Latest Posts

Senin, 31 Agustus 2026


MENCARI UANG SEMANGAT, MENCARI ILMU TERASA BERAT
 
Tidak heran jika para guru dan kyai senantiasa tak lelah mengingatkan santrinya: untuk senantiasa menjaga ilmu, tak henti belajar, serta bersabar saat diminta mengajarkannya kepada orang lain.
 
Ternyata, mencari uang terkadang terasa lebih mudah daripada mencari ilmu dan menyebarkannya. Aneh, bukan?
 
Saat mengejar rezeki, kita rela bangun pagi-pagi sekali. Bekerja berjam-jam lamanya, menahan panas dan hujan, melayani berbagai karakter orang, bahkan berani menghadapi risiko kegagalan pulang pun dalam keadaan sangat lelah, namun tetap dijalani dengan semangat.
 
Namun, ketika diminta meluangkan waktu untuk belajar atau mengajarkan ilmu, hati tiba-tiba terasa berat. Padahal duduknya mungkin tak sampai satu jam saja.
 
Mengapa bisa begitu?
 
Karena hasil uang terlihat nyata dan cepat:
Bekerja → langsung terima bayaran.
Jualan → langsung dapat pesanan.
Membangun usaha → omzet langsung bertambah.
 
Ada angka yang terlihat jelas, target yang mudah diukur, serta kepuasan yang langsung terasa saat hasilnya bertambah.
 
Bagaimana dengan ilmu?
 
Sebagaimana dawuh para ulama:
 
"Ilmu itu kedudukannya sangat tinggi, berat untuk diraih, dan lambat melekat di hati. Ia tak bisa didapat sekadar lewat mimpi, dan tak bisa diwariskan begitu saja dari orang tua maupun kerabat (tidak instan)
 
Ilmu ibarat pohon yang ditanam di dalam jiwa, lalu disiram dengan ketekunan belajar. Penuntutnya butuh kesungguhan ekstra dan ketekunan tanpa henti.
 
Apakah mungkin orang yang siangnya sibuk mengumpulkan harta, dan malamnya habiskan untuk bersenang-senang, bisa menjadi orang yang berilmu? Jauh sekali, mustahil!"
 
Yang berat dari ilmu bukanlah sekadar duduk saat belajar. Yang paling berat adalah kesabarannya.
 
Mengajar berarti memberi apa yang kita miliki kepada orang lain, lalu sabar menunggu saat manfaatnya terlihat yang seringkali butuh waktu lama.
 
Maka tak heran banyak orang rela berjam-jam mencari uang, namun berat meluangkan satu jam untuk ilmu. Uang memberi kepuasan seketika, sedangkan ilmu bekerja dengan cara yang tenang: tak langsung terlihat, tak selalu dipuji, dan buahnya baru kerap terasa bertahun-tahun kemudian.
 
Kita mungkin terlalu terbiasa dengan hasil yang instan, hingga lupa bahwa hal yang nilainya paling besar tak pernah didapat dengan cara yang gampang.
 
Uang membuat kita mampu hidup. Ilmu mengajarkan kita bagaimana hidup dengan benar

ENGLISH 

EAGER FOR WEALTH, RELUCTANT FOR WISDOM
 
It is no wonder that teachers and religious leaders tirelessly remind their students: to always guard knowledge, keep learning, and remain patient when asked to teach others.
 
Yet often, chasing money feels easier than seeking and sharing knowledge. Strange, is it not?
 
When pursuing sustenance, we willingly rise before dawn. We work long hours, endure scorching heat and pouring rain, serve all kinds of people, and even brave the risk of failure. We return home utterly exhausted, yet we press on with unwavering spirit.
 
But when asked to set aside time to learn or to teach, our hearts suddenly feel heavy even though sitting to study may take less than an hour.
 
Why is this so?
 
Because the reward of money is clear and immediate:
Work → receive payment right away.
Sell → get orders instantly.
Build a business → revenue grows at once.
 
There are visible numbers, measurable targets, and satisfaction that hits the moment results come in.
 
What about knowledge?
 
As the scholars have said:
 
"Knowledge holds the highest station, is hard to attain, and slow to settle deep in the heart. It cannot be gained in a dream, nor inherited ready-made from parents or kin it never comes instantly.
 
Knowledge is like a tree planted in the soul, watered by constant study. Those who seek it need extra devotion and endless perseverance.
 
Can one who spends their days gathering riches and their nights in leisure ever become truly learned? Far from it impossible!"
 
The hardest part of knowledge is not sitting to study. The hardest part is patience.
 
To teach is to give what you have to others, then wait patiently often for years for its benefits to unfold.
 
No wonder so many will spend hours chasing money, yet hesitate to spare just one hour for knowledge. Wealth brings quick gratification, while knowledge works quietly: unseen at first, not always praised, its fruits often ripening long after.
 
We have grown too used to instant results, and forget that what holds the greatest worth never comes easily.
 
Money lets us make a living. Knowledge teaches us how to live well

DALIL 

العلم رَفِيعُ المَقَامِ، شَدِيدُ المَرَامِ، بَطِيءُ اللِّزَامِ، لَا يُرَى فِي المَنَامِ، وَلَا يُورَثُ عَنْ الآبَاءِ وَالأَعْمَامِ؛ فَإِنَّهُ شَجَرَةٌ تُغْرَسُ فِي النَّفْسِ، وَتُسْقَى بِالدَّرْسِ، وَيَحْتَاجُ طَالِبُهُ إِلَى زِيَادَةِ تَعَبٍ، وَإِدَامَةِ سَهَرٍ، أَفَيَظُنُّ مَنْ يَقْطَعُ نَهَارَهُا بِالجَمْعِ وَلَيْلَهُ بِالجِمَاعِ، أَنْ يَخْرُجَ بِذَلِكَ فَقِيهًا؟! هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ!!

“Ilmu itu tinggi kedudukannya, berat untuk diraih, dan lambat untuk melekat. Ia tidak didapat hanya melalui mimpi dan tidak diwariskan begitu saja dari para orang tua dan paman.

Ilmu adalah pohon yang ditanam dalam jiwa dan disirami dengan belajar. Penuntut ilmu membutuhkan tambahan kesungguhan dan terus-menerus berjaga dalam belajar

Apakah orang yang siang harinya dihabiskan untuk mengumpulkan harta, sedangkan malamnya dihabiskan untuk berkumpul dan bersenang-senang, mengira bahwa dengan cara demikian ia akan keluar menjadi seorang yang faqih?

Jauh sekali… mustahil!"

Knowledge holds a lofty station, is hard to attain, and slow to take root. It cannot be gained merely through dreams, nor inherited ready-made from parents or kin.
 
Knowledge is a tree planted in the soul, watered by diligent study. Its seeker needs extra resolve and constant vigilance in learning.
 
Does one who spends their days amassing wealth, and their nights in gathering and pleasure, think they will ever become a true scholar this way?
 
Far from it… impossible!

ALASAN KIYAI MENYURUH ILMU LEBIH DARI UANG


MENCARI UANG SEMANGAT, MENCARI ILMU TERASA BERAT
 
Tidak heran jika para guru dan kyai senantiasa tak lelah mengingatkan santrinya: untuk senantiasa menjaga ilmu, tak henti belajar, serta bersabar saat diminta mengajarkannya kepada orang lain.
 
Ternyata, mencari uang terkadang terasa lebih mudah daripada mencari ilmu dan menyebarkannya. Aneh, bukan?
 
Saat mengejar rezeki, kita rela bangun pagi-pagi sekali. Bekerja berjam-jam lamanya, menahan panas dan hujan, melayani berbagai karakter orang, bahkan berani menghadapi risiko kegagalan pulang pun dalam keadaan sangat lelah, namun tetap dijalani dengan semangat.
 
Namun, ketika diminta meluangkan waktu untuk belajar atau mengajarkan ilmu, hati tiba-tiba terasa berat. Padahal duduknya mungkin tak sampai satu jam saja.
 
Mengapa bisa begitu?
 
Karena hasil uang terlihat nyata dan cepat:
Bekerja → langsung terima bayaran.
Jualan → langsung dapat pesanan.
Membangun usaha → omzet langsung bertambah.
 
Ada angka yang terlihat jelas, target yang mudah diukur, serta kepuasan yang langsung terasa saat hasilnya bertambah.
 
Bagaimana dengan ilmu?
 
Sebagaimana dawuh para ulama:
 
"Ilmu itu kedudukannya sangat tinggi, berat untuk diraih, dan lambat melekat di hati. Ia tak bisa didapat sekadar lewat mimpi, dan tak bisa diwariskan begitu saja dari orang tua maupun kerabat (tidak instan)
 
Ilmu ibarat pohon yang ditanam di dalam jiwa, lalu disiram dengan ketekunan belajar. Penuntutnya butuh kesungguhan ekstra dan ketekunan tanpa henti.
 
Apakah mungkin orang yang siangnya sibuk mengumpulkan harta, dan malamnya habiskan untuk bersenang-senang, bisa menjadi orang yang berilmu? Jauh sekali, mustahil!"
 
Yang berat dari ilmu bukanlah sekadar duduk saat belajar. Yang paling berat adalah kesabarannya.
 
Mengajar berarti memberi apa yang kita miliki kepada orang lain, lalu sabar menunggu saat manfaatnya terlihat yang seringkali butuh waktu lama.
 
Maka tak heran banyak orang rela berjam-jam mencari uang, namun berat meluangkan satu jam untuk ilmu. Uang memberi kepuasan seketika, sedangkan ilmu bekerja dengan cara yang tenang: tak langsung terlihat, tak selalu dipuji, dan buahnya baru kerap terasa bertahun-tahun kemudian.
 
Kita mungkin terlalu terbiasa dengan hasil yang instan, hingga lupa bahwa hal yang nilainya paling besar tak pernah didapat dengan cara yang gampang.
 
Uang membuat kita mampu hidup. Ilmu mengajarkan kita bagaimana hidup dengan benar

ENGLISH 

EAGER FOR WEALTH, RELUCTANT FOR WISDOM
 
It is no wonder that teachers and religious leaders tirelessly remind their students: to always guard knowledge, keep learning, and remain patient when asked to teach others.
 
Yet often, chasing money feels easier than seeking and sharing knowledge. Strange, is it not?
 
When pursuing sustenance, we willingly rise before dawn. We work long hours, endure scorching heat and pouring rain, serve all kinds of people, and even brave the risk of failure. We return home utterly exhausted, yet we press on with unwavering spirit.
 
But when asked to set aside time to learn or to teach, our hearts suddenly feel heavy even though sitting to study may take less than an hour.
 
Why is this so?
 
Because the reward of money is clear and immediate:
Work → receive payment right away.
Sell → get orders instantly.
Build a business → revenue grows at once.
 
There are visible numbers, measurable targets, and satisfaction that hits the moment results come in.
 
What about knowledge?
 
As the scholars have said:
 
"Knowledge holds the highest station, is hard to attain, and slow to settle deep in the heart. It cannot be gained in a dream, nor inherited ready-made from parents or kin it never comes instantly.
 
Knowledge is like a tree planted in the soul, watered by constant study. Those who seek it need extra devotion and endless perseverance.
 
Can one who spends their days gathering riches and their nights in leisure ever become truly learned? Far from it impossible!"
 
The hardest part of knowledge is not sitting to study. The hardest part is patience.
 
To teach is to give what you have to others, then wait patiently often for years for its benefits to unfold.
 
No wonder so many will spend hours chasing money, yet hesitate to spare just one hour for knowledge. Wealth brings quick gratification, while knowledge works quietly: unseen at first, not always praised, its fruits often ripening long after.
 
We have grown too used to instant results, and forget that what holds the greatest worth never comes easily.
 
Money lets us make a living. Knowledge teaches us how to live well

DALIL 

العلم رَفِيعُ المَقَامِ، شَدِيدُ المَرَامِ، بَطِيءُ اللِّزَامِ، لَا يُرَى فِي المَنَامِ، وَلَا يُورَثُ عَنْ الآبَاءِ وَالأَعْمَامِ؛ فَإِنَّهُ شَجَرَةٌ تُغْرَسُ فِي النَّفْسِ، وَتُسْقَى بِالدَّرْسِ، وَيَحْتَاجُ طَالِبُهُ إِلَى زِيَادَةِ تَعَبٍ، وَإِدَامَةِ سَهَرٍ، أَفَيَظُنُّ مَنْ يَقْطَعُ نَهَارَهُا بِالجَمْعِ وَلَيْلَهُ بِالجِمَاعِ، أَنْ يَخْرُجَ بِذَلِكَ فَقِيهًا؟! هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ!!

“Ilmu itu tinggi kedudukannya, berat untuk diraih, dan lambat untuk melekat. Ia tidak didapat hanya melalui mimpi dan tidak diwariskan begitu saja dari para orang tua dan paman.

Ilmu adalah pohon yang ditanam dalam jiwa dan disirami dengan belajar. Penuntut ilmu membutuhkan tambahan kesungguhan dan terus-menerus berjaga dalam belajar

Apakah orang yang siang harinya dihabiskan untuk mengumpulkan harta, sedangkan malamnya dihabiskan untuk berkumpul dan bersenang-senang, mengira bahwa dengan cara demikian ia akan keluar menjadi seorang yang faqih?

Jauh sekali… mustahil!"

Knowledge holds a lofty station, is hard to attain, and slow to take root. It cannot be gained merely through dreams, nor inherited ready-made from parents or kin.
 
Knowledge is a tree planted in the soul, watered by diligent study. Its seeker needs extra resolve and constant vigilance in learning.
 
Does one who spends their days amassing wealth, and their nights in gathering and pleasure, think they will ever become a true scholar this way?
 
Far from it… impossible!

Minggu, 30 Agustus 2026


📢 SIAPA YANG PERTAMA KALI MENGUMANDANGKAN ADZAN?

Berikut adalah urutan tokoh dan peristiwa bersejarah terkait adzan, sebagaimana dikutip dari kitab Hasyiah Al-Jamal dan Fatawa Al-Kholili:
 
✅ Pertama kali adzan di langit: Malaikat Jibril 'alaihissalam.
✅ Pertama kali adzan di dalam Islam: Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu.
✅ Pertama kali adzan di Kota Makkah: Habib bin Abdurrahman.
✅ Yang memperkenalkan dua kali adzan hari Jumat: Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, saat masa kekhalifahannya.
✅ Pertama kali membangun menara adzan di Mesir: Muslim bin Mukhollid.
✅ Pertama kali membangun mimbar di Mesir: Sahabat Salamah bin Mukhollid radhiyallahu 'anhu.
 
Demikianlah catatan sejarah ringkas mengenai asal mula adzan dan pembangunannya. Wallahu ta'ala a'lam

ENGLISH

📢 WHO WAS THE FIRST TO CALL THE ADHAN?
 
Here is a list of key figures and historical milestones regarding the Adhan, as cited from the books Hasyiah Al-Jamal and Fatawa Al-Kholili:
 
✅ The first to call the Adhan in the heavens: Angel Jibril (Gabriel) 'alaihissalam.
✅ The first to call the Adhan in Islam: Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu.
✅ The first to call the Adhan in Makkah: Habib bin Abdurrahman.
✅ The one who introduced the second Adhan on Fridays: Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, during his caliphate.
✅ The first to build a minaret in Egypt: Muslim bin Mukhollid.
✅ The first to build a pulpit (minbar) in Egypt: Companion Salamah bin Mukhollid radhiyallahu 'anhu.
 
This is a brief historical record on the origins of the Adhan and related structures. Wallahu ta'ala a'lam (Allah knows best)

DALIL

(فائدة) أول من أذن في السماء جبريل وأول من أذن في الإسلام بلال بن رباح وأول من أذن بمكة حبيب بن عبد الرحمن وأول من زاد الأذان يوم الجمعة عثمان بن عفان في خلافته وأول من بنى المنارة بمصر مسلم بن مخلد اهـ من فتاوى ابن جرير الحنفي

"Makhluk yang pertama adzan dilangit ialah malaikat Jibril, dan orang yang pertama adzan di Isam ialah Bilal bin Rabah Radiyallahu 'anhu, Orang yang pertama adzan di Makkah ialah Habib bin Abdurrahman, Orang yang menambahkan adzan (menjadi dua Kali adzan) di hari Jum'at ialah Sayyidina Utsman bin Affan ketika menjadi khalifah, Dan orang yang pertama membangun menara di Mesir ialah muslim bin Mukhollid"

"The first being to call the Adhan in the heavens was the Angel Jibril; the first person to call the Adhan in Islam was Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu; the first to call the Adhan in Makkah was Habib bin Abdurrahman; the one who added the second Adhan on Fridays was Sayyidina Utsman bin Affan during his caliphate; and the first to build a minaret in Egypt was Muslim bin Mukhollid"

(سئل) عن أول من أذن في السماء وأول من أذن في الأرض في الإسلام وأول من أذن في مكة وأول من بنى المنابر؟.

Beliau pernah ditanya tentang siapa makhluk yang adzan dilangit, dibumi di agama islam, di makkah, dan orang yang membangun mimbar?

He was once asked: Who was the first being to call the Adhan in the heavens, who was the first to call it on earth in Islam, who was the first to call it in Makkah, and who was the first to build a pulpit?

(أجاب) أول من أذن في السماء جبريل، وأول من أذن في الإسلام بلال بن رباح، وأول من أذن في مكة حبيب بن عبد الرحمن، وأول من بنى المنابر بمصر سلمة بن مخلد الصحابي، والله تعالى أعلم. 

Beliau menjawab "Makhluk pertama yang adzan dilangit Ialah malaikat jibril, Orang yang pertama adzan di islam Ialah Bilal bin Rabah, orang yang pertama adzan di makkah Ialah Habib bin abdirrahman, dan orang yang pertama membangun mimbar di mesir Ialah salamah bin mukhollid As-shohabi". Wallohu ta'ala a'lam

He replied: The first being to call the Adhan in the heavens was Angel Jibril; the first to call the Adhan in Islam was Bilal bin Rabah; the first to call the Adhan in Makkah was Habib bin Abdurrahman; and the first to build a pulpit in Egypt was the Companion Salamah bin Mukhollid
 
Wallahu ta'ala a'lam (Allah the Most High knows best)

SEJARAH ADZAN


📢 SIAPA YANG PERTAMA KALI MENGUMANDANGKAN ADZAN?

Berikut adalah urutan tokoh dan peristiwa bersejarah terkait adzan, sebagaimana dikutip dari kitab Hasyiah Al-Jamal dan Fatawa Al-Kholili:
 
✅ Pertama kali adzan di langit: Malaikat Jibril 'alaihissalam.
✅ Pertama kali adzan di dalam Islam: Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu.
✅ Pertama kali adzan di Kota Makkah: Habib bin Abdurrahman.
✅ Yang memperkenalkan dua kali adzan hari Jumat: Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, saat masa kekhalifahannya.
✅ Pertama kali membangun menara adzan di Mesir: Muslim bin Mukhollid.
✅ Pertama kali membangun mimbar di Mesir: Sahabat Salamah bin Mukhollid radhiyallahu 'anhu.
 
Demikianlah catatan sejarah ringkas mengenai asal mula adzan dan pembangunannya. Wallahu ta'ala a'lam

ENGLISH

📢 WHO WAS THE FIRST TO CALL THE ADHAN?
 
Here is a list of key figures and historical milestones regarding the Adhan, as cited from the books Hasyiah Al-Jamal and Fatawa Al-Kholili:
 
✅ The first to call the Adhan in the heavens: Angel Jibril (Gabriel) 'alaihissalam.
✅ The first to call the Adhan in Islam: Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu.
✅ The first to call the Adhan in Makkah: Habib bin Abdurrahman.
✅ The one who introduced the second Adhan on Fridays: Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, during his caliphate.
✅ The first to build a minaret in Egypt: Muslim bin Mukhollid.
✅ The first to build a pulpit (minbar) in Egypt: Companion Salamah bin Mukhollid radhiyallahu 'anhu.
 
This is a brief historical record on the origins of the Adhan and related structures. Wallahu ta'ala a'lam (Allah knows best)

DALIL

(فائدة) أول من أذن في السماء جبريل وأول من أذن في الإسلام بلال بن رباح وأول من أذن بمكة حبيب بن عبد الرحمن وأول من زاد الأذان يوم الجمعة عثمان بن عفان في خلافته وأول من بنى المنارة بمصر مسلم بن مخلد اهـ من فتاوى ابن جرير الحنفي

"Makhluk yang pertama adzan dilangit ialah malaikat Jibril, dan orang yang pertama adzan di Isam ialah Bilal bin Rabah Radiyallahu 'anhu, Orang yang pertama adzan di Makkah ialah Habib bin Abdurrahman, Orang yang menambahkan adzan (menjadi dua Kali adzan) di hari Jum'at ialah Sayyidina Utsman bin Affan ketika menjadi khalifah, Dan orang yang pertama membangun menara di Mesir ialah muslim bin Mukhollid"

"The first being to call the Adhan in the heavens was the Angel Jibril; the first person to call the Adhan in Islam was Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu; the first to call the Adhan in Makkah was Habib bin Abdurrahman; the one who added the second Adhan on Fridays was Sayyidina Utsman bin Affan during his caliphate; and the first to build a minaret in Egypt was Muslim bin Mukhollid"

(سئل) عن أول من أذن في السماء وأول من أذن في الأرض في الإسلام وأول من أذن في مكة وأول من بنى المنابر؟.

Beliau pernah ditanya tentang siapa makhluk yang adzan dilangit, dibumi di agama islam, di makkah, dan orang yang membangun mimbar?

He was once asked: Who was the first being to call the Adhan in the heavens, who was the first to call it on earth in Islam, who was the first to call it in Makkah, and who was the first to build a pulpit?

(أجاب) أول من أذن في السماء جبريل، وأول من أذن في الإسلام بلال بن رباح، وأول من أذن في مكة حبيب بن عبد الرحمن، وأول من بنى المنابر بمصر سلمة بن مخلد الصحابي، والله تعالى أعلم. 

Beliau menjawab "Makhluk pertama yang adzan dilangit Ialah malaikat jibril, Orang yang pertama adzan di islam Ialah Bilal bin Rabah, orang yang pertama adzan di makkah Ialah Habib bin abdirrahman, dan orang yang pertama membangun mimbar di mesir Ialah salamah bin mukhollid As-shohabi". Wallohu ta'ala a'lam

He replied: The first being to call the Adhan in the heavens was Angel Jibril; the first to call the Adhan in Islam was Bilal bin Rabah; the first to call the Adhan in Makkah was Habib bin Abdurrahman; and the first to build a pulpit in Egypt was the Companion Salamah bin Mukhollid
 
Wallahu ta'ala a'lam (Allah the Most High knows best)


SUNGGUH, BUKAN MANUSIA BIASA ﷺ
 
Tatkala Nabi ﷺ melarang para sahabat berpuasa wishal menyambung puasa tanpa berbuka demi memberikan kemudahan dan rahmat bagi mereka, para sahabat bertanya: "Tetapi wahai Rasulullah, bukankah engkau sendiri melakukannya?"
 
Nabi ﷺ menjawab dengan penuh keagungan:
 
"Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Rabb-ku (Allah SWT) memberi aku makan dan minum." (HR. Bukhari & Muslim)
 
Allah memberi beliau kekuatan setara orang yang telah makan dan minum secara fisik. Sungguh, beliau ﷺ senantiasa hidup dan "dijamu" langsung oleh Tuhannya.
 
 
 
Lahir dengan Kemuliaan yang Luar Biasa
 
Sayyiduna Abbas r.a. pernah menyampaikan:
 
"Beliau ﷺ lahir dalam keadaan telah dikhitan (sunat) dan terpotong tali pusarnya." (HR. Baihaqi)
 
Syeikh Yusri Jabr menjelaskan: sejak dalam kandungan, Nabi ﷺ tidak bergantung pada tali pusar untuk nutrisi seperti bayi pada umumnya. Allah lah yang langsung memberi beliau asupan. Bahkan sejak awal kehidupan, beliau hidup langsung dengan Tuhannya.
 
 
 
Wangi yang Melebihi Segala Wewangian
 
Suatu hari Nabi ﷺ tidur di rumah Anas bin Malik hingga berkeringat. Ibu Anas, Ummu Sulaim, segera membawa botol untuk menampung keringat mulia itu. Saat beliau terbangun dan bertanya, Ummu Sulaim menjawab dengan lembut:
 
"Kami jadikannya campuran minyak wangi kami, dan itu adalah seharum-harumnya wewangian." (HR. Muslim)
 
Sayyiduna Jabir r.a. juga menegaskan:
 
"Tidaklah Nabi ﷺ melewati suatu jalan, melainkan orang-orang tahu beliau telah lewat karena wangi yang tertinggal dari tubuhnya."
 
 
 
Wibawa yang Tak Tergambarkan
 
Allah benar-benar memuliakan Nabi-Nya (Muhammad) dengan rupa yang paling indah dan akhlak yang sempurna. Di antara seluruh nabi, Nabi Muhammad ﷺ adalah puncak keindahan dan kemuliaan. Begitu besar wibawa beliau, hingga sahabat Amru bin 'Ash r.a. berkata:
 
"Jika diminta untuk menggambarkan beliau, aku takkan sanggup. Karena aku tak pernah mampu menatap beliau dengan sepenuh mataku terlalu agung untuk dipandang." (Asy-Syifa, Qadhi 'Iyadh, hlm. 326)
 
 
 
Sungguh, beliau ﷺ bukan manusia biasa. Beliau adalah pilihan Allah, rahmat bagi semesta, dan kekasih yang paling mulia. Semoga kita semua mendapat syafaat beliau di hari akhir nanti

ENGLISH 

TRULY, NO ORDINARY MAN ﷺ
 
When the Prophet ﷺ forbade his Companions from observing wishal continuing the fast without breaking it out of mercy and kindness toward them, the Companions asked: "But O Messenger of Allah, do you not do this yourself?"
 
The Prophet ﷺ replied with sublime dignity:
 
"I am not like you. My Lord feeds me and gives me drink." (Narrated by Al-Bukhari & Muslim)
 
Allah granted him strength equal to one who eats and drinks physically. Truly, he ﷺ was always sustained and "hosted" directly by his Lord.
 
 
 
Born with Extraordinary Nobility
 
Sayyiduna Abbas r.a. once related:
 
"He ﷺ was born already circumcised, with his umbilical cord severed." (Narrated by Al-Baihaqi)
 
Shaykh Yusri Jabr explains: even while in his mother’s womb, the Prophet ﷺ did not depend on the umbilical cord for nourishment like other infants. Allah Himself provided for him directly. From the very beginning of his life, he was connected and sustained by his Lord.
 
 
 
A Scent Beyond All Perfume
 
One day the Prophet ﷺ slept at the home of Anas bin Malik and began to sweat. Anas’ mother, Ummu Sulaim, quickly brought a vial to collect that blessed sweat. When he woke and asked what she was doing, she replied gently:
 
"We mix it into our perfumes for it is the sweetest fragrance of all." (Narrated by Muslim)
 
Sayyiduna Jabir r.a. also confirmed:
 
"Wherever the Prophet ﷺ passed, people knew he had been there because of the beautiful scent he left behind."
 
 
 
A Dignity Beyond Description
 
Allah honored His Messenger ﷺ with the most radiant countenance and perfect character. Among all the prophets, Muhammad ﷺ stands as the very peak of beauty and nobility. So immense was his majesty that the Companion Amru bin 'Ash r.a. said:
 
"If I were asked to describe him, I could not. For I never once looked upon him with my eyes fully open his presence was far too awe‑inspiring to behold." (Asy‑Syifa, Qadhi 'Iyadh, p. 326)
 
 
 
Truly, he ﷺ is no ordinary man. He is Allah’s chosen one, mercy to all the worlds, and the most beloved of creation. May we all receive his intercession on the Day of Judgment

DALIL 

إِنِّي لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، إِنِّي يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي
Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, Rabb-ku memberi-ku makan dan minum. (HR. Bukhari & Muslim)

Truly, I am not like you. My Lord feeds me and gives me drink
(Narrated by Al-Bukhari and Muslim)

وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَخْتُونًا مَسْرُورًا، وَفِي رِوَايَةٍ: مَقْطُوعَ السُّرَّةِ
"Beliau ﷺ lahir dalam keadaan telah dikhitan dan terpotong tali pusarnya." (HR. Baihaqi)

"He ﷺ was born already circumcised, with his umbilical cord severed."
(Narrated by Al-Baihaqi)

نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا، وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ
"Kami jadikannya campuran minyak wangi kami, dan itu adalah seharum-harumnya wewangian." (HR. Muslim)

"We mix it into our perfumes, for it is the sweetest fragrance of all."
(Narrated by Muslim)

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَمُرُّ فِي طَرِيقٍ. إِلَّا عُرِفَ أَنَّهُ سَلَكَهُ مِنْ طِيبِهِ
Tidaklah Nabi ﷺ melewati suatu jalan, melainkan orang akan tahu beliau telah lewat dari wangi tubuhnya"

Wherever the Prophet ﷺ passed, people knew he had been there by the fragrance of his body

وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ مَا أَطَقْتُ؛ لِأَنِّي لَمْ أَكُنْ أَمْلَأُ عَيْنَيَّ مِنْهُ
Jika diminta menshifati beliau, aku tak akan sanggup. Karena aku tak pernah mampu menatap beliau dengan sepenuh mataku (karena haibah & ta'jub). (Asy-Syifa, Qadhi 'Iyadh hal 326.)

If I were asked to describe him, I could not do so. For I have never been able to look upon him with my eyes fully open such was his awe and majesty
(Asy-Syifa, Qadhi 'Iyadh, p. 326)

💛 SECUIL CINTA SEJATI
 
Suatu hari, Nabi Isa 'alaihissalam berjalan melewati seorang pemuda yang sedang menyiram kebunnya. Saat melihat Nabi Isa, pemuda itu segera memanggil:
 
"Wahai Nabi Isa, mintalah kepada Tuhanmu agar aku diberikan cinta kepada-Nya, walau hanya seberat semut yang terkecil."
 
Nabi Isa menjawab lembut:
"Kamu takkan sanggup menanggung cinta kepada Allah SWT, walau hanya seberat semut sekalipun."
 
Pemuda itu belum berhenti, ia memohon lagi:
"Kalau begitu, berikanlah separuhnya saja."
 
Melihat keinginannya yang begitu tulus dan menggebu, akhirnya Nabi Isa menyanggupi. Beliau berdoa:
"Ya Tuhanku, berilah dia rasa cinta kepada-Mu seberat setengah semut terkecil."
 
Setelah itu Nabi Isa pun melanjutkan perjalanannya.
 
Beberapa waktu kemudian, Nabi Isa kembali ke tempat itu, namun tak lagi mendapati pemuda sedang bekerja di kebun. Beliau bertanya kepada orang sekitar, dan mendapat kabar bahwa pemuda itu kini berada di atas gunung, seolah tak sadar diri.
 
Nabi Isa pun mendaki hingga menjumpainya. Beliau memberi salam, namun pemuda itu diam saja.
"Aku Isa, wahai pemuda," tegur beliau. Tetapi pemuda itu tetap tak bergeming, matanya terus menatap langit dengan penuh kerinduan.
 
Saat itulah wahyu Allah turun:
"Wahai Isa, dia tak lagi dapat mendengar perkataan manusia, sebab hatinya telah dipenuhi setengah berat semut cinta kepada-Ku. Demi keagungan dan keluhuran-Ku, sekalipun engkau mengiris tubuhnya dengan gergaji, ia tak akan merasakan sakit sedikit pun."
 
 
 
Dikutip dari Kitab Ihya’ Ulumuddin

ENGLISH

💛 A TASTE OF TRUE LOVE
 
One day, Prophet Isa 'alaihissalam passed by a young man who was watering his garden. When the young man saw him, he called out at once:
 
"O Prophet Isa, ask your Lord to grant me love for Him even if it is only as heavy as the tiniest ant."
 
Prophet Isa replied gently:
"You would not be able to bear the love of Allah SWT, not even as heavy as a single ant."
 
The young man would not give up; he pleaded again:
"If so, then grant me only half of that weight."
 
Seeing his sincere and burning longing, Prophet Isa finally agreed. He prayed:
"My Lord, grant him love for You as heavy as half the tiniest ant."
 
After this, Prophet Isa continued on his way.
 
Some time later, Prophet Isa returned to the same place, but found the young man no longer tending his garden. He asked the people nearby, and was told that the young man had wandered up into the mountains, as if he had lost awareness of this world.
 
Prophet Isa climbed until he found him there. He greeted him, but the young man remained silent.
"I am Isa, my young friend," he said clearly. Yet the man did not stir; his eyes stayed fixed upon the sky, filled with deep longing.
 
At that moment, revelation came from Allah:
"O Isa, he can no longer hear the words of people, for his heart has been filled with half an ant’s weight of love for Me. By My Majesty and Sublimity, even if you were to cut his body with a saw, he would feel no pain at all."
 
 
 
Cited from the book Ihya’ Ulumuddin

MANZIL PARA NABI


SUNGGUH, BUKAN MANUSIA BIASA ﷺ
 
Tatkala Nabi ﷺ melarang para sahabat berpuasa wishal menyambung puasa tanpa berbuka demi memberikan kemudahan dan rahmat bagi mereka, para sahabat bertanya: "Tetapi wahai Rasulullah, bukankah engkau sendiri melakukannya?"
 
Nabi ﷺ menjawab dengan penuh keagungan:
 
"Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Rabb-ku (Allah SWT) memberi aku makan dan minum." (HR. Bukhari & Muslim)
 
Allah memberi beliau kekuatan setara orang yang telah makan dan minum secara fisik. Sungguh, beliau ﷺ senantiasa hidup dan "dijamu" langsung oleh Tuhannya.
 
 
 
Lahir dengan Kemuliaan yang Luar Biasa
 
Sayyiduna Abbas r.a. pernah menyampaikan:
 
"Beliau ﷺ lahir dalam keadaan telah dikhitan (sunat) dan terpotong tali pusarnya." (HR. Baihaqi)
 
Syeikh Yusri Jabr menjelaskan: sejak dalam kandungan, Nabi ﷺ tidak bergantung pada tali pusar untuk nutrisi seperti bayi pada umumnya. Allah lah yang langsung memberi beliau asupan. Bahkan sejak awal kehidupan, beliau hidup langsung dengan Tuhannya.
 
 
 
Wangi yang Melebihi Segala Wewangian
 
Suatu hari Nabi ﷺ tidur di rumah Anas bin Malik hingga berkeringat. Ibu Anas, Ummu Sulaim, segera membawa botol untuk menampung keringat mulia itu. Saat beliau terbangun dan bertanya, Ummu Sulaim menjawab dengan lembut:
 
"Kami jadikannya campuran minyak wangi kami, dan itu adalah seharum-harumnya wewangian." (HR. Muslim)
 
Sayyiduna Jabir r.a. juga menegaskan:
 
"Tidaklah Nabi ﷺ melewati suatu jalan, melainkan orang-orang tahu beliau telah lewat karena wangi yang tertinggal dari tubuhnya."
 
 
 
Wibawa yang Tak Tergambarkan
 
Allah benar-benar memuliakan Nabi-Nya (Muhammad) dengan rupa yang paling indah dan akhlak yang sempurna. Di antara seluruh nabi, Nabi Muhammad ﷺ adalah puncak keindahan dan kemuliaan. Begitu besar wibawa beliau, hingga sahabat Amru bin 'Ash r.a. berkata:
 
"Jika diminta untuk menggambarkan beliau, aku takkan sanggup. Karena aku tak pernah mampu menatap beliau dengan sepenuh mataku terlalu agung untuk dipandang." (Asy-Syifa, Qadhi 'Iyadh, hlm. 326)
 
 
 
Sungguh, beliau ﷺ bukan manusia biasa. Beliau adalah pilihan Allah, rahmat bagi semesta, dan kekasih yang paling mulia. Semoga kita semua mendapat syafaat beliau di hari akhir nanti

ENGLISH 

TRULY, NO ORDINARY MAN ﷺ
 
When the Prophet ﷺ forbade his Companions from observing wishal continuing the fast without breaking it out of mercy and kindness toward them, the Companions asked: "But O Messenger of Allah, do you not do this yourself?"
 
The Prophet ﷺ replied with sublime dignity:
 
"I am not like you. My Lord feeds me and gives me drink." (Narrated by Al-Bukhari & Muslim)
 
Allah granted him strength equal to one who eats and drinks physically. Truly, he ﷺ was always sustained and "hosted" directly by his Lord.
 
 
 
Born with Extraordinary Nobility
 
Sayyiduna Abbas r.a. once related:
 
"He ﷺ was born already circumcised, with his umbilical cord severed." (Narrated by Al-Baihaqi)
 
Shaykh Yusri Jabr explains: even while in his mother’s womb, the Prophet ﷺ did not depend on the umbilical cord for nourishment like other infants. Allah Himself provided for him directly. From the very beginning of his life, he was connected and sustained by his Lord.
 
 
 
A Scent Beyond All Perfume
 
One day the Prophet ﷺ slept at the home of Anas bin Malik and began to sweat. Anas’ mother, Ummu Sulaim, quickly brought a vial to collect that blessed sweat. When he woke and asked what she was doing, she replied gently:
 
"We mix it into our perfumes for it is the sweetest fragrance of all." (Narrated by Muslim)
 
Sayyiduna Jabir r.a. also confirmed:
 
"Wherever the Prophet ﷺ passed, people knew he had been there because of the beautiful scent he left behind."
 
 
 
A Dignity Beyond Description
 
Allah honored His Messenger ﷺ with the most radiant countenance and perfect character. Among all the prophets, Muhammad ﷺ stands as the very peak of beauty and nobility. So immense was his majesty that the Companion Amru bin 'Ash r.a. said:
 
"If I were asked to describe him, I could not. For I never once looked upon him with my eyes fully open his presence was far too awe‑inspiring to behold." (Asy‑Syifa, Qadhi 'Iyadh, p. 326)
 
 
 
Truly, he ﷺ is no ordinary man. He is Allah’s chosen one, mercy to all the worlds, and the most beloved of creation. May we all receive his intercession on the Day of Judgment

DALIL 

إِنِّي لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ، إِنِّي يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي
Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, Rabb-ku memberi-ku makan dan minum. (HR. Bukhari & Muslim)

Truly, I am not like you. My Lord feeds me and gives me drink
(Narrated by Al-Bukhari and Muslim)

وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَخْتُونًا مَسْرُورًا، وَفِي رِوَايَةٍ: مَقْطُوعَ السُّرَّةِ
"Beliau ﷺ lahir dalam keadaan telah dikhitan dan terpotong tali pusarnya." (HR. Baihaqi)

"He ﷺ was born already circumcised, with his umbilical cord severed."
(Narrated by Al-Baihaqi)

نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا، وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ
"Kami jadikannya campuran minyak wangi kami, dan itu adalah seharum-harumnya wewangian." (HR. Muslim)

"We mix it into our perfumes, for it is the sweetest fragrance of all."
(Narrated by Muslim)

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ يَمُرُّ فِي طَرِيقٍ. إِلَّا عُرِفَ أَنَّهُ سَلَكَهُ مِنْ طِيبِهِ
Tidaklah Nabi ﷺ melewati suatu jalan, melainkan orang akan tahu beliau telah lewat dari wangi tubuhnya"

Wherever the Prophet ﷺ passed, people knew he had been there by the fragrance of his body

وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ مَا أَطَقْتُ؛ لِأَنِّي لَمْ أَكُنْ أَمْلَأُ عَيْنَيَّ مِنْهُ
Jika diminta menshifati beliau, aku tak akan sanggup. Karena aku tak pernah mampu menatap beliau dengan sepenuh mataku (karena haibah & ta'jub). (Asy-Syifa, Qadhi 'Iyadh hal 326.)

If I were asked to describe him, I could not do so. For I have never been able to look upon him with my eyes fully open such was his awe and majesty
(Asy-Syifa, Qadhi 'Iyadh, p. 326)

💛 SECUIL CINTA SEJATI
 
Suatu hari, Nabi Isa 'alaihissalam berjalan melewati seorang pemuda yang sedang menyiram kebunnya. Saat melihat Nabi Isa, pemuda itu segera memanggil:
 
"Wahai Nabi Isa, mintalah kepada Tuhanmu agar aku diberikan cinta kepada-Nya, walau hanya seberat semut yang terkecil."
 
Nabi Isa menjawab lembut:
"Kamu takkan sanggup menanggung cinta kepada Allah SWT, walau hanya seberat semut sekalipun."
 
Pemuda itu belum berhenti, ia memohon lagi:
"Kalau begitu, berikanlah separuhnya saja."
 
Melihat keinginannya yang begitu tulus dan menggebu, akhirnya Nabi Isa menyanggupi. Beliau berdoa:
"Ya Tuhanku, berilah dia rasa cinta kepada-Mu seberat setengah semut terkecil."
 
Setelah itu Nabi Isa pun melanjutkan perjalanannya.
 
Beberapa waktu kemudian, Nabi Isa kembali ke tempat itu, namun tak lagi mendapati pemuda sedang bekerja di kebun. Beliau bertanya kepada orang sekitar, dan mendapat kabar bahwa pemuda itu kini berada di atas gunung, seolah tak sadar diri.
 
Nabi Isa pun mendaki hingga menjumpainya. Beliau memberi salam, namun pemuda itu diam saja.
"Aku Isa, wahai pemuda," tegur beliau. Tetapi pemuda itu tetap tak bergeming, matanya terus menatap langit dengan penuh kerinduan.
 
Saat itulah wahyu Allah turun:
"Wahai Isa, dia tak lagi dapat mendengar perkataan manusia, sebab hatinya telah dipenuhi setengah berat semut cinta kepada-Ku. Demi keagungan dan keluhuran-Ku, sekalipun engkau mengiris tubuhnya dengan gergaji, ia tak akan merasakan sakit sedikit pun."
 
 
 
Dikutip dari Kitab Ihya’ Ulumuddin

ENGLISH

💛 A TASTE OF TRUE LOVE
 
One day, Prophet Isa 'alaihissalam passed by a young man who was watering his garden. When the young man saw him, he called out at once:
 
"O Prophet Isa, ask your Lord to grant me love for Him even if it is only as heavy as the tiniest ant."
 
Prophet Isa replied gently:
"You would not be able to bear the love of Allah SWT, not even as heavy as a single ant."
 
The young man would not give up; he pleaded again:
"If so, then grant me only half of that weight."
 
Seeing his sincere and burning longing, Prophet Isa finally agreed. He prayed:
"My Lord, grant him love for You as heavy as half the tiniest ant."
 
After this, Prophet Isa continued on his way.
 
Some time later, Prophet Isa returned to the same place, but found the young man no longer tending his garden. He asked the people nearby, and was told that the young man had wandered up into the mountains, as if he had lost awareness of this world.
 
Prophet Isa climbed until he found him there. He greeted him, but the young man remained silent.
"I am Isa, my young friend," he said clearly. Yet the man did not stir; his eyes stayed fixed upon the sky, filled with deep longing.
 
At that moment, revelation came from Allah:
"O Isa, he can no longer hear the words of people, for his heart has been filled with half an ant’s weight of love for Me. By My Majesty and Sublimity, even if you were to cut his body with a saw, he would feel no pain at all."
 
 
 
Cited from the book Ihya’ Ulumuddin

Sabtu, 29 Agustus 2026


SUNNAH NABI YANG SERING KITA LAKUKAN
 
Tahukah kalian? Ada satu amalan sunnah Rasulullah ﷺ yang sangat sederhana, ringan dilakukan, dan mungkin sudah sering kalian kerjakan sehari-hari namun belum menyadari bahwa ini adalah cara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
 
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, para sahabat menceritakan:
 
"Kami apabila berjalan menanjak, kami bertakbir (Allahu Akbar). Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih (subhanallah)"
(HR. Shahih Al-Bukhari)
 
Hal ini juga diperkuat riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
 
"Nabi ﷺ beserta pasukannya, apabila menaiki bukit atau tempat tinggi (tempat tempat harus di daki/menanjak), mereka mengucapkan Allahu Akbar. Dan apabila menuruni lembah atau tempat rendah, mereka mengucapkan Subhanallah."
(HR. Sunan Abu Daud, hadis shahih)
 
Amalan ini sangat luas penerapannya: saat kalian berjalan kaki menanjak, naik tangga, naik lift, berkendara motor atau mobil melewati jalan menanjak. Bahkan mendaki ucapkanlah Allahu Akbar. Sebaliknya saat melewati turunan atau pulang mendaki, ucapkanlah Subhanallah.
 
Sangat ringan bukan? Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk istiqomah mengamalkannya dalam setiap langkah.
 
📖 Sumber: Kitab Al-Adzkar

ENGLISH 

A SUNNAH OF THE PROPHET WE OFTEN DO WITHOUT REALIZING
 
Did you know? There is one practice from the Sunnah of the Messenger of Allah ﷺ that is extremely simple, easy to do, and perhaps you have already performed it many times in your daily life yet you may not realize that this is a way beloved by Allah and His Messenger.
 
Narrated by Jabir radhiyallahu ‘anhu, the Companions said:
 
"When we climbed an uphill path, we would recite Takbir (Allahu Akbar). And when we went downhill, we would recite Tasbih (Subhanallah)."
(Narrated in Sahih Al-Bukhari)
 
This is further confirmed in the narration from Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma:
 
"Whenever the Prophet ﷺ and his army climbed a hill or elevated ground, they would recite Allahu Akbar. And whenever they descended into a valley or low ground, they would recite Subhanallah."
(Narrated in Sunan Abu Daud, an authentic hadith)
 
This practice applies to so many everyday situations: when walking uphill, climbing stairs, taking an elevator, riding a motorcycle or car up a slope even while hiking, say Allahu Akbar. Conversely, when going downhill or descending after a climb, say Subhanallah.
 
So effortless, isn't it? May Allah always make it easy for us to remain consistent in practicing this with every step we take.
 
📖 Source: Kitab Al-Adzkar

DALIL 

"روينا في صحيح البخاري عن جابر رضي الله عنه قال: كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا."

Kami telah meriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Kami (para sahabat) 
✅apabila berjalan naik (menanjak), kami bertakbir (mengucapkan الله اكبر). 
✅Dan apabila kami berjalan turun, kami bertasbih (mengucapkan سبحان الله )

We narrate in Sahih Al-Bukhari from Jabir radhiyallahu 'anhu, who said: 'We (the Companions):
✅ when walking uphill (ascending), we would recite Takbir (saying Allahu Akbar).
✅ and when walking downhill (descending), we would recite Tasbih (saying Subhanallah)

وروينا في سنن أبي داود في الحديث الصحيح الذي قدمناه في باب ما يقول إذا ركب دابته، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:
 «كان النبي صلى الله عليه وسلم وجيوشه إذا علوا الثنايا كبروا، وإذا هبطوا سبحوا»."

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan pasukan jalannya (tentaranya) 
✅apabila menaiki jalan-jalan bukit yang mendaki (tempat tinggi), mereka bertakbir (mengucapkan الله اكبر).
✅Dan apabila mereka menuruni lembah (tempat rendah), mereka bertasbih (mengucap سبحان الله)'."

The Prophet ﷺ and his army:
✅ when climbing hills or elevated places, they would recite Takbir (saying Allahu Akbar);
✅ and when descending valleys or low places, they would recite Tasbih (saying Subhanallah)

🧗 DZIKIR DAN AMALAN AGAR SELAMAT SAAT MENDAKI GUNUNG
 
Saat hendak memulai pendakian, ada urutan amalan yang dianjurkan agar senantiasa dilindungi Allah SWT:
 
Sebelum Mendaki
 
1. Bacalah Tawassul Masyhur (mengirimkan Al-Fatihah kepada Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ hingga selesai)
2. Lanjutkan dengan tawassul khusus kepada Nabi Ilyas 'alaihissalam (penjaga daratan) serta malaikat penjaga gunung menurut Imam Ibnu Hajar, malaikat ini tidak memiliki nama. Sebaiknya tawassul ini dibaca terpisah, namun boleh juga digabungkan
3. Berdoalah memohon keselamatan, baik secara pribadi dalam hati maupun dipimpin oleh satu orang dan diamini oleh rombongan
4. Sebagai penutup, disarankan membaca: Assalamu 'alaina Wa'ala ibadillahi Assholihin sebagaimana disampaikan Abuya yang dikutip dalam kitab Al-Jamal
 
Saat Perjalanan
Selama mendaki:
 
- Ketika menaiki tanjakan, bacalah Takbir (Allahu Akbar)
- Ketika menuruni lereng, bacalah Tasbih (Subhanallah)
 
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Majmu' Syarah Muhaddzab (4/395):
 
"Disunnahkan bagi musafir membaca Takbir saat mendaki tempat tinggi, dan Tasbih saat menuruni lembah atau sejenisnya. Dan dimakruhkan mengeraskan suara (misal teriak. lebih baik bicara santai cuma terdengar teman2) saat membacanya."
 
Ketentuan ini merujuk pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu:
 
"Kami apabila mendaki, kami bertakbir; dan apabila menurun, kami bertasbih."
(HR. Al-Bukhari, dikutip dalam Riyadh As-Shalihin 1/304)
 
Semoga amalan ini membawa keselamatan dan keberkahan di setiap langkah pendakianmu

ENGLISH

🧗 DHIKR & PRACTICES FOR SAFETY WHILE CLIMBING MOUNTAINS
 
Before starting your climb, follow these recommended practices so that you remain under the protection of Allah SWT throughout the journey:
 
 
 
Before the Climb
 
1. Recite the Well-Known Tawassul (sending Al-Fatihah to the Messenger of Allah ﷺ, from beginning to end)
2. Follow with a special tawassul to Prophet Ilyas 'alaihissalam (guardian of the land), as well as the mountain-guarding angels — according to Imam Ibn Hajar, these angels have no known names. It is better to recite these tawassuls separately, though combining them is also permissible
3. Pray for safety, either silently in your own heart, or led by one person with the rest of the group saying Amin
4. Conclude by reciting: Assalamu 'alaina Wa'ala ibadillahi Assholihin, as shared by Abuya and cited in the book Al-Jamal
 
 
 
During the Journey
 
While hiking:
 
- When ascending slopes, recite Takbir (Allahu Akbar)
- When descending slopes, recite Tasbih (Subhanallah)
 
Imam An-Nawawi explains in Majmu' Syarah Muhaddzab (4/395):
 
"It is Sunnah for a traveler to recite Takbir when climbing high ground, and Tasbih when descending valleys or similar places. It is makruh to raise one’s voice (such as shouting; speak gently, loud enough only for those beside you to hear) while reciting these."
 
This guidance is based on an authentic hadith narrated by Companion Jabir radhiyallahu 'anhu:
 
"When we climbed, we recited Takbir; and when we descended, we recited Tasbih."
(Narrated by Al-Bukhari, cited in Riyadh As-Shalihin 1/304)
 
 
 
May these practices bring safety and blessings to every step of your climb

DALIL

يُسْتَحَبُّ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يُكَبِّرَ إذَا صَعِدَ الثَّنَايَا وَشِبْهَهَا وَيُسَبِّحَ إذَا هَبَطَ الْأَوْدِيَةَ وَنَحْوَهَا وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِذَلِكَ

"Disunnahkan bagi orang yang berpergian Agar Membaca Takbir ketika Menanjak dijalan yang meninggi Dan semisalnya Dan Membaca Tasbih ketika turun ke jurang dan semisalnya. Dan dimakruhkan mengeraskan suara ketika Membaca keduanya"

"It is Sunnah for a traveler to recite Takbir when ascending high paths and similar places, and to recite Tasbih when descending into valleys and similar places. It is makruh to raise one's voice while reciting either of these"

عن جابرٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا إِذا صعِدْنَا كَبَّرْنَا، وإِذا نَزَلْنَا سبَّحْنا. رواه البخاري.

Diriwayatkan Dari Sahabat Jabir Radiyallohu 'anhu, beliau berkata : "ketika kami mendaki maka kami Membaca Takbir (Allohu Akbar) Dan ketika kami Jalan menurun maka kami Membaca Tasbih (subhanalloh). (HR. Imam Al-bukhori)

Narrated by Companion Jabir radhiyallahu 'anhu, who said:
"When we climbed uphill, we would recite Takbir (Allahu Akbar), and when we went downhill, we would recite Tasbih (Subhanallah)."
(Narrated by Imam Al-Bukhari)

🏔️ HIKMAH AGUNG DICIPTAKANNYA GUNUNG
 
Gunung bukan sekadar pemandangan indah, melainkan ciptaan Allah SWT yang memegang peran sangat vital bagi kehidupan di muka bumi. Hal ini sudah dijelaskan langsung dalam Al-Qur'an maupun pandangan para ulama.
 
Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 15:
 
"Ia (Allah SWT) memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu"
 
Imam Al-Qurtubi menjelaskan lebih lanjut:
 
"Saat bumi dihamparkan (sebelum ada gunung), awalnya ia berayun-ayun. Lalu Allah menetapkan dan menstabilkannya dengan keberadaan gunung"
 
Selain sebagai penyeimbang bumi, ada hikmah besar lainnya:
 
- Seandainya tidak ada gunung, permukaan bumi akan rata dan licin sepenuhnya. Air lautan pun akan menutupi seluruh daratan (tanpa pulau), sehingga rusaklah tempat hidup tambang, tumbuhan, dan hewan yang telah Allah siapkan.
- Gunung (di seluruh dunia) menjadi sumber air tawar yang mengalir bagi seluruh makhluk. Puncak gunung yang tinggi menghalangi angin, memadatkan uap air menjadi awan, lalu memicu turunnya hujan dan salju yang menyuplai sungai-sungai di daratan.
 
Dari riwayat Imam Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dikutip dalam kitab Lubab At-Tafasir karya Imam Al-Kirmani, disebutkan pula:
 
Gunung Abu Qubais yang terletak di sebelah timur Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah adalah gunung pertama yang diletakkan Allah di muka bumi (gunung bapak semua gunung karena di ciptakan pertama kali)
 
Sungguh ciptaan Allah tiada yang sia-sia. Semoga kita semakin mengenal kebesaran-Nya lewat alam semesta ini

ENGLISH 

🏔️ THE GREAT WISDOM BEHIND THE CREATION OF MOUNTAINS
 
Mountains are far more than beautiful scenery; they are a creation of Allah SWT that plays a vital role in sustaining life on Earth. This is clearly explained in the Quran and further clarified by scholars.
 
Allah SWT says in Surah An-Nahl, verse 15:
 
"He set firm mountains on the earth, lest it shake with you."
 
Imam Al-Qurtubi explains further:
 
"When the earth was first spread out, it swayed and trembled. Then Allah stabilized it by placing mountains upon it."
 
Beyond anchoring the earth, mountains hold other profound wisdoms:
 
- If there were no mountains, the entire surface of the earth would be perfectly flat and smooth. The oceans would then cover all land entirely, destroying the habitats Allah has prepared for minerals, plants, and animals.
- Mountains across the world serve as the source of fresh flowing water needed by all living beings. Their towering peaks block winds, condense water vapor into clouds, and trigger rain and snow that feed rivers and springs.
 
According to a narration from Imam Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, cited in Imam Al-Kirmani’s book Lubab At-Tafasir:
Mount Abu Qubais located to the east of the Masjidil Haram in Makkah Al-Mukarramah is the very first mountain Allah placed on earth; the “father of all mountains,” created before any other .
 
Nothing in Allah’s creation is without purpose. May we grow ever more aware of His greatness through the world around us

DALIL 

﴿وألقى في الأرض رواسي أن تميد بكم﴾ [النحل: ١٥] 

Artinya : "Ia (gusti Alloh) memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu"

Meaning: "He (Allah) set firm mountains upon the earth, so that it may not shake with you"

أَنَّ الْأَرْضَ لَمَّا دُحِيَتْ مَادَتْ، فَأَرْسَاهَا بِالْجِبَالِ

"Sesungguhnya Bumi ketika dihamparkan maka ia berayun-ayun. Kemudian Alloh menetapkan Bumi dengan gunung"

"Indeed, when the earth was first spread out, it swayed and trembled. Then Allah stabilized the earth with mountains"

وقال بعضهم: لو لم تكن الجبال لكان وجه الأرض مستديرا أملس، فكان مياه البحار تغطيها من جميع جهاتها، وتحيط بها إحاطة كرة الهواء بالماء؛ فبطلت الحكمة المودعة في المعادن والنباتات والحيوانات، فاقتضت الحكمة الإلهية وجود الجبال لما ذكرناه من الحكمة.

Sebagain ulama berkata tentang hikmah Alloh menciptakan Gunung, "Seandainya tidak ada Gunung maka muka bumi akan bulat Rata dan licin, kemudian Air lautan akan Naik Dan menenggelamkan Bumi Dari segala Arah serta perputaran udara akan dikelilingi Dan dipenuhi dengan Air. Sehingga Rusaklah hikmah yang diletakkan di Tambang-tambang berharga, Tumbuh-tumbuhan Dan berbagai macam hewan. Oleh karena itu hikmah Al-ilahiyyah yang berupa wujudnya Gunung itu mencocoki sekali dengan hikmah yang telah kami jelaskan"

Some scholars explain the wisdom behind Allah creating mountains:
"If there were no mountains, the surface of the earth would be perfectly round, flat, and smooth. The ocean waters would then rise and submerge the earth from all directions, and the atmosphere would be surrounded and filled entirely with water. Thus, the purpose Allah has placed for precious minerals, plants, and all kinds of animals would be lost. For this reason, the divine wisdom manifest in the existence of mountains perfectly aligns with the purpose we have described"

وقال بعضهم: إن الجبال لوجود الماء العذب السائح على وجه الأرض الذي هو مادة حياة النبات والحيوان؛ وذلك لأن سبب هذا الماء انعقاد البخار في الجو فيصير سحابا، والجبال الشامخة الطوال في المشرق والمغرب والجنوب والشمال تمنع الرياح أن تسوق البحار، بل تجعلها منحصرة حتى يلقحها البرد؛ فيصير مطرا أو ثلجا، فلو فرضت الجبال مرتفعة على وجه الأرض لكانت الأرض كرة لا غور فيها ولا نتوء.

Sebagain ulama berkata "Sesungguhnya Gunung-gunung karena wujudnya air tawar yang mengalir dimuka Bumi yang berupa pokok (kebutuhan primer) Kehidupan tumbuh-tumbuhan Dan hewan. Oleh karena itu sesungguhnya Air Gunung adalah sebab terkumpulnya Asap di udara, yang kemudian menjadi awan. Gunung-gunung yang menjulang tinggi di Arah Timur, barat, utara dan selatan. Semuanya berfungsi menghalangi angin yang menggiring laut. Bahkan Gunung menjadikan angin sebagai gumpalan sehingga bercampur dengan dingin lalu menjadi hujan Dan salju. Maka seandainya gunung diangkat Dari maka Bumi maka bumi menjadi bulat tidak Ada kedalaman dan dataran tinggi

Some scholars have stated:
"Indeed, mountains are the reason for the existence of fresh flowing water on Earth the fundamental necessity for the life of plants and animals. Mountains cause water vapor in the air to gather and form clouds. The towering peaks stretching to the east, west, north, and south act as barriers against winds blowing across the oceans. They also force air currents to rise and cool, turning moisture into rain and snow. If mountains were removed from the Earth, the planet would be left smooth and round, with no depths or high ground at all"

عن ابن عباس رضي الله عنهما: كان أبو قبيس أول جبل وضع على الأرض. 

"Bahwa gunung Abu Qubais (gunung yang berada sebelah Timur Masjidil Haram Makkah Al-mukarromah) adalah gunung pertama yang diletakkan dimuka Bumi"

"Mount Abu Qubais the mountain located to the east of Masjidil Haram in Makkah Al-Mukarramah is the very first mountain placed upon the face of the earth."

INSYAALLAH COCOK BUAT MENDAKI


SUNNAH NABI YANG SERING KITA LAKUKAN
 
Tahukah kalian? Ada satu amalan sunnah Rasulullah ﷺ yang sangat sederhana, ringan dilakukan, dan mungkin sudah sering kalian kerjakan sehari-hari namun belum menyadari bahwa ini adalah cara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
 
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, para sahabat menceritakan:
 
"Kami apabila berjalan menanjak, kami bertakbir (Allahu Akbar). Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih (subhanallah)"
(HR. Shahih Al-Bukhari)
 
Hal ini juga diperkuat riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
 
"Nabi ﷺ beserta pasukannya, apabila menaiki bukit atau tempat tinggi (tempat tempat harus di daki/menanjak), mereka mengucapkan Allahu Akbar. Dan apabila menuruni lembah atau tempat rendah, mereka mengucapkan Subhanallah."
(HR. Sunan Abu Daud, hadis shahih)
 
Amalan ini sangat luas penerapannya: saat kalian berjalan kaki menanjak, naik tangga, naik lift, berkendara motor atau mobil melewati jalan menanjak. Bahkan mendaki ucapkanlah Allahu Akbar. Sebaliknya saat melewati turunan atau pulang mendaki, ucapkanlah Subhanallah.
 
Sangat ringan bukan? Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk istiqomah mengamalkannya dalam setiap langkah.
 
📖 Sumber: Kitab Al-Adzkar

ENGLISH 

A SUNNAH OF THE PROPHET WE OFTEN DO WITHOUT REALIZING
 
Did you know? There is one practice from the Sunnah of the Messenger of Allah ﷺ that is extremely simple, easy to do, and perhaps you have already performed it many times in your daily life yet you may not realize that this is a way beloved by Allah and His Messenger.
 
Narrated by Jabir radhiyallahu ‘anhu, the Companions said:
 
"When we climbed an uphill path, we would recite Takbir (Allahu Akbar). And when we went downhill, we would recite Tasbih (Subhanallah)."
(Narrated in Sahih Al-Bukhari)
 
This is further confirmed in the narration from Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma:
 
"Whenever the Prophet ﷺ and his army climbed a hill or elevated ground, they would recite Allahu Akbar. And whenever they descended into a valley or low ground, they would recite Subhanallah."
(Narrated in Sunan Abu Daud, an authentic hadith)
 
This practice applies to so many everyday situations: when walking uphill, climbing stairs, taking an elevator, riding a motorcycle or car up a slope even while hiking, say Allahu Akbar. Conversely, when going downhill or descending after a climb, say Subhanallah.
 
So effortless, isn't it? May Allah always make it easy for us to remain consistent in practicing this with every step we take.
 
📖 Source: Kitab Al-Adzkar

DALIL 

"روينا في صحيح البخاري عن جابر رضي الله عنه قال: كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا."

Kami telah meriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Kami (para sahabat) 
✅apabila berjalan naik (menanjak), kami bertakbir (mengucapkan الله اكبر). 
✅Dan apabila kami berjalan turun, kami bertasbih (mengucapkan سبحان الله )

We narrate in Sahih Al-Bukhari from Jabir radhiyallahu 'anhu, who said: 'We (the Companions):
✅ when walking uphill (ascending), we would recite Takbir (saying Allahu Akbar).
✅ and when walking downhill (descending), we would recite Tasbih (saying Subhanallah)

وروينا في سنن أبي داود في الحديث الصحيح الذي قدمناه في باب ما يقول إذا ركب دابته، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:
 «كان النبي صلى الله عليه وسلم وجيوشه إذا علوا الثنايا كبروا، وإذا هبطوا سبحوا»."

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan pasukan jalannya (tentaranya) 
✅apabila menaiki jalan-jalan bukit yang mendaki (tempat tinggi), mereka bertakbir (mengucapkan الله اكبر).
✅Dan apabila mereka menuruni lembah (tempat rendah), mereka bertasbih (mengucap سبحان الله)'."

The Prophet ﷺ and his army:
✅ when climbing hills or elevated places, they would recite Takbir (saying Allahu Akbar);
✅ and when descending valleys or low places, they would recite Tasbih (saying Subhanallah)

🧗 DZIKIR DAN AMALAN AGAR SELAMAT SAAT MENDAKI GUNUNG
 
Saat hendak memulai pendakian, ada urutan amalan yang dianjurkan agar senantiasa dilindungi Allah SWT:
 
Sebelum Mendaki
 
1. Bacalah Tawassul Masyhur (mengirimkan Al-Fatihah kepada Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ hingga selesai)
2. Lanjutkan dengan tawassul khusus kepada Nabi Ilyas 'alaihissalam (penjaga daratan) serta malaikat penjaga gunung menurut Imam Ibnu Hajar, malaikat ini tidak memiliki nama. Sebaiknya tawassul ini dibaca terpisah, namun boleh juga digabungkan
3. Berdoalah memohon keselamatan, baik secara pribadi dalam hati maupun dipimpin oleh satu orang dan diamini oleh rombongan
4. Sebagai penutup, disarankan membaca: Assalamu 'alaina Wa'ala ibadillahi Assholihin sebagaimana disampaikan Abuya yang dikutip dalam kitab Al-Jamal
 
Saat Perjalanan
Selama mendaki:
 
- Ketika menaiki tanjakan, bacalah Takbir (Allahu Akbar)
- Ketika menuruni lereng, bacalah Tasbih (Subhanallah)
 
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Majmu' Syarah Muhaddzab (4/395):
 
"Disunnahkan bagi musafir membaca Takbir saat mendaki tempat tinggi, dan Tasbih saat menuruni lembah atau sejenisnya. Dan dimakruhkan mengeraskan suara (misal teriak. lebih baik bicara santai cuma terdengar teman2) saat membacanya."
 
Ketentuan ini merujuk pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu:
 
"Kami apabila mendaki, kami bertakbir; dan apabila menurun, kami bertasbih."
(HR. Al-Bukhari, dikutip dalam Riyadh As-Shalihin 1/304)
 
Semoga amalan ini membawa keselamatan dan keberkahan di setiap langkah pendakianmu

ENGLISH

🧗 DHIKR & PRACTICES FOR SAFETY WHILE CLIMBING MOUNTAINS
 
Before starting your climb, follow these recommended practices so that you remain under the protection of Allah SWT throughout the journey:
 
 
 
Before the Climb
 
1. Recite the Well-Known Tawassul (sending Al-Fatihah to the Messenger of Allah ﷺ, from beginning to end)
2. Follow with a special tawassul to Prophet Ilyas 'alaihissalam (guardian of the land), as well as the mountain-guarding angels — according to Imam Ibn Hajar, these angels have no known names. It is better to recite these tawassuls separately, though combining them is also permissible
3. Pray for safety, either silently in your own heart, or led by one person with the rest of the group saying Amin
4. Conclude by reciting: Assalamu 'alaina Wa'ala ibadillahi Assholihin, as shared by Abuya and cited in the book Al-Jamal
 
 
 
During the Journey
 
While hiking:
 
- When ascending slopes, recite Takbir (Allahu Akbar)
- When descending slopes, recite Tasbih (Subhanallah)
 
Imam An-Nawawi explains in Majmu' Syarah Muhaddzab (4/395):
 
"It is Sunnah for a traveler to recite Takbir when climbing high ground, and Tasbih when descending valleys or similar places. It is makruh to raise one’s voice (such as shouting; speak gently, loud enough only for those beside you to hear) while reciting these."
 
This guidance is based on an authentic hadith narrated by Companion Jabir radhiyallahu 'anhu:
 
"When we climbed, we recited Takbir; and when we descended, we recited Tasbih."
(Narrated by Al-Bukhari, cited in Riyadh As-Shalihin 1/304)
 
 
 
May these practices bring safety and blessings to every step of your climb

DALIL

يُسْتَحَبُّ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يُكَبِّرَ إذَا صَعِدَ الثَّنَايَا وَشِبْهَهَا وَيُسَبِّحَ إذَا هَبَطَ الْأَوْدِيَةَ وَنَحْوَهَا وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِذَلِكَ

"Disunnahkan bagi orang yang berpergian Agar Membaca Takbir ketika Menanjak dijalan yang meninggi Dan semisalnya Dan Membaca Tasbih ketika turun ke jurang dan semisalnya. Dan dimakruhkan mengeraskan suara ketika Membaca keduanya"

"It is Sunnah for a traveler to recite Takbir when ascending high paths and similar places, and to recite Tasbih when descending into valleys and similar places. It is makruh to raise one's voice while reciting either of these"

عن جابرٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا إِذا صعِدْنَا كَبَّرْنَا، وإِذا نَزَلْنَا سبَّحْنا. رواه البخاري.

Diriwayatkan Dari Sahabat Jabir Radiyallohu 'anhu, beliau berkata : "ketika kami mendaki maka kami Membaca Takbir (Allohu Akbar) Dan ketika kami Jalan menurun maka kami Membaca Tasbih (subhanalloh). (HR. Imam Al-bukhori)

Narrated by Companion Jabir radhiyallahu 'anhu, who said:
"When we climbed uphill, we would recite Takbir (Allahu Akbar), and when we went downhill, we would recite Tasbih (Subhanallah)."
(Narrated by Imam Al-Bukhari)

🏔️ HIKMAH AGUNG DICIPTAKANNYA GUNUNG
 
Gunung bukan sekadar pemandangan indah, melainkan ciptaan Allah SWT yang memegang peran sangat vital bagi kehidupan di muka bumi. Hal ini sudah dijelaskan langsung dalam Al-Qur'an maupun pandangan para ulama.
 
Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 15:
 
"Ia (Allah SWT) memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu"
 
Imam Al-Qurtubi menjelaskan lebih lanjut:
 
"Saat bumi dihamparkan (sebelum ada gunung), awalnya ia berayun-ayun. Lalu Allah menetapkan dan menstabilkannya dengan keberadaan gunung"
 
Selain sebagai penyeimbang bumi, ada hikmah besar lainnya:
 
- Seandainya tidak ada gunung, permukaan bumi akan rata dan licin sepenuhnya. Air lautan pun akan menutupi seluruh daratan (tanpa pulau), sehingga rusaklah tempat hidup tambang, tumbuhan, dan hewan yang telah Allah siapkan.
- Gunung (di seluruh dunia) menjadi sumber air tawar yang mengalir bagi seluruh makhluk. Puncak gunung yang tinggi menghalangi angin, memadatkan uap air menjadi awan, lalu memicu turunnya hujan dan salju yang menyuplai sungai-sungai di daratan.
 
Dari riwayat Imam Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dikutip dalam kitab Lubab At-Tafasir karya Imam Al-Kirmani, disebutkan pula:
 
Gunung Abu Qubais yang terletak di sebelah timur Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah adalah gunung pertama yang diletakkan Allah di muka bumi (gunung bapak semua gunung karena di ciptakan pertama kali)
 
Sungguh ciptaan Allah tiada yang sia-sia. Semoga kita semakin mengenal kebesaran-Nya lewat alam semesta ini

ENGLISH 

🏔️ THE GREAT WISDOM BEHIND THE CREATION OF MOUNTAINS
 
Mountains are far more than beautiful scenery; they are a creation of Allah SWT that plays a vital role in sustaining life on Earth. This is clearly explained in the Quran and further clarified by scholars.
 
Allah SWT says in Surah An-Nahl, verse 15:
 
"He set firm mountains on the earth, lest it shake with you."
 
Imam Al-Qurtubi explains further:
 
"When the earth was first spread out, it swayed and trembled. Then Allah stabilized it by placing mountains upon it."
 
Beyond anchoring the earth, mountains hold other profound wisdoms:
 
- If there were no mountains, the entire surface of the earth would be perfectly flat and smooth. The oceans would then cover all land entirely, destroying the habitats Allah has prepared for minerals, plants, and animals.
- Mountains across the world serve as the source of fresh flowing water needed by all living beings. Their towering peaks block winds, condense water vapor into clouds, and trigger rain and snow that feed rivers and springs.
 
According to a narration from Imam Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, cited in Imam Al-Kirmani’s book Lubab At-Tafasir:
Mount Abu Qubais located to the east of the Masjidil Haram in Makkah Al-Mukarramah is the very first mountain Allah placed on earth; the “father of all mountains,” created before any other .
 
Nothing in Allah’s creation is without purpose. May we grow ever more aware of His greatness through the world around us

DALIL 

﴿وألقى في الأرض رواسي أن تميد بكم﴾ [النحل: ١٥] 

Artinya : "Ia (gusti Alloh) memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu"

Meaning: "He (Allah) set firm mountains upon the earth, so that it may not shake with you"

أَنَّ الْأَرْضَ لَمَّا دُحِيَتْ مَادَتْ، فَأَرْسَاهَا بِالْجِبَالِ

"Sesungguhnya Bumi ketika dihamparkan maka ia berayun-ayun. Kemudian Alloh menetapkan Bumi dengan gunung"

"Indeed, when the earth was first spread out, it swayed and trembled. Then Allah stabilized the earth with mountains"

وقال بعضهم: لو لم تكن الجبال لكان وجه الأرض مستديرا أملس، فكان مياه البحار تغطيها من جميع جهاتها، وتحيط بها إحاطة كرة الهواء بالماء؛ فبطلت الحكمة المودعة في المعادن والنباتات والحيوانات، فاقتضت الحكمة الإلهية وجود الجبال لما ذكرناه من الحكمة.

Sebagain ulama berkata tentang hikmah Alloh menciptakan Gunung, "Seandainya tidak ada Gunung maka muka bumi akan bulat Rata dan licin, kemudian Air lautan akan Naik Dan menenggelamkan Bumi Dari segala Arah serta perputaran udara akan dikelilingi Dan dipenuhi dengan Air. Sehingga Rusaklah hikmah yang diletakkan di Tambang-tambang berharga, Tumbuh-tumbuhan Dan berbagai macam hewan. Oleh karena itu hikmah Al-ilahiyyah yang berupa wujudnya Gunung itu mencocoki sekali dengan hikmah yang telah kami jelaskan"

Some scholars explain the wisdom behind Allah creating mountains:
"If there were no mountains, the surface of the earth would be perfectly round, flat, and smooth. The ocean waters would then rise and submerge the earth from all directions, and the atmosphere would be surrounded and filled entirely with water. Thus, the purpose Allah has placed for precious minerals, plants, and all kinds of animals would be lost. For this reason, the divine wisdom manifest in the existence of mountains perfectly aligns with the purpose we have described"

وقال بعضهم: إن الجبال لوجود الماء العذب السائح على وجه الأرض الذي هو مادة حياة النبات والحيوان؛ وذلك لأن سبب هذا الماء انعقاد البخار في الجو فيصير سحابا، والجبال الشامخة الطوال في المشرق والمغرب والجنوب والشمال تمنع الرياح أن تسوق البحار، بل تجعلها منحصرة حتى يلقحها البرد؛ فيصير مطرا أو ثلجا، فلو فرضت الجبال مرتفعة على وجه الأرض لكانت الأرض كرة لا غور فيها ولا نتوء.

Sebagain ulama berkata "Sesungguhnya Gunung-gunung karena wujudnya air tawar yang mengalir dimuka Bumi yang berupa pokok (kebutuhan primer) Kehidupan tumbuh-tumbuhan Dan hewan. Oleh karena itu sesungguhnya Air Gunung adalah sebab terkumpulnya Asap di udara, yang kemudian menjadi awan. Gunung-gunung yang menjulang tinggi di Arah Timur, barat, utara dan selatan. Semuanya berfungsi menghalangi angin yang menggiring laut. Bahkan Gunung menjadikan angin sebagai gumpalan sehingga bercampur dengan dingin lalu menjadi hujan Dan salju. Maka seandainya gunung diangkat Dari maka Bumi maka bumi menjadi bulat tidak Ada kedalaman dan dataran tinggi

Some scholars have stated:
"Indeed, mountains are the reason for the existence of fresh flowing water on Earth the fundamental necessity for the life of plants and animals. Mountains cause water vapor in the air to gather and form clouds. The towering peaks stretching to the east, west, north, and south act as barriers against winds blowing across the oceans. They also force air currents to rise and cool, turning moisture into rain and snow. If mountains were removed from the Earth, the planet would be left smooth and round, with no depths or high ground at all"

عن ابن عباس رضي الله عنهما: كان أبو قبيس أول جبل وضع على الأرض. 

"Bahwa gunung Abu Qubais (gunung yang berada sebelah Timur Masjidil Haram Makkah Al-mukarromah) adalah gunung pertama yang diletakkan dimuka Bumi"

"Mount Abu Qubais the mountain located to the east of Masjidil Haram in Makkah Al-Mukarramah is the very first mountain placed upon the face of the earth."

Jumat, 28 Agustus 2026


📜 HIKMAH MENGAPA SUJUD DILAKUKAN DUA KALI DALAM SETIAP RAKAAT

Pernahkah kamu bertanya, mengapa hanya sujud yang diulang dua kali dalam sholat sedangkan rukun lainnya cukup satu kali? Berikut penjelasannya yang dikutip dari kitab Hasyiah Al-Bajuri dan Fawa'idul Mukhtarah.
 
1. Puncak Kerendahan Hati
 
Sujud dilakukan dua kali untuk menunjukkan kerendahan hati yang paling tinggi, dengan meletakkan bagian tubuh yang paling mulia yaitu kepala di tempat yang sama dengan pijakan kaki. Inilah sebabnya sujud lebih utama daripada ruku'.
 
2. Merendahkan Kesombongan Setan
 
Sujud juga menjadi counter bagi kesombongan iblis. Ia pernah enggan bersujud kepada Nabi Adam 'alaihissalam, sementara kita anak cucu Adam justru diperintahkan bersujud sebanyak dua kali. Diriwayatkan bahwa setiap kali hamba bersujud, setan menjauh sambil menangis:
 
"Aduhai celakaku! Anak Adam disuruh bersujud lalu ia bersujud, baginya surga. Aku pun disuruh bersujud namun aku menolak, maka bagiku neraka."
 
3. Momen Kedekatan Paling Dekat
 
Sujud adalah saat di mana posisi hamba paling dekat dengan Allah SWT (rohaniah). Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud."
 
4. Sebagai Bentuk Syukur
 
Menurut penjelasan kitab Fawa'idul Mukhtarah, saat para malaikat bersujud kepada Nabi Adam lalu mengangkat kepala, mereka melihat Iblis tidak mau ikut bersujud dan dicela Allah. Malaikat pun bersujud untuk kedua kalinya sebagai rasa syukur karena Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada mereka.
 
Semoga kita semakin menghayati keagungan sujud di setiap shalat kita

ENGLISH

📜 THE WISDOM OF PERFORMING PROSTRATION TWICE IN EVERY PRAYER RAK'AH
 
Have you ever wondered why prostration (sujud) is the only pillar of prayer repeated twice, while all other pillars are done just once? Here is the explanation drawn from the books Hasyiah Al-Bajuri and Fawa'idul Mukhtarah.
 
1. The Peak of Humility
 
Prostration is performed twice to show the highest form of humility: placing the most noble part of the body the head on the same level where feet rest. This is why prostration holds greater virtue than bowing (ruku').
 
2. Humbling the Arrogance of Satan
 
Prostration also stands against Satan’s pride. He once refused to prostrate before Prophet Adam 'alaihissalam, yet we, the children of Adam, are commanded to prostrate twice. It is narrated that every time a servant prostrates, Satan withdraws weeping and says:
 
"Woe to me! The children of Adam were commanded to prostrate, so they prostrated thus for them is Paradise. I too was commanded to prostrate, but I refused thus for me is Hellfire."
 
3. The Moment of Nearest Closeness
 
Prostration is the spiritual moment when a servant is closest to Allah SWT. As the Prophet ﷺ said: "The closest a servant is to his Lord is when he is in prostration."
 
4. As an Act of Gratitude
 
According to Fawa'idul Mukhtarah, when the angels prostrated before Prophet Adam then lifted their heads, they saw Iblis refused to prostrate and was rejected by Allah. So the angels prostrated a second time, giving thanks that Allah had not rejected them.
 
May we ever more deeply appreciate the greatness of prostration in every prayer we offer

DALIL

وإنماكرر السجود دون غيره من الأركان لما فيه من زيادة التواضع بوضع أشرف الأعضاء على مواطىء الأقدام ولهذا كان افضل من الركوعولما فيه من إرغام الشيطان وإذلاله حيث لم يسجد لآدم وأمر ابن آدم بالسجود فسجد مرتين 

Hanya sujud yang diulang-ulang (2 kali) _bukan rukun shalat lainnya_ karena di dalamnya menunjukkan kerendahan hati (tawadhu') yang lebih, yaitu dengan meletakkan anggota tubuh yang paling mulia di tempat yang sejajar dengan tempat pijakan kaki. Oleh karena itu, sujud itu lebih utama daripada rukuk. Dan di dalam sujud juga bertujuan untuk menghinakan dan merendahkan setan, sebab setan enggan bersujud kepada Nabi Adam, sedangkan anak cucu Adam diperintahkan bersujud 2 kali.

Only prostration is repeated (twice) unlike all other pillars of prayer because it expresses greater humility (tawadhu'): by placing the most noble part of the body at the same level as where feet stand. For this reason, prostration holds higher virtue than bowing (ruku'). It also humbles and disgraces Satan, for he refused to prostrate before Prophet Adam, while the children of Adam are commanded to prostrate twice

ولذلك ورد أنه إذا سجد العبد اعتزل الشيطان يبكي ويقول يا ويلى أمر ابن آدم بالسجود فسجد.فله الجنة وأمرت بالسجود فلم أسجد فلي النار

Karena itu, diriwayatkan bahwa apabila seorang hamba bersujud, maka setan akan menjauh sambil menangis dan berkata: Aduhai celakanya aku, Anak Adam diperintahkan untuk bersujud dan ia pun bersujud, maka surga baginya. Sedangkan aku diperintahkan untuk bersujud, tapi aku tidak mau bersujud, maka bagiku neraka

Therefore, it is narrated that whenever a servant prostrates, Satan draws away weeping and says: "Woe is me! The children of Adam were commanded to prostrate, so they prostrated thus Paradise is theirs. I too was commanded to prostrate, but I refused so Hellfire is mine"

ولما فيه من شدة القرب بين العبد وربه كما ورد أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد  

Dan karena di dalam sujud terdapat kedekatan yang luar biasa antara seorang hamba dan Tuhannya, sebagaimana diriwayatkan: Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud

And in prostration lies an extraordinary closeness between a servant and his Lord, as is narrated: The closest a servant is to his Lord is when he is in prostration

الحكمة في أن السجود مرتان والركوع مرة واحدة قيل: لأن الملائكة لما سجدوا لآدم ورفعوا رؤوسهم وجدوا إبليس لم يسجد، فعلموا أن الله خذله فسجدوا مرة أخرى شكرا لله إذ لم يخذلهم.

Hikmah mengapa sujud dilakukan 2 kali dan rukuk satu kali, dikatakan bahwasanya ketika malaikat bersujud kepada Adam kemudian nereka mengangkat kepalanya (bangkit dari sujudnya), mereka melihat iblis tidak bersujud kepada Nabi Adam. Mereka mengetahui bahwa Allah mencela iblis tersebut, lalu mereka sujud kali kedua karena bersyukur karena Allah tidak mencela mereka

It is explained that the wisdom behind performing prostration twice and bowing only once is this: when the angels prostrated before Adam, then lifted their heads (rose from prostration), they saw that Iblis had refused to prostrate to Prophet Adam. Realizing that Allah had rejected him, they prostrated a second time out of gratitude that Allah had not rejected them

HIKMAH SUJUD DUA KALI DALAM SHOLAT


📜 HIKMAH MENGAPA SUJUD DILAKUKAN DUA KALI DALAM SETIAP RAKAAT

Pernahkah kamu bertanya, mengapa hanya sujud yang diulang dua kali dalam sholat sedangkan rukun lainnya cukup satu kali? Berikut penjelasannya yang dikutip dari kitab Hasyiah Al-Bajuri dan Fawa'idul Mukhtarah.
 
1. Puncak Kerendahan Hati
 
Sujud dilakukan dua kali untuk menunjukkan kerendahan hati yang paling tinggi, dengan meletakkan bagian tubuh yang paling mulia yaitu kepala di tempat yang sama dengan pijakan kaki. Inilah sebabnya sujud lebih utama daripada ruku'.
 
2. Merendahkan Kesombongan Setan
 
Sujud juga menjadi counter bagi kesombongan iblis. Ia pernah enggan bersujud kepada Nabi Adam 'alaihissalam, sementara kita anak cucu Adam justru diperintahkan bersujud sebanyak dua kali. Diriwayatkan bahwa setiap kali hamba bersujud, setan menjauh sambil menangis:
 
"Aduhai celakaku! Anak Adam disuruh bersujud lalu ia bersujud, baginya surga. Aku pun disuruh bersujud namun aku menolak, maka bagiku neraka."
 
3. Momen Kedekatan Paling Dekat
 
Sujud adalah saat di mana posisi hamba paling dekat dengan Allah SWT (rohaniah). Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud."
 
4. Sebagai Bentuk Syukur
 
Menurut penjelasan kitab Fawa'idul Mukhtarah, saat para malaikat bersujud kepada Nabi Adam lalu mengangkat kepala, mereka melihat Iblis tidak mau ikut bersujud dan dicela Allah. Malaikat pun bersujud untuk kedua kalinya sebagai rasa syukur karena Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada mereka.
 
Semoga kita semakin menghayati keagungan sujud di setiap shalat kita

ENGLISH

📜 THE WISDOM OF PERFORMING PROSTRATION TWICE IN EVERY PRAYER RAK'AH
 
Have you ever wondered why prostration (sujud) is the only pillar of prayer repeated twice, while all other pillars are done just once? Here is the explanation drawn from the books Hasyiah Al-Bajuri and Fawa'idul Mukhtarah.
 
1. The Peak of Humility
 
Prostration is performed twice to show the highest form of humility: placing the most noble part of the body the head on the same level where feet rest. This is why prostration holds greater virtue than bowing (ruku').
 
2. Humbling the Arrogance of Satan
 
Prostration also stands against Satan’s pride. He once refused to prostrate before Prophet Adam 'alaihissalam, yet we, the children of Adam, are commanded to prostrate twice. It is narrated that every time a servant prostrates, Satan withdraws weeping and says:
 
"Woe to me! The children of Adam were commanded to prostrate, so they prostrated thus for them is Paradise. I too was commanded to prostrate, but I refused thus for me is Hellfire."
 
3. The Moment of Nearest Closeness
 
Prostration is the spiritual moment when a servant is closest to Allah SWT. As the Prophet ﷺ said: "The closest a servant is to his Lord is when he is in prostration."
 
4. As an Act of Gratitude
 
According to Fawa'idul Mukhtarah, when the angels prostrated before Prophet Adam then lifted their heads, they saw Iblis refused to prostrate and was rejected by Allah. So the angels prostrated a second time, giving thanks that Allah had not rejected them.
 
May we ever more deeply appreciate the greatness of prostration in every prayer we offer

DALIL

وإنماكرر السجود دون غيره من الأركان لما فيه من زيادة التواضع بوضع أشرف الأعضاء على مواطىء الأقدام ولهذا كان افضل من الركوعولما فيه من إرغام الشيطان وإذلاله حيث لم يسجد لآدم وأمر ابن آدم بالسجود فسجد مرتين 

Hanya sujud yang diulang-ulang (2 kali) _bukan rukun shalat lainnya_ karena di dalamnya menunjukkan kerendahan hati (tawadhu') yang lebih, yaitu dengan meletakkan anggota tubuh yang paling mulia di tempat yang sejajar dengan tempat pijakan kaki. Oleh karena itu, sujud itu lebih utama daripada rukuk. Dan di dalam sujud juga bertujuan untuk menghinakan dan merendahkan setan, sebab setan enggan bersujud kepada Nabi Adam, sedangkan anak cucu Adam diperintahkan bersujud 2 kali.

Only prostration is repeated (twice) unlike all other pillars of prayer because it expresses greater humility (tawadhu'): by placing the most noble part of the body at the same level as where feet stand. For this reason, prostration holds higher virtue than bowing (ruku'). It also humbles and disgraces Satan, for he refused to prostrate before Prophet Adam, while the children of Adam are commanded to prostrate twice

ولذلك ورد أنه إذا سجد العبد اعتزل الشيطان يبكي ويقول يا ويلى أمر ابن آدم بالسجود فسجد.فله الجنة وأمرت بالسجود فلم أسجد فلي النار

Karena itu, diriwayatkan bahwa apabila seorang hamba bersujud, maka setan akan menjauh sambil menangis dan berkata: Aduhai celakanya aku, Anak Adam diperintahkan untuk bersujud dan ia pun bersujud, maka surga baginya. Sedangkan aku diperintahkan untuk bersujud, tapi aku tidak mau bersujud, maka bagiku neraka

Therefore, it is narrated that whenever a servant prostrates, Satan draws away weeping and says: "Woe is me! The children of Adam were commanded to prostrate, so they prostrated thus Paradise is theirs. I too was commanded to prostrate, but I refused so Hellfire is mine"

ولما فيه من شدة القرب بين العبد وربه كما ورد أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد  

Dan karena di dalam sujud terdapat kedekatan yang luar biasa antara seorang hamba dan Tuhannya, sebagaimana diriwayatkan: Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud

And in prostration lies an extraordinary closeness between a servant and his Lord, as is narrated: The closest a servant is to his Lord is when he is in prostration

الحكمة في أن السجود مرتان والركوع مرة واحدة قيل: لأن الملائكة لما سجدوا لآدم ورفعوا رؤوسهم وجدوا إبليس لم يسجد، فعلموا أن الله خذله فسجدوا مرة أخرى شكرا لله إذ لم يخذلهم.

Hikmah mengapa sujud dilakukan 2 kali dan rukuk satu kali, dikatakan bahwasanya ketika malaikat bersujud kepada Adam kemudian nereka mengangkat kepalanya (bangkit dari sujudnya), mereka melihat iblis tidak bersujud kepada Nabi Adam. Mereka mengetahui bahwa Allah mencela iblis tersebut, lalu mereka sujud kali kedua karena bersyukur karena Allah tidak mencela mereka

It is explained that the wisdom behind performing prostration twice and bowing only once is this: when the angels prostrated before Adam, then lifted their heads (rose from prostration), they saw that Iblis had refused to prostrate to Prophet Adam. Realizing that Allah had rejected him, they prostrated a second time out of gratitude that Allah had not rejected them

Selasa, 25 Agustus 2026


FAKTA MAULID MENURUT TIGA ULAMA BESAR BERGELAR AL-HAFIDZ
 
Al-Hafidz adalah gelar kehormatan tertinggi bagi ulama hadits yang telah menghafal minimal 100.000 hadits lengkap dengan silsilah perawi (sanad) dan teksnya (matan). Syaratnya sangat berat, sehingga gelar ini sangat langka tidak sembarang orang bisa menyandangnya, bahkan di zaman dahulu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
 
Berikut dalil peringatan Maulid yang dikutip dari tiga ulama besar bergelar Al-Hafidz:
 
 
 
📜 Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani
 
Beliau adalah penulis kitab Fathul Bari, syarah paling masyhur untuk Shahih Bukhari, dan guru Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari. Beliau mengutip hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai dalil Maulid:
 
Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjawab: "Ini hari saat Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Nabi Musa, maka kami berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah."
 
Kemudian Syekh Ibnu Hajar menjelaskan:
 
Hadits ini menunjukkan bolehnya bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan pada hari tertentu, lalu momen tersebut diulang setiap tahun. Dan tidak ada nikmat yang lebih agung daripada kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, Nabi Pembawa Rahmat. Maka sudah sepatutnya kelahiran beliau diperingati setiap tahun (waktu yang sama), sebagaimana kaum Yahudi memperingati keselamatan Nabi Musa pada hari Asyura.
 
 
 
📜 Al-Hafidz Syamsuddin Ad-Dimasyqi
 
Seangkatan dengan Ibnu Hajar, dan sama-sama murid Al-Iraqi, Ibnu Mulaqqin, dan Al-Bulqini. Imam Al-Maqrizi memujinya sebagai ahli hadits wilayah Syam yang tak tertandingi, yang tidak ada penggantinya setelah beliau wafat. Beliau menyampaikan:
 
Telah shahih bahwa siksa neraka Abu Lahab diringankan setiap hari Senin, karena dia pernah memerdekakan budaknya Tsuwaibah karena saking gembiranya atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.
 
Lalu beliau membuat syair penuh makna:
 
Jika orang kafir yang dicela dan binasa di neraka saja bisa mendapat keringanan azab setiap hari Senin hanya karena gembira atas kelahiran Nabi, maka bayangkan betapa besar rahmat yang akan diterima seorang hamba yang sepanjang hidupnya mencintai Nabi dan mati dalam keadaan beriman!
 
 
 
📜 Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi
 
Penulis lebih dari 500 kitab yang dikenal luas di seluruh dunia Islam. Beliau mengutip hadits riwayat Imam Al-Baihaqi:
 
Nabi ﷺ melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi.
 
Padahal kakek beliau, Abdul Muthalib, sudah melakukan aqiqah (hari ke 7) saat beliau lahir. Dalam fikih, aqiqah tidak diulang dua kali. Maka tindakan beliau ini dipahami sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah mengutus beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam (nabi muhammad)
 
 
 
Peringatan Maulid bukanlah hal yang tanpa dasar. Tiga ulama hadits terbesar yang penguasaan ilmu diakui seluruh umat telah memberikan landasan dan dalilnya. Semoga semakin menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ

ENGLISH

FACTS ABOUT MAWLID FROM THREE GREAT SCHOLARS TITLED AL-HAFIDZ
 
Al-Hafidz is the highest honorary title for a hadith scholar who has memorized at least 100,000 hadiths, complete with their chains of narration (sanad) and text (matan). The requirements are extremely rigorous, so this title is exceptionally rare never granted to just anyone. Even in earlier eras, the number of scholars worthy of it could be counted on one’s fingers.
 
Below are the evidences for celebrating Mawlid, cited from three eminent scholars who bore the title Al-Hafidz:
 
 
 
📜 Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani
 
He authored Fathul Bari, the most renowned commentary on Sahih Al-Bukhari, and was the teacher of Shaykhul Islam Zakariya Al-Anshari. He presented a hadith recorded by Imams Al-Bukhari and Muslim as evidence for Mawlid:
 
When the Prophet ﷺ arrived in Madinah, he found the Jews fasting on the day of Ashura. When he asked them why, they replied: "This is the day Allah drowned Pharaoh and saved Moses, so we fast on it to give thanks to Allah."
 
Shaykh Ibn Hajar then explained:
 
This hadith shows it is permissible to give thanks to Allah for blessings granted on a specific day, and to repeat that observance every year. And no blessing is greater than the birth of Prophet Muhammad ﷺ, the Messenger of Mercy. Therefore, it is only right that his birth be commemorated each year on the same occasion, just as the Jews marked the salvation of Moses on Ashura.
 
 
 
📜 Al-Hafidz Syamsuddin Ad-Dimasyqi
 
A contemporary of Ibn Hajar, both studied under Al-Iraqi, Ibn Mulaqqin, and Al-Bulqini. Imam Al-Maqrizi praised him as the undisputed leading hadith authority of the Levant, saying no one matched his stature in the region after his passing. He stated:
 
It is authentically reported that the punishment of Abu Lahab in the Hellfire is lightened every Monday, because he freed his slave Thuwaybah out of joy at the birth of Prophet Muhammad ﷺ.
 
He then composed these meaningful verses:
 
If even a disbeliever condemned and destined to abide in Hell receives relief from punishment each Monday simply for rejoicing at the Prophet’s birth, imagine the immense mercy awaiting the servant who loves the Prophet his entire life and dies in faith!
 
 
 
📜 Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi
 
Writer of over 500 works known across the entire Muslim world. He cited a hadith narrated by Imam Al-Baihaqi:
 
The Prophet ﷺ performed an 'aqiqah for himself after he was commissioned as a Prophet.
 
Yet his grandfather Abdul Muthalib had already performed his 'aqiqah on the seventh day after his birth. In Islamic jurisprudence, 'aqiqah is not repeated twice. Thus, this act is understood as a form of gratitude to Allah for sending him as mercy to all creation.
 
 
 
Commemorating the Mawlid is not an unfounded practice. Three of the greatest hadith masters whose scholarly mastery is universally acknowledged have established its basis and proof. May this strengthen our faith and deepen our love for the Messenger of Allah ﷺ

DALIL

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا: هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى
Saat Nabi Saw. tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab: 'Ini adalah hari saat Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah'

When the Prophet ﷺ arrived in Madinah, he found the Jews fasting on the day of Ashura. Upon asking the reason, they replied: 'This is the day Allah drowned Pharaoh and saved Moses, so we fast here to give thanks to Allah

فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إِسْدَاءِ نِعْمَةٍ أَوْ دَفْعِ نِقْمَةٍ، وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ. وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ؟ وَعَلَى هَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يُتَحَرَّى الْيَوْمُ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ
Hadis ini menunjukkan bolehnya bersyukur kepada Allah atas nikmat atau keselamatan yang diberikan pada hari tertentu, lalu momen tersebut diulang setiap tahun. Tentu, tidak ada nikmat yang lebih agung daripada kelahiran Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Rahmat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya momen kelahiran beliau diperingati pada hari yang sama agar serupa dengan kisah Nabi Musa pada hari Asyura

This hadith shows that it is permissible to give thanks to Allah for blessings or deliverance granted on a specific day, and to repeat that observance each year. Surely, no blessing is greater than the birth of Prophet Muhammad, the Messenger of Mercy. Therefore, it is only fitting that his birth be commemorated on the same day, following the same principle as the observance of Prophet Moses on the day of Ashura

طَلَبَ الْحَدِيثَ، فَصَارَ حَافِظَ بِلَادِ الشَّامِ مِنْ غَيْرِ مُنَازِعٍ، وَصَنَّفَ عِدَّةَ مُصَنَّفَاتٍ، وَلَمْ يُخَلِّفْ فِي الشَّامِ بَعْدَهُ مِثْلَهُ
Beliau (Syekh Syamsuddin) menuntut ilmu hadits hingga menjadi ahli hadits (hafidz) wilayah Syam yang tak tertandingi. Beliau menulis banyak kitab, dan tidak ada yang mampu menggantikan kehebatannya di Syam setelah beliau wafat

He (Shaykh Syamsuddin) pursued the study of hadith until he became the undisputed master of hadith (hafidz) in the Levant. He authored numerous works, and no one was able to match his stature or fill his place in the region after his passing

قَدْ صَحَّ أَنَّ أَبَا لَهَبٍ يُخَفَّفُ عَنْهُ عَذَابُ النَّارِ فِي مِثْلِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِإِعْتَاقِهِ ثُوَيْبَةَ سُرُورًا بِمِيلَادِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa siksa neraka Abu Lahab diringankan setiap hari Senin. Hal ini karena ia pernah memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah karena saking gembiranya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW

There is an authentic narration stating that the punishment of Abu Lahab in the Hellfire is lightened every Monday. This is because he once freed his slave Thuwaybah out of immense joy upon the birth of Prophet Muhammad ﷺ

إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ ۞ وَتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيمِ مُخَلَّدَا
أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ دَائِمًا ۞ يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَا
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي طُولَ عُمْرِهِ ۞ بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا 

Jika orang kafir ini saja yang jelas² dicela dan binasa di neraka selamanya bisa mendapat keringanan azab setiap hari Senin karena pernah gembira atas kelahiran Nabi Muhammad, maka bayangkan betapa besarnya rahmat yang akan diterima oleh seorang hamba yang sepanjang hidupnya selalu gembira dengan Nabi Muhammad dan mati dalam keadaan beriman

If even this disbeliever who is clearly condemned and destined to remain in Hell forever receives relief from punishment every Monday simply because he rejoiced at the birth of Prophet Muhammad, then imagine the immense mercy that awaits the servant who delights in the Prophet throughout his life and dies in a state of faith

أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ
Sungguh Nabi Saw. melakukan 'aqiqah untuk dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi

Indeed, the Prophet ﷺ performed an 'aqiqah for himself after he was appointed as a Prophet

MAULID NABI MENURUT PARA ULAMA BESAR


FAKTA MAULID MENURUT TIGA ULAMA BESAR BERGELAR AL-HAFIDZ
 
Al-Hafidz adalah gelar kehormatan tertinggi bagi ulama hadits yang telah menghafal minimal 100.000 hadits lengkap dengan silsilah perawi (sanad) dan teksnya (matan). Syaratnya sangat berat, sehingga gelar ini sangat langka tidak sembarang orang bisa menyandangnya, bahkan di zaman dahulu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
 
Berikut dalil peringatan Maulid yang dikutip dari tiga ulama besar bergelar Al-Hafidz:
 
 
 
📜 Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani
 
Beliau adalah penulis kitab Fathul Bari, syarah paling masyhur untuk Shahih Bukhari, dan guru Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari. Beliau mengutip hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai dalil Maulid:
 
Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjawab: "Ini hari saat Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Nabi Musa, maka kami berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah."
 
Kemudian Syekh Ibnu Hajar menjelaskan:
 
Hadits ini menunjukkan bolehnya bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan pada hari tertentu, lalu momen tersebut diulang setiap tahun. Dan tidak ada nikmat yang lebih agung daripada kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, Nabi Pembawa Rahmat. Maka sudah sepatutnya kelahiran beliau diperingati setiap tahun (waktu yang sama), sebagaimana kaum Yahudi memperingati keselamatan Nabi Musa pada hari Asyura.
 
 
 
📜 Al-Hafidz Syamsuddin Ad-Dimasyqi
 
Seangkatan dengan Ibnu Hajar, dan sama-sama murid Al-Iraqi, Ibnu Mulaqqin, dan Al-Bulqini. Imam Al-Maqrizi memujinya sebagai ahli hadits wilayah Syam yang tak tertandingi, yang tidak ada penggantinya setelah beliau wafat. Beliau menyampaikan:
 
Telah shahih bahwa siksa neraka Abu Lahab diringankan setiap hari Senin, karena dia pernah memerdekakan budaknya Tsuwaibah karena saking gembiranya atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.
 
Lalu beliau membuat syair penuh makna:
 
Jika orang kafir yang dicela dan binasa di neraka saja bisa mendapat keringanan azab setiap hari Senin hanya karena gembira atas kelahiran Nabi, maka bayangkan betapa besar rahmat yang akan diterima seorang hamba yang sepanjang hidupnya mencintai Nabi dan mati dalam keadaan beriman!
 
 
 
📜 Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi
 
Penulis lebih dari 500 kitab yang dikenal luas di seluruh dunia Islam. Beliau mengutip hadits riwayat Imam Al-Baihaqi:
 
Nabi ﷺ melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi.
 
Padahal kakek beliau, Abdul Muthalib, sudah melakukan aqiqah (hari ke 7) saat beliau lahir. Dalam fikih, aqiqah tidak diulang dua kali. Maka tindakan beliau ini dipahami sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah mengutus beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam (nabi muhammad)
 
 
 
Peringatan Maulid bukanlah hal yang tanpa dasar. Tiga ulama hadits terbesar yang penguasaan ilmu diakui seluruh umat telah memberikan landasan dan dalilnya. Semoga semakin menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ

ENGLISH

FACTS ABOUT MAWLID FROM THREE GREAT SCHOLARS TITLED AL-HAFIDZ
 
Al-Hafidz is the highest honorary title for a hadith scholar who has memorized at least 100,000 hadiths, complete with their chains of narration (sanad) and text (matan). The requirements are extremely rigorous, so this title is exceptionally rare never granted to just anyone. Even in earlier eras, the number of scholars worthy of it could be counted on one’s fingers.
 
Below are the evidences for celebrating Mawlid, cited from three eminent scholars who bore the title Al-Hafidz:
 
 
 
📜 Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani
 
He authored Fathul Bari, the most renowned commentary on Sahih Al-Bukhari, and was the teacher of Shaykhul Islam Zakariya Al-Anshari. He presented a hadith recorded by Imams Al-Bukhari and Muslim as evidence for Mawlid:
 
When the Prophet ﷺ arrived in Madinah, he found the Jews fasting on the day of Ashura. When he asked them why, they replied: "This is the day Allah drowned Pharaoh and saved Moses, so we fast on it to give thanks to Allah."
 
Shaykh Ibn Hajar then explained:
 
This hadith shows it is permissible to give thanks to Allah for blessings granted on a specific day, and to repeat that observance every year. And no blessing is greater than the birth of Prophet Muhammad ﷺ, the Messenger of Mercy. Therefore, it is only right that his birth be commemorated each year on the same occasion, just as the Jews marked the salvation of Moses on Ashura.
 
 
 
📜 Al-Hafidz Syamsuddin Ad-Dimasyqi
 
A contemporary of Ibn Hajar, both studied under Al-Iraqi, Ibn Mulaqqin, and Al-Bulqini. Imam Al-Maqrizi praised him as the undisputed leading hadith authority of the Levant, saying no one matched his stature in the region after his passing. He stated:
 
It is authentically reported that the punishment of Abu Lahab in the Hellfire is lightened every Monday, because he freed his slave Thuwaybah out of joy at the birth of Prophet Muhammad ﷺ.
 
He then composed these meaningful verses:
 
If even a disbeliever condemned and destined to abide in Hell receives relief from punishment each Monday simply for rejoicing at the Prophet’s birth, imagine the immense mercy awaiting the servant who loves the Prophet his entire life and dies in faith!
 
 
 
📜 Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi
 
Writer of over 500 works known across the entire Muslim world. He cited a hadith narrated by Imam Al-Baihaqi:
 
The Prophet ﷺ performed an 'aqiqah for himself after he was commissioned as a Prophet.
 
Yet his grandfather Abdul Muthalib had already performed his 'aqiqah on the seventh day after his birth. In Islamic jurisprudence, 'aqiqah is not repeated twice. Thus, this act is understood as a form of gratitude to Allah for sending him as mercy to all creation.
 
 
 
Commemorating the Mawlid is not an unfounded practice. Three of the greatest hadith masters whose scholarly mastery is universally acknowledged have established its basis and proof. May this strengthen our faith and deepen our love for the Messenger of Allah ﷺ

DALIL

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا: هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى
Saat Nabi Saw. tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab: 'Ini adalah hari saat Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah'

When the Prophet ﷺ arrived in Madinah, he found the Jews fasting on the day of Ashura. Upon asking the reason, they replied: 'This is the day Allah drowned Pharaoh and saved Moses, so we fast here to give thanks to Allah

فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إِسْدَاءِ نِعْمَةٍ أَوْ دَفْعِ نِقْمَةٍ، وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ. وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ؟ وَعَلَى هَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يُتَحَرَّى الْيَوْمُ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ
Hadis ini menunjukkan bolehnya bersyukur kepada Allah atas nikmat atau keselamatan yang diberikan pada hari tertentu, lalu momen tersebut diulang setiap tahun. Tentu, tidak ada nikmat yang lebih agung daripada kelahiran Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Rahmat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya momen kelahiran beliau diperingati pada hari yang sama agar serupa dengan kisah Nabi Musa pada hari Asyura

This hadith shows that it is permissible to give thanks to Allah for blessings or deliverance granted on a specific day, and to repeat that observance each year. Surely, no blessing is greater than the birth of Prophet Muhammad, the Messenger of Mercy. Therefore, it is only fitting that his birth be commemorated on the same day, following the same principle as the observance of Prophet Moses on the day of Ashura

طَلَبَ الْحَدِيثَ، فَصَارَ حَافِظَ بِلَادِ الشَّامِ مِنْ غَيْرِ مُنَازِعٍ، وَصَنَّفَ عِدَّةَ مُصَنَّفَاتٍ، وَلَمْ يُخَلِّفْ فِي الشَّامِ بَعْدَهُ مِثْلَهُ
Beliau (Syekh Syamsuddin) menuntut ilmu hadits hingga menjadi ahli hadits (hafidz) wilayah Syam yang tak tertandingi. Beliau menulis banyak kitab, dan tidak ada yang mampu menggantikan kehebatannya di Syam setelah beliau wafat

He (Shaykh Syamsuddin) pursued the study of hadith until he became the undisputed master of hadith (hafidz) in the Levant. He authored numerous works, and no one was able to match his stature or fill his place in the region after his passing

قَدْ صَحَّ أَنَّ أَبَا لَهَبٍ يُخَفَّفُ عَنْهُ عَذَابُ النَّارِ فِي مِثْلِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِإِعْتَاقِهِ ثُوَيْبَةَ سُرُورًا بِمِيلَادِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa siksa neraka Abu Lahab diringankan setiap hari Senin. Hal ini karena ia pernah memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah karena saking gembiranya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW

There is an authentic narration stating that the punishment of Abu Lahab in the Hellfire is lightened every Monday. This is because he once freed his slave Thuwaybah out of immense joy upon the birth of Prophet Muhammad ﷺ

إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ ۞ وَتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيمِ مُخَلَّدَا
أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ دَائِمًا ۞ يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَا
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي طُولَ عُمْرِهِ ۞ بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا 

Jika orang kafir ini saja yang jelas² dicela dan binasa di neraka selamanya bisa mendapat keringanan azab setiap hari Senin karena pernah gembira atas kelahiran Nabi Muhammad, maka bayangkan betapa besarnya rahmat yang akan diterima oleh seorang hamba yang sepanjang hidupnya selalu gembira dengan Nabi Muhammad dan mati dalam keadaan beriman

If even this disbeliever who is clearly condemned and destined to remain in Hell forever receives relief from punishment every Monday simply because he rejoiced at the birth of Prophet Muhammad, then imagine the immense mercy that awaits the servant who delights in the Prophet throughout his life and dies in a state of faith

أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ
Sungguh Nabi Saw. melakukan 'aqiqah untuk dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi

Indeed, the Prophet ﷺ performed an 'aqiqah for himself after he was appointed as a Prophet

Senin, 24 Agustus 2026




KEMULIAAN NASAB KANJENG NABI MUHAMMAD ﷺ

 
Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nur Adh-Dholam halaman 111, setiap orang yang sudah baligh dan berakal (bukan orang gila/anak kecil) wajib mengetahui nasab Rasulullah ﷺ: dari jalur ayah hingga sampai ke Sayyid Adnan, dan dari jalur ibu hingga sampai ke Kilab. Sebab, garis nasab ayah dan ibu beliau bersatu pada Sayyid Kilab hingga ke Sayyid Adnan.
 
Berikut nasab beliau dari jalur ayah:
Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (nama asli Syaibah) bin Hasyim (Amr) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab (Muhaddzab) bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nazar bin Ma'ad bin Adnan.
 
Sedangkan dari jalur ibu, nasab beliau adalah:
Nabi Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.
Dari sinilah pertemuan dua garis nasab ayah dan ibu beliau sama-sama bertemu di Kilab.
 
Menurut Imam Abu Hatim, tidak ada perselisihan di kalangan ulama mengenai kebenaran nasab beliau hingga sampai ke Sayyid Adnan. Namun, untuk garis nasab dari Sayyid Adnan ke Nabi Ibrahim, terdapat banyak perbedaan riwayat. Bahkan Imam Malik pun menolak pendapat yang memanjangkan (pendapat. Kehati harian karena belum jelas siapa nama2 nya/mengatakan zina malah dosa besar) nasab beliau hingga langsung ke Nabi Adam a.s.
 
Nasab Rasulullah ﷺ sungguhlah nasab yang sangat mulia dari deretan orang-orang mulia. Dalam kitab Ad-Dur Al-Ma'tsur juz 4 halaman 327, Imam As-Suyuti mengutip dua hadits mulia:
 
Pertama, riwayat Imam Ibnu Sa'ad dan Imam Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas r.a.:
 
Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku lahir beruntun dari Nabi Adam melalui pernikahan yang sah, sekalipun tidak pernah ada yang lahir dari perbuatan zina."
 
Kedua, riwayat Imam Ibnu Mardawih dari Sahabat Anas r.a.:
 
Ketika Rasulullah ﷺ membaca ayat "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari golongan kalian", Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya: "Wahai Rasulullah, apa makna 'dari golongan kalian' itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Aku adalah yang paling utama di antara kalian dari segi nasab, hubungan keluarga, dan kemuliaan. Aku dan semua leluhurku sejak Nabi Adam tidak pernah lahir dari zina, semuanya lahir dari pernikahan yang sah."
 
Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Sayyid Muhammad ﷺ, keluarga, serta para sahabatnya

ENGLISH 

THE NOBLE LINEAGE OF THE PROPHET MUHAMMAD ﷺ
 
According to Shaykh Nawawi Al-Bantani in his book Nur Adh-Dholam (page 111), every person who has reached the age of maturity and sound mind is obliged to know the lineage of the Prophet ﷺ: tracing his paternal line up to Sayyid Adnan, and his maternal line up to Kilab. This is because both his paternal and maternal ancestries converge at Sayyid Kilab and continue onward to Sayyid Adnan.
 
His lineage through his father is as follows:
Prophet Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (born Syaibah) bin Hasyim (Amr) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab (Muhaddzab) bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nazar bin Ma'ad bin Adnan.
 
Through his mother, his lineage is:
Prophet Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.
This is the exact point where his two ancestral lines meet.
 
According to Imam Abu Hatim, there is no disagreement among scholars regarding the authenticity of his lineage up to Sayyid Adnan. However, there are differing narrations for the line extending from Sayyid Adnan back to Prophet Ibrahim a.s. In fact, Imam Malik discouraged extending the lineage further directly to Prophet Adam a.s., exercising caution as those names are not clearly established, and incorrect claims carry grave spiritual risk.
 
The lineage of the Prophet ﷺ is truly noble, descending through generations of honorable people. In Ad-Dur Al-Ma'tsur (vol. 4, p. 327), Imam As-Suyuti records two blessed hadiths:
 
First, narrated by Imam Ibnu Sa'ad and Imam Ibnu Asakir, from Ibnu Abbas r.a.:
 
The Prophet ﷺ said: "I have come down in unbroken succession from Prophet Adam through lawful marriage never was any ancestor of mine born from unlawful relations."
 
Second, narrated by Imam Ibnu Mardawih, from Companion Anas r.a.:
 
When the Prophet ﷺ recited the verse "Indeed, a Messenger has come to you from among yourselves," Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. asked: "O Messenger of Allah, what does 'from among yourselves' mean?"
The Prophet ﷺ replied: "I am the most distinguished of you in lineage, kinship, and honor. From Prophet Adam onward, neither I nor any of my forefathers were ever born from sin every birth was from a lawful marriage."
 
May Allah send abundant peace and blessings upon our master, Prophet Muhammad ﷺ, his family, and all his companions

WAJIB MENGETAHUI NASAB RASULULLAH




KEMULIAAN NASAB KANJENG NABI MUHAMMAD ﷺ

 
Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nur Adh-Dholam halaman 111, setiap orang yang sudah baligh dan berakal (bukan orang gila/anak kecil) wajib mengetahui nasab Rasulullah ﷺ: dari jalur ayah hingga sampai ke Sayyid Adnan, dan dari jalur ibu hingga sampai ke Kilab. Sebab, garis nasab ayah dan ibu beliau bersatu pada Sayyid Kilab hingga ke Sayyid Adnan.
 
Berikut nasab beliau dari jalur ayah:
Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (nama asli Syaibah) bin Hasyim (Amr) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab (Muhaddzab) bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nazar bin Ma'ad bin Adnan.
 
Sedangkan dari jalur ibu, nasab beliau adalah:
Nabi Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.
Dari sinilah pertemuan dua garis nasab ayah dan ibu beliau sama-sama bertemu di Kilab.
 
Menurut Imam Abu Hatim, tidak ada perselisihan di kalangan ulama mengenai kebenaran nasab beliau hingga sampai ke Sayyid Adnan. Namun, untuk garis nasab dari Sayyid Adnan ke Nabi Ibrahim, terdapat banyak perbedaan riwayat. Bahkan Imam Malik pun menolak pendapat yang memanjangkan (pendapat. Kehati harian karena belum jelas siapa nama2 nya/mengatakan zina malah dosa besar) nasab beliau hingga langsung ke Nabi Adam a.s.
 
Nasab Rasulullah ﷺ sungguhlah nasab yang sangat mulia dari deretan orang-orang mulia. Dalam kitab Ad-Dur Al-Ma'tsur juz 4 halaman 327, Imam As-Suyuti mengutip dua hadits mulia:
 
Pertama, riwayat Imam Ibnu Sa'ad dan Imam Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas r.a.:
 
Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku lahir beruntun dari Nabi Adam melalui pernikahan yang sah, sekalipun tidak pernah ada yang lahir dari perbuatan zina."
 
Kedua, riwayat Imam Ibnu Mardawih dari Sahabat Anas r.a.:
 
Ketika Rasulullah ﷺ membaca ayat "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari golongan kalian", Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya: "Wahai Rasulullah, apa makna 'dari golongan kalian' itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Aku adalah yang paling utama di antara kalian dari segi nasab, hubungan keluarga, dan kemuliaan. Aku dan semua leluhurku sejak Nabi Adam tidak pernah lahir dari zina, semuanya lahir dari pernikahan yang sah."
 
Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Sayyid Muhammad ﷺ, keluarga, serta para sahabatnya

ENGLISH 

THE NOBLE LINEAGE OF THE PROPHET MUHAMMAD ﷺ
 
According to Shaykh Nawawi Al-Bantani in his book Nur Adh-Dholam (page 111), every person who has reached the age of maturity and sound mind is obliged to know the lineage of the Prophet ﷺ: tracing his paternal line up to Sayyid Adnan, and his maternal line up to Kilab. This is because both his paternal and maternal ancestries converge at Sayyid Kilab and continue onward to Sayyid Adnan.
 
His lineage through his father is as follows:
Prophet Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (born Syaibah) bin Hasyim (Amr) bin Abdi Manaf (Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab (Muhaddzab) bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nazar bin Ma'ad bin Adnan.
 
Through his mother, his lineage is:
Prophet Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.
This is the exact point where his two ancestral lines meet.
 
According to Imam Abu Hatim, there is no disagreement among scholars regarding the authenticity of his lineage up to Sayyid Adnan. However, there are differing narrations for the line extending from Sayyid Adnan back to Prophet Ibrahim a.s. In fact, Imam Malik discouraged extending the lineage further directly to Prophet Adam a.s., exercising caution as those names are not clearly established, and incorrect claims carry grave spiritual risk.
 
The lineage of the Prophet ﷺ is truly noble, descending through generations of honorable people. In Ad-Dur Al-Ma'tsur (vol. 4, p. 327), Imam As-Suyuti records two blessed hadiths:
 
First, narrated by Imam Ibnu Sa'ad and Imam Ibnu Asakir, from Ibnu Abbas r.a.:
 
The Prophet ﷺ said: "I have come down in unbroken succession from Prophet Adam through lawful marriage never was any ancestor of mine born from unlawful relations."
 
Second, narrated by Imam Ibnu Mardawih, from Companion Anas r.a.:
 
When the Prophet ﷺ recited the verse "Indeed, a Messenger has come to you from among yourselves," Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. asked: "O Messenger of Allah, what does 'from among yourselves' mean?"
The Prophet ﷺ replied: "I am the most distinguished of you in lineage, kinship, and honor. From Prophet Adam onward, neither I nor any of my forefathers were ever born from sin every birth was from a lawful marriage."
 
May Allah send abundant peace and blessings upon our master, Prophet Muhammad ﷺ, his family, and all his companions

Minggu, 16 Agustus 2026


KISAH PEMUDA MENJADI WALI KARENA SERING MERAYAKAN MAULID NABI
 
Diceritakan dalam kitab I'anatuth Tholibin juz 3 halaman 365, pada masa kekhalifahan Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid, hiduplah seorang pemuda di kota Basrah (sebuah provinsi kuno di irak). Sehari-hari kelakuannya kurang baik, sehingga penduduk kota memandangnya dengan pandangan merendahkan.
 
Namun, ada satu hal yang selalu ia lakukan dengan sungguh-sungguh: setiap kali bulan Rabi'ul Awwal tiba, ia akan mencuci pakaiannya hingga bersih, memakai wewangian, berhias diri, lalu mengadakan acara dan mengundang orang untuk membacakan maulid nabi ﷺ. Kebiasaan mulia ini ia jalani bertahun-tahun lamanya.
 
Ketika waktu kematiannya tiba, penduduk Basrah mendengar suara gaib yang berseru:
"Wahai penduduk Basrah, hadirilah jenazah orang ini dan saksikanlah! Ia adalah seorang wali di antara para wali Allah, dan kedudukannya sangat mulia di sisi-Ku."
 
Maka seluruh penduduk pun menghadiri pemakamannya dengan penuh hormat.
 
Tak lama kemudian, ada orang yang memimpikan pemuda itu dalam keadaan mengenakan pakaian sutra sundus dan gagah. Ia pun ditanya: "Dengan amalan apa engkau memperoleh kemuliaan sebesar ini?"
 
Pemuda itu menjawab tenang:
"Berkat sikapku yang selalu mengagungkan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ."
 
 
 
📖 Sumber: Kitab I'anatuth Tholibin, Juz 3, Halaman 365

ENGLISH

THE STORY OF A YOUNG MAN WHO BECAME A WALI FOR HONOURING THE MAWLID
 
It is narrated in the book I'anatuth Tholibin, Volume 3, page 365, that during the caliphate of Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid, there lived a young man in the city of Basrah (an ancient region in Iraq). He led a life of misconduct, so the people of the city looked down upon him with disdain.
 
Yet there was one thing he always did with utmost devotion: whenever the month of Rabi'ul Awwal arrived, he would wash his clothes until they were clean, apply fragrance, adorn himself, then hold a gathering and invite others to recite the Mawlid of the Prophet ﷺ. This noble practice he kept up for many long years.
 
When his time of death came, the people of Basrah heard a mysterious voice calling out:
"O people of Basrah, come and witness the funeral of this man! He is one of the saints of Allah, and he holds a most honourable station near Me."
 
So all the townsfolk attended his burial with great respect.
 
Not long after, someone saw the young man in a dream, robed in splendid silk garments of Paradise. He was asked: "By what deed did you attain such great honour?"
 
The young man replied calmly:
"By my constant reverence for the commemoration of the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ."
 
 
 
📖 Source: Kitab I'anatuth Tholibin, Volume 3, Page 365

DALIL

وَحُكِيَ أَنَّهُ كَانَ فِيْ زَمَانِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ هَارُوْنَ الرَّشِيْدِ شَابٌّ فِي الْبَصْرَةِ مُسْرِفٌ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ أَهْلُ الْبَلَدِ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ التَّحْقِيْرِ لِأَجْلِ أَفْعَالِهِ الْخَبِيْثَةِ غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ شَهْرُ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ غَسَلَ ثِيَابَهُ وَتَعَطَّرَ وَتَجَمَّلَ وَعَمِلَ وَلِيْمَةً وَاسْتَقْرَأَ فِيْهَا مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَامَ عَلَى هَذَا الْحَالِ زَمَانًا طَوِيْلًا ثُمَّ لَمَّا مَاتَ سَمِعَ أَهْلُ الْبَلَدِ هَاتِفًا يَقُوْلُ اُحْضُرُوْا يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ وَاشْهَدُوْا جَنَازَةَ وَلِيٍّ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ فَإِنَّهُ عَزِيْزٌ عِنْدِيْ فَحَضَرَ أَهْلُ الْبَلَدِ جَنَازَتَهُ وَدَفَنُوْهُ فَرَأَوْهُ فِي الْمَنَامِ وَهُوَ يَرْفُلُ فِيْ حُلَلِ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ فَقِيْلَ لَهُ بِمَ نِلْتَ هَذِهِ الْفَضِيْلَةَ قَالَ بِتَعْظِيْمِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Diceritakan pada zaman Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid ada seorang pemuda di kota Basrah. Ia berbuat tidak bagus, hingga penduduk negerinya menatapnya dengan pandangan rendah atas kelakuannya, tetapi ketika tiba bulan Rabiul Awal ia mencuci bajunya, memakai wewangian, berhias diri, mengadakan acara pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw. Dan hal itu dilakukan setiap masuk bulan Rabiul Awal selama bertahun-tahun.

Ketika kemat!ian menjemput pemuda itu, penduduk kota Basrah mendengar suara tanpa rupa berkata: 
“Wahai penduduk Basrah, hadirilah dan saksikanlah jenaz4h wali diantara wali-walinya Allah, karena dia adalah orang yang mulia menurutku”.

Penduduk kotapun menghadiri jenaz4hnya dan menguburnya dengan baik.
Kemudian mereka bermimpi bertemu dengan pemuda itu, ia sangat gagah memakai sutra sundus, lalu ia ditanya: "Dengan apa kau mendapat kehormatan ini ?”
 ia menjawab:
“Berkat mengagungkan maulid Nabi Muhammad Saw."

It is narrated that during the era of Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid, there lived a young man in the city of Basrah. He used to commit misdeeds, so the people of his land looked down on him because of his behaviour. Yet whenever the month of Rabi'ul Awwal arrived, he would wash his clothes, apply fragrance, adorn himself, and hold a gathering for the recitation of the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ. He kept doing this faithfully every Rabi'ul Awwal for many years.
 
When his death came, the people of Basrah heard an unseen voice proclaim:
"O people of Basrah, come and witness the funeral of a wali from among the saints of Allah, for he is greatly honoured in My sight."
 
So the townspeople attended his funeral and buried him with respect. Later, they saw him in a dream, appearing noble and splendid, robed in fine silk. When he was asked: "By what means have you attained this honour?"
He replied:
"Through my reverence for the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ"

KISAH PEMUDA MENJADI WALI BERKAT MERAYAKAN MAULID NABI


KISAH PEMUDA MENJADI WALI KARENA SERING MERAYAKAN MAULID NABI
 
Diceritakan dalam kitab I'anatuth Tholibin juz 3 halaman 365, pada masa kekhalifahan Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid, hiduplah seorang pemuda di kota Basrah (sebuah provinsi kuno di irak). Sehari-hari kelakuannya kurang baik, sehingga penduduk kota memandangnya dengan pandangan merendahkan.
 
Namun, ada satu hal yang selalu ia lakukan dengan sungguh-sungguh: setiap kali bulan Rabi'ul Awwal tiba, ia akan mencuci pakaiannya hingga bersih, memakai wewangian, berhias diri, lalu mengadakan acara dan mengundang orang untuk membacakan maulid nabi ﷺ. Kebiasaan mulia ini ia jalani bertahun-tahun lamanya.
 
Ketika waktu kematiannya tiba, penduduk Basrah mendengar suara gaib yang berseru:
"Wahai penduduk Basrah, hadirilah jenazah orang ini dan saksikanlah! Ia adalah seorang wali di antara para wali Allah, dan kedudukannya sangat mulia di sisi-Ku."
 
Maka seluruh penduduk pun menghadiri pemakamannya dengan penuh hormat.
 
Tak lama kemudian, ada orang yang memimpikan pemuda itu dalam keadaan mengenakan pakaian sutra sundus dan gagah. Ia pun ditanya: "Dengan amalan apa engkau memperoleh kemuliaan sebesar ini?"
 
Pemuda itu menjawab tenang:
"Berkat sikapku yang selalu mengagungkan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ."
 
 
 
📖 Sumber: Kitab I'anatuth Tholibin, Juz 3, Halaman 365

ENGLISH

THE STORY OF A YOUNG MAN WHO BECAME A WALI FOR HONOURING THE MAWLID
 
It is narrated in the book I'anatuth Tholibin, Volume 3, page 365, that during the caliphate of Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid, there lived a young man in the city of Basrah (an ancient region in Iraq). He led a life of misconduct, so the people of the city looked down upon him with disdain.
 
Yet there was one thing he always did with utmost devotion: whenever the month of Rabi'ul Awwal arrived, he would wash his clothes until they were clean, apply fragrance, adorn himself, then hold a gathering and invite others to recite the Mawlid of the Prophet ﷺ. This noble practice he kept up for many long years.
 
When his time of death came, the people of Basrah heard a mysterious voice calling out:
"O people of Basrah, come and witness the funeral of this man! He is one of the saints of Allah, and he holds a most honourable station near Me."
 
So all the townsfolk attended his burial with great respect.
 
Not long after, someone saw the young man in a dream, robed in splendid silk garments of Paradise. He was asked: "By what deed did you attain such great honour?"
 
The young man replied calmly:
"By my constant reverence for the commemoration of the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ."
 
 
 
📖 Source: Kitab I'anatuth Tholibin, Volume 3, Page 365

DALIL

وَحُكِيَ أَنَّهُ كَانَ فِيْ زَمَانِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ هَارُوْنَ الرَّشِيْدِ شَابٌّ فِي الْبَصْرَةِ مُسْرِفٌ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ أَهْلُ الْبَلَدِ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ التَّحْقِيْرِ لِأَجْلِ أَفْعَالِهِ الْخَبِيْثَةِ غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ شَهْرُ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ غَسَلَ ثِيَابَهُ وَتَعَطَّرَ وَتَجَمَّلَ وَعَمِلَ وَلِيْمَةً وَاسْتَقْرَأَ فِيْهَا مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَامَ عَلَى هَذَا الْحَالِ زَمَانًا طَوِيْلًا ثُمَّ لَمَّا مَاتَ سَمِعَ أَهْلُ الْبَلَدِ هَاتِفًا يَقُوْلُ اُحْضُرُوْا يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ وَاشْهَدُوْا جَنَازَةَ وَلِيٍّ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ فَإِنَّهُ عَزِيْزٌ عِنْدِيْ فَحَضَرَ أَهْلُ الْبَلَدِ جَنَازَتَهُ وَدَفَنُوْهُ فَرَأَوْهُ فِي الْمَنَامِ وَهُوَ يَرْفُلُ فِيْ حُلَلِ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ فَقِيْلَ لَهُ بِمَ نِلْتَ هَذِهِ الْفَضِيْلَةَ قَالَ بِتَعْظِيْمِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Diceritakan pada zaman Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid ada seorang pemuda di kota Basrah. Ia berbuat tidak bagus, hingga penduduk negerinya menatapnya dengan pandangan rendah atas kelakuannya, tetapi ketika tiba bulan Rabiul Awal ia mencuci bajunya, memakai wewangian, berhias diri, mengadakan acara pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw. Dan hal itu dilakukan setiap masuk bulan Rabiul Awal selama bertahun-tahun.

Ketika kemat!ian menjemput pemuda itu, penduduk kota Basrah mendengar suara tanpa rupa berkata: 
“Wahai penduduk Basrah, hadirilah dan saksikanlah jenaz4h wali diantara wali-walinya Allah, karena dia adalah orang yang mulia menurutku”.

Penduduk kotapun menghadiri jenaz4hnya dan menguburnya dengan baik.
Kemudian mereka bermimpi bertemu dengan pemuda itu, ia sangat gagah memakai sutra sundus, lalu ia ditanya: "Dengan apa kau mendapat kehormatan ini ?”
 ia menjawab:
“Berkat mengagungkan maulid Nabi Muhammad Saw."

It is narrated that during the era of Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid, there lived a young man in the city of Basrah. He used to commit misdeeds, so the people of his land looked down on him because of his behaviour. Yet whenever the month of Rabi'ul Awwal arrived, he would wash his clothes, apply fragrance, adorn himself, and hold a gathering for the recitation of the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ. He kept doing this faithfully every Rabi'ul Awwal for many years.
 
When his death came, the people of Basrah heard an unseen voice proclaim:
"O people of Basrah, come and witness the funeral of a wali from among the saints of Allah, for he is greatly honoured in My sight."
 
So the townspeople attended his funeral and buried him with respect. Later, they saw him in a dream, appearing noble and splendid, robed in fine silk. When he was asked: "By what means have you attained this honour?"
He replied:
"Through my reverence for the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ"

Sabtu, 15 Agustus 2026


KENAPA SHALAWAT PASTI DITERIMA?
 
Berbagai macam amal ibadah yang kita lakukan bisa saja diterima oleh Allah Ta'ala, namun bisa pula tertolak. Namun satu amal memiliki keistimewaan luar biasa: membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ senantiasa pasti diterima.
 
Sebagian ulama ahli makrifat menjelaskan dalam syair mereka:
 
"Sesungguhnya bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak membutuhkan bimbingan guru khusus, dan tidak pula harus dibaca dengan kekhususan hati yang sempurna."
 
Bahkan lebih dari itu, pahala shalawat tidak akan gugur meskipun terselip sifat riya atau keinginan dipuji orang lain (misal sok alim). Mengapa hal ini bisa terjadi?
 
Karena inti dari shalawat adalah menghadirkan kegembiraan bagi Baginda Nabi Al-Musthafa ﷺ.
 
Siapa pun yang bershalawat kepadanya, niscaya hati beliau akan merasa gembira. Dan pahala yang didapat karena telah membahagiakan Rasulullah ﷺ adalah kemuliaan yang tidak tertandingi
 
Hal ini bisa kita ambil perumpamaannya dari sedekah, yang memiliki dua sisi pahala:
 
1. Pahala hakikat sedekah itu sendiri, yang baru sempurna jika disertai niat yang murni dan ikhlas.
2. Pahala membahagiakan hati saudara kita, yang tetap didapatkan meskipun ada hal lain yang menyertainya.
 
Meski ada kekurangan dalam keikhlasan kita terpaksa dll, satu hal yang pasti: bacaan kita pasti sampai kepada beliau dan menyenangkan hatinya

Kesimpulannya: Membaca shalawat senantiasa membawa pahala, dalam keadaan apa pun. Karena shalawat adalah ungkapan kasih sayang yang menyentuh hati Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.
 
 
 
📖 Sumber: Kitab Al-Manhaju Sawi, halaman 714

ENGLISH

WHY IS SHALAWAT ALWAYS ACCEPTED?
 
Most acts of worship we perform may be accepted by Allah Ta'ala, or they may be rejected. Yet there is one practice with an extraordinary privilege: reciting shalawat upon the Prophet Muhammad ﷺ is always, without exception, accepted.
 
Some scholars of spiritual knowledge explain:
 
"Verily, sending shalawat upon the Prophet Muhammad ﷺ needs no teacher’s guidance, nor does it require perfect focus and humility of heart."
 
Even more remarkably, the reward for shalawat is not invalidated even if mixed with riya — the desire to be praised by others, such as wanting to appear overly pious. Why is this so?
 
Because the very essence of shalawat is bringing joy to the Chosen One, our Master Prophet Al-Musthafa ﷺ.
 
Whoever sends shalawat to him will surely gladden his heart. And the reward for bringing happiness to the Messenger of Allah ﷺ is a distinction that nothing else can match.
 
We can understand this through the example of charity, which carries two kinds of reward:
 
1. The reward of the charity itself, which is complete only when rooted in pure, sincere intention.
2. The reward of bringing joy to your brother or sister, which remains yours even if other motives are present.
 
So too with shalawat: no matter any shortcomings in your sincerity, or even if you recite it reluctantly, one thing is certain — your words reach him, and they delight his heart.
 
In short: Reciting shalawat always brings reward, in every condition. For it is an expression of love that touches the very heart of our Master Prophet Muhammad ﷺ.
 
📖 Source: Kitab Al-Manhaju Sawi, page 714

DALIL 

إِنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ مَا تَحْتَاجُ إِلَى شَيْخٍ وَلَا حُضُورٍ،
Sesungguhnya bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak membutuhkan bimbingan guru dan tidak membutuhkan kekhusuk-an saat membacanya.

Verily, sending blessings upon the Prophet Muhammad ﷺ requires no teacher’s guidance, nor does it demand perfect humility or full concentration while reciting it

لِسُرُورِ الْمُصْطَفَى
Krn shalawat itu menggembirakan baginda Nabi yang terpilih (Al-Musthafa)

For shalawat brings joy to the Chosen Prophet, Al-Musthafa ﷺ

SHOLAWAT AUTO DI TERIMA LHO


KENAPA SHALAWAT PASTI DITERIMA?
 
Berbagai macam amal ibadah yang kita lakukan bisa saja diterima oleh Allah Ta'ala, namun bisa pula tertolak. Namun satu amal memiliki keistimewaan luar biasa: membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ senantiasa pasti diterima.
 
Sebagian ulama ahli makrifat menjelaskan dalam syair mereka:
 
"Sesungguhnya bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak membutuhkan bimbingan guru khusus, dan tidak pula harus dibaca dengan kekhususan hati yang sempurna."
 
Bahkan lebih dari itu, pahala shalawat tidak akan gugur meskipun terselip sifat riya atau keinginan dipuji orang lain (misal sok alim). Mengapa hal ini bisa terjadi?
 
Karena inti dari shalawat adalah menghadirkan kegembiraan bagi Baginda Nabi Al-Musthafa ﷺ.
 
Siapa pun yang bershalawat kepadanya, niscaya hati beliau akan merasa gembira. Dan pahala yang didapat karena telah membahagiakan Rasulullah ﷺ adalah kemuliaan yang tidak tertandingi
 
Hal ini bisa kita ambil perumpamaannya dari sedekah, yang memiliki dua sisi pahala:
 
1. Pahala hakikat sedekah itu sendiri, yang baru sempurna jika disertai niat yang murni dan ikhlas.
2. Pahala membahagiakan hati saudara kita, yang tetap didapatkan meskipun ada hal lain yang menyertainya.
 
Meski ada kekurangan dalam keikhlasan kita terpaksa dll, satu hal yang pasti: bacaan kita pasti sampai kepada beliau dan menyenangkan hatinya

Kesimpulannya: Membaca shalawat senantiasa membawa pahala, dalam keadaan apa pun. Karena shalawat adalah ungkapan kasih sayang yang menyentuh hati Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.
 
 
 
📖 Sumber: Kitab Al-Manhaju Sawi, halaman 714

ENGLISH

WHY IS SHALAWAT ALWAYS ACCEPTED?
 
Most acts of worship we perform may be accepted by Allah Ta'ala, or they may be rejected. Yet there is one practice with an extraordinary privilege: reciting shalawat upon the Prophet Muhammad ﷺ is always, without exception, accepted.
 
Some scholars of spiritual knowledge explain:
 
"Verily, sending shalawat upon the Prophet Muhammad ﷺ needs no teacher’s guidance, nor does it require perfect focus and humility of heart."
 
Even more remarkably, the reward for shalawat is not invalidated even if mixed with riya — the desire to be praised by others, such as wanting to appear overly pious. Why is this so?
 
Because the very essence of shalawat is bringing joy to the Chosen One, our Master Prophet Al-Musthafa ﷺ.
 
Whoever sends shalawat to him will surely gladden his heart. And the reward for bringing happiness to the Messenger of Allah ﷺ is a distinction that nothing else can match.
 
We can understand this through the example of charity, which carries two kinds of reward:
 
1. The reward of the charity itself, which is complete only when rooted in pure, sincere intention.
2. The reward of bringing joy to your brother or sister, which remains yours even if other motives are present.
 
So too with shalawat: no matter any shortcomings in your sincerity, or even if you recite it reluctantly, one thing is certain — your words reach him, and they delight his heart.
 
In short: Reciting shalawat always brings reward, in every condition. For it is an expression of love that touches the very heart of our Master Prophet Muhammad ﷺ.
 
📖 Source: Kitab Al-Manhaju Sawi, page 714

DALIL 

إِنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ مَا تَحْتَاجُ إِلَى شَيْخٍ وَلَا حُضُورٍ،
Sesungguhnya bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak membutuhkan bimbingan guru dan tidak membutuhkan kekhusuk-an saat membacanya.

Verily, sending blessings upon the Prophet Muhammad ﷺ requires no teacher’s guidance, nor does it demand perfect humility or full concentration while reciting it

لِسُرُورِ الْمُصْطَفَى
Krn shalawat itu menggembirakan baginda Nabi yang terpilih (Al-Musthafa)

For shalawat brings joy to the Chosen Prophet, Al-Musthafa ﷺ

Jumat, 14 Agustus 2026


RAHASIA BERKAH UANG YANG DIBACAKAN MAULID NABI
 
Dalam kitab I'anatut Thalibin juz 3 halaman 364, tertulis sebuah kabar gembira yang penuh kebaikan:
 
"Barang siapa yang membacakan Maulid Rasulullah ﷺ (bacaan ciri khas maulid nabi. Cara nya taruh di depan pembaca. Bukan di pegang) di atas uang dirham (di zaman now asal uang yang bisa di tukar), baik yang terbuat dari perak maupun emas, lalu mencampurkan uang tersebut dengan harta lainnya (1 di taruh di dompet/brangkas), maka seluruh uang itu akan dilimpahi berkah (1 uang menular ke uang lain). Pemiliknya pun tidak akan jatuh miskin, dan rezeki di tangannya tidak akan pernah putus, berkat keberkahan Maulid Rasulullah ﷺ."

Sumber: i'anatut talibin

ENGLISH 

THE BLESSED SECRET OF MONEY OVER WHICH THE MAWLID IS RECITED
 
In the book I'anatut Thalibin, Volume 3, page 364, a most promising and gracious teaching is recorded:
 
"Whoever recites the Mawlid of the Messenger of Allah ﷺ the traditional account of his noble birth, placed before the reciter rather than held in hand over dirhams (in present terms, any currency of value), whether made of silver or gold, then mixes these coins with their other wealth (for example, placing one such piece in your wallet or safe), the blessing will spread from that piece to all the rest. The owner shall never fall into poverty, nor shall their provision ever run dry all through the grace of the Mawlid of the Messenger of Allah ﷺ."

Surch: i'anatut talibin book

DALIL 

ﻭﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻣﺴﻜﻮﻛﺔ ﻓﻀﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﺫﻫﺒﺎ ﻭﺧﻠﻂ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺪﺭﺍﻫﻢ ﻣﻊ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﺃﺧﺮ ﻭﻗﻌﺖ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﻻ ﻳﻔﺘﻘﺮ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﻭﻻ ﺗﻔﺮﻍ ﻳﺪﻩ ﺑﺒﺮﻛﺔ مولد الرسول صلى الله عليه وسلم

Barang siapa yang membacakan maulid Rasul shallalu alaihi wa sallama pada uang dirham, baik berupa perak atau pun emas, kemudian uang tersebut dicampurkan dengan uang yang lain, maka semua uang tersebut akan menjadi berkah, dan pemiliknya tidak akan fakir dan tidak akan putus uang di tangannya karena berkah maulid Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallama

Whoever recites the Mawlid of the Messenger of Allah ﷺ over dirhams of silver or gold, then mixes those coins with their other money, shall have all of it filled with blessing. Its owner will never fall into poverty, nor shall their wealth ever run out by the blessing of the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ

RAHASIA UANG JIKA DI BACAKAN SHOLAWAT MAULID NABI


RAHASIA BERKAH UANG YANG DIBACAKAN MAULID NABI
 
Dalam kitab I'anatut Thalibin juz 3 halaman 364, tertulis sebuah kabar gembira yang penuh kebaikan:
 
"Barang siapa yang membacakan Maulid Rasulullah ﷺ (bacaan ciri khas maulid nabi. Cara nya taruh di depan pembaca. Bukan di pegang) di atas uang dirham (di zaman now asal uang yang bisa di tukar), baik yang terbuat dari perak maupun emas, lalu mencampurkan uang tersebut dengan harta lainnya (1 di taruh di dompet/brangkas), maka seluruh uang itu akan dilimpahi berkah (1 uang menular ke uang lain). Pemiliknya pun tidak akan jatuh miskin, dan rezeki di tangannya tidak akan pernah putus, berkat keberkahan Maulid Rasulullah ﷺ."

Sumber: i'anatut talibin

ENGLISH 

THE BLESSED SECRET OF MONEY OVER WHICH THE MAWLID IS RECITED
 
In the book I'anatut Thalibin, Volume 3, page 364, a most promising and gracious teaching is recorded:
 
"Whoever recites the Mawlid of the Messenger of Allah ﷺ the traditional account of his noble birth, placed before the reciter rather than held in hand over dirhams (in present terms, any currency of value), whether made of silver or gold, then mixes these coins with their other wealth (for example, placing one such piece in your wallet or safe), the blessing will spread from that piece to all the rest. The owner shall never fall into poverty, nor shall their provision ever run dry all through the grace of the Mawlid of the Messenger of Allah ﷺ."

Surch: i'anatut talibin book

DALIL 

ﻭﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻣﺴﻜﻮﻛﺔ ﻓﻀﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﺫﻫﺒﺎ ﻭﺧﻠﻂ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺪﺭﺍﻫﻢ ﻣﻊ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﺃﺧﺮ ﻭﻗﻌﺖ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﻻ ﻳﻔﺘﻘﺮ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﻭﻻ ﺗﻔﺮﻍ ﻳﺪﻩ ﺑﺒﺮﻛﺔ مولد الرسول صلى الله عليه وسلم

Barang siapa yang membacakan maulid Rasul shallalu alaihi wa sallama pada uang dirham, baik berupa perak atau pun emas, kemudian uang tersebut dicampurkan dengan uang yang lain, maka semua uang tersebut akan menjadi berkah, dan pemiliknya tidak akan fakir dan tidak akan putus uang di tangannya karena berkah maulid Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallama

Whoever recites the Mawlid of the Messenger of Allah ﷺ over dirhams of silver or gold, then mixes those coins with their other money, shall have all of it filled with blessing. Its owner will never fall into poverty, nor shall their wealth ever run out by the blessing of the Mawlid of the Prophet Muhammad ﷺ

Kamis, 13 Agustus 2026


HUKUM LAKI-LAKI BERDANDAN MENYERUPAI PEREMPUAN SAAT KARNAVAL, BEGITU PULA SEBALIKNYA
 
Setiap menjelang dan saat perayaan 17 Agustus, suasana selalu terasa meriah dengan beragam kegiatan, perlombaan, dan hiburan. Namun di tengah kegembiraan itu, sering kita jumpai fenomena yang tak jarang terjadi, termasuk di lingkungan kampung saya sendiri: laki-laki yang mengenakan pakaian khas perempuan seperti daster, rok, atau busana lainnya, baik untuk keperluan karnaval, sekadar bercanda, bahkan saat bermain bola.
 
Banyak yang menganggap hal ini hanyalah candaan biasa demi hiburan semata. Namun, bagaimana sesungguhnya hukumnya jika dilihat dari pandangan syariat Islam?
 
Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai hal ini, sebagaimana tercantum dalam Musnad Imam Ahmad jilid 14, nomor 8309:
 
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.”
 
Para ulama juga telah menjelaskan batasan hal ini, salah satunya dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 463–464:
 
“Batasan tasyabbuh (penyerupaan) yang diharamkan baik laki-laki menyerupai perempuan maupun sebaliknya adalah ketika salah satu mengenakan sesuatu yang khusus dimiliki oleh jenis kalamin tertentu, atau sesuatu yang di lingkungan tersebut umumnya hanya dipakai oleh jenis klamin tertentu”
 
Sebagai contoh, jika laki-laki memakai rok, baju perempuan, bedak, lipstik, atau hal lain yang menjadi ciri khas penampilan perempuan, begitu pula sebaliknya, maka hal itu dilarang. Hal ini berlaku pula meskipun penampilan tersebut sengaja dibuat untuk bahan tertawaan atau hiburan semata.
 
Janganlah kita menjadikan alasan “hanya bercanda” sebagai pembenar atas segala perbuatan. Bercanda memang diperbolehkan dalam agama, namun tetap memiliki batasan-batasan yang telah ditetapkan.
 
Perayaan hari kemerdekaan boleh diisi dengan kegiatan yang menyenangkan dan halal. Namun jangan sampai, demi mencari tawa dan hiburan, kita justru melanggar larangan Allah.
 
Mari kita merayakan kemerdekaan dengan gembira tanpa harus mengorbankan aturan syariat. Meriah boleh, bercanda pun boleh, namun senantiasa jagalah batasnya.
 
Wallahu a'lam bishawab.
 
 
 
Referensi:
 
1. Musnad Ahmad, Jilid 14, No. 8309
2. Bughyatul Mustarsyidin, Hal. 463–464

ENGLISH

THE ISLAMIC RULING ON MEN DRESSING AS WOMEN DURING CARNIVALS, AND VICE VERSA
 
Every time August 17 approaches and arrives, the atmosphere is always filled with joy through various activities, competitions, and entertainment. Yet amidst this festivity, we often come across a common sight—including in my own neighborhood: men wearing typically feminine clothing such as house dresses, skirts, or other women’s garments, whether for carnival events, just for fun, or even while playing football.
 
Many view this as nothing more than harmless joking and entertainment. But what is the actual ruling on this according to Islamic Sharia?
 
The Prophet Muhammad ﷺ has given a stern warning regarding this matter, as recorded in Musnad Imam Ahmad, Volume 14, Hadith No. 8309:
 
“Verily, the Messenger of Allah ﷺ cursed men who wear women’s clothing, and women who wear men’s clothing.”
 
Scholars have also clarified the boundaries of this prohibition, including in the book Bughyatul Mustarsyidin, pages 463–464:
 
“The definition of forbidden tasyabbuh (imitation) whether men imitating women or women imitating men is when one adopts something that is exclusive to the other gender, or something that in that particular society is customarily worn only by the opposite gender.”
 
For instance, if a man wears a skirt, women’s tops, powder, lipstick, or anything else that is distinctly characteristic of a woman’s appearance—and vice versa this is prohibited. This applies even if such an appearance is deliberately made just to amuse others or for entertainment.
 
We must not use the excuse of “just joking” to justify any action. Joking is indeed permitted in Islam, but it must remain within set boundaries.
 
Independence Day celebrations may be filled with joyful, lawful activities. Yet we should not let the pursuit of laughter and entertainment lead us to violate Allah’s commands.
 
Let us celebrate our independence with joy without compromising the rules of Sharia. Festivity is allowed, joking is allowed but always keep within the limits.
 
Wallahu a'lam bishawab (Allah knows best).
 
 
 
References:
 
1. Musnad Ahmad, Volume 14, Hadith No. 8309
2. Bughyatul Mustarsyidin, Pages 463–464

DALIL

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.”

"Verily, the Messenger of Allah ﷺ cursed men who wear women’s clothing, and women who wear men’s clothing"

ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه..... هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.

Kurang lebih makananya: “Batasan tasyabbuh yang diharamkan antara laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki adalah ketika salah satu dari keduanya mengenakan sesuatu yang menjadi kekhususan bagi pihak lainnya, atau sesuatu yang pada tempat tersebut lebih dominan menjadi kekhususan pihak lainnya"

"In essence, it means: 'The boundary of forbidden tasyabbuh (imitation)—whether of men imitating women or women imitating men is when one adopts something that is exclusive to the other gender, or something that in that particular place is predominantly regarded as characteristic of the opposite gender"

MANZIL CARNAVAL


HUKUM LAKI-LAKI BERDANDAN MENYERUPAI PEREMPUAN SAAT KARNAVAL, BEGITU PULA SEBALIKNYA
 
Setiap menjelang dan saat perayaan 17 Agustus, suasana selalu terasa meriah dengan beragam kegiatan, perlombaan, dan hiburan. Namun di tengah kegembiraan itu, sering kita jumpai fenomena yang tak jarang terjadi, termasuk di lingkungan kampung saya sendiri: laki-laki yang mengenakan pakaian khas perempuan seperti daster, rok, atau busana lainnya, baik untuk keperluan karnaval, sekadar bercanda, bahkan saat bermain bola.
 
Banyak yang menganggap hal ini hanyalah candaan biasa demi hiburan semata. Namun, bagaimana sesungguhnya hukumnya jika dilihat dari pandangan syariat Islam?
 
Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai hal ini, sebagaimana tercantum dalam Musnad Imam Ahmad jilid 14, nomor 8309:
 
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.”
 
Para ulama juga telah menjelaskan batasan hal ini, salah satunya dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 463–464:
 
“Batasan tasyabbuh (penyerupaan) yang diharamkan baik laki-laki menyerupai perempuan maupun sebaliknya adalah ketika salah satu mengenakan sesuatu yang khusus dimiliki oleh jenis kalamin tertentu, atau sesuatu yang di lingkungan tersebut umumnya hanya dipakai oleh jenis klamin tertentu”
 
Sebagai contoh, jika laki-laki memakai rok, baju perempuan, bedak, lipstik, atau hal lain yang menjadi ciri khas penampilan perempuan, begitu pula sebaliknya, maka hal itu dilarang. Hal ini berlaku pula meskipun penampilan tersebut sengaja dibuat untuk bahan tertawaan atau hiburan semata.
 
Janganlah kita menjadikan alasan “hanya bercanda” sebagai pembenar atas segala perbuatan. Bercanda memang diperbolehkan dalam agama, namun tetap memiliki batasan-batasan yang telah ditetapkan.
 
Perayaan hari kemerdekaan boleh diisi dengan kegiatan yang menyenangkan dan halal. Namun jangan sampai, demi mencari tawa dan hiburan, kita justru melanggar larangan Allah.
 
Mari kita merayakan kemerdekaan dengan gembira tanpa harus mengorbankan aturan syariat. Meriah boleh, bercanda pun boleh, namun senantiasa jagalah batasnya.
 
Wallahu a'lam bishawab.
 
 
 
Referensi:
 
1. Musnad Ahmad, Jilid 14, No. 8309
2. Bughyatul Mustarsyidin, Hal. 463–464

ENGLISH

THE ISLAMIC RULING ON MEN DRESSING AS WOMEN DURING CARNIVALS, AND VICE VERSA
 
Every time August 17 approaches and arrives, the atmosphere is always filled with joy through various activities, competitions, and entertainment. Yet amidst this festivity, we often come across a common sight—including in my own neighborhood: men wearing typically feminine clothing such as house dresses, skirts, or other women’s garments, whether for carnival events, just for fun, or even while playing football.
 
Many view this as nothing more than harmless joking and entertainment. But what is the actual ruling on this according to Islamic Sharia?
 
The Prophet Muhammad ﷺ has given a stern warning regarding this matter, as recorded in Musnad Imam Ahmad, Volume 14, Hadith No. 8309:
 
“Verily, the Messenger of Allah ﷺ cursed men who wear women’s clothing, and women who wear men’s clothing.”
 
Scholars have also clarified the boundaries of this prohibition, including in the book Bughyatul Mustarsyidin, pages 463–464:
 
“The definition of forbidden tasyabbuh (imitation) whether men imitating women or women imitating men is when one adopts something that is exclusive to the other gender, or something that in that particular society is customarily worn only by the opposite gender.”
 
For instance, if a man wears a skirt, women’s tops, powder, lipstick, or anything else that is distinctly characteristic of a woman’s appearance—and vice versa this is prohibited. This applies even if such an appearance is deliberately made just to amuse others or for entertainment.
 
We must not use the excuse of “just joking” to justify any action. Joking is indeed permitted in Islam, but it must remain within set boundaries.
 
Independence Day celebrations may be filled with joyful, lawful activities. Yet we should not let the pursuit of laughter and entertainment lead us to violate Allah’s commands.
 
Let us celebrate our independence with joy without compromising the rules of Sharia. Festivity is allowed, joking is allowed but always keep within the limits.
 
Wallahu a'lam bishawab (Allah knows best).
 
 
 
References:
 
1. Musnad Ahmad, Volume 14, Hadith No. 8309
2. Bughyatul Mustarsyidin, Pages 463–464

DALIL

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.”

"Verily, the Messenger of Allah ﷺ cursed men who wear women’s clothing, and women who wear men’s clothing"

ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه..... هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.

Kurang lebih makananya: “Batasan tasyabbuh yang diharamkan antara laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki adalah ketika salah satu dari keduanya mengenakan sesuatu yang menjadi kekhususan bagi pihak lainnya, atau sesuatu yang pada tempat tersebut lebih dominan menjadi kekhususan pihak lainnya"

"In essence, it means: 'The boundary of forbidden tasyabbuh (imitation)—whether of men imitating women or women imitating men is when one adopts something that is exclusive to the other gender, or something that in that particular place is predominantly regarded as characteristic of the opposite gender"

Rabu, 12 Agustus 2026


PERINGATAN PENTING TENTANG SHALAT REBO WEKASAN

 
Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Syafar. Di tengah masyarakat banyak beredar berbagai anggapan, ritual, serta cerita mengenai musibah yang dikaitkan dengan hari tersebut. Terkait hal-hal tersebut, para ulama memiliki pandangan yang beragam: sebagian menerimanya, dan sebagian lainnya menolak salah satunya adalah ritual khusus shalat Rebo Wekasan.
 
Lalu, bagaimana pandangan fiqh mengenai shalat ini?
 
Pada dasarnya, tidak ada dalil atau nash yang tegas dari Al-Qur'an maupun Hadits yang menjelaskan tentang shalat khusus bernama "shalat Rebo Wekasan". Oleh karena itu, jika seseorang berniat secara khusus: "Aku niat melaksanakan shalat Rebo Wekasan ini," maka niat tersebut tidak sah dan hukumnya haram.
 
Hal ini selaras dengan kaidah fiqih berikut:
 
"Hukum asal dalam ibadah adalah: apabila tidak di anjurkan. maka ibadah itu tidak sah."
(Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, Juz 2, hal. 60)
 
Namun, jika seseorang ingin melaksanakan shalat pada waktu tersebut dengan niat shalat sunnah mutlaq (misal witir tahajud dll), maka menurut Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki hukumnya boleh. Beliau menjelaskan:
 
"Termasuk yang tidak dibenarkan adalah shalat khusus hari Syafar (Rebo Wekasan). Maka barang siapa ingin melaksanakan shalat di waktu tersebut (hari rabu wekas), hendaknya ia berniat sebagai shalat sunnah mutlaq."
(Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 90)
 
Kesimpulannya:
Bagi yang tidak melaksanakan shalat ini (sunnah mutlak) sama sekali, tidak ada masalah, karena shalat ini bukanlah kewajiban maupun sunnah yang dituntunkan secara khusus. Sedangkan bagi yang ingin tetap beribadah dengan shalat pada hari itu, silakan dilaksanakan dengan niat shalat sunnah mutlaq saja

ENGLISH

IMPORTANT WARNING REGARDING THE REBO WEKASAN PRAYER
 
Rebo Wekasan is the last Wednesday of the month of Safar. In our community, many beliefs, rituals, and stories regarding misfortune are widely associated with this day. On such matters, scholars hold differing views: some accept them, while others reject them — including the specific ritual known as the Rebo Wekasan prayer.
 
So, what is the ruling of fiqh concerning this prayer?
 
Fundamentally, there is no clear text or evidence from the Quran or Sunnah that specifies a prayer named "the Rebo Wekasan prayer". Therefore, if one intends specifically: "I intend to perform the Rebo Wekasan prayer," this intention is invalid and the practice is forbidden.
 
This aligns with the following foundational principle of fiqh:
 
"The fundamental rule of worship is: if a practice has not been prescribed, it is not valid."
(Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, Vol. 2, p. 60)
 
However, if one wishes to pray at that time with the intention of general voluntary prayer (sunnah mutlaq) such as witr, tahajud, or other common voluntary prayers then according to Sheikh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, this is permissible. He explains:
 
"What is disapproved is a specific prayer dedicated to the day of Safar (Rebo Wekasan). So whoever wishes to pray at this time should intend it simply as a general voluntary prayer."
(Kanz al-Najah wa al-Surur, p. 90)
 
In conclusion:
There is no concern at all for those who do not perform any special prayer on this day, as this specific prayer is neither obligatory nor a confirmed sunnah. For those who still wish to offer worship through prayer that day, you may do so simply with the intention of a general voluntary prayer

DALIL

وَالأَصْلُ فِي العِبَادَةِ أَنَّهَا إِذَا لَمْ تُطْلَبْ لَمْ تَصِحَّ
“Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah.” (Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, hal. 60).

"The fundamental principle of worship is: if a practice has not been prescribed, it is not valid"
(Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, Vol. 2, p. 60)

قُلْتُ وَمِثْلُهُ صَلَاةُ صَفَرٍ فَمَنْ أَرَادَ الصَّلَاةَ فِى وَقْتِ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ فَلْيَنْوِ النَّفْلَ الْمُطْلَقَ 
“Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rebo wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu² tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunah muthlaq" (Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 90)

"I am of the view that what is forbidden is the specific 'Safar prayer' (Rebo Wekasan prayer). So whoever wishes to perform prayer at that time should intend it as a general voluntary prayer (sunnah mutlaq)"
(Kanz al-Najah wa al-Surur, p. 90)

BAGI YANG SHOLAT REBO WEKAS


PERINGATAN PENTING TENTANG SHALAT REBO WEKASAN

 
Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Syafar. Di tengah masyarakat banyak beredar berbagai anggapan, ritual, serta cerita mengenai musibah yang dikaitkan dengan hari tersebut. Terkait hal-hal tersebut, para ulama memiliki pandangan yang beragam: sebagian menerimanya, dan sebagian lainnya menolak salah satunya adalah ritual khusus shalat Rebo Wekasan.
 
Lalu, bagaimana pandangan fiqh mengenai shalat ini?
 
Pada dasarnya, tidak ada dalil atau nash yang tegas dari Al-Qur'an maupun Hadits yang menjelaskan tentang shalat khusus bernama "shalat Rebo Wekasan". Oleh karena itu, jika seseorang berniat secara khusus: "Aku niat melaksanakan shalat Rebo Wekasan ini," maka niat tersebut tidak sah dan hukumnya haram.
 
Hal ini selaras dengan kaidah fiqih berikut:
 
"Hukum asal dalam ibadah adalah: apabila tidak di anjurkan. maka ibadah itu tidak sah."
(Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, Juz 2, hal. 60)
 
Namun, jika seseorang ingin melaksanakan shalat pada waktu tersebut dengan niat shalat sunnah mutlaq (misal witir tahajud dll), maka menurut Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki hukumnya boleh. Beliau menjelaskan:
 
"Termasuk yang tidak dibenarkan adalah shalat khusus hari Syafar (Rebo Wekasan). Maka barang siapa ingin melaksanakan shalat di waktu tersebut (hari rabu wekas), hendaknya ia berniat sebagai shalat sunnah mutlaq."
(Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 90)
 
Kesimpulannya:
Bagi yang tidak melaksanakan shalat ini (sunnah mutlak) sama sekali, tidak ada masalah, karena shalat ini bukanlah kewajiban maupun sunnah yang dituntunkan secara khusus. Sedangkan bagi yang ingin tetap beribadah dengan shalat pada hari itu, silakan dilaksanakan dengan niat shalat sunnah mutlaq saja

ENGLISH

IMPORTANT WARNING REGARDING THE REBO WEKASAN PRAYER
 
Rebo Wekasan is the last Wednesday of the month of Safar. In our community, many beliefs, rituals, and stories regarding misfortune are widely associated with this day. On such matters, scholars hold differing views: some accept them, while others reject them — including the specific ritual known as the Rebo Wekasan prayer.
 
So, what is the ruling of fiqh concerning this prayer?
 
Fundamentally, there is no clear text or evidence from the Quran or Sunnah that specifies a prayer named "the Rebo Wekasan prayer". Therefore, if one intends specifically: "I intend to perform the Rebo Wekasan prayer," this intention is invalid and the practice is forbidden.
 
This aligns with the following foundational principle of fiqh:
 
"The fundamental rule of worship is: if a practice has not been prescribed, it is not valid."
(Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, Vol. 2, p. 60)
 
However, if one wishes to pray at that time with the intention of general voluntary prayer (sunnah mutlaq) such as witr, tahajud, or other common voluntary prayers then according to Sheikh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, this is permissible. He explains:
 
"What is disapproved is a specific prayer dedicated to the day of Safar (Rebo Wekasan). So whoever wishes to pray at this time should intend it simply as a general voluntary prayer."
(Kanz al-Najah wa al-Surur, p. 90)
 
In conclusion:
There is no concern at all for those who do not perform any special prayer on this day, as this specific prayer is neither obligatory nor a confirmed sunnah. For those who still wish to offer worship through prayer that day, you may do so simply with the intention of a general voluntary prayer

DALIL

وَالأَصْلُ فِي العِبَادَةِ أَنَّهَا إِذَا لَمْ تُطْلَبْ لَمْ تَصِحَّ
“Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah.” (Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, hal. 60).

"The fundamental principle of worship is: if a practice has not been prescribed, it is not valid"
(Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, Vol. 2, p. 60)

قُلْتُ وَمِثْلُهُ صَلَاةُ صَفَرٍ فَمَنْ أَرَادَ الصَّلَاةَ فِى وَقْتِ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ فَلْيَنْوِ النَّفْلَ الْمُطْلَقَ 
“Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rebo wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu² tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunah muthlaq" (Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 90)

"I am of the view that what is forbidden is the specific 'Safar prayer' (Rebo Wekasan prayer). So whoever wishes to perform prayer at that time should intend it as a general voluntary prayer (sunnah mutlaq)"
(Kanz al-Najah wa al-Surur, p. 90)

Selasa, 11 Agustus 2026


PERLUKAH MEMBAYAR KAFARAT UTANG PUASA TAHUN LALU 
 
Dasar Utama Qadha Puasa
 
- Siapa yang meninggalkan puasa Ramadhan, baik karena uzur (sakit, perjalanan, haid, nifas) maupun sebab lain (sengaja misal mokel), wajib mengqadha puasa tersebut di hari lain, sesuai ketentuan Surah Al-Baqarah ayat 184.
- Jika ditinggalkan tanpa uzur, qadha harus dilaksanakan sesegera mungkin; jika karena uzur, boleh ditunda hingga menjelang Ramadhan tahun berikutnya.
 
Ketentuan Fidyah atas Keterlambatan
 
- Menurut Imam An-Nawawi, jika menunda qadha hingga masuk Ramadhan berikutnya, selain tetap wajib qadha, juga harus membayar fidyah sebesar 1 mud (sekitar 7 ons) beras untuk setiap hari yang belum dilunasi.
- Fidyah ini bukan pengganti kewajiban qadha, melainkan kewajiban tambahan karena keterlambatan.
- Fidyah berulang dan dibebankan setiap tahun jika masih ada sisa utang puasa yang belum diqadha saat memasuki Ramadhan baru. Contoh: sisa utang 6 hari saat masuk Ramadhan tahun ini, bayar fidyah 6 mud; jika tahun depan masih tersisa 3 hari, bayar lagi 3 mud, dan seterusnya.
 
Kapan Wajib dan Boleh Membayar Fidyah?
 
- Kewajiban membayar fidyah baru berlaku saat sudah memasuki Ramadhan tahun berikutnya, setelah dipastikan jumlah utang puasa yang benar-benar belum lunas.
- Membayar fidyah sebelum masuk Ramadhan hukumnya tidak boleh, karena kewajiban itu belum jatuh tempo.
 
Catatan Terkait Kasus yang Ditanyakan
 
- Jika Fulan masih memiliki sisa utang puasa yang belum dilunasi saat memasuki Ramadhan 1446 H, ia tetap wajib membayar fidyah untuk sisa hari tersebut, meskipun sebelumnya sudah pernah membayar fidyah di tahun sebelumnya

KESIMPULAN 

Inti nya jika sengaja membatalkan puasa bayar dengan usaha maksimal. Jika karena tidak sengaja bayar asal belum memasukan 1 ramadhan dan jika udah masuk wajib pakai dam di luar ramadhan itu

ENGLISH 

IS IT NECESSARY TO PAY EXPIATION FOR OUTSTANDING FASTING DEBTS FROM PREVIOUS YEARS?
 
Core Rules for Making Up Missed Fasts (Qadha)
 
- Anyone who misses fasts in Ramadan — whether due to valid reasons (illness, travel, menstruation, post-childbirth bleeding) or other reasons such as intentionally breaking the fast — is obliged to make up the missed fasts on other days, in accordance with Surah Al-Baqarah verse 184.
- If fasts are missed without a valid reason, they must be made up as soon as possible. If missed for a valid reason, they may be postponed until just before the next Ramadan.
 
Provisions on Fidyah for Delays
 
- According to Imam An-Nawawi, if one delays making up missed fasts until the start of the next Ramadan, they must still make up the fasts and additionally pay fidyah equal to 1 mud (approximately 700 grams) of rice for each day not yet made up.
- This fidyah does not replace the obligation to make up the fasts; it is an extra obligation imposed for the delay.
- Fidyah applies repeatedly every year if any fasts remain unmade up when a new Ramadan begins. For example: if 6 days remain outstanding when Ramadan starts this year, pay fidyah for 6 days. If 3 days are still left next year, pay fidyah for those 3 days again, and so on.
 
When is Fidyah Due and Permissible?
 
- The obligation to pay fidyah only takes effect once the next Ramadan has begun, after confirming the exact number of fasts still outstanding.
- Paying fidyah before Ramadan starts is not permissible, as the obligation has not yet come into force.
 
Clarification for the Case Presented
 
- If Fulan still has outstanding fasts when Ramadan 1446 H begins, he must pay fidyah for the remaining days — even if he already paid fidyah in previous years.
 
 
 
CONCLUSION
 
In essence: if you intentionally break a fast, fulfill your obligation to make it up to the best of your ability. If you miss fasts unintentionally, you may postpone making them up as long as the next Ramadan has not yet begun. Once Ramadan arrives, you must pay the fidyah separately from making up the fasts afterwards

DALIL 

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ


Artinya, "Maka siapa saja di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain."

"So whoever among you is ill or on a journey [and does not fast], then [must make up the fast for] an equal number of days on other days.'"

ومن أخر قضاء رمضان مع إمكانه حتى دخل رمضان آخر لزمه مع القضاء لكل يوم مد والأصح تكرره بتكرر السنين


Artinya, "Seseorang yang menunda melunasi hutang puasa Ramadhan hingga datang Ramadhan selanjutnya, maka selain melunasi hutang puasa, dia wajib membayar fidyah (1 mud) setiap satu hari. Menurut pendapat yang paling shahih, fidyah berlipat ganda seiring bertambahnya tahun" (An-Nawawi, Minhajuth Thalibin [Beirut: Darul Fikr, 2005], halaman 78)

"Whoever delays making up missed Ramadan fasts until the next Ramadan arrives, is obliged to both make up those fasts and additionally pay fidyah (one mud) for each day. According to the most authentic scholarly view, fidyah is charged repeatedly for each additional year the debt remains unsettled" (An-Nawawi, Minhajuth Thalibin [Beirut: Darul Fikr, 2005], p. 78)

MANZIL SAUM


PERLUKAH MEMBAYAR KAFARAT UTANG PUASA TAHUN LALU 
 
Dasar Utama Qadha Puasa
 
- Siapa yang meninggalkan puasa Ramadhan, baik karena uzur (sakit, perjalanan, haid, nifas) maupun sebab lain (sengaja misal mokel), wajib mengqadha puasa tersebut di hari lain, sesuai ketentuan Surah Al-Baqarah ayat 184.
- Jika ditinggalkan tanpa uzur, qadha harus dilaksanakan sesegera mungkin; jika karena uzur, boleh ditunda hingga menjelang Ramadhan tahun berikutnya.
 
Ketentuan Fidyah atas Keterlambatan
 
- Menurut Imam An-Nawawi, jika menunda qadha hingga masuk Ramadhan berikutnya, selain tetap wajib qadha, juga harus membayar fidyah sebesar 1 mud (sekitar 7 ons) beras untuk setiap hari yang belum dilunasi.
- Fidyah ini bukan pengganti kewajiban qadha, melainkan kewajiban tambahan karena keterlambatan.
- Fidyah berulang dan dibebankan setiap tahun jika masih ada sisa utang puasa yang belum diqadha saat memasuki Ramadhan baru. Contoh: sisa utang 6 hari saat masuk Ramadhan tahun ini, bayar fidyah 6 mud; jika tahun depan masih tersisa 3 hari, bayar lagi 3 mud, dan seterusnya.
 
Kapan Wajib dan Boleh Membayar Fidyah?
 
- Kewajiban membayar fidyah baru berlaku saat sudah memasuki Ramadhan tahun berikutnya, setelah dipastikan jumlah utang puasa yang benar-benar belum lunas.
- Membayar fidyah sebelum masuk Ramadhan hukumnya tidak boleh, karena kewajiban itu belum jatuh tempo.
 
Catatan Terkait Kasus yang Ditanyakan
 
- Jika Fulan masih memiliki sisa utang puasa yang belum dilunasi saat memasuki Ramadhan 1446 H, ia tetap wajib membayar fidyah untuk sisa hari tersebut, meskipun sebelumnya sudah pernah membayar fidyah di tahun sebelumnya

KESIMPULAN 

Inti nya jika sengaja membatalkan puasa bayar dengan usaha maksimal. Jika karena tidak sengaja bayar asal belum memasukan 1 ramadhan dan jika udah masuk wajib pakai dam di luar ramadhan itu

ENGLISH 

IS IT NECESSARY TO PAY EXPIATION FOR OUTSTANDING FASTING DEBTS FROM PREVIOUS YEARS?
 
Core Rules for Making Up Missed Fasts (Qadha)
 
- Anyone who misses fasts in Ramadan — whether due to valid reasons (illness, travel, menstruation, post-childbirth bleeding) or other reasons such as intentionally breaking the fast — is obliged to make up the missed fasts on other days, in accordance with Surah Al-Baqarah verse 184.
- If fasts are missed without a valid reason, they must be made up as soon as possible. If missed for a valid reason, they may be postponed until just before the next Ramadan.
 
Provisions on Fidyah for Delays
 
- According to Imam An-Nawawi, if one delays making up missed fasts until the start of the next Ramadan, they must still make up the fasts and additionally pay fidyah equal to 1 mud (approximately 700 grams) of rice for each day not yet made up.
- This fidyah does not replace the obligation to make up the fasts; it is an extra obligation imposed for the delay.
- Fidyah applies repeatedly every year if any fasts remain unmade up when a new Ramadan begins. For example: if 6 days remain outstanding when Ramadan starts this year, pay fidyah for 6 days. If 3 days are still left next year, pay fidyah for those 3 days again, and so on.
 
When is Fidyah Due and Permissible?
 
- The obligation to pay fidyah only takes effect once the next Ramadan has begun, after confirming the exact number of fasts still outstanding.
- Paying fidyah before Ramadan starts is not permissible, as the obligation has not yet come into force.
 
Clarification for the Case Presented
 
- If Fulan still has outstanding fasts when Ramadan 1446 H begins, he must pay fidyah for the remaining days — even if he already paid fidyah in previous years.
 
 
 
CONCLUSION
 
In essence: if you intentionally break a fast, fulfill your obligation to make it up to the best of your ability. If you miss fasts unintentionally, you may postpone making them up as long as the next Ramadan has not yet begun. Once Ramadan arrives, you must pay the fidyah separately from making up the fasts afterwards

DALIL 

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ


Artinya, "Maka siapa saja di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain."

"So whoever among you is ill or on a journey [and does not fast], then [must make up the fast for] an equal number of days on other days.'"

ومن أخر قضاء رمضان مع إمكانه حتى دخل رمضان آخر لزمه مع القضاء لكل يوم مد والأصح تكرره بتكرر السنين


Artinya, "Seseorang yang menunda melunasi hutang puasa Ramadhan hingga datang Ramadhan selanjutnya, maka selain melunasi hutang puasa, dia wajib membayar fidyah (1 mud) setiap satu hari. Menurut pendapat yang paling shahih, fidyah berlipat ganda seiring bertambahnya tahun" (An-Nawawi, Minhajuth Thalibin [Beirut: Darul Fikr, 2005], halaman 78)

"Whoever delays making up missed Ramadan fasts until the next Ramadan arrives, is obliged to both make up those fasts and additionally pay fidyah (one mud) for each day. According to the most authentic scholarly view, fidyah is charged repeatedly for each additional year the debt remains unsettled" (An-Nawawi, Minhajuth Thalibin [Beirut: Darul Fikr, 2005], p. 78)

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top