Latest Posts

Selasa, 05 Mei 2026


BAHASA YANG DIGUNAKAN MALAIKAT MUNKAR DAN NAKIR
 
- Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada ahli kubur menggunakan bahasa yang biasa digunakan oleh orang tersebut sehari-hari saat masih hidup di dunia. Hal ini bertujuan agar ahli kubur dapat memahami pertanyaan dengan jelas.
 
Pertanyaan yang Diajukan
 
- Para malaikat akan menanyakan hal-hal fundamental mengenai keimanan, antara lain:- Siapa Tuhanmu?
- Apa Agamamu?
- Siapa Nabimu?
- Apa Kiblatmu?
- Siapa saudaramu?
- Apa pedoman/imammu?
- Bagaimana jalan hidup dan amalmu?
- Apa pendapatmu mengenai Nabi Muhammad SAW?
 
Jawaban Orang Beriman
 
- Orang yang beriman akan dapat menjawab dengan tegas dan benar, menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan, Islam adalah agama, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
- Sebagai balasan, malaikat akan memintanya untuk beristirahat dengan tenang "sebagaimana tidurnya pengantin" hingga hari kiamat tiba.
 
Jawaban Orang Kafir dan Munafik
 
- Sebaliknya, orang kafir dan munafik akan merasa panik, bingung, dan diliputi ketakutan.
- Mereka tidak mampu menjawab dengan benar dan hanya akan mengatakan, "Aku tidak tahu"

ENGLISH

THE LANGUAGE USED BY THE ANGELS MUNKAR AND NAKIR
 
- The Angels Munkar and Nakir will question the deceased using the language that the person commonly spoke in daily life while still alive in the world. This is so that the deceased can understand the questions clearly.
 
The Questions Asked
 
- The angels will ask fundamental matters regarding faith, including:- Who is your Lord?
- What is your religion?
- Who is your Prophet?
- What is your Qiblah (direction of prayer)?
- Who are your brothers/sisters?
- What is your guide/Imam?
- What is your way of life and your deeds?
- What is your opinion regarding the Prophet Muhammad SAW?
 
The Answer of a Believer
 
- A believer will be able to answer firmly and correctly, confirming that Allah is the Lord, Islam is the religion, and Prophet Muhammad is the Messenger of Allah.
- In response, the angels will tell them to rest peacefully "like the sleep of a bride/groom" until the Day of Judgment arrives.
 
The Answer of Disbelievers and Hypocrites
 
- In contrast, disbelievers and hypocrites will feel panic, confusion, and overwhelming fear.
- They will not be able to answer correctly and will only say, "I do not know"

DALIL

ويسألان كل إنسان بلغته ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك 

 
Artinya: Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, "Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Apa kiblatmu? Siapa saudaramu? Apa imammu? Apa jalan hidupmu? Apa amalmu?" (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: Both (the Angels Munkar and Nakir) ask every deceased person in their respective language. They ask, "Who is your Lord? What is your religion? Who is your Prophet? What is your Qiblah? Who are your brothers? What is your Imam? What is your way of life? What are your deeds?" (Sheikh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no year listed], page 17)

والمؤمن يقول لهما ربي الله وحده لا شريك له والإسلام ديني ومحمد نبي وهو خاتم النبيين والكعبة قبلتي والمؤمنون إخوتي والقرآن إمامي والسنة منهاجي وأنا قرأت كتاب الله فآمنت به وصدقته ويقولان له إذا وفق للجواب صدقت ونم نوم العروس الذي لا يوقظه إلا أحب الناس إليه


Artinya: Orang mukmin menjawab keduanya, "Tuhanku adalah Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. Islam agamaku. Muhammad adalah nabiku, ia penutup para nabi. Ka’bah adalah kiblatku. Orang-orang mukmin adalah saudaraku. Al-Qur’an adalah imamku. Sunnah rasul adalah jalan hidupku. Aku membaca kitabullah, dan beriman serta membenarkannya. Kedua malaikat itu berkata kepada ahli kubur yang beriman itu ketika mendapat taufiq untuk menjawabnya: Kau benar. Tidurlah sebagaimana tidur para pengantin yang tiada dapat membangunkannya kecuali orang yang paling mengasihinya (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: The believer answers them both, "My Lord is Allah, the One and Only, there is no partner unto Him. Islam is my religion. Muhammad is my Prophet, he is the Seal of the Prophets. The Kaaba is my Qiblah. The believers are my brothers. The Quran is my guide. The Sunnah of the Messenger is my way of life. I read the Book of Allah, and I believe in and affirm its truth." The two angels then say to the believing soul who is granted the ability to answer correctly: "You have spoken the truth. Sleep now like the sleep of a bride and groom, whom none shall wake except the one most beloved to them."
 
(See Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: n.d.], page 17)

وفي رواية البخاري ومسلم إنهما يقولان له ما كنت تقول في هذا النبي محمد صلى الله عليه وسلم فيقول المؤمن اشهد أنه عبد الله ورسوله انتهى وأما الكافر والمنافق فيحصل لهما رعب فيقولان لهما هاه هاه لا أدري 

 
Artinya: Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, kedua malaikat itu bertanya kepada ahli kubur,"Apa pendapatmu perihal nabi ini, Nabi Muhammad SAW?’ Ahli kubur yang beriman itu menjawab keduanya, ‘Saksikanlah bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) itu hamba dan utusan Allah. Selesai. Adapun orang kafir dan munafik diliputi rasa takut. Keduanya (orang kafir dan munafik) menjawab: Oh, oh, aku tidak tahu," (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: According to the narration of Al-Bukhari and Muslim, the two angels ask the deceased, "What is your opinion regarding this Prophet, Prophet Muhammad SAW?" The believing deceased answers them, "Bear witness that he (Prophet Muhammad SAW) is the servant and Messenger of Allah." That is all. As for the disbelievers and hypocrites, they are overwhelmed by fear. They (the disbelievers and hypocrites) answer: "Oh, oh, I do not know."
 
(Sheikh M Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no date], page 17)

MALAIKAT MUNKAR NAKIR


BAHASA YANG DIGUNAKAN MALAIKAT MUNKAR DAN NAKIR
 
- Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada ahli kubur menggunakan bahasa yang biasa digunakan oleh orang tersebut sehari-hari saat masih hidup di dunia. Hal ini bertujuan agar ahli kubur dapat memahami pertanyaan dengan jelas.
 
Pertanyaan yang Diajukan
 
- Para malaikat akan menanyakan hal-hal fundamental mengenai keimanan, antara lain:- Siapa Tuhanmu?
- Apa Agamamu?
- Siapa Nabimu?
- Apa Kiblatmu?
- Siapa saudaramu?
- Apa pedoman/imammu?
- Bagaimana jalan hidup dan amalmu?
- Apa pendapatmu mengenai Nabi Muhammad SAW?
 
Jawaban Orang Beriman
 
- Orang yang beriman akan dapat menjawab dengan tegas dan benar, menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan, Islam adalah agama, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
- Sebagai balasan, malaikat akan memintanya untuk beristirahat dengan tenang "sebagaimana tidurnya pengantin" hingga hari kiamat tiba.
 
Jawaban Orang Kafir dan Munafik
 
- Sebaliknya, orang kafir dan munafik akan merasa panik, bingung, dan diliputi ketakutan.
- Mereka tidak mampu menjawab dengan benar dan hanya akan mengatakan, "Aku tidak tahu"

ENGLISH

THE LANGUAGE USED BY THE ANGELS MUNKAR AND NAKIR
 
- The Angels Munkar and Nakir will question the deceased using the language that the person commonly spoke in daily life while still alive in the world. This is so that the deceased can understand the questions clearly.
 
The Questions Asked
 
- The angels will ask fundamental matters regarding faith, including:- Who is your Lord?
- What is your religion?
- Who is your Prophet?
- What is your Qiblah (direction of prayer)?
- Who are your brothers/sisters?
- What is your guide/Imam?
- What is your way of life and your deeds?
- What is your opinion regarding the Prophet Muhammad SAW?
 
The Answer of a Believer
 
- A believer will be able to answer firmly and correctly, confirming that Allah is the Lord, Islam is the religion, and Prophet Muhammad is the Messenger of Allah.
- In response, the angels will tell them to rest peacefully "like the sleep of a bride/groom" until the Day of Judgment arrives.
 
The Answer of Disbelievers and Hypocrites
 
- In contrast, disbelievers and hypocrites will feel panic, confusion, and overwhelming fear.
- They will not be able to answer correctly and will only say, "I do not know"

DALIL

ويسألان كل إنسان بلغته ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك 

 
Artinya: Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, "Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Apa kiblatmu? Siapa saudaramu? Apa imammu? Apa jalan hidupmu? Apa amalmu?" (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: Both (the Angels Munkar and Nakir) ask every deceased person in their respective language. They ask, "Who is your Lord? What is your religion? Who is your Prophet? What is your Qiblah? Who are your brothers? What is your Imam? What is your way of life? What are your deeds?" (Sheikh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no year listed], page 17)

والمؤمن يقول لهما ربي الله وحده لا شريك له والإسلام ديني ومحمد نبي وهو خاتم النبيين والكعبة قبلتي والمؤمنون إخوتي والقرآن إمامي والسنة منهاجي وأنا قرأت كتاب الله فآمنت به وصدقته ويقولان له إذا وفق للجواب صدقت ونم نوم العروس الذي لا يوقظه إلا أحب الناس إليه


Artinya: Orang mukmin menjawab keduanya, "Tuhanku adalah Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. Islam agamaku. Muhammad adalah nabiku, ia penutup para nabi. Ka’bah adalah kiblatku. Orang-orang mukmin adalah saudaraku. Al-Qur’an adalah imamku. Sunnah rasul adalah jalan hidupku. Aku membaca kitabullah, dan beriman serta membenarkannya. Kedua malaikat itu berkata kepada ahli kubur yang beriman itu ketika mendapat taufiq untuk menjawabnya: Kau benar. Tidurlah sebagaimana tidur para pengantin yang tiada dapat membangunkannya kecuali orang yang paling mengasihinya (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: The believer answers them both, "My Lord is Allah, the One and Only, there is no partner unto Him. Islam is my religion. Muhammad is my Prophet, he is the Seal of the Prophets. The Kaaba is my Qiblah. The believers are my brothers. The Quran is my guide. The Sunnah of the Messenger is my way of life. I read the Book of Allah, and I believe in and affirm its truth." The two angels then say to the believing soul who is granted the ability to answer correctly: "You have spoken the truth. Sleep now like the sleep of a bride and groom, whom none shall wake except the one most beloved to them."
 
(See Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: n.d.], page 17)

وفي رواية البخاري ومسلم إنهما يقولان له ما كنت تقول في هذا النبي محمد صلى الله عليه وسلم فيقول المؤمن اشهد أنه عبد الله ورسوله انتهى وأما الكافر والمنافق فيحصل لهما رعب فيقولان لهما هاه هاه لا أدري 

 
Artinya: Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, kedua malaikat itu bertanya kepada ahli kubur,"Apa pendapatmu perihal nabi ini, Nabi Muhammad SAW?’ Ahli kubur yang beriman itu menjawab keduanya, ‘Saksikanlah bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) itu hamba dan utusan Allah. Selesai. Adapun orang kafir dan munafik diliputi rasa takut. Keduanya (orang kafir dan munafik) menjawab: Oh, oh, aku tidak tahu," (Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17)

Meaning: According to the narration of Al-Bukhari and Muslim, the two angels ask the deceased, "What is your opinion regarding this Prophet, Prophet Muhammad SAW?" The believing deceased answers them, "Bear witness that he (Prophet Muhammad SAW) is the servant and Messenger of Allah." That is all. As for the disbelievers and hypocrites, they are overwhelmed by fear. They (the disbelievers and hypocrites) answer: "Oh, oh, I do not know."
 
(Sheikh M Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: no date], page 17)

Senin, 04 Mei 2026


SABAR ITU ADA TIGA MACAM
 
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda bahwa sabar terbagi menjadi tiga macam dengan tingkatan yang berbeda-beda:
 
1. Sabar dalam Ketaatan
Yaitu ketabahan dalam menjalankan perintah Allah dan ibadah dengan konsisten.
2. Sabar atas Musibah
Yaitu ketabahan dalam menerima segala ujian, kesulitan, dan cobaan yang menimpa dengan hati yang ikhlas.
3. Sabar dari Maksiat
Yaitu ketabahan dalam menahan diri dan menjauhi segala larangan Allah serta perbuatan dosa.
 
 
 
Pahala dan Tingkatannya
 
Setiap jenis kesabaran memiliki ganjaran derajat yang sangat mulia di sisi Allah SWT, yaitu:
 
- Barangsiapa bersabar dari maksiat hingga menolaknya dengan sebaik-baiknya, maka Allah mencatat baginya 300 derajat.
- Barangsiapa bersabar dalam ketaatan, maka Allah mencatat baginya 600 derajat.
- Barangsiapa bersabar atas musibah, maka Allah mencatat baginya 900 derajat.
 
Wallahu a'lam bish-shawab

ENGLISH

THERE ARE THREE TYPES OF SABR (PATIENCE)
 
It is narrated from the Prophet Muhammad ﷺ that he said patience (Sabar) is divided into three types with different levels:
 
1. Sabar in Obedience
Being steadfast in carrying out the commands of Allah and worship consistently.
 
2. Sabar in the Face of Calamity
Being steadfast in accepting all trials, difficulties, and tests with a sincere heart.
 
3. Sabar in Avoiding Disobedience
Being steadfast in restraining oneself and staying away from all prohibitions of Allah and sinful acts.
 
 
 
Rewards and Levels
 
Each type of patience has a noble reward and rank with Allah SWT, as follows:
 
- Whoever is patient in avoiding disobedience and rejects it in the best way, Allah records for them 300 degrees.
- Whoever is patient in obedience, Allah records for them 600 degrees.
- Whoever is patient in the face of calamity, Allah records for them 900 degrees.
 
Wallahu a'lam bish-shawab
(And Allah knows best what is correct)

SABAR ITU ADA 3


SABAR ITU ADA TIGA MACAM
 
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda bahwa sabar terbagi menjadi tiga macam dengan tingkatan yang berbeda-beda:
 
1. Sabar dalam Ketaatan
Yaitu ketabahan dalam menjalankan perintah Allah dan ibadah dengan konsisten.
2. Sabar atas Musibah
Yaitu ketabahan dalam menerima segala ujian, kesulitan, dan cobaan yang menimpa dengan hati yang ikhlas.
3. Sabar dari Maksiat
Yaitu ketabahan dalam menahan diri dan menjauhi segala larangan Allah serta perbuatan dosa.
 
 
 
Pahala dan Tingkatannya
 
Setiap jenis kesabaran memiliki ganjaran derajat yang sangat mulia di sisi Allah SWT, yaitu:
 
- Barangsiapa bersabar dari maksiat hingga menolaknya dengan sebaik-baiknya, maka Allah mencatat baginya 300 derajat.
- Barangsiapa bersabar dalam ketaatan, maka Allah mencatat baginya 600 derajat.
- Barangsiapa bersabar atas musibah, maka Allah mencatat baginya 900 derajat.
 
Wallahu a'lam bish-shawab

ENGLISH

THERE ARE THREE TYPES OF SABR (PATIENCE)
 
It is narrated from the Prophet Muhammad ﷺ that he said patience (Sabar) is divided into three types with different levels:
 
1. Sabar in Obedience
Being steadfast in carrying out the commands of Allah and worship consistently.
 
2. Sabar in the Face of Calamity
Being steadfast in accepting all trials, difficulties, and tests with a sincere heart.
 
3. Sabar in Avoiding Disobedience
Being steadfast in restraining oneself and staying away from all prohibitions of Allah and sinful acts.
 
 
 
Rewards and Levels
 
Each type of patience has a noble reward and rank with Allah SWT, as follows:
 
- Whoever is patient in avoiding disobedience and rejects it in the best way, Allah records for them 300 degrees.
- Whoever is patient in obedience, Allah records for them 600 degrees.
- Whoever is patient in the face of calamity, Allah records for them 900 degrees.
 
Wallahu a'lam bish-shawab
(And Allah knows best what is correct)


7 KEMULIAAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU MESKIPUN TIDAK FAHAM

Dijelaskan dalam kitab Tanbihul Ghafilin halaman 159, bahwa seseorang yang duduk bersama orang alim meskipun tidak mampu menghafal ilmunya, tetap akan memperoleh tujuh kemuliaan dari Allah SWT:
 
Tujuh Kemuliaan Utama:
 
1. Mendapatkan keutamaan para penuntut ilmu.
2. Terhindar dari perbuatan dosa dan kesalahan
3. Turunnya rahmat Allah saat ia berangkat ke majelis
4. Ikut mendapatkan rahmat dan keberkahan dari para ulama.
5. Setiap ilmu yang didengarnya dicatat sebagai amal kebaikan.
6. Para malaikat melindungi dengan sayapnya selama ia berada di sana.
7. Setiap langkah kakinya menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, dan penambah kebaikan
 
Enam Kemuliaan Tambahan:
Selain itu, Allah juga menganugerahkan enam kemuliaan lainnya, yaitu:
 
1. Dimuliakan karena kecintaannya menyaksikan majelis ilmu.
2. Mendapatkan pahala setara dengan para ulama tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
3. Mendapatkan syafaat (pertolongan) jika salah seorang di antara mereka diampuni Allah.
4. Hatinya menjadi sejuk dari orang-orang fasik
5. Termasuk dalam golongan orang-orang yang belajar dan orang-orang shalih.
6. Dijadikan sebagai orang yang Rabbani (bijaksana dan mengamalkan ilmu), sesuai firman Allah SWT.
 
Kemuliaan-kemuliaan ini diperoleh meskipun ia tidak hafal ilmunya. Bagi yang mampu menghafal dan memahami, maka kemuliaannya akan berlipat ganda.
 
 
 
📚 Sumber: Tanbihul Ghafilin, Hal. 159

ENGLISH

7 GLORIES OF ATTENDING A RELIGIOUS GATHERING EVEN IF YOU DO NOT UNDERSTAND
 
As explained in the book Tanbihul Ghafilin page 159, a person who sits with scholars, even if they cannot memorize the knowledge, will still receive seven honors from Allah SWT:
 
The Seven Main Honors:
 
1. Gaining the virtue of being a seeker of knowledge.
2. Being protected from committing sins and mistakes.
3. The mercy of Allah descends upon them while traveling to the gathering.
4. Receiving mercy and blessings alongside the scholars.
5. Every piece of knowledge heard is recorded as a good deed.
6. The angels surround and protect them with their wings.
7. Every step taken erases sins, raises their rank, and adds good deeds.
 
Six Additional Honors:
 
Furthermore, Allah bestows six more honors, namely:
 
1. Being honored for their love of attending religious gatherings.
2. Receiving rewards equal to the scholars, without decreasing their rewards in the slightest.
3. Obtaining intercession (syafa'at) if one among them is forgiven by Allah.
4. Having a heart that finds comfort away from wicked people.
5. Being included in the group of learners and righteous people.
6. Being raised as a Rabbani person (wise and practicing knowledge), according to the word of Allah SWT.
 
These honors are granted even if one does not memorize the knowledge. For those who are able to memorize and understand, their rewards will be multiplied manifold.
 
📚 Source: Tanbihul Ghafilin, Page 159

MENDATANGI MAJELIS TANPA FAHAM


7 KEMULIAAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU MESKIPUN TIDAK FAHAM

Dijelaskan dalam kitab Tanbihul Ghafilin halaman 159, bahwa seseorang yang duduk bersama orang alim meskipun tidak mampu menghafal ilmunya, tetap akan memperoleh tujuh kemuliaan dari Allah SWT:
 
Tujuh Kemuliaan Utama:
 
1. Mendapatkan keutamaan para penuntut ilmu.
2. Terhindar dari perbuatan dosa dan kesalahan
3. Turunnya rahmat Allah saat ia berangkat ke majelis
4. Ikut mendapatkan rahmat dan keberkahan dari para ulama.
5. Setiap ilmu yang didengarnya dicatat sebagai amal kebaikan.
6. Para malaikat melindungi dengan sayapnya selama ia berada di sana.
7. Setiap langkah kakinya menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, dan penambah kebaikan
 
Enam Kemuliaan Tambahan:
Selain itu, Allah juga menganugerahkan enam kemuliaan lainnya, yaitu:
 
1. Dimuliakan karena kecintaannya menyaksikan majelis ilmu.
2. Mendapatkan pahala setara dengan para ulama tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
3. Mendapatkan syafaat (pertolongan) jika salah seorang di antara mereka diampuni Allah.
4. Hatinya menjadi sejuk dari orang-orang fasik
5. Termasuk dalam golongan orang-orang yang belajar dan orang-orang shalih.
6. Dijadikan sebagai orang yang Rabbani (bijaksana dan mengamalkan ilmu), sesuai firman Allah SWT.
 
Kemuliaan-kemuliaan ini diperoleh meskipun ia tidak hafal ilmunya. Bagi yang mampu menghafal dan memahami, maka kemuliaannya akan berlipat ganda.
 
 
 
📚 Sumber: Tanbihul Ghafilin, Hal. 159

ENGLISH

7 GLORIES OF ATTENDING A RELIGIOUS GATHERING EVEN IF YOU DO NOT UNDERSTAND
 
As explained in the book Tanbihul Ghafilin page 159, a person who sits with scholars, even if they cannot memorize the knowledge, will still receive seven honors from Allah SWT:
 
The Seven Main Honors:
 
1. Gaining the virtue of being a seeker of knowledge.
2. Being protected from committing sins and mistakes.
3. The mercy of Allah descends upon them while traveling to the gathering.
4. Receiving mercy and blessings alongside the scholars.
5. Every piece of knowledge heard is recorded as a good deed.
6. The angels surround and protect them with their wings.
7. Every step taken erases sins, raises their rank, and adds good deeds.
 
Six Additional Honors:
 
Furthermore, Allah bestows six more honors, namely:
 
1. Being honored for their love of attending religious gatherings.
2. Receiving rewards equal to the scholars, without decreasing their rewards in the slightest.
3. Obtaining intercession (syafa'at) if one among them is forgiven by Allah.
4. Having a heart that finds comfort away from wicked people.
5. Being included in the group of learners and righteous people.
6. Being raised as a Rabbani person (wise and practicing knowledge), according to the word of Allah SWT.
 
These honors are granted even if one does not memorize the knowledge. For those who are able to memorize and understand, their rewards will be multiplied manifold.
 
📚 Source: Tanbihul Ghafilin, Page 159

Minggu, 03 Mei 2026


BEDA HUKUM MENGONSUMSI KADAL GURUN DAN BIAWAK
 
1. Persepsi Umum Mengenai Biawak
 
- Biawak adalah hewan yang sering ditemukan di tempat lembap, rawa-rawa, dan dekat perairan.
- Di beberapa daerah, daging biawak diolah menjadi makanan dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan, seperti meningkatkan stamina dan mencegah penyakit tertentu.
- Banyak masyarakat menganggap biawak halal dimakan karena menyamakannya dengan hewan Dlabb yang disebutkan dalam hadits.
 
2. Perbedaan Antara Hewan Dlabb dan Biawak
 
Secara hukum Islam, sangat penting membedakan definisi kedua hewan ini karena memiliki status hukum yang berbeda:
 
A. Hewan Dlabb (Kadal Gurun)
 
- Nama lain: Uromastyx atau Kadal Gurun.
- Habitat: Hidup di daerah gurun pasir, bukan di rawa-rawa atau air.
- Makanan: Memakan rerumputan dan belalang (bukan hewan buas/pemangsa).
- Ciri fisik: Tubuh kasar dan tebal, ekor lebar dan tidak terlalu panjang, ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan biawak.
- Keterangan khusus: Menurut kitab fiqih, hewan ini memiliki karakteristik khusus seperti jarang minum air dan kencing hanya sekali dalam 40 hari.
- Hukum: HALAL. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Al-Bukhari yang menyatakan bahwa sahabat Nabi pernah memakannya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Makanlah, karena daging itu halal... akan tetapi bukan makananku."
 
B. Hewan Biawak
 
- Nama Arab: Al-Waral.
- Habitat: Hidup di rawa-rawa, sungai, dan tempat yang lembap.
- Makanan: Termasuk hewan buas yang memangsa kodok, ikan, tikus, burung, dan hewan kecil lainnya.
- Ciri fisik: Tubuh lebih besar, ekor panjang dan licin, serta hidup berdekatan dengan air.
- Hukum: HARAM.
 
3. Dalil dan Dasar Hukum Keharaman Biawak
 
- Meskipun bentuk fisiknya mirip, biawak bukanlah hewan Dlabb yang dimaksud dalam hadits.
- Hal ini ditegaskan dalam kitab Bulghah at-Thullab yang menyatakan: "Hewan yang dikenal dengan nama biawak itu sejatinya bukanlah binatang Dlabb, maka haram mengonsumsinya."
- Ketetapan ini juga telah diputuskan sejak lama dalam Muktamar ke-7 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan pada tanggal 9 Agustus 1932 M di Bandung.
- Alasan keharamannya adalah karena biawak tergolong hewan yang menjijikkan (qadharah) menurut pandangan tabiat orang Arab secara umum dan bersifat buas.
 
4. Kesimpulan
 
- Kadal Gurun (Dlabb) adalah hewan yang Halal dimakan berdasarkan dalil hadits.
- Biawak (Al-Waral) adalah hewan yang Haram dimakan berdasarkan ketetapan ulama dan keputusan organisasi Islam (NU), karena berbeda jenis dan sifatnya dengan Dlabb.
- Seorang Muslim wajib memperhatikan status halal atau haram makanan, tidak hanya melihat dari sisi kelezatan atau manfaat kesehatan semata

ENGLISH

DIFFERENCES IN THE RULING ON CONSUMPTION OF SPINY-TAILED LIZARD (UROMASTYX) AND MONITOR LIZARD
 
1. General Perception Regarding Monitor Lizards
 
- Monitor lizards are animals often found in humid areas, swamps, and near water bodies.
- In several regions, monitor lizard meat is processed into food and is believed to have health benefits, such as increasing stamina and preventing certain diseases.
- Many people consider monitor lizards lawful (halal) to eat because they equate it with the animal called Dlabb mentioned in the Hadith.
 
2. Differences Between Dlabb and Monitor Lizard
 
In Islamic law, it is very important to distinguish between these two animals as they have different legal statuses:
 
A. Animal Dlabb (Spiny-tailed Lizard)
 
- Other names: Uromastyx or Desert Lizard.
- Habitat: Lives in desert areas, not in swamps or water.
- Diet: Feeds on grass and locusts (not a predatory/wild animal).
- Physical characteristics: Rough and thick body, wide and not overly long tail, smaller in size compared to the monitor lizard.
- Special characteristics: According to Fiqh books, this animal has unique traits such as rarely drinking water and urinating only once every 40 days.
- Ruling: LAWFUL (HALAL). This is based on the Hadith narrated by Al-Bukhari, which states that the Companions of the Prophet ate it, and the Prophet Muhammad ﷺ said: "Eat it, for it is lawful... however, it is not part of my diet."
 
B. Monitor Lizard
 
- Arabic name: Al-Waral.
- Habitat: Lives in swamps, rivers, and humid places.
- Diet: Classified as a wild animal that preys on frogs, fish, rats, birds, and other small animals.
- Physical characteristics: Larger body, long and smooth tail, and lives near water.
- Ruling: UNLAWFUL (HARAM).
 
3. Evidence and Basis for the Prohibition of Consuming Monitor Lizard
 
- Although physically similar, the monitor lizard is not the Dlabb referred to in the Hadith.
- This is confirmed in the book Bulghah at-Thullab, which states: "The animal known to us as the monitor lizard is truly not the Dlabb, therefore it is forbidden to consume."
- This ruling was also established long ago during the 7th Congress of Nahdlatul Ulama, held on August 9, 1932, in Bandung.
- The reason for its prohibition is that the monitor lizard is considered a repugnant/loathsome animal (qadharah) according to the natural disposition (fitrah) of the Arabs and is classified as a predatory animal.
 
4. Conclusion
 
- The Spiny-tailed Lizard (Dlabb) is Lawful (Halal) to eat based on the evidence of the Hadith.
- The Monitor Lizard (Al-Waral) is Unlawful (Haram) to eat based on the rulings of scholars and the decision of the Islamic organization (NU), because it differs in type and nature from Dlabb.
- A Muslim is obliged to pay attention to the lawful or unlawful status of food, and not only consider its taste or health benefits alone

DALIL

كَانَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ سَعْدٌ فَذَهَبُوا يَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمٍ فَنَادَتْهُمْ امْرَأَةٌ مِنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ فَأَمْسَكُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا أَوْ اطْعَمُوا فَإِنَّهُ حَلَالٌ أَوْ قَالَ لَا بَأْسَ بِهِ شَكَّ فِيهِ وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي

 
Artinya, “Orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam yang di antara mereka terdapat Sa’ad sedang makan daging. Kemudian salah seorang istri Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memanggil mereka seraya berkata: ‘Itu daging dlabb’. Mereka pun berhenti makan. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Makanlah, karena karena daging itu halal’ atau beliau bersabda, ‘Tidak masalah (daging itu) dimakan, akan tetapi daging hewan itu bukanlah makananku” (HR al-Bukhari)

Meaning: "Some of the Companions of the Prophet Muhammad, may Allah bless him and grant him peace, among whom was Sa'd, were eating some meat. Then one of the wives of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, called out to them saying: 'That is the meat of dlabb.' So they stopped eating it. Then the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said: 'Eat it, for it is lawful' or he said: 'There is no harm in eating it, however it is not part of my food.'" (Narrated by al-Bukhari)

(قَوْلُهُ وَضَبٌّ) وَهُوَ حَيَوَانٌ يُشْبِهُ الْوَرَلَ يَعِيْشُ نَحْوَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ شَأْنِهِ أَنَّهُ لاَ يَشْرَبُ الْمَاءَ. وَأَنَّهُ يَبُوْلُ فِيْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا مَرَّةً وَأَنَّهُ لِلأُنْثَى مِنْهُ فَرْجَانِ وَلِلذَّكَرِ ذَكَرَانِ .

 
Artinya, “Binatang dlabb adalah binatang yang menyerupai biawak yang hidup sekitar tujuh ratus tahun. Sebagian dari spesifikasi binatang ini adalah tidak minum air dan kencing satu kali dalam empat puluh hari. Hewan dlabb yang betina mempunyai dua alat kelamin, dan yang jantan pun mempunyai dua alat kelamin” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Juz IV, Hal. 259)

Meaning: “The dlabb animal is a creature that resembles a monitor lizard and lives for approximately seven hundred years. Among its characteristics are that it does not drink water and urinates only once every forty days. The female dlabb has two private parts, and the male also has two private parts” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Volume IV, p. 259)

الحَيَوَانُ المَعْرُوْفُ عِنْدَنَا المُسَمَّى بِنْيَاوَاكْ سَلِيْرَا لَيْسَ هُوَ الضَّبُّ فَيَحْرُمُ أَكْلُهُ

 
Artinya, “Hewan yang dikenal di kalangan (sekitar) kita dengan nama biawak seliro itu sejatinya bukanlah binatang dlabb, maka haram mengonsumsinya” (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, Hal. 357)

Meaning: "The animal known among us as 'biawak seliro' is in reality not the dlabb animal, therefore it is forbidden to consume it" (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, p. 357)

HUKUM MAKAN KADAL GURUN


BEDA HUKUM MENGONSUMSI KADAL GURUN DAN BIAWAK
 
1. Persepsi Umum Mengenai Biawak
 
- Biawak adalah hewan yang sering ditemukan di tempat lembap, rawa-rawa, dan dekat perairan.
- Di beberapa daerah, daging biawak diolah menjadi makanan dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan, seperti meningkatkan stamina dan mencegah penyakit tertentu.
- Banyak masyarakat menganggap biawak halal dimakan karena menyamakannya dengan hewan Dlabb yang disebutkan dalam hadits.
 
2. Perbedaan Antara Hewan Dlabb dan Biawak
 
Secara hukum Islam, sangat penting membedakan definisi kedua hewan ini karena memiliki status hukum yang berbeda:
 
A. Hewan Dlabb (Kadal Gurun)
 
- Nama lain: Uromastyx atau Kadal Gurun.
- Habitat: Hidup di daerah gurun pasir, bukan di rawa-rawa atau air.
- Makanan: Memakan rerumputan dan belalang (bukan hewan buas/pemangsa).
- Ciri fisik: Tubuh kasar dan tebal, ekor lebar dan tidak terlalu panjang, ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan biawak.
- Keterangan khusus: Menurut kitab fiqih, hewan ini memiliki karakteristik khusus seperti jarang minum air dan kencing hanya sekali dalam 40 hari.
- Hukum: HALAL. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Al-Bukhari yang menyatakan bahwa sahabat Nabi pernah memakannya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Makanlah, karena daging itu halal... akan tetapi bukan makananku."
 
B. Hewan Biawak
 
- Nama Arab: Al-Waral.
- Habitat: Hidup di rawa-rawa, sungai, dan tempat yang lembap.
- Makanan: Termasuk hewan buas yang memangsa kodok, ikan, tikus, burung, dan hewan kecil lainnya.
- Ciri fisik: Tubuh lebih besar, ekor panjang dan licin, serta hidup berdekatan dengan air.
- Hukum: HARAM.
 
3. Dalil dan Dasar Hukum Keharaman Biawak
 
- Meskipun bentuk fisiknya mirip, biawak bukanlah hewan Dlabb yang dimaksud dalam hadits.
- Hal ini ditegaskan dalam kitab Bulghah at-Thullab yang menyatakan: "Hewan yang dikenal dengan nama biawak itu sejatinya bukanlah binatang Dlabb, maka haram mengonsumsinya."
- Ketetapan ini juga telah diputuskan sejak lama dalam Muktamar ke-7 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan pada tanggal 9 Agustus 1932 M di Bandung.
- Alasan keharamannya adalah karena biawak tergolong hewan yang menjijikkan (qadharah) menurut pandangan tabiat orang Arab secara umum dan bersifat buas.
 
4. Kesimpulan
 
- Kadal Gurun (Dlabb) adalah hewan yang Halal dimakan berdasarkan dalil hadits.
- Biawak (Al-Waral) adalah hewan yang Haram dimakan berdasarkan ketetapan ulama dan keputusan organisasi Islam (NU), karena berbeda jenis dan sifatnya dengan Dlabb.
- Seorang Muslim wajib memperhatikan status halal atau haram makanan, tidak hanya melihat dari sisi kelezatan atau manfaat kesehatan semata

ENGLISH

DIFFERENCES IN THE RULING ON CONSUMPTION OF SPINY-TAILED LIZARD (UROMASTYX) AND MONITOR LIZARD
 
1. General Perception Regarding Monitor Lizards
 
- Monitor lizards are animals often found in humid areas, swamps, and near water bodies.
- In several regions, monitor lizard meat is processed into food and is believed to have health benefits, such as increasing stamina and preventing certain diseases.
- Many people consider monitor lizards lawful (halal) to eat because they equate it with the animal called Dlabb mentioned in the Hadith.
 
2. Differences Between Dlabb and Monitor Lizard
 
In Islamic law, it is very important to distinguish between these two animals as they have different legal statuses:
 
A. Animal Dlabb (Spiny-tailed Lizard)
 
- Other names: Uromastyx or Desert Lizard.
- Habitat: Lives in desert areas, not in swamps or water.
- Diet: Feeds on grass and locusts (not a predatory/wild animal).
- Physical characteristics: Rough and thick body, wide and not overly long tail, smaller in size compared to the monitor lizard.
- Special characteristics: According to Fiqh books, this animal has unique traits such as rarely drinking water and urinating only once every 40 days.
- Ruling: LAWFUL (HALAL). This is based on the Hadith narrated by Al-Bukhari, which states that the Companions of the Prophet ate it, and the Prophet Muhammad ﷺ said: "Eat it, for it is lawful... however, it is not part of my diet."
 
B. Monitor Lizard
 
- Arabic name: Al-Waral.
- Habitat: Lives in swamps, rivers, and humid places.
- Diet: Classified as a wild animal that preys on frogs, fish, rats, birds, and other small animals.
- Physical characteristics: Larger body, long and smooth tail, and lives near water.
- Ruling: UNLAWFUL (HARAM).
 
3. Evidence and Basis for the Prohibition of Consuming Monitor Lizard
 
- Although physically similar, the monitor lizard is not the Dlabb referred to in the Hadith.
- This is confirmed in the book Bulghah at-Thullab, which states: "The animal known to us as the monitor lizard is truly not the Dlabb, therefore it is forbidden to consume."
- This ruling was also established long ago during the 7th Congress of Nahdlatul Ulama, held on August 9, 1932, in Bandung.
- The reason for its prohibition is that the monitor lizard is considered a repugnant/loathsome animal (qadharah) according to the natural disposition (fitrah) of the Arabs and is classified as a predatory animal.
 
4. Conclusion
 
- The Spiny-tailed Lizard (Dlabb) is Lawful (Halal) to eat based on the evidence of the Hadith.
- The Monitor Lizard (Al-Waral) is Unlawful (Haram) to eat based on the rulings of scholars and the decision of the Islamic organization (NU), because it differs in type and nature from Dlabb.
- A Muslim is obliged to pay attention to the lawful or unlawful status of food, and not only consider its taste or health benefits alone

DALIL

كَانَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ سَعْدٌ فَذَهَبُوا يَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمٍ فَنَادَتْهُمْ امْرَأَةٌ مِنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ فَأَمْسَكُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا أَوْ اطْعَمُوا فَإِنَّهُ حَلَالٌ أَوْ قَالَ لَا بَأْسَ بِهِ شَكَّ فِيهِ وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي

 
Artinya, “Orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam yang di antara mereka terdapat Sa’ad sedang makan daging. Kemudian salah seorang istri Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memanggil mereka seraya berkata: ‘Itu daging dlabb’. Mereka pun berhenti makan. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Makanlah, karena karena daging itu halal’ atau beliau bersabda, ‘Tidak masalah (daging itu) dimakan, akan tetapi daging hewan itu bukanlah makananku” (HR al-Bukhari)

Meaning: "Some of the Companions of the Prophet Muhammad, may Allah bless him and grant him peace, among whom was Sa'd, were eating some meat. Then one of the wives of the Prophet, may Allah bless him and grant him peace, called out to them saying: 'That is the meat of dlabb.' So they stopped eating it. Then the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, said: 'Eat it, for it is lawful' or he said: 'There is no harm in eating it, however it is not part of my food.'" (Narrated by al-Bukhari)

(قَوْلُهُ وَضَبٌّ) وَهُوَ حَيَوَانٌ يُشْبِهُ الْوَرَلَ يَعِيْشُ نَحْوَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ شَأْنِهِ أَنَّهُ لاَ يَشْرَبُ الْمَاءَ. وَأَنَّهُ يَبُوْلُ فِيْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا مَرَّةً وَأَنَّهُ لِلأُنْثَى مِنْهُ فَرْجَانِ وَلِلذَّكَرِ ذَكَرَانِ .

 
Artinya, “Binatang dlabb adalah binatang yang menyerupai biawak yang hidup sekitar tujuh ratus tahun. Sebagian dari spesifikasi binatang ini adalah tidak minum air dan kencing satu kali dalam empat puluh hari. Hewan dlabb yang betina mempunyai dua alat kelamin, dan yang jantan pun mempunyai dua alat kelamin” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Juz IV, Hal. 259)

Meaning: “The dlabb animal is a creature that resembles a monitor lizard and lives for approximately seven hundred years. Among its characteristics are that it does not drink water and urinates only once every forty days. The female dlabb has two private parts, and the male also has two private parts” (Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Minhaj, (Indonesia: al-Haramain), Volume IV, p. 259)

الحَيَوَانُ المَعْرُوْفُ عِنْدَنَا المُسَمَّى بِنْيَاوَاكْ سَلِيْرَا لَيْسَ هُوَ الضَّبُّ فَيَحْرُمُ أَكْلُهُ

 
Artinya, “Hewan yang dikenal di kalangan (sekitar) kita dengan nama biawak seliro itu sejatinya bukanlah binatang dlabb, maka haram mengonsumsinya” (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, Hal. 357)

Meaning: "The animal known among us as 'biawak seliro' is in reality not the dlabb animal, therefore it is forbidden to consume it" (KH Thoifur Ali Wafa, Bulghah at-Thullab, p. 357)

Sabtu, 02 Mei 2026


ADAKAH CARA MENDAPATKAN RIDHO ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT?
 
Ridho orang tua tidak terputus meskipun mereka telah meninggal dunia. Seorang anak masih bisa mendapatkan dan memelihara ridho mereka melalui tiga perkara utama:
 
1. Menjadi Anak yang Shaleh
Menjadi pribadi yang baik dan taat kepada Allah SWT merupakan hal yang paling dicintai dan membanggakan bagi kedua orang tua.
2. Menyambung Tali Silaturahim
Terus menjaga hubungan baik dengan kerabat keluarga serta teman-teman dekat orang tua, sebagaimana yang diajarkan dalam hadits untuk memuliakan sahabat dan melaksanakan janji mereka.
3. Mendoakan dan Beramal untuk Mereka
Senantiasa memohonkan ampunan, mendoakan kebaikan, dan bersedekah yang pahalanya disampaikan kepada kedua orang tua.
 
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Tanbihul Ghafilin bahwa kewajiban berbakti masih dapat dilaksanakan dengan memohonkan ampunan, melaksanakan janji, memuliakan teman, dan menyambung tali persaudaraan yang terhubung melalui mereka

ENGLISH 

IS THERE A WAY TO GAIN THE BLESSINGS OF DECEASED PARENTS?
 
A parent's blessing does not end even after they have passed away. A child can still earn and maintain their blessings through three main ways:
 
1. Becoming a Righteous Child
Being a good person and obedient to Allah SWT is what brings the most love and pride to your parents.
 
2. Maintaining Family Ties
Continue to keep good relationships with family relatives and your parents' close friends. As taught in the Hadith, honor their friends and fulfill their promises.
 
3. Praying and Doing Good Deeds for Them
Always ask for forgiveness, pray for their well-being, and give charity, dedicating the rewards to your parents.
 
This is in accordance with the saying of the Prophet Muhammad SAW, as narrated in Tanbihul Ghafilin, that the duty to be dutiful to one's parents can still be fulfilled by seeking forgiveness for them, fulfilling their promises, honoring their friends, and maintaining family ties connected through them

DALIL

وَذُكِرَ اَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي سَلَمَة جَاءَ اِلى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: إِنَّ اَبَوَيًَ قَدْ مَاتَا فَهَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّهِمَا عَلَيًَ شَيْءٌ قَالَ: نَعَمْ، الِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

Disebutkan bahwa ada seseorang dari Bani Salamah datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: 
Sesungguhnya kedua orangtuaku telah wafat, apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk kedua orang tuaku?’ Nabi menjawab: ‘Iya, engkau memohonkan ampunan untuk mereka, melaksanakan janjinya, memuliakan teman mereka, dan menyambung tali silaturahmi dengan kerabat mereka

It is narrated that a man from the tribe of Bani Salamah came to the Prophet Muhammad (peace be upon him) and said:
 
"Verily, my parents have passed away. Is there anything left that I can do for them?"
 
The Prophet replied: "Yes. Seek forgiveness for them, fulfill their promises, honor their friends, and maintain good relations with their relatives"

CARA MENDAPATKAN RIDHO ORANG TUA YANG UDAH WAFAT


ADAKAH CARA MENDAPATKAN RIDHO ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT?
 
Ridho orang tua tidak terputus meskipun mereka telah meninggal dunia. Seorang anak masih bisa mendapatkan dan memelihara ridho mereka melalui tiga perkara utama:
 
1. Menjadi Anak yang Shaleh
Menjadi pribadi yang baik dan taat kepada Allah SWT merupakan hal yang paling dicintai dan membanggakan bagi kedua orang tua.
2. Menyambung Tali Silaturahim
Terus menjaga hubungan baik dengan kerabat keluarga serta teman-teman dekat orang tua, sebagaimana yang diajarkan dalam hadits untuk memuliakan sahabat dan melaksanakan janji mereka.
3. Mendoakan dan Beramal untuk Mereka
Senantiasa memohonkan ampunan, mendoakan kebaikan, dan bersedekah yang pahalanya disampaikan kepada kedua orang tua.
 
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Tanbihul Ghafilin bahwa kewajiban berbakti masih dapat dilaksanakan dengan memohonkan ampunan, melaksanakan janji, memuliakan teman, dan menyambung tali persaudaraan yang terhubung melalui mereka

ENGLISH 

IS THERE A WAY TO GAIN THE BLESSINGS OF DECEASED PARENTS?
 
A parent's blessing does not end even after they have passed away. A child can still earn and maintain their blessings through three main ways:
 
1. Becoming a Righteous Child
Being a good person and obedient to Allah SWT is what brings the most love and pride to your parents.
 
2. Maintaining Family Ties
Continue to keep good relationships with family relatives and your parents' close friends. As taught in the Hadith, honor their friends and fulfill their promises.
 
3. Praying and Doing Good Deeds for Them
Always ask for forgiveness, pray for their well-being, and give charity, dedicating the rewards to your parents.
 
This is in accordance with the saying of the Prophet Muhammad SAW, as narrated in Tanbihul Ghafilin, that the duty to be dutiful to one's parents can still be fulfilled by seeking forgiveness for them, fulfilling their promises, honoring their friends, and maintaining family ties connected through them

DALIL

وَذُكِرَ اَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي سَلَمَة جَاءَ اِلى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: إِنَّ اَبَوَيًَ قَدْ مَاتَا فَهَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّهِمَا عَلَيًَ شَيْءٌ قَالَ: نَعَمْ، الِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

Disebutkan bahwa ada seseorang dari Bani Salamah datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: 
Sesungguhnya kedua orangtuaku telah wafat, apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk kedua orang tuaku?’ Nabi menjawab: ‘Iya, engkau memohonkan ampunan untuk mereka, melaksanakan janjinya, memuliakan teman mereka, dan menyambung tali silaturahmi dengan kerabat mereka

It is narrated that a man from the tribe of Bani Salamah came to the Prophet Muhammad (peace be upon him) and said:
 
"Verily, my parents have passed away. Is there anything left that I can do for them?"
 
The Prophet replied: "Yes. Seek forgiveness for them, fulfill their promises, honor their friends, and maintain good relations with their relatives"

illustration of syaikh abdul qadir al jilani


ARIF MASYHUR DAN MASTUR

Sejak zaman dahulu, kedudukan orang yang Arif billah (mengenal Allah) terbagi menjadi dua keadaan: ada yang masyhur (terkenal dan dikenal luas oleh masyarakat), namun ada pula yang mastur (tersembunyi dan tidak viral).
 
Hal ini tergambar dalam peristiwa Isra Wal Mi'raj, ketika Rasulullah SAW bertemu dua sosok manusia yang jasadnya masih utuh. Salah satunya terbuka, dan yang lainnya tertutup
 
Malaikat Jibril menjelaskan soal jasad:
 
- Yang terbuka/keturunan nabi saw: Adalah keturunan beliau kelak yang menjadi Wali besar dan terkenal, yaitu Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- Yang tertutup: Juga seorang Wali Allah yang memiliki kedudukan sangat tinggi (Quthub), yaitu Uwais Al-Qoroni, namun namanya tidak banyak dikenal orang.
 
Hingga kini, kebesaran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani terbukti sangat masyhur. Banyak orang mengamalkan ajarannya, bertawasul, membaca manaqib, dan berziarah ke makamnya
 
ENGLISH

ARIF MASYHUR AND MASTUR
 
Since ancient times, the status of those who are Arif billah (those who truly know Allah) has been divided into two states: some are masyhur (famous and widely known by the people), while others are mastur (hidden and not viral).
 
This is illustrated in the event of Isra Wal Mi'raj, when the Prophet Muhammad ﷺ encountered two human figures whose bodies remained intact. One was open/exposed, while the other was covered.
 
Angel Jibril explained:
 
- The one that was open: He is one of your descendants who will become a great and famous Wali (Saint of Allah), namely Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- The one that was covered: He is also a great Wali of Allah with the highest rank (Quthub), namely Uwais Al-Qoroni, however, not many people know about him.
 
Until today, the greatness of Syekh Abdul Qodir Al-Jilani is indeed very famous. Many people practice his teachings, make tawasul, read his manaqib (biography of virtues), and visit his shrine

DALIL

المشهور ببركة المستور 

"Orang-orang yang masyhur sebab keberkahan Orang-orang yang mastur"

"The famous ones exist because of the blessings of the hidden ones"

NABI SAW UDAH PERNAH MENDENGAR RAMALAN SYAIKH ABDUL QADIR

illustration of syaikh abdul qadir al jilani


ARIF MASYHUR DAN MASTUR

Sejak zaman dahulu, kedudukan orang yang Arif billah (mengenal Allah) terbagi menjadi dua keadaan: ada yang masyhur (terkenal dan dikenal luas oleh masyarakat), namun ada pula yang mastur (tersembunyi dan tidak viral).
 
Hal ini tergambar dalam peristiwa Isra Wal Mi'raj, ketika Rasulullah SAW bertemu dua sosok manusia yang jasadnya masih utuh. Salah satunya terbuka, dan yang lainnya tertutup
 
Malaikat Jibril menjelaskan soal jasad:
 
- Yang terbuka/keturunan nabi saw: Adalah keturunan beliau kelak yang menjadi Wali besar dan terkenal, yaitu Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- Yang tertutup: Juga seorang Wali Allah yang memiliki kedudukan sangat tinggi (Quthub), yaitu Uwais Al-Qoroni, namun namanya tidak banyak dikenal orang.
 
Hingga kini, kebesaran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani terbukti sangat masyhur. Banyak orang mengamalkan ajarannya, bertawasul, membaca manaqib, dan berziarah ke makamnya
 
ENGLISH

ARIF MASYHUR AND MASTUR
 
Since ancient times, the status of those who are Arif billah (those who truly know Allah) has been divided into two states: some are masyhur (famous and widely known by the people), while others are mastur (hidden and not viral).
 
This is illustrated in the event of Isra Wal Mi'raj, when the Prophet Muhammad ﷺ encountered two human figures whose bodies remained intact. One was open/exposed, while the other was covered.
 
Angel Jibril explained:
 
- The one that was open: He is one of your descendants who will become a great and famous Wali (Saint of Allah), namely Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.
- The one that was covered: He is also a great Wali of Allah with the highest rank (Quthub), namely Uwais Al-Qoroni, however, not many people know about him.
 
Until today, the greatness of Syekh Abdul Qodir Al-Jilani is indeed very famous. Many people practice his teachings, make tawasul, read his manaqib (biography of virtues), and visit his shrine

DALIL

المشهور ببركة المستور 

"Orang-orang yang masyhur sebab keberkahan Orang-orang yang mastur"

"The famous ones exist because of the blessings of the hidden ones"

Jumat, 01 Mei 2026


SUDAHKAH TANDA-TANDA INI KITA RASAKAN?
 
Dalam kitab Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, diterangkan beberapa tanda dekatnya hari kiamat yang bersumber dari hadis riwayat Imam Ahmad dan Al-Bukhari.
 
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu kita renungkan:
 
1. Maraknya Dunia Bisnis
Begitu pesatnya kegiatan usaha hingga seorang istri turut membantu dan bekerja sama dengan suaminya dalam mencari nafkah.
2. Putusnya Tali Persaudaraan
Semakin banyak orang yang mengabaikan, memutus, atau tidak lagi menjaga hubungan baik dengan kerabat dan sesama manusia.
3. Meluasnya Tulisan dan Informasi
Banyaknya tulisan yang tersebar luas di mana-mana, seiring dengan kemudahan orang menyampaikan pikiran dan berita melalui berbagai media.
4. Banyaknya Kesaksian yang Tidak Benar
Maraknya ucapan atau keterangan palsu demi keuntungan pribadi, hingga kebenaran menjadi sulit dibedakan dengan kebohongan.
 
Tanda-tanda ini bukan sekadar berita masa depan, melainkan cerminan zaman yang kini kita jalani. Semoga kita senantiasa dapat menjaga diri dan tetap berpegang pada kebenaran

ENGLISH

HAVE WE WITNESSED THESE SIGNS?
 
In the book Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah by Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, several signs indicating the approach of the Day of Judgment are explained. These are sourced from Hadith narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari.
 
Here are the important points for us to reflect upon:
 
1. The Rise of Business and Trade
Economic activities grow so rapidly that a wife assists and works together with her husband in earning a living.
 
2. The Severing of Family Ties
More and more people neglect, break off, or fail to maintain good relationships with relatives and fellow human beings.
 
3. The Widespread Use of Writing and Information
Written words and information spread everywhere, along with the ease for people to share thoughts and news through various media.
 
4. The Prevalence of False Testimony
Lies and false statements become common for personal gain, making it difficult to distinguish truth from falsehood.
 
These signs are not merely news about the future, but a reflection of the times we are living in today. May we always be able to protect ourselves and hold fast to the truth

DALIL

وَمِنْهَا (أَمَارَةُ السَّاعَةِ) فَشْوُ التِّجَارَةِ حَتَّى تُعِيْنَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعُ الْأَرْحَامِ، وَفَشْوُ الْقَلَمِ، وَظُهُورُ الشَّهَادَاتِ بِالزُّورِ. (رواه الإمام أحمد والبخاري عن ابن مسعود)

Tanda-tanda Kiamat antara lain meluasnya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang, terputusnya ikatan keluarga, meluasnya penggunaan tulisan, dan munculnya kesaksian palsu. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud)

Among the signs of the Day of Judgment are the spread of trade until a woman helps her husband in business, the severing of family ties, the widespread use of writing, and the appearance of false testimony. (Narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari from Ibn Mas'ud)

TANDA2 KIAMAT YANG TIDAK KITA SADARI


SUDAHKAH TANDA-TANDA INI KITA RASAKAN?
 
Dalam kitab Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, diterangkan beberapa tanda dekatnya hari kiamat yang bersumber dari hadis riwayat Imam Ahmad dan Al-Bukhari.
 
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu kita renungkan:
 
1. Maraknya Dunia Bisnis
Begitu pesatnya kegiatan usaha hingga seorang istri turut membantu dan bekerja sama dengan suaminya dalam mencari nafkah.
2. Putusnya Tali Persaudaraan
Semakin banyak orang yang mengabaikan, memutus, atau tidak lagi menjaga hubungan baik dengan kerabat dan sesama manusia.
3. Meluasnya Tulisan dan Informasi
Banyaknya tulisan yang tersebar luas di mana-mana, seiring dengan kemudahan orang menyampaikan pikiran dan berita melalui berbagai media.
4. Banyaknya Kesaksian yang Tidak Benar
Maraknya ucapan atau keterangan palsu demi keuntungan pribadi, hingga kebenaran menjadi sulit dibedakan dengan kebohongan.
 
Tanda-tanda ini bukan sekadar berita masa depan, melainkan cerminan zaman yang kini kita jalani. Semoga kita senantiasa dapat menjaga diri dan tetap berpegang pada kebenaran

ENGLISH

HAVE WE WITNESSED THESE SIGNS?
 
In the book Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah by Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, several signs indicating the approach of the Day of Judgment are explained. These are sourced from Hadith narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari.
 
Here are the important points for us to reflect upon:
 
1. The Rise of Business and Trade
Economic activities grow so rapidly that a wife assists and works together with her husband in earning a living.
 
2. The Severing of Family Ties
More and more people neglect, break off, or fail to maintain good relationships with relatives and fellow human beings.
 
3. The Widespread Use of Writing and Information
Written words and information spread everywhere, along with the ease for people to share thoughts and news through various media.
 
4. The Prevalence of False Testimony
Lies and false statements become common for personal gain, making it difficult to distinguish truth from falsehood.
 
These signs are not merely news about the future, but a reflection of the times we are living in today. May we always be able to protect ourselves and hold fast to the truth

DALIL

وَمِنْهَا (أَمَارَةُ السَّاعَةِ) فَشْوُ التِّجَارَةِ حَتَّى تُعِيْنَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعُ الْأَرْحَامِ، وَفَشْوُ الْقَلَمِ، وَظُهُورُ الشَّهَادَاتِ بِالزُّورِ. (رواه الإمام أحمد والبخاري عن ابن مسعود)

Tanda-tanda Kiamat antara lain meluasnya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang, terputusnya ikatan keluarga, meluasnya penggunaan tulisan, dan munculnya kesaksian palsu. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud)

Among the signs of the Day of Judgment are the spread of trade until a woman helps her husband in business, the severing of family ties, the widespread use of writing, and the appearance of false testimony. (Narrated by Imam Ahmad and Al-Bukhari from Ibn Mas'ud)

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top