• Featured 1
  • Featured 2
  • Featured 3
  • Latest Posts

    Minggu, 31 Mei 2026

    Photo of wali allah

    TAWADHU SEBAGIAN AKHLAK WALI ALLAH
     
    Salah satu ciri khas akhlak mulia para Wali Allah adalah semakin tinggi derajat, pengaruh, kedudukan, jabatan, maupun kemasyhurannya, justru semakin lembut dan rendah hati (tawadhu) sikapnya di hadapan Allah dan sesama manusia.
     
    Hal ini sebagaimana tercatat dalam kitab Hilyah Al-Aulia (3/115):
     
    Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi menjelaskan maknanya:
    "Sesungguhnya seorang Wali Allah memiliki tiga sifat yang senantiasa bertambah seiring dengan bertambahnya nikmat yang ia terima:"
     
    1. Bertambah Derajat, Bertambah Tawadhu
    Jika kedudukan, pangkat, atau pengaruhnya semakin tinggi dan luas, maka semakin bertambah pula kerendahan hatinya. Ia tidak pernah sombong atau merasa besar di hadapan makhluk.
     
    2. Bertambah Harta, Bertambah Dermawan
    Jika hartanya semakin banyak, maka semakin bertambah pula kedermawanan dan kemurah hatinya dalam berbagi kebaikan serta membantu orang lain.
     
    3. Bertambah Umur, Bertambah Ibadah
    Jika usianya semakin panjang, maka semakin bertambah pula kesungguhannya dalam beribadah, memperbaiki diri, dan melawan hawa nafsunya

    ENGLISH

    HUMILITY IS PART OF THE CHARACTER OF THE AWLIYAH (SAINT PERSON IN ISLAM)

    One of the distinctive traits and noble characters of the Awliya (saint person in islam) is that the higher their status, influence, rank, position, or fame becomes, the softer and more humble (tawadhu) they are before Allah and towards other people.
     
    This is recorded in the book Hilyah Al-Aulia (3/115).
     
    Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi explains its meaning:
     
    "Truly, a Wali Allah possesses three qualities that always increase along with the blessings he receives:"
     
    1. Higher Status, Greater Humility
     
    When his position, rank, or influence increases and becomes wider, his humility also increases. He is never arrogant or feels self-important in front of others.
     
    2. More Wealth, More Generosity
     
    When his wealth increases, his generosity and kindness in sharing goodness and helping others also increases.
     
    3. Longer Life, More Worship
     
    When his life becomes longer, his earnestness in worship, self-improvement, and controlling his ego also increases

    DALIL

    وقال: إن ولي الله إذا أراد ثلاثة أشياء زاد منها ثلاثة أشياء، إذا زاد جاهه زاد تواضعه، وإذا زاد ماله زاد سخاؤه، وإذا زاد عمره زاد اجتهاده.

    Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi berkata  "Sesungguhnya Wali Alloh ketika Mengharapkan tiga Perkara Maka ia akan menambahi Tiga perkara yang lain ;
    1. Jika wali Alloh bertambah pangkat atau Derajatnya maka Beliau akan menambah Tawadhu'nya. 
    2. Jika Wali Alloh bertambah Harta bendanya maka bertambah pula Dermawan nya
    3. Dan jika Bertambah umurnya Maka bertambah juga Sungguh-sungguhnya (Beribadah dan melawan Nafsunya)"

    Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi said:
     
    "Verily, when a Wali Allah (saint person in islam) is blessed with three things, he increases in three other qualities:
     
    1. If his rank or status increases, then he increases in humility.
    2. If his wealth increases, then he increases in generosity.
    3. And if his lifespan increases, then he increases in earnestness (in worship and in striving against his ego/nafs)"

    CARA HIDUP ALA WALI ALLAH

    Photo of wali allah

    TAWADHU SEBAGIAN AKHLAK WALI ALLAH
     
    Salah satu ciri khas akhlak mulia para Wali Allah adalah semakin tinggi derajat, pengaruh, kedudukan, jabatan, maupun kemasyhurannya, justru semakin lembut dan rendah hati (tawadhu) sikapnya di hadapan Allah dan sesama manusia.
     
    Hal ini sebagaimana tercatat dalam kitab Hilyah Al-Aulia (3/115):
     
    Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi menjelaskan maknanya:
    "Sesungguhnya seorang Wali Allah memiliki tiga sifat yang senantiasa bertambah seiring dengan bertambahnya nikmat yang ia terima:"
     
    1. Bertambah Derajat, Bertambah Tawadhu
    Jika kedudukan, pangkat, atau pengaruhnya semakin tinggi dan luas, maka semakin bertambah pula kerendahan hatinya. Ia tidak pernah sombong atau merasa besar di hadapan makhluk.
     
    2. Bertambah Harta, Bertambah Dermawan
    Jika hartanya semakin banyak, maka semakin bertambah pula kedermawanan dan kemurah hatinya dalam berbagi kebaikan serta membantu orang lain.
     
    3. Bertambah Umur, Bertambah Ibadah
    Jika usianya semakin panjang, maka semakin bertambah pula kesungguhannya dalam beribadah, memperbaiki diri, dan melawan hawa nafsunya

    ENGLISH

    HUMILITY IS PART OF THE CHARACTER OF THE AWLIYAH (SAINT PERSON IN ISLAM)

    One of the distinctive traits and noble characters of the Awliya (saint person in islam) is that the higher their status, influence, rank, position, or fame becomes, the softer and more humble (tawadhu) they are before Allah and towards other people.
     
    This is recorded in the book Hilyah Al-Aulia (3/115).
     
    Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi explains its meaning:
     
    "Truly, a Wali Allah possesses three qualities that always increase along with the blessings he receives:"
     
    1. Higher Status, Greater Humility
     
    When his position, rank, or influence increases and becomes wider, his humility also increases. He is never arrogant or feels self-important in front of others.
     
    2. More Wealth, More Generosity
     
    When his wealth increases, his generosity and kindness in sharing goodness and helping others also increases.
     
    3. Longer Life, More Worship
     
    When his life becomes longer, his earnestness in worship, self-improvement, and controlling his ego also increases

    DALIL

    وقال: إن ولي الله إذا أراد ثلاثة أشياء زاد منها ثلاثة أشياء، إذا زاد جاهه زاد تواضعه، وإذا زاد ماله زاد سخاؤه، وإذا زاد عمره زاد اجتهاده.

    Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi berkata  "Sesungguhnya Wali Alloh ketika Mengharapkan tiga Perkara Maka ia akan menambahi Tiga perkara yang lain ;
    1. Jika wali Alloh bertambah pangkat atau Derajatnya maka Beliau akan menambah Tawadhu'nya. 
    2. Jika Wali Alloh bertambah Harta bendanya maka bertambah pula Dermawan nya
    3. Dan jika Bertambah umurnya Maka bertambah juga Sungguh-sungguhnya (Beribadah dan melawan Nafsunya)"

    Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi said:
     
    "Verily, when a Wali Allah (saint person in islam) is blessed with three things, he increases in three other qualities:
     
    1. If his rank or status increases, then he increases in humility.
    2. If his wealth increases, then he increases in generosity.
    3. And if his lifespan increases, then he increases in earnestness (in worship and in striving against his ego/nafs)"

    photo of sarong has hole

    MELIHAT SARUNG IMAM BOLONG DI TENGAH SHALAT
     
    Pertanyaan:
     
    Apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat di tengah shalat, apakah ia wajib memberitahukan hal tersebut kepada imam? Jika wajib, bagaimana caranya? Apakah cukup berniat mufaraqah (memisahkan diri) lalu melanjutkan shalat sendiri, ataukah wajib memutus dan mengulang shalat dari awal?
     
     
     
    Jawaban:
     
    Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalat terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulang shalat dari awal (isti'naf), baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.
     
    Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh hanya berniat mufaraqah lalu melanjutkan shalatnya, sebagaimana anggapan sebagian orang. Hal ini berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi:
     
    "Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang dari awal)."
     
    Dalam redaksi lain disebutkan:
     
    "Setiap hal yang wajib diulang setelah shalat selesai, apabila diketahui saat shalat masih berlangsung, maka wajib langsung diulang dari awal."
     
    KESIMPULAN

    Menurut penulis, kesimpulan tersebut kurang tepat untuk kasus sarung bolong. Yang benar adalah wajib memutus shalat dan mengulangnya dari awal, sebagaimana diperjelas oleh kaidah dan keterangan para ulama di atas

    ENGLISH

    SEEING THE IMAM’S GARMENT HAS A HOLE REVEALING AWRAH DURING PRAYER
     
    Question:
     
    If a follower (ma'mum) sees that the Imam’s garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts) in the middle of the prayer, is it obligatory for him to inform the Imam? If it is obligatory, how should he do it? Is it enough to simply intend separation (mufaraqah) and continue praying alone, or must he break the prayer and repeat it from the beginning?
     
     
     
    Answer:
     
    Yes, it is obligatory for the follower to inform the Imam about this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone or joining the congregation again.
     
    In this situation, the follower is not allowed to merely intend separation (mufaraqah) and continue the prayer, as some people might assume. This ruling is based on the Islamic legal principle (qa'idah fiqhiyyah) which states:
     
    "Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)."
     
    In another version, it is stated:
     
    "Any matter that would require repeating the prayer after it is finished, if it becomes known while the prayer is still in progress, then it is obligatory to repeat it immediately from the start."
     
     
     
    CONCLUSION
     
    According to the author, the opinion that allows simply separating and continuing is not correct for the case of a garment with a hole revealing the 'awrah. The correct ruling is that one must stop the prayer and repeat it entirely from the beginning, as clearly explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned above

    DALIL

    ج:
    نَعَمْ، يَجِبُ عَلَيْهِ إِعْلَامُهُ، وَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يَقْطَعَ الصَّلَاةَ أَوَّلًا ثُمَّ يُعْلِمَهُ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَأْنِفُ الصَّلَاةَ. وَلَا يَجُوزُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ الِاسْتِمْرَارُ عَلَى صَلَاتِهِ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ كَمَا قَدْ يَتَوَهَّمُ بَعْضُ النَّاسِ، إِذِ الْقَاعِدَةُ: «كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ». وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى: «كُلُّ مَا تَلْزَمُ فِيهِ الْإِعَادَةُ بَعْدَ الْفَرَاغِ إِذَا تَبَيَّنَ فِي الْأَثْنَاءِ يَجِبُ فِيهِ الِاسْتِئْنَافُ

    Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalatnya terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulangi shalat dari awal, baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.

    Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh melanjutkan shalatnya dengan niat mufaraqah sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Sebab terdapat kaidah:

     "Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang shalat dari awal)."

    Yes, it is obligatory for the follower (ma'mum) to inform the Imam of this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone (munfarid) or joining the congregation again.
     
    In this situation, the follower is not allowed to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah), as some people might understand. This is based on the legal principle which states:
     
    "Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)"

    قَالَ الرَّمْلِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى أَسْنَى الْمَطَالِبِ (١/١٧٢):

    «لَوْ رَأَى شَخْصًا يُصَلِّي وَعَلَى ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ بِهَا».

    "Apabila seseorang melihat orang yang sedang shalat sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, maka wajib baginya memberitahukan hal tersebut"

    "If someone sees a person praying while there is impurity on their clothes or body, then it is obligatory for them to inform them of that"

    أَقُولُ: وَكَذَا فِيمَا إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي إِزَارِ الْإِمَامِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ

    Demikian pula hukumnya apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat

    The same ruling applies if the follower (ma'mum) sees the Imam's garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts)

    «كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ، وَلَا يَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ. وَكُلُّ مَا لَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ مِمَّا يَمْنَعُ صِحَّةَ الِاقْتِدَاءِ ابْتِدَاءً عِنْدَ الْعِلْمِ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ لَا يُوجِبُ الِاسْتِئْنَافَ، وَيَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ».

    "[Kaidah] Setiap perkara yang mewajibkan i‘adah, apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka wajib isti'naf dan tidak boleh meneruskan shalat dengan niat mufaraqah. Adapun perkara yang tidak mewajibkan i‘adah, namun bila diketahui sejak awal menghalangi sahnya bermakmum, maka jika baru diketahui di tengah shalat tidak mewajibkan isti'naf, dan boleh melanjutkan shalat dengan niat mufaraqah"

    "[Legal Principle] Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting over from the beginning (isti'naf) and it is not permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah). As for matters that do not necessitate repeating the prayer, but would have prevented the validity of following the Imam if known from the start if such a matter is only discovered in the middle of the prayer, it does not obligate starting over (isti'naf), and it is permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah)."

    «فَإِنْ رَأَى فِي ثَوْبِهِ بَعْدَ الصَّلَاةِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ فَكَرُؤْيَةِ النَّجَاسَةِ، وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ يُعِيدُ الصَّلَاةَ».

    "Apabila seseorang setelah shalat melihat pada pakaiannya terdapat lubang yang menampakkan aurat, maka hukumnya seperti orang yang mengetahui adanya najis setelah shalat, yaitu wajib mengulang shalatnya"

    "If a person, after completing the prayer, notices a hole in their garment that reveals the 'awrah (intimate parts), then the ruling is the same as someone who discovers ritual impurity (najasa) on their clothes after praying it is obligatory to repeat the prayer"

    > «أَمَّا الظَّاهِرَةُ فَالْوَاجِبُ فِيهَا الِاسْتِئْنَافُ لِعَدَمِ انْعِقَادِ الصَّلَاةِ».

    "Adapun pada kasus yang nyata (yang menyebabkan wajib mengulang shalat), maka yang wajib adalah melakukan isti'naf karena shalat tersebut tidak sah sejak awal"

    "As for a clear and definite case (which necessitates repeating the prayer), then what is obligatory is to perform isti'naf (start over from the beginning), because the prayer was not valid from the very start"

    اعْلَمْ أَنَّهُ تُوجَدُ فِي بَعْضِ كُتُبِ الْفِقْهِ عِبَارَةٌ عَامَّةٌ قَدْ تُسْتَعْمَلُ فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، وَهِيَ:

    «إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ الْإِمَامَ مُتَلَبِّسًا بِمَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ مُفَارَقَتُهُ وَيُتِمُّ صَلَاتَهُ مُنْفَرِدًا بَانِيًا عَلَى مَا صَلَّاهُ مَعَ الْإِمَامِ».

    makmum wajib memutus shalatnya dan mengulangnya dari awal (isti'naf), sebagaimana dijelaskan oleh kaidah dan keterangan para ulama yang telah disebutkan sebelumnya

    "The follower must discontinue his prayer and repeat it from the beginning (isti'naf), as explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned previously"

    SARUNG IMAM BOLONG KEPERGOK DI TENGAH SHOLAT

    photo of sarong has hole

    MELIHAT SARUNG IMAM BOLONG DI TENGAH SHALAT
     
    Pertanyaan:
     
    Apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat di tengah shalat, apakah ia wajib memberitahukan hal tersebut kepada imam? Jika wajib, bagaimana caranya? Apakah cukup berniat mufaraqah (memisahkan diri) lalu melanjutkan shalat sendiri, ataukah wajib memutus dan mengulang shalat dari awal?
     
     
     
    Jawaban:
     
    Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalat terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulang shalat dari awal (isti'naf), baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.
     
    Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh hanya berniat mufaraqah lalu melanjutkan shalatnya, sebagaimana anggapan sebagian orang. Hal ini berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi:
     
    "Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang dari awal)."
     
    Dalam redaksi lain disebutkan:
     
    "Setiap hal yang wajib diulang setelah shalat selesai, apabila diketahui saat shalat masih berlangsung, maka wajib langsung diulang dari awal."
     
    KESIMPULAN

    Menurut penulis, kesimpulan tersebut kurang tepat untuk kasus sarung bolong. Yang benar adalah wajib memutus shalat dan mengulangnya dari awal, sebagaimana diperjelas oleh kaidah dan keterangan para ulama di atas

    ENGLISH

    SEEING THE IMAM’S GARMENT HAS A HOLE REVEALING AWRAH DURING PRAYER
     
    Question:
     
    If a follower (ma'mum) sees that the Imam’s garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts) in the middle of the prayer, is it obligatory for him to inform the Imam? If it is obligatory, how should he do it? Is it enough to simply intend separation (mufaraqah) and continue praying alone, or must he break the prayer and repeat it from the beginning?
     
     
     
    Answer:
     
    Yes, it is obligatory for the follower to inform the Imam about this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone or joining the congregation again.
     
    In this situation, the follower is not allowed to merely intend separation (mufaraqah) and continue the prayer, as some people might assume. This ruling is based on the Islamic legal principle (qa'idah fiqhiyyah) which states:
     
    "Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)."
     
    In another version, it is stated:
     
    "Any matter that would require repeating the prayer after it is finished, if it becomes known while the prayer is still in progress, then it is obligatory to repeat it immediately from the start."
     
     
     
    CONCLUSION
     
    According to the author, the opinion that allows simply separating and continuing is not correct for the case of a garment with a hole revealing the 'awrah. The correct ruling is that one must stop the prayer and repeat it entirely from the beginning, as clearly explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned above

    DALIL

    ج:
    نَعَمْ، يَجِبُ عَلَيْهِ إِعْلَامُهُ، وَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يَقْطَعَ الصَّلَاةَ أَوَّلًا ثُمَّ يُعْلِمَهُ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَأْنِفُ الصَّلَاةَ. وَلَا يَجُوزُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ الِاسْتِمْرَارُ عَلَى صَلَاتِهِ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ كَمَا قَدْ يَتَوَهَّمُ بَعْضُ النَّاسِ، إِذِ الْقَاعِدَةُ: «كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ». وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى: «كُلُّ مَا تَلْزَمُ فِيهِ الْإِعَادَةُ بَعْدَ الْفَرَاغِ إِذَا تَبَيَّنَ فِي الْأَثْنَاءِ يَجِبُ فِيهِ الِاسْتِئْنَافُ

    Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalatnya terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulangi shalat dari awal, baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.

    Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh melanjutkan shalatnya dengan niat mufaraqah sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Sebab terdapat kaidah:

     "Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang shalat dari awal)."

    Yes, it is obligatory for the follower (ma'mum) to inform the Imam of this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone (munfarid) or joining the congregation again.
     
    In this situation, the follower is not allowed to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah), as some people might understand. This is based on the legal principle which states:
     
    "Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)"

    قَالَ الرَّمْلِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى أَسْنَى الْمَطَالِبِ (١/١٧٢):

    «لَوْ رَأَى شَخْصًا يُصَلِّي وَعَلَى ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ بِهَا».

    "Apabila seseorang melihat orang yang sedang shalat sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, maka wajib baginya memberitahukan hal tersebut"

    "If someone sees a person praying while there is impurity on their clothes or body, then it is obligatory for them to inform them of that"

    أَقُولُ: وَكَذَا فِيمَا إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي إِزَارِ الْإِمَامِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ

    Demikian pula hukumnya apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat

    The same ruling applies if the follower (ma'mum) sees the Imam's garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts)

    «كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ، وَلَا يَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ. وَكُلُّ مَا لَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ مِمَّا يَمْنَعُ صِحَّةَ الِاقْتِدَاءِ ابْتِدَاءً عِنْدَ الْعِلْمِ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ لَا يُوجِبُ الِاسْتِئْنَافَ، وَيَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ».

    "[Kaidah] Setiap perkara yang mewajibkan i‘adah, apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka wajib isti'naf dan tidak boleh meneruskan shalat dengan niat mufaraqah. Adapun perkara yang tidak mewajibkan i‘adah, namun bila diketahui sejak awal menghalangi sahnya bermakmum, maka jika baru diketahui di tengah shalat tidak mewajibkan isti'naf, dan boleh melanjutkan shalat dengan niat mufaraqah"

    "[Legal Principle] Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting over from the beginning (isti'naf) and it is not permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah). As for matters that do not necessitate repeating the prayer, but would have prevented the validity of following the Imam if known from the start if such a matter is only discovered in the middle of the prayer, it does not obligate starting over (isti'naf), and it is permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah)."

    «فَإِنْ رَأَى فِي ثَوْبِهِ بَعْدَ الصَّلَاةِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ فَكَرُؤْيَةِ النَّجَاسَةِ، وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ يُعِيدُ الصَّلَاةَ».

    "Apabila seseorang setelah shalat melihat pada pakaiannya terdapat lubang yang menampakkan aurat, maka hukumnya seperti orang yang mengetahui adanya najis setelah shalat, yaitu wajib mengulang shalatnya"

    "If a person, after completing the prayer, notices a hole in their garment that reveals the 'awrah (intimate parts), then the ruling is the same as someone who discovers ritual impurity (najasa) on their clothes after praying it is obligatory to repeat the prayer"

    > «أَمَّا الظَّاهِرَةُ فَالْوَاجِبُ فِيهَا الِاسْتِئْنَافُ لِعَدَمِ انْعِقَادِ الصَّلَاةِ».

    "Adapun pada kasus yang nyata (yang menyebabkan wajib mengulang shalat), maka yang wajib adalah melakukan isti'naf karena shalat tersebut tidak sah sejak awal"

    "As for a clear and definite case (which necessitates repeating the prayer), then what is obligatory is to perform isti'naf (start over from the beginning), because the prayer was not valid from the very start"

    اعْلَمْ أَنَّهُ تُوجَدُ فِي بَعْضِ كُتُبِ الْفِقْهِ عِبَارَةٌ عَامَّةٌ قَدْ تُسْتَعْمَلُ فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، وَهِيَ:

    «إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ الْإِمَامَ مُتَلَبِّسًا بِمَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ مُفَارَقَتُهُ وَيُتِمُّ صَلَاتَهُ مُنْفَرِدًا بَانِيًا عَلَى مَا صَلَّاهُ مَعَ الْإِمَامِ».

    makmum wajib memutus shalatnya dan mengulangnya dari awal (isti'naf), sebagaimana dijelaskan oleh kaidah dan keterangan para ulama yang telah disebutkan sebelumnya

    "The follower must discontinue his prayer and repeat it from the beginning (isti'naf), as explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned previously"

    Sabtu, 30 Mei 2026


    AMALAN NABI KHIDIR AGAR SELAMAT DARI DICABUTNYA IMAN
     
    Syeikh Abdul Wahhab Sya'rani ra. dalam kitabnya Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla menuturkan kisah luar biasa dari Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri atau Nabi Khidir AS.
     
    Beliau menceritakan bahwa beliau pernah bertanya kepada 24 Nabi tentang amalan apa yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari hilangnya atau dicabutnya iman. Namun, tidak satupun dari para Nabi tersebut dapat menjawabnya. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal yang sama.
     
    Rasulullah SAW pun menjawab: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya kepada Malaikat Jibril 'alaihis salam."
     
    Setelah bertanya, Malaikat Jibril pun berkata: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya langsung kepada Allah SWT."
     
    Akhirnya, Allah SWT berfirman bahwa barang siapa yang istiqomah (rutin) membaca bacaan-bacaan berikut ini setelah selesai mengerjakan shalat, maka ia akan selamat dari hilangnya iman:
     
    1. Ayat Kursi
    2. Ayat Aamanar Rasul (Surat Al-Baqarah ayat terakhir)
    3. Surat Ali Imran Ayat 18-19
    "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia... dst"
    4. Surat Ali Imran Ayat 26-27
    "Katakanlah: 'Wahai Allah, Pemilik kerajaan... dst"
    5. Surat Al-Ikhlas
    6. Surat An-Nas
    7. Surat Al-Falaq
    8. Surat Al-Fatihah
     
     
     
    📚 Sumber: I'anatut Thalibin, Juz 1, Halaman 185

    ENGLISH

    THE PRACTICE OF PROPHET KHIDIR TO BE SAFE FROM HAVING FAITH TAKEN AWAY
     
    Sheikh Abdul Wahhab Sya'rani (ra) narrates a remarkable story in his book Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla from Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri, also known as Prophet Khidir (AS).
     
    He told that he once asked 24 Prophets about what practice can save a servant from losing or having their faith taken away. However, none of those Prophets could answer him. Finally, he met Prophet Muhammad (SAW) and asked the same question.
     
    The Messenger of Allah (SAW) replied: "Wait a moment, I will ask Angel Jibril ('alaihis salam)."
     
    After inquiring, Angel Jibril said: "Wait a moment, I will ask directly to Allah SWT."
     
    Ultimately, Allah SWT revealed that whoever is consistent (istiqomah) in reciting the following verses after completing the prayer, they will be saved from losing their faith:
     
    1. Ayat Kursi
    2. Ayat Aamanar Rasul (The last verse of Surat Al-Baqarah)
    3. Surat Ali Imran Verses 18-19
    "Allah bears witness that there is no god but Him..."
    4. Surat Ali Imran Verses 26-27
    "Say, 'O Allah, Owner of the Kingdom...'"
    5. Surat Al-Ikhlas
    6. Surat An-Nas
    7. Surat Al-Falaq
    8. Surat Al-Fatihah
     
     
     
    📚 Source: I'anatut Thalibin, Volume 1, Page 185

    PRAYER

    Surat Ali Imran Ayat 18-19

    ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻭَﺃُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ۚ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ ‏(١٨) ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ۗۗ

    Surat Ali Imran Ayat 26-27

    ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﺗُﺆْﺗِﻲ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗَﻨﺰِﻉُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣِﻤَّﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﻌِﺰُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﺬِﻝُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ۖ ﺑِﻴَﺪِﻙَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ ‏(٢٦) ﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ۖ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻲَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ۖ ﻭَﺗَﺮْﺯُﻕُ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ‏(٢٧)

    AMALAN NABI KHIDIR MENJAGA IMAN


    AMALAN NABI KHIDIR AGAR SELAMAT DARI DICABUTNYA IMAN
     
    Syeikh Abdul Wahhab Sya'rani ra. dalam kitabnya Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla menuturkan kisah luar biasa dari Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri atau Nabi Khidir AS.
     
    Beliau menceritakan bahwa beliau pernah bertanya kepada 24 Nabi tentang amalan apa yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari hilangnya atau dicabutnya iman. Namun, tidak satupun dari para Nabi tersebut dapat menjawabnya. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal yang sama.
     
    Rasulullah SAW pun menjawab: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya kepada Malaikat Jibril 'alaihis salam."
     
    Setelah bertanya, Malaikat Jibril pun berkata: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya langsung kepada Allah SWT."
     
    Akhirnya, Allah SWT berfirman bahwa barang siapa yang istiqomah (rutin) membaca bacaan-bacaan berikut ini setelah selesai mengerjakan shalat, maka ia akan selamat dari hilangnya iman:
     
    1. Ayat Kursi
    2. Ayat Aamanar Rasul (Surat Al-Baqarah ayat terakhir)
    3. Surat Ali Imran Ayat 18-19
    "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia... dst"
    4. Surat Ali Imran Ayat 26-27
    "Katakanlah: 'Wahai Allah, Pemilik kerajaan... dst"
    5. Surat Al-Ikhlas
    6. Surat An-Nas
    7. Surat Al-Falaq
    8. Surat Al-Fatihah
     
     
     
    📚 Sumber: I'anatut Thalibin, Juz 1, Halaman 185

    ENGLISH

    THE PRACTICE OF PROPHET KHIDIR TO BE SAFE FROM HAVING FAITH TAKEN AWAY
     
    Sheikh Abdul Wahhab Sya'rani (ra) narrates a remarkable story in his book Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla from Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri, also known as Prophet Khidir (AS).
     
    He told that he once asked 24 Prophets about what practice can save a servant from losing or having their faith taken away. However, none of those Prophets could answer him. Finally, he met Prophet Muhammad (SAW) and asked the same question.
     
    The Messenger of Allah (SAW) replied: "Wait a moment, I will ask Angel Jibril ('alaihis salam)."
     
    After inquiring, Angel Jibril said: "Wait a moment, I will ask directly to Allah SWT."
     
    Ultimately, Allah SWT revealed that whoever is consistent (istiqomah) in reciting the following verses after completing the prayer, they will be saved from losing their faith:
     
    1. Ayat Kursi
    2. Ayat Aamanar Rasul (The last verse of Surat Al-Baqarah)
    3. Surat Ali Imran Verses 18-19
    "Allah bears witness that there is no god but Him..."
    4. Surat Ali Imran Verses 26-27
    "Say, 'O Allah, Owner of the Kingdom...'"
    5. Surat Al-Ikhlas
    6. Surat An-Nas
    7. Surat Al-Falaq
    8. Surat Al-Fatihah
     
     
     
    📚 Source: I'anatut Thalibin, Volume 1, Page 185

    PRAYER

    Surat Ali Imran Ayat 18-19

    ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻭَﺃُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ۚ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ ‏(١٨) ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ۗۗ

    Surat Ali Imran Ayat 26-27

    ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﺗُﺆْﺗِﻲ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗَﻨﺰِﻉُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣِﻤَّﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﻌِﺰُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﺬِﻝُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ۖ ﺑِﻴَﺪِﻙَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ ‏(٢٦) ﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ۖ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻲَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ۖ ﻭَﺗَﺮْﺯُﻕُ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ‏(٢٧)




    SEDEKAH DENGAN ILMU ATAU HARTA

     

    Setiap orang memiliki kelebihan dan kemampuan yang berbeda-beda. Jika kita memiliki harta yang lebih, maka sedekah terbaik yang bisa kita berikan adalah melalui harta. Namun, jika kita memiliki ilmu yang bermanfaat, maka sedekah yang paling utama adalah menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain (ini yang lebih baik sesuai sabda nabi)

     

    Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:


    "Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim."

    (HR. Ibnu Majah)

     

    Ilmu yang diamalkan dan diajarkan adalah sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah tiada

     

    Setiap bantuan yang diberikan insyaAllah akan menjadi bagian dari penyebaran ilmu dan kebaikan. asal tidak merugikan 

     

     

    Sumber: Kitab Salaalimul Fudhala hal. 61


    ENGLISH 

    CHARITY THROUGH KNOWLEDGE OR WEALTH

     

    Everyone has different strengths and capabilities. If we have surplus wealth, then the best charity we can give is through our possessions. However, if we possess beneficial knowledge, then the most superior form of charity is spreading that knowledge to others — and this is considered even better according to the saying of the Prophet.

     

    As stated by the Messenger of Allah ﷺ:

     

    "The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

    (Narrated by Ibn Majah)

     

    Knowledge that is practiced and taught is considered Sadaqah Jariyah (continuous charity). Its rewards will keep flowing to us even after we pass away.

     

    Every contribution given, Insha Allah, will become part of the effort to spread knowledge and goodness, provided that it does not cause harm to anyone.

     

     

     

    Source: Kitab Salaalimul Fudhala page 61


    DALIL 


    وَقَالَ ﷺ : أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

    Nabi SAW juga bersabda: 

    "Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim"

    (HR. Ibnu Majah)

    The Prophet (peace be upon him) also said:

     

    "The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

    (Narrated by Ibn Majah)


    SEDEKAH ILMU ATAU HARTA YANG BAGUS?




    SEDEKAH DENGAN ILMU ATAU HARTA

     

    Setiap orang memiliki kelebihan dan kemampuan yang berbeda-beda. Jika kita memiliki harta yang lebih, maka sedekah terbaik yang bisa kita berikan adalah melalui harta. Namun, jika kita memiliki ilmu yang bermanfaat, maka sedekah yang paling utama adalah menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain (ini yang lebih baik sesuai sabda nabi)

     

    Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:


    "Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim."

    (HR. Ibnu Majah)

     

    Ilmu yang diamalkan dan diajarkan adalah sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah tiada

     

    Setiap bantuan yang diberikan insyaAllah akan menjadi bagian dari penyebaran ilmu dan kebaikan. asal tidak merugikan 

     

     

    Sumber: Kitab Salaalimul Fudhala hal. 61


    ENGLISH 

    CHARITY THROUGH KNOWLEDGE OR WEALTH

     

    Everyone has different strengths and capabilities. If we have surplus wealth, then the best charity we can give is through our possessions. However, if we possess beneficial knowledge, then the most superior form of charity is spreading that knowledge to others — and this is considered even better according to the saying of the Prophet.

     

    As stated by the Messenger of Allah ﷺ:

     

    "The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

    (Narrated by Ibn Majah)

     

    Knowledge that is practiced and taught is considered Sadaqah Jariyah (continuous charity). Its rewards will keep flowing to us even after we pass away.

     

    Every contribution given, Insha Allah, will become part of the effort to spread knowledge and goodness, provided that it does not cause harm to anyone.

     

     

     

    Source: Kitab Salaalimul Fudhala page 61


    DALIL 


    وَقَالَ ﷺ : أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

    Nabi SAW juga bersabda: 

    "Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim"

    (HR. Ibnu Majah)

    The Prophet (peace be upon him) also said:

     

    "The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

    (Narrated by Ibn Majah)


    Jumat, 29 Mei 2026

     



    TIGA CARA ALLAH MENGABULKAN DOA

     

    Setiap hamba yang berdoa pasti berharap permintaannya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Namun, tahukah kamu bahwa cara Allah mengabulkan doa itu sangat beragam dan penuh hikmah?

     

    Sebagaimana dikemukakan oleh para ulama, setiap doa yang dipanjatkan pada dasarnya akan dikabulkan. Hanya saja, bentuk kabulnya tidak selalu sama dengan apa yang kita bayangkan. Ada lima bentuk kabul doa yang bisa diringkas menjadi tiga cara utama, sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri (Juz 1, Halaman 5):

     

    "Setiap doa akan dikabulkan, tetapi dikabulkannya doa itu bermacam-macam..."

     

    Berikut adalah penjelasannya:

     

    1. Sesuai dengan yang Diminta

     

    Cara yang pertama adalah doa dikabulkan secara langsung dan nyata sesuai dengan apa yang kita minta. Saat kita memohon kesehatan, rezeki, atau keberkahan, Allah memberikannya dengan segera di dunia ini. Ini adalah bentuk kabul yang paling sering kita nantikan dan rasakan kebahagiaannya.

     

    2. Diganti dengan yang Lebih Baik

     

    Kadang kala, doa kita tidak dikabulkan sesuai permintaan, namun Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Bisa jadi apa yang kita minta ternyata tidak baik untuk kita di masa depan, maka Allah menolaknya dan memberi ganti berupa nikmat lain yang lebih besar, baik berupa harta, ketenangan hati, maupun keselamatan.

     

    3. Ditunda atau Dibalas dengan Pahala

     

    Ada juga doa yang dikabulkan waktunya ditunda, maka disimpan untuk dinikmati di akhirat kelak. atau di ganti dengan di beri pahala. Jadi, meski yang diminta belum tampak, sebenarnya allah menempatkan pada tempat yang layak

     

     

     

    Kesimpulan

     

    Jadi, jangan pernah merasa putus asa jika doa belum terlihat hasilnya. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Entah diberikan saat ini, diganti dengan yang lebih baik, atau di ganti dengan pahala. yakinlah bahwa doa kita tidak pernah sia-sia.

     

     

     

    Sumber: Hasyiyah al-Bajuri, Juz 1, Halaman 5


    ENGLISH 

    THREE WAYS ALLAH ANSWERS PRAYERS

     

    Every servant who prays surely hopes that their request will be heard and answered by Allah SWT. However, did you know that the way Allah answers prayers is diverse and full of wisdom?

     

    As stated by the scholars, every prayer that is raised is essentially answered. It is just that the form of the answer is not always exactly as we imagine. There are five forms of answered prayers which can be summarized into three main ways, as mentioned in the book Hasyiyah al-Bajuri (Volume 1, Page 5):

     

    "Every prayer is answered, but the way it is answered comes in various forms..."

     

    Here is the explanation:

     

    1. Exactly as Requested

     

    The first way is that the prayer is answered directly and clearly exactly as we asked. When we beg for health, sustenance, or blessings, Allah grants them immediately in this world. This is the form of answer that we most eagerly await and feel happy about.

     

    2. Replaced with Something Better

     

    Sometimes, our prayer is not answered exactly as requested, but Allah replaces it with something far better. It could be that what we asked for turns out to be bad for us in the future, so Allah prevents it and gives us a replacement in the form of other greater blessings, whether in the form of wealth, peace of heart, or safety.

     

    3. Postponed or Rewarded with Good Deeds

     

    There are also prayers whose answer is delayed, or stored away to be enjoyed in the Hereafter. Sometimes, it is replaced with great rewards (pahala). So, even though what we asked for has not appeared yet, in truth Allah has placed it in the most appropriate place.

     

     

     

    Conclusion

     

    So, never feel despair if you do not see the results of your prayers yet. Allah knows best what is good for His servants. Whether it is given now, replaced with something better, or changed into rewards, rest assured that our prayers are never in vain.

     

     

     

    Source: Hasyiyah al-Bajuri, Volume 1, Page 5


    DALIL 

    وقد قالوا: كل دعاء مجاب لكن إما بعين ما طلب او بخير مما طلب إما حالا او مآلا او بثواب يحصل للداعي او بدفع ضر عنه


    ulama berkata: Setiap doa dikabulkan, tetapi baik sesuai apa yang diminta, atau dengan sesuatu yang lebih baik dari yang diminta, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau dengan pahala yang diterima oleh orang yang berdoa, atau dengan menjauhkan bahaya darinya


    Scholars said: Every prayer is answered, whether exactly as requested, or with something better than what was asked for, whether immediately or later, or with rewards received by the worshiper, or by averting harm from them


    CARA TUHAN MENGABULKAN DOA

     



    TIGA CARA ALLAH MENGABULKAN DOA

     

    Setiap hamba yang berdoa pasti berharap permintaannya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Namun, tahukah kamu bahwa cara Allah mengabulkan doa itu sangat beragam dan penuh hikmah?

     

    Sebagaimana dikemukakan oleh para ulama, setiap doa yang dipanjatkan pada dasarnya akan dikabulkan. Hanya saja, bentuk kabulnya tidak selalu sama dengan apa yang kita bayangkan. Ada lima bentuk kabul doa yang bisa diringkas menjadi tiga cara utama, sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri (Juz 1, Halaman 5):

     

    "Setiap doa akan dikabulkan, tetapi dikabulkannya doa itu bermacam-macam..."

     

    Berikut adalah penjelasannya:

     

    1. Sesuai dengan yang Diminta

     

    Cara yang pertama adalah doa dikabulkan secara langsung dan nyata sesuai dengan apa yang kita minta. Saat kita memohon kesehatan, rezeki, atau keberkahan, Allah memberikannya dengan segera di dunia ini. Ini adalah bentuk kabul yang paling sering kita nantikan dan rasakan kebahagiaannya.

     

    2. Diganti dengan yang Lebih Baik

     

    Kadang kala, doa kita tidak dikabulkan sesuai permintaan, namun Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Bisa jadi apa yang kita minta ternyata tidak baik untuk kita di masa depan, maka Allah menolaknya dan memberi ganti berupa nikmat lain yang lebih besar, baik berupa harta, ketenangan hati, maupun keselamatan.

     

    3. Ditunda atau Dibalas dengan Pahala

     

    Ada juga doa yang dikabulkan waktunya ditunda, maka disimpan untuk dinikmati di akhirat kelak. atau di ganti dengan di beri pahala. Jadi, meski yang diminta belum tampak, sebenarnya allah menempatkan pada tempat yang layak

     

     

     

    Kesimpulan

     

    Jadi, jangan pernah merasa putus asa jika doa belum terlihat hasilnya. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Entah diberikan saat ini, diganti dengan yang lebih baik, atau di ganti dengan pahala. yakinlah bahwa doa kita tidak pernah sia-sia.

     

     

     

    Sumber: Hasyiyah al-Bajuri, Juz 1, Halaman 5


    ENGLISH 

    THREE WAYS ALLAH ANSWERS PRAYERS

     

    Every servant who prays surely hopes that their request will be heard and answered by Allah SWT. However, did you know that the way Allah answers prayers is diverse and full of wisdom?

     

    As stated by the scholars, every prayer that is raised is essentially answered. It is just that the form of the answer is not always exactly as we imagine. There are five forms of answered prayers which can be summarized into three main ways, as mentioned in the book Hasyiyah al-Bajuri (Volume 1, Page 5):

     

    "Every prayer is answered, but the way it is answered comes in various forms..."

     

    Here is the explanation:

     

    1. Exactly as Requested

     

    The first way is that the prayer is answered directly and clearly exactly as we asked. When we beg for health, sustenance, or blessings, Allah grants them immediately in this world. This is the form of answer that we most eagerly await and feel happy about.

     

    2. Replaced with Something Better

     

    Sometimes, our prayer is not answered exactly as requested, but Allah replaces it with something far better. It could be that what we asked for turns out to be bad for us in the future, so Allah prevents it and gives us a replacement in the form of other greater blessings, whether in the form of wealth, peace of heart, or safety.

     

    3. Postponed or Rewarded with Good Deeds

     

    There are also prayers whose answer is delayed, or stored away to be enjoyed in the Hereafter. Sometimes, it is replaced with great rewards (pahala). So, even though what we asked for has not appeared yet, in truth Allah has placed it in the most appropriate place.

     

     

     

    Conclusion

     

    So, never feel despair if you do not see the results of your prayers yet. Allah knows best what is good for His servants. Whether it is given now, replaced with something better, or changed into rewards, rest assured that our prayers are never in vain.

     

     

     

    Source: Hasyiyah al-Bajuri, Volume 1, Page 5


    DALIL 

    وقد قالوا: كل دعاء مجاب لكن إما بعين ما طلب او بخير مما طلب إما حالا او مآلا او بثواب يحصل للداعي او بدفع ضر عنه


    ulama berkata: Setiap doa dikabulkan, tetapi baik sesuai apa yang diminta, atau dengan sesuatu yang lebih baik dari yang diminta, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau dengan pahala yang diterima oleh orang yang berdoa, atau dengan menjauhkan bahaya darinya


    Scholars said: Every prayer is answered, whether exactly as requested, or with something better than what was asked for, whether immediately or later, or with rewards received by the worshiper, or by averting harm from them



    QURBAN DI BAGIKAN TO NON MUSLIM

    - Hukum: Memberikan daging kurban kepada non-Muslim diperbolehkan menurut sebagian ulama, karena berkurban merupakan bentuk sedekah dan tidak ada larangan memberi sedekah kepada non-Muslim (al hasanul basry dari imam malik madzab syafi'i membolehkan)
    - Syarat:
    1. Non-Muslim tersebut bukan kafir harbi (tidak memusuhi atau memerangi umat Islam).
    2. Hewan kurban tersebut adalah kurban sunah, bukan kurban wajib.
    - Dasar Pendapat: Berlandaskan pendapat dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah yang menyatakan boleh memberikan makanan dari hewan kurban kepada orang kafir dzimmi (non muslim tinggal di kekuasaannya orang muslim).
    - Pendapat Lain: Ada juga ulama yang berpendapat tidak boleh memberikan daging kurban kepada non-Muslim secara mutlak.
    - Alasan Pendapat Larangan: Tujuan kurban adalah sebagai dhiyafatullah (jamuan Allah) khusus untuk kaum Muslimin untuk menunjukkan kasih sayang sesama umat Islam

    ENGLISH

    DISTRIBUTING QURBAN MEAT TO NON-MUSLIMS
     
    - Ruling: Giving qurbani meat to non-Muslims is permissible according to some scholars, because qurbani is a form of charity (sadaqah), and there is no prohibition against giving charity to non-Muslims. (Views of Al-Hasan al-Basri, Imam Malik, and the Shafi'i madhhab allow this).
    - Conditions:
     
    1. The non-Muslims are not "Kafir Harbi" (those who are hostile or fight against Muslims).
    2. The qurbani being given is voluntary (Sunnah), not obligatory qurbani.
     
    - Basis of Opinion: Based on the view in the book Al-Mughni by Ibn Qudamah, which states that it is permissible to give food from qurbani animals to Kafir Dzimmi (non-Muslims living under Muslim rule/protection).
    - Other Views: Some scholars hold the opinion that it is not permissible to give qurbani meat to non-Muslims unconditionally.
    - Reason for Prohibition View: The purpose of qurbani is considered as Dhiyafatullah (the hospitality/feast of Allah) specifically for Muslims, to express compassion among fellow believers.
     
     
     
    IMPORTANT
     
    To avoid making mistakes, it is better to follow the opinion of the majority of Indonesian scholars

    QURBAN DI BAGIKAN KE NON MUSLIM.. BOLEH A?


    QURBAN DI BAGIKAN TO NON MUSLIM

    - Hukum: Memberikan daging kurban kepada non-Muslim diperbolehkan menurut sebagian ulama, karena berkurban merupakan bentuk sedekah dan tidak ada larangan memberi sedekah kepada non-Muslim (al hasanul basry dari imam malik madzab syafi'i membolehkan)
    - Syarat:
    1. Non-Muslim tersebut bukan kafir harbi (tidak memusuhi atau memerangi umat Islam).
    2. Hewan kurban tersebut adalah kurban sunah, bukan kurban wajib.
    - Dasar Pendapat: Berlandaskan pendapat dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah yang menyatakan boleh memberikan makanan dari hewan kurban kepada orang kafir dzimmi (non muslim tinggal di kekuasaannya orang muslim).
    - Pendapat Lain: Ada juga ulama yang berpendapat tidak boleh memberikan daging kurban kepada non-Muslim secara mutlak.
    - Alasan Pendapat Larangan: Tujuan kurban adalah sebagai dhiyafatullah (jamuan Allah) khusus untuk kaum Muslimin untuk menunjukkan kasih sayang sesama umat Islam

    ENGLISH

    DISTRIBUTING QURBAN MEAT TO NON-MUSLIMS
     
    - Ruling: Giving qurbani meat to non-Muslims is permissible according to some scholars, because qurbani is a form of charity (sadaqah), and there is no prohibition against giving charity to non-Muslims. (Views of Al-Hasan al-Basri, Imam Malik, and the Shafi'i madhhab allow this).
    - Conditions:
     
    1. The non-Muslims are not "Kafir Harbi" (those who are hostile or fight against Muslims).
    2. The qurbani being given is voluntary (Sunnah), not obligatory qurbani.
     
    - Basis of Opinion: Based on the view in the book Al-Mughni by Ibn Qudamah, which states that it is permissible to give food from qurbani animals to Kafir Dzimmi (non-Muslims living under Muslim rule/protection).
    - Other Views: Some scholars hold the opinion that it is not permissible to give qurbani meat to non-Muslims unconditionally.
    - Reason for Prohibition View: The purpose of qurbani is considered as Dhiyafatullah (the hospitality/feast of Allah) specifically for Muslims, to express compassion among fellow believers.
     
     
     
    IMPORTANT
     
    To avoid making mistakes, it is better to follow the opinion of the majority of Indonesian scholars

    Photo of gus maksum's lirboyo

    PESAN BIJAK ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
     
    KH. Abdullah Ma'shum Djauhari atau yang akrab disapa Gus Ma'shum Lirboyo, adalah sosok guru besar sekaligus pendiri organisasi pencak silat Pagar Nusa (PN). Beliau pernah menyampaikan pesan-pesan mulia yang sangat berharga bagi kita semua:
     
    1. Hormati Guru dan Orang Tua
     
    "Di dunia ini ada dua sosok yang paling hebat dan sakti: yang pertama adalah Guru, dan yang kedua adalah Orang Tua. Maka, barangsiapa yang ingin hidupnya penuh keberkahan, jangan sekali-kali membuat mereka murka atau kecewa."
     
    2. Hindari Kecurangan
     
    "Jauhilah segala bentuk tipu daya dan rayuan suap yang sering dibungkus dengan kata-kata manis seperti 'hadiah'. Sebab, hal itulah yang menjadi faktor utama yang menghambat dan merusak perjuangan kita."
     
    3. Jujur dan Berani
     
    "Jangan pernah memiliki sifat pengecut dan munafik, apalagi bersikap seperti 'maling teriak maling'. Jangan pula meninggikan diri sendiri dengan cara menjatuhkan teman atau kawan sendiri. Jadilah seorang pemimpin yang jujur dan berlaku adil"

    ENGLISH

    WISE MESSAGES FROM ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
     
    KH. Abdullah Ma'shum Djauhari, affectionately known as Gus Ma'shum Lirboyo, is a great scholar and also the founder of the Pagar Nusa (PN) martial arts organization. He once conveyed these noble and valuable messages for all of us:
     
    1. Respect Teachers and Parents
     
    "In this world, there are two most powerful and great figures: the first is the Teacher, and the second is the Parent. Therefore, whoever wishes for their life to be filled with blessings, must never make them angry or disappointed."
     
    2. Avoid Deception and Bribery
     
    "Stay away from all forms of deception and bribery, which are often wrapped in sweet words such as 'gifts'. Because, that is the main factor that hinders and damages our struggle and efforts."
     
    3. Be Honest and Brave
     
    "Never have a cowardly and hypocritical nature, let alone act like 'a thief shouting thief' (blaming others to cover own mistakes). Do not elevate yourself by bringing down your friends or colleagues. Be a leader who is honest and fair"

    PESAN SUKSES DARI GUS MAKSUM LIRBOYO

    Photo of gus maksum's lirboyo

    PESAN BIJAK ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
     
    KH. Abdullah Ma'shum Djauhari atau yang akrab disapa Gus Ma'shum Lirboyo, adalah sosok guru besar sekaligus pendiri organisasi pencak silat Pagar Nusa (PN). Beliau pernah menyampaikan pesan-pesan mulia yang sangat berharga bagi kita semua:
     
    1. Hormati Guru dan Orang Tua
     
    "Di dunia ini ada dua sosok yang paling hebat dan sakti: yang pertama adalah Guru, dan yang kedua adalah Orang Tua. Maka, barangsiapa yang ingin hidupnya penuh keberkahan, jangan sekali-kali membuat mereka murka atau kecewa."
     
    2. Hindari Kecurangan
     
    "Jauhilah segala bentuk tipu daya dan rayuan suap yang sering dibungkus dengan kata-kata manis seperti 'hadiah'. Sebab, hal itulah yang menjadi faktor utama yang menghambat dan merusak perjuangan kita."
     
    3. Jujur dan Berani
     
    "Jangan pernah memiliki sifat pengecut dan munafik, apalagi bersikap seperti 'maling teriak maling'. Jangan pula meninggikan diri sendiri dengan cara menjatuhkan teman atau kawan sendiri. Jadilah seorang pemimpin yang jujur dan berlaku adil"

    ENGLISH

    WISE MESSAGES FROM ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
     
    KH. Abdullah Ma'shum Djauhari, affectionately known as Gus Ma'shum Lirboyo, is a great scholar and also the founder of the Pagar Nusa (PN) martial arts organization. He once conveyed these noble and valuable messages for all of us:
     
    1. Respect Teachers and Parents
     
    "In this world, there are two most powerful and great figures: the first is the Teacher, and the second is the Parent. Therefore, whoever wishes for their life to be filled with blessings, must never make them angry or disappointed."
     
    2. Avoid Deception and Bribery
     
    "Stay away from all forms of deception and bribery, which are often wrapped in sweet words such as 'gifts'. Because, that is the main factor that hinders and damages our struggle and efforts."
     
    3. Be Honest and Brave
     
    "Never have a cowardly and hypocritical nature, let alone act like 'a thief shouting thief' (blaming others to cover own mistakes). Do not elevate yourself by bringing down your friends or colleagues. Be a leader who is honest and fair"

    Category

    Cari Blog Ini

    gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.

    GIMANA MENG GUNAKAN AL QUR'AN YANG BENAR

    CARA HIDUP ALA WALI ALLAH

    Photo of wali allah TAWADHU SEBAGIAN AKHLAK WALI ALLAH   Salah satu ciri khas akhlak mulia para Wali Allah adalah semakin tinggi...

    back to top