Latest Posts

Senin, 10 Agustus 2026


ORANG TUA YANG JUGA BISA "DURHAKA" KEPADA ANAKNYA
 
Suatu hari, seorang ayah datang menghadap Khalifah Umar bin Khattab untuk mengadukan kelakuan anak laki-lakinya yang dianggap durhaka.
 
Sayyidina Umar pun memanggil anak tersebut dan mulai menegurnya. Namun sang anak bertanya:
"Wahai Amirul Mukminin, apakah seorang anak tidak memiliki hak atas ayahnya?"
 
"Tentu saja ada," jawab Sayyidina Umar.
 
"Apa saja hak-hak itu?" tanya anak itu lagi.
 
"Memilihkan ibu yang baik, memberikan nama yang bagus, serta mengajarkannya Al-Qur'an," jelas Sayyidina Umar.
 
Mendengar itu, sang anak berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, tidak satu pun dari ketiga hal itu dilakukan oleh ayahku. Ibuku adalah budak berkulit hitam milik orang Majusi. Ayahku menamaiku Ju’ala yang berarti kumbang hitam, dan dia tidak mengajarkanku satu huruf pun dari Al-Qur'an."
 
Sayyidina Umar kemudian menatap sang ayah dengan tegas dan berkata:
"Kamu mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal kamu sendiri telah mendurhakainya lebih dulu. Kamu berbuat buruk kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu."
 
Seringkali kita hanya membahas dosa anak yang menyakiti orang tua. Padahal tak sedikit dari kita yang tanpa sadar menyakiti hati anak-anak kita. Semoga kita semua ditakdirkan menjadi orang tua yang baik, sekaligus tetap menjadi anak yang taat kepada orang tua 🙏
 
Sumber: Fawaidul Mukhtar, halaman 83–84

ENGLISH

PARENTS CAN ALSO BE "DISOBEDIENT" TO THEIR CHILDREN
 
One day, a father came to Caliph Umar bin Khattab to complain about his son, whom he considered disobedient.
 
Sayyidina Umar then summoned the young man and began to admonish him. But the son asked:
"O Commander of the Faithful, does a child have no rights over his father?"
 
"Of course he does," replied Sayyidina Umar.
 
"What are those rights?" asked the son again.
 
"That he chooses a good mother for you, gives you a fine name, and teaches you the Quran," Sayyidina Umar explained.
 
Hearing this, the son said:
"O Commander of the Faithful, my father has done none of these three things. My mother was a black slave owned by a Zoroastrian. He named me Ju’ala — which means black beetle — and he has never taught me even a single letter of the Quran."
 
Sayyidina Umar then looked firmly at the father and said:
"You complain that your son is disobedient, yet you have been disobedient to him first. You wronged him before he ever wronged you."
 
We often speak only of the sin of children hurting their parents. Yet many of us hurt our own children’s hearts without even realizing it. May we all be destined to be good parents, while remaining obedient children to our own parents 🙏
 
Source: Fawaidul Mukhtar, pages 83–84

ANJURAN MEMULIAKAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM
 
Memuliakan anak merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang tua. Perbuatan ini bahkan tergolong ibadah, akan memperkuat rasa cinta anak kepada orang tuanya, dan termasuk wujud penghormatan jika orang tua menyekolahkan ke pondok pesantren
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
"Muliakanlah anak-anak kalian, dan perbaikilah adab mereka."
(HR. Sunan Ibnu Majah 4/636)
 
Dalam penjelasannya, As-Sanadi menjelaskan bahwa memuliakan anak akan membuat mereka semakin menyayangi orang tua. Sebaliknya, jika orang tua tidak menghormati dan memuliakan anak memicu tidak ber adab
 
Imam Al-Munawi mencontohkan wujud memuliakan anak yang benar, bukan dengan memanjakan dengan perhiasan atau kesenangan duniawi, melainkan:
 
1. Mengajarkan melatih kendali diri dan menanamkan akhlak yang mulia
2. Membimbing dan mendorong mereka menuju segala perbuatan yang bernilai tinggi
3. Melatih mereka tekun menjalankan segala kewajiban yang diperintahkan agama

(hal utama)
 
Syekh Nawawi Al-Bantani juga menegaskan:
 
"Menikah adalah berkah, dan anak adalah rahmat. Maka muliakanlah anak-anak kalian, sebab memuliakan anak itu adalah ibadah."
(Tanqih Al-Qoul, hal. 40)
 
Orang tua juga dianjurkan untuk tidak terlalu mengekang atau menekan anak dalam hal-hal yang diperbolehkan agama, misalnya menikmati makanan yang enak atau berlibur ke tempat yang menyenangkan. Memberikan kebebasan dalam hal yang halal adalah wujud kasih sayang, sekaligus memberi semangat bagi anak dalam menjalankan kewajiban yang berat (penyemangat)

ENGLISH

ENCOURAGEMENT TO HONOUR CHILDREN IN ISLAMIC TEACHINGS
 
Honouring children is a matter of great importance for every parent. This act is even considered a form of worship, strengthens the child’s love for their parents, and sending a child to an Islamic boarding school is also regarded as a way to honour them .
 
Rasulullah ﷺ said:
 
"Honour your children, and refine their manners."
(Narrated in Sunan Ibnu Majah 4/636)
 
In his explanation, As‑Sanadi stated that honouring children will make them love their parents even more. On the contrary, when parents do not respect and honour their children, it often leads to poor behaviour and disrespect.
 
Imam Al‑Munawi gave examples of how to truly honour children—not by spoiling them with adornments or worldly pleasures, but by:
 
1. Teaching them self‑restraint and instilling noble character
2. Guiding and encouraging them toward all righteous and praiseworthy deeds
3. Training them to be diligent in fulfilling all obligations commanded by the religion
 
Sheikh Nawawi Al‑Bantani also affirmed:
 
"Marriage is a blessing, and children are a mercy. So honour your children, for honouring them is worship."
(Tanqih Al‑Qoul, p. 40)
 
Parents are also advised not to be overly restrictive or press their children regarding matters permitted by the religion—such as enjoying good food or taking them on pleasant outings. Granting freedom in lawful matters is an expression of affection, and also serves to encourage children in carrying out their difficult duties

DALIL

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - ﷺ - قَالَ: «أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ، وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ»

Diriwayatkan dari kanjeng Rasulallah Shalallahu 'alaihi wasallam ngendikan "Muliakanlah Anak-anak kalian dan Perbaikilah adabnya mereka"

Narrated from the Messenger of Allah (Rasulullah saw), peace and blessings be upon him, who said: "Honour your children and refine their manners"

قَوْلُهُ: (أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ) فَإِنَّ إِكْرَامَهُمْ يَزِيدُهُمْ حُبًّا لِلْآبَاءِ، وَأَمَّا لَوِ الْإِكْرَامُ قَدْ يُفْضِي إِلَى سُوءِ الْأَدَبِ.

Dawuh (أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ) itu menyebabkan bertambah cinta anak kepada orang tuanya. Dan seandainya orang tua tidak memuliakan anaknya maka terkadang hal tersebut mendatangkan suul adab"

"The saying 'Honour your children' causes a child's love for their parents to grow. Conversely, if parents do not honour their children, this may sometimes lead them to behave with bad manners"

(أكرموا أولادكم وأحسنوا آدابهم) بأن تعلموهم رياضة النفس ومحاسن الأخلاق وتخرجوهم في الفضائل وتمرنوهم على المطلوبات الشرعية ولم يرد إكرامهم بزينة الدنيا وشهواتها 

Imam Al-munawi mencontohkan memuliakan anak sebagai berikut :
1. Mengajarkan Anak-anak untuk Melatih nafsu dan Akhlak yang baik. 
2. Menyuruh mereka mendatangi keutamaan
3. Melatih berbuat amal yang diperintah oleh agama. 
Dan hadits tersebut tidak menghendaki memuliakan anak dengan perhiasan dan kesenangan duniawi

Imam Al-Munawi gives the following examples of how to honour children:
 
1. Teaching children to discipline their desires and cultivate good character.
2. Guiding and encouraging them to pursue virtues.
3. Training them to perform acts of worship and duties commanded by the religion.
 
This hadith does not mean honouring children by showering them with worldly luxuries or material pleasures

التزويج بركة والولد رحمة فأكرموا أولادكم فان كرامة الأولاد عبادة. 
"Menikah Itu berkah dan Anak adalah Rahmat, maka muliakanlah Anak-anak kalian, karena Memuliakan anak itu ibadah"

"Marriage is a blessing, and children are a mercy. Therefore, honour your children, for honouring them is an act of worship"

KEWAJIBAN MENGAJARKAN ADAB DAN ILMU
 
Salah satu hak utama anak yang wajib dipenuhi orang tua adalah memberikan pendidikan adab serta ilmu agama. Oleh karena itu, mendidik anak sejak usia dini merupakan tugas pokok dan tanggung jawab mutlak setiap orang tua.
 
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
 
"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pemimpin kaum adalah pemimpin bagi mereka dan ia akan diminta pertanggungjawaban. Dan laki-laki adalah pemimpin di keluarganya, dan ia pun akan diminta pertanggungjawaban atas mereka."
(HR. Sunan Abi Dawud 3/130)
 
Imam Ibnu Ruslan menjelaskan dalam syarahnya bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya soal nafkah, pakaian, dan kebutuhan fisik keluarga saja. Ia wajib mengajarkan apa yang dibutuhkan anak dalam soal wudhu, shalat, serta urusan agama lainnya. Bahkan, kewajiban mengajarkan ilmu agama jauh lebih utama dibandingkan nafkah dan pakaian. Sebab, nafkah bisa gugur jika orang tua benar-benar tidak mampu, namun kewajiban memberi ilmu tidak gugur. Jika orang tua belum memahaminya, ia wajib belajar terlebih dahulu, bertanya kepada ulama, atau menitipkan anak kepada orang yang mampu mendidiknya.
 
Hal ini juga ditegaskan dalam kitab Fathul Qorib, bahwa di antara hak anak atas orang tuanya adalah bimbingan adab serta pengajaran segala amalan agama yang perlu diketahui dan diamalkan.
 
Dari sini dapat disimpulkan: tugas ayah tidak sekadar memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Ia wajib menanamkan adab mulia dan ilmu agama kepada anak dan istri. Jika orang tua belum memahami atau belum sempat mendidik secara langsung, langkah terbaik adalah menitipkan mereka kepada guru atau ulama yang terpercaya salah satu caranya adalah dengan menyekolahkan ke pondok pesantren

ENGLISH

THE DUTY TO TEACH MANNERS AND KNOWLEDGE
 
One of the fundamental rights of a child that parents must fulfill is providing education in good manners as well as religious knowledge. Therefore, educating children from an early age is the primary task and absolute responsibility of every parent.
 
Rasulullah ﷺ said in a hadith:
 
"Know that every one of you is a guardian, and every one of you will be held accountable for those under your care. The leader of a people is a guardian over them and will be held accountable for them. A man is a guardian over the members of his household, and he too will be held accountable for them."
(Narrated in Sunan Abi Dawud 3/130)
 
In his commentary, Imam Ibnu Ruslan explained that a father will be held accountable in the Hereafter not only for providing livelihood, clothing, and physical needs of his family. He is obliged to teach his children what they need regarding wudu, prayer, and all other religious matters. In fact, the duty to teach religious knowledge is far more important than providing sustenance and clothing. This is because the obligation to provide for physical needs may be lifted if a parent is truly unable, but the duty to impart knowledge can never be excused. If a parent does not yet understand these matters himself, he must learn first, consult learned scholars, or entrust his children to someone who is able to educate them properly.
 
This is also affirmed in the book Fathul Qorib, which states that among the rights of a child over their parents is guidance in noble manners and instruction in all religious practices that they need to know and practice.
 
Thus we may conclude: a father’s duty goes far beyond merely providing food and clothing. He is obliged to instill noble character and religious knowledge in his children and wife. If he lacks the knowledge or cannot teach them directly, the best course is to entrust them to trusted teachers or scholars one proven way being to send them to an Islamic boarding school

DALIL

عن عبد الله بن عمر، أن رسول الله ﷺ قال: «ألا كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير الذي على الناس راع عليهم، وهو مسئول عنهم، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، الحديث. 

Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar, Sesungguhnya Rasulallah Shollallohu 'alaihi wasallam dawuh "Ingat, Setiap kalian itu pemimpin, Dan setiap kalian Akan diminta pertanggungjawaban Dari Rakyatnya. Maka Pemerintah manusia itu pemimpin manusia, Dan ia akan diminta pertanggungjawaban dari mereka. Dan Laki-laki itu pemimpin Ahli baitnya Dan ia akan diminta pertanggungjawaban Dari mereka" (Al-hadits)

It is narrated from Abdullah bin Umar that the Messenger of Allah ﷺ said: "Beware, every one of you is a guardian, and every one of you will be held accountable for those under your care. The ruler over the people is a guardian over them, and he shall be answerable for them. And a man is the guardian of his household, and he shall be answerable for them.' (Hadith)"

والرجل مسؤول عن نفقة زوجته وخادمه وأولاده وكسوتهم وما يحتاجون إليه، وعن تعليمهم ما يحتاجون إليه في صلاتهم ووضوئهم، وما يحتاجون إليه في أمر دينهم وهو أهم من الكسوة والنفقة، فإنها تسقط عنه إذا كان معسرا وعاجزًا عن التكسب،وأما تعليم دينهم فإن لم يعرف فيتعلم ويعلمهم، أو يسأل، أو يسلمهم إلى من يعلمهم عليه. 

"Orang laki-laki akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) tentang nafkah istrinya, pelayan nya, Anak-anak nya. Dan pakaian mereka dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Dan Akan ditanya diakhirat tentang mengajarkan mereka, tentang sesuatu yang mereka butuhkan dalam sholat dan wudhunya. Dan sesuatu yang mereka butuhkan dalam urusan agamanya (Ilmu agama). Dan memenuhi kebutuhan ilmu jauh lebih penting daripada pakaian dan Nafkah. Karena pakaian dan nafakah akan gugur dari seseorang lelaki jika ia tidak mampu bekerja. Apapun ketika seorang laki-laki yang tidak Faham ilmu maka ia harus belajar kemudian mengajarkan istri dan anak-anaknya. Atau dia bertanya kepada orang alim. Atau menghantarkan mereka kepada orang yang mampu mengajarkan agamanya"

"A man will be questioned (held accountable) for providing sustenance, clothing, and all necessary needs for his wife, his dependents, and his children. He will also be questioned in the Hereafter about teaching them what they need to know regarding prayer, ablution, and all other matters of their religion. Fulfilling their need for religious knowledge is far more important than providing clothing and sustenance. This is because the obligation to provide material needs may be lifted if a man is truly unable to earn a living. However, if a man himself lacks this knowledge, he must first learn it so he may teach his wife and children, or consult learned scholars, or entrust them to those who are qualified to teach them their faith"

فائدة: جاء في الحديث وإن لولدك عليك حقا الحديث فيه أن على الأب تأديب ولده وتعليمه ما يحتاج إليه من وظائف الدين

(Faidah) "Telah jelas didalam hadits sesungguhnya ada hak untuk anakmu, hadits yang menerangkan tentang hak anak ialah sesungguhnya bagi seseorang bapak mengajarkan adab kepada anaknya dan mengajarkan anaknya terhadap sesuatu yang ia butuhkan yang berupa amaliyah agama islam"

(Benefit)
"It is clearly established in the hadith that your child has rights over you. Among the rights of a child, as explained in this narration, is that a father must teach his child good manners, and instruct them in all religious practices of Islam that they need to know and practice"

DURHAKA NYA ORANG TUA KE ANAK


ORANG TUA YANG JUGA BISA "DURHAKA" KEPADA ANAKNYA
 
Suatu hari, seorang ayah datang menghadap Khalifah Umar bin Khattab untuk mengadukan kelakuan anak laki-lakinya yang dianggap durhaka.
 
Sayyidina Umar pun memanggil anak tersebut dan mulai menegurnya. Namun sang anak bertanya:
"Wahai Amirul Mukminin, apakah seorang anak tidak memiliki hak atas ayahnya?"
 
"Tentu saja ada," jawab Sayyidina Umar.
 
"Apa saja hak-hak itu?" tanya anak itu lagi.
 
"Memilihkan ibu yang baik, memberikan nama yang bagus, serta mengajarkannya Al-Qur'an," jelas Sayyidina Umar.
 
Mendengar itu, sang anak berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, tidak satu pun dari ketiga hal itu dilakukan oleh ayahku. Ibuku adalah budak berkulit hitam milik orang Majusi. Ayahku menamaiku Ju’ala yang berarti kumbang hitam, dan dia tidak mengajarkanku satu huruf pun dari Al-Qur'an."
 
Sayyidina Umar kemudian menatap sang ayah dengan tegas dan berkata:
"Kamu mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal kamu sendiri telah mendurhakainya lebih dulu. Kamu berbuat buruk kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu."
 
Seringkali kita hanya membahas dosa anak yang menyakiti orang tua. Padahal tak sedikit dari kita yang tanpa sadar menyakiti hati anak-anak kita. Semoga kita semua ditakdirkan menjadi orang tua yang baik, sekaligus tetap menjadi anak yang taat kepada orang tua 🙏
 
Sumber: Fawaidul Mukhtar, halaman 83–84

ENGLISH

PARENTS CAN ALSO BE "DISOBEDIENT" TO THEIR CHILDREN
 
One day, a father came to Caliph Umar bin Khattab to complain about his son, whom he considered disobedient.
 
Sayyidina Umar then summoned the young man and began to admonish him. But the son asked:
"O Commander of the Faithful, does a child have no rights over his father?"
 
"Of course he does," replied Sayyidina Umar.
 
"What are those rights?" asked the son again.
 
"That he chooses a good mother for you, gives you a fine name, and teaches you the Quran," Sayyidina Umar explained.
 
Hearing this, the son said:
"O Commander of the Faithful, my father has done none of these three things. My mother was a black slave owned by a Zoroastrian. He named me Ju’ala — which means black beetle — and he has never taught me even a single letter of the Quran."
 
Sayyidina Umar then looked firmly at the father and said:
"You complain that your son is disobedient, yet you have been disobedient to him first. You wronged him before he ever wronged you."
 
We often speak only of the sin of children hurting their parents. Yet many of us hurt our own children’s hearts without even realizing it. May we all be destined to be good parents, while remaining obedient children to our own parents 🙏
 
Source: Fawaidul Mukhtar, pages 83–84

ANJURAN MEMULIAKAN ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM
 
Memuliakan anak merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang tua. Perbuatan ini bahkan tergolong ibadah, akan memperkuat rasa cinta anak kepada orang tuanya, dan termasuk wujud penghormatan jika orang tua menyekolahkan ke pondok pesantren
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
"Muliakanlah anak-anak kalian, dan perbaikilah adab mereka."
(HR. Sunan Ibnu Majah 4/636)
 
Dalam penjelasannya, As-Sanadi menjelaskan bahwa memuliakan anak akan membuat mereka semakin menyayangi orang tua. Sebaliknya, jika orang tua tidak menghormati dan memuliakan anak memicu tidak ber adab
 
Imam Al-Munawi mencontohkan wujud memuliakan anak yang benar, bukan dengan memanjakan dengan perhiasan atau kesenangan duniawi, melainkan:
 
1. Mengajarkan melatih kendali diri dan menanamkan akhlak yang mulia
2. Membimbing dan mendorong mereka menuju segala perbuatan yang bernilai tinggi
3. Melatih mereka tekun menjalankan segala kewajiban yang diperintahkan agama

(hal utama)
 
Syekh Nawawi Al-Bantani juga menegaskan:
 
"Menikah adalah berkah, dan anak adalah rahmat. Maka muliakanlah anak-anak kalian, sebab memuliakan anak itu adalah ibadah."
(Tanqih Al-Qoul, hal. 40)
 
Orang tua juga dianjurkan untuk tidak terlalu mengekang atau menekan anak dalam hal-hal yang diperbolehkan agama, misalnya menikmati makanan yang enak atau berlibur ke tempat yang menyenangkan. Memberikan kebebasan dalam hal yang halal adalah wujud kasih sayang, sekaligus memberi semangat bagi anak dalam menjalankan kewajiban yang berat (penyemangat)

ENGLISH

ENCOURAGEMENT TO HONOUR CHILDREN IN ISLAMIC TEACHINGS
 
Honouring children is a matter of great importance for every parent. This act is even considered a form of worship, strengthens the child’s love for their parents, and sending a child to an Islamic boarding school is also regarded as a way to honour them .
 
Rasulullah ﷺ said:
 
"Honour your children, and refine their manners."
(Narrated in Sunan Ibnu Majah 4/636)
 
In his explanation, As‑Sanadi stated that honouring children will make them love their parents even more. On the contrary, when parents do not respect and honour their children, it often leads to poor behaviour and disrespect.
 
Imam Al‑Munawi gave examples of how to truly honour children—not by spoiling them with adornments or worldly pleasures, but by:
 
1. Teaching them self‑restraint and instilling noble character
2. Guiding and encouraging them toward all righteous and praiseworthy deeds
3. Training them to be diligent in fulfilling all obligations commanded by the religion
 
Sheikh Nawawi Al‑Bantani also affirmed:
 
"Marriage is a blessing, and children are a mercy. So honour your children, for honouring them is worship."
(Tanqih Al‑Qoul, p. 40)
 
Parents are also advised not to be overly restrictive or press their children regarding matters permitted by the religion—such as enjoying good food or taking them on pleasant outings. Granting freedom in lawful matters is an expression of affection, and also serves to encourage children in carrying out their difficult duties

DALIL

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - ﷺ - قَالَ: «أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ، وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ»

Diriwayatkan dari kanjeng Rasulallah Shalallahu 'alaihi wasallam ngendikan "Muliakanlah Anak-anak kalian dan Perbaikilah adabnya mereka"

Narrated from the Messenger of Allah (Rasulullah saw), peace and blessings be upon him, who said: "Honour your children and refine their manners"

قَوْلُهُ: (أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ) فَإِنَّ إِكْرَامَهُمْ يَزِيدُهُمْ حُبًّا لِلْآبَاءِ، وَأَمَّا لَوِ الْإِكْرَامُ قَدْ يُفْضِي إِلَى سُوءِ الْأَدَبِ.

Dawuh (أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ) itu menyebabkan bertambah cinta anak kepada orang tuanya. Dan seandainya orang tua tidak memuliakan anaknya maka terkadang hal tersebut mendatangkan suul adab"

"The saying 'Honour your children' causes a child's love for their parents to grow. Conversely, if parents do not honour their children, this may sometimes lead them to behave with bad manners"

(أكرموا أولادكم وأحسنوا آدابهم) بأن تعلموهم رياضة النفس ومحاسن الأخلاق وتخرجوهم في الفضائل وتمرنوهم على المطلوبات الشرعية ولم يرد إكرامهم بزينة الدنيا وشهواتها 

Imam Al-munawi mencontohkan memuliakan anak sebagai berikut :
1. Mengajarkan Anak-anak untuk Melatih nafsu dan Akhlak yang baik. 
2. Menyuruh mereka mendatangi keutamaan
3. Melatih berbuat amal yang diperintah oleh agama. 
Dan hadits tersebut tidak menghendaki memuliakan anak dengan perhiasan dan kesenangan duniawi

Imam Al-Munawi gives the following examples of how to honour children:
 
1. Teaching children to discipline their desires and cultivate good character.
2. Guiding and encouraging them to pursue virtues.
3. Training them to perform acts of worship and duties commanded by the religion.
 
This hadith does not mean honouring children by showering them with worldly luxuries or material pleasures

التزويج بركة والولد رحمة فأكرموا أولادكم فان كرامة الأولاد عبادة. 
"Menikah Itu berkah dan Anak adalah Rahmat, maka muliakanlah Anak-anak kalian, karena Memuliakan anak itu ibadah"

"Marriage is a blessing, and children are a mercy. Therefore, honour your children, for honouring them is an act of worship"

KEWAJIBAN MENGAJARKAN ADAB DAN ILMU
 
Salah satu hak utama anak yang wajib dipenuhi orang tua adalah memberikan pendidikan adab serta ilmu agama. Oleh karena itu, mendidik anak sejak usia dini merupakan tugas pokok dan tanggung jawab mutlak setiap orang tua.
 
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
 
"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pemimpin kaum adalah pemimpin bagi mereka dan ia akan diminta pertanggungjawaban. Dan laki-laki adalah pemimpin di keluarganya, dan ia pun akan diminta pertanggungjawaban atas mereka."
(HR. Sunan Abi Dawud 3/130)
 
Imam Ibnu Ruslan menjelaskan dalam syarahnya bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya soal nafkah, pakaian, dan kebutuhan fisik keluarga saja. Ia wajib mengajarkan apa yang dibutuhkan anak dalam soal wudhu, shalat, serta urusan agama lainnya. Bahkan, kewajiban mengajarkan ilmu agama jauh lebih utama dibandingkan nafkah dan pakaian. Sebab, nafkah bisa gugur jika orang tua benar-benar tidak mampu, namun kewajiban memberi ilmu tidak gugur. Jika orang tua belum memahaminya, ia wajib belajar terlebih dahulu, bertanya kepada ulama, atau menitipkan anak kepada orang yang mampu mendidiknya.
 
Hal ini juga ditegaskan dalam kitab Fathul Qorib, bahwa di antara hak anak atas orang tuanya adalah bimbingan adab serta pengajaran segala amalan agama yang perlu diketahui dan diamalkan.
 
Dari sini dapat disimpulkan: tugas ayah tidak sekadar memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Ia wajib menanamkan adab mulia dan ilmu agama kepada anak dan istri. Jika orang tua belum memahami atau belum sempat mendidik secara langsung, langkah terbaik adalah menitipkan mereka kepada guru atau ulama yang terpercaya salah satu caranya adalah dengan menyekolahkan ke pondok pesantren

ENGLISH

THE DUTY TO TEACH MANNERS AND KNOWLEDGE
 
One of the fundamental rights of a child that parents must fulfill is providing education in good manners as well as religious knowledge. Therefore, educating children from an early age is the primary task and absolute responsibility of every parent.
 
Rasulullah ﷺ said in a hadith:
 
"Know that every one of you is a guardian, and every one of you will be held accountable for those under your care. The leader of a people is a guardian over them and will be held accountable for them. A man is a guardian over the members of his household, and he too will be held accountable for them."
(Narrated in Sunan Abi Dawud 3/130)
 
In his commentary, Imam Ibnu Ruslan explained that a father will be held accountable in the Hereafter not only for providing livelihood, clothing, and physical needs of his family. He is obliged to teach his children what they need regarding wudu, prayer, and all other religious matters. In fact, the duty to teach religious knowledge is far more important than providing sustenance and clothing. This is because the obligation to provide for physical needs may be lifted if a parent is truly unable, but the duty to impart knowledge can never be excused. If a parent does not yet understand these matters himself, he must learn first, consult learned scholars, or entrust his children to someone who is able to educate them properly.
 
This is also affirmed in the book Fathul Qorib, which states that among the rights of a child over their parents is guidance in noble manners and instruction in all religious practices that they need to know and practice.
 
Thus we may conclude: a father’s duty goes far beyond merely providing food and clothing. He is obliged to instill noble character and religious knowledge in his children and wife. If he lacks the knowledge or cannot teach them directly, the best course is to entrust them to trusted teachers or scholars one proven way being to send them to an Islamic boarding school

DALIL

عن عبد الله بن عمر، أن رسول الله ﷺ قال: «ألا كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير الذي على الناس راع عليهم، وهو مسئول عنهم، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، الحديث. 

Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar, Sesungguhnya Rasulallah Shollallohu 'alaihi wasallam dawuh "Ingat, Setiap kalian itu pemimpin, Dan setiap kalian Akan diminta pertanggungjawaban Dari Rakyatnya. Maka Pemerintah manusia itu pemimpin manusia, Dan ia akan diminta pertanggungjawaban dari mereka. Dan Laki-laki itu pemimpin Ahli baitnya Dan ia akan diminta pertanggungjawaban Dari mereka" (Al-hadits)

It is narrated from Abdullah bin Umar that the Messenger of Allah ﷺ said: "Beware, every one of you is a guardian, and every one of you will be held accountable for those under your care. The ruler over the people is a guardian over them, and he shall be answerable for them. And a man is the guardian of his household, and he shall be answerable for them.' (Hadith)"

والرجل مسؤول عن نفقة زوجته وخادمه وأولاده وكسوتهم وما يحتاجون إليه، وعن تعليمهم ما يحتاجون إليه في صلاتهم ووضوئهم، وما يحتاجون إليه في أمر دينهم وهو أهم من الكسوة والنفقة، فإنها تسقط عنه إذا كان معسرا وعاجزًا عن التكسب،وأما تعليم دينهم فإن لم يعرف فيتعلم ويعلمهم، أو يسأل، أو يسلمهم إلى من يعلمهم عليه. 

"Orang laki-laki akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) tentang nafkah istrinya, pelayan nya, Anak-anak nya. Dan pakaian mereka dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Dan Akan ditanya diakhirat tentang mengajarkan mereka, tentang sesuatu yang mereka butuhkan dalam sholat dan wudhunya. Dan sesuatu yang mereka butuhkan dalam urusan agamanya (Ilmu agama). Dan memenuhi kebutuhan ilmu jauh lebih penting daripada pakaian dan Nafkah. Karena pakaian dan nafakah akan gugur dari seseorang lelaki jika ia tidak mampu bekerja. Apapun ketika seorang laki-laki yang tidak Faham ilmu maka ia harus belajar kemudian mengajarkan istri dan anak-anaknya. Atau dia bertanya kepada orang alim. Atau menghantarkan mereka kepada orang yang mampu mengajarkan agamanya"

"A man will be questioned (held accountable) for providing sustenance, clothing, and all necessary needs for his wife, his dependents, and his children. He will also be questioned in the Hereafter about teaching them what they need to know regarding prayer, ablution, and all other matters of their religion. Fulfilling their need for religious knowledge is far more important than providing clothing and sustenance. This is because the obligation to provide material needs may be lifted if a man is truly unable to earn a living. However, if a man himself lacks this knowledge, he must first learn it so he may teach his wife and children, or consult learned scholars, or entrust them to those who are qualified to teach them their faith"

فائدة: جاء في الحديث وإن لولدك عليك حقا الحديث فيه أن على الأب تأديب ولده وتعليمه ما يحتاج إليه من وظائف الدين

(Faidah) "Telah jelas didalam hadits sesungguhnya ada hak untuk anakmu, hadits yang menerangkan tentang hak anak ialah sesungguhnya bagi seseorang bapak mengajarkan adab kepada anaknya dan mengajarkan anaknya terhadap sesuatu yang ia butuhkan yang berupa amaliyah agama islam"

(Benefit)
"It is clearly established in the hadith that your child has rights over you. Among the rights of a child, as explained in this narration, is that a father must teach his child good manners, and instruct them in all religious practices of Islam that they need to know and practice"

Minggu, 09 Agustus 2026


CARA MENJAGA ISTIQOMAH DALAM MELAKUKAN WIRID

 
Banyak orang ingin rutin berwirid, namun sering kali merasa sulit untuk melakukannya secara istiqomah. Berikut adalah panduan sederhana agar wirid kita dapat terus terjaga, sebagaimana disampaikan oleh para ulama:
 
1. Mulailah dengan Memaksa Diri Sendiri
Sering kali semangat awal saja tidak cukup. Sebagaimana pesan beliau: "Wirid itu jika tidak dipaksakan, maka malas adalah" Di masa awal, kita memang perlu berusaha dan mendorong diri sendiri untuk tetap melaksanakannya, hingga akhirnya tumbuh kebiasaan yang ringan di hati.
 
2. Tetapkan Waktu yang Teratur
Lakukan wirid pada jam yang sama setiap harinya. Beliau menyarankan: "Jika memiliki wirid, hendaklah kamu tentukan waktu yang tetap." Misalnya setelah salat Subuh, atau saat waktu sahur sebelum berpuasa. Dengan waktu yang tetap, hati akan terlatih untuk mengingat dan menantikan momen berwirid tersebut.
 
3. Ganti dan Lengkapi Jika Tertinggal
Apabila suatu hari tidak sempat berwirid karena alasan yang dibolehkan seperti tertidur pulas atau sedang dalam perjalanan jauh maka hendaknya wirid tersebut dipindahkan dan dilengkapi (double hari ini dan yang di tinggalkan) pada hari berikutnya. Jangan dibiarkan begitu saja, agar keteraturan wirid tetap terjaga.
 
Semoga beliau (kiyai) yang telah memberi nasihat ini senantiasa sehat walafiah, diberi umur panjang, dan keberkahan yang melimpah. Aamiin

ENGLISH

HOW TO BE CONSISTENT IN PERFORMING WIRID
 
Many people wish to keep up their daily wirid, yet often find it difficult to stay consistent. Here is simple guidance to help you maintain this practice, as shared by our scholars:
 
1. Start by Disciplining Yourself
Initial enthusiasm alone is often not enough. As the saying goes: "If you do not push yourself to keep doing wirid, laziness will take over." In the beginning, we truly need to make an effort and urge ourselves to carry it out, until it eventually becomes a habit that feels light and natural to the heart.
 
2. Set a Fixed Routine Time
Perform wirid at the same time every day. He advised: "If you keep a wirid, set a regular time for it." For example, right after the Fajr prayer, or at sahur time before fasting. Having a set time trains your heart to remember and look forward to this moment of remembrance.
 
3. Make Up for Missed Sessions
If you are unable to do your wirid for a valid reason such as oversleeping or being away on a journey you should make up for it later, combining the missed portion with your wirid on the next day. Do not simply leave it undone, so that the continuity of your practice remains unbroken.
 
May the honorable Kyai who gave this advice always be in good health, granted a long life, and filled with abundant blessings. Ameen

CARA AGAR WIRIDAN KONSISTEN


CARA MENJAGA ISTIQOMAH DALAM MELAKUKAN WIRID

 
Banyak orang ingin rutin berwirid, namun sering kali merasa sulit untuk melakukannya secara istiqomah. Berikut adalah panduan sederhana agar wirid kita dapat terus terjaga, sebagaimana disampaikan oleh para ulama:
 
1. Mulailah dengan Memaksa Diri Sendiri
Sering kali semangat awal saja tidak cukup. Sebagaimana pesan beliau: "Wirid itu jika tidak dipaksakan, maka malas adalah" Di masa awal, kita memang perlu berusaha dan mendorong diri sendiri untuk tetap melaksanakannya, hingga akhirnya tumbuh kebiasaan yang ringan di hati.
 
2. Tetapkan Waktu yang Teratur
Lakukan wirid pada jam yang sama setiap harinya. Beliau menyarankan: "Jika memiliki wirid, hendaklah kamu tentukan waktu yang tetap." Misalnya setelah salat Subuh, atau saat waktu sahur sebelum berpuasa. Dengan waktu yang tetap, hati akan terlatih untuk mengingat dan menantikan momen berwirid tersebut.
 
3. Ganti dan Lengkapi Jika Tertinggal
Apabila suatu hari tidak sempat berwirid karena alasan yang dibolehkan seperti tertidur pulas atau sedang dalam perjalanan jauh maka hendaknya wirid tersebut dipindahkan dan dilengkapi (double hari ini dan yang di tinggalkan) pada hari berikutnya. Jangan dibiarkan begitu saja, agar keteraturan wirid tetap terjaga.
 
Semoga beliau (kiyai) yang telah memberi nasihat ini senantiasa sehat walafiah, diberi umur panjang, dan keberkahan yang melimpah. Aamiin

ENGLISH

HOW TO BE CONSISTENT IN PERFORMING WIRID
 
Many people wish to keep up their daily wirid, yet often find it difficult to stay consistent. Here is simple guidance to help you maintain this practice, as shared by our scholars:
 
1. Start by Disciplining Yourself
Initial enthusiasm alone is often not enough. As the saying goes: "If you do not push yourself to keep doing wirid, laziness will take over." In the beginning, we truly need to make an effort and urge ourselves to carry it out, until it eventually becomes a habit that feels light and natural to the heart.
 
2. Set a Fixed Routine Time
Perform wirid at the same time every day. He advised: "If you keep a wirid, set a regular time for it." For example, right after the Fajr prayer, or at sahur time before fasting. Having a set time trains your heart to remember and look forward to this moment of remembrance.
 
3. Make Up for Missed Sessions
If you are unable to do your wirid for a valid reason such as oversleeping or being away on a journey you should make up for it later, combining the missed portion with your wirid on the next day. Do not simply leave it undone, so that the continuity of your practice remains unbroken.
 
May the honorable Kyai who gave this advice always be in good health, granted a long life, and filled with abundant blessings. Ameen

Rabu, 05 Agustus 2026


PEMIMPIN ADALAH CERMINAN RAKYATNYA
 
Suatu hari, Imam Hasan Al-Bashri mendengar seseorang sedang mencaci dan mendoakan keburukan gubernur yang kejam saat itu, yaitu Hajjaj bin Yusuf. Beliau pun menasihatinya:
 
"Janganlah engkau berbuat demikian. Sesungguhnya keadaan pemimpin kalian lahir dari perbuatan kalian sendiri. Kami justru khawatir jika Hajjaj dicopot atau meninggal dunia, kalian malah akan dipimpin oleh pemimpin yang lebih buas dan buruk, sebagai balasan atas dosa-dosa kalian."
(Kitab Al-Adabu As-Syariyyah, Ibnu Muflih)
 
Inti pesannya sungguh mendalam: Jika sebuah masyarakat dihuni oleh orang-orang yang baik, taat, dan memegang amanah, maka Allah akan mengangkat pemimpin yang baik pula untuk mereka. Sebaliknya, jika masyarakat gemar bermaksiat, berkhianat, dan melanggar kebenaran, maka akan datanglah pemimpin yang serupa dengan kelakuan mereka.
 
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang tertulis dalam kitab Syu'bul Iman:
 
"Sebagaimana keadaan kalian, begitulah pemimpin yang akan diangkat atas kalian."
 
Allah SWT pun menegaskan hal yang sama dalam Surah Al-An'am ayat 129:
 
"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang zalim menguasai sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka kerjakan."
 
Seringkali kita begitu lihai mengkritik kesalahan pemimpin yang zalim, namun lupa atau enggan untuk memeriksa dan memperbaiki kekurangan dalam diri kita sendiri

ENGLISH 

LEADERS ARE A REFLECTION OF THEIR PEOPLE
 
One day, Imam Hasan Al-Basri heard a man cursing and speaking ill of the cruel governor of that time, Hajjaj bin Yusuf. He then advised him:
 
"Do not do that. Truly, the condition of your leaders comes from your own deeds. We fear that if Hajjaj is removed or passes away, you will instead be ruled by someone even more savage and wicked — a recompense for your sins."
(Kitab Al-Adabu As-Syariyyah by Ibnu Muflih)
 
The core message is profound: when a society consists of good, obedient, and trustworthy people, Allah will appoint good leaders for them. Conversely, if people persist in sin, betrayal, and wrongdoing, they will be given leaders who reflect their own character.
 
This aligns with the saying of the Prophet Muhammad SAW, recorded in Syu'bul Iman:
 
"As you are, so shall those who are placed in authority over you be."
 
Allah SWT confirms this in Surah Al-An'am, verse 129:
 
"And so We make some wrongdoers rule over others, because of what they used to earn."
 
All too often, we are quick to criticize the faults of unjust leaders, yet forget or refuse to examine and correct our own shortcomings

DALIL 

لَا تَفْعَلْ -رَحِمَكَ اللهُ- إِنَّكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أُتِيتُمْ، إِنَّمَا نَخَافُ إِنْ عُزِلَ الْحَجَّاجُ أَوْ مَاتَ أَنْ تَلِيَكُمُ الْقِرَدَةُ وَالْخَنَازِيرُ
Jangan kau lakukan itu. Sesungguhnya (keberadaan Hajjaj) itu karena ulah kalian sendiri. Kami khawatir jika Hajjaj diturunkan atau mati, kalian justru akan dipimpin oleh monyet atau serigala (yang lebih buruk) akibat dosa² kalian. (Kitab Al Adabu As-Syariyyah Karya Ibnu Muflih)

"Do not do that. Truly, Hajjaj is here because of your own deeds. We fear that if he is dismissed or dies, you will instead be ruled by monkeys or wolves even worse leaders because of your sins."
(Kitab Al-Adabu As-Syariyyah by Ibnu Muflih)

كَمَا تَكُونُوا كَذَلِكَ يُؤَمَّرُ عَلَيْكُمْ
Bagaimana keadaan kalian, begitu jugalah pemimpin kalian

"Just as you are, so will your leaders be"

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dzalim itu menguasai sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan

"And thus We cause some of the wrongdoers to dominate others, because of what they used to do"

FAKTA PRESIDEN DALAM KITAB


PEMIMPIN ADALAH CERMINAN RAKYATNYA
 
Suatu hari, Imam Hasan Al-Bashri mendengar seseorang sedang mencaci dan mendoakan keburukan gubernur yang kejam saat itu, yaitu Hajjaj bin Yusuf. Beliau pun menasihatinya:
 
"Janganlah engkau berbuat demikian. Sesungguhnya keadaan pemimpin kalian lahir dari perbuatan kalian sendiri. Kami justru khawatir jika Hajjaj dicopot atau meninggal dunia, kalian malah akan dipimpin oleh pemimpin yang lebih buas dan buruk, sebagai balasan atas dosa-dosa kalian."
(Kitab Al-Adabu As-Syariyyah, Ibnu Muflih)
 
Inti pesannya sungguh mendalam: Jika sebuah masyarakat dihuni oleh orang-orang yang baik, taat, dan memegang amanah, maka Allah akan mengangkat pemimpin yang baik pula untuk mereka. Sebaliknya, jika masyarakat gemar bermaksiat, berkhianat, dan melanggar kebenaran, maka akan datanglah pemimpin yang serupa dengan kelakuan mereka.
 
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang tertulis dalam kitab Syu'bul Iman:
 
"Sebagaimana keadaan kalian, begitulah pemimpin yang akan diangkat atas kalian."
 
Allah SWT pun menegaskan hal yang sama dalam Surah Al-An'am ayat 129:
 
"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang zalim menguasai sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka kerjakan."
 
Seringkali kita begitu lihai mengkritik kesalahan pemimpin yang zalim, namun lupa atau enggan untuk memeriksa dan memperbaiki kekurangan dalam diri kita sendiri

ENGLISH 

LEADERS ARE A REFLECTION OF THEIR PEOPLE
 
One day, Imam Hasan Al-Basri heard a man cursing and speaking ill of the cruel governor of that time, Hajjaj bin Yusuf. He then advised him:
 
"Do not do that. Truly, the condition of your leaders comes from your own deeds. We fear that if Hajjaj is removed or passes away, you will instead be ruled by someone even more savage and wicked — a recompense for your sins."
(Kitab Al-Adabu As-Syariyyah by Ibnu Muflih)
 
The core message is profound: when a society consists of good, obedient, and trustworthy people, Allah will appoint good leaders for them. Conversely, if people persist in sin, betrayal, and wrongdoing, they will be given leaders who reflect their own character.
 
This aligns with the saying of the Prophet Muhammad SAW, recorded in Syu'bul Iman:
 
"As you are, so shall those who are placed in authority over you be."
 
Allah SWT confirms this in Surah Al-An'am, verse 129:
 
"And so We make some wrongdoers rule over others, because of what they used to earn."
 
All too often, we are quick to criticize the faults of unjust leaders, yet forget or refuse to examine and correct our own shortcomings

DALIL 

لَا تَفْعَلْ -رَحِمَكَ اللهُ- إِنَّكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أُتِيتُمْ، إِنَّمَا نَخَافُ إِنْ عُزِلَ الْحَجَّاجُ أَوْ مَاتَ أَنْ تَلِيَكُمُ الْقِرَدَةُ وَالْخَنَازِيرُ
Jangan kau lakukan itu. Sesungguhnya (keberadaan Hajjaj) itu karena ulah kalian sendiri. Kami khawatir jika Hajjaj diturunkan atau mati, kalian justru akan dipimpin oleh monyet atau serigala (yang lebih buruk) akibat dosa² kalian. (Kitab Al Adabu As-Syariyyah Karya Ibnu Muflih)

"Do not do that. Truly, Hajjaj is here because of your own deeds. We fear that if he is dismissed or dies, you will instead be ruled by monkeys or wolves even worse leaders because of your sins."
(Kitab Al-Adabu As-Syariyyah by Ibnu Muflih)

كَمَا تَكُونُوا كَذَلِكَ يُؤَمَّرُ عَلَيْكُمْ
Bagaimana keadaan kalian, begitu jugalah pemimpin kalian

"Just as you are, so will your leaders be"

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dzalim itu menguasai sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan

"And thus We cause some of the wrongdoers to dominate others, because of what they used to do"


PERBEDAAN MAKNA AL-KHOUF (KHAWATIR)
 DAN AL-KHOSYAH (TAKUT)
 
Dalam bahasa Arab, kita sering menjumpai kata الخوف (Khouf) dan الخشية (Khosyah), yang sama-sama sering diterjemahkan sebagai "takut". Padahal, terdapat perbedaan antara keduanya.
 
Para ulama memiliki pandangan beragam mengenai hubungan kedua kata ini: sebagian berpendapat keduanya bukanlah mutaradif (sama makna), sementara yang lain menyebutnya beda lafadz namun memiliki arti yang sama (beda lafadz tunggal makna nya)
 
Dalam kitab Al-Itqon Fii Ulum Al-Qur'an juz 2 halaman 363, dijelaskan:
 
"Salah satu kaidah mengenai lafadz yang disangka bermakna sama padahal berbeda adalah kata Al-Khouf dan Al-Khosyah. Para ahli bahasa telah lama membahasnya, dan tak diragukan lagi bahwa Al-Khosyah derajatnya lebih tinggi daripada Al-Khouf; Khosyah adalah puncak dari ketakutan."
 
Dijelaskan pula perbedaannya:
 
"Khosyah timbul karena besar dan agungnya Dzat yang ditakuti, sekalipun orang yang merasakannya adalah orang yang kuat. Sedangkan Khouf timbul karena lemahnya perasaan orang yang takut, sekalipun yang ditakuti adalah perkara yang kecil."
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan dalam Syarah Asy-Syamail (seperti dikutip dalam Futuhat Ar-Robaniyyah juz 6 halaman 172):
 
"Khouf, Khosyah, Al-Wajal, dan Ar-Rahbah maknanya saling berdekatan. Khouf adalah rasa tersiksa yang menyertai hembusan nafas dan gejolak hati ketika mengingat sesuatu yang menakutkan. Adapun Al-Khosyah lebih khusus daripada Khouf, karena ia adalah ketakutan yang disertai dengan pengetahuan batin (makrifat. Misal wali yang takut sama Allah di seluruh hidup nya)"
 
Dalam Hasyiah Al-Adawi juz 2 halaman 507 pun ditegaskan:
 
"Ada yang berpendapat Khouf dan Khosyah bermakna sama, namun pendapat yang lebih rinci menyatakan: Khouf adalah lari dan gelisahnya hati saat merasakan kedatangan hal yang tidak disukai. Sedangkan Khosyah lebih khusus, yaitu ketakutan yang hanya dimiliki oleh orang yang berilmu mengenal Allah. Khosyah kepada Allah berarti takut akan hukuman-Nya sekaligus memuliakan-Nya dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah berbuat zalim dalam segala ketetapan-Nya. Berbeda dengan ketakutan biasa, yang bisa muncul sekadar karena ancaman orang zalim (ketakutan umum. Misal ke preman bom dll)"

ENGLISH 

THE DIFFERENCE BETWEEN AL-KHOUF AND AL-KHOSYAH
 
In Arabic, we often encounter the words الخوف (Khouf) and الخشية (Khosyah), both commonly translated simply as "fear". Yet there are clear distinctions between the two.
 
Scholars hold varying views on their relationship: some state they are not synonyms, while others note they are different terms that share a core meaning.
 
As explained in Al-Itqon Fii Ulum Al-Qur'an, Volume 2, Page 363:
 
"One principle regarding terms mistakenly thought to share exactly the same meaning concerns Al-Khouf and Al-Khosyah. Linguists have long discussed them, and it is certain that Al-Khosyah is of a higher rank than Al-Khouf; Khosyah is the highest, most profound form of fear."
 
The difference is further clarified:
 
"Khosyah arises from the greatness and majesty of what is feared, even if the one who feels it is strong. Al-Khouf, by contrast, arises from the weakness of the one who fears, even if the thing feared is something small."
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami explains in Syarah Asy-Syamail (cited in Futuhat Ar-Robaniyyah, Volume 6, Page 172):
 
"Khouf, Khosyah, Al-Wajal, and Ar-Rahbah carry related meanings. Khouf is a sense of distress that weighs on one’s breath and agitates the heart when remembering something frightening. Al-Khosyah is more specific: it is fear accompanied by deep spiritual knowledge (ma'rifah for example, the awe a righteous person holds for Allah throughout their life)."
 
In Hasyiah Al-Adawi, Volume 2, Page 507, it is further affirmed:
 
"Some say Khouf and Khosyah are identical in meaning, but a more precise distinction holds: Khouf is the heart’s flight and restlessness at the prospect of something unwanted. Khosyah is far more specific a fear found only in those who truly know Allah. To have Khosyah of Allah is to fear His punishment while also honoring Him, fully certain that He never acts unjustly in any decree. This differs from ordinary fear, which may arise simply from the threat of an oppressor general fear, such as fear of thugs, bombs, and the like"

DALIL 

قَاعِدَةٌ فِي الْأَلْفَاظِ الَّتِي يُظَنُّ بِهَا التَّرَادُفُ وَلَيْسَتْ مِنْهُمِنْ ذَلِكَ الْخَوْفُ وَالْخَشْيَةُ لَا يَكَادُ اللُّغَوِيُّ يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا وَلَا شَكَّ أَنَّ الْخَشْيَةَ أَعْلَى مِنْهُ وَهِيَ أَشَدُّ الْخَوْفِ.

(Kaidah) dalam lafadz-lafadz yang diduga Tunggal Makna, padahal berbeda. Diantaranya ialah Lafadz Khouf dan Khosyah. Ahli bahasa sudah lama membahas tentang keduanya, tidak ada keraguan bahwa Lafadz Al-Khosyah Itu lebih tinggi daripada Al-khouf, Khosyah itu puncak ketakutan

"(A principle concerning terms mistakenly thought to carry a single identical meaning, when in fact they differ.) Among these are the words Khouf and Khosyah. Linguists have long discussed the two, and there is no doubt that the term Al-Khosyah stands on a higher level than Al-Khouf; Khosyah is the pinnacle of fear"

قال ابن حجر الهيتمي في شرح الشمائل: الخوف والخشية والوجل والرهبة متقاربة المعنى فالخوف توقع العقوبة على مجاري الأنفاس واضطراب القلب من ذكر المخوف والخشية أخص منه إذ هي خوف مقرون بمعرفة. 

Imam Ibnu Hajar Al-haitami dawuh dalam Syarah As-syamail "Al- Khouf, Al-khosyah, Al-Wajal, Warrohbah itu Artinya berdekatan. Khouf merasa tersiksa dalam hembusan nafas dan bergejolak hati dari mengingat perkara yang ditakuti, Sedangkan Al-khosyah ialah lebih khusus dari pada Al- Khouf, karena Khosyah ialah Khouf yang disertai dengan makrifat"

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami stated in Syarah Asy-Syamail:
"Al-Khouf, Al-Khosyah, Al-Wajal, and Ar-Rahbah have closely related meanings. Al-Khouf is the distress felt in one’s very breath and the agitation of the heart upon recalling something feared. Al-Khosyah, however, is more specific than Al-Khouf, for it is fear accompanied by deep spiritual knowledge (ma'rifah)"

قال ابن حجر الهيتمي في شرح الشمائل: الخوف والخشية والوجل والرهبة متقاربة المعنى فالخوف توقع العقوبة على مجاري الأنفاس واضطراب القلب من ذكر المخوف والخشية أخص منه إذ هي خوف مقرون بمعرفة. 

Imam Ibnu Hajar Al-haitami dawuh dalam Syarah As-syamail "Al- Khouf, Al-khosyah, Al-Wajal, Warrohbah itu Artinya berdekatan. Khouf merasa tersiksa dalam hembusan nafas dan bergejolak hati dari mengingat perkara yang ditakuti, Sedangkan Al-khosyah ialah lebih khusus dari pada Al- Khouf, karena Khosyah ialah Khouf yang disertai dengan makrifat"

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami stated in Syarah Asy-Syamail: "Al-Khouf, Al-Khosyah, Al-Wajal, and Ar-Rahbah carry related meanings. Khouf is a sense of distress felt with every breath and the agitation of the heart upon remembering what is feared. Al-Khosyah, however, is more specific than Al-Khouf, for it is fear accompanied by true spiritual knowledge (ma'rifah)"

أَنَّ الْخَوْفَ وَالْخَشْيَةَ مُتَرَادِفَانِ، وَقِيلَ: الْخَوْفُ هَرَبُ الْقَلْبِ مِنْ حُلُولِ الْمَكْرُوهِ عِنْدَ اسْتِشْعَارِهِ، وَالْخَشْيَةُ أَخَصُّ مِنْ الْخَوْفِ فَهِيَ لِلْعُلَمَاءِ بِاَللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ خَوْفٌ مَقْرُونٌ بِمَعْرِفَةٍ أَيْ فَخَشْيَةُ اللَّهِ هِيَ خَوْفُ عِقَابِهِ مَعَ تَعْظِيمِهِ بِأَنَّهُ غَيْرُ ظَالِمٍ فِي فِعْلِهِ بِخِلَافِ مُطْلَقِ الْخَوْفِ فَإِنَّهُ يَتَحَقَّقُ عِنْدَ تَهْدِيدِ الظَّالِمِ لَهُ.

Sesungguhnya Khauf dan Khosyah Itu dua lafadz Mutarodif (beda lafal namun satu makna). Dan menurut sebagian ulama "Khauf itu takutnya hati pada datang nya perkara yang tidak disukai ketika merasakan nya. Sedangkan Al-Khosyah itu lebih khusus daripada Khouf, karena Khosyah itu dimiliki oleh ulama billah Ta'ala. Makna Khosyah ialah Khouf yang disertai dengan makrifat. Khosyatulloh ialah takut siksaan Alloh Ta'ala yang disertai mengagungkannya dengan meyakini Alloh bukan Dzat yang dzolim dalam melakukan segalanya. Berbeda dengan Mutlak Khouf, maka Khouf akan tampak ketika adanya ancaman pelaku dzolim padanya"

"Some scholars consider Khouf and Khosyah to be synonyms—different terms sharing the same core meaning. Yet others draw a finer distinction: Khouf is the heart’s fear and unease when sensing that something unwanted is approaching. Al-Khosyah, however, is more specific: it is a fear found only in those who possess true knowledge of Allah. It is fear rooted in deep spiritual awareness (ma'rifah). To have Khosyah of Allah is to fear His punishment while simultaneously holding Him in the highest reverence, fully certain that He never acts unjustly in any matter. This differs from ordinary fear, which may arise simply from facing threats made by oppressors"

MAKNA AROBIAH


PERBEDAAN MAKNA AL-KHOUF (KHAWATIR)
 DAN AL-KHOSYAH (TAKUT)
 
Dalam bahasa Arab, kita sering menjumpai kata الخوف (Khouf) dan الخشية (Khosyah), yang sama-sama sering diterjemahkan sebagai "takut". Padahal, terdapat perbedaan antara keduanya.
 
Para ulama memiliki pandangan beragam mengenai hubungan kedua kata ini: sebagian berpendapat keduanya bukanlah mutaradif (sama makna), sementara yang lain menyebutnya beda lafadz namun memiliki arti yang sama (beda lafadz tunggal makna nya)
 
Dalam kitab Al-Itqon Fii Ulum Al-Qur'an juz 2 halaman 363, dijelaskan:
 
"Salah satu kaidah mengenai lafadz yang disangka bermakna sama padahal berbeda adalah kata Al-Khouf dan Al-Khosyah. Para ahli bahasa telah lama membahasnya, dan tak diragukan lagi bahwa Al-Khosyah derajatnya lebih tinggi daripada Al-Khouf; Khosyah adalah puncak dari ketakutan."
 
Dijelaskan pula perbedaannya:
 
"Khosyah timbul karena besar dan agungnya Dzat yang ditakuti, sekalipun orang yang merasakannya adalah orang yang kuat. Sedangkan Khouf timbul karena lemahnya perasaan orang yang takut, sekalipun yang ditakuti adalah perkara yang kecil."
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan dalam Syarah Asy-Syamail (seperti dikutip dalam Futuhat Ar-Robaniyyah juz 6 halaman 172):
 
"Khouf, Khosyah, Al-Wajal, dan Ar-Rahbah maknanya saling berdekatan. Khouf adalah rasa tersiksa yang menyertai hembusan nafas dan gejolak hati ketika mengingat sesuatu yang menakutkan. Adapun Al-Khosyah lebih khusus daripada Khouf, karena ia adalah ketakutan yang disertai dengan pengetahuan batin (makrifat. Misal wali yang takut sama Allah di seluruh hidup nya)"
 
Dalam Hasyiah Al-Adawi juz 2 halaman 507 pun ditegaskan:
 
"Ada yang berpendapat Khouf dan Khosyah bermakna sama, namun pendapat yang lebih rinci menyatakan: Khouf adalah lari dan gelisahnya hati saat merasakan kedatangan hal yang tidak disukai. Sedangkan Khosyah lebih khusus, yaitu ketakutan yang hanya dimiliki oleh orang yang berilmu mengenal Allah. Khosyah kepada Allah berarti takut akan hukuman-Nya sekaligus memuliakan-Nya dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah berbuat zalim dalam segala ketetapan-Nya. Berbeda dengan ketakutan biasa, yang bisa muncul sekadar karena ancaman orang zalim (ketakutan umum. Misal ke preman bom dll)"

ENGLISH 

THE DIFFERENCE BETWEEN AL-KHOUF AND AL-KHOSYAH
 
In Arabic, we often encounter the words الخوف (Khouf) and الخشية (Khosyah), both commonly translated simply as "fear". Yet there are clear distinctions between the two.
 
Scholars hold varying views on their relationship: some state they are not synonyms, while others note they are different terms that share a core meaning.
 
As explained in Al-Itqon Fii Ulum Al-Qur'an, Volume 2, Page 363:
 
"One principle regarding terms mistakenly thought to share exactly the same meaning concerns Al-Khouf and Al-Khosyah. Linguists have long discussed them, and it is certain that Al-Khosyah is of a higher rank than Al-Khouf; Khosyah is the highest, most profound form of fear."
 
The difference is further clarified:
 
"Khosyah arises from the greatness and majesty of what is feared, even if the one who feels it is strong. Al-Khouf, by contrast, arises from the weakness of the one who fears, even if the thing feared is something small."
 
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami explains in Syarah Asy-Syamail (cited in Futuhat Ar-Robaniyyah, Volume 6, Page 172):
 
"Khouf, Khosyah, Al-Wajal, and Ar-Rahbah carry related meanings. Khouf is a sense of distress that weighs on one’s breath and agitates the heart when remembering something frightening. Al-Khosyah is more specific: it is fear accompanied by deep spiritual knowledge (ma'rifah for example, the awe a righteous person holds for Allah throughout their life)."
 
In Hasyiah Al-Adawi, Volume 2, Page 507, it is further affirmed:
 
"Some say Khouf and Khosyah are identical in meaning, but a more precise distinction holds: Khouf is the heart’s flight and restlessness at the prospect of something unwanted. Khosyah is far more specific a fear found only in those who truly know Allah. To have Khosyah of Allah is to fear His punishment while also honoring Him, fully certain that He never acts unjustly in any decree. This differs from ordinary fear, which may arise simply from the threat of an oppressor general fear, such as fear of thugs, bombs, and the like"

DALIL 

قَاعِدَةٌ فِي الْأَلْفَاظِ الَّتِي يُظَنُّ بِهَا التَّرَادُفُ وَلَيْسَتْ مِنْهُمِنْ ذَلِكَ الْخَوْفُ وَالْخَشْيَةُ لَا يَكَادُ اللُّغَوِيُّ يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا وَلَا شَكَّ أَنَّ الْخَشْيَةَ أَعْلَى مِنْهُ وَهِيَ أَشَدُّ الْخَوْفِ.

(Kaidah) dalam lafadz-lafadz yang diduga Tunggal Makna, padahal berbeda. Diantaranya ialah Lafadz Khouf dan Khosyah. Ahli bahasa sudah lama membahas tentang keduanya, tidak ada keraguan bahwa Lafadz Al-Khosyah Itu lebih tinggi daripada Al-khouf, Khosyah itu puncak ketakutan

"(A principle concerning terms mistakenly thought to carry a single identical meaning, when in fact they differ.) Among these are the words Khouf and Khosyah. Linguists have long discussed the two, and there is no doubt that the term Al-Khosyah stands on a higher level than Al-Khouf; Khosyah is the pinnacle of fear"

قال ابن حجر الهيتمي في شرح الشمائل: الخوف والخشية والوجل والرهبة متقاربة المعنى فالخوف توقع العقوبة على مجاري الأنفاس واضطراب القلب من ذكر المخوف والخشية أخص منه إذ هي خوف مقرون بمعرفة. 

Imam Ibnu Hajar Al-haitami dawuh dalam Syarah As-syamail "Al- Khouf, Al-khosyah, Al-Wajal, Warrohbah itu Artinya berdekatan. Khouf merasa tersiksa dalam hembusan nafas dan bergejolak hati dari mengingat perkara yang ditakuti, Sedangkan Al-khosyah ialah lebih khusus dari pada Al- Khouf, karena Khosyah ialah Khouf yang disertai dengan makrifat"

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami stated in Syarah Asy-Syamail:
"Al-Khouf, Al-Khosyah, Al-Wajal, and Ar-Rahbah have closely related meanings. Al-Khouf is the distress felt in one’s very breath and the agitation of the heart upon recalling something feared. Al-Khosyah, however, is more specific than Al-Khouf, for it is fear accompanied by deep spiritual knowledge (ma'rifah)"

قال ابن حجر الهيتمي في شرح الشمائل: الخوف والخشية والوجل والرهبة متقاربة المعنى فالخوف توقع العقوبة على مجاري الأنفاس واضطراب القلب من ذكر المخوف والخشية أخص منه إذ هي خوف مقرون بمعرفة. 

Imam Ibnu Hajar Al-haitami dawuh dalam Syarah As-syamail "Al- Khouf, Al-khosyah, Al-Wajal, Warrohbah itu Artinya berdekatan. Khouf merasa tersiksa dalam hembusan nafas dan bergejolak hati dari mengingat perkara yang ditakuti, Sedangkan Al-khosyah ialah lebih khusus dari pada Al- Khouf, karena Khosyah ialah Khouf yang disertai dengan makrifat"

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami stated in Syarah Asy-Syamail: "Al-Khouf, Al-Khosyah, Al-Wajal, and Ar-Rahbah carry related meanings. Khouf is a sense of distress felt with every breath and the agitation of the heart upon remembering what is feared. Al-Khosyah, however, is more specific than Al-Khouf, for it is fear accompanied by true spiritual knowledge (ma'rifah)"

أَنَّ الْخَوْفَ وَالْخَشْيَةَ مُتَرَادِفَانِ، وَقِيلَ: الْخَوْفُ هَرَبُ الْقَلْبِ مِنْ حُلُولِ الْمَكْرُوهِ عِنْدَ اسْتِشْعَارِهِ، وَالْخَشْيَةُ أَخَصُّ مِنْ الْخَوْفِ فَهِيَ لِلْعُلَمَاءِ بِاَللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ خَوْفٌ مَقْرُونٌ بِمَعْرِفَةٍ أَيْ فَخَشْيَةُ اللَّهِ هِيَ خَوْفُ عِقَابِهِ مَعَ تَعْظِيمِهِ بِأَنَّهُ غَيْرُ ظَالِمٍ فِي فِعْلِهِ بِخِلَافِ مُطْلَقِ الْخَوْفِ فَإِنَّهُ يَتَحَقَّقُ عِنْدَ تَهْدِيدِ الظَّالِمِ لَهُ.

Sesungguhnya Khauf dan Khosyah Itu dua lafadz Mutarodif (beda lafal namun satu makna). Dan menurut sebagian ulama "Khauf itu takutnya hati pada datang nya perkara yang tidak disukai ketika merasakan nya. Sedangkan Al-Khosyah itu lebih khusus daripada Khouf, karena Khosyah itu dimiliki oleh ulama billah Ta'ala. Makna Khosyah ialah Khouf yang disertai dengan makrifat. Khosyatulloh ialah takut siksaan Alloh Ta'ala yang disertai mengagungkannya dengan meyakini Alloh bukan Dzat yang dzolim dalam melakukan segalanya. Berbeda dengan Mutlak Khouf, maka Khouf akan tampak ketika adanya ancaman pelaku dzolim padanya"

"Some scholars consider Khouf and Khosyah to be synonyms—different terms sharing the same core meaning. Yet others draw a finer distinction: Khouf is the heart’s fear and unease when sensing that something unwanted is approaching. Al-Khosyah, however, is more specific: it is a fear found only in those who possess true knowledge of Allah. It is fear rooted in deep spiritual awareness (ma'rifah). To have Khosyah of Allah is to fear His punishment while simultaneously holding Him in the highest reverence, fully certain that He never acts unjustly in any matter. This differs from ordinary fear, which may arise simply from facing threats made by oppressors"

Selasa, 04 Agustus 2026


MENULIS AYAT SALAM PADA MALAM RABU TERAKHIR
 
Menurut keterangan sebagian ulama terkemuka, segala bencana yang telah tercatat di Lauhil Mahfudz akan diturunkan ke dunia pada malam Rabu terakhir di bulan Shafar.
 
Disebutkan pula, barangsiapa menulis tujuh ayat berisi ucapan Salam ke dalam sebuah wadah seperti gelas atau sejenisnya lalu membilasnya dengan air dan meminum air tersebut, maka ia selamat dan tidak akan terkena bencana yang diturunkan pada malam itu.
 
Berikut adalah ketujuh ayat Salam tersebut:
 
1. Salamun qaulam mir rabbir rahim
Salam, sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang
2. Salamun ala Nuhin fil 'alamin
Keselamatan bagi Nuh di seluruh alam
3. Salamun ala Ibrahim
Keselamatan bagi Ibrahim
4. Salamun ala Musa wa Harun
Keselamatan bagi Musa dan Harun
5. Salamun ala Aal Yaasin
Keselamatan bagi keluarga Yaasin
6. Salamun 'alaikum thibtum fadhkhuluha khalidin
Keselamatan untukmu, berbahagialah, maka masuklah ke dalamnya, kekal kamu di dalamnya
7. Salamun hiya hatta mathla'il fajr
Keselamatan itulah (terus berlanjut) hingga terbit fajar
 
 
 
Sumber: Kitab Nihayatuz Zain, Halaman 67

ENGLISH

WRITING THE VERSES OF PEACE ON THE LAST WEDNESDAY NIGHT
 
According to the accounts of a number of distinguished scholars, all calamities recorded in the Preserved Tablet (Lauhil Mahfudz) are sent down to the earth on the last Wednesday night of the month of Shafar.
 
It is further stated: whoever writes the seven verses containing salutations of Peace upon a vessel such as a glass or the like then rinses it with water and drinks that water, shall be kept safe and shall not be afflicted by the calamities sent down on that night.
 
The seven Verses of Peace are as follows:
 
1. Salamun qaulam mir rabbir rahim
"Peace" a word from the Lord, Most Merciful.
 
2. Salamun ala Nuhin fil 'alamin
Peace be upon Noah, among all beings.
 
3. Salamun ala Ibrahim
Peace be upon Abraham.
 
4. Salamun ala Musa wa Harun
Peace be upon Moses and Aaron.
 
5. Salamun ala Aal Yaasin
Peace be upon the family of Yaasin.
 
6. Salamun 'alaikum thibtum fadhkhuluha khalidin
Peace be upon you; well have you fared; enter here, to dwell forever.
 
7. Salamun hiya hatta mathla'il fajr
All is Peace and shall remain so until the break of dawn.
 
 
 
Source: Kitab Nihayatuz Zain, Page 67

PRAYER

1. Salamun qaulam mir rabbir rahim;
سلام قولا من رب رحيم

2. Salamun ala nuhin fil alamin;
سلام علي نوح في العالمين

3. Salamun ala Ibrahim;
سلام على ابراهيم

4. Salamun ala Musa wa Harun;
سلام علي موسى وهارون

5. Salamun ala IL-Yasin;
سلام على اِلْ ياسين

6. Salamun alaikum thibtum fadhkhuluha khalidin;
سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين

7. Salamun hiya hatta mathla’il fajr.
سلام هي حتى مطلع الفجر

TULIS INI DI MALAM RABU WEKAS DEMI KEAMANAN HIDUP


MENULIS AYAT SALAM PADA MALAM RABU TERAKHIR
 
Menurut keterangan sebagian ulama terkemuka, segala bencana yang telah tercatat di Lauhil Mahfudz akan diturunkan ke dunia pada malam Rabu terakhir di bulan Shafar.
 
Disebutkan pula, barangsiapa menulis tujuh ayat berisi ucapan Salam ke dalam sebuah wadah seperti gelas atau sejenisnya lalu membilasnya dengan air dan meminum air tersebut, maka ia selamat dan tidak akan terkena bencana yang diturunkan pada malam itu.
 
Berikut adalah ketujuh ayat Salam tersebut:
 
1. Salamun qaulam mir rabbir rahim
Salam, sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang
2. Salamun ala Nuhin fil 'alamin
Keselamatan bagi Nuh di seluruh alam
3. Salamun ala Ibrahim
Keselamatan bagi Ibrahim
4. Salamun ala Musa wa Harun
Keselamatan bagi Musa dan Harun
5. Salamun ala Aal Yaasin
Keselamatan bagi keluarga Yaasin
6. Salamun 'alaikum thibtum fadhkhuluha khalidin
Keselamatan untukmu, berbahagialah, maka masuklah ke dalamnya, kekal kamu di dalamnya
7. Salamun hiya hatta mathla'il fajr
Keselamatan itulah (terus berlanjut) hingga terbit fajar
 
 
 
Sumber: Kitab Nihayatuz Zain, Halaman 67

ENGLISH

WRITING THE VERSES OF PEACE ON THE LAST WEDNESDAY NIGHT
 
According to the accounts of a number of distinguished scholars, all calamities recorded in the Preserved Tablet (Lauhil Mahfudz) are sent down to the earth on the last Wednesday night of the month of Shafar.
 
It is further stated: whoever writes the seven verses containing salutations of Peace upon a vessel such as a glass or the like then rinses it with water and drinks that water, shall be kept safe and shall not be afflicted by the calamities sent down on that night.
 
The seven Verses of Peace are as follows:
 
1. Salamun qaulam mir rabbir rahim
"Peace" a word from the Lord, Most Merciful.
 
2. Salamun ala Nuhin fil 'alamin
Peace be upon Noah, among all beings.
 
3. Salamun ala Ibrahim
Peace be upon Abraham.
 
4. Salamun ala Musa wa Harun
Peace be upon Moses and Aaron.
 
5. Salamun ala Aal Yaasin
Peace be upon the family of Yaasin.
 
6. Salamun 'alaikum thibtum fadhkhuluha khalidin
Peace be upon you; well have you fared; enter here, to dwell forever.
 
7. Salamun hiya hatta mathla'il fajr
All is Peace and shall remain so until the break of dawn.
 
 
 
Source: Kitab Nihayatuz Zain, Page 67

PRAYER

1. Salamun qaulam mir rabbir rahim;
سلام قولا من رب رحيم

2. Salamun ala nuhin fil alamin;
سلام علي نوح في العالمين

3. Salamun ala Ibrahim;
سلام على ابراهيم

4. Salamun ala Musa wa Harun;
سلام علي موسى وهارون

5. Salamun ala IL-Yasin;
سلام على اِلْ ياسين

6. Salamun alaikum thibtum fadhkhuluha khalidin;
سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين

7. Salamun hiya hatta mathla’il fajr.
سلام هي حتى مطلع الفجر

Sabtu, 01 Agustus 2026


MENERIMA AMPLOP = MENJUAL AGAMA?
 
Seringkali, ayat ini dijadikan rujukan utama untuk menuduh seseorang "menjual agama":
 
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 41)
 
Menurut Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 halaman 244, makna ayat ini adalah:
 
“Janganlah kalian menyembunyikan kebenaran, memutarbalikkan fakta, atau menutup ilmu yang bermanfaat hanya demi mempertahankan kedudukan atau mengejar keuntungan duniawi yang sedikit (misal kiyai menyuruh santriwati memijit padahal udah jelas jika bukan muhrim bersentuhan fisik walau rambut doang haram), hina, dan akan lenyap.”
 
Lalu, apakah penceramah atau pengajar agama yang menerima amplop atau imbalan bisa disebut menjual agama?
 
Jawabannya: TIDAK. Alasannya:
 
1. Mayoritas ulama masa kini berpendapat hukumnya boleh menerima hadiah, bisyarah, atau ujrah (imbalan) atas kegiatan mengajar dan berdakwah.
2. Istilah "menjual agama" sesungguhnya ditujukan bagi mereka yang menggunakan nama agama untuk membenarkan kemungkaran, menghalalkan yang haram, atau mendukung hal-hal yang bertentangan syariat.
 
Contoh nyata menjual agama adalah menerima keuntungan besar untuk mendukung hal yang bertentangan ajaran agama, seperti liberalisme, perzinahan, atau menghalalkan perbuatan yang dilarang syariat. Orang yang melakukan hal tersebutlah yang layak disebut menjual agama, meskipun ia dipanggil dengan gelar ulama, kyai, guru, atau sebutan mulia lainnya.
 
Sebagaimana ditegaskan Syekh Wahbah az-Zuhaili:
 
“Ulama muta’akhirin berfatwa: diperbolehkan menerima imbalan atas pengajaran Al-Qur’an, tugas menjadi imam, khutbah, adzan, dan seluruh amal ibadah lainnya. Sebab jika mereka harus sibuk bertani, berdagang, atau bekerja di bidang lain untuk menghidupi diri, maka syiar-syiar agama justru akan terbengkalai (gak ada ustadz yang terjun)”
(Subulul Istifadah..., halaman 23)

ENGLISH 

RECEIVING AN ENVELOPE = SELLING ONE'S FAITH?
 
This verse is often cited as the main reference to accuse someone of "selling their faith":
 
“Do not trade My verses for a low price, and fear Me and Me alone.” (QS. Al-Baqarah: 41)
 
According to Tafsir Ibnu Katsir, Volume 1, Page 244, the meaning of this verse is:
 
“Do not hide the truth, twist facts, or conceal beneficial knowledge merely to maintain status or chase small worldly gains such as a religious leader asking a female student to give a massage, even though it is clearly forbidden for non-mahram persons to touch each other, even if only touching hair gains that are base and fleeting.”
 
Then, does a religious speaker or teacher who receives an envelope or remuneration count as selling their faith?
 
The answer is: NO. Here is why:
 
1. The majority of contemporary scholars hold that it is permissible to accept gifts, tokens of appreciation, or ujrah (remuneration) for teaching and preaching.
2. The term "selling one's faith" truly refers to those who use religion to justify wrongdoing, declare what is forbidden as lawful, or support matters contrary to the Shari’ah.
 
A clear example of selling one's faith is accepting large profits to back ideas that contradict religious teachings such as religious liberalism, adultery, or normalizing acts prohibited by Islamic law. Those who do such things are the ones rightly called sellers of faith, even if they are addressed with honorable titles like scholar, Kyai, teacher, or other respected names.
 
As Shaykh Wahbah az-Zuhaili stated:
 
“Later generations of scholars have ruled: it is permissible to accept remuneration for teaching the Qur’an, serving as imam, delivering sermons, calling the adhan, and performing all other acts of worship. For if they had to busy themselves with farming, trading, or other work to earn a living, the symbols of religion would be neglected there would be no one to tend to religious duties.”
(Subulul Istifadah..., Page 23)

DALIL 

وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)

"Do not trade My verses for a low price, and fear Me and Me alone." (QS. Al-Baqarah: 41)

مَعْنَاهُ لَا تَعْتَاضُوا عَنِ الْبَيَانِ وَالْإِيضَاحِ وَنَشْرِ الْعِلْمِ النَّافِعِ فِي النَّاسِ بِالْكِتْمَانِ وَاللَّبْسِ لِتَسْتَمِرُّوا عَلَى رِيَاسَتِكُمْ فِي الدُّنْيَا الْقَلِيلَةِ الْحَقِيرَةِ الزَّائِلَةِ عَنْ قَرِيبٍ
Maknanya, jangan menyembunyikan ilmu dan memutarbalikkan kebenaran hanya demi mempertahankan jabatan atau mengejar keuntungan dunia yang sementara

Its meaning is: do not hide knowledge or twist the truth merely to hold onto position or chase fleeting worldly gain

أَفْتَى الْمُتَأَخِّرُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ بِجَوَازِ أَخْذِ الْأُجْرَةِ عَلَى تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَعَلَى وَظَائِفِ الْإِمَامَةِ وَالْخَطَابَةِ وَالْأَذَانِ وَسَائِرِ الطَّاعَاتِ --- فَلَوْ اشْتَغَلَ بِالِاكْتِسَابِ مِنْ زِرَاعَةٍ أَوْ تِجَارَةٍ أَوْ صِنَاعَةٍ لَزِمَ ضِيَاعُ الْقُرْآنِ وَإِهْمَالُ تِلْكَ الشَّعَائِرِ

Ulama muta’akhirin berfatwa:
Boleh (mubah) bagi seseorang untuk menerima insentif atas pengajaran Al-Quran, tugas mejadi imam shalat, tugas khutbah, tugas adzan, dan seluruh aktivitas keagamaan lain.

Karena bila mereka sibuk bekerja di bidang pertanian, perdagangan, atau atau pertukangan, maka syiar² agama akan terbengkalai"

"Scholars of the later generations have ruled:
It is permissible for a person to receive incentives for teaching the Qur'an, serving as an imam for prayer, delivering sermons, calling the adhan, and performing all other religious duties.
 
For if they were occupied with work in agriculture, trade, or craftsmanship, the symbols of religion would be neglected"

KIYAI MENERIMA GAJI


MENERIMA AMPLOP = MENJUAL AGAMA?
 
Seringkali, ayat ini dijadikan rujukan utama untuk menuduh seseorang "menjual agama":
 
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 41)
 
Menurut Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 halaman 244, makna ayat ini adalah:
 
“Janganlah kalian menyembunyikan kebenaran, memutarbalikkan fakta, atau menutup ilmu yang bermanfaat hanya demi mempertahankan kedudukan atau mengejar keuntungan duniawi yang sedikit (misal kiyai menyuruh santriwati memijit padahal udah jelas jika bukan muhrim bersentuhan fisik walau rambut doang haram), hina, dan akan lenyap.”
 
Lalu, apakah penceramah atau pengajar agama yang menerima amplop atau imbalan bisa disebut menjual agama?
 
Jawabannya: TIDAK. Alasannya:
 
1. Mayoritas ulama masa kini berpendapat hukumnya boleh menerima hadiah, bisyarah, atau ujrah (imbalan) atas kegiatan mengajar dan berdakwah.
2. Istilah "menjual agama" sesungguhnya ditujukan bagi mereka yang menggunakan nama agama untuk membenarkan kemungkaran, menghalalkan yang haram, atau mendukung hal-hal yang bertentangan syariat.
 
Contoh nyata menjual agama adalah menerima keuntungan besar untuk mendukung hal yang bertentangan ajaran agama, seperti liberalisme, perzinahan, atau menghalalkan perbuatan yang dilarang syariat. Orang yang melakukan hal tersebutlah yang layak disebut menjual agama, meskipun ia dipanggil dengan gelar ulama, kyai, guru, atau sebutan mulia lainnya.
 
Sebagaimana ditegaskan Syekh Wahbah az-Zuhaili:
 
“Ulama muta’akhirin berfatwa: diperbolehkan menerima imbalan atas pengajaran Al-Qur’an, tugas menjadi imam, khutbah, adzan, dan seluruh amal ibadah lainnya. Sebab jika mereka harus sibuk bertani, berdagang, atau bekerja di bidang lain untuk menghidupi diri, maka syiar-syiar agama justru akan terbengkalai (gak ada ustadz yang terjun)”
(Subulul Istifadah..., halaman 23)

ENGLISH 

RECEIVING AN ENVELOPE = SELLING ONE'S FAITH?
 
This verse is often cited as the main reference to accuse someone of "selling their faith":
 
“Do not trade My verses for a low price, and fear Me and Me alone.” (QS. Al-Baqarah: 41)
 
According to Tafsir Ibnu Katsir, Volume 1, Page 244, the meaning of this verse is:
 
“Do not hide the truth, twist facts, or conceal beneficial knowledge merely to maintain status or chase small worldly gains such as a religious leader asking a female student to give a massage, even though it is clearly forbidden for non-mahram persons to touch each other, even if only touching hair gains that are base and fleeting.”
 
Then, does a religious speaker or teacher who receives an envelope or remuneration count as selling their faith?
 
The answer is: NO. Here is why:
 
1. The majority of contemporary scholars hold that it is permissible to accept gifts, tokens of appreciation, or ujrah (remuneration) for teaching and preaching.
2. The term "selling one's faith" truly refers to those who use religion to justify wrongdoing, declare what is forbidden as lawful, or support matters contrary to the Shari’ah.
 
A clear example of selling one's faith is accepting large profits to back ideas that contradict religious teachings such as religious liberalism, adultery, or normalizing acts prohibited by Islamic law. Those who do such things are the ones rightly called sellers of faith, even if they are addressed with honorable titles like scholar, Kyai, teacher, or other respected names.
 
As Shaykh Wahbah az-Zuhaili stated:
 
“Later generations of scholars have ruled: it is permissible to accept remuneration for teaching the Qur’an, serving as imam, delivering sermons, calling the adhan, and performing all other acts of worship. For if they had to busy themselves with farming, trading, or other work to earn a living, the symbols of religion would be neglected there would be no one to tend to religious duties.”
(Subulul Istifadah..., Page 23)

DALIL 

وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)

"Do not trade My verses for a low price, and fear Me and Me alone." (QS. Al-Baqarah: 41)

مَعْنَاهُ لَا تَعْتَاضُوا عَنِ الْبَيَانِ وَالْإِيضَاحِ وَنَشْرِ الْعِلْمِ النَّافِعِ فِي النَّاسِ بِالْكِتْمَانِ وَاللَّبْسِ لِتَسْتَمِرُّوا عَلَى رِيَاسَتِكُمْ فِي الدُّنْيَا الْقَلِيلَةِ الْحَقِيرَةِ الزَّائِلَةِ عَنْ قَرِيبٍ
Maknanya, jangan menyembunyikan ilmu dan memutarbalikkan kebenaran hanya demi mempertahankan jabatan atau mengejar keuntungan dunia yang sementara

Its meaning is: do not hide knowledge or twist the truth merely to hold onto position or chase fleeting worldly gain

أَفْتَى الْمُتَأَخِّرُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ بِجَوَازِ أَخْذِ الْأُجْرَةِ عَلَى تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَعَلَى وَظَائِفِ الْإِمَامَةِ وَالْخَطَابَةِ وَالْأَذَانِ وَسَائِرِ الطَّاعَاتِ --- فَلَوْ اشْتَغَلَ بِالِاكْتِسَابِ مِنْ زِرَاعَةٍ أَوْ تِجَارَةٍ أَوْ صِنَاعَةٍ لَزِمَ ضِيَاعُ الْقُرْآنِ وَإِهْمَالُ تِلْكَ الشَّعَائِرِ

Ulama muta’akhirin berfatwa:
Boleh (mubah) bagi seseorang untuk menerima insentif atas pengajaran Al-Quran, tugas mejadi imam shalat, tugas khutbah, tugas adzan, dan seluruh aktivitas keagamaan lain.

Karena bila mereka sibuk bekerja di bidang pertanian, perdagangan, atau atau pertukangan, maka syiar² agama akan terbengkalai"

"Scholars of the later generations have ruled:
It is permissible for a person to receive incentives for teaching the Qur'an, serving as an imam for prayer, delivering sermons, calling the adhan, and performing all other religious duties.
 
For if they were occupied with work in agriculture, trade, or craftsmanship, the symbols of religion would be neglected"

Photo of hand's santri writing

SANTRI MENULIS
 
Ada ungkapan dari seorang santri.. Entah sejak kapan benih hobi menulis itu tumbuh di hati. Saya sadar betul tulisan saya masih jauh dari kata sempurna, namun saya berharap setiap goresan pena perlahan menjadi lebih baik, dan tentunya membawa manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi siapa saja yang membacanya.
 
Dulu, saya hanya suka menulis cerita pendek dan kutipan kata-kata bersajak. Seiring berjalannya waktu dan memasuki usia dewasa, hati mulai tergerak untuk mencoba menulis karya yang lebih serius berupa tulisan keilmuan.
 
Ketika menempuh jenjang Aliyyah, saya memberanikan diri menyusun terjemahan beserta penjelasan untuk kitab Syarah Mukhtasar Jiddan. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah karya itu dapat diselesaikan hingga tuntas. Selanjutnya saya melanjutkan menyusun terjemahan Kitab Shorof Al-Kailani, lengkap dengan bagan dan pola dasar kaidah shorof. Namun saat sampai di Bab Fi'il Amar, entah mengapa hati tergerak untuk menundanya sebentar padahal sisa bab yang harus diselesaikan tinggal sedikit saja.
 
Bagi para orang tua maupun pelajar, baik yang menuntut ilmu di pondok pesantren maupun sekolah formal, ketahuilah bahwa ada keutamaan yang luar biasa bagi mereka yang gemar menuliskan kembali ilmu yang dipelajari. Imam As-Suyuthi mengutip perkataan para ulama dalam kitab Al-Muhadhorot Wa Al-Muhawarot juz 1 halaman 375:
 
Syekh Nu'aim bin Al-Haishim berkata: "Saya mendengar sebagian ulama kami bersabda: Tinta penuntut ilmu yang ia tuliskan semata karena Allah Azza wa Jalla, nilainya di sisi Allah setara dengan darah para syuhada"

ENGLISH 

A SANTRI WRITES
 
Words from a santri... I cannot recall exactly when the love for writing first took root in my heart. I am fully aware that my writings are still far from perfect, yet I hope that with every stroke of the pen, they gradually grow better—and most of all, bring benefit to myself and to everyone who reads them.
 
In the past, I only enjoyed writing short stories and poetic quotes. But as time passed and I grew into adulthood, my heart was moved to try writing more serious works of knowledge.
 
While studying at the Aliyyah level, I gathered the courage to compile a translation and explanation for the book Syarah Mukhtasar Jiddan. All praise is due to Allah, by His grace I was able to complete it fully. After that, I continued working on the translation of Kitab Shorof Al-Kailani, complete with charts and basic patterns of Arabic grammar rules. Yet when I reached the chapter of Fi'il Amar, for some reason my heart inclined to pause for a while—even though only a small part remained to be finished.
 
To all parents and students, whether you seek knowledge in Islamic boarding schools or formal schools: know that there is immense virtue for those who love to write down the knowledge they learn. Imam As-Suyuthi quoted the words of the scholars in the book Al-Muhadhorot Wa Al-Muhawarot, Volume 1, Page 375:
 
Sheikh Nu'aim bin Al-Haishim said: "I heard some of our scholars say: The ink of the seeker of knowledge, which he writes solely for the sake of Allah Azza wa Jalla, holds equal weight in the sight of Allah as the blood of the martyrs"

DALIL 

وقال نعيم بن الهيصم في جزئه، سمعت بعض أصحابنا يقول: مداد طالب العلم لله عز وجل عند الله عز وجل كدم الشهداء. 

Syekh Nu'aim bin Al-haishim : Saya mendengar sebagian ulama kami berkata "Tintanya orang yang mengaji karena Alloh Azza wajalla bagi Alloh itu sama seperti Darahnya Orang yang mati syahid"

Sheikh Nu'aim bin Al-Haishim said: I heard some of our scholars say: "The ink of the one who seeks knowledge for the sake of Allah Azza wa Jalla is equal in the sight of Allah to the blood of those who die as martyrs"

PETENG KITAB, PADANG ATI
 
Pernah Romo Kiyai bercerita tentang para guru beliau, dengan keunikan cara mereka menata kitab: Ada tipe Kiyai yang kitab-kitabnya tampak bersih tanpa makna Jawa gandul, seperti kitab milik Simbah Yai Zamroji Kencong Allahu yarham kalau ada tulisan pun hanya berupa satu-dua kata di beberapa halaman saja. Ada juga yang sebagian kitabnya diberi makna, sebagian lagi dibiarkan kosong, seperti kitab Simbah Yai Mushlih Mranggen Allahu yarham. Dan ada pula yang kitabnya penuh makna rapi dengan bahasa yang fasih, seperti milik Simbah Yai Djamaluddin Batokan Allahu yarham.
 
Romo Kiyai sama sekali bukan bermaksud membandingkan siapa lebih baik. Beliau justru ingin menunjukkan keindahan perbedaan cara memahami ilmu, agar menjadi pelajaran dan prinsip bagi kita para pengikut nya. Sesuai ungkapan yang beliau kutip dalam Idhoh An-Nasi'in: "Pengalaman adalah ilmu yang didapat secara cuma-cuma."
 
Pilihan Romo Kiyai yang berpegang pada prinsip "kitab harus penuh makna" pun bukan tanpa alasan. Beliau mendapat pesan khusus dari gurunya, Simbah Yai Zamroji, agar senantiasa menata kitab baik yang kecil maupun yang besar ukurannya. Dari situlah tumbuh tekad beliau: setiap kitab yang dipelajari, baik yang diajarkan langsung oleh guru maupun yang dipelajari sendiri, harus tertata maknanya dengan lengkap (buat dakwah)
 
Terakhir, saya menemukan sebuah ungkapan indah yang maknanya sangat selaras dengan peribahasa "Peteng kitab padang ati". Dikutip oleh Syekh Murtadho Az-Zabidi (penulis Ittihaf Syarah Ihya Ulumiddin) dalam karyanya Hikmah Al-Isroq halaman 51:
 
"Rupa tinta di mata fisik tampak hitam, namun di mata hati ia bersinar putih. Tinta adalah salah satu rukun penulisan, dan dengannyalah ilmu diabadikan serta dijadikan pegangan."

ENGLISH

DARK INK, BRIGHT HEART
 
Romo Kiyai once shared stories about his teachers and the unique ways they cared for their books: There were scholars whose books remained clean, free from handwritten notes in Javanese such as the collections of Simbah Yai Zamroji of Kencong, may Allah have mercy on him; if any writing appeared at all, it was only one or two words scattered across a few pages. Others wrote notes in some parts of their books and left the rest blank, like the works of Simbah Yai Mushlih of Mranggen, may Allah have mercy on him. And there were those whose books were filled with neat, clear notes written in eloquent language, such as those belonging to Simbah Yai Djamaluddin of Batokan, may Allah have mercy on him.
 
Romo Kiyai never intended to compare or judge who was better. Instead, he wanted to show the beauty of these different ways of understanding knowledge, so that we his students could take them as lessons and guiding principles. As the saying he quoted from Idhoh An-Nasi'in goes: "Experience is knowledge gained freely."
 
His own principle—that "books should be filled with notes" was not chosen without reason. He received a special message from his teacher, Simbah Yai Zamroji, to always organize and preserve every book he studied, whether small or large. From that instruction grew his firm resolve: every book he learned from whether taught directly by a teacher or studied on his own must be fully annotated, so that the knowledge can be shared for the sake of spreading truth.
 
Finally, I found a beautiful saying that perfectly echoes the wisdom of "Dark ink on the page, bright light in the heart". It was recorded by Sheikh Murtadha Az-Zabidi (author of Ittihaf Syarah Ihya Ulumiddin) in his work Hikmah Al-Isroq, page 51:
 
"Ink appears black to the eyes of the body, but shines pure white to the eyes of the heart. Ink is one of the foundations of writing; through it, knowledge is preserved and becomes a guide for all"

DALIL

وقال آخر: صورة المداد في الأبصار سوداء، وفي البصائر بيضاء. والمداد ركن من أركان الكتابة وعليه معول الكتاب. 

Ulama yang lain berkata "Rupa tinta dalam penglihatan mata itu hitam, dan dalam pandangan hati tinta terlihat putih.Tinta ialah Rukun dari rukun-rukunya Menulis, Dan Karena tinta kitab dijadikan pegangan"

Another scholar said: ''Ink appears black to the eyes of the body, but shines white to the insight of the heart. Ink is one of the fundamental pillars of writing, and it is through ink that books become a lasting guide"

MEMBACA KITAB ULAMA
 
Seorang santri berkata.. Saya teringat nasihat berharga dari salah satu guru saya: Membaca karya para ulama itu bukan sekadar memahami ilmu semata, melainkan seolah kita sedang mengenali pemikiran, amal, gaya bahasa, hingga kepribadian penulisnya. Itulah sebabnya, watak dan perilaku seseorang perlahan bisa terbentuk meniru apa yang sering ia baca dan pahami. (Terbiasa)
 
Nasihat ini sejalan dengan penjelasan Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-Muwafaqat juz 1 halaman 147. Beliau menyatakan bahwa membaca karya ulama akan mendatangkan manfaat besar, asalkan memenuhi dua syarat utama:
 
1. Pembaca wajib memahami maksud ilmu yang dibahas, serta mengenali istilah-istilah khusus yang digunakan oleh penulis atau disiplin di bidang tersebut. Hal ini biasanya didapat dengan cara mengaji langsung bersama ulama atau melalui upaya lain yang tepat.
2. Bersungguh-sungguh mendalami kitab karya ulama terdahulu (Mutaqodimin), yang kebenaran, kedalaman, dan kevalidan ilmunya sudah teruji dan tidak diragukan lagi sepanjang masa. (Misal imam syafi'i. Atau Syaikh Nawawi Al bantani)

ENGLISH 

READING THE WORKS OF THE SCHOLARS
 
Words from a santri... I recall a precious piece of advice from one of my teachers: Reading the works of the scholars is not merely about understanding knowledge. It is as if we are coming to know their thoughts, their practice, their way of language, and even their noble character. This is why a person’s nature and conduct are gradually shaped, growing accustomed to mirroring what they often read and truly understand.
 
This advice aligns perfectly with the explanation given by Imam Asy-Syatibi in his book Al-Muwafaqat, Volume 1, Page 147. He states that reading the works of scholars brings immense benefit, provided it meets two essential conditions:
 
1. The reader must grasp the core meaning of the knowledge being discussed, and recognize the specific terms used by the author or within that field of study. This is usually attained by studying directly under qualified scholars, or through other proper means of learning.
2. To delve earnestly into the books written by the earlier scholars (Mutaqodimin), whose truth, depth, and scholarly integrity have stood the test of time and are beyond doubt such as Imam Asy-Syafi’i, or Sheikh Nawawi Al-Bantani

MENEMPA ILMU AGAR TETAP LESTARI
 
Seorang santri berkata. Belakangan ini, Madrasah saya sedang melaksanakan kegiatan Taftisan Kitab bagi para santri, yang disesuaikan dengan jenjang kelas masing-masing. Agenda ini rutin digelar menjelang ujian semester, baik semester ganjil maupun genap, bertujuan untuk memantau dan memastikan proses belajar berjalan dengan maksimal. Seperti ungkapan sederhana seorang ustadz: "Taftisan itu supaya santri semakin rajin, usaha dan otomatis semakin banyak manfaat nya, hehe."
 
Secara bahasa, menurut Kamus Lisan Al-'Arab jilid 6 halaman 325, kata Taftisan adalah bentuk masdar dari kata dasar Fattasa-Yufattisyu-Taftisyan, yang berarti mencari atau meneliti sesuatu. Dalam konteks ini, maksudnya adalah guru meneliti makna, maksud, dan penjelasan dari kitab yang telah dipelajari dan dicatat oleh santri.
 
Makna dan hikmah kegiatan ini baru saya pahami sepenuhnya setelah menempuh pendidikan di bidang Tarbiyyah. Taftisan mengajarkan kepada santri betapa pentingnya mencatat dan menuliskan kembali ilmu yang telah dipelajari sesuatu yang Insya Allah akan membawa manfaat besar di dunia maupun akhirat.
 
Sebagaimana nasihat yang dikutip Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Muroqi Al-'Ubudiyyah halaman 138:
 
"Tidak ada seorang penulis yang abadi, ia pasti akan binasa. Namun tulisan tangannya akan tetap lestari sepanjang masa. Maka janganlah engkau menulis sesuatu yang kelak akan menyesalkanmu, melainkan tulislah hal yang akan membahagiakanmu saat berjumpa Allah di hari kiamat."
 
Imam Al-Mawardi juga mengutip perkataan Syekh Ja'far bin Yahya dalam kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din halaman 60:
 
"Tulisan adalah benang bagi hikmah. Melalui tulisan, serpihan ilmu dapat disambung, dan uraian hikmah yang berserakan dapat tersusun dengan rapi."
 
Masih banyak manfaat lain dari menuliskan ilmu yang telah dijelaskan para ulama. Semoga tulisan singkat ini menjadi motivasi bagi saya pribadi, para santri, serta orang tua agar senantiasa menyemangati anak-anak untuk tekun mengaji dan mencatat setiap ilmu yang didapat. Aamiin

ENGLISH 

FORGING KNOWLEDGE TO LAST ETERNALLY
 
A student shares: Lately, my madrasah has been holding Taftisan Kitab sessions for all students, tailored to each class level. This activity is routinely held before the semester exams, both odd and even terms, to monitor and ensure that the learning process runs as effectively as possible. As a teacher simply put it: "Taftisan is meant to make students more diligent, put in more effort, and automatically gain greater benefits from it, hehe."
 
Etymologically, according to Lisan Al-'Arab Dictionary Volume 6, page 325, the word Taftisan is a verbal noun derived from the root Fattasa-Yufattisyu-Taftisyan, which means to seek out or examine something thoroughly. In this context, it refers to teachers carefully reviewing the meaning, intent, and explanations of the books that students have studied and recorded.
 
I only fully understood the true meaning and wisdom behind this practice after completing my studies in Tarbiyyah (Islamic education). Taftisan teaches students the vital importance of recording and writing down the knowledge they have learned something that, God willing, will bring immense benefits in this world and the hereafter.
 
As the advice quoted by Shaykh Nawawi Al-Bantani in his book Muroqi Al-'Ubudiyyah, page 138:
 
"No writer is immortal; every person will eventually perish. Yet what their hands have written will remain forever. So never write anything that you will regret later only write what will bring you joy when you meet Allah on the Day of Judgment."
 
Imam Al-Mawardi also cited the words of Shaykh Ja'far bin Yahya in Adab Ad-Dunya wa Ad-Din, page 60:
 
"Writing is the thread of wisdom. Through writing, scattered fragments of knowledge are connected, and dispersed insights are arranged into an orderly whole."
 
There are many more benefits of recording knowledge that have been explained by the scholars. May this short reflection serve as motivation for myself, fellow students, and all parents to always encourage our children to be diligent in seeking knowledge and to record every lesson they learn. Ameen

DALIL 

كما قال ذو النون المصري نظما من بحر الوافر:
وما من كاتب إلا سيبلى # وَيَبْقَى الدَّهْرُ مَا كَتَبَتْ يَدَاهُ
 فَلا تَكْتُبْ بِكَفِّكَ غَيْرَ شَيْءٍ # يَسُرُّكَ فِي الْقِيَامَةِ أَنْ تَرَاهُ

"Tidak ada seorang penulis terkecuali dia akan Rusak (mati), Dan tulisan tanganya akan tetap lestari dengan berjalannya waktu. Maka dari itu, janganlah menulis dengan telapak tangan mu selain sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di hari kiamat nanti"

"Every writer will eventually pass away, but what their hands have written endures through time. Therefore, do not write anything with your hands except that which will bring you joy on the Day of Judgment"

وقال جعفر بن يحيى: الخط سمط الحكمة به يفصل شذورها، وينظم منثورها.

Syekh Ja'far Bin Yahya berkata "Tulisan ialah Benang hikmah. sebab dengan tulisan serpihan-serpihan hikmah akan tersambung dan uraian-uraian hikmah akan tersusun

Writing is the thread of wisdom; for through writing, fragments of wisdom are connected, and scattered words of wisdom are arranged in order

ANJURAN MENGHAROKATI KITAB
 
Mengharokati kitab gundul sangatlah bermanfaat, bahkan bagi mereka yang sudah memahami dan hafal. Hal ini penting karena kita tidak pernah tahu kondisi ingatan kita di masa depan apakah tetap utuh atau perlahan berkurang.
 
Para ulama terdahulu pun telah membahas anjuran mengharokati kitab. Imam An-Nawawi menulis dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab jilid 2 halaman 71:
 
“Disunnahkan memberi titik dan mengharokati mushaf, karena hal demikian menjaga mushaf dari lahn (salah baca) dan kekeliruan”
 
Istilah Asy-Syaklu yang dimaksud berarti:
 
“Menuliskan harokat, sukun, tasydid, dan tanda mad.” (Tartib Al-Ulum, halaman 134)
 
Sementara itu, Imam Jalaluddin As-Suyuti menjelaskan sejarah penulisan harokat di masa awal, dan mengutip pendapat Imam Ibnu Mujahid dalam kitab Al-Itqon halaman 185:
 
“Seyogyanya seseorang hanya mengharokati lafadz yang musykil (sulit dibaca) saja”
 
Ulama masa kini menjelaskan bahwa pendapat ini berlaku untuk kitab selain Mushaf Al-Qur’an. Khusus untuk Mushaf Al-Qur’an, anjurannya tetap mengikuti pendapat Imam An-Nawawi seperti yang telah dikemukakan. Sebagaimana tertulis dalam Mausu’ah Al-Fiqhiyyah jilid 15 halaman 38:
 
“Adapun untuk kitab selain Mushaf Al-Qur’an, maka dipegang pendapat Imam Ibnu Mujahid dan Ad-Dani"

ENGLISH 

THE RECOMMENDATION TO ADD VOWEL MARKS TO ARABIC BOOKS
 
Adding vowel marks to unvowelled Arabic books is extremely beneficial, even for those who already understand and have memorized their contents. This is important because we never know the condition of our memory in the future—whether it will remain intact or gradually fade.
 
Scholars of the past have also discussed this recommendation. Imam An-Nawawi wrote in his work Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Volume 2, Page 71:
 
"It is recommended to place dots and add vowel marks to the mus'haf, for this protects it from lahn (mispronunciation) and error."
 
The term Asy-Syaklu refers to:
 
"Writing vowels, sukun, tasydid, and mad marks." (Tartib Al-Ulum, Page 134)
 
Meanwhile, Imam Jalaluddin As-Suyuti explained the history of vowel writing in the early era, and quoted the opinion of Imam Ibnu Mujahid in Al-Itqon, Page 185:
 
"One should only add vowel marks to words that are musykil (difficult to read)."
 
Contemporary scholars clarify that this opinion applies to books other than the Holy Qur'an. Specifically for the Qur'an, the recommendation remains in accordance with Imam An-Nawawi’s view as stated above. As noted in Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Volume 15, Page 38:
 
"As for books other than the mus'haf, the opinion of Imam Ibnu Mujahid and Ad-Dani is followed"

DALIL 

وَيُسْتَحَبُّ نَقْطُ الْمُصْحَفِ وَشَكْلُهُ لِأَنَّهُ صِيَانَةٌ لَهُ مِنْ اللَّحْنِ وَالتَّحْرِيفِ

"Disunnahkan Memberi Titik pada mushaf dan mengharakatinya, Karena hal demikian menjaga Mushaf dari Lahn (Salah Baca) dan keliru"

"It is recommended to place dots and add vowel marks to the mus'haf, for this protects it from lahn (mispronunciation) and error"

والمراد من الشكل: هو رسم الحركات والسكون والتشديد والمد

"Maksud Asy-syaklu ialah Menulis Harokat, sukun, Tasydid dan Mad".(lihat Tartib Al-ulum 134)

"The meaning of Asy-Syaklu is writing vowels, sukun, tasydid, and mad marks." (See Tartib Al-'Ulum, page 134)

وقال ابن مجاهد: ينبغي ألا يشكل إلا ما يشكل

Imam Ibnu mujahid dawuh "Seyogyanya seseorang tidak mengharokati terkecuali lafadz yang musykil (Sulit)"

Imam Ibnu Mujahid said: "One should only add vowel marks to words that are musykil (difficult to read)"

وَأَمَّا فِي غَيْرِهَا فَالْعَمَل عَلَى قَوْل ابْنِ مُجَاهِدٍ وَالدَّانِيِّ.

"Adapun mengharokati selain Mushaf maka Mengikuti Pendapat Imam Ibnu mujahid dan Ad-dani"

"As for adding vowel marks to texts other than the Mushaf, the opinion of Imam Ibnu Mujahid and Ad-Dani is followed"

PAHALA MENULIS

Photo of hand's santri writing

SANTRI MENULIS
 
Ada ungkapan dari seorang santri.. Entah sejak kapan benih hobi menulis itu tumbuh di hati. Saya sadar betul tulisan saya masih jauh dari kata sempurna, namun saya berharap setiap goresan pena perlahan menjadi lebih baik, dan tentunya membawa manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi siapa saja yang membacanya.
 
Dulu, saya hanya suka menulis cerita pendek dan kutipan kata-kata bersajak. Seiring berjalannya waktu dan memasuki usia dewasa, hati mulai tergerak untuk mencoba menulis karya yang lebih serius berupa tulisan keilmuan.
 
Ketika menempuh jenjang Aliyyah, saya memberanikan diri menyusun terjemahan beserta penjelasan untuk kitab Syarah Mukhtasar Jiddan. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah karya itu dapat diselesaikan hingga tuntas. Selanjutnya saya melanjutkan menyusun terjemahan Kitab Shorof Al-Kailani, lengkap dengan bagan dan pola dasar kaidah shorof. Namun saat sampai di Bab Fi'il Amar, entah mengapa hati tergerak untuk menundanya sebentar padahal sisa bab yang harus diselesaikan tinggal sedikit saja.
 
Bagi para orang tua maupun pelajar, baik yang menuntut ilmu di pondok pesantren maupun sekolah formal, ketahuilah bahwa ada keutamaan yang luar biasa bagi mereka yang gemar menuliskan kembali ilmu yang dipelajari. Imam As-Suyuthi mengutip perkataan para ulama dalam kitab Al-Muhadhorot Wa Al-Muhawarot juz 1 halaman 375:
 
Syekh Nu'aim bin Al-Haishim berkata: "Saya mendengar sebagian ulama kami bersabda: Tinta penuntut ilmu yang ia tuliskan semata karena Allah Azza wa Jalla, nilainya di sisi Allah setara dengan darah para syuhada"

ENGLISH 

A SANTRI WRITES
 
Words from a santri... I cannot recall exactly when the love for writing first took root in my heart. I am fully aware that my writings are still far from perfect, yet I hope that with every stroke of the pen, they gradually grow better—and most of all, bring benefit to myself and to everyone who reads them.
 
In the past, I only enjoyed writing short stories and poetic quotes. But as time passed and I grew into adulthood, my heart was moved to try writing more serious works of knowledge.
 
While studying at the Aliyyah level, I gathered the courage to compile a translation and explanation for the book Syarah Mukhtasar Jiddan. All praise is due to Allah, by His grace I was able to complete it fully. After that, I continued working on the translation of Kitab Shorof Al-Kailani, complete with charts and basic patterns of Arabic grammar rules. Yet when I reached the chapter of Fi'il Amar, for some reason my heart inclined to pause for a while—even though only a small part remained to be finished.
 
To all parents and students, whether you seek knowledge in Islamic boarding schools or formal schools: know that there is immense virtue for those who love to write down the knowledge they learn. Imam As-Suyuthi quoted the words of the scholars in the book Al-Muhadhorot Wa Al-Muhawarot, Volume 1, Page 375:
 
Sheikh Nu'aim bin Al-Haishim said: "I heard some of our scholars say: The ink of the seeker of knowledge, which he writes solely for the sake of Allah Azza wa Jalla, holds equal weight in the sight of Allah as the blood of the martyrs"

DALIL 

وقال نعيم بن الهيصم في جزئه، سمعت بعض أصحابنا يقول: مداد طالب العلم لله عز وجل عند الله عز وجل كدم الشهداء. 

Syekh Nu'aim bin Al-haishim : Saya mendengar sebagian ulama kami berkata "Tintanya orang yang mengaji karena Alloh Azza wajalla bagi Alloh itu sama seperti Darahnya Orang yang mati syahid"

Sheikh Nu'aim bin Al-Haishim said: I heard some of our scholars say: "The ink of the one who seeks knowledge for the sake of Allah Azza wa Jalla is equal in the sight of Allah to the blood of those who die as martyrs"

PETENG KITAB, PADANG ATI
 
Pernah Romo Kiyai bercerita tentang para guru beliau, dengan keunikan cara mereka menata kitab: Ada tipe Kiyai yang kitab-kitabnya tampak bersih tanpa makna Jawa gandul, seperti kitab milik Simbah Yai Zamroji Kencong Allahu yarham kalau ada tulisan pun hanya berupa satu-dua kata di beberapa halaman saja. Ada juga yang sebagian kitabnya diberi makna, sebagian lagi dibiarkan kosong, seperti kitab Simbah Yai Mushlih Mranggen Allahu yarham. Dan ada pula yang kitabnya penuh makna rapi dengan bahasa yang fasih, seperti milik Simbah Yai Djamaluddin Batokan Allahu yarham.
 
Romo Kiyai sama sekali bukan bermaksud membandingkan siapa lebih baik. Beliau justru ingin menunjukkan keindahan perbedaan cara memahami ilmu, agar menjadi pelajaran dan prinsip bagi kita para pengikut nya. Sesuai ungkapan yang beliau kutip dalam Idhoh An-Nasi'in: "Pengalaman adalah ilmu yang didapat secara cuma-cuma."
 
Pilihan Romo Kiyai yang berpegang pada prinsip "kitab harus penuh makna" pun bukan tanpa alasan. Beliau mendapat pesan khusus dari gurunya, Simbah Yai Zamroji, agar senantiasa menata kitab baik yang kecil maupun yang besar ukurannya. Dari situlah tumbuh tekad beliau: setiap kitab yang dipelajari, baik yang diajarkan langsung oleh guru maupun yang dipelajari sendiri, harus tertata maknanya dengan lengkap (buat dakwah)
 
Terakhir, saya menemukan sebuah ungkapan indah yang maknanya sangat selaras dengan peribahasa "Peteng kitab padang ati". Dikutip oleh Syekh Murtadho Az-Zabidi (penulis Ittihaf Syarah Ihya Ulumiddin) dalam karyanya Hikmah Al-Isroq halaman 51:
 
"Rupa tinta di mata fisik tampak hitam, namun di mata hati ia bersinar putih. Tinta adalah salah satu rukun penulisan, dan dengannyalah ilmu diabadikan serta dijadikan pegangan."

ENGLISH

DARK INK, BRIGHT HEART
 
Romo Kiyai once shared stories about his teachers and the unique ways they cared for their books: There were scholars whose books remained clean, free from handwritten notes in Javanese such as the collections of Simbah Yai Zamroji of Kencong, may Allah have mercy on him; if any writing appeared at all, it was only one or two words scattered across a few pages. Others wrote notes in some parts of their books and left the rest blank, like the works of Simbah Yai Mushlih of Mranggen, may Allah have mercy on him. And there were those whose books were filled with neat, clear notes written in eloquent language, such as those belonging to Simbah Yai Djamaluddin of Batokan, may Allah have mercy on him.
 
Romo Kiyai never intended to compare or judge who was better. Instead, he wanted to show the beauty of these different ways of understanding knowledge, so that we his students could take them as lessons and guiding principles. As the saying he quoted from Idhoh An-Nasi'in goes: "Experience is knowledge gained freely."
 
His own principle—that "books should be filled with notes" was not chosen without reason. He received a special message from his teacher, Simbah Yai Zamroji, to always organize and preserve every book he studied, whether small or large. From that instruction grew his firm resolve: every book he learned from whether taught directly by a teacher or studied on his own must be fully annotated, so that the knowledge can be shared for the sake of spreading truth.
 
Finally, I found a beautiful saying that perfectly echoes the wisdom of "Dark ink on the page, bright light in the heart". It was recorded by Sheikh Murtadha Az-Zabidi (author of Ittihaf Syarah Ihya Ulumiddin) in his work Hikmah Al-Isroq, page 51:
 
"Ink appears black to the eyes of the body, but shines pure white to the eyes of the heart. Ink is one of the foundations of writing; through it, knowledge is preserved and becomes a guide for all"

DALIL

وقال آخر: صورة المداد في الأبصار سوداء، وفي البصائر بيضاء. والمداد ركن من أركان الكتابة وعليه معول الكتاب. 

Ulama yang lain berkata "Rupa tinta dalam penglihatan mata itu hitam, dan dalam pandangan hati tinta terlihat putih.Tinta ialah Rukun dari rukun-rukunya Menulis, Dan Karena tinta kitab dijadikan pegangan"

Another scholar said: ''Ink appears black to the eyes of the body, but shines white to the insight of the heart. Ink is one of the fundamental pillars of writing, and it is through ink that books become a lasting guide"

MEMBACA KITAB ULAMA
 
Seorang santri berkata.. Saya teringat nasihat berharga dari salah satu guru saya: Membaca karya para ulama itu bukan sekadar memahami ilmu semata, melainkan seolah kita sedang mengenali pemikiran, amal, gaya bahasa, hingga kepribadian penulisnya. Itulah sebabnya, watak dan perilaku seseorang perlahan bisa terbentuk meniru apa yang sering ia baca dan pahami. (Terbiasa)
 
Nasihat ini sejalan dengan penjelasan Imam Asy-Syatibi dalam kitab Al-Muwafaqat juz 1 halaman 147. Beliau menyatakan bahwa membaca karya ulama akan mendatangkan manfaat besar, asalkan memenuhi dua syarat utama:
 
1. Pembaca wajib memahami maksud ilmu yang dibahas, serta mengenali istilah-istilah khusus yang digunakan oleh penulis atau disiplin di bidang tersebut. Hal ini biasanya didapat dengan cara mengaji langsung bersama ulama atau melalui upaya lain yang tepat.
2. Bersungguh-sungguh mendalami kitab karya ulama terdahulu (Mutaqodimin), yang kebenaran, kedalaman, dan kevalidan ilmunya sudah teruji dan tidak diragukan lagi sepanjang masa. (Misal imam syafi'i. Atau Syaikh Nawawi Al bantani)

ENGLISH 

READING THE WORKS OF THE SCHOLARS
 
Words from a santri... I recall a precious piece of advice from one of my teachers: Reading the works of the scholars is not merely about understanding knowledge. It is as if we are coming to know their thoughts, their practice, their way of language, and even their noble character. This is why a person’s nature and conduct are gradually shaped, growing accustomed to mirroring what they often read and truly understand.
 
This advice aligns perfectly with the explanation given by Imam Asy-Syatibi in his book Al-Muwafaqat, Volume 1, Page 147. He states that reading the works of scholars brings immense benefit, provided it meets two essential conditions:
 
1. The reader must grasp the core meaning of the knowledge being discussed, and recognize the specific terms used by the author or within that field of study. This is usually attained by studying directly under qualified scholars, or through other proper means of learning.
2. To delve earnestly into the books written by the earlier scholars (Mutaqodimin), whose truth, depth, and scholarly integrity have stood the test of time and are beyond doubt such as Imam Asy-Syafi’i, or Sheikh Nawawi Al-Bantani

MENEMPA ILMU AGAR TETAP LESTARI
 
Seorang santri berkata. Belakangan ini, Madrasah saya sedang melaksanakan kegiatan Taftisan Kitab bagi para santri, yang disesuaikan dengan jenjang kelas masing-masing. Agenda ini rutin digelar menjelang ujian semester, baik semester ganjil maupun genap, bertujuan untuk memantau dan memastikan proses belajar berjalan dengan maksimal. Seperti ungkapan sederhana seorang ustadz: "Taftisan itu supaya santri semakin rajin, usaha dan otomatis semakin banyak manfaat nya, hehe."
 
Secara bahasa, menurut Kamus Lisan Al-'Arab jilid 6 halaman 325, kata Taftisan adalah bentuk masdar dari kata dasar Fattasa-Yufattisyu-Taftisyan, yang berarti mencari atau meneliti sesuatu. Dalam konteks ini, maksudnya adalah guru meneliti makna, maksud, dan penjelasan dari kitab yang telah dipelajari dan dicatat oleh santri.
 
Makna dan hikmah kegiatan ini baru saya pahami sepenuhnya setelah menempuh pendidikan di bidang Tarbiyyah. Taftisan mengajarkan kepada santri betapa pentingnya mencatat dan menuliskan kembali ilmu yang telah dipelajari sesuatu yang Insya Allah akan membawa manfaat besar di dunia maupun akhirat.
 
Sebagaimana nasihat yang dikutip Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Muroqi Al-'Ubudiyyah halaman 138:
 
"Tidak ada seorang penulis yang abadi, ia pasti akan binasa. Namun tulisan tangannya akan tetap lestari sepanjang masa. Maka janganlah engkau menulis sesuatu yang kelak akan menyesalkanmu, melainkan tulislah hal yang akan membahagiakanmu saat berjumpa Allah di hari kiamat."
 
Imam Al-Mawardi juga mengutip perkataan Syekh Ja'far bin Yahya dalam kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din halaman 60:
 
"Tulisan adalah benang bagi hikmah. Melalui tulisan, serpihan ilmu dapat disambung, dan uraian hikmah yang berserakan dapat tersusun dengan rapi."
 
Masih banyak manfaat lain dari menuliskan ilmu yang telah dijelaskan para ulama. Semoga tulisan singkat ini menjadi motivasi bagi saya pribadi, para santri, serta orang tua agar senantiasa menyemangati anak-anak untuk tekun mengaji dan mencatat setiap ilmu yang didapat. Aamiin

ENGLISH 

FORGING KNOWLEDGE TO LAST ETERNALLY
 
A student shares: Lately, my madrasah has been holding Taftisan Kitab sessions for all students, tailored to each class level. This activity is routinely held before the semester exams, both odd and even terms, to monitor and ensure that the learning process runs as effectively as possible. As a teacher simply put it: "Taftisan is meant to make students more diligent, put in more effort, and automatically gain greater benefits from it, hehe."
 
Etymologically, according to Lisan Al-'Arab Dictionary Volume 6, page 325, the word Taftisan is a verbal noun derived from the root Fattasa-Yufattisyu-Taftisyan, which means to seek out or examine something thoroughly. In this context, it refers to teachers carefully reviewing the meaning, intent, and explanations of the books that students have studied and recorded.
 
I only fully understood the true meaning and wisdom behind this practice after completing my studies in Tarbiyyah (Islamic education). Taftisan teaches students the vital importance of recording and writing down the knowledge they have learned something that, God willing, will bring immense benefits in this world and the hereafter.
 
As the advice quoted by Shaykh Nawawi Al-Bantani in his book Muroqi Al-'Ubudiyyah, page 138:
 
"No writer is immortal; every person will eventually perish. Yet what their hands have written will remain forever. So never write anything that you will regret later only write what will bring you joy when you meet Allah on the Day of Judgment."
 
Imam Al-Mawardi also cited the words of Shaykh Ja'far bin Yahya in Adab Ad-Dunya wa Ad-Din, page 60:
 
"Writing is the thread of wisdom. Through writing, scattered fragments of knowledge are connected, and dispersed insights are arranged into an orderly whole."
 
There are many more benefits of recording knowledge that have been explained by the scholars. May this short reflection serve as motivation for myself, fellow students, and all parents to always encourage our children to be diligent in seeking knowledge and to record every lesson they learn. Ameen

DALIL 

كما قال ذو النون المصري نظما من بحر الوافر:
وما من كاتب إلا سيبلى # وَيَبْقَى الدَّهْرُ مَا كَتَبَتْ يَدَاهُ
 فَلا تَكْتُبْ بِكَفِّكَ غَيْرَ شَيْءٍ # يَسُرُّكَ فِي الْقِيَامَةِ أَنْ تَرَاهُ

"Tidak ada seorang penulis terkecuali dia akan Rusak (mati), Dan tulisan tanganya akan tetap lestari dengan berjalannya waktu. Maka dari itu, janganlah menulis dengan telapak tangan mu selain sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di hari kiamat nanti"

"Every writer will eventually pass away, but what their hands have written endures through time. Therefore, do not write anything with your hands except that which will bring you joy on the Day of Judgment"

وقال جعفر بن يحيى: الخط سمط الحكمة به يفصل شذورها، وينظم منثورها.

Syekh Ja'far Bin Yahya berkata "Tulisan ialah Benang hikmah. sebab dengan tulisan serpihan-serpihan hikmah akan tersambung dan uraian-uraian hikmah akan tersusun

Writing is the thread of wisdom; for through writing, fragments of wisdom are connected, and scattered words of wisdom are arranged in order

ANJURAN MENGHAROKATI KITAB
 
Mengharokati kitab gundul sangatlah bermanfaat, bahkan bagi mereka yang sudah memahami dan hafal. Hal ini penting karena kita tidak pernah tahu kondisi ingatan kita di masa depan apakah tetap utuh atau perlahan berkurang.
 
Para ulama terdahulu pun telah membahas anjuran mengharokati kitab. Imam An-Nawawi menulis dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab jilid 2 halaman 71:
 
“Disunnahkan memberi titik dan mengharokati mushaf, karena hal demikian menjaga mushaf dari lahn (salah baca) dan kekeliruan”
 
Istilah Asy-Syaklu yang dimaksud berarti:
 
“Menuliskan harokat, sukun, tasydid, dan tanda mad.” (Tartib Al-Ulum, halaman 134)
 
Sementara itu, Imam Jalaluddin As-Suyuti menjelaskan sejarah penulisan harokat di masa awal, dan mengutip pendapat Imam Ibnu Mujahid dalam kitab Al-Itqon halaman 185:
 
“Seyogyanya seseorang hanya mengharokati lafadz yang musykil (sulit dibaca) saja”
 
Ulama masa kini menjelaskan bahwa pendapat ini berlaku untuk kitab selain Mushaf Al-Qur’an. Khusus untuk Mushaf Al-Qur’an, anjurannya tetap mengikuti pendapat Imam An-Nawawi seperti yang telah dikemukakan. Sebagaimana tertulis dalam Mausu’ah Al-Fiqhiyyah jilid 15 halaman 38:
 
“Adapun untuk kitab selain Mushaf Al-Qur’an, maka dipegang pendapat Imam Ibnu Mujahid dan Ad-Dani"

ENGLISH 

THE RECOMMENDATION TO ADD VOWEL MARKS TO ARABIC BOOKS
 
Adding vowel marks to unvowelled Arabic books is extremely beneficial, even for those who already understand and have memorized their contents. This is important because we never know the condition of our memory in the future—whether it will remain intact or gradually fade.
 
Scholars of the past have also discussed this recommendation. Imam An-Nawawi wrote in his work Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Volume 2, Page 71:
 
"It is recommended to place dots and add vowel marks to the mus'haf, for this protects it from lahn (mispronunciation) and error."
 
The term Asy-Syaklu refers to:
 
"Writing vowels, sukun, tasydid, and mad marks." (Tartib Al-Ulum, Page 134)
 
Meanwhile, Imam Jalaluddin As-Suyuti explained the history of vowel writing in the early era, and quoted the opinion of Imam Ibnu Mujahid in Al-Itqon, Page 185:
 
"One should only add vowel marks to words that are musykil (difficult to read)."
 
Contemporary scholars clarify that this opinion applies to books other than the Holy Qur'an. Specifically for the Qur'an, the recommendation remains in accordance with Imam An-Nawawi’s view as stated above. As noted in Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Volume 15, Page 38:
 
"As for books other than the mus'haf, the opinion of Imam Ibnu Mujahid and Ad-Dani is followed"

DALIL 

وَيُسْتَحَبُّ نَقْطُ الْمُصْحَفِ وَشَكْلُهُ لِأَنَّهُ صِيَانَةٌ لَهُ مِنْ اللَّحْنِ وَالتَّحْرِيفِ

"Disunnahkan Memberi Titik pada mushaf dan mengharakatinya, Karena hal demikian menjaga Mushaf dari Lahn (Salah Baca) dan keliru"

"It is recommended to place dots and add vowel marks to the mus'haf, for this protects it from lahn (mispronunciation) and error"

والمراد من الشكل: هو رسم الحركات والسكون والتشديد والمد

"Maksud Asy-syaklu ialah Menulis Harokat, sukun, Tasydid dan Mad".(lihat Tartib Al-ulum 134)

"The meaning of Asy-Syaklu is writing vowels, sukun, tasydid, and mad marks." (See Tartib Al-'Ulum, page 134)

وقال ابن مجاهد: ينبغي ألا يشكل إلا ما يشكل

Imam Ibnu mujahid dawuh "Seyogyanya seseorang tidak mengharokati terkecuali lafadz yang musykil (Sulit)"

Imam Ibnu Mujahid said: "One should only add vowel marks to words that are musykil (difficult to read)"

وَأَمَّا فِي غَيْرِهَا فَالْعَمَل عَلَى قَوْل ابْنِ مُجَاهِدٍ وَالدَّانِيِّ.

"Adapun mengharokati selain Mushaf maka Mengikuti Pendapat Imam Ibnu mujahid dan Ad-dani"

"As for adding vowel marks to texts other than the Mushaf, the opinion of Imam Ibnu Mujahid and Ad-Dani is followed"

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top