MENYEBUT KEAHLIAN DIRI SENDIRI
1. gak boleh
Jika dilakukan dengan tujuan sombong, ingin tampak lebih mulia, membedakan diri dari orang lain, atau ingin dipuji semata.
2. Disukai dan dianggap baik
Jika tujuannya untuk kebaikan umum, seperti: menyuruh kebaikan dan mencegah keburukan, memberi nasihat, mengajarkan ilmu, mendidik, mengingatkan kebenaran, mendamaikan orang yang berselisih, atau menolak keburukan yang menimpa diri sendiri. Selain itu, juga diperbolehkan jika tujuannya untuk mensyukuri nikmat Allah atau agar orang lain bisa meneladani kebaikan tersebut, asalkan terjaga dari fitnah.
Catatan Penting (Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Muroqil 'Ubudiyah hal. 162)
- Meskipun ada kondisi yang membolehkan, jangan jadikan ini kebiasaan. Menyembunyikan atau menutupi kebaikan diri justru lebih utama daripada menceritakannya.
- Jika sering dilakukan dan menjadi kebiasaan, hal ini akan menurunkan harga diri di mata manusia dan bisa menyebabkan diri dibenci oleh Allah Ta'ala
ENGLISH
MENTIONING ONE’S OWN MERITS OR EXPERTISE
1. Not Permissible
If done with the intention of showing arrogance, seeking to appear superior, setting oneself apart from others, or simply wanting to be praised.
2. Acceptable and Considered Good
If done for the benefit of the public, such as: encouraging good and forbidding evil, giving advice, teaching knowledge, educating others, reminding people of the truth, reconciling conflicting parties, or defending oneself from harm. It is also permissible if the purpose is to express gratitude to Allah for His blessings or to set a positive example for others, provided that one remains safe from temptation or moral corruption.
Important Note (According to Syekh Nawawi Al-Bantani in Muroqil 'Ubudiyah, page 162)
- Even when it is allowed, do not make it a habit. Concealing or keeping one’s merits private is actually more virtuous than speaking about them.
- If done frequently and becomes a habit, it will lower one’s standing in the eyes of people and may lead to being disfavored by Allah Ta'ala
DALIL
الخامس تزكية النفس أي مدحها بالطهارة عن الدناءة على سبيل الإعجاب أما على سبيل الإعتراف بالنعمة فحسن، لأن التحدث بها شكرها وإنما جاز إذا قصد به الشكر، وأن يقتدي به غيره وأمن على نفسه الفتنة، والستر أفضل كذا أفاده الشربيني
Kelima mensucikan diri, memuji diri dengan suci dari sifat yang rendah dengan jalan Takjub. Adapun dengan jalan pengakuan nikmat Maka itu baik, Karena menceritakan nikmat ialah mensyukuri nikmat. Dan menceritakan kebaikan boleh apabila tujuannya syukur, agar diikuti oleh orang lain, mencari aman dari Fitnah. Namun menutupi kebaikan memang lebih utama dari pada menceritakannya seperti yang telah diterangkan oleh imam Assyirbini
Fifth is praising oneself as being pure and free from base qualities out of self-admiration. However, if it is done as an acknowledgment of Allah’s blessings, then it is good, for speaking of these blessings is a form of expressing gratitude. Mentioning one’s good deeds is also permissible if the intention is to show gratitude, to set an example for others to follow, or to protect oneself from fitnah (temptation or harm). Even so, concealing one’s merits is indeed more virtuous than speaking about them, as explained by Imam Ash-Shirbini
(فإياك) أي احذر (أن تتعود ذلك) أي أن تصير تزكية النفس عادة لك (واعلم أن ذلك) أي تزكية النفس (ينقص من قدرك) أي قيمتك (عند الناس ويوجب مقتك) أي بغضك عند الله تعالى.
"Takutlah dirimu ketika seringkali (menjadi kebiasaan) menuturkan kebaikan diri sendiri. Dan ketahuilah, sesungguhnya memuji diri sendiri mengurangi derajatmu dihadapan manusia dan menyebabkan dirimu dibenci oleh Alloh ta'ala"
"Beware of making it a habit to speak of your own merits. And know this: praising yourself will lower your standing in the eyes of people and may cause you to be disfavored by Allah Ta'ala"
About the Author