Rabu, 01 April 2026

MANFAAT BERPELUKAN DALAM ISLAM

Posted by Abah Ngapakudin  |  at  April 01, 2026


MANFAAT BERPELUKAN 

 
1. Sunnahnya Berpelukan dengan Orang yang Baru Datang
 
- Berpelukan dengan orang yang baru datang disunnahkan, dengan catatan dilakukan antar sesama jenis dan bukan terhadap orang yang bisa menimbulkan godaan (Amrod Al-jamil)
- Contoh kasus yang sesuai: berpelukan dengan orang yang baru pulang haji, baru datang dari acara tabligh akbar, atau baru masuk pondok pesantren
 
2. Pendapat dalam Kitab Majmu' Syarah Muhadzab
 
- Menjelaskan bahwa mencium wajah (misal pipi) atau berpelukan sunnah jika dilakukan kepada orang yang baru datang dari perjalanan atau hal serupa
- Sedangkan berpelukan dalam kondisi lain (bukan dari perjalanan atau selainnya) makruh (dianjurkan untuk dihindari)
 
3. Pendapat dalam Kitab Ghida' Al-Albab
 
- Tidak ada perbedaan ketentuan – berpelukan tetap diperbolehkan dan disunnahkan, baik untuk orang yang baru datang dari perjalanan maupun untuk orang yang tinggal menetap (mukim)
 
4. Dasar Hukum dari Fatawa Kubro
 
- Imam Daruqutni meriwayatkan dari Sayyidah 'Aisyah radhiallahu 'anha: Ketika Ja'far bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu pulang dari tanah Habasyah, Rasulullah ﷺ keluar menemukannya dan memeluknya
- Meskipun sanad hadits ini tergolong dha'if (lemah), ulama sepakat seperti yang dikatakan Imam Nawawi bahwa hadits dha'if tetap boleh diamalkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan amal

ENGLISH 

BENEFITS OF EMBRACING
 
1. Embracing Those Who Have Just Arrived is Sunnah
 
- Embracing someone who has just arrived is sunnah (recommended), on the condition that it is done between people of the same gender and not with those who may cause temptation (Amrod Al-jamil)
- Examples of appropriate cases: Embracing someone who has just returned from Hajj, someone who has just arrived from a mass Islamic propagation event (tabligh akbar), or someone who has just started studying at an Islamic boarding school (pondok pesantren)
 
2. View from the Book Majmu' Syarah Muhadzab
 
- Explains that kissing the cheek (for example. referring not sensual) or embracing is sunnah when done for someone who has just arrived from a journey or similar circumstances
- Whereas embracing in other situations (not from a journey or other similar cases) is makruh (advised to be avoided)
 
3. View from the Book Ghida' Al-Albab
 
- There is no difference in the ruling – embracing is still permissible and sunnah, both for those who have just arrived from a journey and for those who are settled (mukim)
 
4. Legal Basis from Fatawa Kubro
 
- Imam Daruqutni narrated from Sayyidah 'Aisyah radhiallahu 'anha (may Allah be pleased with her): When Ja'far bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu (may Allah be pleased with him) returned from the land of Habasha (Abyssinia), the Prophet ﷺ went out to meet him and embraced him
- Although the chain of narration (sanad) of this hadith is classified as dha'if (weak), scholars agree as stated by Imam Nawawi that weak hadiths may still be practiced for matters related to the virtues of good deeds

DALIL 

وهذا الذي ذكرنا في التقبيل والمعانقة أنه يستحب عند القدوم من سفر ونحوه ومكروه في غيره

"Ucapan yang telah saya sebut tentang mencium (wajah) dan berpelukan itu sunnah ketika datang dari berpergian dan semisalnya, dan makruh bagi yang lainnya (Tidak datang dari berpergian atau selainnya)"

"The statements I have mentioned regarding kissing (the face) and embracing are sunnah when done for those who have come from a journey and similar circumstances, and are makruh (advised to be avoided) for others (those who have not come from a journey or other such cases)"

وَقَدْ رَوَى الدَّارَقُطْنِيُّ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - «لَمَّا قَدِمَ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - مِنْ أَرْضِ الْحَبَشَةِ خَرَجَ إلَيْهِ النَّبِيُّ - ﷺ - فَعَانَقَهُ» 

Imam Addaruqutni meriwayatkan hadits dari Sayyidah 'aisyah Radhiallahu 'Anha "Sewaktu Ja'far bin Abi thalib Radhiallahu 'anhu datang dari tanah habasyah Rasulullah Keluar (menemui) Ja'far, kemudian Kanjeng nabi memeluk Ja'far

Imam Daruqutni narrated a hadith from Sayyidah 'Aisyah radhiallahu "anha (may Allah be pleased with her): 'When Ja'far bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu (may Allah be pleased with him) came from the land of Habasha (Abyssinia), the Prophet ﷺ went out to meet Ja'far, then the Noble Prophet embraced him"

وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ لَكِنْ اتَّفَقُوا كَمَا قَالَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ يُعْمَلُ بِهِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ

Sanad hadits ini dho'if, tetapi ulama sepakat seperti pernyataan imam An-nawawi : Sesungguhnya hadits Dhoi'f itu bisa diamalakan untuk amal-amal yang utama

The chain of narration (sanad) of this hadith is weak (dha'if), but scholars are in agreement as stated by Imam An-Nawawi: "Indeed, weak hadiths may be acted upon for matters related to virtuous deeds"

Tagged as:
About the Author

Write admin description here..

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.

GIMANA MENG GUNAKAN AL QUR'AN YANG BENAR

back to top