Pendahuluan
Air adalah komponen utama kehidupan: sekitar 60% tubuh manusia terdiri dari air, dan dua pertiga permukaan bumi berupa lautan. Di samping fungsi memelihara kehidupan semua makhluk, air juga memegang peran penting dalam Islam sebagai syarat untuk beribadah salat (sebagai alat bersuci dari hadas dan najis). Firman Allah SWT dalam Surat al-Baqarah (2:22) menyebutkan bahwa Allah menurunkan hujan sebagai rezeki yang menghasilkan segala buah-buahan.
Poin Penting: Klasifikasi Air dalam Islam
Menurut Syaikh Abi Suja’ dalam kitab Matan al-Ghayyah at-Taqrib, air dibagi menjadi 4 kategori utama:
1. Air Mutlak
Air yang suci secara zat dan dapat digunakan untuk bersuci (wudu, mandi, atau menyucikan benda najis). Terdapat 7 macam air yang termasuk dalam kategori ini:
- Air hujan
- Air laut
- Air sungai
- Air sumur
- Air sumber
- Air salju
- Air es
2. Air Musyammas
Air yang telah dipanaskan di bawah matahari menggunakan wadah logam (kecuali emas dan perak, seperti besi atau baja).
- Sifat: Suci secara materinya, dapat menghilangkan hadas dan najis.
- Hukum: Makruh (tidak disarankan) digunakan untuk bersuci pada tubuh (wudu/mandi), namun mubah (diperbolehkan) untuk mencuci pakaian.
3. Air Musta’mal dan Mutaghayyar
Air yang suci secara materinya, namun tidak dapat digunakan untuk bersuci. Dikalikan menjadi dua:
- Air Musta’mal: Air yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadas atau najis, dengan syarat sifatnya tidak berubah dan ukurannya tidak bertambah setelah terpisah dari tempat yang dibasuh. Contoh: air bekas wudu atau mandi.
- Air Mutaghayyar: Air yang sifatnya (warna, bau, atau rasa) berubah karena dicampur dengan sesuatu yang suci, sehingga nama "air" tidak lagi relevan. Contoh: air sumur yang dicampur kopi (menjadi "air kopi").
4. Air Mutanajjis
Air yang awalnya suci namun berubah hukum menjadi najis karena dicampur dengan sesuatu yang najis (seperti darah, kotoran cicak). Hukumnya tergantung pada jumlah air:
- Jika airnya mencapai 2 qullah (kurang lebih 270 liter): Hanya menjadi mutanajjis jika salah satu sifatnya (warna, bau, rasa) berubah.
- Jika airnya kurang dari 2 qullah: Langsung menjadi mutanajjis meskipun sifatnya tidak berubah.
Wallahu A’lam
ENGLISH
Introduction
Water is a main component of life: around 60% of the human body is made up of water, and two-thirds of the Earth's surface consists of oceans. In addition to its function of sustaining all living things, water also plays an important role in Islam as a requirement for performing the prayer (salah) – serving as a means of purification from ritual impurity (hadas) and physical impurity (najis). Allah SWT says in Surah Al-Baqarah (2:22): "And He it is Who sends down rain from the sky, then We bring forth with it fruits of various kinds as provision for you. So do not set up rivals to Allah while you know [the truth]."
Key Points: Classification of Water in Islam
According to Sheikh Abi Suja’ in his book Matan al-Ghayyah at-Taqrib, water is divided into 4 main categories:
1. Mutlak Water (Pure Water)
Water that is inherently pure and can be used for purification (wudu, ghusl, or cleansing impure objects). There are 7 types of water included in this category:
- Rainwater
- Seawater
- River water
- Well water
- Spring water
- Snow
- Ice
2. Musyammas Water (Sun-Heated Water)
Water that has been heated under the sun using a metal container (except gold and silver, such as iron or steel).
- Nature: Inherently pure, can remove ritual impurity (hadas) and physical impurity (najis).
- Ruling: Makruh (discouraged) to use for bodily purification (wudu/ghusl), but mubah (permissible) for washing clothes.
3. Musta’mal and Mutaghayyar Water
Water that is inherently pure, but cannot be used for purification. It is divided into two types:
- Musta’mal Water: Water that has already been used to remove ritual impurity (hadas) or physical impurity (najis), provided its properties do not change and its volume does not increase after being separated from the washed object. Example: used water from wudu or ghusl.
- Mutaghayyar Water: Water whose properties (color, smell, or taste) have changed because it is mixed with something pure, so the name "water" is no longer applicable. Example: well water mixed with coffee (becomes "coffee water").
4. Mutanajjis Water (Contaminated Water)
Water that was originally pure but changes its ruling to impure (najis) because it is mixed with something impure (such as blood, gecko feces). Its ruling depends on the amount of water:
- If the water reaches 2 qullah (approximately 270 liters): It only becomes contaminated if one of its properties (color, smell, taste) changes.
- If the water is less than 2 qullah: It becomes contaminated immediately even if its properties do not change.
Wallahu A’lam
DALIL
المياه التي يجوز التطهير بها سبع مياه: ماء السماء، وماء البحر، وماء النهر، وماء البئر، وماء العين, وماء الثلج، وماء البرد
“Air yang dapat digunakan untuk bersuci ada tujuh macam yaitu air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air sumber, air salju, dan air es.
"There are seven types of water that can be used for purification, namely rainwater, seawater, river water, well water, spring water, snow, and ice."
About the Author