HAL BARU BIDAH
1. Pengertian Dasar Bid’ah
- Hadits Imam Muslim menyatakan "Setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat," namun harus dipahami dalam konteks syariat (merujuk pada hal yang bertentangan dengan nash atau prinsip syar’i).
- Hadits lain menunjukkan tidak semua hal baru adalah sesat; ada yang positif selama tidak bertentangan dengan syariat.
2. Pembagian Bid’ah
- Bid’ah Hasanah (Baik): Perkara baru yang sejalan dengan Al-Qur’an, hadits, atsar, atau ijma’, memberikan maslahat. Contohnya salat tarawih berjamaah yang disebutkan "sebaik-baik bid’ah" oleh Sayyidina Umar.
- Bid’ah Sayyi’ah (Buruk): Hal baru yang diada-adakan tanpa dasar syariat, bertentangan dengan ajaran Islam, dan berpotensi menyesatkan.
3. Klasifikasi Lebih Lengkap
- Imam ‘Izzuddin menyebutkan bid’ah terbagi menjadi lima hukum: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram, yang ditentukan berdasarkan kesesuaian dengan kaidah syariat.
4. Contoh Bid’ah yang Dihalalkan
- Tabarruk kepada orang saleh dan perayaan Maulid Nabi, selama niatnya ikhlas karena Allah dan tidak bertentangan dengan hukum Islam.
5. Pentingnya Pemahaman yang Tepat
- Agar umat tidak terjebak dalam sikap ekstrem, baik menolak segala hal baru secara mutlak maupun menerima semua praktik tanpa filter syariat
ENGLISH
NEW THINGS ARE BID'AH
1. Basic Definition of Bid'ah
- A hadith narrated by Imam Muslim states, "Every newly introduced matter (in religion) is bid'ah, and every bid'ah is misguidance," but it must be understood in a sharia context (referring to matters that contradict religious texts or sharia principles).
- Another hadith shows that not all new things are misleading; some are positive as long as they do not contradict sharia.
2. Classification of Bid'ah
- Bid'ah Hasanah (Good Bid'ah): New matters that are in line with the Al-Qur'an, hadith, athar (narratives of the Prophet's companions), or ijma' (scholarly consensus), and bring benefit. An example is congregational Tarawih prayer, which Sayyidina Umar called "the best of bid'ah" (if your reasoning is sound—for instance, using social media pages to spread religion through them is not misleading).
- Bid'ah Sayyi'ah (Bad Bid'ah): New matters invented without sharia basis, contradicting Islamic teachings, and potentially misleading (for example, making up arbitrary prayer practices—such as doing somersaults during prayer or claiming it is fine not to pray at all—this is clearly misleading).
3. More Detailed Classification
- Imam 'Izzuddin stated that bid'ah is divided into five legal categories: obligatory, recommended (sunnah), permissible (mubah), discouraged (makruh), and forbidden (haram), which are determined based on conformity with sharia principles.
4. Examples of Permissible Bid'ah
- Seeking blessings (tabarruk) from pious people and celebrating the Prophet's Birthday (Maulid Nabi), as long as the intention is sincere for Allah and does not contradict Islamic law.
5. Importance of Correct Understanding
- To prevent the Muslim community from falling into extreme attitudes—either rejecting all new things outright or accepting all practices without sharia filtering
DALIL
كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Artinya, "Setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat."
It means, "Every newly introduced matter (in religion) is bid'ah, and every bid'ah is misguidance"
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Artinya: "Barang siapa yang membuat sunnah hasanah (baik) dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang membuat sunnah sayyi’ah (buruk), maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun," (Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, [Beirut: Muassasatur Risalah, 1421 H/2001 M], jilid XXXI, hlm. 510)
It means: "Whoever establishes a good sunnah (practice) in Islam will receive its reward, as well as the reward of those who practice it after them, without reducing their rewards in the least. And whoever establishes an evil sunnah (practice) in Islam will bear its burden of sin, as well as the burden of those who follow it after them, without reducing their sins in the least," (Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, [Beirut: Muassasatur Risalah, 1421 AH/2001 CE], Volume 31, p. 510)
قَالَ الشَّافِعِيُّ رضي الله عنه: الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فَهَذِهِ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٌ. وَمَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لَا يُخَالِفُ وَاحِدًا مِنْ هَذِهِ، فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُومَةٍ
Artinya: "Imam Syafi’i berkata: Perkara baru itu ada dua jenis: yang bertentangan dengan Kitab, Sunnah, atsar, atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Sedangkan perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari ini, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela," (Al-Baihaqi, Al-Madkhal ilas Sunanil Kubra, [Kuwait: Dar al-Khulafa’ lil-Kitab al-Islami, t.t.], hlm. 206)
It means: "Imam al-Shafi'i said: New matters are of two types: those that contradict the Book (Qur'an), Sunnah, athar (narratives of the Prophet's companions), or ijma' (scholarly consensus)—these are misguided bid'ah. As for new matters that are good and do not contradict any of these, they are new matters that are not blameworthy," (Al-Baihaqi, Al-Madkhal ila Sunan al-Kubra, [Kuwait: Dar al-Khulafa’ lil-Kitab al-Islami, n.d.], p. 206)
نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
Artinya, "Sebaik-baik bid’ah adalah ini"
It means, "This is the best of bid'ah"
وَقَالَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ: هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَتَنْقَسِمُ إِلَى الْأَحْكَامِ الْخَمْسَةِ، وَطَرِيقُ مَعْرِفَةِ ذَلِكَ أَنْ تُعْرَضَ الْبِدْعَةُ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرْعِ، فَأَيُّ حُكْمٍ دَخَلَتْ فِيهِ فَهِيَ مِنْهُ
Artinya: "Syekh ‘Izzuddin berkata: Bid’ah adalah melakukan sesuatu yang tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW, dan bid’ah terbagi menjadi lima hukum (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram). Cara mengetahuinya adalah dengan membandingkan bid’ah tersebut dengan kaidah-kaidah syariat; hukum mana pun yang dimasukinya, maka ia termasuk dalam hukum tersebut," (Az-Zarkasyi, Al-Mantsur fil Qawa’idil Fiqhiyyah, [Kuwait: Kementerian Wakaf Kuwait, dicetak oleh Kuwait Press Company, 1405 H/1985 M)
It means: "Sheikh ‘Izzuddin said: Bid'ah is doing something that was not known during the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him), and bid'ah is divided into five legal categories (obligatory, recommended, permissible, discouraged, and forbidden). The way to determine this is by comparing the bid'ah with sharia principles; whichever legal category it falls into, it is classified under that," (Az-Zarkasyi, Al-Mantsur fil Qawa'id al-Fiqhiyyah, [Kuwait: Ministry of Awqaf Kuwait, printed by Kuwait Press Company, 1405 AH/1985 CE])
وَهِيَ كُلُّ شَيْءٍ أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ أَصْلٍ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ، وَعَلَى غَيْرِ عِيَارِهِ وَقِيَاسِهِ، وَمَا كَانَ مِنْهَا مَبْنِيًّا عَلَى قَوَاعِدِ الْأُصُولِ وَمَرْدُودًا إِلَيْهَا فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ وَلَا ضَلَالَةٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Artinya, "Segala sesuatu yang diadakan tanpa dasar dari prinsip-prinsip agama dan tidak sesuai dengan tolok ukur serta qiyasnya. Adapun yang didasarkan pada kaidah-kaidah prinsip agama dan merujuk kepadanya, maka itu bukan bid’ah ataupun kesesatan. Dan Allah lebih mengetahui," (Al-Khaththabi, Ma’alimus Sunan, [Aleppo: Al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, 1351 H/1932 M], jilid IV, hlm. 301)
It means: "All things that are established without a basis in the principles of religion and do not conform to its standards and analogical reasoning (qiyas). As for those based on the principles of religious doctrine and refer to them, they are neither bid'ah nor misguidance. And Allah knows best," (Al-Khaththabi, Ma'alim al-Sunan, [Aleppo: Al-Mathba'ah al-'Ilmiyyah, 1351 AH/1932 CE], Volume IV, p. 301)
فَمَا كَانَ مِنْ ذَلِكَ فِي الدِّينِ خِلَافًا لِلسُّنَّةِ الَّتِي مَضَتْ عَلَيْهَا الْعَمَلُ فَتِلْكَ بِدْعَةٌ لَا خَيْرَ فِيهَا، وَوَاجِبٌ ذَمُّهَا وَالنَّهْيُ عَنْهَا، وَالْأَمْرُ بِاجْتِنَابِهَا وَهَجْرَانِ مُبْتَدِعِهَا إِذَا تَبَيَّنَ لَهُ سُوءُ مَذْهَبِهِ، وَمَا كَانَ مِنْ بِدْعَةٍ لَا تُخَالِفُ أَصْلَ الشَّرِيعَةِ وَالسُّنَّةِ فَتِلْكَ نِعْمَةُ الْبِدْعَةِ
Artinya: "Apa yang dalam agama menyelisihi sunnah yang telah menjadi tradisi dalam amal, maka itu adalah bid’ah yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Wajib untuk mencelanya, melarangnya, memerintahkan untuk menjauhinya, serta meninggalkan pelakunya jika tampak buruk keyakinannya. Adapun bid’ah yang tidak menyelisihi dasar syariat dan sunnah, maka itu adalah bid’ah yang baik," (Ibnu Abdil Barr, Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad, Al-Istidzkar, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421 H/2000 M], jilid II, hlm. 67)
It means: "Whatever in religion contradicts the sunnah that has become established practice is bid'ah that holds no good whatsoever. It is obligatory to condemn it, prohibit it, command people to avoid it, and shun those who practice it if the corruption of their beliefs is evident. As for bid'ah that does not contradict the foundations of sharia and sunnah, it is good bid'ah," (Ibn Abd al-Barr, Abu Umar Yusuf ibn Abdullah ibn Muhammad, Al-Istidhkar, [Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1421 AH/2000 CE], Volume II, p. 67)
وَالْمُرَادُ بِالْبِدْعَةِ مَا أُحْدِثَ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرِيعَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ، وَأَمَّا مَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ مِنَ الشَّرْعِ يَدُلُّ عَلَيْهِ فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ شَرْعًا وَإِنْ كَانَ بِدْعَةً لُغَةً
Artinya: "Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa dasar dari syariat yang menunjukkannya. Adapun sesuatu yang memiliki dasar dari syariat yang menunjukkannya, maka itu bukan bid’ah secara syar’i, meskipun secara bahasa tetap disebut bid’ah," (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, [Kairo: Darus Salam, 1424 H/2004 M], jilid II, Hal. 871)
It means: "What is meant by bid'ah is something that is established without a basis indicated by sharia. As for something that has a basis indicated by sharia, it is not bid'ah in the sharia sense, even though it may still be called bid'ah in the linguistic sense," (Ibn Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, [Cairo: Dar al-Salam, 1424 AH/2004 CE], Volume II, p. 871)
About the Author