Kamis, 21 Mei 2026

HUKUM MAIN CATUR

Posted by Abah Ngapakudin  |  at  Mei 21, 2026


HUKUM BERMAIN CATUR DALAM ISLAM
 
Pandangan Beragam Ulama
 
Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai hukum bermain catur:
 
- Haram: Menurut tiga imam besar (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal). Namun, ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa tidak ada dalil hadits yang sahih atau hasan yang secara spesifik mengharamkannya. Bahkan, banyak sahabat dan tabi'in (generasi setelah sahabat) yang memainkannya.
- Makruh: Dilihat dari sisi membuang-buang waktu pada hal yang tidak mendatangkan pahala.
- Mubah (Boleh): Berdasarkan kaidah fiqih bahwa asal segala sesuatu adalah boleh, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Selain itu, catur bermanfaat untuk melatih strategi dan kecerdasan layaknya taktik perang.
 
Pendapat Mazhab Syafi'i
 
Dalam Mazhab Syafi'i yang umumnya dianut di Indonesia, hukum bermain catur pada dasarnya adalah BOLEH (Mubah).
 
Namun, hukumnya bisa berubah menjadi HARAM atau MAKRUH jika disertai hal-hal berikut:
 
1. Melalaikan kewajiban: Sampai lupa atau menunda shalat lima waktu.
2. Ada unsur haram: Digunakan untuk judi, taruhan, atau dilakukan sambil meminum khamr.
3. Menyia-nyiakan harta: Sampai mengabaikan pekerjaan dan penghasilan.
4. Menjatuhkan harga diri: Dimainkan di tempat umum atau pinggir jalan yang bisa menurunkan muru'ah (wibawa). Sebaiknya dimainkan di tempat yang tertutup atau sepi.
 
Kesimpulan
 
Bermain catur pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam karena mengandung manfaat untuk mengasah otak, logika, dan strategi. Hukumnya menjadi haram atau makruh hanya karena faktor tambahan, bukan karena permainan caturnya sendiri

ENGLISH

THE RULING OF PLAYING CHESS IN ISLAM
 
DIVERGENT VIEWS OF SCHOLARS
 
Scholars hold different opinions regarding the Islamic ruling on playing chess:
 
- Haram (Forbidden): According to the three great Imams (Abu Hanifah, Malik, and Ahmad bin Hanbal). However, scholars like Ibnu Hajar Al-Asqalani confirmed that there are no authentic (Sahih) or good (Hasan) Hadiths that specifically prohibit it. In fact, many Companions of the Prophet (Sahabah) and the generation after them (Tabi'in) used to play it.
- Makruh (Disliked): Viewed as wasting time on things that do not bring spiritual reward.
- Mubah (Permissible): Based on the Islamic legal principle that "everything is originally permissible" unless there is evidence forbidding it. Additionally, chess is beneficial for training strategy and sharpening the mind, similar to military tactics.
 
 
 
THE VIEW OF THE SHAFI'I SCHOOL OF THOUGHT
 
In the Shafi'i Madhhab, which is widely followed in Indonesia, the basic ruling for playing chess is PERMISSIBLE (Mubah).
 
However, the ruling can change to HARAM or MAKRUH if accompanied by the following factors:
 
1. Neglecting Obligations: If it causes one to forget or delay the five daily prayers.
2. Forbidden Elements: If it is used for gambling, betting, or played while consuming alcohol.
3. Wasting Wealth: If it leads to neglecting work and losing income.
4. Losing Dignity: If played in public places or on the roadside, which can lower one's dignity (muru'ah). It is better to play it in private or closed areas.
 
 
 
CONCLUSION
 
Playing chess is fundamentally allowed in Islam because it contains benefits for sharpening the mind, logic, and strategic thinking. It only becomes forbidden or disliked due to additional factors, not because the game itself is inherently bad

DALIL

قوله (وهو) أي لعب الشطرنج (وقوله حرام) عند الأئمة الثلاثة وهم أبو حنيفة ومالك وأحمد بن حنبل رضي الله عنهم وإنما قالوا بالحرمة للأحاديث الكثيرة التي جاءت في ذمه قال في التحفة لكن قال الحافظ لم يثبت منها حديث من طريق صحيح ولا حسن وقد لعبه جماعة من أكابر الصحابة ومن لا يحصى من التابعين ومن بعدهم وممن كان يلعبه غبا سعيد بن جبير رضي الله عنه
 
Artinya, “(Permainan itu) main catur (haram) menurut tiga imam, yaitu Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka menyatakan haram atas dasar sejumlah hadits yang mencela permainan catur. Tetapi penulis At-Tuhfah (Ibnu Hajar) dari Mazhab Syafi’I mengutip Imam Al-Hafiz Al-Asqalani mengatakan bahwa kualitas hadits yang mengecam permainan catur tidak diriwayatkan berdasarkan jalan yang sahih dan hasan. Bahkan sejumlah sahabat terkemuka Rasulullah dan banyak tabi’in sepeninggal mereka juga bermain catur. Salah seorang yang bermain catur adalah Sa’id bin Jubair,” (Sayid Bakri Syatha Ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz IV, halaman 286)

Meaning: “(This game), playing chess, is Haram (forbidden) according to the three Imams, namely Abu Hanifah, Imam Malik, and Imam Ahmad bin Hanbal. They ruled it forbidden based on a number of Hadiths that criticize the game. However, the author of At-Tuhfah (Ibn Hajar) from the Shafi'i School quotes Imam Al-Hafiz Al-Asqalani stating that the chains of narration for the Hadiths condemning chess are not classified as Sahih (authentic) nor Hasan (good). In fact, several prominent Companions of the Prophet and numerous Tabi'un (the generation after the Companions) also played chess. One of those who played chess was Sa'id bin Jubair,” (Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: n.d.], vol. IV, page 286)

وَاحْتُجَّ لِإِبَاحَةِ اللَّعِبِ بِهِ بِأَنَّ الْأَصْلَ الْإِبَاحَةُ وَبِأَنَّ فِيهِ تَدْبِيرُ الْحُرُوبِ وَلِلْكَرَاهَةِ بِأَنَّ صَرْفَ الْعُمْرِ إلَى مَا لَا يُجْدِي وَبِأَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرَّ بِقَوْمٍ يَلْعَبُونَ بِهِ فَقَالَ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Artinya, “Hujjah atas kebolehan permainan catur ini didasarkan pada kaidah hukum Islam bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah mubah; dan pada unsur maslahat permainan catur yang mengasah otak dalam bersiasat perang. Sedangkan hujjah atas kemakruhan permainan ini didasarkan pada unsur penyia-nyiaan umur pada hal yang tidak bermanfaat; dan pada ucapan sayyidina Ali saat melewati mereka yang sedang bermain catur, ‘Apakah ini patung-patung yang kalian sembah?’” (Syekh Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun])

Meaning: "The argument for the permissibility of chess is based on the Islamic legal principle that everything is originally permissible (mubah), as well as on the benefits (maslahah) of the game, which sharpens the mind in formulating strategies similar to warfare tactics. Meanwhile, the argument for it being disliked (makruh) is based on the aspect of wasting time on things that bring no benefit, and on the statement of Sayyidina Ali when he passed by people playing chess: 'Are these idols that you worship?'" (Sheikh Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: n.d.])

Tagged as:
About the Author

Write admin description here..

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.

GIMANA MENG GUNAKAN AL QUR'AN YANG BENAR

back to top