JUAL KOTORAN HEWAN
1. Pertanyaan: Hukum menjual kotoran hewan (ayam, kambing, lembu)
2. Pandangan Madzhab Syafi'i:
- Syarat barang yang boleh dijual: suci dan bermanfaat
- Sebagian ulama menghukumi kotoran hewan tersebut najis, sehingga jual belinya tidak sah
- Solusi alternatif: bisa dimiliki lewat serah terima tukar barang, bukan transaksi jual beli
3. Pandangan Madzhab Hanafi:
- Membolehkan jual beli kotoran hewan karena ada unsur manfaat
- Syaratnya: manfaat tersebut halal menurut syariat
- Pengecualian: barang yang jelas dilarang dijual (minuman keras, babi, bangkai, darah) tetap tidak boleh
4. Dasar hukum: Diambil dari kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh
ENGLISH
SELLING ANIMAL WASTE
1. Question: Ruling on selling animal waste (chicken, goat, cattle manure)
2. View of the Shafi'i School of Jurisprudence:
- Requirements for goods to be permissible for sale: must be pure (ritually clean) and beneficial
- Some scholars rule that this animal waste is ritually impure, hence the sale transaction is invalid
- Alternative solution: ownership can be transferred through barter/exchange of goods, not through a formal sale transaction
3. View of the Hanafi School of Jurisprudence:
- Permits the sale of animal waste because it provides benefits
- Condition: the benefit must be lawful (halal) according to Islamic law
- Exceptions: goods explicitly prohibited from being sold (alcohol, pork, carrion, blood) remain impermissible
4. Legal Basis: Taken from the book Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh
DALIL
وَلَمْ يَشْتَرِطْ الْحَنَفِيَّةُ هَذَا الشَّرْطَ فَأَجَازُوْا بَيْعَ النَّجَاسَاتِ كَشَعْرِ الْخِنْزِيْرِ وَجِلْدِ الْمَيْتَةِ لِلانْتِفَاعِ بِهَا إِلاَّ مَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ بَيْعِهِ مِنْهَا كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ كَمَا أَجَازُوْا بَيْعَ الْحَيَوَانَاتِ الْمُتَوَحِّشَةِ وَالْمُتَنَجِّسِ الَّذِيْ يُمْكِنُ اْلانْتِفَاعُ بِهِ فِيْ اْلأَكْلِ وَالضَّابِطُ عِنْدَهُمْ أَنَّ كُلَّ مَا فِيْهِ مَنْفَعَةٌ تَحِلُّ شَرْعًا فَإِنَّ بَيْعَهُ يَجُوْزُ لِأَنَّ اْلأَعْيَانَ خُلِقَتْ لِمَنْفَعَةِ اْلإِنْسَانِ
Dan ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan syarat ini (barang yang dijualbelikan harus suci, bukan najis dan terkena najis). Maka mereka memperbolehkan jualbeli barang-barang najis, seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan. Kecuali barang yang terdapat larangan memperjual-belikannya, seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah, sebagaimana mereka juga memperbolehkan jualbeli binatang buas dan najis yang bisa dimanfaatkan untuk dimakan.Dan parameternya menurut mereka (ulama Hanafiyah) adalah, semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.’, maka boleh menjual-belikannya. Sebab, semua makhluk yang ada itu memang diciptakan untuk kemanfaatan manusia
The Hanafi scholars do not stipulate this condition (that goods being traded must be pure, and not impure or contaminated with impurity). Therefore, they permit the sale and purchase of impure items—such as pig hair and the skin of carrion—because they can be utilized. Exceptions are goods whose sale is explicitly prohibited, like alcohol, pork, carrion, and blood. Similarly, they also allow trading wild animals and impure substances that can be used for consumption. According to the Hanafi scholars, the principle is this: anything that yields a benefit that is lawful (halal) under Islamic law may be sold or traded. This is because all created beings were indeed made to serve the benefit of human beings
About the Author