayer time ("sholat li hurmatil wakti").
Returning to the question of why not perform wudhu: apart from the long distance and energy required, the main consideration is preserving water as a vital basic necessity. Using water for wudhu could deplete the already limited supply, so it is wiser to use the alternative of tayammum or pray on time ("li hurmatil wakti") when conditions do not allow otherwise
About the Author