Rabu, 12 Agustus 2026

MANZIL KEHIDUPAN

Posted by Abah Ngapakudin  |  at  Agustus 12, 2026




 TENTANG PAHIT MANISNYA ILMU

 

Ada sebuah ungkapan indah yang tercatat dalam kitab Jami‘ Bayan Al-‘Ilmi jilid 1 halaman 149:

 

“Akhir dari ilmu itu rasanya sangat lezat. Sedangkan permulaannya, terasa pahit bagaikan obat.”

 

Ungkapan yang dikutip oleh Imam Ibnu Abdul Bar ini mengandung makna mendalam, yang dapat kita pahami dari dua sudut pandang:

 

1. Dari sisi hakikat ilmu

Pada awalnya, mempelajari ilmu terasa berat dan pahit. Orang yang baru mulai akan merasakan kesulitan, lelah, dan ketidaknyamanan dalam prosesnya. Namun, ketika seseorang telah mendapatkan kemudahan dan karunia dari Allah, rasa pahit itu berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Semakin dalam pemahamannya, semakin terasa indah dan manisnya ilmu tersebut.

 

2. Dari sisi kebiasaan dan hasilnya

Di tahap awal, ilmu yang telah diperoleh terkadang belum terlihat keutamaan maupun manfaatnya sepenuhnya. Kita sudah bersusah payah mencarinya, namun hasilnya belum terasa nyata. Akan tetapi, jika ilmu itu terus dipelajari, diulang-ulang, serta diamalkan dan disebarluaskan dalam jangka panjang, ia akan berkembang dan membawa berbagai kebahagiaan serta kebaikan yang melimpah.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat


ENGLISH 


THE BITTERSWEET JOURNEY OF KNOWLEDGE

 

There is a beautiful saying recorded in the book Jami‘ Bayan Al-‘Ilmi Volume 1, page 149:

 

"The end result of knowledge is truly sweet and delightful. Yet, in the beginning, it tastes as bitter as medicine."

 

This quote, attributed to Imam Ibn Abdul Barr, holds profound meaning. It can be understood from two perspectives:

 

1. The Essence of Learning

At first, acquiring knowledge feels heavy and difficult. Beginners often face struggles, fatigue, and frustration during the initial process. However, once a person gains clarity, understanding, and divine guidance, that bitterness transforms into immense pleasure and satisfaction. The deeper your understanding grows, the more beautiful and rewarding the knowledge becomes.

 

2. The Process and Outcome

In the early stages, the true value and benefits of what you have learned may not be immediately visible. You work hard to gain it, but the results might not feel tangible yet. However, if you continue to study, review, practice, and share this knowledge over time, it will flourish. Eventually, it will bring great happiness, blessings, and lasting goodness into your life and the lives of others.

 

May this writing be beneficial


DALIL


آخِرُ الْعِلْمِ لَذِيدٌ طَعْمُهُ # وَبَدْءُ الدَّوْقِ مِنْهُ كَالصَّبرِ


" Akhir-akhir dari Ilmu ialah lezat rasanya. Dan permulaan ilmu itu rasanya seperti obat yang pahit"


"The end of knowledge is sweet in taste. And the beginning of it tastes like bitter medicine"

MENJAWAB PERTANYAAN ANAK MENGAPA MANUSIA BERBEDA-BEDA?

 

Tahap Perkembangan Anak

 

- Pada usia 2 hingga 5 tahun, anak berada dalam fase perkembangan kecerdasan yang ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan sering bertanya.

- Orang tua wajib menjawab dengan sabar. Jika tidak tahu, sebaiknya minta waktu untuk mencari jawaban, jangan pernah membentak atau melarang bertanya karena dapat membuat anak menjadi tertutup dan enggan bercerita di kemudian hari.

 

Cara Menjawab Pertanyaan Anak

 

- Ketika anak bertanya, "Kenapa Allah menciptakan manusia berbeda-beda?", orang tua dapat mengajak dialog dengan bahasa yang sederhana dan mendekatkan pada pengalaman anak.

- Jelaskan bahwa perbedaan fisik, suku, dan ras itu diciptakan Allah agar manusia saling mengenal, berteman, dan saling membantu.

- Gunakan analogi yang mudah dimengerti, seperti perumpamaan taman bunga. Taman akan terlihat lebih indah dan berwarna jika isinya beraneka ragam, bukan jika bunganya sama semua. Begitu pula manusia, perbedaan membuat hidup menjadi indah dan berwarna.

 

Landasan Ajaran Islam

 

- Jawaban tersebut bersumber dari firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat Ayat 13, yang artinya: "...Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal..."

- Orang tua perlu mencontohkan sikap menghormati sesama, sehingga anak belajar bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan harus dijaga dengan toleransi


ENGLISH 

ANSWERING CHILDREN'S QUESTIONS: WHY ARE PEOPLE DIFFERENT?

 

Child Development Stage

 

- Between the ages of 2 and 5, children go through a phase of intellectual growth characterized by great curiosity and a tendency to ask many questions.

- Parents have an obligation to answer patiently. If you do not know the answer, it is better to tell them you will find out, rather than scolding them or telling them to stop asking questions. Reacting negatively can make children become withdrawn and reluctant to share their thoughts with you in the future.

 

How to Answer the Question

 

- When a child asks, "Why did God create people to look and be so different?", parents should engage them in conversation using simple language and examples from their daily life.

- Explain that differences in physical appearance, ethnicity, and background are created by God so that people can get to know one another, build friendships, and help each other.

- Use simple analogies they can easily visualize, like comparing people to a garden. A garden looks far more beautiful and colorful when it is filled with many different kinds of flowers, rather than just one type. In the same way, diversity makes life interesting and beautiful.

 

Religious Foundation

 

- This teaching comes from the Holy Quran, specifically Surah Al-Hujurat, Verse 13, which means: "...We have made you into nations and tribes so that you may come to know one another..."

- Parents should set a good example by showing respect for others. This way, children learn that diversity is natural and should be embraced with tolerance and understanding


DALIL 


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ 


 Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”


Translation:

 

"O mankind! Indeed, We have created you from a male and a female, and made you into nations and tribes, that you may know one another. Verily, the most honourable among you in the sight of Allah is the most righteous. Indeed, Allah is All-Knowing, All-Aware."

 

(QS. Al-Hujurat: 13)


KORUPTOR: DI-MISKINKAN ATAU HUKUMAN MATI?

 

Hukuman bagi para koruptor yang merampas harta dan hak rakyat sebenarnya memiliki dua pandangan utama dalam tinjauan hukum:

 

1. Hukuman Pemiskinan

 

Yaitu menjatuhkan hukuman penjara sekaligus menyita seluruh aset dan kekayaannya hingga ia benar-benar menjadi miskin dan tidak memiliki apa-apa. Hal ini didasarkan pada kaidah fikih bahwa siapa yang mengambil hak orang lain wajib mengembalikannya, dan jika tidak mampu maka akan dikenakan sanksi hingga kewajiban tersebut terpenuhi.

 

Sebagaimana tertulis dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin halaman 250:

 

"Bagi pelanggar yang tidak mau mengembalikan hak orang lain meskipun mampu, ia akan ditahan dan dihukum sampai ia mampu membayar atau meninggal dunia. Karena ia sama seperti perampas hak orang lain."

 

2. Hukuman Mati

 

Pandangan kedua adalah menjatuhkan hukuman mati. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa perbuatan korupsi setara dengan perampasan hak orang lain (Sho'il).

 

Dalam pandangan fikih, hukuman mati diperbolehkan bagi penguasa atau pejabat yang zalim, karena kerusakan dan dampak buruk yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan dengan hewan-hewan berbahaya (Fawasiq Al-Khamsi) yang diperintahkan untuk dibunuh.

 

Imam Al-Isnawi juga mengutip pendapat Ibnu Abdissalam yang membolehkan tindakan tegas, bahkan hingga membunuh atau meracuni penguasa atau pejabat yang zalim dan pelaku pungutan liar. Hal ini dilakukan semata-mata untuk membebaskan masyarakat dari kesengsaraan dan penindasan yang mereka alami.

 

Dari kitab Tanwirul Qulub halaman 392 juga dijelaskan:

 

"Boleh membunuh pejabat negara yang menindas manusia, karena kerusakan yang mereka timbulkan lebih besar dibandingkan hewan berbahaya lainnya"


ENGLISH

CORRUPTORS: MADE DESTITUTE OR THE DEATH PENALTY?

 

Punishment for corruptors who steal the people’s wealth and rights has two main perspectives in Islamic jurisprudence:

 

1. Punishment of Being Made Destitute

 

This means sentencing them to prison while seizing all their assets and property, until they are truly left with nothing and become destitute. This is based on the principle that whoever takes others’ rights is obligated to return them; if unable to do so, they face punishment until their duty is fulfilled.

 

As stated in the book Bughyah al-Mustarsyidin, page 250:

 

"If an offender refuses to return others’ rights despite being able to do so, they shall be detained and punished until they are able to pay or pass away. This is because they are considered like one who seizes others’ property." 

 

2. The Death Penalty

 

The second view is imposing the death penalty. This is based on the consideration that corruption is equivalent to seizing others’ rights (saa’il or robber).

 

In the view of Islamic jurisprudence, the death penalty is permitted for unjust rulers and officials, because the harm and damage they cause are far greater than the five dangerous creatures (fawasiq al-khams) that are commanded to be killed.

 

Imam Al-Isnawi also cited the opinion of Ibn Abdissalam, who allowed strict measures even poisoning or killing unjust rulers and corrupt officials solely to free society from suffering and oppression.

 

From the book Tanwirul Qulub, page 392, it is explained:

 

"It is permissible to kill state officials who oppress people, for the harm they cause is greater than that of other dangerous creatures"


ARTI TAUFIQ DAN HIDAYAH: DUA ANUGERAH YANG SERING KITA DOAKAN

 

Kita begitu sering mendengar dan melafalkan kata Taufiq dan Hidayah dalam doa, namun apakah kita sudah paham makna mendalam keduanya? Berikut penjelasannya menurut para ulama.

 

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi jilid 4 halaman 196, Imam Al-Baghowi menjelaskan: Taufiq adalah kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk menempuh jalan kebaikan dan ketaatan. Sementara itu, para ulama mazhab sebagaimana dikutip Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim jilid 1 halaman 173 menambahkan: Taufiq adalah diciptakannya kekuatan bagi hamba untuk beribadah. Lawan katanya adalah Al-Khidlan, yaitu diciptakannya kemampuan untuk berbuat dosa.

 

Adapun makna Hidayah, Syekh As-Sya'rawi menjelaskan dalam Tafsir As-Sya'rawi jilid 1 halaman 643: Hidayah adalah jalan lurus yang menuntun ke tujuan, sekaligus jalan yang paling ringkas. Tujuan utama kehidupan ini sendiri adalah sampai kepada kenikmatan abadi di akhirat.

 

Perlu dipahami: meskipun Taufiq dan Hidayah adalah ketentuan mutlak dari Allah, keduanya tidak cukup hanya diminta. Kita juga wajib berikhtiar meraihnya salah satu caranya adalah dengan menuntut ilmu dan belajar agama

ENGLISH

THE MEANING OF TAUFIQ AND HIDAYAH: TWO BLESSINGS WE OFTEN PRAY FOR

 

We frequently hear and recite the words Taufiq and Hidayah in our prayers but do we truly understand their profound meanings? Here is the explanation according to Islamic scholars.

 

In his work Tafsir Al-Baghowi (Volume 4, Page 196), Imam Al-Baghowi explains: Taufiq is the ease that Allah grants His servants to walk the path of goodness and obedience. Meanwhile, as quoted by Imam An-Nawawi in Syarah Muslim (Volume 1, Page 173), scholars of the school of thought add: Taufiq is the creation of strength within a servant to perform acts of worship. Its opposite is Al-Khidlan—the creation of capacity to commit sin.

 

As for Hidayah, Sheikh As-Sya'rawi clarifies in Tafsir As-Sya'rawi (Volume 1, Page 643): Hidayah is the straight path that leads to one’s ultimate destination, and it is also the shortest, clearest way. The very purpose of this life is to reach the eternal bliss of the Hereafter.

 

It is important to note: even though Taufiq and Hidayah are absolute provisions from Allah, asking for them alone is not enough. We must also strive to attain them one of the most vital ways is through seeking knowledge and studying the religion


DALIL


وَالتَّوْفِيقُ: تَسْهِيلُ سَبِيلِ الْخَيْرِ وَالطَّاعَةِ.


"Taufiq Ialah Kemudahan hamba untuk Menempuh kebaikan dan keta'atan"

"Taufiq is the ease granted to a servant to walk the path of goodness and obedience"


قَالَ أَصْحَابُنَا الْمُتَكَلِّمُونَ التَّوْفِيقُ خَلْقُ قُدْرَةِ الطَّاعَةِ وَالْخِذْلَانِ خَلْقُ قُدْرَةِ الْمَعْصِيَةِ.


Ashabuna Al-mutakallimun telah Berkata "At-taufiq Adalah Menciptakan kekuatan hamba untuk melakukan Ta'at, sedangkan lawan katanya adalah Al-khidlan yang berarti Menciptakan kekuatan untuk maksiat"


"The scholars of theological reasoning among our companions said: 'At-Taufiq is the creation of strength within a servant to perform acts of obedience; its opposite is Al-Khidlan, which means the creation of capacity to commit sin"


الهداية هي الطريق المستقيم الموصل إلى الغاية وهو أقصر الطرق، وغاية هذه الحياة هي أن تصل إلى نعيم الآخرة.


"Hidayah Adalah Jalan lurus yang mendatangkan pada tujuan, ialah jalan yang paling Ringkas. Dan Puncak dari kehidupan ialah sampainya hamba pada kenikmatan akhirat"


"Hidayah is the straight path that leads to the destination, and it is also the shortest way. The ultimate purpose of this life is for the servant to attain the bliss of the Hereafter"


PANGGUNG DAKWAH YANG MENGKHAWATIRKAN

 

Belakangan ini kita disuguhi panggung dakwah yang isinya justru makin menjauh dari hakikat dakwah itu sendiri. Mulai dari ucapan yang tidak pantas, hingga aksi joget dan nyanyian yang bahkan viral di media sosial.

 

Fenomena ini tentu mengingatkan kita pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

"Sesungguhnya kebinasaan umatku berada di tangan anak-anak muda yang bodoh dari kaum Quraisy." (HR. Ahmad)

 

Menurut Gus Kautsar, makna hadits ini merujuk pada para dai muda yang keilmuannya belum matang, namun sudah terjun ke tengah panggung dakwah.

 

Hal ini sejalan pula dengan sabda beliau ﷺ:

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah dicarinya ilmu dari orang-orang yang belum layak." (HR. Thabrani)

 

Sebagian ulama menafsirkan: salah satu tanda kerusakan agama di akhir zaman adalah ketika umat meninggalkan ulama senior, lalu beralih mengikuti mereka yang belum cukup bekal ilmu.

 

Bahkan Imam Al-Ghazali menegaskan:

"Apabila seorang pendakwah masih muda, berpenampilan berlebihan demi menarik perhatian wanita baik lewat pakaian, gaya bahasa yang berlebih-lebihan, maupun gerak-gerik yang dibuat-buat sementara majelisnya dipenuhi kaum wanita, maka hal ini adalah kemungkaran yang wajib dicegah." (Ihya Ulumuddin, Rub' Adat halaman 638)

 

Tulisan ini sekadar cermin bagi kita sesama pelaku dakwah, bukan bermaksud menghakimi pihak lain. Mohon maaf atas segala kekurangan 🙏


ENGLISH 


CONCERNING TRENDS ON THE STAGE OF DA'WAH

 

Lately, we have witnessed platforms of religious outreach that seem to drift further from the very essence of da'wah itself ranging from inappropriate speech, to dancing and singing acts that have even gone viral on social media.

 

This phenomenon brings to mind the words of Prophet Muhammad ﷺ:

"Indeed, the ruin of my community will come at the hands of foolish young men from the Quraysh." (Narrated by Ahmad)

 

According to Gus Kautsar, this hadith refers to young preachers who have not yet matured in knowledge, yet have already stepped forward to lead public religious outreach.

 

This aligns with another saying of the Prophet ﷺ:

"Truly, among the signs of the Hour is that knowledge will be sought from those who are unworthy of it." (Narrated by Thabrani)

 

Scholars explain this as one mark of religious decline in the end times: when people turn away from seasoned scholars and instead follow those who lack sufficient learning.

 

Imam Al-Ghazali further emphasizes:

"If a preacher is young, dresses or conducts himself in an exaggerated way to attract attention from women whether through clothing, overly dramatic speech, or contrived gestures while his gatherings are filled with women, this is a reprehensible act that must be stopped." (Ihya Ulumuddin, Rub' Adat, Page 638)

 

This reflection is intended simply as self‑reminder for all of us who work in da'wah, not to judge others. We ask for forgiveness for any shortcomings 🙏


DALIL 


إِنَّ هَلَاكَ أُمَّتِي عَلَى يَدَيْ غِلْمَانٍ سُفَهَاءَ مِنْ قُرَيْشٍ

"Sesungguhnya kebinasaan umatku berada di tangan anak² muda yang bodoh dari kaum Quraisy." (HR. Ahmad)


"Indeed, the ruin of my community will come at the hands of foolish young men from the Quraysh." (Narrated by Ahmad)


إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda² kiamat adalah dicarinya ilmu dari orang-orang kecil (yang belum layak).” (HR. Thabrani)


"Truly, among the signs of the Hour is that knowledge will be sought from those who are unworthy of it." (Narrated by Thabrani)


وَمَهْمَا كَانَ الْوَاعِظُ شَابًّا مُتَزَيِّنًا لِلنِّسَاءِ فِي ثِيَابِهِ وَهَيْئَتِهِ ، كَثِيرَ الْأَشْعَارِ وَالْإِشَارَاتِ وَالْحَرَكَاتِ ، وَقَدْ حَضَرَ مَجْلِسَهُ النِّسَاءُ .. فَهَذَا مُنْكَرٌ يَجِبُ الْمَنْعُ مِنْهُ 

Jika seorang pendakwah adalah seorang yg masih muda, yang style-nya tampak berlebihan demi menarik perhatian wanita baik melalui pakaian, gaya bicara yang puitis, hingga gerak-tubuh yang dibuat-buat padahal majelisnya dipenuhi kaum hawa. Maka hal ini adalah kemungkaran yang harus dihentikan. (Ihya Imam Ghazali Bab Rub' Adat hal 638)

"If a preacher is young, and presents himself in an exaggerated manner to attract women’s attention whether through his clothing, overly poetic speech, or contrived gestures while his gathering is filled with women, then this is a reprehensible act that must be stopped. (Imam Al-Ghazali’s Ihya Ulumuddin, Section on Social Customs, Page 638)"

KEHENDAK ALLAH SWT: ANTARA KEINGINAN MANUSIA DAN KEPUTUSAN PASTI

Kata KH. Abdul Hannan Ma'shum pernah mengingatkan: "Kulo punya keinginan dan panjenengan punya keinginan, tapi keinginan manusia tidak bisa dipastikan."

 

Kita semua bebas memiliki cita-cita, rencana, dan harapan: ingin hidup berkecukupan, ingin usaha maju, ingin anak meraih kebahagiaan, atau ingin berhasil dalam segala hal. sehendak nya kita berikhtiar sekuat tenaga. Namun sebagai orang beriman, hati kita tak boleh terpaku hanya pada keinginan sendiri melainkan harus berserah pada kehendak Allah SWT.

 

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an:

 

"Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu, kecuali apabila Allah SWT menghendakinya, Tuhan seluruh alam."

(QS. At-Takwir: 29)

 

"Dan kamu tidak mampu menghendaki sesuatu kecuali jika Allah SWT menghendakinya. Sungguh Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

(QS. Al-Insan: 30)

 

Allah juga mengingatkan agar kita tak merasa yakin sepenuhnya pada rencana sendiri:

 

"Jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, 'Aku pasti mengerjakan itu besok,' kecuali dengan mengatakan, 'Insya Allah.'"

(QS. Al-Kahfi: 23–24)

 

Dari sini kita pahami:

✅ Boleh bermimpi dan berharap, tapi jangan memaksa Allah mengikuti keinginan kita.

✅ Berusaha sekuat tenaga adalah kewajiban, sedangkan hasil akhirnya adalah hak mutlak Allah.

✅ Jika keinginan terwujud, syukurilah nikmat-Nya. Jika belum atau tidak tercapai, yakini bahwa Allah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik.

✅ Siapa yang memahami hal ini, hatinya akan tenang tak mudah kecewa, tak mudah putus asa.

 

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

 

"Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah SWT, dan janganlah merasa lemah."

(HR. Muslim)

 

Manusia berhak merencanakan, namun Allah-lah yang menentukan. Keinginan kita belum tentu terjadi, namun kehendak Allah pasti terlaksana. Maka berusahalah dengan sungguh-sungguh, lengkapi dengan doa, lalu ridalah pada segala keputusan-Nya karena itulah yang terbaik bagi kita


THE WILL OF ALLAH SWT: BETWEEN HUMAN DESIRE AND CERTAIN DECREE

 

KH. Abdul Hannan Ma'shum once reminded us: "I have my wishes, and you have yours—but no human wish is ever certain."

 

We are all free to have dreams, plans, and hopes: to live comfortably, to see our work thrive, to give our children a good life, or to succeed in all we do. We are encouraged to strive and do our very best. Yet as believers, we must not fix our hearts only on what we want instead, we must surrender to the will of Allah SWT.

 

Allah SWT states clearly in the Quran:

 

"And you do not will except that Allah wills Lord of the worlds."

(QS. At-Takwir: 29)

 

"And you cannot will unless Allah wills. Indeed, Allah is ever Knowing and Wise."

(QS. Al-Insan: 30)

 

Allah also teaches us not to be overconfident in our own plans:

 

"And never say of anything, 'Indeed, I will do that tomorrow,' except [adding], 'If Allah wills.'"

(QS. Al-Kahfi: 23–24)

 

From this we understand:

✅ It is right to dream and hope but never try to force Allah to follow our wishes.

✅ Doing our very best is our duty, but the final outcome belongs fully to Allah.

✅ If our wish comes true, be grateful for His grace. If it does not—or not yet trust that Allah has something far better prepared for you.

✅ Whoever understands this will find peace: they will not be easily disappointed, nor will they give up hope.

 

The Prophet Muhammad ﷺ also said:

 

"Strive hard for what benefits you, seek help from Allah, and do not be weak."

(Narrated by Muslim)

 

We may make our plans, but Allah alone decides what comes to pass. What we want may not happen but what Allah wills will certainly take place. So strive with all your effort, pray earnestly, and accept whatever Allah decides for His choice is always what is truly best for you


DALIL

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Dan kamu tidak mampu menghendaki sesuatu kecuali jika Allah SWT menghendakinya. Sungguh Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

(QS. Al-Insan: 30)


"And you cannot will anything except that Allah wills it. Indeed, Allah is All-Knowing, All-Wise."

(Surah Al-Insan: 30)


وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Dan kamu tidak mampu menghendaki sesuatu kecuali jika Allah SWT menghendakinya. Sungguh Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

(QS. Al-Insan: 30)


"And you cannot will anything except that Allah wills it. Indeed, Allah is All-Knowing, All-Wise."

(QS. Al-Insan: 30)


وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ۝ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

"Jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, 'Aku pasti mengerjakan itu besok,' kecuali dengan mengatakan, 'In sya'a Allah.'"

(QS. Al-Kahfi: 23–24)


"And never say of anything, 'I will surely do this tomorrow,' without adding, 'If Allah wills.'"

(Surah Al-Kahfi 23–24)


احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

"Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah SWT, dan janganlah merasa lemah."

(HR. Muslim)


"Strive earnestly for what benefits you, seek help from Allah SWT, and do not be weak."

(Narrated by Muslim)


CARA AMPUH MENGATASI MALAS BELAJAR

 

Menurut para ulama, ada dua cara utama untuk mengatasi rasa malas belajar: yaitu dengan menganggap ilmu itu sangat dibutuhkan, atau dengan mencintai ilmu itu sendiri.

 

1. Menganggap Ilmu Sebagai Kebutuhan

 

Hal ini dijelaskan dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim bab ke-5, dengan ungkapan:

 

"Dengan kadar usaha yang engkau berikan, engkau akan memperoleh apa yang engkau harapkan."

 

Setiap orang yang memiliki harapan dan cita-cita pasti akan menyadari bahwa ia membutuhkan ilmu untuk mencapainya. Kesadaran inilah yang memicu semangat berjuang, sehingga rasa malas perlahan hilang tergantikan tekad untuk berusaha.

 

2. Mencintai Ilmu

 

Sementara itu, dalam kitab Ihya Ulumuddin (Jilid 4, halaman 334) dijelaskan:

 

"Sesungguhnya rasa cinta yang mendalam pasti akan menguasai diri dan mengalahkan hal-hal lain yang lebih rendah daripadanya. Jika seseorang mencintai ilmu lebih daripada rasa malasnya, maka ia akan meninggalkan sifat malas itu demi melayani apa yang ia cintai."

 

Ketika ilmu sudah menjadi sesuatu yang dicintai, belajar bukan lagi terasa beban, melainkan hal yang menyenangkan untuk dilakukan


ENGLISH 


EFFECTIVE WAYS TO OVERCOME LAZINESS IN LEARNING

 

According to Islamic scholars, there are two key ways to overcome laziness when studying: recognizing knowledge as a necessity, or cultivating a genuine love for knowledge itself.

 

1. Seeing Knowledge as a Necessity

 

This is explained in the book Ta'lim al-Muta'allim (Chapter 5), which states:

 

"In proportion to the effort you put in, you shall attain what you hope for."

 

Anyone who holds hopes and goals will naturally realize that they need knowledge to reach them. This awareness ignites the drive to strive, gradually replacing laziness with determination to keep going.

 

2. Loving Knowledge

 

Meanwhile, Ihya Ulumuddin (Volume 4, page 334) teaches:

 

"Deep love always takes hold of the heart and overcomes things that stand beneath it. If a person loves knowledge more than they love idleness, they will set aside laziness to serve what they cherish."

When knowledge becomes something you truly love, learning no longer feels like a burden it turns into something you enjoy doing

DALIL 


بقدر ما تتعنى تنال ما تتمنى


"Dengan kadar Usaha dirimu, engkau akan memperoleh harapan-mu"

"As much effort you give, so shall you receive your hopes"


فإن كل حب صار غالبًا قهر لا محالة ماهو دونه فمن كان محبوبه أحب إليه من الكسل ترك الكسل في خدمته. 


"Sesungguhnya setiap cinta itu umumnya membuat seseorang memaksa dirinya terhadap sesuatu yang bisa dikendalikan olehnya secara pasti. Maka semisal seseorang mencintai sesuatu yang lebih ia cinta dari sifat malasnya Maka ia akan meninggalkan sifat malas tersebut untuk melayani yang dicintainya"


"Truly, any deep love will naturally lead a person to discipline themselves for what they hold dear. So if someone loves knowledge more than they love laziness, they will set aside their laziness to serve what they cherish"


KEMULIAAN SANTRI DAN KESABARAN HATI SEORANG GURU

 

Pesan guru kami selalu terngiang: "Jangan pernah lelah, apalagi membenci santri yang nakal. Betapa banyak dari mereka yang dulunya sering berbuat salah, kini justru menjadi panutan di tengah masyarakat dan ilmunya penuh berkah"

 

Menjadi santri adalah sebuah proses panjang belajar, sehingga wajar jika sesekali mereka tergelincir atau berbuat kesalahan. Sebagai guru, tugas kita adalah membimbing mereka dengan doa dan kasih sayang bukan dengan kebencian atau kemarahan. Seorang guru sejati pantang mendoakan keburukan bagi muridnya, bahkan kepada santri yang paling malas sekalipun.

 

Sebagai pengingat, Syekh Ihsan Jampes menyanjung kedudukan santri dalam kitab Irsyadul Ikhwan (halaman 9):

 

"Santri yang malas pun lebih utama di sisi Allah daripada 700.000 ahli ibadah yang bersungguh-sungguh dalam beribadah."

 

Ungkapan ini mengajak para guru untuk senantiasa sabar, telaten, dan tak pernah membenci muridnya. Seorang pendidik yang belum siap menghadapi santri yang sulit diatur, berarti belum sepenuhnya siap menjadi guru yang sesungguhnya.

 

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keistiqomahan bagi para kiai, ustadz, guru, dan seluruh santri untuk terus menuntut ilmu setiap hari. Amin


ENGLISH 


THE NOBLE WORTH OF STUDENTS AND THE PATIENCE OF A TEACHER

 

A reminder from our teacher always echoes in our hearts: "Never grow weary, let alone hate, a mischievous student. How many of those who once made mistakes have now become role models in their communities, and their knowledge is filled with blessings."

 

Being a student is a long journey of learning, so it is only natural if they occasionally slip up or make errors. As teachers, our duty is to guide them through prayer and compassion not with resentment or anger. A true teacher never invokes harm upon their students, not even toward the laziest among them.

 

As a powerful reminder, Shaykh Ihsan Jampes honors the status of students in his book Irsyadul Ikhwan (page 9):

 

"Even a lazy student is more beloved in the sight of Allah than seven hundred thousand devout worshippers who strive hard in their acts of worship."

 

This teaching calls upon every teacher to remain patient, caring, and never hold ill will toward their students. An educator who is not yet ready to face difficult or unruly students is not yet fully prepared to be a true teacher.

 

May Allah SWT grant steadfastness to all scholars, teachers, educators, and every student, so that we may continue seeking knowledge each and every day. Amen


DALIL 


مُتَعَلِّمٌ كَسْلَانُ - أَيْ لَا يَجْتَهِدُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ - أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ سَبْعِمِائَةِ أَلْفِ عَابِدٍ مُجْتَهِدٍ


"Santri yang malas lebih utama di sisi Allah daripada 700.000 ahli ibadah yang bersungguh-sungguh." (Irsyadul Ikhwan hal. 9)


"Even a lazy student is more honorable in the sight of Allah than seven hundred thousand devout worshippers who strive earnestly in worship" (Irsyadul Ikhwan, page 9)


MENCARI 5 PERKARA, MENEMUKANNYA DALAM 5 AMALAN MULIA

 

Dari Imam Syaqiq Al-Balkhi, beliau berkata: "Kami mencari lima hal, lalu kami menemukannya di dalam lima perkara lain:"

 

1. Kami mencari cara agar dapat meninggalkan maksiat, maka kami menemukannya dalam Shalat Dhuha.

2. Kami mencari cahaya penerang di dalam kubur, maka kami menemukannya dalam Shalat Malam.

3. Kami mencari jawaban yang tepat saat ditanya oleh Malaikat Munkar dan Nakir, maka kami menemukannya dalam membaca Al-Qur'an.

4. Kami mencari kemudahan melintasi Jembatan Shiratal Mustaqim, maka kami menemukannya dalam berpuasa dan bersedekah.

5. Kami mencari naungan Arsy Allah, maka kami menemukannya dalam berkhalwat (menyendiri untuk beribadah kepada-Nya).

 

📚 Sumber: Nasho'ihul Ibad, halaman 39


ENGLISH

SEEKING FIVE THINGS FOUND IN FIVE NOBLE ACTS OF WORSHIP

 

From Imam Syaqiq Al‑Balkhi, who said:

"We sought five things, and found them within five other matters:"

 

1. We sought the way to abandon sin — and found it in the Duha Prayer.

2. We sought light and illumination within the grave — and found it in the Night Prayer.

3. We sought the right answers when questioned by Angels Munkar and Nakir and found them in reciting the Quran.

4. We sought safe passage across the Bridge of As‑Sirat — and found it in fasting and giving charity.

5. We sought shelter under the Shade of Allah’s Throne and found it in seclusion for worship and devotion to Him.

 

📚 Source: Nasho'ihul Ibad, page 39


DALIL


وَعَنْ شَقِيْقٍ الْبَلْخِيِّ أَنَّهُ قَالَ طَلَبْنَا خَمْسًا فَوَجَدْنَاهَا فِى خَمْسٍ:


Dari Imam Syaqiq Al-Balkhi, Bahwasannya beliau berkata:

Kami mencari 5 hal dan menemukannya dalam 5 perkara yang lain;


طَلَبْنَا تَرْكَ الذُّنُوْبِ فَوَجَدْنَاهُ فِى صَلَاةِ الضُّحَى


1. Kami mencari cara meninggalkan dosa, maka kami temukan dalam shalat Dhuha.


وَطَلَبْنَا ضِيَاءَ الْقُبُوْرِ فَوَجَدْنَاهُ فِى صَلَاةِ اللَّيْلِ


2. Kami mencari pelita kubur, maka kami temukan dalam shalat malam.


وَطَلَبْنَا جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ فَوَجَدْنَا فِى قِرَاءَةِ الْقُرْآن.


3. Kami mencari jawaban pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir, maka kami temukan adalah dengan membaca Al Quran.


وَطَلَبْنَاعُبُوْرَ الصِرَاطَ فَوَجَدْنَاهُ فِي الصَّوْمِ وَ الصَّدَقَةِ


4. Kami mencari cara untuk dapat melintasi shirat, maka kami temukan dalam puasa dan sedekah.


وَطَلَبْنَا ظِلَّ الْعَرْشِ فَوَجَدْنَاهُ فِي الخلْوَةِ


5. Kami mencari naungan arasy, maka kami temukan dalam berkhalwat


From Imam Syaqiq Al-Balkhi, who said:

"We sought five things, and found them within five other matters:

 

1. We sought the way to abandon sin, and found it in Duha Prayer.

2. We sought light for the grave, and found it in Night Prayer.

3. We sought the right answers to the questions of Angels Munkar and Nakir, and found them in reciting the Quran.

4. We sought the means to cross the Bridge of As-Sirat safely, and found it in fasting and giving charity.

5. We sought shelter under the Shade of the Divine Throne, and found it in seclusion devoted to worshipping Allah."


LARANGAN MEMUJI BERLEBIHAN NASAB

 

Menjadi orang yang dijadikan panutan (keturunan terpandang), pelaku dilarang mengagung-agungkan seseorang yang minim ilmu agama meskipun ia memiliki nasab yang mulia atau merupakan cucu dari ulama besar.

 

Memuji diri sendiri secara berlebihan justru akan merusak agama mereka sendiri. Hal ini bisa membuat hati mereka menjadi sombong, malas beramal saleh, dan merasa terbebas dari bahaya dosa hanya karena asal-usul keturunannya.

 

Bagi orang yang memuji. Pujian berlebih itu menjadikan orang yang dipuji (keturunan terpandang) semakin tersesat dan tertipu, bahkan kamu ikut berperan menghancurkannya. Akibatnya, kamu berhak mendapatkan murka Allah SWT, murka Rasulullah SAW, serta murka para leluhur saleh yang namanya dijadikan sandaran oleh orang yang bodoh tersebut.

 

Waspadalah! Barangsiapa berkata atau mengira bahwa perbuatan buruknya tidak berdosa semata-mata karena ia keturunan orang saleh maka ia telah berdusta atas nama Allah. Ia juga telah menentang kesepakatan seluruh ulama umat Islam.

 

Karena itulah, para ulama terdahulu selalu berpesan:

"Menjadi cucu orang saleh bukanlah untuk disombongkan. Justru itu adalah beban amanah berat. Sekali saja kamu melangkah salah, maka kamu telah mencoreng nama baik para leluhurmu"

 

Sumber: Fushul Al Ilmiyyah halaman 74–75


ENGLISH


PROHIBITION OF EXCESSIVE PRAISE AND BOASTING OF LINEAGE

 

Those who are looked up to as role models—including those from respected families—must not excessively exalt someone who lacks religious knowledge, even if that person comes from a noble lineage or is a descendant of great scholars.

 

Excessive self-praise will only harm one’s own faith. It can breed arrogance in the heart, make a person lazy to do good deeds, and lead them to wrongly believe they are safe from sin simply because of their family background.

 

For those who give such excessive praise: your words cause the person you praise to stray further and fall into self-deception. You become complicit in their spiritual ruin. As a result, you may incur the wrath of Allah SWT, the displeasure of His Messenger SAW, and the disapproval of the pious ancestors whose names this ignorant person claims as their own.

 

Beware! Whoever claims or believes that their wrongdoing carries no guilt just because they are descended from righteous people has told a lie about Allah. This also goes against the unanimous agreement of all Islamic scholars.

 

This is why early scholars always advised:

"Being a descendant of righteous people is not something to boast about. Instead, it is a heavy trust and responsibility. One single misstep will tarnish the good name of your ancestors"

 

Source: Fushul Al Ilmiyyah, pages 74–75


DALIL


لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِمَّنْ يُعَوَّلُ عَلَيْهِ أَنْ يُعَظِّمَ وَلَا أَنْ يُثْنِيَ عَلَى الْجَاهِلِ وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَهُ نَسَبٌ شَرِيفٌ وَسَلَفٌ صَالِحٌ، فَإِنَّ تَعْظِيمَهُ وَالثَّنَاءَ عَلَيْهِ فِي الظَّاهِرِ قَدْ يَفْتِنُهُ فِي دِينِهِ، وَيَغُرُّهُ بِاللَّهِ وَيُزَهِّدُهُ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَيُلْهِيهِ عَنِ التَّزَوُّدِ لِآخِرَتِهِ، وَيَكُونُ الَّذِي يُعَظِّمُهُ وَيُثْنِي عَلَيْهِ سَبَبًا فِي فِتْنَتِهِ وَغُرُورِهِ، وَكَالسَّاعِي فِي هَلَاكِهِ، فَيَسْتَوْجِبُ بِذَلِكَ السَّخَطَ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِينَ الَّذِينَ يُنْسَبُ إِلَيْهِمْ وَيَتَشَرَّفُ بِهِمْ ذَلِكَ الْجَاهِلُ. --- وَمَنْ قَالَ أَوْ ظَنَّ أَنَّ تَرْكَ الطَّاعَاتِ وَفِعْلَ الْمَعَاصِي لَا يَضُرُّ أَحَدًا لِشَرَفِ نَسَبِهِ أَوْ صَلَاحِ آبَائِهِ فَقَدِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَخَالَفَ إِجْمَاعَ الْمُسْلِمِينَ


HUKUM MEMAKAI GELANG BAGI LAKI-LAKI

 

Sumber: Tebuireng Online, 8 November 2018 | Penulis: Ustadz M. Idris (Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari)

 

1. DASAR UTAMA

 

- Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. (HR. Bukhori no. 5885)

- Diharamkan menyerupai ciri khas jenis kelamin lain, baik dari barang yang dipakai maupun gaya perilaku.

 

2. PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA

 

- Mayoritas ulama: Tidak memperbolehkan laki-laki memakai gelang (perhiasan selain cincin perak), karena termasuk penyerupaan kebiasaan wanita. Hanya cincin perak yang diperbolehkan bagi laki-laki.

- Pendapat Abu Said al-Mutawally: Boleh memakai gelang, kalung, dan sejenisnya dari perak, asalkan tidak mengandung penyerupaan khusus terhadap wanita.

 

3. SARAN DAN KESIMPULAN

 

- Laki-laki sebaiknya memilih barang yang sesuai kodrat dan kebiasaan setempat.

- Utamakan pendapat yang sejalan dengan Al-Quran, Hadis, dan ijtihad mayoritas ulama salaf as shalih.

- Wallahu a’lam bisshowab

Dan menurut ku jika karena kepentingan misal mendaki/haji maka pakai aja daripada menimbulkan konflik. Dan soal prilaku jika bawaan alay di maafkan


ENGLISH


THE LAW OF MEN WEARING BRACELETS

 

Source: Tebuireng Online, 8 November 2018 | Author: Ustadz M. Idris (Student of Ma’had Aly Hasyim Asy’ari)

 

1. CORE PRINCIPLES

 

- The Prophet Muhammad SAW invoked the curse of Allah upon men who imitate women, and women who imitate men. (Narrated by Al-Bukhari, Hadith No. 5885)

- It is forbidden to adopt characteristics specifically associated with the opposite sex, whether through clothing, accessories, or mannerisms.

 

2. DIFFERING SCHOLARLY VIEWS

 

- Majority of scholars: Men are not permitted to wear bracelets or any jewelry other than a silver ring, as these are traditionally seen as feminine adornments. Only silver rings are explicitly allowed for men.

- View of Abu Said al-Mutawally: Men may wear bracelets, necklaces, and similar items made of silver, provided they do not carry an obvious feminine design or purpose.

 

3. ADVICE AND CONCLUSION

 

- Men should choose items that align with their natural disposition and local cultural norms.

- It is safest to follow views that align with the Quran, Sunnah, and the consensus of most classical scholars.

- And Allah knows best.

 

 

 

Additional note:

In my view, wearing bracelets is acceptable if there is a clear practical need such as for hiking identification, pilgrimage safety, or medical purposes rather than creating unnecessary conflict. As for personal style or mannerisms that some may consider overly expressive or unconventional, these are generally understood as individual temperament and should be shown grace and understanding


DALIL


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ


Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. (HR. Bukhori, 5885)

Narrated by Ibn Abbas: the prophet muhammad (peace be upon him) cursed men who imitate women and women who imitate men. (Sahih Al-Bukhari, Hadith No. 5885)


يجوز للرجل التختم بالفضة لما روى أنه (اتخذ خاتما من فضة) وهل له لبس ما سوى الخاتم من حلي الفضة كالسوار والدملج والطوق لفظ الكتاب يقتضي المنع حيث قال ولا يحل للرجال إلا التختم به و به قال الجمهور وقال ابو سعيد المتولي إذا جاز التختم بالفضة فلا فرق بين الأصابع وسائر الأعضاء كحلي الذهب في حق النساء فيجوز له لبس الدملج في العضد و الطوق في العنق والسوار في اليد وغيرها وبهذا أجاب المصنف في الفتاوى وقال لم يثبت في الفضة إلا تحريم الاواني وتحريم التحلي على وجه يتضمن التشبه بالنساء.


“Boleh bagi laki-laki memakai cincin perak karena berdasarkan hadis yang diriwayatkan, bahwa Nabi memakai cincin terbuat dari perak. Lalu, bolehkan baginya (laki-laki) memakai perhiasan selain cincin semacam gelang tangan, gelang lengan, kalung, dan sebagainya yang terbuat dari perak? Redaksi kitab mengarah pada pencegahan/tidak diperbolehkan sebagaimana perkataan pengarang “dan tidak boleh bagi laki-laki kecuali perhiasan cincin dari perak.” Yang demikian ini pendapat mayoritas ulama. Namun, Abu Sa’id al Mutawally menyatakan, “bila memakai cincin perak diperbolehkan, maka tidak dibedakan kehalalan memakainya di jari-jari atau anggota tubuh lainnya sebagaimana kelegalan (kebolehan)perhiasan bagi wanita, maka bagi laki-laki boleh memakai gelang lengan, gelang dileher, gelang tangan, dan sebagainya. Dan ini jawaban pengarang dalam kitab fatawa"

"It is permissible for men to wear silver rings, based on narrations that the Prophet himself wore a silver ring. Now, may men wear other types of silver adornments such as bracelets, armbands, necklaces, and the like? The wording of authoritative texts leans toward prohibition, as the author states: 'Men are permitted nothing of silver adornments except rings alone.' This is the position held by the majority of scholars. However, Abu Sa'id al-Mutawally argued: 'If wearing silver rings is allowed, there is no difference between placing silver on fingers versus other parts of the body just as women may wear silver adornments anywhere on their persons. Therefore, men may also wear armbands, necklaces, bracelets, and similar items.' This is also the view the author expressed in his book of legal rulings"

TEKUN MENGAJI, SESIBUK APAPUN KEADAAN KITA

 

Ketika sedang mengikuti pengajian kitab Al-Fiyah Suyuthi, guru kami menceritakan sebuah kisah yang sangat menginspirasi. Imam Jalaluddin As-Suyuti menyusun dan menulis kitab ini hanya dalam waktu lima hari saja. Beliau memulainya pada hari Sabtu, 5 Rabiul Akhir tahun 881 H, dan selesai sepenuhnya pada tanggal 10 Rabiul Akhir di tahun yang sama.

 

Padahal saat itu usia beliau sudah mendekati senja. Beliau lahir pada tahun 849 H dan wafat pada tahun 911 H, sehingga saat menyusun kitab ini usianya sudah cukup lanjut. Selain itu, keseharian beliau pun sangat padat dengan kegiatan wirid serta mengajar ilmu agama. Masya Allah, sungguh luar biasa semangat dan kegigihan beliau.

 

Ini menjadi nasihat yang sangat berharga bagi kita: sesibuk apapun kita, tidak ada alasan untuk meninggalkan mengaji, menulis, atau mendalami makna kitab serta mencatat penjelasannya. Sebab ilmu tidak akan pernah didapatkan dengan bermalas-malasan atau tanpa usaha sungguh-sungguh.

 

Seperti ungkapan yang tertulis:

 

"Tidak akan mendapatkan ilmu terkecuali orang yang serius terhadap ilmu, ialah seseorang yang semangatnya kertas dan pena."

(Jami' Bayan Ilmi wa Fadhlihi, halaman 430)


ENGLISH

DEDICATION TO LEARNING, NO MATTER HOW BUSY WE ARE

 

While attending a study session on the book Al-Fiyah Suyuthi, our teacher shared a truly inspiring story. Imam Jalaluddin As-Suyuthi composed and wrote this entire work in just five days. He began on Saturday, 5 Rabiul Akhir 881 AH, and completed it fully on 10 Rabiul Akhir of the same year.

 

At that time, he was already approaching old age. Born in 849 AH and passing away in 911 AH, he was well into his later years when he wrote this book. On top of that, his daily schedule was already very full with regular devotional practices (wirid) and teaching religious knowledge. Ma sha Allah what truly remarkable passion and perseverance he showed.

 

This gives us a precious lesson: no matter how busy we are, there is no excuse to abandon studying, writing, or delving deeply into the meanings of sacred texts and recording their explanations. Knowledge can never be gained through idleness or without sincere effort.

 

As it is said:

 

"None attain knowledge except those who are fully devoted to it people whose very drive and purpose lie in paper and pen."

(Jami' Bayan Ilmi wa Fadhlihi, page 430)


DALIL


مَا يُدْرِكُ الْعِلْمَ إِلَّا مُشْتَغِلٌ # بِالْعِلْمِ هِمَّتُهُ الْقِرْطَاسُ وَالْقَلَمُ


"Tidak akan mendapatkan ilmu terkecuali orang yang serius terhadap ilmu, ialah seseorang yang semangatnya kertas dan pena". (Jami' Bayan Ilmi wa Fadhlihi 430)


"No one attains knowledge except those who are earnest in seeking it those whose devotion lies in paper and pen."

(Jami' Bayan Ilmi wa Fadhlihi, page 430)


HATI-HATI DENGAN "KANTONG BOCOR"!

 

Ada sebuah peringatan bijak yang sangat patut kita renungkan:

 

"Hati-hatilah dengan kantong bocor!"

 

Apa maksudnya? Berikut penjelasannya:

 

✅ Kamu memberi sedekah kepada kaum miskin, namun setelah itu kamu menyakiti hati atau menyulitkan mereka itulah kantong bocor.

✅ Kamu bangun malam untuk beribadah, puasa di siang hari, dan taat kepada Tuhan, namun kamu memutus tali silaturahmi dengan kerabat itulah kantong bocor.

✅ Kamu berpuasa dengan sabar menahan lapar dan dahaga, namun mulutmu tak terjaga: mencela, memaki, dan melaknat orang lain itulah kantong bocor.

 

Ibarat mengisi kantong yang bolong: sekeras apa pun kita berusaha memasukkan amal kebaikan, semuanya akan sia-sia dan hilang begitu saja jika kita masih memelihara sifat-sifat yang merusak pahala


ENGLISH


BEWARE OF THE "LEAKING BAG"!

 

There is a wise reminder that we should all reflect upon:

 

"Beware of the leaking bag!"

 

What does this mean? Here is the explanation:

 

✅ You give charity to the poor, yet afterwards you hurt their feelings or make things difficult for them that is a leaking bag.

 

✅ You stay up at night to worship, fast during the day, and obey your Lord, yet you cut off ties of kinship with your relatives that is a leaking bag.

 

✅ You fast patiently, enduring hunger and thirst, yet fail to guard your tongue: you criticize, insult, and curse others that is a leaking bag.

 

This is like filling a bag with holes: no matter how hard you try to fill it with good deeds, all your efforts will be wasted and slip away, as long as you hold on to traits that destroy your rewards


DOA HARI JUMAT: YANG MUSTAHIL BISA MENJADI NYATA

 

Dalam kitab Irsyadul Ibad halaman 27, tertulis sebuah kabar gembira bagi kita yang memohon pertolongan Allah SWT. Dikatakan, jika doa ini dipanjatkan pada waktu yang mustajab di hari Jumat, maka segala hajat yang terasa mustahil sejauh jarak antara timur dan barat sekalipun—akan menjadi nyata atas izin-Nya.

 

Doa tersebut adalah:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ يَا بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Tiada Tuhan selain Engkau, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang, Wahai Dzat Yang Maha Memberi Kebaikan, Wahai Dzat Yang Menciptakan Langit dan Bumi tanpa contoh sebelumnya, Wahai Dzat Yang Memiliki Kemuliaan dan Kemegahan.”

 

Setelah membaca kalimat ini, lanjutkanlah dengan memohonkan segala hajat dan keinginanmu kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan.

 

Perlu diketahui, ada dua waktu istimewa yang dianggap sebagai waktu mustajab di hari Jumat:

 

1. Saat khatib duduk sejenak di antara dua khutbah Jumat.

2. Setelah selesai melaksanakan shalat Ashar secara berjamaah.

 

Semoga kita semua diberi kemudahan untuk memanfaatkan waktu-waktu mulia ini, serta segala doa dan harapan kita dikabulkan oleh Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

 

📚 Sumber: Kitab Irsyadul Ibad, Halaman 27


ENGLISH


FRIDAY PRAYER: THE IMPOSSIBLE BECOMES POSSIBLE

 

In the book Irsyadul Ibad (page 27), there is a wonderful promise for all who seek help from Allah SWT. It states that if this prayer is recited during the blessed hour of acceptance on Friday, even the most difficult hopes things that seem as far out of reach as the distance between east and west will be granted by His permission.

 

The prayer is:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ يَا بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“There is no god but You, O Most Compassionate, O Generous Bestower of Good, O Creator of the heavens and earth from nothingness, O Possessor of Majesty and Honor.”

 

After reciting this, present all your needs and heartfelt wishes to Allah SWT with complete trust and certainty.

 

There are two special times recorded as the blessed hours of answered prayer on Friday:

 

1. When the preacher sits briefly between the two parts of the Friday sermon.

2. Immediately after finishing the congregational Asr prayer.

 

May we all be guided to make the most of these sacred moments, and may all our prayers and hopes be accepted by Allah, the All-Hearing, the Granter of all requests

 

📚 Source: book Irsyadul Ibad, Page 27


DALIL


لَوْ دُعِيَ بِهَذَا الدُّعَاءِ عَلَى شَيْءٍ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ فِي سَاعَةٍ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ يَعْنِي سَاعَةَ الْإِجَابَةِ لَاسْتُجِيبَ لِصَاحِبِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ يَا بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ


Jika doa ini dipanjatkan untuk memohon sesuatu yang mencakup antara Timur dan Barat (maksud nya susah terkabul) maka berdoalah pada hari Jumat. pada waktu yang telah di tentukan. Tiada Tuhan selain Engkau, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Pemurah, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan (allah)


If you recite this prayer to ask for something that seems as distant as the span between the East and the West meaning something that appears very difficult to be granted then offer it on Friday, at the appointed time. There is no god but You, O the All-Loving, O the All-Bountiful, O Creator of the heavens and the earth, O Possessor of Majesty and Honor (Allah)

KEUTAMAAN SOWAN KEPADA ORANG SALIH

 

Tradisi sowan atau menghadap para ulama terutama santri kepada gurunya (kiyai termasuk guru jua karena mengajarkan ilmu) adalah budaya mulia yang menyimpan kebaikan yang sangat besar. Mulai dari niat berkunjung, bersalaman, mencium tangan, menatap wajah penuh hormat, hingga memohon ilmu dan doa restu mereka, semuanya memiliki nilai istimewa.

 

Sebagaimana diterangkan dalam kitab Ar-Raudhah Ar-Radiyah halaman 55, karya Mufti Damaskus pada masanya:

 

"Sesungguhnya berkunjung kepada orang-orang shalih adalah amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah. Kunjungan ini mendatangkan limpahan berkah yang keberadaannya sudah teruji. Kita pun diperintahkan untuk memohon doa. Dan tidak diragukan lagi, orang-orang shalih adalah salah satu tempat (memohon doa) yang paling besar peluangnya untuk doa dikabulkan"

 

Tradisi sowan kepada orang shalih juga merupakan amalan yang senantiasa dilakukan oleh para Wali Allah. Hal ini dijelaskan dalam kitab Husnu At-Tanabuh jilid 1 halaman 119, karya ulama besar mazhab Syafi'i:

 

"Termasuk di antara amalan para Wali Allah Radhiyallahu 'anhum adalah berkunjung kepada orang-orang shalih, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Barangsiapa yang berziarah kepada seorang Wali dengan niat yang ikhlas dan sesuai syariat (sopan tidak modus dll yang ikhlas untuk menjemput pahala), maka dicatat baginya pahala yang setara dengan pahala seluruh Wali yang terdahulu, termasuk pula Wali yang dikunjungi tersebut"


ENGLISH 


THE VIRTUES OF VISITING THE RIGHTEOUS

 

The tradition of sowan or paying a respectful visit to scholars especially students to their teachers (including Kyai, as they impart knowledge) is a noble custom that holds immense goodness. From the intention of visiting, exchanging greetings, kissing their hands, looking upon their faces with reverence, to seeking knowledge and their prayers of blessing, every part carries special value.

 

As explained in the book Ar-Raudhah Ar-Radiyah page 55, written by the Mufti of Damascus in his time:

 

"Verily, visiting the righteous is among the deeds that draw one closest to Allah. Such visits bring abundant blessings that have been proven true. We are also commanded to seek prayers, and there is no doubt that the righteous are among those through whom prayers are most likely to be answered."

 

The tradition of visiting the righteous is also a practice consistently observed by the Friends of Allah (Wali Allah). This is clarified in Husnu At-Tanabuh Volume 1 page 119, by the great scholar of the Shafi’i school of thought:

 

"Among the practices of the Friends of Allah, may Allah be pleased with them, is visiting the righteous both those who are living and those who have passed away. Whoever visits a Wali with sincere intention, in accordance with the Shari’ah conducting themselves politely, without hidden motives, purely seeking reward will be recorded a reward equal to that of all the earlier Walis, including the one being visited."


DALIL 


إن زيارة الصالحين من أقرب القربات وهي لاستمطار سحائب البركات من الأمور المجربات وقد أمرنا بالتعرض

للنفحات ولا شك أن مواطنهم من أكبر مظنات إجابة الدعوات. 


Sesungguhnya berkunjung kepada Sholihin Itu Amaliyah yang paling mendekatkan diri kepada Alloh, karena Berkunjung kepada nya menyebabkan keluberan Berkah dari perkara-perkara yang sudah teruji. Dan kita diperintahkan Agar menampakan Anugrah. Dan tidak ada keraguan lagi bahwa tempat tinggal Para sholihin itu paling berpotensi Terijabahnya Do'a-do'a


Verily, visiting the righteous is among the deeds that draw one closest to Allah, for such visits bring an abundance of blessings that have been proven true. We are also commanded to seek out and receive His grace. And there is no doubt that the abodes of the righteous are among the places where prayers are most likely to be answered


ومن جملة أعمال الأولياء رضي الله تعالى عنهم زيارة الصالحين - أحياءً وأمواتًا - فمن زار وليًا زيارة خالصة مقبولة فقد كتب لسائر الأولياء المتقدمين مثل أجره، ومنهم ذلك المزور، 


"Dan termasuk amaliyah para Wali-Wali Alloh Radiyallahu 'anhum ialah Berkunjung kepada para sholihin, baik yang masih hidup atau yang sudah wafat". Barangsiapa yang berziarah kepada Wali dengan Ziarah penuh keikhlasan dan yang diterima (sesuai syariat) maka sungguh dia akan ditulis pahalanya yang sepadan dengan semua wali yang terdahulu, Termasuk wali yang di ziarahi"

"And among the practices of the Friends of Allah, may Allah be pleased with them, is visiting the righteous whether they are still alive or have passed away. Whoever visits a Wali with a sincere and accepted visit (in accordance with the Shari’ah), shall indeed be recorded a reward equal to that of all the earlier Walis, including the Wali being visited"

ANJURAN BERKUNJUNG DAN SOWAN 2

 

Dalam istilah bahasa Arab, berkunjung atau sowan disebut dengan Ziarah, sedangkan orang yang berkunjung disebut Dhaif atau Tamu. Dalam pandangan agama, berkunjung kepada orang saleh, tetangga, kerabat, dan sahabat merupakan hal yang sangat dianjurkan dan memiliki tuntunan khusus.

 

Syaikh Al-Islam Zakaria Al-Anshori menuliskan dalam kitab Asna Al-Matholib juz 4 halaman 187:

 

"Disunnahkan berkunjung kepada orang-orang saleh, tetangga yang baik prilaku nya, saudara seiman, dan kerabat. Juga disunnahkan memuliakan mereka, dengan cara yang tidak memberatkan diri sendiri maupun pihak yang dikunjungi."

 

Sementara itu, Imam Ibnu Hajar mengutip pendapat Imam An-Nawawi dari kitab Al-Adzkar dalam Fatawa Al-Kubro juz 4 halaman 245:

 

"Dianjurkan dengan anjuran yang sangat kuat untuk berkunjung kepada orang saleh, saudara, tetangga, sahabat, dan kerabat. Serta memuliakan mereka, berbuat kebaikan, dan senantiasa menyambung tali silaturahmi."

 

Adapun tata cara dan adab berkunjung bersifat kondisional, disesuaikan dengan kebiasaan serta tradisi masing-masing daerah yang dikunjungi. Sebagaimana penjelasan para ulama:

 

"Batasan dan cara berkunjung berbeda-beda, disesuaikan dengan keadaan, drajat, dan waktu luang mereka. Hendaklah kita berkunjung dengan cara yang tidak membuat mereka tidak suka, dan pada waktu yang mereka ridhai. Sungguh banyak hadis (nasehat) para salaf yang membahas hal ini"


ENGLISH 


RECOMMENDATIONS FOR VISITING AND PAYING RESPECTS 2

 

In Arabic terms, visiting or paying respects is called Ziarah, while the person who visits is referred to as Dhaif or Guest. From a religious perspective, visiting pious people, neighbors, relatives, and friends is a highly encouraged practice with specific guidelines.

 

Syaikh Al-Islam Zakaria Al-Anshori wrote in his book Asna Al-Matholib, Volume 4, Page 187:

 

"It is a Sunnah to visit pious people, neighbors with good conduct, fellow believers, and relatives. It is also a Sunnah to honor them, in a manner that does not burden oneself nor the host."

 

Meanwhile, Imam Ibnu Hajar quoted the opinion of Imam An-Nawawi from the book Al-Adzkar in Fatawa Al-Kubro, Volume 4, Page 245:

 

"Visiting pious people, family, neighbors, friends, and relatives is encouraged with a very strong recommendation. As well as honoring them, doing good deeds towards them, and always maintaining ties of kinship and friendship."

 

As for the procedures and etiquette of visiting, they are situational and adjusted according to the customs and traditions of each respective region being visited. As explained by the scholars:

 

"The limits and manner of visiting vary, adjusted to their circumstances, social standing, and free time. We should visit in a way that does not displease them, and at a time that they are pleased with. There are indeed many Hadith and wise sayings from the pious predecessors that discuss this matter."


DALIL 

(وَتُسَنُّ زِيَارَةُ الصَّالِحِينَ وَالْجِيرَانِ) غَيْرِ الْأَشْرَارِ (وَالْإِخْوَانِ) وَالْأَقَارِبِ وَإِكْرَامهِمْ (بِحَيْثُ لَا يَشُقُّ) عَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ


"Disunnahkan Ziarah (Sowan) kepada Orang-orang sholih, Tetangga yang tidak buruk prilakunya, Teman dekat, Kerabat. Dan sunnah memuliakan-nya mereka dengan sekira tidak memberatkan kepada yang berkunjung dan Tuan Rumah"


"It is a Sunnah to visit pious people, neighbors of good conduct, close friends, and relatives. It is also a Sunnah to honor them, in a way that does not place a burden on either the visitor or the host"

قَالَ فِي الْأَذْكَارِ يُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكِّدًا زِيَارَةُ الصَّالِحِينَ وَالْإِخْوَانِ وَالْجِيرَانِ وَالْأَصْدِقَاءِ وَالْأَقَارِبِ وَإِكْرَامُهُمْ وَبِرُّهُمْ وَصِلَتُهُمْ 


Imam An-nawawi berkata dalam Kitab Al-Adzkar "Disunnahkan dengan kesunnahan Muakkad berkunjung orang sholih, Saudara, Tetangga, teman dekat dan Kerabat. Dan sunnah memuliakan mereka, berbuat baik kepada mereka dan Menyambung hubungan


Imam An-Nawawi stated in the book Al-Adzkar: "It is a strongly confirmed Sunnah to visit pious people, family, neighbors, close friends, and relatives. It is also a Sunnah to honor them, treat them with kindness, and maintain bonds of relationship"


وَضَبْطُ ذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ أَحْوَالِهِمْ وَمَرَاتِبِهِمْ وَفَرَاغِهِمْ وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ زِيَارَتُهُ لَهُمْ عَلَى وَجْهٍ لَا يَكْرَهُونَهُ وَفِي وَقْتٍ يَرْضَوْنَهُ وَالْأَحَادِيثُ وَالْآثَارُ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ مَشْهُورَةٌ اهـ.


"Batasan Berkunjung ini berbeda-beda dengan mempertimbangkan keadaan, derajatnya dan waktu luangnya orang-orang yang berkunjung. Dan Seyogyanya seseorang menghindari cara berkunjung yang tidak disukai oleh tuan Rumah, dan memilih waktu yang ada kerelaan tuan Rumahnya. Hadits dan dawuh Para sahabat dalam masalah ini sangat banyak sekali"


"The guidelines for visiting vary according to the circumstances, status, and available free time of those being visited. One should avoid visiting in a manner that displeases the host, and choose a time that meets their approval. There are indeed very many Hadith and sayings of the Companions regarding this matter"


MENJADI PENCERAMAH

Seorang penceramah yang saat ini sering disebut pula sebagai penyampai pesan salah satu nya pembuat konten seyogyanya lebih dulu mengamalkan ilmu yang akan ia sampaikan. Sebab jika tidak demikian, ia tergolong orang yang merugi. Sebagaimana tertulis dalam kitab Lathoif Ma'arif juz 1 halaman 53:

 

"Perumpamaan orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya bagaikan pelita: ia memberi cahaya kepada orang lain, sementara dirinya sendiri terbakar."

 

Namun demikian, bukan berarti penceramah dilarang menyampaikan kebaikan yang belum sepenuhnya ia amalkan. Selama kandungannya benar dan niatnya tulus (misal suka aja biar orang selamat/cari ridha illahi. bukan agar di puji/mencari panggung idola cewek dll), hal itu tetap bernilai kebajikan. Maka diperlukan keseimbangan: di satu sisi terus berusaha mengamalkan ilmu (berkembang), dan di sisi lain tetap menyampaikan kebaikan sekalipun belum sempurna melaksanakannya dengan niat melaksanakan amar makruf nahi mungkar.

 

Hal ini diperjelas dalam Tafsir Al-Qurtubi juz 1 halaman 367, melalui percakapan mulia berikut:

 

Imam Al-Hasan menasihati Muthorrof bin Abdillah: "Berilah nasihat kepada manusia."

Muthorrof menjawab: "Aku khawatir menyampaikan sesuatu yang belum aku laksanakan."

Imam Al-Hasan pun bersabda: "Semoga Allah merahmatimu! Siapakah di antara kita yang mampu melaksanakan sepenuh apa yang ia ucapkan? Sesungguhnya setan berharap kekhawatiran seperti ini membuat manusia berhenti menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran."

 

Sementara itu, Sa'id bin Jubair menyampaikan:

 

"Seandainya seseorang baru menyuruh (menceramahi) kebaikan dan mencegah kemungkaran setelah dirinya benar-benar bersih dari segala kekurangan, maka tak akan ada seorang pun yang menyampaikan kebaikan dan mencegah kemungkaran di muka bumi ini"


ENGLISH


BEING A RELIGIOUS PREACHER

 

A preacher a role that today also includes those who share messages and create beneficial content ought to first put into practice the knowledge he intends to convey. For if he does otherwise, he is counted among those who are at a loss. As recorded in the book Lathoif Ma'arif, Volume 1, Page 53:

 

"The likeness of a learned person who does not practice what he knows is that of a lamp: it gives light to others, yet burns itself away."

 

Nevertheless, this does not mean a preacher is forbidden from conveying goodness that he has not yet fully practiced. As long as the content is true and the intention is sincere seeking only the well-being of others and the pleasure of Allah, not to win praise, seek fame, or gain worldly attention it still counts as a righteous deed. Therefore, balance is needed: on one hand, constantly striving to practice and grow in knowledge; on the other hand, continuing to share goodness even before perfecting one’s own conduct, with the intention of commanding good and forbidding evil.

 

This is further clarified in Tafsir Al-Qurtubi, Volume 1, Page 367, through this noble exchange:

 

Imam Al-Hasan advised Muthorrof bin Abdillah: "Give counsel to the people."

 

Muthorrof replied: "I fear to speak of something which I have not yet put into practice."

 

Thereupon Imam Al-Hasan said: "May Allah have mercy upon you! Who among us is capable of fully practicing everything that he says? Truly, Satan hopes that such hesitation will prevent people from commanding good and forbidding evil."

 

Furthermore, Sa'id bin Jubair stated:

 

"If one could only command goodness and forbid evil once he was entirely free of every shortcoming, then no one would ever convey goodness or forbid evil upon the face of this earth"


DALIL


العالِمُ الذي لا يعمَلُ بعلمِهِ مَثَلُهُ كمثَلِ المِصبَاحِ، يُضيءُ للنَّاسِ ويحرِقُ نفسَهُ.


"Orang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya diumpamaakan obor, dia menyinari manusia dan membakar diri sendiri"

"The learned person who does not practice what he knows is like a torch: it gives light to others yet burns itself"


وقال الحسن لمطرف بن عبد الله: عظ أصحابك، فقال إني أخاف أن أقول ما لا أفعل، قال: يرحمك الله! وأينا يفعل ما يقول! ويود الشيطان أنه قد ظفر بهذا، فلم يأمر أحد بمعروف ولم ينه عن منكر.


Imam Al-Hasan berkata kepada Muthorrof bin Abdillah "Berilah pitutur pada teman-teman mu". Muthorrof berkata "Sesungguhnya aku khawatir mengucapkan sesuatu yang tidak saya ucapkan". Imam Al-Hasan kembali berkata " Semoga Alloh ta'ala merahmati-mu, Siapa dari kita yang bisa mengamalkan sesuatu yang akan diucapkan!. Justru syaiton telah berhasil kekhawatiran demikian, kemudian seseorang tidak memerintah kan orang lain kepada kebaikan dan tidak mencegah terhadap kemungkaran"

Imam Al-Hasan said to Muthorrof bin Abdillah: "Give counsel to your companions."

 

Muthorrof replied: "Truly I fear speaking of something that I do not myself practice."

 

Imam Al-Hasan then said: "May Allah Ta'ala have mercy upon you! Who among us is able to practice everything that he speaks?! It is precisely through such hesitation that Satan prevails causing one to refrain from commanding others to do good and from forbidding what is wrong"


سعيد بن جبير يقول: لو كان المرء لا يأمر بالمعروف ولا ينهى عن المنكر حتى لا يكون فيه شي، ما أمر أحد بمعروف ولا نهى عن منكر.


Sa'id bin Jubair berkata "Seandainya seseorang tidak memerintahkan kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran sampai tidak ada kekhawatiran (keburukan) dalam dirinya, Maka tidak ada satupun seseorang yang memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran"


Sa'id bin Jubair said: "If a person were to refrain from commanding good and forbidding evil until he himself was entirely free of every fault, then there would not be a single person who commands good and forbids evil"


PEMBAGIAN NIKMAT ALLAH YANG TAK TERBILANG

 

Syekh Al-'Allamah Ahmad bin Muhammad As-Sowi Al-Maliki menjelaskan dalam kitab Hasyiah As-Sowi Ala Tafsir Al-Jalalain juz 1 halaman 18:

 

Segala nikmat Allah Ta'ala sesungguhnya takkan pernah sanggup dihitung satu per satu. Hal ini selaras dengan firman-Nya:

 

"Dan jika kalian mencoba menghitung nikmat Allah, kalian takkan pernah tahu batas nya"

 

Meski tak terbilang jumlahnya, secara garis besar nikmat Allah dikelompokkan menjadi dua bagian besar: Nikmat Duniawi dan Nikmat Ukhrawi.

 

1. Nikmat Duniawi

 

Terbagi lagi menjadi dua jenis:

 

- Nikmat Wahbiyah: Nikmat pemberian. Ada yang bersifat rohani seperti dikaruniai nyawa, akal budi, kemampuan berpikir, dan memahami pelajaran. Ada pula yang bersifat jasmani seperti penciptaan tubuh, kekuatan fisik, kesehatan, serta kesempurnaan anggota badan.

- Nikmat Kasbiyah: seperti mensucikan hati dari sifat tercela serta menghiasinya dengan akhlak yang mulia dan luhur.

 

2. Nikmat Ukhrawi

 

Merupakan anugerah terbesar di akhirat, berupa ampunan Allah atas segala kekhilafan hamba, serta kemuliaan dimasukkan ke dalam surga tertinggi Iliyyin untuk kekal selamanya bersama para malaikat al muqorrobin


ENGLISH


THE CATEGORIES OF ALLAH'S COUNTLESS BLESSINGS

 

Sheikh Al-'Allamah Ahmad bin Muhammad As-Sowi Al-Maliki explains in his work Hasyiah As-Sowi Ala Tafsir Al-Jalalain, Volume 1, Page 18:

 

All blessings from Allah Ta'ala can truly never be counted one by one. This aligns perfectly with His words:

 

"And if you try to count the blessings of Allah, you will never be able to grasp their full extent."

 

Though their number is beyond reckoning, Allah's blessings are broadly divided into two major groups: Worldly Blessings and Hereafter Blessings.

 

1. Worldly Blessings

 

These are further divided into two types:

 

- Wahbiyah Blessings: Blessings granted directly as a gift. Some are spiritual, such as the gift of life, intellect, the ability to think, and to understand knowledge. Others are physical, such as the creation of the body, physical strength, good health, and the perfection of all our limbs and senses.

- Kasbiyah Blessings: Blessings attained through effort and striving, such as purifying the heart from blameworthy traits and adorning it with noble and virtuous character.

 

2. Blessings of the Hereafter

 

These are the greatest gifts of all in the afterlife: Allah's forgiveness for every shortcoming of His servants, and the honor of being admitted to the highest paradise of Illiyyin, to dwell there forever alongside the angels drawn nearest to Him


DALIL


(وان تعدوا نعمة الله لا تحصوها)


"Apabila kalian menghitung nikmat Gusti Alloh Maka kalian tidak akan bisa mengetahui batasnya"


"If you were to count the blessings of your Lord, you would never be able to grasp their full extent"


ORANG BERILMU DAN PERUT YANG TERJAGA

 

Dalam ajaran Islam serta ilmu tasawuf, terdapat hubungan yang berbanding terbalik antara ketinggian ilmu dan kerohanian seseorang dengan kebiasaan memenuhi perut hingga kekenyangan (tidak pernah puasa sunnah. misal ngrowot mutih dll). Perut yang terlalu penuh cenderung membuat tubuh menjadi berat, hati menjadi keras, dan semangat beribadah pun luntur. Sebaliknya, menjaga porsi makan agar tetap ada rasa lapar (puasa dan di anjurkan puasa sunnah) justru melatih kejernihan jiwa, ketajaman akal, serta kekhusyukan dalam mendekatkan diri kepada Allah.

 

Bahaya Kekenyangan bagi Orang Berilmu

 

Menurut para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi'i, kebiasaan makan berlebihan membawa dampak buruk bagi pertumbuhan jiwa dan kecerdasan:

 

- Tubuh menjadi berat: Terasa lemas dan malas bergerak, sehingga sulit bangun untuk salat malam atau mengerjakan amal saleh lainnya (ingatkan. kala orang lapar tidak bisa tidur).

- Hati menjadi keras: Perut yang penuh menghilangkan kelembutan hati, rasa iba, dan kepekaan terhadap kebenaran.

- Pikiran menjadi tumpul: Energi tubuh terpusat sepenuhnya pada pencernaan, sehingga akal menjadi lambat dan sulit untuk memahami atau menghafal ilmu.

- Banyak waktu terbuang: Rasa kantuk datang lebih cepat, sehingga waktu berharga habis sia-sia dalam tidur (amalan sunnah di abaikan)

 

Kebaikan Menjaga Porsi Makan

 

Dalam latihan kerohanian atau riyadhoh yang biasa diajarkan di pesantren:

 

- Mengurangi porsi makan adalah langkah paling ampuh untuk menundukkan hawa nafsu yang melampaui batas.

- Rasa lapar yang terukur melahirkan kerendahan hati (tawadhu) dan memperkuat rasa ketergantungan serta kedekatan kita kepada Allah SWT (seperti kelaparan).

 

Para ulama pun menganjurkan prinsip keseimbangan, yaitu membagi kapasitas perut menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga sisanya tetap dikosongkan untuk udara (puasa. di barengi dzikir amalan)


ENGLISH


THE SCHOLAR AND THE DISCIPLINED STOMACH

 

In Islamic teachings and spiritual knowledge (tasawwuf), there is an inverse relationship between one’s level of knowledge and spiritual standing, and the habit of filling the stomach to fullness such as neglecting voluntary fasts like ngrowot or mutih. An overfull stomach tends to make the body heavy, the heart hard, and the spirit of worship fade away. Conversely, keeping a measured appetite including practicing and encouraging voluntary fasting trains the clarity of the soul, sharpness of the mind, and focus in drawing near to Allah.

 

The Dangers of Excessive Fullness for the Seeker of Knowledge

 

According to scholars such as Imam Al-Ghazali and Imam Syafi’i, overeating harms both spiritual growth and intellectual ability:

 

- A heavy body: One feels sluggish and reluctant to move, making it hard to rise for night prayers or perform other good deeds. As a reminder: a hungry person finds it difficult to sleep, unlike one who is stuffed.

- A hardened heart: A full stomach erodes gentleness, compassion, and sensitivity to the truth.

- Dulled thinking: All the body’s energy shifts to digestion, slowing the mind and making it hard to understand or retain knowledge.

- Wasted time: Drowsiness sets in quickly, so precious hours are lost to sleep, and voluntary acts of worship are neglected.

 

The Benefits of Moderation and Fasting

 

In spiritual training (riyadhoh) commonly taught at Islamic boarding schools:

 

- Reducing food intake is one of the most effective ways to rein in one’s base desires.

- Rightly measured hunger fosters humility (tawadhu) and deepens one’s reliance on, and closeness to, Allah SWT a state akin to the spiritual fruit of hunger itself.

 

Scholars also recommend the principle of balance: divide the stomach into three parts one third for food, one third for drink, and one third left empty. This approach goes hand in hand with fasting, paired with remembrance (dzikir) and good works


ALASAN MENGAPA ISLAM MELARANG UMATNYA MENCELA MAKANAN

 

Makanan sebagai Anugerah Allah

 

- Makanan dan minuman adalah rahmat serta pemberian Allah SWT yang menjadi kebutuhan pokok kehidupan manusia. Tanpanya, manusia tidak dapat bertahan hidup, sehingga Islam sangat memuliakan hal ini.

- Segala aktivitas dasar manusia, termasuk makan dan minum, diatur dengan tata krama atau adab yang patut dijunjung tinggi.

 

Larangan Mencela Makanan dan Teladan Rasulullah SAW

 

- Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila beliau menyukainya, maka dimakan; jika tidak berkenan, cukup ditinggalkan tanpa memberikan komentar buruk atau penghinaan (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064).

- Mencela makanan dapat berupa ucapan yang meremehkan rasa, kualitas, atau penyajiannya, hingga perbuatan membuang makanan yang masih layak dikonsumsi.

 

Sikap Bersyukur sebagai Kewajiban

 

- Menghargai makanan adalah cerminan akhlak mulia, sebaliknya mencelanya menunjukkan akhlak yang rendah

- Sesuai firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7: orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, sedangkan yang mengingkari nikmat akan menerima siksa yang berat.

- Kesadaran bahwa banyak orang lain yang masih kekurangan pangan, menjadikan nikmat makanan yang kita terima patut disyukuri sepenuh hati.


ENGLISH


WHY ISLAM PROHIBITS BELITTLING FOOD

 

Food as a Blessing from Allah

 

- Food and drink are mercy and provisions granted by Allah SWT, forming the most fundamental need for human life. Without them, humans cannot survive, which is why Islam holds food in the highest regard.

- All basic human activities, including eating and drinking, are governed by proper etiquette and manners that must be upheld.

 

The Prohibition of Belittling Food and the Example of the Prophet Muhammad SAW

 

- The Prophet Muhammad SAW never once criticized any food. If he liked it, he would eat it; if he did not prefer it, he simply left it without making negative remarks or showing contempt (Narrated by Bukhari no. 5409 and Muslim no. 2064).

- Belittling food may include words that dismiss its taste, quality, or presentation, and even extend to wasting or throwing away food that is still fit for consumption.

 

Gratitude as an Obligation

 

- Respecting food reflects noble character, while looking down on it signifies lowly conduct.

- As stated by Allah in Surah Ibrahim verse 7: those who give thanks will receive greater blessings, while those who deny His favors will face a severe punishment.

- Recognizing that many others still suffer from hunger reminds us that the blessing of food we receive deserves wholehearted gratitude


DALIL


مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ



Artinya: Nabi saw tidak pernah mencela makanan sekalipun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya) (HR. Bukhari no 5409 dan Muslim no 2064)

The Prophet SAW never once belittled any food. If he desired (liked) it, he would eat it; if he did not like it, he would simply leave it untouched (and not eat it). (Narrated by Bukhari no. 5409 and Muslim no. 2064)


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ



Wa idz ta’adzdzana robbukum lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzabi lasyadid.



Artinya: Dan (ingatlah) tatkala Pemelihara kalian mengumumkan bahwasanya jika kalian bersyukur, maka sungguh Aku akan tambah untuk kalian (akan nikmat). Dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih (QS Ibrahim: 7)

"And [mention, O Muhammad], when your Lord proclaimed: 'If you are grateful, I will surely increase you [in favor]; but if you deny, indeed My punishment is severe" (QS Ibrahim: 7)


BERKAH MAKANAN TERLETAK PADA TIPS BERIKUT INI

 

Persiapan Sebelum Makan

 

- Makan adalah kebutuhan pokok dan nikmat Allah. Rasulullah ﷺ mengajarkan berkah (islam menganjurkan jika tidak puasa lebih baik makan kala lapar) makanan didapat dengan berwudhu sebelum dan sesudahnya (HR. Abu Daud & At-Tirmidzi); jika sulit berwudhu, cukup cuci tangan dengan bersih demi kesehatan.

- Disunahkan membaca Bismillah saat mulai makan. Jika lupa di awal, ucapkan: "Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi" (HR. Abu Daud & At-Tirmidzi).

 

Tata Cara Saat Makan

 

- Disarankan makan menggunakan tangan dengan tiga jari, lalu menjilati sisa makanan di tangan sebelum dicuci (HR. Muslim). Menggunakan sendok/garpu/sumpit tetap diperbolehkan, namun cara tangan lebih mendatangkan berkah (sunnah)

- Wajib menggunakan tangan kanan, sesuai pesan Nabi ﷺ: "Ucapkan bismillah, dan (kala pakai tangan/alat bantu) makanlah dengan tangan kananmu" (HR. Al-Bukhari).

- Menurut Imam An-Nawawi: makan dengan satu jari sifat sombong, dua jari cara setan, lima jari cara orang rakus — tiga jari adalah cara paling baik dan bermanfaat.

 

Setelah Selesai Makan

 

- Dianjurkan membaca doa: "Alhamdulillahilladzi ath'amana wa saqana wa ja'alana minal muslimin", artinya: "Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami termasuk orang-orang beragama Islam" (HR. Abu Daud)


ENGLISH


BLESSINGS OF FOOD LIE IN THESE PRACTICES

 

Before Eating

 

- Eating is a basic human need and a blessing from Allah. The Prophet ﷺ taught that one receives blessings from food by performing ablution before and after eating (Narrated by Abu Daud and At-Tirmidzi). If performing ablution is difficult, simply wash your hands thoroughly for hygiene.

- It is a sunnah to recite Bismillah when starting to eat. If you forget at the beginning, say: "Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi" (Narrated by Abu Daud and At-Tirmidzi).

 

While Eating

 

- It is recommended to eat using three fingers, and to lick any remaining food from your hands before washing them (Narrated by Muslim). Using spoons, forks, or chopsticks is still permitted, but eating by hand is the sunnah that brings greater blessings.

- Use your right hand, as instructed by the Prophet ﷺ: "Mention the name of Allah, and eat with your right hand" — this applies whether eating by hand or using utensils (Narrated by Al-Bukhari).

- According to Imam An-Nawawi: eating with one finger is the way of the arrogant; with two fingers is the way of Satan; with all five fingers is the way of the greedy — using three fingers is the best and most beneficial manner.

 

After Eating

 

- It is encouraged to recite the following prayer: "Alhamdulillahilladzi ath'amana wa saqana wa ja'alana minal muslimin", which means: "All praise is for Allah who has given us food and drink, and made us among those who submit to Him" (Narrated by Abu Daud)


DALIL


بَرَكَةُ الطَّعَامِ الْوُضُوْءُ قَبْلُهُ وَالْوُضُوْءُ بَعْدَهُ (رواه الترمذي ، وأبو داود) 



Artinya : Berkahnya makanan adalah berwudhu baik sebelum maupun sesudahnya (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

"The blessing of food lies in performing ablution both before and after eating." (Narrated by Abu Daud and At-Tirmidzi)


إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَاماً فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ، فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ



Artinya : Jika salah seorang diantara kalian makan, maka ucapkanlah nama Allah (bismillaah), jika lupa pada awalnya, maka bacalah: Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

"If any of you eats, then mention the name of Allah (say Bismillah). If you forget to say it at the beginning, then recite: Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi." (Narrated by Abu Dawud and At-Tirmidzi)


كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل بثلاثة أصابع ، ويلعق يده قبل أن يمسحها


Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika makan menggunakan tiga jari, dan menjilati tangan sebelum dibasuh (HR. Muslim)


"Indeed, the Messenger of Allah (prophet muhammad) ﷺ would eat using three fingers, and would lick his hands before washing them." (Narrated by Muslim)


عن عمر بن أبي سلمة رضي الله عنهما قال فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا غلام، سمِّ اللهَ، وكُلْ بيمينك



Artinya : Hai anakku ucapkanlah bismillaah. Makanlah dengan tangan kananmu (HR. Al-Bukhari)


"O my dear child, mention the name of Allah, and eat with your right hand." (Narrated by Al-Bukhari)


PRAYER

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ


PENTINGNYA NILAI KEBERSAMAAN

 

Ajaran Islam tentang Persatuan

 

- Islam disamakan sebagai bangunan yang saling menyambung, sehingga umat diperintahkan untuk senantiasa bersatu. Ibadah seperti shalat lima waktu sangat dianjurkan berjamaah, dan shalat Jumat wajib dilaksanakan bersama kecuali ada halangan besar. Persatuan juga tampak dalam ibadah haji serta perayaan Idul Fitri.

 

Upaya Menyatukan Perayaan Idul Fitri

 

- NU dan umat Islam umumnya berusaha menyatukan pelaksanaan Idul Fitri, setidaknya dalam momen ini jika belum bisa bersatu di hal lain. Pemerintah memfasilitasi sidang isbat bersama untuk menyamakan penetapan hari raya melalui kesepakatan metode hisab dan rukyah.

- Pada tahun 2006, sebagian besar ormas sepakat Idul Fitri jatuh 24 Oktober, namun Muhammadiyah menolak dengan prinsip hisab tersendiri. PWNU Jawa Timur kemudian menetapkan lebaran 23 Oktober, yang menimbulkan keraguan dan kebingungan di kalangan umat serta ormas lain.

 

Pandangan NU atas Perbedaan

 

- Perbedaan hari lebaran sebenarnya hal biasa di lingkungan NU jika terjadi pada tingkat pesantren atau jamaah tertentu, namun tidak seharusnya ditetapkan secara resmi oleh pengurus wilayah hingga menyebar luas.

- PBNU melalui Lajnah Falakiyah berusaha menyamakan persepsi dan musyawarah ahli falak agar warga NU tidak terpecah belah, dengan berpegang pada kesepakatan metode hisab dan rukyah yang telah disepakati bersama.

 

Dampak Perpecahan dan Peringatan Ulama

 

- Perbedaan ini menambah perpecahan yang sudah mulai terasa akibat dinamika politik dan pemilihan umum. Bahkan muncul sikap tidak konsisten, seperti imam yang sudah berlebaran diam-diam lalu memimpin shalat Ied di hari berbeda, atau orang yang masih berpuasa namun menjadi khatib shalat Ied.

- Kiai Maimun Zubair mengingatkan penetapan hari raya harus berdasar syariat, bukan arogansi atau hawa nafsu. KH Habib Luthfi menegaskan lebaran menyangkut keimanan dan hati nurani, sehingga tidak boleh ditetapkan sembarangan.

- KH Ma'ruf Amin menekankan NU harus konsisten menggunakan hisab dan rukyah yang sahih dalam menetapkan awal Ramadhan dan Syawal, demi mempertanggungjawabkan ibadah secara syariat maupun sosial, serta mengantisipasi perbedaan di masa mendatang


ENGLISH


THE IMPORTANCE OF THE VALUE OF TOGETHERNESS

 

Islamic Teachings on Unity

 

- Islam is likened to an interconnected building, therefore its followers are commanded to always remain united. Acts of worship such as the five daily prayers are highly encouraged to be performed in congregation, and the Friday prayer is obligatory to hold collectively unless there is a major hindrance. Unity is also reflected in the Hajj pilgrimage and the celebration of Eid al-Fitr.

 

Efforts to Unify Eid al-Fitr Celebrations

 

- Nahdlatul Ulama (NU) and Muslims in general strive to unify the observance of Eid al-Fitr — at least for this occasion, if unity in other matters has not yet been achieved. The government facilitates a joint sidang isbat (confirmation assembly) to align the determination of the festival date through an agreed method of hisab (astronomical calculation) and rukyah (moon sighting).

- In 2006, most Islamic organizations agreed that Eid al-Fitr would fall on 24 October, though Muhammadiyah disagreed based on its own principles of hisab. The Regional Board of NU East Java then set Eid on 23 October, sparking confusion and doubt among the community and other organizations.

 

NU’s Stance on Differences

 

- Variations in the date of Eid are actually common within NU when they occur at the level of individual Islamic boarding schools or specific congregations, but such differences should not be officially declared by regional boards to the point of spreading widely.

- The Central Board of NU (PBNU), through its Lajnah Falakiyah (Astronomy Council), works to align understanding and hold consultations among astronomy experts so that NU members remain united, upholding the collectively agreed method of hisab and rukyah.

 

Impacts of Division and Reminders from Scholars

 

- This divergence deepened rifts already emerging from political dynamics and elections. It even led to inconsistent conduct: for instance, an imam who had secretly celebrated Eid leading the Eid prayer on a different day, or someone still fasting acting as the Eid prayer preacher.

- Kiai Maimun Zubair reminded that the festival date must be determined according to Sharia, not arrogance or personal desire. KH Habib Luthfi emphasized that Eid concerns faith and conscience, so it must never be decided arbitrarily.

- KH Ma'ruf Amin stressed that NU must consistently use valid hisab and rukyah to set the start of Ramadan and Shawwal, to uphold religious and social accountability, and to anticipate similar disagreements in the future


BERMAIN GAME ONLINE MENURUT HUKUM ISLAM

 

Dasar Penilaian

 

- Teknologi diciptakan untuk kebaikan manusia, termasuk sebagai sarana hiburan dan penyegaran diri. Hukum game online dianalogikan (qiyas) dengan ketentuan permainan umum dalam Islam, mengacu pada kitab Fathul Mu'in dan Mausu'ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah.

- Secara umum, permainan dibagi menjadi empat kategori hukum: mubah (boleh), mustahab (dianjurkan), makruh (sebaiknya dihindari), dan haram (dilarang).

 

Kategori dan Syarat Hukum

 

- Mubah (Boleh): Permainan yang tidak merendahkan martabat, tidak merugikan diri maupun orang lain/hewan, tidak melalaikan shalat dan kewajiban lain, serta tidak mendorong ucapan atau perbuatan haram (misal lomba lari prahu dll)

- Mustahab (Dianjurkan): Permainan yang mendatangkan manfaat, misalnya memiliki unsur pendidikan, melatih keterampilan, atau nilai positif lainnya (seperti bermain tebak2 an bahasa arab. memanah dll)

- Makruh: Permainan yang cenderung tidak pantas bagi orang yang berakhlak baik (misal adi burung ayam dll)

- Haram: Permainan yang mengandung judi, kekerasan yang berlebihan, penipuan, pornografi, (misal gta (kekerasan fisik/diskotik. kecuali jika main gta buat jalan2. mendaki dll boleh). bully [asal bisa menyerap sisi positifnya misal bulliying iti hak baik] judi sepak bola dll)

 

Kesimpulan Utama

 

- Bermain game online hukumnya boleh selama memenuhi syarat: bebas dari judi, tidak melalaikan kewajiban ibadah dan tugas sehari-hari, tidak merugikan orang lain, serta tidak memuat konten yang melanggar ajaran Islam.

- Perlu pengawasan dan bimbingan khusus dari orang tua bagi anak-anak yang bermain game

ENGLISH

PLAYING ONLINE GAMES ACCORDING TO ISLAMIC LAW

 

Basis for Assessment

 

- Technology is created for human benefit, including as a means of entertainment and relaxation. The ruling on online games is determined by analogy (qiyas) with general rules of play in Islam, referring to works such as Fathul Mu'in and Mausu'ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah.

- In principle, all forms of play fall into four legal categories: mubah (permissible), mustahab (recommended), makruh (disliked), and haram (forbidden). 

 

Categories and Conditions

 

- Mubah (Permissible): Play that does not undermine dignity, does not cause harm to oneself, others, or animals, does not distract from prayer or other obligations, and does not encourage forbidden speech or conduct — for example, boat racing and similar activities.

- Mustahab (Recommended): Play that brings clear benefit, such as educational content, skill training, or positive values — like Arabic word quizzes or archery practice. 

- Makruh (Disliked): Play that is unbecoming for those of noble character — for instance, bird or cock fighting.

- Haram (Forbidden): Play containing gambling, excessive violence, deception, or pornography. Note: Games like GTA may be played if used solely for exploration or virtual hiking; Bully is acceptable if one focuses on its positive messages about anti‑bullying; football betting games and similar forms of gambling are strictly prohibited.

 

Main Conclusion

 

- Playing online games is permissible provided it: contains no gambling, does not cause neglect of worship or daily duties, does not harm others, and does not violate Islamic teachings. 

- Children require special supervision and guidance from parents when playing online games


DALIL


واللعب بالشطرنج بكسر أوله وفتحه معجما ومهملا مكروه إن لم يكن فيه شرط مال من الجانبين أو أحدهما أو تفويت صلاة ولو بنسيان بالاشتغال به أو لعب مع معتقد تحريمه وإلا فحرام 



Artinya: Bermain catur hukumnya makruh; bila tidak disertai dengan harta dari kedua pemain atau salah satunya (karena berarti judi), atau tidak sampai meninggalkan sholat meskipun dikarenakan unsur lupa, atau tidak bermain bersama orang yang berkeyakinan mengharamkan catur tersebut

Playing chess is makruh (disliked), provided it does not involve wagering money or valuables by either or both players (which would make it gambling), does not cause one to miss the prayer even if out of forgetfulness due to being engrossed in the game and is not played with someone who holds the belief that chess is forbidden


اللَّعبُ مِنْهُ مَا هُوَ مُبَاحٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُسْتَحَبٌّ وَمِنْهُ مَا هُوَ مَكْرُوهٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ مُحَرَّم



Artinya: Permainan itu ada yang mubah, ada yang dianjurkan, makruh dan haram


"Some forms of play are permissible, some are recommended, some are disliked, and some are forbidden."


فَمِنَ اللَّعِبِ الْمُبَاحِ الْمُسَابَقَةُ الْمَشْرُوعَةُ عَلَى الأْقْدَامِ وَالسُّفُنِ وَنَحْوِ ذَلك وَإِبَاحَةُ اللَّعِبِ إِنَّمَا يَكُونُ بِشَرْطِ أَنْ لاَ يَكُونَ فِيهِ دَنَاءَةٌ يَتَرَفَّعُ عَنْهَا ذَوُو الْمَرُوءَاتِ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَتَضَمَّنَ ضَرَرًا فَإِنْ تَضَمَّنَ ضَرَرًا لإِنْسَانٍ أَوْ حَيَوَانٍ كَالتَّحْرِيشِ بَيْنَ الدُّيُوكِ وَالْكِلاَبِ وَنِطَاحِ الْكِبَاشِ وَالتَّفَرُّجِ عَلَى هَذِهِ الأْشْيَاءِ فَهَذَا حَرَامٌ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يَشْغَل عَنْ صَلاَةٍ أَوْ فَرْضٍ آخَرَ أَوْ عَنْ مُهِمَّاتٍ وَاجِبَةٍ فَإِنْ شَغَلَهُ عَنْ هَذِهِ الأْمُورِ وَأَمْثَالِهَا حَرُمَ، وَبِشَرْطِ أَنْ لاَ يُخْرِجَهُ إِلَى الْحَلِفِ الْكَاذِبِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ 



Permainan yang mubah itu seperti lomba lari, lomba perahu dan lain sebagainya. Syaratnya adalah, tidak merendahkan dan menghina kehormatan diri, tidak menyebabkan kerugian, kesengsaraan untuk diri sendiri, orang lain, binatang yang digunakan untuk bermain, seperti mengadu antara ayam dan anjing, mengadu ayam, tidak melupakan waktu shalat wajib maupun kewajiban lainnya, tidak sembarangan mengucapkan sumpah atau janji palsu dan segala perbuatan yang haram

Permissible games include running races, boat races, and similar activities. The conditions are: they must not degrade or dishonor one’s dignity; must not cause harm or suffering to oneself, others, or any animals used in the activity such as cockfighting or dogfighting; must not distract one from obligatory prayers or other duties; and must not involve false oaths, broken promises, or any other forbidden acts


وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُسْتَحَبِّ الْمُنَاضَلَةُ عَلَى السِّهَامِ وَالرِّمَاحِ وَالْمَزَارِيقِ وَكُل نَافِعٍ فِي الْحَرب



Sedangkan permainan yang dianjurkan adalah: memanah pada sasaran, dan setiap perkara yang manfaat bagi perang. Bila ditarik dalam konteks kekinian, khususnya dalam negara yang notabene damai, maka diperbolehkan bermain game yang bermanfaat seperti memiliki unsur pendidikan


"Meanwhile, recommended forms of play include target archery and any activity that provides benefit for warfare. Applied to modern times especially in peaceful nations this means playing games that offer clear benefits, such as those with educational elements, is permissible"


وَمِنَ اللَّعِبِ الْمَكْرُوهِ اللَّعِبُ بِالطَّيْرِ وَالْحَمَامِ لأِنَّهُ لاَ يَلِيقُ بِأَصْحَابِ الْمَرُوءَاتِ وَالإْدْمَانُ عَلَيْهِ قَدْ يُؤَدِّي إِلَى إِهْمَال الْمَصَالِحِ وَيَشْغَل عَنِ الْعِبَادَاتِ وَالطَّاعَاتِ



Kemudian permainan yang makruh adalah bermain burung merpati (adu merpati) yang tidak memiliki kepantasan bagi kehormatan diri, bahkan cenderung membuang nilai kemaslahatan dan jauh dari unsur ibadah


"Furthermore, disliked (makruh) forms of play include racing pigeons, as such activity is unbecoming to one's dignity, tends to disregard what is beneficial, and is far removed from the spirit of worship"


وَمِنَ اللَّعِبِ الْمُحَرَّمِ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ: كُل لُعْبَةٍ فِيهَا قِمَارٌ لأِنَّهَا مِنَ الْمَيْسِرِ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِاجْتِنَابِهِ



Adapun permainan yang diharamkan adalah setiap permainan yang mengandung unsur judi yang dilarang oleh Allah


"As for forbidden games, they are any games that contain elements of gambling, which is prohibited by Allah"


PERJALANAN WISATA DAN KEBOLEHAN QASHAR SHALAT

 

Dasar Hukum Tujuan Wisata

 

- Rekreasi atau wisata termasuk tujuan perjalanan yang sah dan dibolehkan dalam syariat Islam (misal mendaki untuk menghilangkan penat dan menikmati suasana asri). Menurut Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, wisata bermanfaat untuk menyegarkan jiwa, menghilangkan kelelahan, dan menyeimbangkan kondisi diri

- Syaratnya: memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar berputar-putar tanpa makna yang membuang waktu atau harta (seperti jalan2), serta menjauhi perbuatan maksiat selama perjalanan (seperti melihat cw dll)

 

Memilih Rute yang Lebih Jauh

 

- Jika ada dua rute: satu belum mencapai batas jarak qashar, sedangkan rute lain lebih jauh hingga memenuhi syarat dan rute jauh itu dipilih karena alasan wisata, lancar. kenyamanan (misal karena uang lebih irit daripada tol), atau tujuan lain yang baik maka menurut Imam An-Nawawi, perjalanan tersebut tetap memenuhi syarat untuk mendapatkan keringanan qashar maupun jamak shalat.

 

Kesimpulan

 

- Perjalanan berwisata yang memenuhi syarat jarak perjalanan jauh (ada yang berpendapat soal pendakian di hitung dari rumah ke lokasi. Misal jika rumah jakarta ke Dieng boleh ke Jawabarat tidak boleh yang di sekitar jakarta) dan memiliki tujuan yang jelas, diperbolehkan melakukan qashar serta jamak shalat, sama seperti perjalanan lainnya


ENGLISH 


TRAVEL FOR TOURISM AND PERMISSIBILITY OF SHORTENING PRAYERS

 

Legal Basis for Tourism as a Travel Purpose

 

- Recreation or tourism is considered a valid and permissible purpose for travel under Islamic law for example, hiking to relieve fatigue and enjoy natural scenery. According to Shaykh Ibn Hajar al-Haitami, tourism serves to refresh the spirit, ease weariness, and restore personal balance.

- Conditions: the trip must have a clear objective; it should not be aimless wandering that wastes time or wealth; and one must avoid sinful acts during the journey.

 

Choosing a Longer Route

 

- If two routes are available one that does not reach the minimum travel distance for shortening prayers, and another longer route that does and you choose the longer one for tourism, smoother roads, greater comfort, cost savings, or other valid reasons, then according to Imam An-Nawawi, this journey still qualifies for the concession of shortening (qashar) and combining (jamak) prayers.

 

Conclusion

 

- Any tourism trip that meets the required travel distance calculated from your home to the destination, not from other intermediate points and has a clear purpose may avail of the concessions for shortening and combining prayers, just like any other lawful journey


DALIL 


بِأَنَّ التَّنَزُّهَ غَرَضٌ صَحِيحٌ يُقْصَدُ فِي الْعَادَةِ لِلتَّدَاوِي وَنَحْوِهِ كَإِزَالَةِ الْعُفُونَاتِ النَّفْسِيَّةِ وَاعْتِدَالِ الْمِزَاجِ وَغَيْرِ ذَلِكَ.


Bahwa tanazzuh (rekreasi) adalah tujuan yang sah yang dibolehkan secara lumrah untuk pengobatan diri, seperti dengan tujuan menghilangkan kesumpekan, meningkatkan semangat, dan lain sebagainya


Recreation (tanazzuh) is a valid and permissible purpose, recognized by common practice as a means of self‑care such as relieving stress, lifting one’s spirits, and other similar benefits

وَإِنْ بَلَغَ أَحَدُ طَرِيقَيْهِ مَسَافَةَ الْقَصْرِ وَنَقَصَ الآخر عنها فان سلك الابعد لغرض من الطَّرِيقِ أَوْ سُهُولَتِهِ أَوْ كَثْرَةِ الْمَاءِ أَوْ الْمَرْعَى أَوْ زِيَارَةٍ أَوْ عِيَادَةٍ أَوْ بَيْعِ مَتَاعٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَقَاصِدِ الْمَطْلُوبَةِ دِينًا أَوْ دُنْيَا فَلَهُ التَّرَخُّصُ بِالْقَصْرِ وَغَيْرِهِ مِنْ رُخَصِ السَّفَرِ بِلَا خِلَافٍ وَلَوْ قَصَدَ التَّنَزُّهَ فَهُوَ غَرَضٌ مَقْصُودٌ فَيَتَرَخَّصُ


“Jika ada dua jalan, yang satu mencapai jarak boleh qashar dan satunya tidak, lalu jarak yang lebih jauh ditempuh karena jalannya lebih lancar, mudah dalam perbekalan, atau tujuan ziarah, mengunjungi atau menjenguk orang, serta tujuan lainnya baik dalam hal agama atau dunia, maka ia boleh meng-qashar shalat dan melakukan keringanan ibadah lainnya dalam perjalanan. Termasuk jika bermaksud hanya untuk rekreasi, maka ia juga termasuk tujuan yang jelas, maka ia juga mendapatkan rukhshah"


"If there are two routes: one that meets the travel distance requirement for shortening prayers, and another that does not yet you take the longer route because it is smoother, offers better access to supplies, or for purposes such as pilgrimage, visiting relatives or the sick, or any other valid goal whether religious or worldly then you are permitted to shorten your prayers and avail yourself of other travel concessions. This applies even if your sole purpose is recreation; such a purpose is still considered clear and valid, so you are entitled to this dispensation"





Tagged as:
About the Author

Write admin description here..

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.

GIMANA MENG GUNAKAN AL QUR'AN YANG BENAR

back to top