Latest Posts

Minggu, 31 Mei 2026

Photo of wali allah

TAWADHU SEBAGIAN AKHLAK WALI ALLAH
 
Salah satu ciri khas akhlak mulia para Wali Allah adalah semakin tinggi derajat, pengaruh, kedudukan, jabatan, maupun kemasyhurannya, justru semakin lembut dan rendah hati (tawadhu) sikapnya di hadapan Allah dan sesama manusia.
 
Hal ini sebagaimana tercatat dalam kitab Hilyah Al-Aulia (3/115):
 
Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi menjelaskan maknanya:
"Sesungguhnya seorang Wali Allah memiliki tiga sifat yang senantiasa bertambah seiring dengan bertambahnya nikmat yang ia terima:"
 
1. Bertambah Derajat, Bertambah Tawadhu
Jika kedudukan, pangkat, atau pengaruhnya semakin tinggi dan luas, maka semakin bertambah pula kerendahan hatinya. Ia tidak pernah sombong atau merasa besar di hadapan makhluk.
 
2. Bertambah Harta, Bertambah Dermawan
Jika hartanya semakin banyak, maka semakin bertambah pula kedermawanan dan kemurah hatinya dalam berbagi kebaikan serta membantu orang lain.
 
3. Bertambah Umur, Bertambah Ibadah
Jika usianya semakin panjang, maka semakin bertambah pula kesungguhannya dalam beribadah, memperbaiki diri, dan melawan hawa nafsunya

ENGLISH

HUMILITY IS PART OF THE CHARACTER OF THE AWLIYAH (SAINT PERSON IN ISLAM)

One of the distinctive traits and noble characters of the Awliya (saint person in islam) is that the higher their status, influence, rank, position, or fame becomes, the softer and more humble (tawadhu) they are before Allah and towards other people.
 
This is recorded in the book Hilyah Al-Aulia (3/115).
 
Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi explains its meaning:
 
"Truly, a Wali Allah possesses three qualities that always increase along with the blessings he receives:"
 
1. Higher Status, Greater Humility
 
When his position, rank, or influence increases and becomes wider, his humility also increases. He is never arrogant or feels self-important in front of others.
 
2. More Wealth, More Generosity
 
When his wealth increases, his generosity and kindness in sharing goodness and helping others also increases.
 
3. Longer Life, More Worship
 
When his life becomes longer, his earnestness in worship, self-improvement, and controlling his ego also increases

DALIL

وقال: إن ولي الله إذا أراد ثلاثة أشياء زاد منها ثلاثة أشياء، إذا زاد جاهه زاد تواضعه، وإذا زاد ماله زاد سخاؤه، وإذا زاد عمره زاد اجتهاده.

Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi berkata  "Sesungguhnya Wali Alloh ketika Mengharapkan tiga Perkara Maka ia akan menambahi Tiga perkara yang lain ;
1. Jika wali Alloh bertambah pangkat atau Derajatnya maka Beliau akan menambah Tawadhu'nya. 
2. Jika Wali Alloh bertambah Harta bendanya maka bertambah pula Dermawan nya
3. Dan jika Bertambah umurnya Maka bertambah juga Sungguh-sungguhnya (Beribadah dan melawan Nafsunya)"

Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi said:
 
"Verily, when a Wali Allah (saint person in islam) is blessed with three things, he increases in three other qualities:
 
1. If his rank or status increases, then he increases in humility.
2. If his wealth increases, then he increases in generosity.
3. And if his lifespan increases, then he increases in earnestness (in worship and in striving against his ego/nafs)"

CARA HIDUP ALA WALI ALLAH

Photo of wali allah

TAWADHU SEBAGIAN AKHLAK WALI ALLAH
 
Salah satu ciri khas akhlak mulia para Wali Allah adalah semakin tinggi derajat, pengaruh, kedudukan, jabatan, maupun kemasyhurannya, justru semakin lembut dan rendah hati (tawadhu) sikapnya di hadapan Allah dan sesama manusia.
 
Hal ini sebagaimana tercatat dalam kitab Hilyah Al-Aulia (3/115):
 
Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi menjelaskan maknanya:
"Sesungguhnya seorang Wali Allah memiliki tiga sifat yang senantiasa bertambah seiring dengan bertambahnya nikmat yang ia terima:"
 
1. Bertambah Derajat, Bertambah Tawadhu
Jika kedudukan, pangkat, atau pengaruhnya semakin tinggi dan luas, maka semakin bertambah pula kerendahan hatinya. Ia tidak pernah sombong atau merasa besar di hadapan makhluk.
 
2. Bertambah Harta, Bertambah Dermawan
Jika hartanya semakin banyak, maka semakin bertambah pula kedermawanan dan kemurah hatinya dalam berbagi kebaikan serta membantu orang lain.
 
3. Bertambah Umur, Bertambah Ibadah
Jika usianya semakin panjang, maka semakin bertambah pula kesungguhannya dalam beribadah, memperbaiki diri, dan melawan hawa nafsunya

ENGLISH

HUMILITY IS PART OF THE CHARACTER OF THE AWLIYAH (SAINT PERSON IN ISLAM)

One of the distinctive traits and noble characters of the Awliya (saint person in islam) is that the higher their status, influence, rank, position, or fame becomes, the softer and more humble (tawadhu) they are before Allah and towards other people.
 
This is recorded in the book Hilyah Al-Aulia (3/115).
 
Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi explains its meaning:
 
"Truly, a Wali Allah possesses three qualities that always increase along with the blessings he receives:"
 
1. Higher Status, Greater Humility
 
When his position, rank, or influence increases and becomes wider, his humility also increases. He is never arrogant or feels self-important in front of others.
 
2. More Wealth, More Generosity
 
When his wealth increases, his generosity and kindness in sharing goodness and helping others also increases.
 
3. Longer Life, More Worship
 
When his life becomes longer, his earnestness in worship, self-improvement, and controlling his ego also increases

DALIL

وقال: إن ولي الله إذا أراد ثلاثة أشياء زاد منها ثلاثة أشياء، إذا زاد جاهه زاد تواضعه، وإذا زاد ماله زاد سخاؤه، وإذا زاد عمره زاد اجتهاده.

Syekh Ahmad Ibnu Abi Al-Wardi berkata  "Sesungguhnya Wali Alloh ketika Mengharapkan tiga Perkara Maka ia akan menambahi Tiga perkara yang lain ;
1. Jika wali Alloh bertambah pangkat atau Derajatnya maka Beliau akan menambah Tawadhu'nya. 
2. Jika Wali Alloh bertambah Harta bendanya maka bertambah pula Dermawan nya
3. Dan jika Bertambah umurnya Maka bertambah juga Sungguh-sungguhnya (Beribadah dan melawan Nafsunya)"

Sheikh Ahmad Ibn Abi Al-Wardi said:
 
"Verily, when a Wali Allah (saint person in islam) is blessed with three things, he increases in three other qualities:
 
1. If his rank or status increases, then he increases in humility.
2. If his wealth increases, then he increases in generosity.
3. And if his lifespan increases, then he increases in earnestness (in worship and in striving against his ego/nafs)"

photo of sarong has hole

MELIHAT SARUNG IMAM BOLONG DI TENGAH SHALAT
 
Pertanyaan:
 
Apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat di tengah shalat, apakah ia wajib memberitahukan hal tersebut kepada imam? Jika wajib, bagaimana caranya? Apakah cukup berniat mufaraqah (memisahkan diri) lalu melanjutkan shalat sendiri, ataukah wajib memutus dan mengulang shalat dari awal?
 
 
 
Jawaban:
 
Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalat terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulang shalat dari awal (isti'naf), baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.
 
Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh hanya berniat mufaraqah lalu melanjutkan shalatnya, sebagaimana anggapan sebagian orang. Hal ini berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi:
 
"Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang dari awal)."
 
Dalam redaksi lain disebutkan:
 
"Setiap hal yang wajib diulang setelah shalat selesai, apabila diketahui saat shalat masih berlangsung, maka wajib langsung diulang dari awal."
 
KESIMPULAN

Menurut penulis, kesimpulan tersebut kurang tepat untuk kasus sarung bolong. Yang benar adalah wajib memutus shalat dan mengulangnya dari awal, sebagaimana diperjelas oleh kaidah dan keterangan para ulama di atas

ENGLISH

SEEING THE IMAM’S GARMENT HAS A HOLE REVEALING AWRAH DURING PRAYER
 
Question:
 
If a follower (ma'mum) sees that the Imam’s garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts) in the middle of the prayer, is it obligatory for him to inform the Imam? If it is obligatory, how should he do it? Is it enough to simply intend separation (mufaraqah) and continue praying alone, or must he break the prayer and repeat it from the beginning?
 
 
 
Answer:
 
Yes, it is obligatory for the follower to inform the Imam about this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone or joining the congregation again.
 
In this situation, the follower is not allowed to merely intend separation (mufaraqah) and continue the prayer, as some people might assume. This ruling is based on the Islamic legal principle (qa'idah fiqhiyyah) which states:
 
"Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)."
 
In another version, it is stated:
 
"Any matter that would require repeating the prayer after it is finished, if it becomes known while the prayer is still in progress, then it is obligatory to repeat it immediately from the start."
 
 
 
CONCLUSION
 
According to the author, the opinion that allows simply separating and continuing is not correct for the case of a garment with a hole revealing the 'awrah. The correct ruling is that one must stop the prayer and repeat it entirely from the beginning, as clearly explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned above

DALIL

ج:
نَعَمْ، يَجِبُ عَلَيْهِ إِعْلَامُهُ، وَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يَقْطَعَ الصَّلَاةَ أَوَّلًا ثُمَّ يُعْلِمَهُ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَأْنِفُ الصَّلَاةَ. وَلَا يَجُوزُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ الِاسْتِمْرَارُ عَلَى صَلَاتِهِ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ كَمَا قَدْ يَتَوَهَّمُ بَعْضُ النَّاسِ، إِذِ الْقَاعِدَةُ: «كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ». وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى: «كُلُّ مَا تَلْزَمُ فِيهِ الْإِعَادَةُ بَعْدَ الْفَرَاغِ إِذَا تَبَيَّنَ فِي الْأَثْنَاءِ يَجِبُ فِيهِ الِاسْتِئْنَافُ

Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalatnya terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulangi shalat dari awal, baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.

Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh melanjutkan shalatnya dengan niat mufaraqah sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Sebab terdapat kaidah:

 "Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang shalat dari awal)."

Yes, it is obligatory for the follower (ma'mum) to inform the Imam of this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone (munfarid) or joining the congregation again.
 
In this situation, the follower is not allowed to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah), as some people might understand. This is based on the legal principle which states:
 
"Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)"

قَالَ الرَّمْلِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى أَسْنَى الْمَطَالِبِ (١/١٧٢):

«لَوْ رَأَى شَخْصًا يُصَلِّي وَعَلَى ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ بِهَا».

"Apabila seseorang melihat orang yang sedang shalat sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, maka wajib baginya memberitahukan hal tersebut"

"If someone sees a person praying while there is impurity on their clothes or body, then it is obligatory for them to inform them of that"

أَقُولُ: وَكَذَا فِيمَا إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي إِزَارِ الْإِمَامِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ

Demikian pula hukumnya apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat

The same ruling applies if the follower (ma'mum) sees the Imam's garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts)

«كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ، وَلَا يَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ. وَكُلُّ مَا لَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ مِمَّا يَمْنَعُ صِحَّةَ الِاقْتِدَاءِ ابْتِدَاءً عِنْدَ الْعِلْمِ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ لَا يُوجِبُ الِاسْتِئْنَافَ، وَيَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ».

"[Kaidah] Setiap perkara yang mewajibkan i‘adah, apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka wajib isti'naf dan tidak boleh meneruskan shalat dengan niat mufaraqah. Adapun perkara yang tidak mewajibkan i‘adah, namun bila diketahui sejak awal menghalangi sahnya bermakmum, maka jika baru diketahui di tengah shalat tidak mewajibkan isti'naf, dan boleh melanjutkan shalat dengan niat mufaraqah"

"[Legal Principle] Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting over from the beginning (isti'naf) and it is not permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah). As for matters that do not necessitate repeating the prayer, but would have prevented the validity of following the Imam if known from the start if such a matter is only discovered in the middle of the prayer, it does not obligate starting over (isti'naf), and it is permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah)."

«فَإِنْ رَأَى فِي ثَوْبِهِ بَعْدَ الصَّلَاةِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ فَكَرُؤْيَةِ النَّجَاسَةِ، وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ يُعِيدُ الصَّلَاةَ».

"Apabila seseorang setelah shalat melihat pada pakaiannya terdapat lubang yang menampakkan aurat, maka hukumnya seperti orang yang mengetahui adanya najis setelah shalat, yaitu wajib mengulang shalatnya"

"If a person, after completing the prayer, notices a hole in their garment that reveals the 'awrah (intimate parts), then the ruling is the same as someone who discovers ritual impurity (najasa) on their clothes after praying it is obligatory to repeat the prayer"

> «أَمَّا الظَّاهِرَةُ فَالْوَاجِبُ فِيهَا الِاسْتِئْنَافُ لِعَدَمِ انْعِقَادِ الصَّلَاةِ».

"Adapun pada kasus yang nyata (yang menyebabkan wajib mengulang shalat), maka yang wajib adalah melakukan isti'naf karena shalat tersebut tidak sah sejak awal"

"As for a clear and definite case (which necessitates repeating the prayer), then what is obligatory is to perform isti'naf (start over from the beginning), because the prayer was not valid from the very start"

اعْلَمْ أَنَّهُ تُوجَدُ فِي بَعْضِ كُتُبِ الْفِقْهِ عِبَارَةٌ عَامَّةٌ قَدْ تُسْتَعْمَلُ فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، وَهِيَ:

«إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ الْإِمَامَ مُتَلَبِّسًا بِمَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ مُفَارَقَتُهُ وَيُتِمُّ صَلَاتَهُ مُنْفَرِدًا بَانِيًا عَلَى مَا صَلَّاهُ مَعَ الْإِمَامِ».

makmum wajib memutus shalatnya dan mengulangnya dari awal (isti'naf), sebagaimana dijelaskan oleh kaidah dan keterangan para ulama yang telah disebutkan sebelumnya

"The follower must discontinue his prayer and repeat it from the beginning (isti'naf), as explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned previously"

SARUNG IMAM BOLONG KEPERGOK DI TENGAH SHOLAT

photo of sarong has hole

MELIHAT SARUNG IMAM BOLONG DI TENGAH SHALAT
 
Pertanyaan:
 
Apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat di tengah shalat, apakah ia wajib memberitahukan hal tersebut kepada imam? Jika wajib, bagaimana caranya? Apakah cukup berniat mufaraqah (memisahkan diri) lalu melanjutkan shalat sendiri, ataukah wajib memutus dan mengulang shalat dari awal?
 
 
 
Jawaban:
 
Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalat terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulang shalat dari awal (isti'naf), baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.
 
Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh hanya berniat mufaraqah lalu melanjutkan shalatnya, sebagaimana anggapan sebagian orang. Hal ini berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi:
 
"Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang dari awal)."
 
Dalam redaksi lain disebutkan:
 
"Setiap hal yang wajib diulang setelah shalat selesai, apabila diketahui saat shalat masih berlangsung, maka wajib langsung diulang dari awal."
 
KESIMPULAN

Menurut penulis, kesimpulan tersebut kurang tepat untuk kasus sarung bolong. Yang benar adalah wajib memutus shalat dan mengulangnya dari awal, sebagaimana diperjelas oleh kaidah dan keterangan para ulama di atas

ENGLISH

SEEING THE IMAM’S GARMENT HAS A HOLE REVEALING AWRAH DURING PRAYER
 
Question:
 
If a follower (ma'mum) sees that the Imam’s garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts) in the middle of the prayer, is it obligatory for him to inform the Imam? If it is obligatory, how should he do it? Is it enough to simply intend separation (mufaraqah) and continue praying alone, or must he break the prayer and repeat it from the beginning?
 
 
 
Answer:
 
Yes, it is obligatory for the follower to inform the Imam about this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone or joining the congregation again.
 
In this situation, the follower is not allowed to merely intend separation (mufaraqah) and continue the prayer, as some people might assume. This ruling is based on the Islamic legal principle (qa'idah fiqhiyyah) which states:
 
"Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)."
 
In another version, it is stated:
 
"Any matter that would require repeating the prayer after it is finished, if it becomes known while the prayer is still in progress, then it is obligatory to repeat it immediately from the start."
 
 
 
CONCLUSION
 
According to the author, the opinion that allows simply separating and continuing is not correct for the case of a garment with a hole revealing the 'awrah. The correct ruling is that one must stop the prayer and repeat it entirely from the beginning, as clearly explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned above

DALIL

ج:
نَعَمْ، يَجِبُ عَلَيْهِ إِعْلَامُهُ، وَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يَقْطَعَ الصَّلَاةَ أَوَّلًا ثُمَّ يُعْلِمَهُ، وَبَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَأْنِفُ الصَّلَاةَ. وَلَا يَجُوزُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ الِاسْتِمْرَارُ عَلَى صَلَاتِهِ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ كَمَا قَدْ يَتَوَهَّمُ بَعْضُ النَّاسِ، إِذِ الْقَاعِدَةُ: «كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ». وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى: «كُلُّ مَا تَلْزَمُ فِيهِ الْإِعَادَةُ بَعْدَ الْفَرَاغِ إِذَا تَبَيَّنَ فِي الْأَثْنَاءِ يَجِبُ فِيهِ الِاسْتِئْنَافُ

Ya, makmum wajib memberitahukan keadaan tersebut kepada imam. Caranya adalah dengan memutus shalatnya terlebih dahulu, kemudian memberitahu imam, lalu mengulangi shalat dari awal, baik secara munfarid maupun berjamaah kembali.

Dalam kondisi seperti ini, makmum tidak boleh melanjutkan shalatnya dengan niat mufaraqah sebagaimana yang dipahami sebagian orang. Sebab terdapat kaidah:

 "Setiap perkara yang mewajibkan pengulangan shalat (i‘adah), apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka mewajibkan isti'naf (mengulang shalat dari awal)."

Yes, it is obligatory for the follower (ma'mum) to inform the Imam of this situation. The method is to discontinue the prayer first, then inform the Imam, and afterwards repeat the prayer from the beginning (isti'naf), either praying alone (munfarid) or joining the congregation again.
 
In this situation, the follower is not allowed to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah), as some people might understand. This is based on the legal principle which states:
 
"Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting the prayer over from the beginning (isti'naf)"

قَالَ الرَّمْلِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى أَسْنَى الْمَطَالِبِ (١/١٧٢):

«لَوْ رَأَى شَخْصًا يُصَلِّي وَعَلَى ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ بِهَا».

"Apabila seseorang melihat orang yang sedang shalat sementara pada pakaian atau badannya terdapat najis, maka wajib baginya memberitahukan hal tersebut"

"If someone sees a person praying while there is impurity on their clothes or body, then it is obligatory for them to inform them of that"

أَقُولُ: وَكَذَا فِيمَا إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي إِزَارِ الْإِمَامِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ

Demikian pula hukumnya apabila makmum melihat sarung imam bolong hingga menampakkan aurat

The same ruling applies if the follower (ma'mum) sees the Imam's garment has a hole that exposes the 'awrah (intimate parts)

«كُلُّ مَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ، وَلَا يَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ. وَكُلُّ مَا لَا يُوجِبُ الْإِعَادَةَ مِمَّا يَمْنَعُ صِحَّةَ الِاقْتِدَاءِ ابْتِدَاءً عِنْدَ الْعِلْمِ إِذَا طَرَأَ فِي الْأَثْنَاءِ أَوْ ظَهَرَ لَا يُوجِبُ الِاسْتِئْنَافَ، وَيَجُوزُ الِاسْتِمْرَارُ مَعَ نِيَّةِ الْمُفَارَقَةِ».

"[Kaidah] Setiap perkara yang mewajibkan i‘adah, apabila muncul atau diketahui di tengah shalat, maka wajib isti'naf dan tidak boleh meneruskan shalat dengan niat mufaraqah. Adapun perkara yang tidak mewajibkan i‘adah, namun bila diketahui sejak awal menghalangi sahnya bermakmum, maka jika baru diketahui di tengah shalat tidak mewajibkan isti'naf, dan boleh melanjutkan shalat dengan niat mufaraqah"

"[Legal Principle] Any matter that necessitates repeating the prayer (i‘adah), if it occurs or becomes known during the prayer, then it obligates starting over from the beginning (isti'naf) and it is not permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah). As for matters that do not necessitate repeating the prayer, but would have prevented the validity of following the Imam if known from the start if such a matter is only discovered in the middle of the prayer, it does not obligate starting over (isti'naf), and it is permissible to continue the prayer with the intention of separation (mufaraqah)."

«فَإِنْ رَأَى فِي ثَوْبِهِ بَعْدَ الصَّلَاةِ خَرْقًا تَبْدُو مِنْهُ الْعَوْرَةُ فَكَرُؤْيَةِ النَّجَاسَةِ، وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ يُعِيدُ الصَّلَاةَ».

"Apabila seseorang setelah shalat melihat pada pakaiannya terdapat lubang yang menampakkan aurat, maka hukumnya seperti orang yang mengetahui adanya najis setelah shalat, yaitu wajib mengulang shalatnya"

"If a person, after completing the prayer, notices a hole in their garment that reveals the 'awrah (intimate parts), then the ruling is the same as someone who discovers ritual impurity (najasa) on their clothes after praying it is obligatory to repeat the prayer"

> «أَمَّا الظَّاهِرَةُ فَالْوَاجِبُ فِيهَا الِاسْتِئْنَافُ لِعَدَمِ انْعِقَادِ الصَّلَاةِ».

"Adapun pada kasus yang nyata (yang menyebabkan wajib mengulang shalat), maka yang wajib adalah melakukan isti'naf karena shalat tersebut tidak sah sejak awal"

"As for a clear and definite case (which necessitates repeating the prayer), then what is obligatory is to perform isti'naf (start over from the beginning), because the prayer was not valid from the very start"

اعْلَمْ أَنَّهُ تُوجَدُ فِي بَعْضِ كُتُبِ الْفِقْهِ عِبَارَةٌ عَامَّةٌ قَدْ تُسْتَعْمَلُ فِي الْجَوَابِ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، وَهِيَ:

«إِذَا رَأَى الْمَأْمُومُ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ الْإِمَامَ مُتَلَبِّسًا بِمَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ مُفَارَقَتُهُ وَيُتِمُّ صَلَاتَهُ مُنْفَرِدًا بَانِيًا عَلَى مَا صَلَّاهُ مَعَ الْإِمَامِ».

makmum wajib memutus shalatnya dan mengulangnya dari awal (isti'naf), sebagaimana dijelaskan oleh kaidah dan keterangan para ulama yang telah disebutkan sebelumnya

"The follower must discontinue his prayer and repeat it from the beginning (isti'naf), as explained by the legal principles and statements of the scholars mentioned previously"

Sabtu, 30 Mei 2026


AMALAN NABI KHIDIR AGAR SELAMAT DARI DICABUTNYA IMAN
 
Syeikh Abdul Wahhab Sya'rani ra. dalam kitabnya Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla menuturkan kisah luar biasa dari Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri atau Nabi Khidir AS.
 
Beliau menceritakan bahwa beliau pernah bertanya kepada 24 Nabi tentang amalan apa yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari hilangnya atau dicabutnya iman. Namun, tidak satupun dari para Nabi tersebut dapat menjawabnya. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal yang sama.
 
Rasulullah SAW pun menjawab: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya kepada Malaikat Jibril 'alaihis salam."
 
Setelah bertanya, Malaikat Jibril pun berkata: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya langsung kepada Allah SWT."
 
Akhirnya, Allah SWT berfirman bahwa barang siapa yang istiqomah (rutin) membaca bacaan-bacaan berikut ini setelah selesai mengerjakan shalat, maka ia akan selamat dari hilangnya iman:
 
1. Ayat Kursi
2. Ayat Aamanar Rasul (Surat Al-Baqarah ayat terakhir)
3. Surat Ali Imran Ayat 18-19
"Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia... dst"
4. Surat Ali Imran Ayat 26-27
"Katakanlah: 'Wahai Allah, Pemilik kerajaan... dst"
5. Surat Al-Ikhlas
6. Surat An-Nas
7. Surat Al-Falaq
8. Surat Al-Fatihah
 
 
 
📚 Sumber: I'anatut Thalibin, Juz 1, Halaman 185

ENGLISH

THE PRACTICE OF PROPHET KHIDIR TO BE SAFE FROM HAVING FAITH TAKEN AWAY
 
Sheikh Abdul Wahhab Sya'rani (ra) narrates a remarkable story in his book Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla from Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri, also known as Prophet Khidir (AS).
 
He told that he once asked 24 Prophets about what practice can save a servant from losing or having their faith taken away. However, none of those Prophets could answer him. Finally, he met Prophet Muhammad (SAW) and asked the same question.
 
The Messenger of Allah (SAW) replied: "Wait a moment, I will ask Angel Jibril ('alaihis salam)."
 
After inquiring, Angel Jibril said: "Wait a moment, I will ask directly to Allah SWT."
 
Ultimately, Allah SWT revealed that whoever is consistent (istiqomah) in reciting the following verses after completing the prayer, they will be saved from losing their faith:
 
1. Ayat Kursi
2. Ayat Aamanar Rasul (The last verse of Surat Al-Baqarah)
3. Surat Ali Imran Verses 18-19
"Allah bears witness that there is no god but Him..."
4. Surat Ali Imran Verses 26-27
"Say, 'O Allah, Owner of the Kingdom...'"
5. Surat Al-Ikhlas
6. Surat An-Nas
7. Surat Al-Falaq
8. Surat Al-Fatihah
 
 
 
📚 Source: I'anatut Thalibin, Volume 1, Page 185

PRAYER

Surat Ali Imran Ayat 18-19

ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻭَﺃُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ۚ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ ‏(١٨) ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ۗۗ

Surat Ali Imran Ayat 26-27

ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﺗُﺆْﺗِﻲ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗَﻨﺰِﻉُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣِﻤَّﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﻌِﺰُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﺬِﻝُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ۖ ﺑِﻴَﺪِﻙَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ ‏(٢٦) ﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ۖ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻲَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ۖ ﻭَﺗَﺮْﺯُﻕُ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ‏(٢٧)

AMALAN NABI KHIDIR MENJAGA IMAN


AMALAN NABI KHIDIR AGAR SELAMAT DARI DICABUTNYA IMAN
 
Syeikh Abdul Wahhab Sya'rani ra. dalam kitabnya Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla menuturkan kisah luar biasa dari Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri atau Nabi Khidir AS.
 
Beliau menceritakan bahwa beliau pernah bertanya kepada 24 Nabi tentang amalan apa yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari hilangnya atau dicabutnya iman. Namun, tidak satupun dari para Nabi tersebut dapat menjawabnya. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan menanyakan hal yang sama.
 
Rasulullah SAW pun menjawab: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya kepada Malaikat Jibril 'alaihis salam."
 
Setelah bertanya, Malaikat Jibril pun berkata: "Tunggulah sebentar, aku akan bertanya langsung kepada Allah SWT."
 
Akhirnya, Allah SWT berfirman bahwa barang siapa yang istiqomah (rutin) membaca bacaan-bacaan berikut ini setelah selesai mengerjakan shalat, maka ia akan selamat dari hilangnya iman:
 
1. Ayat Kursi
2. Ayat Aamanar Rasul (Surat Al-Baqarah ayat terakhir)
3. Surat Ali Imran Ayat 18-19
"Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia... dst"
4. Surat Ali Imran Ayat 26-27
"Katakanlah: 'Wahai Allah, Pemilik kerajaan... dst"
5. Surat Al-Ikhlas
6. Surat An-Nas
7. Surat Al-Falaq
8. Surat Al-Fatihah
 
 
 
📚 Sumber: I'anatut Thalibin, Juz 1, Halaman 185

ENGLISH

THE PRACTICE OF PROPHET KHIDIR TO BE SAFE FROM HAVING FAITH TAKEN AWAY
 
Sheikh Abdul Wahhab Sya'rani (ra) narrates a remarkable story in his book Addilalah 'Alallah 'Azza wa Jalla from Sayidina Abil 'Abbas Al-Khodhiri, also known as Prophet Khidir (AS).
 
He told that he once asked 24 Prophets about what practice can save a servant from losing or having their faith taken away. However, none of those Prophets could answer him. Finally, he met Prophet Muhammad (SAW) and asked the same question.
 
The Messenger of Allah (SAW) replied: "Wait a moment, I will ask Angel Jibril ('alaihis salam)."
 
After inquiring, Angel Jibril said: "Wait a moment, I will ask directly to Allah SWT."
 
Ultimately, Allah SWT revealed that whoever is consistent (istiqomah) in reciting the following verses after completing the prayer, they will be saved from losing their faith:
 
1. Ayat Kursi
2. Ayat Aamanar Rasul (The last verse of Surat Al-Baqarah)
3. Surat Ali Imran Verses 18-19
"Allah bears witness that there is no god but Him..."
4. Surat Ali Imran Verses 26-27
"Say, 'O Allah, Owner of the Kingdom...'"
5. Surat Al-Ikhlas
6. Surat An-Nas
7. Surat Al-Falaq
8. Surat Al-Fatihah
 
 
 
📚 Source: I'anatut Thalibin, Volume 1, Page 185

PRAYER

Surat Ali Imran Ayat 18-19

ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻭَﺃُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﺴْﻂِ ۚ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ ‏(١٨) ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ۗۗ

Surat Ali Imran Ayat 26-27

ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﺗُﺆْﺗِﻲ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗَﻨﺰِﻉُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣِﻤَّﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﻌِﺰُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﺬِﻝُّ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ۖ ﺑِﻴَﺪِﻙَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ ‏(٢٦) ﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ۖ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻲَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ۖ ﻭَﺗَﺮْﺯُﻕُ ﻣَﻦ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ‏(٢٧)




SEDEKAH DENGAN ILMU ATAU HARTA

 

Setiap orang memiliki kelebihan dan kemampuan yang berbeda-beda. Jika kita memiliki harta yang lebih, maka sedekah terbaik yang bisa kita berikan adalah melalui harta. Namun, jika kita memiliki ilmu yang bermanfaat, maka sedekah yang paling utama adalah menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain (ini yang lebih baik sesuai sabda nabi)

 

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:


"Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim."

(HR. Ibnu Majah)

 

Ilmu yang diamalkan dan diajarkan adalah sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah tiada

 

Setiap bantuan yang diberikan insyaAllah akan menjadi bagian dari penyebaran ilmu dan kebaikan. asal tidak merugikan 

 

 

Sumber: Kitab Salaalimul Fudhala hal. 61


ENGLISH 

CHARITY THROUGH KNOWLEDGE OR WEALTH

 

Everyone has different strengths and capabilities. If we have surplus wealth, then the best charity we can give is through our possessions. However, if we possess beneficial knowledge, then the most superior form of charity is spreading that knowledge to others — and this is considered even better according to the saying of the Prophet.

 

As stated by the Messenger of Allah ﷺ:

 

"The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

(Narrated by Ibn Majah)

 

Knowledge that is practiced and taught is considered Sadaqah Jariyah (continuous charity). Its rewards will keep flowing to us even after we pass away.

 

Every contribution given, Insha Allah, will become part of the effort to spread knowledge and goodness, provided that it does not cause harm to anyone.

 

 

 

Source: Kitab Salaalimul Fudhala page 61


DALIL 


وَقَالَ ﷺ : أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Nabi SAW juga bersabda: 

"Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim"

(HR. Ibnu Majah)

The Prophet (peace be upon him) also said:

 

"The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

(Narrated by Ibn Majah)


SEDEKAH ILMU ATAU HARTA YANG BAGUS?




SEDEKAH DENGAN ILMU ATAU HARTA

 

Setiap orang memiliki kelebihan dan kemampuan yang berbeda-beda. Jika kita memiliki harta yang lebih, maka sedekah terbaik yang bisa kita berikan adalah melalui harta. Namun, jika kita memiliki ilmu yang bermanfaat, maka sedekah yang paling utama adalah menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain (ini yang lebih baik sesuai sabda nabi)

 

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:


"Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim."

(HR. Ibnu Majah)

 

Ilmu yang diamalkan dan diajarkan adalah sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah tiada

 

Setiap bantuan yang diberikan insyaAllah akan menjadi bagian dari penyebaran ilmu dan kebaikan. asal tidak merugikan 

 

 

Sumber: Kitab Salaalimul Fudhala hal. 61


ENGLISH 

CHARITY THROUGH KNOWLEDGE OR WEALTH

 

Everyone has different strengths and capabilities. If we have surplus wealth, then the best charity we can give is through our possessions. However, if we possess beneficial knowledge, then the most superior form of charity is spreading that knowledge to others — and this is considered even better according to the saying of the Prophet.

 

As stated by the Messenger of Allah ﷺ:

 

"The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

(Narrated by Ibn Majah)

 

Knowledge that is practiced and taught is considered Sadaqah Jariyah (continuous charity). Its rewards will keep flowing to us even after we pass away.

 

Every contribution given, Insha Allah, will become part of the effort to spread knowledge and goodness, provided that it does not cause harm to anyone.

 

 

 

Source: Kitab Salaalimul Fudhala page 61


DALIL 


وَقَالَ ﷺ : أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Nabi SAW juga bersabda: 

"Sedekah yang paling utama adalah ketika seorang Muslim mempelajari suatu ilmu, lalu ia mengajarkannya kepada sesama saudaranya yang Muslim"

(HR. Ibnu Majah)

The Prophet (peace be upon him) also said:

 

"The best charity is when a Muslim learns knowledge and then teaches it to his fellow Muslim brother."

(Narrated by Ibn Majah)


Jumat, 29 Mei 2026

 



TIGA CARA ALLAH MENGABULKAN DOA

 

Setiap hamba yang berdoa pasti berharap permintaannya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Namun, tahukah kamu bahwa cara Allah mengabulkan doa itu sangat beragam dan penuh hikmah?

 

Sebagaimana dikemukakan oleh para ulama, setiap doa yang dipanjatkan pada dasarnya akan dikabulkan. Hanya saja, bentuk kabulnya tidak selalu sama dengan apa yang kita bayangkan. Ada lima bentuk kabul doa yang bisa diringkas menjadi tiga cara utama, sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri (Juz 1, Halaman 5):

 

"Setiap doa akan dikabulkan, tetapi dikabulkannya doa itu bermacam-macam..."

 

Berikut adalah penjelasannya:

 

1. Sesuai dengan yang Diminta

 

Cara yang pertama adalah doa dikabulkan secara langsung dan nyata sesuai dengan apa yang kita minta. Saat kita memohon kesehatan, rezeki, atau keberkahan, Allah memberikannya dengan segera di dunia ini. Ini adalah bentuk kabul yang paling sering kita nantikan dan rasakan kebahagiaannya.

 

2. Diganti dengan yang Lebih Baik

 

Kadang kala, doa kita tidak dikabulkan sesuai permintaan, namun Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Bisa jadi apa yang kita minta ternyata tidak baik untuk kita di masa depan, maka Allah menolaknya dan memberi ganti berupa nikmat lain yang lebih besar, baik berupa harta, ketenangan hati, maupun keselamatan.

 

3. Ditunda atau Dibalas dengan Pahala

 

Ada juga doa yang dikabulkan waktunya ditunda, maka disimpan untuk dinikmati di akhirat kelak. atau di ganti dengan di beri pahala. Jadi, meski yang diminta belum tampak, sebenarnya allah menempatkan pada tempat yang layak

 

 

 

Kesimpulan

 

Jadi, jangan pernah merasa putus asa jika doa belum terlihat hasilnya. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Entah diberikan saat ini, diganti dengan yang lebih baik, atau di ganti dengan pahala. yakinlah bahwa doa kita tidak pernah sia-sia.

 

 

 

Sumber: Hasyiyah al-Bajuri, Juz 1, Halaman 5


ENGLISH 

THREE WAYS ALLAH ANSWERS PRAYERS

 

Every servant who prays surely hopes that their request will be heard and answered by Allah SWT. However, did you know that the way Allah answers prayers is diverse and full of wisdom?

 

As stated by the scholars, every prayer that is raised is essentially answered. It is just that the form of the answer is not always exactly as we imagine. There are five forms of answered prayers which can be summarized into three main ways, as mentioned in the book Hasyiyah al-Bajuri (Volume 1, Page 5):

 

"Every prayer is answered, but the way it is answered comes in various forms..."

 

Here is the explanation:

 

1. Exactly as Requested

 

The first way is that the prayer is answered directly and clearly exactly as we asked. When we beg for health, sustenance, or blessings, Allah grants them immediately in this world. This is the form of answer that we most eagerly await and feel happy about.

 

2. Replaced with Something Better

 

Sometimes, our prayer is not answered exactly as requested, but Allah replaces it with something far better. It could be that what we asked for turns out to be bad for us in the future, so Allah prevents it and gives us a replacement in the form of other greater blessings, whether in the form of wealth, peace of heart, or safety.

 

3. Postponed or Rewarded with Good Deeds

 

There are also prayers whose answer is delayed, or stored away to be enjoyed in the Hereafter. Sometimes, it is replaced with great rewards (pahala). So, even though what we asked for has not appeared yet, in truth Allah has placed it in the most appropriate place.

 

 

 

Conclusion

 

So, never feel despair if you do not see the results of your prayers yet. Allah knows best what is good for His servants. Whether it is given now, replaced with something better, or changed into rewards, rest assured that our prayers are never in vain.

 

 

 

Source: Hasyiyah al-Bajuri, Volume 1, Page 5


DALIL 

وقد قالوا: كل دعاء مجاب لكن إما بعين ما طلب او بخير مما طلب إما حالا او مآلا او بثواب يحصل للداعي او بدفع ضر عنه


ulama berkata: Setiap doa dikabulkan, tetapi baik sesuai apa yang diminta, atau dengan sesuatu yang lebih baik dari yang diminta, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau dengan pahala yang diterima oleh orang yang berdoa, atau dengan menjauhkan bahaya darinya


Scholars said: Every prayer is answered, whether exactly as requested, or with something better than what was asked for, whether immediately or later, or with rewards received by the worshiper, or by averting harm from them


CARA TUHAN MENGABULKAN DOA

 



TIGA CARA ALLAH MENGABULKAN DOA

 

Setiap hamba yang berdoa pasti berharap permintaannya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Namun, tahukah kamu bahwa cara Allah mengabulkan doa itu sangat beragam dan penuh hikmah?

 

Sebagaimana dikemukakan oleh para ulama, setiap doa yang dipanjatkan pada dasarnya akan dikabulkan. Hanya saja, bentuk kabulnya tidak selalu sama dengan apa yang kita bayangkan. Ada lima bentuk kabul doa yang bisa diringkas menjadi tiga cara utama, sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri (Juz 1, Halaman 5):

 

"Setiap doa akan dikabulkan, tetapi dikabulkannya doa itu bermacam-macam..."

 

Berikut adalah penjelasannya:

 

1. Sesuai dengan yang Diminta

 

Cara yang pertama adalah doa dikabulkan secara langsung dan nyata sesuai dengan apa yang kita minta. Saat kita memohon kesehatan, rezeki, atau keberkahan, Allah memberikannya dengan segera di dunia ini. Ini adalah bentuk kabul yang paling sering kita nantikan dan rasakan kebahagiaannya.

 

2. Diganti dengan yang Lebih Baik

 

Kadang kala, doa kita tidak dikabulkan sesuai permintaan, namun Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Bisa jadi apa yang kita minta ternyata tidak baik untuk kita di masa depan, maka Allah menolaknya dan memberi ganti berupa nikmat lain yang lebih besar, baik berupa harta, ketenangan hati, maupun keselamatan.

 

3. Ditunda atau Dibalas dengan Pahala

 

Ada juga doa yang dikabulkan waktunya ditunda, maka disimpan untuk dinikmati di akhirat kelak. atau di ganti dengan di beri pahala. Jadi, meski yang diminta belum tampak, sebenarnya allah menempatkan pada tempat yang layak

 

 

 

Kesimpulan

 

Jadi, jangan pernah merasa putus asa jika doa belum terlihat hasilnya. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Entah diberikan saat ini, diganti dengan yang lebih baik, atau di ganti dengan pahala. yakinlah bahwa doa kita tidak pernah sia-sia.

 

 

 

Sumber: Hasyiyah al-Bajuri, Juz 1, Halaman 5


ENGLISH 

THREE WAYS ALLAH ANSWERS PRAYERS

 

Every servant who prays surely hopes that their request will be heard and answered by Allah SWT. However, did you know that the way Allah answers prayers is diverse and full of wisdom?

 

As stated by the scholars, every prayer that is raised is essentially answered. It is just that the form of the answer is not always exactly as we imagine. There are five forms of answered prayers which can be summarized into three main ways, as mentioned in the book Hasyiyah al-Bajuri (Volume 1, Page 5):

 

"Every prayer is answered, but the way it is answered comes in various forms..."

 

Here is the explanation:

 

1. Exactly as Requested

 

The first way is that the prayer is answered directly and clearly exactly as we asked. When we beg for health, sustenance, or blessings, Allah grants them immediately in this world. This is the form of answer that we most eagerly await and feel happy about.

 

2. Replaced with Something Better

 

Sometimes, our prayer is not answered exactly as requested, but Allah replaces it with something far better. It could be that what we asked for turns out to be bad for us in the future, so Allah prevents it and gives us a replacement in the form of other greater blessings, whether in the form of wealth, peace of heart, or safety.

 

3. Postponed or Rewarded with Good Deeds

 

There are also prayers whose answer is delayed, or stored away to be enjoyed in the Hereafter. Sometimes, it is replaced with great rewards (pahala). So, even though what we asked for has not appeared yet, in truth Allah has placed it in the most appropriate place.

 

 

 

Conclusion

 

So, never feel despair if you do not see the results of your prayers yet. Allah knows best what is good for His servants. Whether it is given now, replaced with something better, or changed into rewards, rest assured that our prayers are never in vain.

 

 

 

Source: Hasyiyah al-Bajuri, Volume 1, Page 5


DALIL 

وقد قالوا: كل دعاء مجاب لكن إما بعين ما طلب او بخير مما طلب إما حالا او مآلا او بثواب يحصل للداعي او بدفع ضر عنه


ulama berkata: Setiap doa dikabulkan, tetapi baik sesuai apa yang diminta, atau dengan sesuatu yang lebih baik dari yang diminta, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau dengan pahala yang diterima oleh orang yang berdoa, atau dengan menjauhkan bahaya darinya


Scholars said: Every prayer is answered, whether exactly as requested, or with something better than what was asked for, whether immediately or later, or with rewards received by the worshiper, or by averting harm from them



QURBAN DI BAGIKAN TO NON MUSLIM

- Hukum: Memberikan daging kurban kepada non-Muslim diperbolehkan menurut sebagian ulama, karena berkurban merupakan bentuk sedekah dan tidak ada larangan memberi sedekah kepada non-Muslim (al hasanul basry dari imam malik madzab syafi'i membolehkan)
- Syarat:
1. Non-Muslim tersebut bukan kafir harbi (tidak memusuhi atau memerangi umat Islam).
2. Hewan kurban tersebut adalah kurban sunah, bukan kurban wajib.
- Dasar Pendapat: Berlandaskan pendapat dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah yang menyatakan boleh memberikan makanan dari hewan kurban kepada orang kafir dzimmi (non muslim tinggal di kekuasaannya orang muslim).
- Pendapat Lain: Ada juga ulama yang berpendapat tidak boleh memberikan daging kurban kepada non-Muslim secara mutlak.
- Alasan Pendapat Larangan: Tujuan kurban adalah sebagai dhiyafatullah (jamuan Allah) khusus untuk kaum Muslimin untuk menunjukkan kasih sayang sesama umat Islam

ENGLISH

DISTRIBUTING QURBAN MEAT TO NON-MUSLIMS
 
- Ruling: Giving qurbani meat to non-Muslims is permissible according to some scholars, because qurbani is a form of charity (sadaqah), and there is no prohibition against giving charity to non-Muslims. (Views of Al-Hasan al-Basri, Imam Malik, and the Shafi'i madhhab allow this).
- Conditions:
 
1. The non-Muslims are not "Kafir Harbi" (those who are hostile or fight against Muslims).
2. The qurbani being given is voluntary (Sunnah), not obligatory qurbani.
 
- Basis of Opinion: Based on the view in the book Al-Mughni by Ibn Qudamah, which states that it is permissible to give food from qurbani animals to Kafir Dzimmi (non-Muslims living under Muslim rule/protection).
- Other Views: Some scholars hold the opinion that it is not permissible to give qurbani meat to non-Muslims unconditionally.
- Reason for Prohibition View: The purpose of qurbani is considered as Dhiyafatullah (the hospitality/feast of Allah) specifically for Muslims, to express compassion among fellow believers.
 
 
 
IMPORTANT
 
To avoid making mistakes, it is better to follow the opinion of the majority of Indonesian scholars

QURBAN DI BAGIKAN KE NON MUSLIM.. BOLEH A?


QURBAN DI BAGIKAN TO NON MUSLIM

- Hukum: Memberikan daging kurban kepada non-Muslim diperbolehkan menurut sebagian ulama, karena berkurban merupakan bentuk sedekah dan tidak ada larangan memberi sedekah kepada non-Muslim (al hasanul basry dari imam malik madzab syafi'i membolehkan)
- Syarat:
1. Non-Muslim tersebut bukan kafir harbi (tidak memusuhi atau memerangi umat Islam).
2. Hewan kurban tersebut adalah kurban sunah, bukan kurban wajib.
- Dasar Pendapat: Berlandaskan pendapat dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah yang menyatakan boleh memberikan makanan dari hewan kurban kepada orang kafir dzimmi (non muslim tinggal di kekuasaannya orang muslim).
- Pendapat Lain: Ada juga ulama yang berpendapat tidak boleh memberikan daging kurban kepada non-Muslim secara mutlak.
- Alasan Pendapat Larangan: Tujuan kurban adalah sebagai dhiyafatullah (jamuan Allah) khusus untuk kaum Muslimin untuk menunjukkan kasih sayang sesama umat Islam

ENGLISH

DISTRIBUTING QURBAN MEAT TO NON-MUSLIMS
 
- Ruling: Giving qurbani meat to non-Muslims is permissible according to some scholars, because qurbani is a form of charity (sadaqah), and there is no prohibition against giving charity to non-Muslims. (Views of Al-Hasan al-Basri, Imam Malik, and the Shafi'i madhhab allow this).
- Conditions:
 
1. The non-Muslims are not "Kafir Harbi" (those who are hostile or fight against Muslims).
2. The qurbani being given is voluntary (Sunnah), not obligatory qurbani.
 
- Basis of Opinion: Based on the view in the book Al-Mughni by Ibn Qudamah, which states that it is permissible to give food from qurbani animals to Kafir Dzimmi (non-Muslims living under Muslim rule/protection).
- Other Views: Some scholars hold the opinion that it is not permissible to give qurbani meat to non-Muslims unconditionally.
- Reason for Prohibition View: The purpose of qurbani is considered as Dhiyafatullah (the hospitality/feast of Allah) specifically for Muslims, to express compassion among fellow believers.
 
 
 
IMPORTANT
 
To avoid making mistakes, it is better to follow the opinion of the majority of Indonesian scholars

Photo of gus maksum's lirboyo

PESAN BIJAK ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
 
KH. Abdullah Ma'shum Djauhari atau yang akrab disapa Gus Ma'shum Lirboyo, adalah sosok guru besar sekaligus pendiri organisasi pencak silat Pagar Nusa (PN). Beliau pernah menyampaikan pesan-pesan mulia yang sangat berharga bagi kita semua:
 
1. Hormati Guru dan Orang Tua
 
"Di dunia ini ada dua sosok yang paling hebat dan sakti: yang pertama adalah Guru, dan yang kedua adalah Orang Tua. Maka, barangsiapa yang ingin hidupnya penuh keberkahan, jangan sekali-kali membuat mereka murka atau kecewa."
 
2. Hindari Kecurangan
 
"Jauhilah segala bentuk tipu daya dan rayuan suap yang sering dibungkus dengan kata-kata manis seperti 'hadiah'. Sebab, hal itulah yang menjadi faktor utama yang menghambat dan merusak perjuangan kita."
 
3. Jujur dan Berani
 
"Jangan pernah memiliki sifat pengecut dan munafik, apalagi bersikap seperti 'maling teriak maling'. Jangan pula meninggikan diri sendiri dengan cara menjatuhkan teman atau kawan sendiri. Jadilah seorang pemimpin yang jujur dan berlaku adil"

ENGLISH

WISE MESSAGES FROM ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
 
KH. Abdullah Ma'shum Djauhari, affectionately known as Gus Ma'shum Lirboyo, is a great scholar and also the founder of the Pagar Nusa (PN) martial arts organization. He once conveyed these noble and valuable messages for all of us:
 
1. Respect Teachers and Parents
 
"In this world, there are two most powerful and great figures: the first is the Teacher, and the second is the Parent. Therefore, whoever wishes for their life to be filled with blessings, must never make them angry or disappointed."
 
2. Avoid Deception and Bribery
 
"Stay away from all forms of deception and bribery, which are often wrapped in sweet words such as 'gifts'. Because, that is the main factor that hinders and damages our struggle and efforts."
 
3. Be Honest and Brave
 
"Never have a cowardly and hypocritical nature, let alone act like 'a thief shouting thief' (blaming others to cover own mistakes). Do not elevate yourself by bringing down your friends or colleagues. Be a leader who is honest and fair"

PESAN SUKSES DARI GUS MAKSUM LIRBOYO

Photo of gus maksum's lirboyo

PESAN BIJAK ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
 
KH. Abdullah Ma'shum Djauhari atau yang akrab disapa Gus Ma'shum Lirboyo, adalah sosok guru besar sekaligus pendiri organisasi pencak silat Pagar Nusa (PN). Beliau pernah menyampaikan pesan-pesan mulia yang sangat berharga bagi kita semua:
 
1. Hormati Guru dan Orang Tua
 
"Di dunia ini ada dua sosok yang paling hebat dan sakti: yang pertama adalah Guru, dan yang kedua adalah Orang Tua. Maka, barangsiapa yang ingin hidupnya penuh keberkahan, jangan sekali-kali membuat mereka murka atau kecewa."
 
2. Hindari Kecurangan
 
"Jauhilah segala bentuk tipu daya dan rayuan suap yang sering dibungkus dengan kata-kata manis seperti 'hadiah'. Sebab, hal itulah yang menjadi faktor utama yang menghambat dan merusak perjuangan kita."
 
3. Jujur dan Berani
 
"Jangan pernah memiliki sifat pengecut dan munafik, apalagi bersikap seperti 'maling teriak maling'. Jangan pula meninggikan diri sendiri dengan cara menjatuhkan teman atau kawan sendiri. Jadilah seorang pemimpin yang jujur dan berlaku adil"

ENGLISH

WISE MESSAGES FROM ROMO KH. ABDULLOH MA'SHUM DJAUHARI LIRBOYO
 
KH. Abdullah Ma'shum Djauhari, affectionately known as Gus Ma'shum Lirboyo, is a great scholar and also the founder of the Pagar Nusa (PN) martial arts organization. He once conveyed these noble and valuable messages for all of us:
 
1. Respect Teachers and Parents
 
"In this world, there are two most powerful and great figures: the first is the Teacher, and the second is the Parent. Therefore, whoever wishes for their life to be filled with blessings, must never make them angry or disappointed."
 
2. Avoid Deception and Bribery
 
"Stay away from all forms of deception and bribery, which are often wrapped in sweet words such as 'gifts'. Because, that is the main factor that hinders and damages our struggle and efforts."
 
3. Be Honest and Brave
 
"Never have a cowardly and hypocritical nature, let alone act like 'a thief shouting thief' (blaming others to cover own mistakes). Do not elevate yourself by bringing down your friends or colleagues. Be a leader who is honest and fair"

photo of habib lutfi bin yahya


ADAB MAKAN DAN MINUM MENURUT SYEKH ABDUL MALIK
 
Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan adalah salah satu murid kesayangan Syekh Abdul Malik. Beliau pernah menceritakan kebiasaan indah gurunya tersebut:
 
"Ketika hendak makan dan minum, Syekh Abdul Malik selalu memastikan penampilannya rapi. Beliau minimal mengenakan baju koko atau kaos berlengan panjang serta sarung. Dan apabila ada nasi yang jatuh, selama masih bersih dan tidak membahayakan (tidak madhorot), beliau akan mengambil dan memakannya."
 
Mengetahui adab yang begitu tinggi tersebut, Habib Luthfi pun bertanya langsung tentang landasan dan alasannya.
 
Syekh Abdul Malik pun menjelaskan dengan bijak:
 
"Cara seperti ini bukanlah karena kami mengagung-agungkan atau menyembah makanan. Makanan dan minuman hanyalah makhluk Allah Ta'ala sama seperti yang lainnya. Namun, kami melakukan semua ini semata-mata karena kami ingin menghargai Sang Pemberi Rizki"

ENGLISH

ETIQUETTE OF EATING AND DRINKING ACCORDING TO SHEIKH ABDUL MALIK
 
Habib Luthfi bin Yahya from Pekalongan is one of the beloved students of Sheikh Abdul Malik. He once shared the beautiful habits of his teacher:
 
"When about to eat and drink, Sheikh Abdul Malik always ensured he looked neat and presentable. At the very least, he would wear a long-sleeved shirt or tunic and a sarong. And if any rice fell on the ground, as long as it was still clean and safe to eat (not harmful/not mudharat), he would pick it up and eat it."
 
Seeing such noble manners, Habib Luthfi asked his teacher directly about the reason and basis behind this practice.
 
Sheikh Abdul Malik then explained with great wisdom:
 
"This way of doing things is not because we glorify or worship the food. Food and drink are simply creatures of Allah Ta'ala, just like anything else. However, we do all this simply because we want to respect and honor The One Who Provides the Sustenance"

ADAB MAKAN MINUM MENURUT HABIB

photo of habib lutfi bin yahya


ADAB MAKAN DAN MINUM MENURUT SYEKH ABDUL MALIK
 
Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan adalah salah satu murid kesayangan Syekh Abdul Malik. Beliau pernah menceritakan kebiasaan indah gurunya tersebut:
 
"Ketika hendak makan dan minum, Syekh Abdul Malik selalu memastikan penampilannya rapi. Beliau minimal mengenakan baju koko atau kaos berlengan panjang serta sarung. Dan apabila ada nasi yang jatuh, selama masih bersih dan tidak membahayakan (tidak madhorot), beliau akan mengambil dan memakannya."
 
Mengetahui adab yang begitu tinggi tersebut, Habib Luthfi pun bertanya langsung tentang landasan dan alasannya.
 
Syekh Abdul Malik pun menjelaskan dengan bijak:
 
"Cara seperti ini bukanlah karena kami mengagung-agungkan atau menyembah makanan. Makanan dan minuman hanyalah makhluk Allah Ta'ala sama seperti yang lainnya. Namun, kami melakukan semua ini semata-mata karena kami ingin menghargai Sang Pemberi Rizki"

ENGLISH

ETIQUETTE OF EATING AND DRINKING ACCORDING TO SHEIKH ABDUL MALIK
 
Habib Luthfi bin Yahya from Pekalongan is one of the beloved students of Sheikh Abdul Malik. He once shared the beautiful habits of his teacher:
 
"When about to eat and drink, Sheikh Abdul Malik always ensured he looked neat and presentable. At the very least, he would wear a long-sleeved shirt or tunic and a sarong. And if any rice fell on the ground, as long as it was still clean and safe to eat (not harmful/not mudharat), he would pick it up and eat it."
 
Seeing such noble manners, Habib Luthfi asked his teacher directly about the reason and basis behind this practice.
 
Sheikh Abdul Malik then explained with great wisdom:
 
"This way of doing things is not because we glorify or worship the food. Food and drink are simply creatures of Allah Ta'ala, just like anything else. However, we do all this simply because we want to respect and honor The One Who Provides the Sustenance"

Selasa, 26 Mei 2026




MEMAHAMI POLA PIKIR WAHANA GAK NGOPI YA

Sangat wajar dan manusiawi sekali jika di usia 24 tahun kamu mulai sering merenung, berpikir, dan mempertanyakan arti kedewasaan. Di usia ini, kamu berada di persimpangan jalan antara masa muda yang bebas dan fase kehidupan yang lebih serius. Namun, ada satu kesalahpahaman besar yang perlu kita luruskan dari awal dengan nada santai: Menjadi dewasa saat menginjak usia 30-an itu sama sekali bukan berarti kamu kehilangan minat untuk bahagia, berlibur, atau bersenang-senang.

 

Bukan wahana permainan, taman hiburan, atau keramaian yang tiba-tiba menjadi tidak menarik. Masalahnya bukan pada tempat atau kegiatannya, melainkan pada bagaimana energi, waktu, dan skala prioritas di dalam diri kita perlahan bergeser seiring bertambahnya usia. Mari kita bedah satu per satu perbedaan pola pikir ini, supaya kamu bisa memahami apa yang sebenarnya ada di dalam kepala orang berusia 30-an, tanpa merasa tertekan atau memaksakan diri untuk menjadi orang yang kaku dan membosankan.

 

1. Kenapa Orang Dewasa Lebih Suka Ngopi Santai Daripada Keliling Wahana?

 

Sering kali kita melihat fenomena di mana teman-teman yang menginjak usia 30-an lebih memilih mengajak ngopi berjam-jam di kedai tenang, dibandingkan menghabiskan seharian penuh bermain di taman hiburan. Pergeseran kebiasaan ini sebenarnya sangat logis dan ilmiah jika kita lihat dari sisi manajemen energi, kebutuhan tubuh, hingga kondisi mental.

 

Manajemen Energi: Baterai Sosial dan Fisik yang Berubah

Di usia 20-an awal seperti kamu sekarang, tubuh rasanya seperti mesin yang tak pernah lelah. Kamu bisa bangun pagi, beraktivitas seharian, begadang sampai dini hari, dan besoknya sudah segar kembali. Namun, saat memasuki usia 30-an, tubuh perlahan memberi sinyal berbeda. Fisik tidak lagi se-prima dulu. Naik wahana seperti roller coaster yang memacu adrenalin, atau antre berjam-jam di bawah terik matahari hanya demi sensasi 3 menit, sering kali terasa sangat menguras tenaga. Istilah "encok", pegal-pegal, dan rasa capek yang lama hilang itu benar-benar nyata.

 

Sebaliknya, duduk santai menikmati kopi menawarkan kenyamanan fisik yang konstan. Tidak ada guncangan, tidak ada kepanasan, dan tubuh bisa rileks sepenuhnya. Ini bukan soal tidak suka seru-seruan, tapi tubuh mulai lebih memilih efisiensi energi: “Apakah kelelahan sebesar ini sepadan dengan kesenangan yang didapat?”

 

Kebutuhan "Downtime" Bukan "Stimulasi"

Pola pikir orang muda cenderung mencari stimulasi tinggi. Kamu mencari adrenalin, keramaian, suasana ramai, foto yang bagus, dan pengalaman yang terlihat seru. Kamu sedang membangun memori, mengeksplorasi dunia, dan mencari validasi bahwa kamu hidup dengan penuh warna.

 

Sedangkan orang usia 30-an, mereka sudah kenyang dengan semua stimulasi itu. Lebih dari itu, mereka juga sudah kenyang dengan tekanan hidup—pekerjaan yang menumpuk, tanggung jawab rumah tangga, cicilan, dan tekanan sosial. Di titik ini, kebutuhan utama mereka bukan lagi menaikkan tempo hidup, melainkan dekompresi atau menurunkan tekanan. Mereka mencari ketenangan, kedamaian, dan waktu untuk menenangkan sistem saraf. Bagi mereka, duduk diam sambil menyeruput kopi adalah cara ampuh untuk me-reset pikiran, sesuatu yang tidak bisa didapatkan di tengah suara bising dan teriakan wahana permainan.

 

Kualitas Koneksi dan Obrolan

Ada juga perbedaan cara mereka bersosialisasi. Di wahana permainan, interaksi kamu lebih banyak berupa teriakan, tawa kaget, dan kegembiraan sesaat. Itu seru, tapi dangkal. Di kedai kopi, suasananya mengundang percakapan. Orang dewasa mulai mencari koneksi interpersonal yang lebih dalam, diskusi yang bermakna, atau sekadar kebersamaan tenang di mana kamu bisa saling mendengar. Kadang, mereka juga mencari waktu sendirian atau me time, duduk diam sambil membaca buku atau menatap jalanan, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan di tempat wisata yang padat.

 

2. Apakah Benar Orang Usia 30-an Sudah "Gak Minat Liburan"?

 

Jawabannya tegas: Sama sekali tidak. Jangan pernah berpikir bahwa bertambahnya usia membuat seseorang membenci liburan atau benci jalan-jalan. Itu mitos belaka. Yang sebenarnya terjadi adalah mereka mengubah definisi dari kata "liburan" itu sendiri. Cara mereka menikmati waktu luang berubah drastis dari sekadar "pergi ke banyak tempat" menjadi "bagaimana cara terbaik mengisi ulang energi".

 

Berikut adalah gambaran jelas perbedaan gaya liburan antara pola pikir usia muda dengan pola pikir usia matang:

 

- Tujuan Utama

Di usia 20-an, liburan itu identik dengan berburu pengalaman baru. Kamu ingin mencoba segalanya: naik wahana ekstrem, mendaki gunung, makan makanan lokal yang unik, berfoto di setiap sudut ikonik, hingga berjalan kaki jauh keliling kota. Konsepnya adalah petualangan, eksplorasi, dan menciptakan momen seru sebanyak-banyaknya.

Di usia 30-an, tujuan liburan bergeser total. Fokus utamanya adalah istirahat, relaksasi, dan kesehatan mental. Kamu pergi bukan untuk melelahkan diri, tapi untuk memulihkan diri. Liburan jadi momen untuk lari sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan, bukan menambah kepenatan.

- Tempo dan Jadwal

Gaya liburan usia muda cenderung padat merayap. Jadwal disusun sangat rapi, dari matahari terbit sampai tengah malam kamu terus bergerak mengunjungi daftar tempat yang panjang sekali. Rasanya rugi kalau sehari hanya di satu tempat.

Sebaliknya, orang usia 30-an menyukai tempo yang sangat santai. Bangun tidur tidak perlu buru-buru, sarapan pelan-pelan, lalu kembali tidur atau duduk santai di teras. Mereka rela menghabiskan 3 hari penuh hanya di satu resor atau satu pantai saja. Bagi mereka, liburan itu berarti bebas dari jadwal, bukan terikat jadwal baru.

- Prioritas Pengeluaran Dana

Saat muda, strateginya adalah "hemat di akomodasi demi banyak jalan". Kamu rela tidur di tempat sederhana, naik transportasi umum yang ribet, atau jalan kaki jauh, asalkan uangnya cukup untuk masuk ke tempat wisata lain atau beli oleh-oleh.

Di usia 30-an, prioritas beralih ke kenyamanan. Kamu tidak lagi ragu membayar lebih mahal demi kamar hotel yang bersih dan nyaman, penerbangan langsung tanpa transit, atau layanan yang memudahkan. Prinsipnya sederhana: "Uang bisa dicari, tapi tenaga dan waktu libur terbatas. Kenapa harus disiksa?"

- Esensi Liburan

Singkatnya, liburan di usia 20-an adalah tentang pelarian dan petualangan (Escape & Adventure). Kamu ingin melihat dunia. Sedangkan liburan di usia 30-an adalah tentang penyembuhan dan pengisian ulang energi (Healing & Recharge). Kamu ingin kembali ke dunia nyata dengan jiwa yang lebih segar.

 

Intinya, orang usia 30-an tetap liburan, tapi mereka lebih memilih duduk tenang menikmati suasana hutan di Ubud, bersantai di tepi kolam renang seharian, atau duduk di pinggir pantai sambil membaca buku, daripada berdesak-desakan mengelilingi taman hiburan seharian penuh.

 

3. Cara Menjadi "Dewasa" dengan Cepat di Usia 24 (Tanpa Harus Kehilangan Jiwa Muda)

 

Banyak orang salah kaprah: mereka berpikir cara terlihat dewasa di usia 24 adalah dengan berpura-pura tidak suka hal-hal seru, membatasi diri, atau menjadi kaku seperti orang tua. Padahal, memaksakan diri membenci liburan, musik keras, atau wahana permainan tidak akan otomatis membuatmu menjadi orang dewasa yang bijaksana. Itu hanya akan membuatmu melewatkan fase emas masa muda yang seharusnya kamu nikmati.

 

Kedewasaan sejati ala usia 30-an itu bukan terletak pada tempat kamu nongkrong atau apa yang kamu lakukan saat liburan. Kedewasaan itu terletak pada pola pikir (mindset) dan bagaimana kamu mengelola hidup. Jika kamu ingin mengadopsi kematangan emosional dan mental seperti orang usia 30-an mulai dari sekarang, di usia 24 ini, fokuslah pada hal-hal mendasar ini:

 

Pahami Skala Prioritas dan Finansial

Tanda utama kedewasaan adalah kemampuan berpikir jangka panjang. Orang dewasa tidak bertindak impulsif. Mereka tahu persis kapan waktunya membelanjakan uang untuk kesenangan, dan kapan waktunya menabung serta berinvestasi untuk masa depan. Jika di usia 24 kamu sudah mulai memikirkan dana darurat, asuransi, rencana karier, dan cara mengelola gaji dengan bijak, percayalah, kamu sudah jauh lebih dewasa dibandingkan rata-rata orang seumuranmu.

 

Berdamai dengan Keheningan dan Kesendirian

Dunia muda sangat bising dan penuh keramaian. Namun, seiring bertambahnya kedewasaan, kemampuan untuk nyaman sendirian menjadi hal yang sangat mahal harganya. Belajarlah untuk duduk diam, menikmati keheningan, dan merasa tenang tanpa harus selalu mengejar hiburan atau mencari validasi dari orang lain. Kemampuan berpikir jernih saat kamu sedang diam sendirian adalah ciri khas kematangan emosional yang tinggi.

 

Selektif Memilih Lingkaran Pertemanan

Kamu akan sadar nanti, bahwa makin dewasa jumlah temanmu makin sedikit, tapi kualitasnya makin tinggi. Di usia 30-an, kamu mulai berhenti berteman dengan siapa saja hanya karena "biar punya teman". Kamu mulai memilah dan memilih. Kamu lebih menghargai kehadiran orang-orang yang membawa kedamaian, ketenangan, dan energi positif, daripada orang-orang yang hanya membawa drama, gosip, atau persaingan tidak sehat. Kualitas selalu menang atas kuantitas.

 

Kurangi FOMO, Bangun JOMO

Di usia muda, kita sering dikuasai rasa takut ketinggalan tren, takut tidak diajak, atau takut tidak ikut acara seru—ini yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Namun, orang yang sudah matang mentalnya justru memiliki JOMO (Joy of Missing Out), yaitu kebahagiaan saat melewatkan hal-hal tersebut. Mereka merasa bahagia dan tenang justru karena memilih tidur lebih awal di malam Jumat, menolak undangan yang melelahkan, atau melewatkan tren viral yang sebentar lagi hilang. Mereka nyaman dengan pilihan hidupnya sendiri.

 

✨ Pesan Terakhir untuk Kamu di Usia 24

 

Jangan terburu-buru mematikan rasa ingin tahu, semangat, dan jiwa petualangmu hanya karena ingin dianggap dewasa. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi bosan, kaku, dan serius terus-menerus.

 

Nikmati setiap prosesnya. Kamu berhak memiliki kebijaksanaan berpikir ala usia 30-an dalam mengelola emosi, keuangan, dan masa depan, sambil tetap memiliki energi, semangat, dan rasa penasaran khas usia 24 tahun untuk terus menjelajahi dunia. Jadilah orang muda yang bijaksana, bukan orang tua yang kesepian.

POLA PIKIR DEWASA 1




MEMAHAMI POLA PIKIR WAHANA GAK NGOPI YA

Sangat wajar dan manusiawi sekali jika di usia 24 tahun kamu mulai sering merenung, berpikir, dan mempertanyakan arti kedewasaan. Di usia ini, kamu berada di persimpangan jalan antara masa muda yang bebas dan fase kehidupan yang lebih serius. Namun, ada satu kesalahpahaman besar yang perlu kita luruskan dari awal dengan nada santai: Menjadi dewasa saat menginjak usia 30-an itu sama sekali bukan berarti kamu kehilangan minat untuk bahagia, berlibur, atau bersenang-senang.

 

Bukan wahana permainan, taman hiburan, atau keramaian yang tiba-tiba menjadi tidak menarik. Masalahnya bukan pada tempat atau kegiatannya, melainkan pada bagaimana energi, waktu, dan skala prioritas di dalam diri kita perlahan bergeser seiring bertambahnya usia. Mari kita bedah satu per satu perbedaan pola pikir ini, supaya kamu bisa memahami apa yang sebenarnya ada di dalam kepala orang berusia 30-an, tanpa merasa tertekan atau memaksakan diri untuk menjadi orang yang kaku dan membosankan.

 

1. Kenapa Orang Dewasa Lebih Suka Ngopi Santai Daripada Keliling Wahana?

 

Sering kali kita melihat fenomena di mana teman-teman yang menginjak usia 30-an lebih memilih mengajak ngopi berjam-jam di kedai tenang, dibandingkan menghabiskan seharian penuh bermain di taman hiburan. Pergeseran kebiasaan ini sebenarnya sangat logis dan ilmiah jika kita lihat dari sisi manajemen energi, kebutuhan tubuh, hingga kondisi mental.

 

Manajemen Energi: Baterai Sosial dan Fisik yang Berubah

Di usia 20-an awal seperti kamu sekarang, tubuh rasanya seperti mesin yang tak pernah lelah. Kamu bisa bangun pagi, beraktivitas seharian, begadang sampai dini hari, dan besoknya sudah segar kembali. Namun, saat memasuki usia 30-an, tubuh perlahan memberi sinyal berbeda. Fisik tidak lagi se-prima dulu. Naik wahana seperti roller coaster yang memacu adrenalin, atau antre berjam-jam di bawah terik matahari hanya demi sensasi 3 menit, sering kali terasa sangat menguras tenaga. Istilah "encok", pegal-pegal, dan rasa capek yang lama hilang itu benar-benar nyata.

 

Sebaliknya, duduk santai menikmati kopi menawarkan kenyamanan fisik yang konstan. Tidak ada guncangan, tidak ada kepanasan, dan tubuh bisa rileks sepenuhnya. Ini bukan soal tidak suka seru-seruan, tapi tubuh mulai lebih memilih efisiensi energi: “Apakah kelelahan sebesar ini sepadan dengan kesenangan yang didapat?”

 

Kebutuhan "Downtime" Bukan "Stimulasi"

Pola pikir orang muda cenderung mencari stimulasi tinggi. Kamu mencari adrenalin, keramaian, suasana ramai, foto yang bagus, dan pengalaman yang terlihat seru. Kamu sedang membangun memori, mengeksplorasi dunia, dan mencari validasi bahwa kamu hidup dengan penuh warna.

 

Sedangkan orang usia 30-an, mereka sudah kenyang dengan semua stimulasi itu. Lebih dari itu, mereka juga sudah kenyang dengan tekanan hidup—pekerjaan yang menumpuk, tanggung jawab rumah tangga, cicilan, dan tekanan sosial. Di titik ini, kebutuhan utama mereka bukan lagi menaikkan tempo hidup, melainkan dekompresi atau menurunkan tekanan. Mereka mencari ketenangan, kedamaian, dan waktu untuk menenangkan sistem saraf. Bagi mereka, duduk diam sambil menyeruput kopi adalah cara ampuh untuk me-reset pikiran, sesuatu yang tidak bisa didapatkan di tengah suara bising dan teriakan wahana permainan.

 

Kualitas Koneksi dan Obrolan

Ada juga perbedaan cara mereka bersosialisasi. Di wahana permainan, interaksi kamu lebih banyak berupa teriakan, tawa kaget, dan kegembiraan sesaat. Itu seru, tapi dangkal. Di kedai kopi, suasananya mengundang percakapan. Orang dewasa mulai mencari koneksi interpersonal yang lebih dalam, diskusi yang bermakna, atau sekadar kebersamaan tenang di mana kamu bisa saling mendengar. Kadang, mereka juga mencari waktu sendirian atau me time, duduk diam sambil membaca buku atau menatap jalanan, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan di tempat wisata yang padat.

 

2. Apakah Benar Orang Usia 30-an Sudah "Gak Minat Liburan"?

 

Jawabannya tegas: Sama sekali tidak. Jangan pernah berpikir bahwa bertambahnya usia membuat seseorang membenci liburan atau benci jalan-jalan. Itu mitos belaka. Yang sebenarnya terjadi adalah mereka mengubah definisi dari kata "liburan" itu sendiri. Cara mereka menikmati waktu luang berubah drastis dari sekadar "pergi ke banyak tempat" menjadi "bagaimana cara terbaik mengisi ulang energi".

 

Berikut adalah gambaran jelas perbedaan gaya liburan antara pola pikir usia muda dengan pola pikir usia matang:

 

- Tujuan Utama

Di usia 20-an, liburan itu identik dengan berburu pengalaman baru. Kamu ingin mencoba segalanya: naik wahana ekstrem, mendaki gunung, makan makanan lokal yang unik, berfoto di setiap sudut ikonik, hingga berjalan kaki jauh keliling kota. Konsepnya adalah petualangan, eksplorasi, dan menciptakan momen seru sebanyak-banyaknya.

Di usia 30-an, tujuan liburan bergeser total. Fokus utamanya adalah istirahat, relaksasi, dan kesehatan mental. Kamu pergi bukan untuk melelahkan diri, tapi untuk memulihkan diri. Liburan jadi momen untuk lari sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan, bukan menambah kepenatan.

- Tempo dan Jadwal

Gaya liburan usia muda cenderung padat merayap. Jadwal disusun sangat rapi, dari matahari terbit sampai tengah malam kamu terus bergerak mengunjungi daftar tempat yang panjang sekali. Rasanya rugi kalau sehari hanya di satu tempat.

Sebaliknya, orang usia 30-an menyukai tempo yang sangat santai. Bangun tidur tidak perlu buru-buru, sarapan pelan-pelan, lalu kembali tidur atau duduk santai di teras. Mereka rela menghabiskan 3 hari penuh hanya di satu resor atau satu pantai saja. Bagi mereka, liburan itu berarti bebas dari jadwal, bukan terikat jadwal baru.

- Prioritas Pengeluaran Dana

Saat muda, strateginya adalah "hemat di akomodasi demi banyak jalan". Kamu rela tidur di tempat sederhana, naik transportasi umum yang ribet, atau jalan kaki jauh, asalkan uangnya cukup untuk masuk ke tempat wisata lain atau beli oleh-oleh.

Di usia 30-an, prioritas beralih ke kenyamanan. Kamu tidak lagi ragu membayar lebih mahal demi kamar hotel yang bersih dan nyaman, penerbangan langsung tanpa transit, atau layanan yang memudahkan. Prinsipnya sederhana: "Uang bisa dicari, tapi tenaga dan waktu libur terbatas. Kenapa harus disiksa?"

- Esensi Liburan

Singkatnya, liburan di usia 20-an adalah tentang pelarian dan petualangan (Escape & Adventure). Kamu ingin melihat dunia. Sedangkan liburan di usia 30-an adalah tentang penyembuhan dan pengisian ulang energi (Healing & Recharge). Kamu ingin kembali ke dunia nyata dengan jiwa yang lebih segar.

 

Intinya, orang usia 30-an tetap liburan, tapi mereka lebih memilih duduk tenang menikmati suasana hutan di Ubud, bersantai di tepi kolam renang seharian, atau duduk di pinggir pantai sambil membaca buku, daripada berdesak-desakan mengelilingi taman hiburan seharian penuh.

 

3. Cara Menjadi "Dewasa" dengan Cepat di Usia 24 (Tanpa Harus Kehilangan Jiwa Muda)

 

Banyak orang salah kaprah: mereka berpikir cara terlihat dewasa di usia 24 adalah dengan berpura-pura tidak suka hal-hal seru, membatasi diri, atau menjadi kaku seperti orang tua. Padahal, memaksakan diri membenci liburan, musik keras, atau wahana permainan tidak akan otomatis membuatmu menjadi orang dewasa yang bijaksana. Itu hanya akan membuatmu melewatkan fase emas masa muda yang seharusnya kamu nikmati.

 

Kedewasaan sejati ala usia 30-an itu bukan terletak pada tempat kamu nongkrong atau apa yang kamu lakukan saat liburan. Kedewasaan itu terletak pada pola pikir (mindset) dan bagaimana kamu mengelola hidup. Jika kamu ingin mengadopsi kematangan emosional dan mental seperti orang usia 30-an mulai dari sekarang, di usia 24 ini, fokuslah pada hal-hal mendasar ini:

 

Pahami Skala Prioritas dan Finansial

Tanda utama kedewasaan adalah kemampuan berpikir jangka panjang. Orang dewasa tidak bertindak impulsif. Mereka tahu persis kapan waktunya membelanjakan uang untuk kesenangan, dan kapan waktunya menabung serta berinvestasi untuk masa depan. Jika di usia 24 kamu sudah mulai memikirkan dana darurat, asuransi, rencana karier, dan cara mengelola gaji dengan bijak, percayalah, kamu sudah jauh lebih dewasa dibandingkan rata-rata orang seumuranmu.

 

Berdamai dengan Keheningan dan Kesendirian

Dunia muda sangat bising dan penuh keramaian. Namun, seiring bertambahnya kedewasaan, kemampuan untuk nyaman sendirian menjadi hal yang sangat mahal harganya. Belajarlah untuk duduk diam, menikmati keheningan, dan merasa tenang tanpa harus selalu mengejar hiburan atau mencari validasi dari orang lain. Kemampuan berpikir jernih saat kamu sedang diam sendirian adalah ciri khas kematangan emosional yang tinggi.

 

Selektif Memilih Lingkaran Pertemanan

Kamu akan sadar nanti, bahwa makin dewasa jumlah temanmu makin sedikit, tapi kualitasnya makin tinggi. Di usia 30-an, kamu mulai berhenti berteman dengan siapa saja hanya karena "biar punya teman". Kamu mulai memilah dan memilih. Kamu lebih menghargai kehadiran orang-orang yang membawa kedamaian, ketenangan, dan energi positif, daripada orang-orang yang hanya membawa drama, gosip, atau persaingan tidak sehat. Kualitas selalu menang atas kuantitas.

 

Kurangi FOMO, Bangun JOMO

Di usia muda, kita sering dikuasai rasa takut ketinggalan tren, takut tidak diajak, atau takut tidak ikut acara seru—ini yang dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Namun, orang yang sudah matang mentalnya justru memiliki JOMO (Joy of Missing Out), yaitu kebahagiaan saat melewatkan hal-hal tersebut. Mereka merasa bahagia dan tenang justru karena memilih tidur lebih awal di malam Jumat, menolak undangan yang melelahkan, atau melewatkan tren viral yang sebentar lagi hilang. Mereka nyaman dengan pilihan hidupnya sendiri.

 

✨ Pesan Terakhir untuk Kamu di Usia 24

 

Jangan terburu-buru mematikan rasa ingin tahu, semangat, dan jiwa petualangmu hanya karena ingin dianggap dewasa. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi bosan, kaku, dan serius terus-menerus.

 

Nikmati setiap prosesnya. Kamu berhak memiliki kebijaksanaan berpikir ala usia 30-an dalam mengelola emosi, keuangan, dan masa depan, sambil tetap memiliki energi, semangat, dan rasa penasaran khas usia 24 tahun untuk terus menjelajahi dunia. Jadilah orang muda yang bijaksana, bukan orang tua yang kesepian.

Senin, 25 Mei 2026


BOLEHKAN UANG MASJID UNTUK SANTUNAN ANAK YATIM?
 
Dalam masalah penggunaan dana masjid, terdapat perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa uang masjid hanya boleh digunakan untuk keperluan fisik masjid saja. Namun, ada pula ulama yang memperluas penggunaannya untuk hal-hal yang bersifat kemaslahatan umum umat.
 
Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:
 
"Masjid adalah institusi yang memiliki hak kepemilikan. Maka tidak boleh mendayagunakan hartanya kecuali untuk kemaslahatan yang kembali kepada masjid itu sendiri atau kepada kaum muslimin secara umum."
 
Berdasarkan pendapat ini, santunan anak yatim, bantuan fakir miskin, duka cita, dan kegiatan sosial lainnya dapat dimasukkan dalam kategori maṣlaḥah ‘āmmah (kemaslahatan umum), terutama jika sejak awal para donatur memaklumi bahwa infak mereka diperuntukkan bagi kepentingan umat melalui masjid.
 
Oleh karena itu, sebagian ulama menyarankan agar penulisan pada kotak amal diperjelas menjadi:
 
"Untuk Kemaslahatan Umum Umat Islam"
 
Dengan demikian, penggunaan dana menjadi lebih luas dan tidak menimbulkan perselisihan mengenai niat para penyumbang.
 
Hal ini juga didasari oleh riwayat:
 
"Nabi ﷺ bertanya: 'Adakah di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?' Abu Bakar menjawab: 'Aku masuk masjid lalu melihat seorang peminta-minta. Aku mengambil sepotong roti yang ada di tangan Abdurrahman dan memberikannya kepadanya.' (HR. Abu Dawud)"
 
Kesimpulan:
Jika santunan anak yatim dilakukan atas nama kemaslahatan umat dan mekanisme pengumpulannya memang dibuka untuk kepentingan sosial umum, maka pendapat yang membolehkannya memiliki landasan yang kuat dari sisi syariat

ENGLISH
 
IS IT PERMISSIBLE TO USE MOSQUE FUNDS FOR ORPHAN AID?
 
Regarding the use of mosque funds, there are differing opinions (khilaf) among scholars.
 
Some scholars are of the view that mosque money should only be used for the physical maintenance and needs of the mosque itself. However, other scholars allow a broader usage for matters that bring general benefit to the Muslim community.
 
As stated in the book Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:
 
"The mosque is an institution that holds ownership rights. Therefore, its wealth may only be utilized for benefits that return to the mosque itself or to the Muslims in general."
 
Based on this view, giving aid to orphans, helping the poor, assisting with funeral costs, and other social activities can be categorized as Maṣlaḥah ‘Āmmah (public welfare). This is especially valid if the donors understand from the beginning that their contributions are intended for the benefit of the community through the mosque.
 
Therefore, some scholars suggest that the label on donation boxes should be clearly written as:
 
"For the General Benefit of the Muslim Community"
 
This way, the usage of funds becomes more flexible and does not cause disputes regarding the intention of the donors.
 
This is also supported by the narration:
 
"The Prophet ﷺ asked: 'Is there anyone among you who has fed a poor person today?' Abu Bakr replied: 'I entered the mosque and saw a beggar. I took a piece of bread that was in the hand of 'Abdur-Rahman and gave it to him.' (Narrated by Abu Dawud)"
 
Conclusion:
 
If aid for orphans is carried out in the name of community benefit, and the collection mechanism is indeed open for general social purposes, then the opinion that permits it has a strong basis in Islamic law

DALIL

> وأن المسجد حر يملك فلا يجوز التصرف فيه إلا بما فيه مصلحة تعود عليه أو على عموم المسلمين

“Masjid adalah institusi yang memiliki hak kepemilikan. Maka tidak boleh mendayagunakan harta masjid kecuali pada kemaslahatan yang kembali kepada masjid atau kepada kaum muslimin secara umum"

"The mosque is an institution that holds ownership rights. Therefore, its wealth may not be utilized except for benefits that return to the mosque itself or to the Muslims in general"

> ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ، ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﷺ: «ﻫﻞ ﻣﻨﻜﻢ ﺃﺣﺪ ﺃﻃﻌﻢ اﻟﻴﻮﻡ ﻣﺴﻜﻴﻨﺎ؟» ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ رضي الله عنه: ﺩﺧﻠﺖ اﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻓﺈﺫا ﺃﻧﺎ ﺑﺴﺎﺋﻞ ﻳﺴﺄﻝ، ﻓﻮﺟﺪﺕ ﻛﺴﺮﺓ ﺧﺒﺰ ﻓﻲ ﻳﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ، ﻓﺄﺧﺬﺗﻬﺎ ﻣﻨﻪ ﻓﺪﻓﻌﺘﻬﺎ ﺇﻟﻴﻪ.

“Nabi ﷺ bertanya: ‘Apakah di antara kalian ada yang memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu Bakar رضي الله عنه menjawab: ‘Aku masuk ke masjid lalu mendapati seorang peminta-minta. Aku melihat ada sepotong roti di tangan Abdurrahman, lalu aku ambil dan aku berikan kepadanya.’” (HR Abu Dawud)

"The Prophet ﷺ asked: 'Is there anyone among you who has fed a poor person today?' Abu Bakr (may Allah be pleased with him) replied: 'I entered the mosque and found a beggar. I saw a piece of bread in the hand of 'Abdur-Rahman, so I took it and gave it to him.' (Narrated by Abu Dawud)"

UANG MASJID UNTUK SANTUNAN ANAK YAITM?


BOLEHKAN UANG MASJID UNTUK SANTUNAN ANAK YATIM?
 
Dalam masalah penggunaan dana masjid, terdapat perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa uang masjid hanya boleh digunakan untuk keperluan fisik masjid saja. Namun, ada pula ulama yang memperluas penggunaannya untuk hal-hal yang bersifat kemaslahatan umum umat.
 
Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:
 
"Masjid adalah institusi yang memiliki hak kepemilikan. Maka tidak boleh mendayagunakan hartanya kecuali untuk kemaslahatan yang kembali kepada masjid itu sendiri atau kepada kaum muslimin secara umum."
 
Berdasarkan pendapat ini, santunan anak yatim, bantuan fakir miskin, duka cita, dan kegiatan sosial lainnya dapat dimasukkan dalam kategori maṣlaḥah ‘āmmah (kemaslahatan umum), terutama jika sejak awal para donatur memaklumi bahwa infak mereka diperuntukkan bagi kepentingan umat melalui masjid.
 
Oleh karena itu, sebagian ulama menyarankan agar penulisan pada kotak amal diperjelas menjadi:
 
"Untuk Kemaslahatan Umum Umat Islam"
 
Dengan demikian, penggunaan dana menjadi lebih luas dan tidak menimbulkan perselisihan mengenai niat para penyumbang.
 
Hal ini juga didasari oleh riwayat:
 
"Nabi ﷺ bertanya: 'Adakah di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?' Abu Bakar menjawab: 'Aku masuk masjid lalu melihat seorang peminta-minta. Aku mengambil sepotong roti yang ada di tangan Abdurrahman dan memberikannya kepadanya.' (HR. Abu Dawud)"
 
Kesimpulan:
Jika santunan anak yatim dilakukan atas nama kemaslahatan umat dan mekanisme pengumpulannya memang dibuka untuk kepentingan sosial umum, maka pendapat yang membolehkannya memiliki landasan yang kuat dari sisi syariat

ENGLISH
 
IS IT PERMISSIBLE TO USE MOSQUE FUNDS FOR ORPHAN AID?
 
Regarding the use of mosque funds, there are differing opinions (khilaf) among scholars.
 
Some scholars are of the view that mosque money should only be used for the physical maintenance and needs of the mosque itself. However, other scholars allow a broader usage for matters that bring general benefit to the Muslim community.
 
As stated in the book Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:
 
"The mosque is an institution that holds ownership rights. Therefore, its wealth may only be utilized for benefits that return to the mosque itself or to the Muslims in general."
 
Based on this view, giving aid to orphans, helping the poor, assisting with funeral costs, and other social activities can be categorized as Maṣlaḥah ‘Āmmah (public welfare). This is especially valid if the donors understand from the beginning that their contributions are intended for the benefit of the community through the mosque.
 
Therefore, some scholars suggest that the label on donation boxes should be clearly written as:
 
"For the General Benefit of the Muslim Community"
 
This way, the usage of funds becomes more flexible and does not cause disputes regarding the intention of the donors.
 
This is also supported by the narration:
 
"The Prophet ﷺ asked: 'Is there anyone among you who has fed a poor person today?' Abu Bakr replied: 'I entered the mosque and saw a beggar. I took a piece of bread that was in the hand of 'Abdur-Rahman and gave it to him.' (Narrated by Abu Dawud)"
 
Conclusion:
 
If aid for orphans is carried out in the name of community benefit, and the collection mechanism is indeed open for general social purposes, then the opinion that permits it has a strong basis in Islamic law

DALIL

> وأن المسجد حر يملك فلا يجوز التصرف فيه إلا بما فيه مصلحة تعود عليه أو على عموم المسلمين

“Masjid adalah institusi yang memiliki hak kepemilikan. Maka tidak boleh mendayagunakan harta masjid kecuali pada kemaslahatan yang kembali kepada masjid atau kepada kaum muslimin secara umum"

"The mosque is an institution that holds ownership rights. Therefore, its wealth may not be utilized except for benefits that return to the mosque itself or to the Muslims in general"

> ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ، ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﷺ: «ﻫﻞ ﻣﻨﻜﻢ ﺃﺣﺪ ﺃﻃﻌﻢ اﻟﻴﻮﻡ ﻣﺴﻜﻴﻨﺎ؟» ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ رضي الله عنه: ﺩﺧﻠﺖ اﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻓﺈﺫا ﺃﻧﺎ ﺑﺴﺎﺋﻞ ﻳﺴﺄﻝ، ﻓﻮﺟﺪﺕ ﻛﺴﺮﺓ ﺧﺒﺰ ﻓﻲ ﻳﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ، ﻓﺄﺧﺬﺗﻬﺎ ﻣﻨﻪ ﻓﺪﻓﻌﺘﻬﺎ ﺇﻟﻴﻪ.

“Nabi ﷺ bertanya: ‘Apakah di antara kalian ada yang memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu Bakar رضي الله عنه menjawab: ‘Aku masuk ke masjid lalu mendapati seorang peminta-minta. Aku melihat ada sepotong roti di tangan Abdurrahman, lalu aku ambil dan aku berikan kepadanya.’” (HR Abu Dawud)

"The Prophet ﷺ asked: 'Is there anyone among you who has fed a poor person today?' Abu Bakr (may Allah be pleased with him) replied: 'I entered the mosque and found a beggar. I saw a piece of bread in the hand of 'Abdur-Rahman, so I took it and gave it to him.' (Narrated by Abu Dawud)"

Jumat, 22 Mei 2026


ALASAN KENAPA EMAS DAN PERAK MENJADI BENDA YANG SANGAT BERHARGA
 
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
 
Ketika Allah SWT menurunkan Nabi Adam AS dari surga ke bumi, segala sesuatu yang ada di sekitarnya merasa sedih. Namun, ada pengecualian pada dua benda, yaitu Emas dan Perak, yang sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih.
 
Melihat hal tersebut, Allah SWT mewahyukan kepada keduanya:
"Sesungguhnya Aku pernah menempatkan kalian bertetangga dengan hamba-Ku (Nabi Adam). Ketika ia diturunkan, semua makhluk bersedih, kecuali kalian berdua. Mengapa demikian?"
 
Emas dan Perak menjawab:
"Wahai Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui. Dulu kami bertetangga dengannya saat ia taat kepada-Mu, maka kami senang. Namun ketika ia bermaksiat dan durhaka kepada-Mu, maka kami tidak bisa bersedih atau menyayanginya lagi."
 
Mendengar jawaban yang tegas dan lurus tersebut, Allah SWT berfirman:
"Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku muliakan kalian berdua, hingga segala sesuatu di muka bumi tidak akan dapat diperoleh kecuali melalui kalian berdua."
 
Hikmah di Balik Kemuliaan Emas dan Perak
 
Emas dan Perak menjadi sangat berharga karena mereka memegang prinsip yang tegas: "Setia pada Ketaatan kepada Allah".
 
Mereka tidak bersedih saat Nabi Adam diturunkan karena mereka tidak mendukung kemaksiatan. Karena sikap tegas inilah, Allah menghargai keduanya dengan menjadikannya standar nilai tertinggi dan alat tukar utama bagi manusia hingga saat ini.
 
✍️ Sumber: Kitab Nashoihul Ibad, Halaman 90, Makalah 27, Bab 5

ENGLISH

WHY GOLD AND SILVER BECAME HIGHLY VALUABLE ITEMS
 
It is narrated that the Prophet Muhammad SAW said:
 
When Allah SWT sent down Prophet Adam AS from Paradise to the earth, everything around him felt deep sadness. However, there were two exceptions: Gold and Silver, who showed no sadness at all.
 
Seeing this, Allah SWT revealed to them:
 
"Indeed, I placed you both as neighbors to My servant (Prophet Adam). When he was sent down, all creatures grieved except you two. Why is that?"
 
Gold and Silver answered:
 
"O our Lord, You know best. We were neighbors with him when he was obedient to You, so we were happy. But when he disobeyed and rebelled against You, we could not feel sadness or affection for him anymore."
 
Upon hearing this firm and upright answer, Allah SWT declared:
 
"By My Majesty and Glory, I will surely honor you both, so that everything on the face of this earth can only be obtained through you both."
 
The Wisdom Behind the Honor of Gold and Silver
 
Gold and Silver became so precious because they held a firm principle: "Loyalty only to Obedience to Allah."
 
They did not grieve when Prophet Adam was sent down because they did not support sin and disobedience. Because of this firm stance, Allah rewarded them by making them the highest standard of value and the main medium of exchange for mankind until today.
 
✍️ Source: Book of Nashoihul Ibad, Page 90, Section 27, Chapter 5

DALIL

رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَمَّا أَهْبَطَ اللّٰهُ آدَمَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ حَزِنَ عَلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ جَاوَرَهُ إِلَّا الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ، فَأَوْحَى اللّٰهُ إِلَيْهِمَا : إِنِّي جَاوَرْتُكُمَا بِعَبْدٍ مِنْ عَبِيدِي ثُمَّ أَهْبَطْتُهُ مِنْ جِوَارِكُمَا، فَحَزِنَ عَلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ جَاوَرَهُ إِلَّا أَنْتُمَا، فَقَالَا : إِلٰهَنَا وَسَيِّدَنَا، أَنْتَ أَعْلَمُ أَنَّكَ جَاوَرْتَنَا بِهِ وَهُوَ لَكَ مُطِيعٌ، فَلَمَّا عَصَاكَ لَمْ نَحْزَنْ عَلَيْهِ، فَأَوْحَى اللّٰهُ إِلَيْهِمَا : وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأُعِزَّنَّكُمَا حَتَّى لَا يَنَالَ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا بِكُمَا ( رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ )

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ketika Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, segala sesuatu yang ada di bumi berduka cita kecuali emas dan perak. Maka Allah mewahyukan kepada mereka: “Aku telah menempatkan salah seorang hamba-Ku di muka bumi, kemudian Aku menurunkannya hidup bersama kalian, dan segala sesuatu yang ada di sana berduka cita kecuali kalian” Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui bahwa Engkau telah membawanya kepada kami dalam keadaan taat kepada-Mu, dan ketika ia durhaka kepada-Mu, kami tidak bisa tidak berduka cita atasnya. Maka Allah mewahyukan kepada mereka: Demi kekuatan dan kemuliaan-Ku, Aku pasti akan memuliakan kalian berdua sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat dicapai kecuali melalui kalian (jual beli dll)"

It is narrated that the Prophet Muhammad ﷺ said:
 
"When Allah sent down Adam from Paradise to the earth, everything on earth mourned for him except Gold and Silver.
 
So Allah revealed to them: 'I have placed one of My servants, and I have brought him to live among you. Everything there mourns for him, except you two. Why is that?'
 
They said: 'O our Lord, You know best. You brought him to us while he was obedient to You. But when he disobeyed You, we could not feel sorrow or affection for him anymore.'
 
Then Allah revealed to them: 'By My Power and Glory, I will surely honor you both, so that nothing can be obtained or achieved except through you' (such as in buying, selling, and transactions)"

SEJARAH AWAL MULA EMAS DAN PERAK BERHARGA


ALASAN KENAPA EMAS DAN PERAK MENJADI BENDA YANG SANGAT BERHARGA
 
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
 
Ketika Allah SWT menurunkan Nabi Adam AS dari surga ke bumi, segala sesuatu yang ada di sekitarnya merasa sedih. Namun, ada pengecualian pada dua benda, yaitu Emas dan Perak, yang sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih.
 
Melihat hal tersebut, Allah SWT mewahyukan kepada keduanya:
"Sesungguhnya Aku pernah menempatkan kalian bertetangga dengan hamba-Ku (Nabi Adam). Ketika ia diturunkan, semua makhluk bersedih, kecuali kalian berdua. Mengapa demikian?"
 
Emas dan Perak menjawab:
"Wahai Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui. Dulu kami bertetangga dengannya saat ia taat kepada-Mu, maka kami senang. Namun ketika ia bermaksiat dan durhaka kepada-Mu, maka kami tidak bisa bersedih atau menyayanginya lagi."
 
Mendengar jawaban yang tegas dan lurus tersebut, Allah SWT berfirman:
"Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku muliakan kalian berdua, hingga segala sesuatu di muka bumi tidak akan dapat diperoleh kecuali melalui kalian berdua."
 
Hikmah di Balik Kemuliaan Emas dan Perak
 
Emas dan Perak menjadi sangat berharga karena mereka memegang prinsip yang tegas: "Setia pada Ketaatan kepada Allah".
 
Mereka tidak bersedih saat Nabi Adam diturunkan karena mereka tidak mendukung kemaksiatan. Karena sikap tegas inilah, Allah menghargai keduanya dengan menjadikannya standar nilai tertinggi dan alat tukar utama bagi manusia hingga saat ini.
 
✍️ Sumber: Kitab Nashoihul Ibad, Halaman 90, Makalah 27, Bab 5

ENGLISH

WHY GOLD AND SILVER BECAME HIGHLY VALUABLE ITEMS
 
It is narrated that the Prophet Muhammad SAW said:
 
When Allah SWT sent down Prophet Adam AS from Paradise to the earth, everything around him felt deep sadness. However, there were two exceptions: Gold and Silver, who showed no sadness at all.
 
Seeing this, Allah SWT revealed to them:
 
"Indeed, I placed you both as neighbors to My servant (Prophet Adam). When he was sent down, all creatures grieved except you two. Why is that?"
 
Gold and Silver answered:
 
"O our Lord, You know best. We were neighbors with him when he was obedient to You, so we were happy. But when he disobeyed and rebelled against You, we could not feel sadness or affection for him anymore."
 
Upon hearing this firm and upright answer, Allah SWT declared:
 
"By My Majesty and Glory, I will surely honor you both, so that everything on the face of this earth can only be obtained through you both."
 
The Wisdom Behind the Honor of Gold and Silver
 
Gold and Silver became so precious because they held a firm principle: "Loyalty only to Obedience to Allah."
 
They did not grieve when Prophet Adam was sent down because they did not support sin and disobedience. Because of this firm stance, Allah rewarded them by making them the highest standard of value and the main medium of exchange for mankind until today.
 
✍️ Source: Book of Nashoihul Ibad, Page 90, Section 27, Chapter 5

DALIL

رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَمَّا أَهْبَطَ اللّٰهُ آدَمَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ حَزِنَ عَلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ جَاوَرَهُ إِلَّا الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ، فَأَوْحَى اللّٰهُ إِلَيْهِمَا : إِنِّي جَاوَرْتُكُمَا بِعَبْدٍ مِنْ عَبِيدِي ثُمَّ أَهْبَطْتُهُ مِنْ جِوَارِكُمَا، فَحَزِنَ عَلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ جَاوَرَهُ إِلَّا أَنْتُمَا، فَقَالَا : إِلٰهَنَا وَسَيِّدَنَا، أَنْتَ أَعْلَمُ أَنَّكَ جَاوَرْتَنَا بِهِ وَهُوَ لَكَ مُطِيعٌ، فَلَمَّا عَصَاكَ لَمْ نَحْزَنْ عَلَيْهِ، فَأَوْحَى اللّٰهُ إِلَيْهِمَا : وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأُعِزَّنَّكُمَا حَتَّى لَا يَنَالَ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا بِكُمَا ( رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ )

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ketika Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, segala sesuatu yang ada di bumi berduka cita kecuali emas dan perak. Maka Allah mewahyukan kepada mereka: “Aku telah menempatkan salah seorang hamba-Ku di muka bumi, kemudian Aku menurunkannya hidup bersama kalian, dan segala sesuatu yang ada di sana berduka cita kecuali kalian” Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui bahwa Engkau telah membawanya kepada kami dalam keadaan taat kepada-Mu, dan ketika ia durhaka kepada-Mu, kami tidak bisa tidak berduka cita atasnya. Maka Allah mewahyukan kepada mereka: Demi kekuatan dan kemuliaan-Ku, Aku pasti akan memuliakan kalian berdua sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat dicapai kecuali melalui kalian (jual beli dll)"

It is narrated that the Prophet Muhammad ﷺ said:
 
"When Allah sent down Adam from Paradise to the earth, everything on earth mourned for him except Gold and Silver.
 
So Allah revealed to them: 'I have placed one of My servants, and I have brought him to live among you. Everything there mourns for him, except you two. Why is that?'
 
They said: 'O our Lord, You know best. You brought him to us while he was obedient to You. But when he disobeyed You, we could not feel sorrow or affection for him anymore.'
 
Then Allah revealed to them: 'By My Power and Glory, I will surely honor you both, so that nothing can be obtained or achieved except through you' (such as in buying, selling, and transactions)"

Kamis, 21 Mei 2026


HUKUM BERMAIN CATUR DALAM ISLAM
 
Pandangan Beragam Ulama
 
Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai hukum bermain catur:
 
- Haram: Menurut tiga imam besar (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal). Namun, ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa tidak ada dalil hadits yang sahih atau hasan yang secara spesifik mengharamkannya. Bahkan, banyak sahabat dan tabi'in (generasi setelah sahabat) yang memainkannya.
- Makruh: Dilihat dari sisi membuang-buang waktu pada hal yang tidak mendatangkan pahala.
- Mubah (Boleh): Berdasarkan kaidah fiqih bahwa asal segala sesuatu adalah boleh, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Selain itu, catur bermanfaat untuk melatih strategi dan kecerdasan layaknya taktik perang.
 
Pendapat Mazhab Syafi'i
 
Dalam Mazhab Syafi'i yang umumnya dianut di Indonesia, hukum bermain catur pada dasarnya adalah BOLEH (Mubah).
 
Namun, hukumnya bisa berubah menjadi HARAM atau MAKRUH jika disertai hal-hal berikut:
 
1. Melalaikan kewajiban: Sampai lupa atau menunda shalat lima waktu.
2. Ada unsur haram: Digunakan untuk judi, taruhan, atau dilakukan sambil meminum khamr.
3. Menyia-nyiakan harta: Sampai mengabaikan pekerjaan dan penghasilan.
4. Menjatuhkan harga diri: Dimainkan di tempat umum atau pinggir jalan yang bisa menurunkan muru'ah (wibawa). Sebaiknya dimainkan di tempat yang tertutup atau sepi.
 
Kesimpulan
 
Bermain catur pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam karena mengandung manfaat untuk mengasah otak, logika, dan strategi. Hukumnya menjadi haram atau makruh hanya karena faktor tambahan, bukan karena permainan caturnya sendiri

ENGLISH

THE RULING OF PLAYING CHESS IN ISLAM
 
DIVERGENT VIEWS OF SCHOLARS
 
Scholars hold different opinions regarding the Islamic ruling on playing chess:
 
- Haram (Forbidden): According to the three great Imams (Abu Hanifah, Malik, and Ahmad bin Hanbal). However, scholars like Ibnu Hajar Al-Asqalani confirmed that there are no authentic (Sahih) or good (Hasan) Hadiths that specifically prohibit it. In fact, many Companions of the Prophet (Sahabah) and the generation after them (Tabi'in) used to play it.
- Makruh (Disliked): Viewed as wasting time on things that do not bring spiritual reward.
- Mubah (Permissible): Based on the Islamic legal principle that "everything is originally permissible" unless there is evidence forbidding it. Additionally, chess is beneficial for training strategy and sharpening the mind, similar to military tactics.
 
 
 
THE VIEW OF THE SHAFI'I SCHOOL OF THOUGHT
 
In the Shafi'i Madhhab, which is widely followed in Indonesia, the basic ruling for playing chess is PERMISSIBLE (Mubah).
 
However, the ruling can change to HARAM or MAKRUH if accompanied by the following factors:
 
1. Neglecting Obligations: If it causes one to forget or delay the five daily prayers.
2. Forbidden Elements: If it is used for gambling, betting, or played while consuming alcohol.
3. Wasting Wealth: If it leads to neglecting work and losing income.
4. Losing Dignity: If played in public places or on the roadside, which can lower one's dignity (muru'ah). It is better to play it in private or closed areas.
 
 
 
CONCLUSION
 
Playing chess is fundamentally allowed in Islam because it contains benefits for sharpening the mind, logic, and strategic thinking. It only becomes forbidden or disliked due to additional factors, not because the game itself is inherently bad

DALIL

قوله (وهو) أي لعب الشطرنج (وقوله حرام) عند الأئمة الثلاثة وهم أبو حنيفة ومالك وأحمد بن حنبل رضي الله عنهم وإنما قالوا بالحرمة للأحاديث الكثيرة التي جاءت في ذمه قال في التحفة لكن قال الحافظ لم يثبت منها حديث من طريق صحيح ولا حسن وقد لعبه جماعة من أكابر الصحابة ومن لا يحصى من التابعين ومن بعدهم وممن كان يلعبه غبا سعيد بن جبير رضي الله عنه
 
Artinya, “(Permainan itu) main catur (haram) menurut tiga imam, yaitu Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka menyatakan haram atas dasar sejumlah hadits yang mencela permainan catur. Tetapi penulis At-Tuhfah (Ibnu Hajar) dari Mazhab Syafi’I mengutip Imam Al-Hafiz Al-Asqalani mengatakan bahwa kualitas hadits yang mengecam permainan catur tidak diriwayatkan berdasarkan jalan yang sahih dan hasan. Bahkan sejumlah sahabat terkemuka Rasulullah dan banyak tabi’in sepeninggal mereka juga bermain catur. Salah seorang yang bermain catur adalah Sa’id bin Jubair,” (Sayid Bakri Syatha Ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz IV, halaman 286)

Meaning: “(This game), playing chess, is Haram (forbidden) according to the three Imams, namely Abu Hanifah, Imam Malik, and Imam Ahmad bin Hanbal. They ruled it forbidden based on a number of Hadiths that criticize the game. However, the author of At-Tuhfah (Ibn Hajar) from the Shafi'i School quotes Imam Al-Hafiz Al-Asqalani stating that the chains of narration for the Hadiths condemning chess are not classified as Sahih (authentic) nor Hasan (good). In fact, several prominent Companions of the Prophet and numerous Tabi'un (the generation after the Companions) also played chess. One of those who played chess was Sa'id bin Jubair,” (Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: n.d.], vol. IV, page 286)

وَاحْتُجَّ لِإِبَاحَةِ اللَّعِبِ بِهِ بِأَنَّ الْأَصْلَ الْإِبَاحَةُ وَبِأَنَّ فِيهِ تَدْبِيرُ الْحُرُوبِ وَلِلْكَرَاهَةِ بِأَنَّ صَرْفَ الْعُمْرِ إلَى مَا لَا يُجْدِي وَبِأَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرَّ بِقَوْمٍ يَلْعَبُونَ بِهِ فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Artinya, “Hujjah atas kebolehan permainan catur ini didasarkan pada kaidah hukum Islam bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah mubah; dan pada unsur maslahat permainan catur yang mengasah otak dalam bersiasat perang. Sedangkan hujjah atas kemakruhan permainan ini didasarkan pada unsur penyia-nyiaan umur pada hal yang tidak bermanfaat; dan pada ucapan sayyidina Ali saat melewati mereka yang sedang bermain catur, ‘Apakah ini patung-patung yang kalian sembah?’” (Syekh Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun])

Meaning: "The argument for the permissibility of chess is based on the Islamic legal principle that everything is originally permissible (mubah), as well as on the benefits (maslahah) of the game, which sharpens the mind in formulating strategies similar to warfare tactics. Meanwhile, the argument for it being disliked (makruh) is based on the aspect of wasting time on things that bring no benefit, and on the statement of Sayyidina Ali when he passed by people playing chess: 'Are these idols that you worship?'" (Sheikh Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: n.d.])

HUKUM MAIN CATUR


HUKUM BERMAIN CATUR DALAM ISLAM
 
Pandangan Beragam Ulama
 
Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai hukum bermain catur:
 
- Haram: Menurut tiga imam besar (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal). Namun, ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa tidak ada dalil hadits yang sahih atau hasan yang secara spesifik mengharamkannya. Bahkan, banyak sahabat dan tabi'in (generasi setelah sahabat) yang memainkannya.
- Makruh: Dilihat dari sisi membuang-buang waktu pada hal yang tidak mendatangkan pahala.
- Mubah (Boleh): Berdasarkan kaidah fiqih bahwa asal segala sesuatu adalah boleh, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Selain itu, catur bermanfaat untuk melatih strategi dan kecerdasan layaknya taktik perang.
 
Pendapat Mazhab Syafi'i
 
Dalam Mazhab Syafi'i yang umumnya dianut di Indonesia, hukum bermain catur pada dasarnya adalah BOLEH (Mubah).
 
Namun, hukumnya bisa berubah menjadi HARAM atau MAKRUH jika disertai hal-hal berikut:
 
1. Melalaikan kewajiban: Sampai lupa atau menunda shalat lima waktu.
2. Ada unsur haram: Digunakan untuk judi, taruhan, atau dilakukan sambil meminum khamr.
3. Menyia-nyiakan harta: Sampai mengabaikan pekerjaan dan penghasilan.
4. Menjatuhkan harga diri: Dimainkan di tempat umum atau pinggir jalan yang bisa menurunkan muru'ah (wibawa). Sebaiknya dimainkan di tempat yang tertutup atau sepi.
 
Kesimpulan
 
Bermain catur pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam karena mengandung manfaat untuk mengasah otak, logika, dan strategi. Hukumnya menjadi haram atau makruh hanya karena faktor tambahan, bukan karena permainan caturnya sendiri

ENGLISH

THE RULING OF PLAYING CHESS IN ISLAM
 
DIVERGENT VIEWS OF SCHOLARS
 
Scholars hold different opinions regarding the Islamic ruling on playing chess:
 
- Haram (Forbidden): According to the three great Imams (Abu Hanifah, Malik, and Ahmad bin Hanbal). However, scholars like Ibnu Hajar Al-Asqalani confirmed that there are no authentic (Sahih) or good (Hasan) Hadiths that specifically prohibit it. In fact, many Companions of the Prophet (Sahabah) and the generation after them (Tabi'in) used to play it.
- Makruh (Disliked): Viewed as wasting time on things that do not bring spiritual reward.
- Mubah (Permissible): Based on the Islamic legal principle that "everything is originally permissible" unless there is evidence forbidding it. Additionally, chess is beneficial for training strategy and sharpening the mind, similar to military tactics.
 
 
 
THE VIEW OF THE SHAFI'I SCHOOL OF THOUGHT
 
In the Shafi'i Madhhab, which is widely followed in Indonesia, the basic ruling for playing chess is PERMISSIBLE (Mubah).
 
However, the ruling can change to HARAM or MAKRUH if accompanied by the following factors:
 
1. Neglecting Obligations: If it causes one to forget or delay the five daily prayers.
2. Forbidden Elements: If it is used for gambling, betting, or played while consuming alcohol.
3. Wasting Wealth: If it leads to neglecting work and losing income.
4. Losing Dignity: If played in public places or on the roadside, which can lower one's dignity (muru'ah). It is better to play it in private or closed areas.
 
 
 
CONCLUSION
 
Playing chess is fundamentally allowed in Islam because it contains benefits for sharpening the mind, logic, and strategic thinking. It only becomes forbidden or disliked due to additional factors, not because the game itself is inherently bad

DALIL

قوله (وهو) أي لعب الشطرنج (وقوله حرام) عند الأئمة الثلاثة وهم أبو حنيفة ومالك وأحمد بن حنبل رضي الله عنهم وإنما قالوا بالحرمة للأحاديث الكثيرة التي جاءت في ذمه قال في التحفة لكن قال الحافظ لم يثبت منها حديث من طريق صحيح ولا حسن وقد لعبه جماعة من أكابر الصحابة ومن لا يحصى من التابعين ومن بعدهم وممن كان يلعبه غبا سعيد بن جبير رضي الله عنه
 
Artinya, “(Permainan itu) main catur (haram) menurut tiga imam, yaitu Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka menyatakan haram atas dasar sejumlah hadits yang mencela permainan catur. Tetapi penulis At-Tuhfah (Ibnu Hajar) dari Mazhab Syafi’I mengutip Imam Al-Hafiz Al-Asqalani mengatakan bahwa kualitas hadits yang mengecam permainan catur tidak diriwayatkan berdasarkan jalan yang sahih dan hasan. Bahkan sejumlah sahabat terkemuka Rasulullah dan banyak tabi’in sepeninggal mereka juga bermain catur. Salah seorang yang bermain catur adalah Sa’id bin Jubair,” (Sayid Bakri Syatha Ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz IV, halaman 286)

Meaning: “(This game), playing chess, is Haram (forbidden) according to the three Imams, namely Abu Hanifah, Imam Malik, and Imam Ahmad bin Hanbal. They ruled it forbidden based on a number of Hadiths that criticize the game. However, the author of At-Tuhfah (Ibn Hajar) from the Shafi'i School quotes Imam Al-Hafiz Al-Asqalani stating that the chains of narration for the Hadiths condemning chess are not classified as Sahih (authentic) nor Hasan (good). In fact, several prominent Companions of the Prophet and numerous Tabi'un (the generation after the Companions) also played chess. One of those who played chess was Sa'id bin Jubair,” (Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: n.d.], vol. IV, page 286)

وَاحْتُجَّ لِإِبَاحَةِ اللَّعِبِ بِهِ بِأَنَّ الْأَصْلَ الْإِبَاحَةُ وَبِأَنَّ فِيهِ تَدْبِيرُ الْحُرُوبِ وَلِلْكَرَاهَةِ بِأَنَّ صَرْفَ الْعُمْرِ إلَى مَا لَا يُجْدِي وَبِأَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرَّ بِقَوْمٍ يَلْعَبُونَ بِهِ فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Artinya, “Hujjah atas kebolehan permainan catur ini didasarkan pada kaidah hukum Islam bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah mubah; dan pada unsur maslahat permainan catur yang mengasah otak dalam bersiasat perang. Sedangkan hujjah atas kemakruhan permainan ini didasarkan pada unsur penyia-nyiaan umur pada hal yang tidak bermanfaat; dan pada ucapan sayyidina Ali saat melewati mereka yang sedang bermain catur, ‘Apakah ini patung-patung yang kalian sembah?’” (Syekh Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun])

Meaning: "The argument for the permissibility of chess is based on the Islamic legal principle that everything is originally permissible (mubah), as well as on the benefits (maslahah) of the game, which sharpens the mind in formulating strategies similar to warfare tactics. Meanwhile, the argument for it being disliked (makruh) is based on the aspect of wasting time on things that bring no benefit, and on the statement of Sayyidina Ali when he passed by people playing chess: 'Are these idols that you worship?'" (Sheikh Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: n.d.])

Rabu, 20 Mei 2026


JIKA SESEORANG BELUM MAMPU MELAKUKAN 8 HAL, LAKUKANLAH 8 HAL LAINNYA
 
Diriwayatkan dari sebagian sahabat Rasulullah SAW, terdapat nasihat yang sangat bijak dan menyejukkan hati. Bahwasanya, barangsiapa yang belum mampu mendapatkan delapan hal ini, maka hendaknya ia mengerjakan delapan hal ini agar mendapatkan
 
1. Shalat Malam ➡️ Jauhi Maksiat
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan shalat malam (tahajud. tidur/ketiduran dulu baru sholat syarat nya setelah waktu isya), namun karena ia yidak bangun maka ia tidak mengerjakannya, maka hendaknya ia menjaga diri agar tidak melakukan maksiat (dosa) di siang harinya.
 
2. Puasa Sunah ➡️ Jaga Lisan
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan puasa sunah, maka hendaknya ia menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik
 
3. Ilmu Ulama ➡️ Bertafakkur
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan para ulama, maka hendaknya ia bertafakkur
 
4. Perang di Jalan Allah ➡️ Perangi Hawa Nafsu
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan seorang mujahid (pejuang di jalan Allah), namun ia berada di rumah dan tidak bisa turut berperang, maka hendaknya ia selalu memerangi godaan setan
 
5. Sedekah ➡️ Menyebarkan Ilmu
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan bersedekah, namun ia tidak mampu, maka hendaknya ia mengajarkan ilmu yang bermanfaat (pernah dia dengar) kepada orang lain
 
6. Ibadah Haji ➡️ Taat pada Shalat Jumat
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan haji, namun ia belum mampu secara fisik maupun biaya, maka hendaknya ia selalu menunaikan shalat Jumat dengan tertib
 
7. Ahli Ibadah ➡️ Memperbaiki Hubungan
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan orang ahli ibadah, maka hendaknya ia berbuat baik kepada sesama manusia dan tidak menimbulkan permusuhan di antara mereka.
 
8. Derajat Wali Allah ➡️ Ikhlas & Ridha
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan derajat Abdal (Wali Allah yang tinggi), maka hendaknya ia meletakkan tangannya di dada dan meridhai saudaranya
 
📚 Sumber: Kitab Tanbihul Ghafilin, Halaman 188

ENGLISH

IF YOU CANNOT DO THESE 8 THINGS, DO THESE 8 THINGS INSTEAD
 
Narrated from some of the Companions of the Prophet Muhammad SAW, there is very wise and comforting advice. It says that whoever is not yet able to perform these eight great deeds, then they should do these eight alternative practices to still earn their rewards:
 
1. Night Prayer ➡️ Avoid Sins
Whoever wishes to gain the virtue of Night Prayer (Tahajud), but fails to wake up and perform it, then they should protect themselves from committing sins and disobedience during the day.
 
2. Voluntary Fasting ➡️ Guard Your Tongue
Whoever wishes to gain the virtue of voluntary fasting, but is unable to do so, then they should guard their tongue from saying bad words and harmful speech.
 
3. Knowledge of Scholars ➡️ Contemplate
Whoever wishes to attain the rank and virtue of scholars, then they should often contemplate and reflect deeply upon the creation of Allah.
 
4. Fighting in the Way of Allah ➡️ Fight Your Desires
Whoever wishes to gain the virtue of a Mujahid (warrior in the path of Allah), but stays at home and cannot go to battle, then they should always fight against the temptations of Satan and their own evil desires.
 
5. Giving Charity ➡️ Spread Knowledge
Whoever wishes to gain the virtue of giving charity, but does not have the wealth to do so, then they should teach beneficial knowledge to others—whatever they have heard and learned.
 
6. Hajj Pilgrimage ➡️ Be Consistent with Friday Prayer
Whoever wishes to gain the virtue of performing Hajj, but is not capable physically or financially, then they should always perform the Friday Prayer properly and consistently.
 
7. Status of Worshippers ➡️ Improve Relationships
Whoever wishes to gain the virtue of those who are devoted in worship, then they should treat others kindly and do not cause conflict or enmity among people.
 
8. Rank of Wali Allah ➡️ Be Sincere & Pleased
Whoever wishes to gain the high rank of Abdal (a special group of Saints), then they should place their hand on their chest and be pleased with their brother as they are pleased with themselves.
 
📚 Source: Book of Tanbihul Ghafilin, Page 188

LAKUKAN INI JIKA BELUM DI TAKDIRKAN DALAM BEBERAPA HAL


JIKA SESEORANG BELUM MAMPU MELAKUKAN 8 HAL, LAKUKANLAH 8 HAL LAINNYA
 
Diriwayatkan dari sebagian sahabat Rasulullah SAW, terdapat nasihat yang sangat bijak dan menyejukkan hati. Bahwasanya, barangsiapa yang belum mampu mendapatkan delapan hal ini, maka hendaknya ia mengerjakan delapan hal ini agar mendapatkan
 
1. Shalat Malam ➡️ Jauhi Maksiat
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan shalat malam (tahajud. tidur/ketiduran dulu baru sholat syarat nya setelah waktu isya), namun karena ia yidak bangun maka ia tidak mengerjakannya, maka hendaknya ia menjaga diri agar tidak melakukan maksiat (dosa) di siang harinya.
 
2. Puasa Sunah ➡️ Jaga Lisan
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan puasa sunah, maka hendaknya ia menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik
 
3. Ilmu Ulama ➡️ Bertafakkur
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan para ulama, maka hendaknya ia bertafakkur
 
4. Perang di Jalan Allah ➡️ Perangi Hawa Nafsu
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan seorang mujahid (pejuang di jalan Allah), namun ia berada di rumah dan tidak bisa turut berperang, maka hendaknya ia selalu memerangi godaan setan
 
5. Sedekah ➡️ Menyebarkan Ilmu
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan bersedekah, namun ia tidak mampu, maka hendaknya ia mengajarkan ilmu yang bermanfaat (pernah dia dengar) kepada orang lain
 
6. Ibadah Haji ➡️ Taat pada Shalat Jumat
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan haji, namun ia belum mampu secara fisik maupun biaya, maka hendaknya ia selalu menunaikan shalat Jumat dengan tertib
 
7. Ahli Ibadah ➡️ Memperbaiki Hubungan
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan orang ahli ibadah, maka hendaknya ia berbuat baik kepada sesama manusia dan tidak menimbulkan permusuhan di antara mereka.
 
8. Derajat Wali Allah ➡️ Ikhlas & Ridha
Barangsiapa yang ingin mendapatkan keutamaan derajat Abdal (Wali Allah yang tinggi), maka hendaknya ia meletakkan tangannya di dada dan meridhai saudaranya
 
📚 Sumber: Kitab Tanbihul Ghafilin, Halaman 188

ENGLISH

IF YOU CANNOT DO THESE 8 THINGS, DO THESE 8 THINGS INSTEAD
 
Narrated from some of the Companions of the Prophet Muhammad SAW, there is very wise and comforting advice. It says that whoever is not yet able to perform these eight great deeds, then they should do these eight alternative practices to still earn their rewards:
 
1. Night Prayer ➡️ Avoid Sins
Whoever wishes to gain the virtue of Night Prayer (Tahajud), but fails to wake up and perform it, then they should protect themselves from committing sins and disobedience during the day.
 
2. Voluntary Fasting ➡️ Guard Your Tongue
Whoever wishes to gain the virtue of voluntary fasting, but is unable to do so, then they should guard their tongue from saying bad words and harmful speech.
 
3. Knowledge of Scholars ➡️ Contemplate
Whoever wishes to attain the rank and virtue of scholars, then they should often contemplate and reflect deeply upon the creation of Allah.
 
4. Fighting in the Way of Allah ➡️ Fight Your Desires
Whoever wishes to gain the virtue of a Mujahid (warrior in the path of Allah), but stays at home and cannot go to battle, then they should always fight against the temptations of Satan and their own evil desires.
 
5. Giving Charity ➡️ Spread Knowledge
Whoever wishes to gain the virtue of giving charity, but does not have the wealth to do so, then they should teach beneficial knowledge to others—whatever they have heard and learned.
 
6. Hajj Pilgrimage ➡️ Be Consistent with Friday Prayer
Whoever wishes to gain the virtue of performing Hajj, but is not capable physically or financially, then they should always perform the Friday Prayer properly and consistently.
 
7. Status of Worshippers ➡️ Improve Relationships
Whoever wishes to gain the virtue of those who are devoted in worship, then they should treat others kindly and do not cause conflict or enmity among people.
 
8. Rank of Wali Allah ➡️ Be Sincere & Pleased
Whoever wishes to gain the high rank of Abdal (a special group of Saints), then they should place their hand on their chest and be pleased with their brother as they are pleased with themselves.
 
📚 Source: Book of Tanbihul Ghafilin, Page 188


KEDUDUKAN DAN ARTI KATA عَلَى ('ALĀ)
 
Secara umum, kata عَلَى ('Alā) berarti "di atas" atau "terhadap". Dalam ilmu Nahwu, kata ini dikategorikan sebagai Huruf Jar (kata depan) yang berfungsi menjadikan kata benda (Isim) setelahnya berstatus Majrur (berharakat Kasrah). Sedangkan dalam ilmu Saraf, kata ini merupakan bentuk tetap (Mabni) yang tidak mengalami perubahan konjugasi.
 
Berikut adalah penjelasan lengkapnya:
 
 
 
1. Tinjauan Ilmu Nahwu (Gramatika)
 
Dalam ilmu Nahwu, عَلَى termasuk golongan Huruf al-Jar. Efek gramatikalnya adalah mengubah harakat akhir kata benda setelahnya menjadi Kasrah.
 
Meskipun arti dasarnya adalah "di atas", maknanya dapat berubah sesuai konteks kalimat:
 
- Al-Isti'la (Posisi): Menunjukkan posisi di atas sesuatu.
- Contoh: الكِتَابُ عَلَى المَكْتَبِ — Buku itu di atas meja.
- Al-Musahabah (Serta/Konjungsi): Bermakna "beserta" atau "walaupun".
- Contoh: Memberikan harta walaupun ia menyukainya.
- At-Ta'lil (Sebab): Bermakna "karena" atau "atas".
- Contoh: Mengagungkan Allah karena petunjuk yang diberikan-Nya.
- Al-Mujawazah / Ad-Dzarfiyah: Bisa bermakna "dari" atau "di dalam" tergantung situasi kalimat.
 
 
 
2. Tinjauan Ilmu Saraf (Morfologi)
 
Ditinjau dari ilmu Saraf, karakteristik kata عَلَى adalah:
 
- Kata Mabni: Berstatus Mabni 'ala as-Sukun, artinya harakat akhirnya tetap dan tidak pernah berubah dalam kondisi apa pun.
- Tidak Bisa Ditasrif: Karena termasuk huruf/kata tugas, kata ini tidak memiliki bentuk lampau, masa kini, atau turunan lainnya.
- Perubahan Saat Bertemu Kata Ganti:
Ketika disambung dengan kata ganti (Dhamir), huruf Alif (ى) di akhir berubah menjadi Ya mati (يْ).
- Contoh: عَلَى + هُ \rightarrow عَلَيْهِ ('Alaihi - Atasnya).
- Contoh: عَلَى + كُمْ \rightarrow عَلَيْكُمْ ('Alaikum - Atas kalian)

CARA MEMBEDAKAN ARTI عَلَيْهِ ('ALAIHI) DAN عَلَيْكُمْ ('ALAIKUM)
 
Jika kata عَلَى sudah tersambung menjadi عَلَيْهِ ('Alaihi) atau عَلَيْكُمْ ('Alaikum), bagaimana cara menentukan kapan artinya "di atasnya/kalian" dan kapan artinya "terhadapnya/kalian"?
 
Kuncinya adalah dengan melihat kata kerja atau kata benda yang berada di depannya, bukan dari imbuhan -hi atau -kum-nya.
 
Berikut panduan mudahnya:
 
 
 
1. Diartikan "Terhadap", "Kepada", atau "Bagi"
 
Gunakan arti ini jika kata tersebut didahului oleh kata-kata yang bermakna kewajiban, ucapan, perasaan, atau dampak.
 
- Pemicu Kewajiban/Hukum: Jika membahas aturan atau tanggung jawab.
- Contoh: كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ — Diwajibkan atas/terhadap kalian berpuasa.
- Pemicu Ucapan/Doa: Jika didahului salam, doa, atau laknat.
- Contoh: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ — Keselamatan untuk/atas kalian.
- Contoh: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ — Laknat Allah terhadap dia.
- Pemicu Dampak/Perasaan: Jika bermakna sesuatu yang menimpa atau dirasakan.
- Contoh: خِفْتُ عَلَيْهِ — Aku takut terhadap (keselamatan) dia.
 
 
 
2. Diartikan "Di Atas" (Fisik atau Kedudukan)
 
Gunakan arti ini jika kalimatnya membahas posisi tempat atau kelebihan.
 
- Posisi Fisik: Jika subjek berada secara nyata di atas objek.
- Contoh: جَلَسْتُ عَلَيْهِ — Aku duduk di atasnya.
- Contoh: الكِتَابُ عَلَيْهِ — Buku itu di atasnya.
- Kedudukan/Keunggulan: Jika bermakna tingkatan yang lebih tinggi.
- Contoh: فَضَّلْنَاهُمْ عَلَيْكُمْ — Kami melebihkan mereka di atas kalian.
 
 
 
Kesimpulan Instan
 
- Jika kalimatnya soal tempat/posisi \rightarrow Artikan "di atas".
- Jika kalimatnya soal hukum, doa, atau perasaan \rightarrow Artikan "terhadap/kepada/bagi"

ENGLISH

Here is the translation in clear, standard English, keeping the meaning accurate and easy for English speakers to understand:
 
 
 
THE POSITION AND MEANING OF THE WORD عَلَى ('ALĀ)
 
Generally, the word عَلَى ('Alā) means "on", "upon", or "towards".
 
In the science of Nahwu (Syntax), it is categorized as Harf Jar (preposition). Its grammatical function is to make the noun (Isim) that follows it take the status of Majrur (ending with a Kasrah vowel).
 
In the science of Saraf (Morphology), this word is Mabni (fixed/immutable), meaning it does not undergo any conjugation or change of form.
 
Here is the complete explanation:
 
 
 
1. Perspective of Nahwu (Grammar)
 
In Nahwu, عَلَى belongs to the group of Huruf al-Jar. Its grammatical effect is to change the ending vowel of the following noun to Kasrah (-i sound).
 
Although its basic meaning is "on" or "upon", its meaning can change depending on the context of the sentence:
 
- Al-Isti'la (Position): Indicates physical position above something.
- Example: الكِتَابُ عَلَى المَكْتَبِ — The book is on the table.
- Al-Musahabah (Accompaniment/Conjunction): Means "along with" or "even though".
- Example: Giving wealth even though he loves it.
- At-Ta'lil (Cause/Reason): Means "because of" or "due to".
- Example: Glorify Allah because of the guidance He has given.
- Al-Mujawazah / Ad-Dzarfiyah: Can mean "from" or "in" depending on the situation.
 
 
 
2. Perspective of Saraf (Morphology)
 
Viewed from the science of Saraf, the characteristics of عَلَى are:
 
- Mabni Word: It has the status Mabni 'ala as-Sukun, meaning its ending vowel remains fixed and never changes under any circumstances.
- Cannot be Conjugated: Since it is a particle/tool word, it has no past, present, or derived forms.
- Change when connected to Pronouns:
When attached to pronouns (Dhamir), the Alif (ى) at the end changes to a silent Ya (يْ).
- Example: عَلَى + هُ \rightarrow عَلَيْهِ ('Alaihi - Upon him/it).
- Example: عَلَى + كُمْ \rightarrow عَلَيْكُمْ ('Alaikum - Upon you/you all).
 
 
 
HOW TO DISTINGUISH THE MEANING OF عَلَيْهِ ('ALAIHI) AND عَلَيْكُمْ ('ALAIKUM)
 
When the word عَلَى is connected to pronouns, becoming عَلَيْهِ ('Alaihi) or عَلَيْكُمْ ('Alaikum), how do we determine when it means "on it/you" and when it means "towards him/you"?
 
The key is to look at the verb or noun that comes before it, not at the suffixes -hi or -kum.
 
Here is the easy guide:
 
 
 
1. Translate as "Towards", "Upon", "For", or "Against"
 
Use this meaning if the word is preceded by terms indicating obligation, speech, feelings, or impact.
 
- Trigger: Obligation/Law: If discussing rules or responsibility.
- Example: كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ — Fasting is prescribed upon/for you.
- Trigger: Speech/Prayer: If preceded by greetings, prayers, or curses.
- Example: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ — Peace be upon you.
- Example: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ — The curse of Allah be upon him.
- Trigger: Impact/Feeling: If meaning something that befalls or affects someone.
- Example: خِفْتُ عَلَيْهِ — I feared for him / I was worried about him.
 
 
 
2. Translate as "On" or "Above" (Physical or Status)
 
Use this meaning if the sentence discusses location, position, or superiority.
 
- Physical Position: If the subject is physically located above the object.
- Example: جَلَسْتُ عَلَيْهِ — I sat on it.
- Example: الكِتَابُ عَلَيْهِ — The book is on it.
- Status/Superiority: If indicating a higher rank or level.
- Example: فَضَّلْنَاهُمْ عَلَيْكُمْ — We preferred them over you.
 
 
 
Instant Conclusion
 
- If the sentence is about place/position \rightarrow Translate as "on / above / over".
- If the sentence is about law, prayer, or feelings \rightarrow Translate as "upon / towards / for / against".

NAHWU 5


KEDUDUKAN DAN ARTI KATA عَلَى ('ALĀ)
 
Secara umum, kata عَلَى ('Alā) berarti "di atas" atau "terhadap". Dalam ilmu Nahwu, kata ini dikategorikan sebagai Huruf Jar (kata depan) yang berfungsi menjadikan kata benda (Isim) setelahnya berstatus Majrur (berharakat Kasrah). Sedangkan dalam ilmu Saraf, kata ini merupakan bentuk tetap (Mabni) yang tidak mengalami perubahan konjugasi.
 
Berikut adalah penjelasan lengkapnya:
 
 
 
1. Tinjauan Ilmu Nahwu (Gramatika)
 
Dalam ilmu Nahwu, عَلَى termasuk golongan Huruf al-Jar. Efek gramatikalnya adalah mengubah harakat akhir kata benda setelahnya menjadi Kasrah.
 
Meskipun arti dasarnya adalah "di atas", maknanya dapat berubah sesuai konteks kalimat:
 
- Al-Isti'la (Posisi): Menunjukkan posisi di atas sesuatu.
- Contoh: الكِتَابُ عَلَى المَكْتَبِ — Buku itu di atas meja.
- Al-Musahabah (Serta/Konjungsi): Bermakna "beserta" atau "walaupun".
- Contoh: Memberikan harta walaupun ia menyukainya.
- At-Ta'lil (Sebab): Bermakna "karena" atau "atas".
- Contoh: Mengagungkan Allah karena petunjuk yang diberikan-Nya.
- Al-Mujawazah / Ad-Dzarfiyah: Bisa bermakna "dari" atau "di dalam" tergantung situasi kalimat.
 
 
 
2. Tinjauan Ilmu Saraf (Morfologi)
 
Ditinjau dari ilmu Saraf, karakteristik kata عَلَى adalah:
 
- Kata Mabni: Berstatus Mabni 'ala as-Sukun, artinya harakat akhirnya tetap dan tidak pernah berubah dalam kondisi apa pun.
- Tidak Bisa Ditasrif: Karena termasuk huruf/kata tugas, kata ini tidak memiliki bentuk lampau, masa kini, atau turunan lainnya.
- Perubahan Saat Bertemu Kata Ganti:
Ketika disambung dengan kata ganti (Dhamir), huruf Alif (ى) di akhir berubah menjadi Ya mati (يْ).
- Contoh: عَلَى + هُ \rightarrow عَلَيْهِ ('Alaihi - Atasnya).
- Contoh: عَلَى + كُمْ \rightarrow عَلَيْكُمْ ('Alaikum - Atas kalian)

CARA MEMBEDAKAN ARTI عَلَيْهِ ('ALAIHI) DAN عَلَيْكُمْ ('ALAIKUM)
 
Jika kata عَلَى sudah tersambung menjadi عَلَيْهِ ('Alaihi) atau عَلَيْكُمْ ('Alaikum), bagaimana cara menentukan kapan artinya "di atasnya/kalian" dan kapan artinya "terhadapnya/kalian"?
 
Kuncinya adalah dengan melihat kata kerja atau kata benda yang berada di depannya, bukan dari imbuhan -hi atau -kum-nya.
 
Berikut panduan mudahnya:
 
 
 
1. Diartikan "Terhadap", "Kepada", atau "Bagi"
 
Gunakan arti ini jika kata tersebut didahului oleh kata-kata yang bermakna kewajiban, ucapan, perasaan, atau dampak.
 
- Pemicu Kewajiban/Hukum: Jika membahas aturan atau tanggung jawab.
- Contoh: كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ — Diwajibkan atas/terhadap kalian berpuasa.
- Pemicu Ucapan/Doa: Jika didahului salam, doa, atau laknat.
- Contoh: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ — Keselamatan untuk/atas kalian.
- Contoh: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ — Laknat Allah terhadap dia.
- Pemicu Dampak/Perasaan: Jika bermakna sesuatu yang menimpa atau dirasakan.
- Contoh: خِفْتُ عَلَيْهِ — Aku takut terhadap (keselamatan) dia.
 
 
 
2. Diartikan "Di Atas" (Fisik atau Kedudukan)
 
Gunakan arti ini jika kalimatnya membahas posisi tempat atau kelebihan.
 
- Posisi Fisik: Jika subjek berada secara nyata di atas objek.
- Contoh: جَلَسْتُ عَلَيْهِ — Aku duduk di atasnya.
- Contoh: الكِتَابُ عَلَيْهِ — Buku itu di atasnya.
- Kedudukan/Keunggulan: Jika bermakna tingkatan yang lebih tinggi.
- Contoh: فَضَّلْنَاهُمْ عَلَيْكُمْ — Kami melebihkan mereka di atas kalian.
 
 
 
Kesimpulan Instan
 
- Jika kalimatnya soal tempat/posisi \rightarrow Artikan "di atas".
- Jika kalimatnya soal hukum, doa, atau perasaan \rightarrow Artikan "terhadap/kepada/bagi"

ENGLISH

Here is the translation in clear, standard English, keeping the meaning accurate and easy for English speakers to understand:
 
 
 
THE POSITION AND MEANING OF THE WORD عَلَى ('ALĀ)
 
Generally, the word عَلَى ('Alā) means "on", "upon", or "towards".
 
In the science of Nahwu (Syntax), it is categorized as Harf Jar (preposition). Its grammatical function is to make the noun (Isim) that follows it take the status of Majrur (ending with a Kasrah vowel).
 
In the science of Saraf (Morphology), this word is Mabni (fixed/immutable), meaning it does not undergo any conjugation or change of form.
 
Here is the complete explanation:
 
 
 
1. Perspective of Nahwu (Grammar)
 
In Nahwu, عَلَى belongs to the group of Huruf al-Jar. Its grammatical effect is to change the ending vowel of the following noun to Kasrah (-i sound).
 
Although its basic meaning is "on" or "upon", its meaning can change depending on the context of the sentence:
 
- Al-Isti'la (Position): Indicates physical position above something.
- Example: الكِتَابُ عَلَى المَكْتَبِ — The book is on the table.
- Al-Musahabah (Accompaniment/Conjunction): Means "along with" or "even though".
- Example: Giving wealth even though he loves it.
- At-Ta'lil (Cause/Reason): Means "because of" or "due to".
- Example: Glorify Allah because of the guidance He has given.
- Al-Mujawazah / Ad-Dzarfiyah: Can mean "from" or "in" depending on the situation.
 
 
 
2. Perspective of Saraf (Morphology)
 
Viewed from the science of Saraf, the characteristics of عَلَى are:
 
- Mabni Word: It has the status Mabni 'ala as-Sukun, meaning its ending vowel remains fixed and never changes under any circumstances.
- Cannot be Conjugated: Since it is a particle/tool word, it has no past, present, or derived forms.
- Change when connected to Pronouns:
When attached to pronouns (Dhamir), the Alif (ى) at the end changes to a silent Ya (يْ).
- Example: عَلَى + هُ \rightarrow عَلَيْهِ ('Alaihi - Upon him/it).
- Example: عَلَى + كُمْ \rightarrow عَلَيْكُمْ ('Alaikum - Upon you/you all).
 
 
 
HOW TO DISTINGUISH THE MEANING OF عَلَيْهِ ('ALAIHI) AND عَلَيْكُمْ ('ALAIKUM)
 
When the word عَلَى is connected to pronouns, becoming عَلَيْهِ ('Alaihi) or عَلَيْكُمْ ('Alaikum), how do we determine when it means "on it/you" and when it means "towards him/you"?
 
The key is to look at the verb or noun that comes before it, not at the suffixes -hi or -kum.
 
Here is the easy guide:
 
 
 
1. Translate as "Towards", "Upon", "For", or "Against"
 
Use this meaning if the word is preceded by terms indicating obligation, speech, feelings, or impact.
 
- Trigger: Obligation/Law: If discussing rules or responsibility.
- Example: كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ — Fasting is prescribed upon/for you.
- Trigger: Speech/Prayer: If preceded by greetings, prayers, or curses.
- Example: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ — Peace be upon you.
- Example: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ — The curse of Allah be upon him.
- Trigger: Impact/Feeling: If meaning something that befalls or affects someone.
- Example: خِفْتُ عَلَيْهِ — I feared for him / I was worried about him.
 
 
 
2. Translate as "On" or "Above" (Physical or Status)
 
Use this meaning if the sentence discusses location, position, or superiority.
 
- Physical Position: If the subject is physically located above the object.
- Example: جَلَسْتُ عَلَيْهِ — I sat on it.
- Example: الكِتَابُ عَلَيْهِ — The book is on it.
- Status/Superiority: If indicating a higher rank or level.
- Example: فَضَّلْنَاهُمْ عَلَيْكُمْ — We preferred them over you.
 
 
 
Instant Conclusion
 
- If the sentence is about place/position \rightarrow Translate as "on / above / over".
- If the sentence is about law, prayer, or feelings \rightarrow Translate as "upon / towards / for / against".


TATA SURYA KITA

Posisi Kita di Alam Semesta
 
- Bimasakti (Milky Way) adalah galaksi tempat tinggal kita, terdiri dari sekitar 200 miliar bintang, termasuk Matahari. Bentuknya melengkung seperti spiral.
- Tata surya kita hanyalah bagian kecil dari galaksi ini dan terletak di salah satu lengannya.
- Alam semesta memiliki miliaran galaksi yang berkumpul dalam kelompok (cluster). Bimasakti termasuk dalam "Kelompok Lokal" yang beranggotakan sekitar 30 galaksi.
- Ukuran alam semesta sangat luas bahkan tak terhingga, dengan jarak yang diukur dalam tahun cahaya.
 
Mengenal Matahari
 
- Matahari adalah bola gas berpijar dan merupakan pusat tata surya. Ia tergolong bintang berukuran sedang atau disebut "Bintang Kerdil Kuning".
- Jarak Matahari ke Bumi sekitar 150 juta km (1 SA), ditempuh cahaya selama 8 menit 20 detik.
- Ukurannya sangat besar: bisa menampung 1 juta bola Bumi di dalamnya, beratnya 333.000 kali berat Bumi, dan gravitasinya 28 kali lebih kuat.
- Cahaya dan panas yang dipancarkan sangat pas dan seimbang untuk kehidupan di Bumi.
 
Planet-Planet Penghuni Tata Surya
 
Planet adalah benda langit yang mengelilingi Matahari. Berikut ciri-cirinya:
 
- Merkurius & Venus: Paling dekat dengan Matahari, sangat panas, tidak memiliki satelit, dan tidak berpenghuni.
- Bumi: Planet tempat kita tinggal.
- Mars: Orbitnya di luar Bumi, memiliki 2 satelit. Garis-garis di permukaannya sebenarnya adalah bukit pasir.
- Yupiter: Planet terbesar (raksasa), berwujud gas, memiliki 16 satelit.
- Saturnus: Besar dan indah dengan tiga cincin di sekelilingnya, memiliki 18 satelit. Cincin ini diduga sisa pecahan satelit.
- Uranus & Neptunus: Sangat jauh, dingin, berukuran besar, dan mengandung gas metana. Uranus memiliki 15 satelit, Neptunus 8 satelit.
- Pluto: Paling jauh, dingin, dan memiliki 1 satelit. Keberadaannya sempat diramal secara matematis sebelum ditemukan pada 1930. Kini kestatusannya sebagai planet mulai diragukan.
 
Benda Langit Lainnya
 
- Asteroid: Batuan kecil yang berhamburan di jalur antara orbit Mars dan Yupiter. Yang terbesar bernama Ceres, ukurannya lebih kecil dari Pulau Jawa

TATA SURIYA


TATA SURYA KITA

Posisi Kita di Alam Semesta
 
- Bimasakti (Milky Way) adalah galaksi tempat tinggal kita, terdiri dari sekitar 200 miliar bintang, termasuk Matahari. Bentuknya melengkung seperti spiral.
- Tata surya kita hanyalah bagian kecil dari galaksi ini dan terletak di salah satu lengannya.
- Alam semesta memiliki miliaran galaksi yang berkumpul dalam kelompok (cluster). Bimasakti termasuk dalam "Kelompok Lokal" yang beranggotakan sekitar 30 galaksi.
- Ukuran alam semesta sangat luas bahkan tak terhingga, dengan jarak yang diukur dalam tahun cahaya.
 
Mengenal Matahari
 
- Matahari adalah bola gas berpijar dan merupakan pusat tata surya. Ia tergolong bintang berukuran sedang atau disebut "Bintang Kerdil Kuning".
- Jarak Matahari ke Bumi sekitar 150 juta km (1 SA), ditempuh cahaya selama 8 menit 20 detik.
- Ukurannya sangat besar: bisa menampung 1 juta bola Bumi di dalamnya, beratnya 333.000 kali berat Bumi, dan gravitasinya 28 kali lebih kuat.
- Cahaya dan panas yang dipancarkan sangat pas dan seimbang untuk kehidupan di Bumi.
 
Planet-Planet Penghuni Tata Surya
 
Planet adalah benda langit yang mengelilingi Matahari. Berikut ciri-cirinya:
 
- Merkurius & Venus: Paling dekat dengan Matahari, sangat panas, tidak memiliki satelit, dan tidak berpenghuni.
- Bumi: Planet tempat kita tinggal.
- Mars: Orbitnya di luar Bumi, memiliki 2 satelit. Garis-garis di permukaannya sebenarnya adalah bukit pasir.
- Yupiter: Planet terbesar (raksasa), berwujud gas, memiliki 16 satelit.
- Saturnus: Besar dan indah dengan tiga cincin di sekelilingnya, memiliki 18 satelit. Cincin ini diduga sisa pecahan satelit.
- Uranus & Neptunus: Sangat jauh, dingin, berukuran besar, dan mengandung gas metana. Uranus memiliki 15 satelit, Neptunus 8 satelit.
- Pluto: Paling jauh, dingin, dan memiliki 1 satelit. Keberadaannya sempat diramal secara matematis sebelum ditemukan pada 1930. Kini kestatusannya sebagai planet mulai diragukan.
 
Benda Langit Lainnya
 
- Asteroid: Batuan kecil yang berhamburan di jalur antara orbit Mars dan Yupiter. Yang terbesar bernama Ceres, ukurannya lebih kecil dari Pulau Jawa


BAHAYA CINTA KEDUDUKAN & HARTA

"Wajib atasmu untuk mengeluarkan rasa cinta akan kedudukan dan penghormatan di hadapan manusia dari dalam hatimu. Hingga sama saja bagimu, baik mereka mendekatimu maupun menjauhimu."
 
Sesungguhnya, cinta akan kedudukan (Jah) jauh lebih berbahaya dan lebih merusak bagi pemiliknya daripada cinta harta.
 
 
 
💢 Cinta Kedudukan: Paling Berbahaya
 
Ini adalah kondisi di mana hati seseorang "ketagihan" dipuji, dihormati, dan dielu-elukan.
 
- Jika tidak disapa orang lain, ia merasa sakit hati.
- Jika tidak dipanggil atau ditonjolkan dalam acara, ia akan marah dan ngambek.
 
Bahayanya terletak pada sifatnya yang menuntut keagungan. Padahal, keagungan yang mutlak hanyalah milik Allah Ta'ala. Manusia yang mengaku ingin diagungkan, hatinya perlahan menjadi sombong dan riya'.
Tandanya: Sangat senang jika dipuji, tapi mudah marah jika dikritik, dan segala amal dilakukan hanya agar dilihat dan dipuji orang lain.
 
 
 
💢 Cinta Harta: Bahaya di Bawahnya
 
Sementara itu, cinta harta memiliki tingkat bahaya di bawahnya, namun tetap berbahaya.
Orang yang hatinya terikat harta, hidupnya hanya berorientasi untuk memuaskan syahwat: makan enak, rumah mewah, gaya hidup mahal.
 
Sifat ini disebutkan dalam kitab sebagai sifat hewan. Karena hewan hidup memang hanya untuk makan, minum, dan berkembang biak.
Tandanya: Harta dijadikan tujuan utama, bukan alat. Jika tidak punya uang atau merasa kurang, hatinya tidak akan pernah tenang.
 
 
 
Kesimpulan
 
Keduanya, baik cinta kedudukan maupun cinta harta, sama-sama menunjukkan bahwa hati tersebut masih sangat mendambakan duniawi.
 
- Cinta Kedudukan berakar dari keinginan untuk diagungkan, padahal itu hak Allah.
- Cinta Harta berakar dari keinginan memuaskan nafsu, yang merupakan sifat hewan.
 
Maka, latihlah hati kita hingga sama rasa antara dipuji maupun dicela, asalkan Allah ridha. Jadikanlah harta sebagai jembatan menuju akhirat, bukan tujuan hidup
 
✍️ Sumber: Kitab Nashoihul Ibad, Halaman 118, Makolah 1, Bab 9
 
ENGLISH

THE DANGER OF LOVING STATUS & WEALTH
 
"It is obligatory upon you to remove the love of status and honor in the eyes of people from your heart. Until it becomes the same to you whether they approach you or turn away from you."
 
Indeed, the love of status and position (Jah) is far more dangerous and destructive to its owner than the love of wealth.
 
 
 
💢 Love of Status: The Most Dangerous
 
This is a condition where a person's heart becomes "addicted" to being praised, respected, and glorified.
 
- If others do not greet him, he feels hurt.
- If he is not invited or highlighted in an event, he gets angry and sulks.
 
The danger lies in the demand for greatness. However, absolute greatness belongs only to Allah Ta'ala. A person who claims to want to be exalted will slowly become arrogant and show off (Riya').
 
The signs: Feeling extremely happy when praised, but getting angry easily when criticized, and doing good deeds only to be seen and praised by others.
 
 
 
💢 Love of Wealth: Dangerous but Less Severe
 
Meanwhile, the love of wealth is less dangerous than status, but still harmful.
 
People whose hearts are attached to wealth live only to satisfy their desires: eating delicious food, having luxurious houses, and an expensive lifestyle.
 
This trait is described in the book as the characteristic of animals. Because animals live only to eat, drink, and reproduce.
 
The signs: Wealth becomes the main goal, not just a tool. If they have no money or feel they lack it, their hearts will never find peace.
 
 
 
Conclusion
 
Both the love of status and the love of wealth show that the heart is still deeply attached to worldly things.
 
- Love of Status stems from the desire to be exalted, yet that right belongs only to Allah.
- Love of Wealth stems from the desire to satisfy lust, which is the nature of animals.
 
Therefore, train our hearts to feel the same whether we are praised or blamed, as long as Allah is pleased. Make wealth a bridge to the Hereafter, not the purpose of life.
 
✍️ Source: Book of Nashoihul Ibad, Page 118, Section 1, Chapter 9

DALIL

وَعَلَيْكَ بِإِخْرَاجِ حُبِّ الْمَنْزِلَةِ عِنْدَ النَّاسِ مِنْ قَلْبِكَ حَتَّى يَسْتَوِيَ عِنْدَكَ إِقْبَالُهُمْ عَلَيْكَ وَإِدْبَارُهُمْ عَنْكَ، فَإِنَّ حُبَّ الْجَاهِ أَضَرُّ عَلَى صَاحِبِهِ مِنْ حُبِّ الْمَالِ، وَكِلَاهُمَا يَدُلَّانِ عَلَى الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا، وَأَصْلُ حُبِّ الْجَاهِ حُبُّ التَّعْظِيمِ، فَالْعَظَمَةُ مِنْ صِفَاتِ اللَّٰهِ تَعَالَى، أَمَّا حُبُّ الْمَالِ فَأَصْلُهُ حُبُّ التَّمَتُّعِ بِالشَّهَوَاتِ وَذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْبَهَائِمِ

Anda harus menyingkirkan dari hati Anda rasa cinta akan status dari manusia, sehingga kedatangan mereka kepada Anda dan penolakan mereka kepada Anda menjadi sama di mata Anda (jika di tolak tidak marah). Karena cinta akan status lebih berbahaya bagi pemiliknya daripada cinta akan kekayaan, dan keduanya menunjukkan keinginan akan hal-hal duniawi. Akar dari cinta akan status adalah cinta akan penghormatan, dan sombong adalah salah satu sifat Allah (wajib di akui hanya allah yang berhak) Yang Mahakuasa. Adapun cinta akan kekayaan, akarnya adalah cinta akan... Memanjakan keinginan adalah ciri khas hewan

"You must remove from your heart the love of status and position in the eyes of people, so that their coming to you and their turning away from you becomes equal in your view (meaning: you do not get angry when rejected).
 
Because the love of status is more dangerous for its owner than the love of wealth, and both of them show a desire for worldly things.
 
The root of loving status is the love of being honored and respected, whereas Greatness/Arrogance is a trait that belongs only to Allah Ta'ala (it must be acknowledged that only He has the right to it).
 
As for the love of wealth, its root is the love of indulging desires and lusts, and that is the characteristic of animals"

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَحُبِّ الْمَدْحِ وَحُبِّ الدُّنْيَا

BAHAYA CINTA KEDUDUKAN DI ATAS HARTA


BAHAYA CINTA KEDUDUKAN & HARTA

"Wajib atasmu untuk mengeluarkan rasa cinta akan kedudukan dan penghormatan di hadapan manusia dari dalam hatimu. Hingga sama saja bagimu, baik mereka mendekatimu maupun menjauhimu."
 
Sesungguhnya, cinta akan kedudukan (Jah) jauh lebih berbahaya dan lebih merusak bagi pemiliknya daripada cinta harta.
 
 
 
💢 Cinta Kedudukan: Paling Berbahaya
 
Ini adalah kondisi di mana hati seseorang "ketagihan" dipuji, dihormati, dan dielu-elukan.
 
- Jika tidak disapa orang lain, ia merasa sakit hati.
- Jika tidak dipanggil atau ditonjolkan dalam acara, ia akan marah dan ngambek.
 
Bahayanya terletak pada sifatnya yang menuntut keagungan. Padahal, keagungan yang mutlak hanyalah milik Allah Ta'ala. Manusia yang mengaku ingin diagungkan, hatinya perlahan menjadi sombong dan riya'.
Tandanya: Sangat senang jika dipuji, tapi mudah marah jika dikritik, dan segala amal dilakukan hanya agar dilihat dan dipuji orang lain.
 
 
 
💢 Cinta Harta: Bahaya di Bawahnya
 
Sementara itu, cinta harta memiliki tingkat bahaya di bawahnya, namun tetap berbahaya.
Orang yang hatinya terikat harta, hidupnya hanya berorientasi untuk memuaskan syahwat: makan enak, rumah mewah, gaya hidup mahal.
 
Sifat ini disebutkan dalam kitab sebagai sifat hewan. Karena hewan hidup memang hanya untuk makan, minum, dan berkembang biak.
Tandanya: Harta dijadikan tujuan utama, bukan alat. Jika tidak punya uang atau merasa kurang, hatinya tidak akan pernah tenang.
 
 
 
Kesimpulan
 
Keduanya, baik cinta kedudukan maupun cinta harta, sama-sama menunjukkan bahwa hati tersebut masih sangat mendambakan duniawi.
 
- Cinta Kedudukan berakar dari keinginan untuk diagungkan, padahal itu hak Allah.
- Cinta Harta berakar dari keinginan memuaskan nafsu, yang merupakan sifat hewan.
 
Maka, latihlah hati kita hingga sama rasa antara dipuji maupun dicela, asalkan Allah ridha. Jadikanlah harta sebagai jembatan menuju akhirat, bukan tujuan hidup
 
✍️ Sumber: Kitab Nashoihul Ibad, Halaman 118, Makolah 1, Bab 9
 
ENGLISH

THE DANGER OF LOVING STATUS & WEALTH
 
"It is obligatory upon you to remove the love of status and honor in the eyes of people from your heart. Until it becomes the same to you whether they approach you or turn away from you."
 
Indeed, the love of status and position (Jah) is far more dangerous and destructive to its owner than the love of wealth.
 
 
 
💢 Love of Status: The Most Dangerous
 
This is a condition where a person's heart becomes "addicted" to being praised, respected, and glorified.
 
- If others do not greet him, he feels hurt.
- If he is not invited or highlighted in an event, he gets angry and sulks.
 
The danger lies in the demand for greatness. However, absolute greatness belongs only to Allah Ta'ala. A person who claims to want to be exalted will slowly become arrogant and show off (Riya').
 
The signs: Feeling extremely happy when praised, but getting angry easily when criticized, and doing good deeds only to be seen and praised by others.
 
 
 
💢 Love of Wealth: Dangerous but Less Severe
 
Meanwhile, the love of wealth is less dangerous than status, but still harmful.
 
People whose hearts are attached to wealth live only to satisfy their desires: eating delicious food, having luxurious houses, and an expensive lifestyle.
 
This trait is described in the book as the characteristic of animals. Because animals live only to eat, drink, and reproduce.
 
The signs: Wealth becomes the main goal, not just a tool. If they have no money or feel they lack it, their hearts will never find peace.
 
 
 
Conclusion
 
Both the love of status and the love of wealth show that the heart is still deeply attached to worldly things.
 
- Love of Status stems from the desire to be exalted, yet that right belongs only to Allah.
- Love of Wealth stems from the desire to satisfy lust, which is the nature of animals.
 
Therefore, train our hearts to feel the same whether we are praised or blamed, as long as Allah is pleased. Make wealth a bridge to the Hereafter, not the purpose of life.
 
✍️ Source: Book of Nashoihul Ibad, Page 118, Section 1, Chapter 9

DALIL

وَعَلَيْكَ بِإِخْرَاجِ حُبِّ الْمَنْزِلَةِ عِنْدَ النَّاسِ مِنْ قَلْبِكَ حَتَّى يَسْتَوِيَ عِنْدَكَ إِقْبَالُهُمْ عَلَيْكَ وَإِدْبَارُهُمْ عَنْكَ، فَإِنَّ حُبَّ الْجَاهِ أَضَرُّ عَلَى صَاحِبِهِ مِنْ حُبِّ الْمَالِ، وَكِلَاهُمَا يَدُلَّانِ عَلَى الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا، وَأَصْلُ حُبِّ الْجَاهِ حُبُّ التَّعْظِيمِ، فَالْعَظَمَةُ مِنْ صِفَاتِ اللَّٰهِ تَعَالَى، أَمَّا حُبُّ الْمَالِ فَأَصْلُهُ حُبُّ التَّمَتُّعِ بِالشَّهَوَاتِ وَذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْبَهَائِمِ

Anda harus menyingkirkan dari hati Anda rasa cinta akan status dari manusia, sehingga kedatangan mereka kepada Anda dan penolakan mereka kepada Anda menjadi sama di mata Anda (jika di tolak tidak marah). Karena cinta akan status lebih berbahaya bagi pemiliknya daripada cinta akan kekayaan, dan keduanya menunjukkan keinginan akan hal-hal duniawi. Akar dari cinta akan status adalah cinta akan penghormatan, dan sombong adalah salah satu sifat Allah (wajib di akui hanya allah yang berhak) Yang Mahakuasa. Adapun cinta akan kekayaan, akarnya adalah cinta akan... Memanjakan keinginan adalah ciri khas hewan

"You must remove from your heart the love of status and position in the eyes of people, so that their coming to you and their turning away from you becomes equal in your view (meaning: you do not get angry when rejected).
 
Because the love of status is more dangerous for its owner than the love of wealth, and both of them show a desire for worldly things.
 
The root of loving status is the love of being honored and respected, whereas Greatness/Arrogance is a trait that belongs only to Allah Ta'ala (it must be acknowledged that only He has the right to it).
 
As for the love of wealth, its root is the love of indulging desires and lusts, and that is the characteristic of animals"

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَحُبِّ الْمَدْحِ وَحُبِّ الدُّنْيَا




TIRAKAT

 

Kata Tirakat berasal dari bahasa Arab Thoriqoh yang kemudian mengalami penyesuaian bahasa (jawakan), yang artinya "Jalan" atau "Jalur". Dalam istilah lain, Tirakat memiliki makna yang sama dengan Riyadhoh (latihan spiritual).

 

Imam Al-Ghazali mendefinisikan Riyadhoh dalam kitab Ihya Ulumiddin sebagai berikut:

 

"Riyadhoh adalah membiasakan diri melakukan amalan-amalan yang berat bagi nafsu pada awalnya, hingga akhirnya menjadi karakter yang melekat dan terbiasa."

 

Hal ini senada dengan syair yang menyebutkan:

 

"Nafsu itu akan terus meminta dan menjadi liar jika dituruti. Namun jika dilatih dan dibatasi sedikit demi sedikit, maka ia akan bisa menerima dan menjadi jinak."

 

Contoh praktik Tirakat antara lain: puasa, ngerowot, mutih, wiridan, naun, sholat berjamaah, mengaji, belajar agama, dan berbagai ibadah lainnya

 

ENGLISH 


TIRAKAT

 

The word Tirakat comes from the Arabic word Thoriqoh, which means "The Way" or "The Path". In another term, Tirakat has the same meaning as Riyadhoh (spiritual training or self-discipline).

 

Imam Al-Ghazali defined Riyadhoh in the book Ihya Ulumiddin as follows:

 

"Riyadhoh is the process of accustoming oneself to doing good deeds, which may feel heavy and difficult for the ego at first, until eventually it becomes a natural habit and part of one's character."

 

This is in line with the poetic verse which says:

 

"The ego will keep demanding and become wild if it is always followed and obeyed. However, if it is trained and controlled little by little, it will eventually accept it and become tame."

 

Examples of Tirakat practices include: fasting, ngerowot (spiritual chanting), mutih (eating only white rice and salt), wiridan (regular remembrance), naun (specific prayers), congregational prayer, reciting the Quran, religious studies, and various other acts of worship


DALIL

وَهِيَ تَكَلُّفُ الْأَفْعَالِ الصَّادِرَةِ عنها ابتداء لتصير طبعًا انتهاء 


"Riyadhoh Adalah membiasakan Amaliyah yang sulit diterima oleh nafsu (Permulaanya) Supaya menjadi karakter (seterusnya)"


"Riyadhoh is the process of accustoming oneself to doing good deeds which are difficult and heavy for the ego at first, so that eventually they become a natural habit and part of one's character"


والنفس راغبة إذا رعبتها # وإذا ترد إلى قليل تقنع


"Dan Nafsu Itu akan terus liar jika engkau menurutinya, Dan Jika engkau latih sedikit demi sedikit nafsu akan menerima"


"The ego will keep running wild if you obey it, but if you train it little by little, it will eventually submit"

MAKNA TARIKAT




TIRAKAT

 

Kata Tirakat berasal dari bahasa Arab Thoriqoh yang kemudian mengalami penyesuaian bahasa (jawakan), yang artinya "Jalan" atau "Jalur". Dalam istilah lain, Tirakat memiliki makna yang sama dengan Riyadhoh (latihan spiritual).

 

Imam Al-Ghazali mendefinisikan Riyadhoh dalam kitab Ihya Ulumiddin sebagai berikut:

 

"Riyadhoh adalah membiasakan diri melakukan amalan-amalan yang berat bagi nafsu pada awalnya, hingga akhirnya menjadi karakter yang melekat dan terbiasa."

 

Hal ini senada dengan syair yang menyebutkan:

 

"Nafsu itu akan terus meminta dan menjadi liar jika dituruti. Namun jika dilatih dan dibatasi sedikit demi sedikit, maka ia akan bisa menerima dan menjadi jinak."

 

Contoh praktik Tirakat antara lain: puasa, ngerowot, mutih, wiridan, naun, sholat berjamaah, mengaji, belajar agama, dan berbagai ibadah lainnya

 

ENGLISH 


TIRAKAT

 

The word Tirakat comes from the Arabic word Thoriqoh, which means "The Way" or "The Path". In another term, Tirakat has the same meaning as Riyadhoh (spiritual training or self-discipline).

 

Imam Al-Ghazali defined Riyadhoh in the book Ihya Ulumiddin as follows:

 

"Riyadhoh is the process of accustoming oneself to doing good deeds, which may feel heavy and difficult for the ego at first, until eventually it becomes a natural habit and part of one's character."

 

This is in line with the poetic verse which says:

 

"The ego will keep demanding and become wild if it is always followed and obeyed. However, if it is trained and controlled little by little, it will eventually accept it and become tame."

 

Examples of Tirakat practices include: fasting, ngerowot (spiritual chanting), mutih (eating only white rice and salt), wiridan (regular remembrance), naun (specific prayers), congregational prayer, reciting the Quran, religious studies, and various other acts of worship


DALIL

وَهِيَ تَكَلُّفُ الْأَفْعَالِ الصَّادِرَةِ عنها ابتداء لتصير طبعًا انتهاء 


"Riyadhoh Adalah membiasakan Amaliyah yang sulit diterima oleh nafsu (Permulaanya) Supaya menjadi karakter (seterusnya)"


"Riyadhoh is the process of accustoming oneself to doing good deeds which are difficult and heavy for the ego at first, so that eventually they become a natural habit and part of one's character"


والنفس راغبة إذا رعبتها # وإذا ترد إلى قليل تقنع


"Dan Nafsu Itu akan terus liar jika engkau menurutinya, Dan Jika engkau latih sedikit demi sedikit nafsu akan menerima"


"The ego will keep running wild if you obey it, but if you train it little by little, it will eventually submit"

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top