Jumat, 25 September 2026

MANZIL HISTORY

Posted by Abah Ngapakudin  |  at  September 25, 2026


KISAH LUAR BIASA: AHLI KUBUR REBUTAN HADIAH PAHALA, TAPI ADA YANG TIDAK PEDULI
 
Sebagian ahli ilmu menceritakan sebuah kisah yang sangat menakjubkan. Ada seorang laki-laki yang bermimpi melihat para penghuni kubur keluar dari liang lahat mereka menuju permukaan tanah.
 
Dalam mimpi itu, tampak mereka sedang sibuk memungut sesuatu, namun sang pemimpi tidak tahu benda apa yang mereka ambil tersebut.
 
"Apa yang sedang mereka pungut itu?" tanyanya kepada salah seorang dari mereka yang duduk santai dan tidak ikut mengambil apa-apa.
 
"Itu adalah hadiah dan kiriman dari kaum muslimin yang masih hidup," jawab orang tersebut. "Mereka memungut pahala dari bacaan Al-Qur'an, sedekah, dan doa-doa yang dihadiahkan kepada mereka."
 
Sang pemimpi semakin heran, lalu bertanya lagi, "Kalau begitu, kenapa engkau tidak ikut mengambilnya?"
 
Orang itu menjawab dengan tenang, "Aku sudah kaya dan tidak membutuhkan semua itu."
 
"Dengan apa engkau menjadi kaya raya di alam sana?" tanyanya penasaran.
 
"Dengan khataman Al-Qur'an yang dibacakan dan dihadiahkan kepadaku setiap hari oleh anakku. Dia berjualan jalabiyah di pasar tersebut," jawabnya bangga.
 
 
 
Seketika itu juga sang pemimpi terbangun. Karena penasaran, ia segera pergi ke pasar yang disebutkan dalam mimpinya. Benar saja, di sana ia melihat seorang pemuda sedang sibuk melayani pembeli sambil terus menggerak-gerakkan bibirnya.
 
"Wahai anak muda, apa yang sedang engkau baca?" tanyanya.
 
"Aku sedang membaca Al-Qur'an, Pak. Aku hadiahkan seluruh pahalanya untuk ayahku yang sudah meninggal dunia," jawab pemuda itu dengan tulus.
 
 
 
Beberapa waktu berlalu, sang pencerita kembali bermimpi. Kali ini pemandangannya sangat berbeda. Ia kembali melihat para ahli kubur keluar dan memungut hadiah pahala seperti biasa.
 
Namun, kali ini ia melihat sosok yang dulu tidak pernah mengambil apa-apa, kini ikut sibuk memungut hadiah bersama yang lain.
 
Seketika ia terbangun dan merasa sangat heran. Segera ia pergi lagi ke pasar untuk mencari kabar pemuda penjual jalabiyah itu.
 
Namun apa yang terjadi? Ternyata pemuda baik hati itu sudah meninggal dunia.
 
Maka, kini ayahnya pun harus mengambil pahala dari kiriman orang lain seperti yang lainnya, karena sumber pahala utamanya yang setiap hari mengalir deras sudah tiada lagi.
 
Sumber: Kitab I'anatut Thalibin, Juz 2 Halaman 143

ENGLISH

EXTRAORDINARY STORY: THE DEAD COMPETING FOR REWARDS, YET ONE MAN REMAINED UNBOTHERED
 
Scholars narrate a truly amazing story. A man once had a dream where he saw the inhabitants of the graves rising from their tombs to the surface.
 
In his dream, they seemed busy collecting something, but he did not know what it was.
 
"What are they gathering?" he asked one man who was sitting calmly and not taking anything.
 
"These are gifts and offerings from the Muslims who are still alive," the man replied. "They are collecting the spiritual rewards (pahala) from the recitation of the Quran, charity, and prayers that people dedicate to them."
 
The dreamer grew even more curious and asked, "If that is so, why don't you take any for yourself?"
 
The man answered calmly, "I am already 'rich' and have no need for those."
 
"What makes you so wealthy in the afterlife?" asked the dreamer.
 
"Because of the complete recitation of the Quran (Khatam) that my son reads and dedicates to me every single day. He sells jalabiya (traditional Middle Eastern pastries/desserts) at the market," he replied with pride.
 
 
 
Immediately, the man woke up. Driven by curiosity, he went straight to the market mentioned in the dream. Sure enough, he found a young man busy serving customers while constantly moving his lips as if whispering.
 
"Young man, what are you reciting?" he asked.
 
"I am reading the Quran, Sir. I dedicate all the rewards to my father who has passed away," the young man answered sincerely.
 
 
 
Some time passed, and the narrator had the dream again. This time, the scene was very different. He once more saw the deceased coming out to collect their rewards as usual.
 
However, this time he saw the man who had previously refused to take anything was now busy gathering gifts together with everyone else.
 
He woke up feeling astonished. Immediately, he went back to the market to check on the young pastry seller.
 
But what had happened? The kind-hearted young man had passed away.
 
Therefore, his father now had to receive rewards from other people's donations just like everyone else, because his main source of abundant daily blessings was gone.
 
Source: Kitab I'anatut Thalibin, Volume 2, Page 143

DALIL

وحكى بعض أهل العلم أن رجلا رأى فى المنام أهل القبور فى بعض المقابر قد خرجوا من قبورهم إلى ظاهر المقبرة، وإذا بهم يلتقطون شيئا ما يدرى ما هو

Sebagian ahli ilmu menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bermimpi dalam tidurnya, dia melihat ahli kubur di salah satu tempat pemakaman keluar dari kuburannya ke atas maqbaroh, dan tiba-tiba mereka memungut sesuatu yang tidak diketahui apa itu.

Some scholars narrated that a man saw in his dream the inhabitants of the grave coming out of their graves into the cemetery, and suddenly they were picking up something whose nature was unknown

قال: فتعجبت من ذلك، ورأيت رجلا منهم جالسا لا يلتقط معهم شيئا، فدنوت منه وسألته: ما الذى يلتقط هؤلاء؟ فقال: يلتقطون ما يهدى إليهم المسلمون من قراءة القرآن والصدقة والدعاء

Lalu dia berkata; "Aku kagum dengan hal itu." Kemudian aku melihat seorang laki-laki dari mereka, ia duduk dan tidak ikut memungut sesuatu tadi bersama mereka. Aku mendekatinya dan bertanya; "Apa yang mereka pungut itu?", dia menjawab; "Mereka memungut hadiah dari orang-orang muslim yang diberikan pada mereka, berupa bacaan Al Qur'an, sedekah dan doa."

Then he said, "I was amazed by what I saw." Then I saw one of them sitting alone and not gathering anything with the others. I approached him and asked, "What is it that they are gathering?" He replied, "They are collecting the gifts sent to them by fellow Muslims, such as the reward from reciting the Quran, charity, and prayers"

فقال: فقلت له؛ فلم لا تلتقط أنت معهم؟ قال أنا غني عن ذلك

Aku bertanya kepadanya; "Kenapa engkau tidak ikut memungut itu bersama mereka?", dia menjawab; "Aku tidak memerlukan semua itu."

I asked him, "Why don't you come and collect those things with them?" He replied, "I do not need all of that."

فقلت: بأي شئ أنت غني؟ قال بختمة يقرؤها ويهديها إلىّ كل يوم ولدى يبيع الزلابية فى السوق الفلاني

Aku lanjut bertanya; "Apa yang membuatmu tidak memerlukan itu?", dia menjawab; "Khataman Al Qur'an yang dibaca dan dihadiahkan untukku setiap hari oleh anakku yang berjualan jalabiyah di pasar fulan."

I continued asking, 'What makes you not in need of all that?' He answered, 'It is the complete recitation of the Quran (Khatam) which is read and gifted to me every day by my son who sells jalabiyah at such-and-such market"

فلما استيقظت ذهبت إلى السوق حيث ذكر، فإذا شاب يبيع الزلابية، ويحرك شفتيه

Setelah aku bangun, aku pergi ke pasar yang disebutkan dan kutemui seorang pemuda yang berjualan jalabiyah seraya menggerak-gerakan kedua bibirnya

After I woke up, I went to the market mentioned and found a young man selling jalabiyah while moving his lips

فقلت: بأي شئ تحرك شفتيك؟ قال أقرأ القرآن وأهديه إلى والدى فى قبره

Aku bertanya; "Kenapa kamu menggerak-gerakkan kedua bibirmu?", dia menjawab; "Aku membaca Al Qur'an dan ku hadiahkan pahalanya untuk ayahku di alam kuburnya."

I asked, "Why are you moving your lips?" He replied, "I am reciting the Quran and dedicating its reward to my father in his grave."

قال: فلبثت مدة من الزمان، ثم رأيت الموتى قد خرجوا من القبور، وإذا بالرجل الذى كان لا يلتقط صار يلتقط، فاستيقظت وتعجبت من ذلك، ثم ذهبت إلى السوق لأتعرف خبر ولده فوجدته قد مات

Aku berkata; "Kemudian aku diam sesaat, lalu melihat dalam mimpi, orang-orang yang sudah mati pada keluar dari kuburan mereka, dan tiba-tiba aku melihat laki-laki yang waktu itu tidak ikut memungut, sekarang dia ikut memungut.
Kemudian aku terbangun dan merasa heran dengan hal itu. Setelah itu aku pergi ke pasar untuk mencari tahu kabar anaknya tadi, dan tenyata dia sudah meninggal."

I said; "Then I remained silent for a moment, and saw in the dream that the deceased had come out of their graves, and suddenly I saw the man who previously did not collect anything, now he was collecting it too"
 
EMPAT BAYI YANG DIANUGERAHI KEMAMPUAN BERBICARA SEJAK KECIL
 
Dalam sejarah Islam dan kisah-kisah para nabi serta orang-orang shaleh, terdapat banyak mukjizat dan keajaiban yang menjadi bukti kekuasaan Allah SWT. Salah satu keajaiban yang sangat luar biasa adalah adanya bayi atau anak kecil yang dapat berbicara dengan sempurna layaknya orang dewasa, padahal usia mereka masih sangat dini.
 
Imam Ibrahim meriwayatkan dari Imam Muhajir bin Mujahid, beliau berkata

"Tidaklah ada anak kecil yang dapat berbicara saat usianya masih sangat muda, kecuali hanya empat orang saja."
 
Siapakah mereka? Berikut adalah keempat sosok istimewa tersebut:
 
1. Nabi Isa Alaihissalam, Putra Maryam
Ini adalah kisah yang paling masyhur. Ketika ibunya, Siti Maryam, melahirkan beliau dan membawanya kembali kepada kaumnya, mereka menuduh Maryam telah melakukan perbuatan buruk. Atas izin Allah, bayi Nabi Isa yang baru lahir itu langsung berbicara menegaskan kebenaran ibunya dan menyatakan dirinya adalah seorang hamba dan utusan Allah.
 
2. Sahabat Ashabul Ukhdud
Dalam kisah Ashabul Ukhdud (Pemilik Parit), diceritakan tentang seorang tukang kayu yang memiliki seorang anak kecil. Ketika sang anak melihat kezaliman yang dilakukan penguasa yang membakar orang-orang beriman, ia berbicara dan memerintahkan ayahnya untuk tetap teguh memegang agama Allah dan sabar dalam menghadapi cobaan tersebut.
 
3. Sahabat Juraij Ar-Rahib
Juraij adalah seorang ahli ibadah yang sangat taat. Suatu hari, seorang wanita berniat menjebaknya dengan menuduh bahwa Juraijlah yang telah menghamili dirinya. Ketika bayi itu lahir, orang-orang mengerumuni Juraij dengan marah. Namun, atas izin Allah, bayi tersebut berbicara dan menunjuk orang yang sebenarnya sebagai ayahnya, sehingga membersihkan nama baik Juraij dari fitnah besar.
 
4. Sahabat Nabi Yusuf Alaihissalam
Dalam riwayat disebutkan tentang bayi yang muncul dalam kisah Nabi Yusuf AS. Bayi ini berbicara untuk membuktikan atau memberikan kesaksian yang berkaitan dengan kebenaran atau peristiwa yang terjadi pada masa itu, menjadi bukti nyata bahwa Allah mampu berbicara melalui mulut bayi sekalipun demi menegakkan kebenaran.
 
Keempat kisah ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Bahwa segala sesuatu adalah di bawah kekuasaan Allah SWT. Bayi yang seharusnya belum bisa berkata-kata, dapat menjadi penegas kebenaran dan pembela kebenaran atas izin-Nya.
 
Sumber: Kitab Tanbihul Ghafilin, Halaman 232

ENGLISH

FOUR INFANTS BLESSED WITH THE ABILITY TO SPEAK FROM INFANCY
 
In Islamic history and the stories of the Prophets and righteous people, there are numerous miracles and wonders that serve as proof of the absolute power of Allah SWT. One of the most extraordinary wonders is the existence of infants or young children who were able to speak perfectly like adults, even though they were still at a very tender age.
 
Imam Ibrahim narrated from Imam Muhajir bin Mujahid, who said:
 
"No child has ever spoken while still very young except for four individuals."
 
Who were they? Here are the details of these four special figures:
 
1. Prophet Jesus (Isa) Alaihissalam, Son of Maryam
 
This is the most well-known story. When his mother, Lady Maryam, gave birth to him and brought him back to her people, they accused her of immoral conduct. By the permission of Allah, the newborn Prophet Jesus immediately spoke to affirm his mother's innocence and declared that he was indeed a servant and Messenger of Allah.
 
2. The Companion of Ashabul Ukhdud
 
In the story of Ashabul Ukhdud (The People of the Ditch), it is narrated that there was a carpenter who had a small child. When the child witnessed the tyranny committed by the king who burned the believers alive, he spoke up and instructed his father to remain firm in his faith in Allah and to be patient in facing the trial.
 
3. The Companion of Juraij Ar-Rahib
 
Juraij was a devout worshipper. One day, a woman intended to frame him by falsely accusing Juraij of being the one who had impregnated her. When the baby was born, the people surrounded Juraij in anger. However, by the will of Allah, the infant spoke and pointed to the real father, thus clearing Juraij's name from the great slander.
 
4. The Companion of Prophet Yusuf Alaihissalam
 
Historical narrations mention an infant who appeared in the story of Prophet Yusuf AS. This baby spoke to bear witness and testify to the truth regarding the events of that time. It stands as clear evidence that Allah is capable of making even an infant speak in order to uphold justice and truth.
 
These four stories hold valuable lessons for us all. They remind us that everything is under the absolute power of Allah SWT. An infant, who naturally cannot yet speak, can become a voice of truth and a defender of justice by His permission.
 
Source: Kitab Tanbihul Ghafilin, Page 232

DALIL

وروى ابراهيم عن مهاجر بن مجاهد قال: ما تكلم صبي في حال صغره وهو طفل إلا أربعة عيسى بن مريم عليهما السلام وصاحب الأخدود وصاحب جريج الراهب وصاحب يوسف عليه الصلاة والسلام 

Imam Ibrahim meriwayatkan dari Imam Muhajir bin Mujahid, beliau berkata:

Tidaklah seorang anakpun yang berbicara di waktu kecil kecuali 4 anak;

1- Nabi Isa as. putra Maryam 
2- Bayi pada kisah Ashabul Ukhdud
3- Bayi pada kisah Juraij Al Rahib
4- Bayi pada kisah Nabi Yusuf as

Imam Ibrahim narrated from Imam Muhajir bin Mujahid, who said:
 
No child has ever spoken while still young except for four children:
 
1. Prophet Isa AS, son of Maryam
2. The infant in the story of Ashabul Ukhdud
3. The infant in the story of Juraij Ar-Rahib
4. The infant in the story of Prophet Yusuf AS

TENTANG PENAMAAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN RABI'UL AWWAL
 
Rabi'ul Awwal adalah bulan ketiga dalam urutan dua belas bulan Hijriyah. Kata Rabi' (رَبِيع) merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah Arbi'ā (أَرْبِعَاء) atau Arbi'ah (أَرْبِعَة).
 
Pemberian nama bulan-bulan ini oleh bangsa Arab memiliki alasan tersendiri, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sirah An-Nabawiyyah karya Abu Syuhbah (jilid 1/140):
 
"Bangsa Arab sebelum masa Islam terbentuk menamakan bulan-bulan Arab dengan nama-nama yang dikenal, dengan memperhatikan keadaan, ciri khas waktu tersebut, serta kondisi yang mereka alami saat menetapkan nama-nama itu"
 
Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir menjelaskan alasan penamaan bulan ini dalam tafsirnya (juz 4/halaman 146):
 
"Bulan Rabi'ul Awwal dinamakan demikian karena pada bulan itulah bangsa Arab menetap dan menempati bangunan tempat tinggal mereka yang berbentuk empat persegi (mungkin maksud nya bangunan arabian kuno yang ada di reruntuhan zaman now Wallahu a'lam)"
 
Bulan ini pun menyimpan berbagai peristiwa mulia dan berharga, seperti tertulis dalam kitab Ajaib Al-Makhlukat halaman 70:
 
Rabi'ul Awwal adalah bulan yang penuh berkah. Di dalamnya, Allah Ta'ala membukakan pintu-pintu kebahagiaan bagi seluruh alam yang dia ciptakan meliputi alam dunia alam malaikat dll melalui kelahiran Pemimpin Para Rasul ﷺ. Beberapa peristiwa agung yang terjadi di bulan ini antara lain:
 
- Tanggal 8: Kedatangan Rasulullah ﷺ ke kota Madinah
- Tanggal 10: Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha
- Tanggal 12: Kelahiran Rasulullah ﷺ ﷺ

ENGLISH 

ON THE NAMING AND SPECIAL VIRTUES OF THE MONTH OF RABI'UL AWWAL
 
Rabi'ul Awwal is the third month in the sequence of the twelve Hijri months. The word Rabi' (رَبِيع) is in its singular form, while its plural forms are Arbi'ā (أَرْبِعَاء) or Arbi'ah (أَرْبِعَة).
 
The naming of these months by the Arab people follows specific reasons, as explained in the book Sirah An-Nabawiyyah by Abu Syuhbah (Volume 1, page 140):
 
"Before the advent of Islam, the Arab people named the Arab months by their well-known designations, taking into account the prevailing circumstances, the distinctive traits of each period, and the conditions they experienced when assigning these names."
 
Accordingly, Imam Ibn Kathir explains the reason behind this month’s name in his commentary (Tafsir, Juz 4, page 146):
 
"The month of Rabi'ul Awwal was named such because in this month, the Arab people would settle and occupy their square-shaped dwellings (likely referring to ancient Arab structures whose ruins still exist today – Allah knows best)."
 
This month also holds many noble and precious events, as recorded in the book Ajaib Al-Makhlukat (page 70):
 
Rabi'ul Awwal is a month full of blessings. In it, Allah Ta'ala opened the gates of happiness for all of creation including the mortal world, the realm of angels, and all that exists through the birth of the Leader of all Messengers ﷺ. Some of the great events that took place in this month are:
 
- 8th of Rabi'ul Awwal: The arrival of Rasulullah ﷺ in the city of Madinah
- 10th of Rabi'ul Awwal: The marriage of Rasulullah ﷺ to Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha
- 12th of Rabi'ul Awwal: The birth of Rasulullah ﷺ ﷺ

DALIL 

ثم سمت العرب قبل الإسلام الشهور العربية بالأسماء المعروفة مراعين أيضا الأحوال، وخصائص هذه الأوقات، والأوضاع التي كانوا عليها عند وضع هذه الأسماء.
 
"Kemudian Orang Arab memberi Nama bulan sebelum islam dengan nama yang terkenal dengan harapan mereka menjaga kebiasaannya, Kekhususan masing-masing waktu Dan Kejadian yang sesuai dalam Lafadz"

"Then, the Arabs named the months before Islam by the names that became well-known, with the intention of preserving their customs, the distinctive characteristics of each period, and the circumstances that corresponded to those names"

شهر ربيع أول: سمي بذلك لارتباعهم فيه. والارتباع الإقامة في عمارة الربع. 

"Bulan Rabi'ul Awwal dinamakan demikian karena orang Arab mendirikan Dan menempati bangunan segi empat di bulan tersebut"

"The month of Rabi'ul Awwal was named as such because the Arab people would build and settle in square-shaped dwellings during this month"

هو شهر مبارك فتح الله فيه أبواب السعادات على العالمين بوجود سيد المرسلين ﷺ، الثامن منه قدم رسول الله ﷺ المدينة، والعاشر منه تزوج رسول الله ﷺ خديجة رضي الله عنها، والثاني عشر منه مولد رسول الله ﷺ.

Bulan Rabi'ul Awwal Adalah bulan Yang Berkah, Alloh ta'ala membukakan didalamnya pintu-pintu kebahagian bagi Penduduk Alam dengan Lahirnya Pemimpin Para utusan Shollallohu 'ala nabiyyina Wa'alaihim. Di tanggal 8 kanjeng nabi datang ke Madinah, pada tanggal 10 kanjeng nabi menikahi Sayyidah Khodijah Radiyallohu 'anha Dan pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal kanjeng nabi dilahirkan

Rabi'ul Awwal is a blessed month. In it, Allah Ta'ala opened the gates of happiness for all of creation through the birth of the Leader of all Messengers ﷺ. On the 8th day, the Prophet ﷺ arrived in Madinah; on the 10th day, the Prophet ﷺ married Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha; and on the 12th day of Rabi'ul Awwal, the Prophet ﷺ was born

SEKELUMIT TENTANG WAKTU KELAHIRAN DAN HIKMAH LAHIRNYA KANJENG NABI DI BULAN RABI'UL AWWAL
 
Sudah sangat masyhur di kalangan umat Islam bahwa Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awwal di Tahun Gajah. Berikut adalah penjelasan para ulama mengenai hal ini serta hikmah di baliknya.
 
Dalam kitab Mawahib Al-Laduniyyah jilid 1/85 disebutkan:
 
"Pendapat yang masyhur menyatakan bahwa beliau ﷺ dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Pendapat ini merupakan riwayat dari Imam Ibnu Ishaq dan para ulama lainnya."
 
Hal senada juga disampaikan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah jilid 1/74 melalui perkataan Muhammad bin Ishaq:
 
"Rasulullah ﷺ dilahirkan pada hari Senin, di Tahun Gajah, pada malam ke-12 bulan Rabi'ul Awwal."
 
 hikmah kelahiran mulia ini
 
Imam Al-Qosthoni dalam Mawahib Al-Laduniyyah jilid 1/86 menjelaskan: Beliau ﷺ dilahirkan di bulan Rabi'ul Awwal menurut pendapat yang shahih dan bukan di bulan Muharram, Rajab, Ramadhan, maupun bulan-bulan mulia lainnya. Sebab, Kanjeng Nabi tidak menjadi mulia karena waktu, melainkan waktu dan tempatlah (tempat kelahirannya) yang menjadi mulia karena kehadiran beliau. Seandainya beliau lahir di bulan yang sudah dikenal suci, dikhawatirkan orang akan menyangka kemuliaan beliau didapat dari bulan tersebut. Maka Allah menetapkan kelahiran beliau di bulan ini, agar terlihat jelas anugerah dan kemuliaan yang Allah berikan khusus kepada Rasul-Nya.
 
Sementara itu, Imam Az-Zurqoni menambahkan sudut pandang lain dalam Syarah Az-Zurqoni jilid 1/249: Hikmah kelahiran beliau di bulan Rabi'ul Awwal juga selaras dengan makna musim semi (rabi'). Musim semi adalah waktu yang paling seimbang (mungkin maksud nya kiasan peralihan zaman nabi dan zaman tanpa nabi/zaman sahabat imam wali kiyai dll), begitu pula syariat yang dibawa beliau adalah syariat yang paling lurus dan seimbang. Nama "Rabi'" pun menyimpan harapan baik: pada musim ini bumi menampakkan segala nikmat yang tersimpan di dalamnya. Kelahiran beliau di bulan ini menjadi isyarat nyata akan tingginya derajat beliau, serta penegasan bahwa beliau sungguh-sungguh merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta

ENGLISH 

A BRIEF LOOK AT THE TIME OF THE PROPHET’S BIRTH AND THE WISDOM BEHIND HIS BIRTH IN THE MONTH OF RABI'UL AWWAL
 
It is widely known among Muslims that the Prophet Muhammad ﷺ was born on a Monday, the 12th of Rabi'ul Awwal, in the Year of the Elephant. Below is the explanation given by scholars on this matter, as well as the wisdom behind it.
 
As stated in the book Mawahib Al-Laduniyyah, Volume 1, page 85:
 
"The well-known view holds that he ﷺ was born on Monday, the 12th of Rabi'ul Awwal. This is the narration recorded by Imam Ibn Ishaq and other scholars."
 
Imam Al-Baihaqi also confirms the same in Dala'il An-Nubuwwah, Volume 1, page 74, quoting Muhammad bin Ishaq:
 
"The Messenger of Allah ﷺ was born on a Monday, in the Year of the Elephant, on the night of the 12th of Rabi'ul Awwal."
 
 
 
The Wisdom Behind This Noble Birth
 
Imam Al-Qastallani explains in Mawahib Al-Laduniyyah, Volume 1, page 86: According to the most authentic opinion, he ﷺ was born in Rabi'ul Awwal not in Muharram, Rajab, Ramadan, or any other already venerated month. This is because the Prophet does not derive his greatness from time; rather, time and place (including his birthplace) are made noble because of his presence. Had he been born in a month already known as sacred, people might have mistakenly assumed his dignity came from that month instead. So Allah ordained his birth in this month, to make it clear that his honor and distinction are special gifts bestowed directly by Allah.
 
Meanwhile, Imam Az-Zurqoni offers another perspective in Syarah Az-Zurqoni, Volume 1, page 249: The wisdom of his birth in Rabi'ul Awwal also aligns with the meaning of rabi', or spring. Spring is the most balanced of seasons likely a metaphor for the transition from the age without a prophet to the time of the Prophet, then the era of his companions, imams, saints, and scholars and likewise, the shari'ah he brought is the most upright and balanced way of life. The word Rabi' also carries good tidings: in spring, the earth reveals all the blessings hidden within it. His birth in this month is a clear sign of his lofty station, and a confirmation that he is truly a mercy to all the worlds

DALIL 

والمشهور: أنه ولد يوم الاثنين ثانى عشر شهر ربيع الأول، وهو قول ابن إسحاق وغيره.

"Menurut Pendapat masyhur Bahwa Kanjeng nabi dilahirkan pada Hari senin tanggal 12 Rabi'ul awwal. Pendapat ini Adalah Riwayat imam Ibnu Ishaq dan ulama yang lain"

"According to the well-established view, the Prophet ﷺ was born on Monday, the 12th of Rabi'ul Awwal. This view is based on the narration of Imam Ibn Ishaq and other scholars"

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: وُلِدَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، عَامَ الْفِيلِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةٍ مَضَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ.

"Telah berkata muhammad bin Ishaq : Kanjeng nabi dilahirkan pada Hari senin tahun Gajah tanggal 12 Bulan Rabi'ul Awwal"

"Muhammad bin Ishaq stated: The Prophet ﷺ was born on a Monday, in the Year of the Elephant, on the 12th day of the month of Rabi'ul Awwal"

وإنما كان فى شهر ربيع على الصحيح ولم يكن فى المحرم، ولا فى رجب، ولا فى رمضان، ولا فى غيرها من الأشهر ذوات الشرف، لأنه عليه السلام- لا يتشرف بالزمان، وإنما الزمان يتشرف به كالأماكن، فلو ولد فى شهر من الشهور المذكورة، لتوهم أنه تشرف بها، فجعل الله تعالى مولده ﷺ- فى غيرها ليظهر عنايته به وكرامته عليه.

"Sesungguhnya kanjeng nabi dilahirkan di bulan Rabi'ul Awwal menurut Pendapat yang shohih, bulan bulan muharram, Rajab, Ramadhan Dan bulan-bulan mulia yang lain. Kerena Kanjeng nabi itu tidak mulia karena Zaman, Akan tetapi Zaman yang menjadi Mulia karena Lahirnya kanjeng nabi, seperti halnya tempat. Seandainya kanjeng nabi dilahirkan di bulan-bulan mulia Maka Ada prasangka Bahwa Kanjeng nabi mulia sebab Lahir di bulan mulia. Maka Gusti Alloh menjadikan waktu Lahirnya kanjeng nabi diselain bulan-bulan mulia agar tampak anugerah Alloh Dan kemulian Alloh untuk kanjeng nabi"

"Verily, according to the most authentic view, the Prophet ﷺ was born in the month of Rabi'ul Awwal, and not in Muharram, Rajab, Ramadan, or any other of the noble months. This is because the Prophet is not made noble by time; rather, time is made noble by his birth just as is the case with places. Had he been born in one of those already venerated months, there would have been a misconception that his nobility came merely from being born in a sacred month. Therefore, Allah Almighty appointed his birth to be in this month, distinct from the others, so that His special favour and honour bestowed upon His Messenger may be made manifest"

وحكمة كونه في شهر ربيع ما في شرعه من شبه زمن الربيع، فإنه أعدل الفصول وشرعه أعدل الشرائع، ولأن في ظهوره فيه إشارة لمن تفطن لها بالنسبة إلى اشتقاق لفظة ربيع؛ لأن فيه تفاؤلا حسنا ببشارة أمته، فالربيع تنشق الأرض عما في بطنها من نعم الله، ومولده في ربيع إشارة ظاهرة إلى التنويه بعظيم قدره، وأنه رحمة للعالمين،

Hikmah kanjeng nabi dilahirkan bulan Rabi'ul Awwal itu karena syari'at kanjeng Nabi yang serupa dengan Musim Semi, Sesungguhnya Musim semi itu paling ideal Dan Syari'at kanjeng nabi Adalah Syari'at paling ideal. Dan dilahirkannya kanjeng nabi di bulan Rabi'ul Awwal terdapat isyarah bagi orang yang faham dengan dinisbatkan ke Cetakan Lafadz Rabi' tersebut. Karena dalam Lafadz Rabi' terdapat Tafaúl dan kebaikan kabar gembira bagi Umat kanjeng nabi muhammad Shollallohu 'Alaihi wasallam. Musim Rabi' itu membedah bumi yang didalamnya terdapat nikmat Alloh ta'ala. Dan Lahirnya kanjeng nabi di bulan Rabi'ul Awwal sebuah isyarah jelas pada kehormatan dengan keagungan derajatnya. Dan sesungguhnya Kanjeng nabi Adalah Rahmat bagi Alam semesta

The wisdom behind the Prophet’s birth in the month of Rabi'ul Awwal lies in the harmony between his shari'ah and the nature of spring. For spring is the most ideal of seasons, and likewise, the shari'ah he brought is the most perfect and balanced way of life. His birth in this month also holds a profound sign for those who reflect upon the very meaning of the word Rabi'. This term carries good omens and glad tidings for his community, for just as spring opens the earth to reveal all the blessings stored within it, his arrival is a clear symbol of his lofty station and honor and truly, he is a mercy to the entire universe

🤍 MAULID NABI SAW: 10 KEISTIMEWAAN AGUNG RASULULLAH ﷺ
 
Di momen penuh berkah peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, mari kita kenang keistimewaan luar biasa yang Allah SWT anugerahkan kepada Baginda Rasul sebagai tanda kemuliaan yang tiada tara. Berikut adalah 10 keistimewaan tersebut:
 
1. Tidak Pernah Bermimpi Basah
Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mengalami ihtilam atau bermimpi basah sama sekali.
2. Tidak Pernah Menguap
Sejak lahir hingga akhir hayat, Beliau ﷺ tidak pernah terlihat menguap sedikit pun.
3. Binatang Tidak Lari Darinya
Berkah kemuliaan akhlaknya, binatang-binatang tidak pernah lari ketakutan saat mendekati atau berada di dekat Rasulullah ﷺ.
4. Lalat Tidak Pernah Hinggap di Tubuhnya
Tidak ada seekor lalat pun yang pernah hinggap di tubuh Baginda yang suci dan mulia ﷺ.
5. Bisa Melihat Ke Belakang dengan Jelas
Rasulullah ﷺ mampu melihat apa yang ada di belakangnya dengan kejelasan yang sama persis seperti saat Beliau melihat apa yang ada di depannya.
6. Buang Air Tidak Meninggalkan Bekas
Ketika Beliau ﷺ buang air kecil, tidak ada jejak atau bekas yang tertinggal sama sekali (mungkin malsud nya bau/sisa kotoran/urin)
7. Hatinya Tetap Terjaga Meski Matanya Terpejam
Saat Beliau ﷺ tidur atau memejamkan mata, hatinya tetap terjaga dan tidak pernah tertidur lelap.
8. Tidak Memiliki Bayangan
Baik di bawah sinar matahari terik maupun cahaya lain, bayangan tubuh Rasulullah ﷺ tidak pernah terlihat.
9. Pundaknya Lebih Tinggi Saat Duduk di Majelis
10. Sudah Berkhitan Sejak Lahir
Saat baru dilahirkan ke dunia, Rasulullah ﷺ sudah dalam keadaan suci dan berkhitan.
 
 
 
✨ Khasiat Menghafal Keistimewaan Ini
 
Para ulama menjelaskan, barang siapa yang menghafal sepuluh keistimewaan ini dengan sungguh-sungguh, maka ia akan dijaga dan diselamatkan oleh Allah SWT dari bahaya api, gangguan pencuri, serta terhindar dari segala macam musibah dan kesulitan hidup
 
Sumber: Syarh Maroqi al-Ubudiyah halaman 3

ENGLISH

🤍 MAULID NABI SAW: 10 NOBLE DISTINCTIONS OF THE MESSENGER OF ALLAH ﷺ
 
On this blessed occasion of commemorating the Mawlid of Prophet Muhammad ﷺ, let us reflect upon the extraordinary distinctions bestowed by Allah SWT upon His Messenger as a sign of his unparalleled honor. Here are these 10 special traits:
 
1. Never Experienced Wet Dreams
Throughout his entire life, Prophet Muhammad ﷺ never had a wet dream or experienced nocturnal emission at all.
2. Never Yawned
From his birth until his passing, he ﷺ was never seen yawning even once.
3. Animals Never Fled From Him
By the blessing of his noble character, animals never ran away in fear when approaching or being near the Messenger of Allah ﷺ.
4. No Fly Ever Landed On His Body
Not a single fly ever alighted upon the pure and noble body of the Messenger ﷺ.
5. Could See Behind Him Clearly
The Messenger of Allah ﷺ could see what was behind him with the exact same clarity as he saw what was in front of him.
6. Left No Trace After Relieving Himself
When he ﷺ urinated, no trace, odor, or residue was left behind at all.
7. His Heart Remained Awake Even When His Eyes Were Closed
When he ﷺ slept or closed his eyes, his heart remained alert and never fell asleep.
8. Cast No Shadow
Whether under the bright sun or any other light, no shadow of the Messenger of Allah’s ﷺ body was ever visible
9. His Shoulders Were Higher When Sitting In Assemblies
10. Born Already Circumcised
When he was born into this world, Prophet Muhammad ﷺ was already in a pure state and circumcised.
 
 
 
✨ Blessings of Memorizing These Distinctions
 
Scholars explain that whoever sincerely memorizes these ten distinctions will be protected and saved by Allah SWT from the danger of fire, harm from thieves, and all kinds of calamities and hardships in life.
 
Source: Syarh Maroqi al-Ubudiyah, page 3

DALIL

لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طٰهَ مُطْلَقًا أَبَدًا
1. "Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah ihtilam
(bermimpi basah) sepanjang hidupnya".

وَمَا تَثَاءَبَ أَصْلًا فِيْ مَدَى الزَّمَنِ
2. "Dan Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah menguap sama sekali".

مِنْهُ الدَّوَابُّ فَلَمْ تَهْرَبْ
3. "Binatang-binatang tidak lari dari Nabi Muhammad ﷺ ".

وَمَا وَقَعَتْ ذُبَابَةٌ أَبَدًا فِيْ جِسْمِهِ الْحَسَنِ
4. "Tak pernah seekor lalat pun hinggap di tubuh Nabi Muhammad ﷺ yang mulia".

بِخَلْفِهِ كَأَمَامٍ رُؤْيَةٌ ثَبَتَتْ
5. "Nabi Muhammad ﷺ mampu melihat belakang dengan jelas sebagaimana Beliau ﷺ melihat depan".

وَلَا يُرٰى أَثَرُ بَوْلٍ مِنْهُ فِيْ عَلَنٍ
6. "Dan ketika beliau berkemih (buang air) tak ada bekasnya sama sekali".

وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ
7. "Hatinya tidak pernah tertidur, walau matanya terpejam".

وَلَا يُرٰى ظِلُّهُ فِيْ الشَّمْسِ ذُو فِطَنِ
8. "Dan tidak nampak bayangan Beliau meskipun di bawah terik matahari".

كَتِفَاهُ قَدْ عَلَتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا
9. "Ketika duduk di majelis dua pundaknya selalu lebih tinggi dari pada lainnya".

عِنْدَ الْوِلَادَةِ صِفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ
10. "Dilahirkan ke dunia Beliau ﷺ sudah dalam keadaan berkhitan".


هٰذِيْ الْخَصَائِصُ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ آمِنًا
Ini keistimewaan-keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ. Maka hafalkanlah, niscaya engkau akan selamat.

مِنْ شَرِّ نَارٍ وَسُرَّاقٍ وَمِنْ مِحَنِ
(Selamat) dari musibah kebakaran dan para pencuri serta selamat dari segala macam musibah lainnya

1. "Prophet Muhammad ﷺ never experienced ihtilam (wet dream / nocturnal emission) throughout his entire life."
2. "And Prophet Muhammad ﷺ never yawned at all, ever."
3. "Animals never fled from Prophet Muhammad ﷺ."
4. "Not a single fly ever alighted upon the noble body of Prophet Muhammad ﷺ."
5. "Prophet Muhammad ﷺ could see what was behind him as clearly as he saw what was in front of him."
6. "And when he ﷺ urinated, no trace of it was left behind at all."
7. "His heart never slept, even when his eyes were closed."
8. "And no shadow of him ﷺ could be seen, not even under the blazing sun."
9. "When sitting in an assembly, both of his shoulders were always higher than those of others."
10. "When born into this world, he ﷺ was already in a circumcised state."
 
 
 
These are the special distinctions of Prophet Muhammad ﷺ. So memorize them, and you shall surely be saved.
 
[Saved] from the calamity of fire, from thieves, and from all other kinds of misfortune

KAJIAN RINGKAS: SUJUD SAHWI – SEJARAH & HUKUM FIQIHNYA
 
 
 
1. Sejarah Terjadinya Sujud Sahwi
 
Suatu hari, Rasulullah SAW memimpin shalat Dzuhur di Masjid Nabawi. Beliau memulai dengan takbiratul ihram, namun tanpa sengaja hanya menyelesaikan 2 rakaat.
 
Para sahabat pun bertanya-tanya. Dzul Yadain ra. bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah Engkau lupa, ataukah shalat Dzuhur dikurangi?"
 
Setelah memastikan jawaban sahabat lainnya, Rasulullah SAW segera menyempurnakan (mengajak berdiri) shalat menjadi 4 rakaat. Lalu setelah salam, beliau melakukan Sujud Sahwi untuk pertama kalinya.
(Sumber: Kitab Tausyekh Ala Ibni Qadsim hlm. 69)
 
 
 
2. Makna Lupa pada Rasulullah SAW
 
Imam An-Nawawi menjelaskan:
 
- Lupa dalam perbuatan shalat tidak bertentangan dengan sifat kenabian. Bahkan membawa manfaat: menjelaskan hukum bagi orang yang lupa (ada solusi)
- Sebaliknya, para ulama sepakat: Rasulullah tidak mungkin salah dalam aqwal.
(Sumber: Syarah An-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, dll.)
 
 
 
3. Hukum Fiqih Berkaitan dengan Kejadian Ini
 
Dari kisah ini, dipahami beberapa prinsip penting:
 
✅ Niat salam/keluar karena mengira shalat sudah sempurna tidak membatalkan ibadah (asal yaqin (dugaan) sempurna lebih dominan daripada belum sempurna).
✅ Salam yang dilakukan karena lupa tidak merusak shalat (no batal)
✅ perkataan karena lupa tidak membatalkan shalat (pendapat sebagian ulama, berbeda dengan Abu Hanifah).
✅ Jika sengaja berbicara:
 
- Mayoritas ulama: Membatalkan shalat (berbicara dengan sengaja).
- Sebagian ulama: Boleh/tidak batal jika tujuannya demi kebaikan shalat. Jika bukan maka batal.
(Sumber: Kitab Ihkamul Ahkam, 2/25-31)

ENGLISH

BRIEF STUDY: SUJUD SAHWI ITS HISTORY & FIQH RULINGS
 
 
 
1. History of the Occurrence of Sujud Sahwi
 
One day, the Messenger of Allah SAW led the Dhuhr prayer at Masjid Nabawi. He began with the opening takbir, but unintentionally completed only 2 rak'ahs.
 
The Companions began to wonder. Dzul Yadain RA asked:
"O Messenger of Allah, have You forgotten, or has the Dhuhr prayer been shortened?"
 
After confirming the answers of the other Companions, the Messenger of Allah SAW immediately stood to complete the prayer to 4 rak'ahs. Then, after the concluding salam, he performed Sujud Sahwi for the very first time.
 
(Source: Kitab Tausyekh Ala Ibni Qadsim, p. 69)
 
 
 
2. The Meaning of Forgetfulness Regarding the Messenger of Allah SAW
 
Imam An-Nawawi explains:
 
- Forgetfulness during the acts of prayer does not contradict the prophetic status. It even carries a benefit: it clarifies the legal ruling and solution for those who forget.
- Conversely, scholars unanimously agree: the Messenger of Allah could never be mistaken in his words/teachings (aqwal).
 
(Source: Syarah An-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, etc.)
 
 
 
3. Fiqh Rulings Related to This Event
 
From this account, several key principles are understood:
 
✅ Intending to conclude the prayer (salam) believing it is complete does not invalidate the worship—reasonable certainty of completion takes precedence.
 
✅ Saying salam due to forgetfulness does not ruin/invalidate the prayer.
 
✅ Speech uttered out of forgetfulness does not invalidate the prayer (held by many scholars, differing from Abu Hanifah).
 
✅ If speaking intentionally:
 
- Majority view: Deliberate speech invalidates the prayer.
- Some scholars: Permissible/does not invalidate if the purpose is to correct/benefit the prayer. Otherwise, it does invalidate it.
 
(Source: Kitab Ihkamul Ahkam, 2/25-31)

SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE TANAH BANTEN
 
1. Awal Mula Kedatangan Islam
 
Pada tahun 1526, Islam pertama kali masuk ke Banten melalui utusan Kerajaan Demak, namun hanya bertahan selama satu tahun. Pada 1527, Banten kembali dikuasai oleh penganut agama Hindu. Saat itu juga datang bangsa Portugis, Denmark, Inggris, Tiongkok, dan Arab Saudi yang saat itu belum mengenal Islam.
 
2. Kedatangan Sunan Gunung Jati dan Putranya
 
Kerajaan Demak kemudian mengutus Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) beserta putranya, Maulana Hasanuddin, ke Banten. Konon, perjalanan dari Cirebon ke Banten hanya memakan waktu satu jam karena karamah (kesaktian) melipat bumi (mirip perjalanan hiraishin versi bukan bertukar tempat). Mereka tiba di wilayah Banten Girang.
 
Saat itu Banten dipimpin oleh empat raja: Raja Siwa, Raja Darga, Raja Brahma, dan Raja Ganesa. Meskipun Kerajaan Demak bersiap mengirim pasukan perang, Sunan Gunung Jati menahannya karena para raja memiliki kekuatan gaib yang luar biasa. Beliau kemudian bermunajat kepada Allah dan mendapat petunjuk menuju Gunung Pulosari, lalu dilanjutkan (perimtah) ke Gunung Karang.
 
3. Pertemuan dan Ujian Kekuatan Batin
 
Di Gunung Karang, ditemukan seorang pertapa bernama Brata Guru Sampa yang mengenakan pakaian dan mahkota kerajaan. Syekh Syarif menyapanya (dia membuka mata dari semedi), lalu terjadilah perang kekuatan batin yang berlangsung selama tujuh hari. Akhirnya Brata Guru Sampa kalah dan menerima hidayah masuk Islam.
 
4. Bertapa di Atas Batu Panca Warna
 
Syekh Syarif kemudian memerintahkan putranya, Maulana Hasanuddin, untuk bertapa di atas Batu Gigilang di Gunung Karang batu berbentuk persegi berukuran 2 meter, berwarna kemerah-merahan (semu kemerahan), yang kini dikenal sebagai Batu Panca Warna.
 
Ayahnya berpesan:
 
"Janganlah merasa memiliki apa pun; semuanya milik Allah. Jika rasa 'memiliki' hilang darimu, maka kekuatan ini dapat digunakan untuk menegakkan kebenaran. Jika batu ini dapat terangkat olehmu, berarti tapamu telah lulus."
 
Maulana Hasanuddin berhasil lulus ujian. Ayahnya kemudian berkata:
 
"Segera bawa batu ini ke Banten Girang. Kekuatan tanah Banten ada pada batu karamah ini."
 
5. Perang dan Kemenangan Berkat Pertolongan Allah
 
Setelah batu diletakkan di Paseban Banten, pasukan Demak disiapkan. Jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh pasukan Hindu sepuluh kali lipat lebih banyak dan dibantu oleh tentara Inggris serta Portugis.
 
Saat pertempuran memuncak dan pasukan Islam hampir kalah, Maulana Hasanuddin menghadap ke arah Gunung Karang dan berdoa dengan tulus:
 
"Ya Allah, tiada yang kuanggap milikku. Angin, air, dan segala sesuatu hanyalah milik-Mu. Bantulah kami menegakkan kalimat-Mu atas perintah Demak dan ayahku."
 
Terdengar suara gaib bertanya apa yang diminta. Maulana Hasanuddin memilih angin. Maka Allah mengirimkan angin kencang dari Pasir Angin dan aliran air dari Sungai Cibanten keduanya bersumber dari Gunung Karang yang membawa kemenangan bagi pasukan Islam.
 
 
 
📜 Sumber: Al-Maghfurlah Abuya Uci Cilongok

ENGLISH

HISTORY OF THE ARRIVAL OF ISLAM TO THE LAND OF BANTEN
 
1. Early Beginnings
 
In 1526, Islam first entered Banten through envoys from the Demak Sultanate, but this presence only lasted for one year. By 1527, Banten returned to the rule of Hindu followers. At that time, Portuguese, Danish, English, Chinese, and Arabian communities also arrived none of whom were Muslim yet.
 
2. Arrival of Sunan Gunung Jati and His Son
 
The Demak Sultanate then dispatched Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) along with his son, Maulana Hasanuddin, to Banten. It is said their journey from Cirebon took only one hour, made possible by a divine miracle (karamah) that "folded the earth" a special state of travel without physically shifting locations. They arrived at the region of Banten Girang.
 
Banten was then ruled by four kings: Raja Siwa, Raja Darga, Raja Brahma, and Raja Ganesa. Although Demak had prepared battle troops, Sunan Gunung Jati held back, knowing these kings possessed extraordinary supernatural powers. He turned in supplication (munajat) to Allah, receiving guidance to head toward Mount Pulosari, and later receiving instruction to proceed to Mount Karang.
 
3. Encounter and Trial of Inner Strength
 
On Mount Karang, they found a long-time ascetic named Brata Guru Sampa, who wore royal attire and a crown. Syekh Syarif greeted him, causing the ascetic to open his eyes from deep meditation. A battle of inner spiritual power then ensued, lasting seven days. Ultimately, Brata Guru Sampa was defeated and accepted guidance to embrace Islam.
 
4. Asceticism on the Panca Warna Stone
 
Syekh Syarif then ordered his son, Maulana Hasanuddin, to meditate atop Batu Gigilang on Mount Karang a 2-meter square stone with a reddish glow, known today as the Batu Panca Warna (Five-Colored Stone).
 
His father advised him:
 
"Do not claim ownership over anything; all belongs to Allah. When the sense of 'possession' leaves you, this power may be used to uphold the truth. If you are able to lift this stone, it means your spiritual trial has been passed."
 
Maulana Hasanuddin succeeded in the trial. His father then said:
 
"Bring this stone immediately to Banten Girang. The strength of the land of Banten lies within this blessed (karamah) stone."
 
5. Battle and Victory by Allah’s Help
 
After placing the stone at the Paseban (royal audience hall) of Banten, troops from Demak were assembled. They were vastly outnumbered: the Hindu army was ten times larger, supported by English and Portuguese soldiers.
 
As the battle intensified and the Muslim forces neared defeat, Maulana Hasanuddin turned toward Mount Karang and prayed sincerely:
 
"O Allah, I claim nothing as my own. The wind, the water, and all things belong only to You. Help us uphold Your word, in obedience to the command of Demak and my father."
 
A mysterious voice was heard asking what aid he desired. Maulana Hasanuddin chose wind. Thereupon Allah sent strong winds from Pasir Angin and flowing water from the Cibanten River both originating from Mount Karang securing victory for the Muslim troops.
 
📜 Source: Al-Maghfurlah Abuya Uci Cilongok

SEKELUMIT MANAQIB IMAM ASY-SYAFI'I
 
 
 
🔹 Nasab yang Mulia
 
Nama Lengkap: Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi'... Al-Quraisi Al-Mutholibi Asy-Syafi'i Al-Hijazi Al-Maki.
Nasab beliau bersambung dengan Kanjeng Rasulullah ﷺ pada Sayyid Abdi Manaf.
Ibunya: Sayyidah Fathimah binti Abdillah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a.
 
Dinisbatkan ke kakek ke-3: Sayyid Syafi' bin Saib seorang Sahabat Nabi
 
🔹 Waktu & Tempat Lahir Wafat
 
✅ Lahir: Tahun 150 H (tahun Imam Abu Hanifah wafat) di Guzzah (sekitar 2 perjalanan dari Baitul Maqdis)
✅ Wafat: Malam Jumat akhir Bulan Rajab 204 H (usia 54 tahun) di Kairo, Mesir.
 
🔹 Perjalanan Ilmu yang Luar Biasa
 
- Lahir yatim & hidup sederhana. Dibawa ibunya ke Makkah usia 2 tahun.
- Belajar syair, sejarah Arab & adab sejak kecil.
- Hafal Al-Qur'an usia 7 tahun.
- Hafal Kitab Hadits Muwaththa' usia 10 tahun.
- Belajar Fikih pada Mufti Makkah: Syaikh Muslim bin Kholid.
- Usia 13 tahun: Berguru pada Imam Malik bin Anas di Madinah.
- Usia 15 tahun: Telah diberi izin (ijazah) untuk berfatwa.
 
🔹 Keistimewaan & Jasa Besar
 
Menurut Imam Asy-Syirbi:
✅ Ulama pertama yang membahas Ushul Fiqih.
✅ Pertama menetapkan kaidah Nasikh & Mansukh (hadits yang mengganti/menggugurkan).
✅ Pertama menyusun kitab Fiqih dengan pembabakan yang rapi & lengkap.
 
🔹 Dua Pemikiran: Qaul Qadim & Jadid
 
📌 Di Irak: Menyusun kitab Al-Hujjah → dikenal sebagai Qaul Qadim (fatwa as syafi'i lama).
Diriwayatkan oleh: Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Tsaur, Imam Az-Za'faroni, Imam Al-Karobisi.
 
📌 Di Mesir (199 H): Menyusun Qaul Jadid (fatwa ash syafi'i baru). Terangkum dalam kitab: Al-Umm, Mukhtashor Al-Muzanni, Al-Buwaithi.
Periwayatnya: Imam Ar-Robi', Imam Al-Muzanni, Imam Al-Buwaithi, dll.
 
 
 
📚 Sumber Rujukan:
 
- Hasyiah Asyarwani 1/52
- Manaqib Asy-Syafi'i (Imam Al-Baihaqi) 1/72
- Muqaddimah Majmu' Syarah Muhadzdzab 1/8

ENGLISH

A GLIMPSE INTO THE EXCELLENCES OF IMAM ASY-SYAFI’I
 
🔹 Noble Lineage
 
Full Name: Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’... Al-Qurayshi Al-Muthallibi Asy-Syafi’i Al-Hijazi Al-Makki.
 
His lineage connects with the Prophet Muhammad ﷺ at Sayyid Abdi Manaf.
 
His mother: Sayyidah Fatimah binti Abdillah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a.
 
He is named after his 3rd grandfather: Sayyid Syafi’ bin Saib, a Companion of the Prophet ﷺ.
 
🔹 Birth & Demise: Time & Place
 
✅ Born: 150 AH (the year Imam Abu Hanifah passed away) in Guzzah (approx. two travel stages from Baitul Maqdis / Jerusalem).
✅ Passed away: On Friday night, at the end of Rajab, 204 AH (aged 54) in Cairo, Egypt.
 
🔹 An Extraordinary Journey of Knowledge
 
- Born an orphan & lived humbly; brought to Makkah by his mother at age 2.
- Learned poetry, Arab history & etiquette from childhood.
- Memorized the Holy Qur’an by age 7.
- Memorized the Hadith compilation Al-Muwaththa’ by age 10.
- Studied Fiqh (Islamic jurisprudence) under the Mufti of Makkah: Shaykh Muslim bin Kholid.
- At age 13: Studied under Imam Malik bin Anas in Madinah.
- At age 15: Granted formal authorization (ijazah) to issue religious verdicts.
 
🔹 Distinctions & Great Contributions
 
According to Imam Asy-Syirbi:
✅ The very first scholar to formally discuss Usul Al-Fiqh (Principles of Jurisprudence).
✅ First to establish rules of Nasikh & Mansukh (abrogating & abrogated rulings/hadith).
✅ First to structure Fiqh books into clear, comprehensive chapters.
 
🔹 Two Stances of Thought: Qaul Qadim & Jadid
 
📌 In Iraq: Authored the book Al-Hujjah → known as Qaul Qadim (his earlier verdicts/views).
Narrated by: Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Tsaur, Imam Az-Za’faroni, Imam Al-Karobisi.
 
📌 In Egypt (199 AH): Compiled Qaul Jadid (his revised/later verdicts). Compiled in works: Al-Umm, Mukhtashor Al-Muzanni, Al-Buwaithi.
Narrators include: Imam Ar-Robi’, Imam Al-Muzanni, Imam Al-Buwaithi, and others.
 
📚 References:
 
- Hasyiah Asyarwani 1/52
- Manaqib Asy-Syafi’i (Imam Al-Baihaqi) 1/72
- Muqaddimah Majmu’ Syarah Muhadzdzab 1/8

ASAL-USUL NAMA SHOLAWAT NARIYAH
 
 
 
🔹 Siapa Penyusunnya?
 
Para ulama memiliki pendapat beragam: ada yang menyebut Imam Ahmad Ar-Rifa'i atau Imam Ibnul 'Arabi. Namun pendapat yang kami pilih sesuai arahan guru kami ialah disusun oleh Sayyid Abul Mawahib Ibrahim At-Tazi.
 
✅ Dalil & Penguatan:
 
- Syekh Abul Abbas Ahmad bin Ma'mun (Madzhab Maliki) menuliskan dalam Majla Al-Asror hal.77:
"Sholawat ini milik Al-'arif billah Ta'ala Sayyidi Ibrahim At-Tazi... dan di Maroko dikenal sebagai Sholawat At-Taziyyah."
- Syekh Abbas Al-Samlali dalam Al-'Ilam 8/306 menjelaskan hal yang sama.
 
🔹 Nama-Nama Lainnya
 
Sholawat ini memiliki beberapa sebutan di tengah masyarakat:
 
- Sholawat Nariyah
- Sholawat At-Taziyyah
- Sholawat At-Tafriziyyah Al-Qurtubiyyah
- Dan nama lainnya sesuai daerah masing-masing
 
🔹 Mengapa Disebut "Nariyah"?
 
Menurut Imam Hakim An-Nazili dalam Khozinah Al-Asror hal.202:
 
- Di kalangan masyarakat Maroko, sholawat ini dibaca bersama dalam satu majlis sebanyak 4.444 kali saat ingin mengabulkan hajat atau mengusir kecemasan (punya harapan atau menolak ke khawatiran)
- Disebut Nariyah (seperti api), karena keampuhannya cepat & langsung terasa, bagaikan api yang menyala dengan sigap.
 
🔹 Keutamaan Penyusun
 
Imam Ibrahim At-Tazi Al-Maghribi dipuji oleh Imam As-Sakhowi dalam Ad-Dou Allami' (Juz 1/187):
 
"Beliau adalah orang yang saleh, berilmu, dan memiliki karya syair/qasidah yang sangat indah"

ENGLISH 

ORIGINS & BACKGROUND OF SHOLAWAT NARIYAH
 
🔹 Who Composed It?
 
Scholars hold varying opinions: some mention Imam Ahmad Ar-Rifa’i or Imam Ibnul ‘Arabi. However, following our teacher’s guidance, we adopt the view that it was compiled by Sayyid Abul Mawahib Ibrahim At-Tazi.
 
✅ Supporting Evidence:
 
- Shaykh Abul Abbas Ahmad bin Ma’mun (Maliki School) wrote in Majla Al-Asror, p. 77:
“This prayer/blessing is attributed to the Gnostic of Allah the Exalted, Sayyidi Ibrahim At-Tazi… and it is known in Morocco as Sholawat At-Taziyyah.”
- Shaykh Abbas Al-Samlali confirms the same account in Al-‘Ilam 8/306.
 
🔹 Other Names
 
This prayer is known by several titles across regions:
 
- Sholawat Nariyah
- Sholawat At-Taziyyah
- Sholawat At-Tafriziyyah Al-Qurtubiyyah
- Various other regional designations
 
🔹 Why Is It Called "Nariyah"?
 
According to Imam Hakim An-Nazili in Khozinah Al-Asror, p. 202:
 
- In Moroccan tradition, people gather in one assembly and recite this prayer 4,444 times to have their needs granted or to dispel anxiety.
- It is named Nariyah (literally: like fire) because its effect is swift and powerful—just like a flame that ignites instantly.
 
🔹 Virtues of the Compiler
 
Imam Ibrahim At-Tazi Al-Maghribi was praised by Imam As-Sakhowi in Ad-Dou Allami’ (Vol. 1, p. 187):
“He was a righteous, knowledgeable man, and the author of beautiful poetry and odes"

DALIL 

هذه الصلاة للعارف بالله تعالى سيدي إبراهيم التازي نفعنا الله به، وتعرف في المغرب بالصلاة التازية

"Sholawat ini milik Al-'arif billah Ta'ala Sayyidi Ibrahim At-tazi Nafa'anallohu bihi, dan sholawat ini terkenal di Maroko dengan sebutan Sholawat At-taziyyah"

This prayer of blessings belongs to the one who has attained deep knowledge of Allah (arif billah), Sayyid Ibrahim al-Tazi and it is known in Morocco as al-Salat al-Taziyyah

إِبْرَاهِيم التازي المغربي كَانَ صَالحا عَالما لَهُ قصائد بديعة.

"Sayyid Ibrahim At-tazi Al-Maghribi ialah orang sholih yang Alim dan memiliki Qosidah yang indah"

Ibrahim al-Tazi al-Maghribi was a pious scholar who own beautiful poetry

KISAH QOSIDAH BURDAH
 
 
 
🔹 Identitas & Riwayat Hidup
 
Nama Lengkap: Syekh Syarifuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa'id bin Hammad As-Shonhaji Al-Bushiri Al-Mishri.
 
- Asal: Nama "Al-Bushiri" diambil dari kota asal ayah beliau.
- Lahir: Di Dalas, Selasa awal Syawwal 608 H.
- Wafat: Tahun 696 H, dimakamkan di Iskandaria, Mesir.
 
🔹 Guru & Perjalanan Hidup
 
- Guru Beliau: Imam Abu Hayyan, Imam Al-Ya'mar Abul Fath, Imam Ibnu Syaikh bin Sayyidinnas, Imam Al-Izzi, dan lainnya.
- Awal Pekerjaan: Pengrajin tulisan & tukang potong daging.
- Berubah Haluan: Meninggalkan profesi lalu berguru kepada Imam Abul Abbas Al-Mursi (murid Imam As-Syadzili).
- Keberkahan: Menjadikan akhirat tujuan utama, sehingga diberkahi & termasyhur bahkan lebih dikenal dari ulama sezamannya.
 
🔹 Pujian Para Ulama
 
✅ Imam Hafidz Fathuddin: Paling indah menyusun syair di kalangannya.
✅ Imam Ibnu Hajar: Keajaiban zaman dalam prosa dan puisi.
✅ Imam Suyuthi: Kemampuan bahasanya sangat tinggi dalam menulis nazam.
 
🔹 Kisah Menyusun Qosidah Burdah
 
- Awal Mula: Beliau sakit parah (seperti stroke), dokter tak mampu mengobati.
- Niat Hati: Menyusun puisi untuk Nabi ﷺ sebagai wasilah kesembuhan.
- Mimpi Indah: Setelah selesai, bermimpi tubuhnya diusap tangan Nabi ﷺ → bangun dalam keadaan sembuh total.
- Kejadian Luar Biasa: Belum beritahu siapa pun (belum mencerminkan/membagikan qasidah), namun bertemu orang saleh yang sudah hafal puisi itu karena ia mendengarnya dibacakan di hadapan Nabi ﷺ Dan Kanjeng nabi mengayunkan badannya seperti mengayunnya batang pohon (mungkin maksud nya menghayati. Hanya Allah yang tahu fakta nya)
- Riwayat Lain (imam bushri): Pernah sakit mata parah; bermimpi baca puisi lalu ditiup Nabi ﷺ → seketika pulih
 
 
 
📚 Sumber:
 
- Al-Minal Al-Makkiyyah 1/70
- Husnul Muhadhoroh 1/570
- Al-'Alam Az-Zirkili 6/139

ENGLISH 

THE STORY OF THE QASIDAH BURDAH
 
🔹 Identity & Life History
 
Full Name: Shaykh Sharifuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa'id bin Hammad As-Shonhaji Al-Bushiri Al-Mishri.
 
- Origin: The name "Al-Bushiri" is derived from his father’s hometown.
- Born: In Dalas, on a Tuesday at the start of Shawwal, 608 AH.
- Passed Away: 696 AH; laid to rest in Alexandria, Egypt.
 
🔹 Teachers & Life Journey
 
- His Teachers: Imam Abu Hayyan, Imam Al-Ya'mar Abul Fath, Imam Ibnu Syaikh bin Sayyidinnas, Imam Al-Izzi, and others.
- Early Occupations: A scribe/calligrapher and a butcher.
- A New Path: Left his professions to study under Imam Abul Abbas Al-Mursi (a disciple of Imam Asy-Syadzili).
- Blessings: Made the afterlife his ultimate goal—thus receiving divine blessings and fame, surpassing other scholars of his era.
 
🔹 Praises from Other Scholars
 
✅ Imam Hafidz Fathuddin: The finest poet among those of his background.
✅ Imam Ibnu Hajar: A marvel of his age, both in prose and verse.
✅ Imam Suyuthi: Possessed extraordinary eloquence in composing poetry.
 
🔹 The Story Behind the Qasidah Burdah
 
- The Beginning: He suffered a severe illness resembling a stroke, which doctors could not cure.
- His Intention: He resolved to compose a poem in honor of the Prophet ﷺ, hoping it would serve as a means to recovery.
- The Blessed Dream: Upon finishing the poem, he dreamt that the Prophet ﷺ stroked his body—he woke up completely healed.
- An Extraordinary Encounter: Before telling anyone or sharing the poem, he met a righteous man who already knew it by heart. The man said: "I heard you reciting it before the Prophet ﷺ, who was swaying with deep emotion like a tree branch swaying in the wind Allah alone knows the full truth of its meaning."
- Another Account: He also suffered from severe eye ailment; he dreamt of reciting his poem to the Prophet ﷺ, who then blew upon his eyes he recovered immediately.
 
📚 References:
 
- Al-Minal Al-Makkiyyah 1/70
- Husnul Muhadhoroh 1/570
- Al-'Alam Az-Zirkili 6/139

SIAPA PENYUSUN SHOLAWAT AL-FATIH?
 
 
 
1. Pengenalan Sholawat Al-Fatih
 
Sholawat Al-Fatih termasuk salah satu sholawat yang sangat populer dalam dunia hikmah. Lafadznya mudah dihafal karena susunannya pas tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek.
 
2. Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Penyusunnya
 
Tentang siapa penyusun aslinya, terdapat dua pandangan ulama yang terkenal:
 
- Menurut Syaikh Ahmad Dahlan: Sholawat ini dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (Lihat Kitab Afdhol As-Sholawat, Hal. 140).
- Menurut Imam As-Sowi Al-Maliki: Sholawat ini dinisbatkan kepada Sayyid Muhammad Al-Bakri.
 
3. Penjelasan Rujukan: Siapa Sayyid Muhammad Al-Bakri?
 
Dalam kitab Syarah As-Sowi ‘Ala Sholawat Ad-Dardiri (Hal. 39) tertulis:
 
"Kemudian Imam Ad-Dardiri melanjutkan sighat (ucapan) yang dinamai Sholawat Al-Fatih, yakni sholawat yang dinisbatkan kepada Sayyid Muhammad Al-Bakri."
 
Nama yang sama sempat menimbulkan kebingungan, karena ada dua tokoh besar bernama serupa. Namun penjelasan Syekh Yusuf An-Nabhani meluruskan:
Yang dimaksud adalah Syekh Muhammad Syamsuddin bin Syekh Abil Hasan Muhammad Al-Bakri As-Shiddiqi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari Al-Mishri, yang wafat tahun 993 H.
 
Pendapat ini diperkuat:
 
- Oleh Syaikh Abdurrahman Al-Kazbiri Al-Kabir (Ahli Hadits dari Syam, tahun 1262 H) yang menerima ijazah sholawat ini dan menisbatkan kepada tokoh di atas
- Rujukan sejarah: Syadzarat Ad-Dzahab (10/632) dan An-Nur As-Safir (Hal. 369).
 
4. Keutamaan & Kelebihan Membacanya
 
Sholawat Al-Fatih memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Para ulama menjelaskan:
 
"Sebagian ulama berkata: Satu kali membaca Sholawat Al-Fatih nilainya setara dengan membaca sepuluh ribu sholawat. Sebagian yang lain menyebutkan setara dengan enam ratus ribu"

ENGLISH

WHO WROTE SHOLAWAT AL-FATIH?
 
1. Introduction to Sholawat Al-Fatih
 
Sholawat Al-Fatih is one of the most widely recognized sholawat (blessings upon the Prophet) in spiritual circles. Its verses are easy to memorize, as the composition is well-proportioned—neither too long nor too short.
 
2. Differing Scholarly Views on Its Author
 
There are two well-known opinions among scholars regarding its original compiler:
 
- According to Syaikh Ahmad Dahlan: This sholawat is attributed to Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani (Reference: Afdhol As-Sholawat, p. 140).
- According to Imam As-Sowi Al-Maliki: It is attributed to Sayyid Muhammad Al-Bakri.
 
3. Clarifying the Reference: Who Is Sayyid Muhammad Al-Bakri?
 
The book Syarah As-Sowi ‘Ala Sholawat Ad-Dardiri (p. 39) states:
 
"Then Imam Ad-Dardiri proceeded with a form of supplication called Sholawat Al-Fatih—a sholawat attributed to Sayyid Muhammad Al-Bakri."
 
Shared names once caused confusion, as there were two prominent figures with similar names. However, Syekh Yusuf An-Nabhani clarified the matter:
The person intended is Syekh Muhammad Syamsuddin bin Syekh Abil Hasan Muhammad Al-Bakri As-Shiddiqi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari Al-Mishri, who passed away in 993 AH.
 
This view is further supported by:
 
- Syaikh Abdurrahman Al-Kazbiri Al-Kabir (a Hadith scholar from Syria, d. 1262 AH), who received an official transmission (ijazah) for this sholawat and its benefits, and also attributed it to the above-mentioned scholar.
- Historical references: Syadzarat Ad-Dzahab (10/632) and An-Nur As-Safir (p. 369).
 
4. Virtues & Merits of Reciting It
 
Sholawat Al-Fatih holds an exceptionally high status. Scholars explain:
 
"Some scholars state: Reciting Sholawat Al-Fatih once carries merit equal to reciting ten thousand sholawat. Others mention it equals six hundred thousand."

DALIL

ثم شرع في صيغة تسمى صلاة الفاتح تنسب السيدى محمد البكرى 

"Kemudian Imam Ad-dardiri Melanjutkan Shighot sholawat yang dinamai Sholat Al-Fatih, yakni sholawat yang dinisbatkan kepada Sayyid Muhammad Al-bakri"

"He then proceeded with a formulation known as Salat al-Fatih, which is attributed to Sidi Muhammad al-Bakri"

وقال بعضهم المرة منها تعدل عشرة آلاف وقيل ستمائة ألف 

Sebagian ulama berkata "Satu Kali membaca Sholawat Al-Fatih sama dengan membaca sepuluh Ribu, sebagian ulama menyebutkan enam ratus Ribu".

"Some say reciting it once is equivalent to ten thousand, while others say six hundred thousand"

SIAPA PENYUSUN & KEUTAMAAN SHOLAWAT NUR AL-ANWAR
 
 
 
✍️ Penyusun Sholawat Nur Al-Anwar
 
Menurut Syekh Yusuf An-Nabhani:
Sholawat Nur Al-Anwar yang diawali dengan lafaz “Allohuma sholli ‘ala Nuril Anwar wa sirril Asror” adalah karangan Sayyid Ahmad Al-Badawi (Qutb Al-Aqthab).
 
Disebutkan pula:
 
“Dua sholawat mulia ini Nur Al-Anwar dan Sholawat Nuroniyyah milik Sayyid Ahmad Al-Badawi"
 
 
 
✨ Keutamaan & Khasiat Besar
 
Menurut Syekh Ahmad Dahlan (Mufti Makkah):
Banyak para Wali allah menegaskan Sholawat Nur Al-Anwar terbukti mujarab untuk:
✅ Melancarkan segala hajat
✅ Membuka kesusahan & kesedihan
✅ Menolak bahaya dan kemudharatan
✅ Mendapatkan nur illahi & rahasia ilahiah
✅ Bermanfaat untuk segala urusan
 
 
 
📖 Cara Mengamalkan
 
🔹 Jumlah Wirid: Sebaiknya dibaca 100 kali setiap hari
🔹 Tingkatan: Pemula cukup amalkan ini. Jika sudah sampai puncak (pengamalan), disarankan beralih ke Sholawat Nuroniyyah
 
 
 
📚 Sebaran & Sumber
 
- Sholawat ini sangat masyhur dan banyak diamalkan di wilayah Jawa Barat.
- Termasuk dalam rangkaian Ratib Al-Haddad (bagian akhir).
- Rujukan lengkap: Kitab Afdhol As-Sholawat, Halaman 86

ENGLISH

WHO COMPILED SHOLAWAT NUR AL-ANWAR & ITS VIRTUES
 
✍️ Compiler of Sholawat Nur Al-Anwar
 
According to Sheikh Yusuf An-Nabhani:
Sholawat Nur Al-Anwar, which begins with the phrase “Allohuma sholli ‘ala Nuril Anwar wa sirril Asror”, was composed by Sayyid Ahmad Al-Badawi (Qutb Al-Aqthab).
 
It is also stated:
 
"These two noble sholawats — Nur Al-Anwar and Sholawat Nuroniyyah — belong to Sayyid Ahmad Al-Badawi."
 
✨ Great Virtues & Benefits
 
According to Sheikh Ahmad Dahlan (Mufti of Makkah):
Many Awliya (friends of Allah) confirm that Sholawat Nur Al-Anwar is proven effective for:
✅ Fulfilling all needs and wishes
✅ Relieving distress and sorrow
✅ Warding off danger and harm
✅ Attaining divine light and spiritual secrets
✅ Beneficial for all kinds of matters
 
📖 How to Practice
 
🔹 Daily Recitation: Recommended to recite 100 times every day
🔹 Spiritual Level: Beginners practice this one. Upon reaching the highest level of practice, it is advised to move on to Sholawat Nuroniyyah.
 
📚 Spread & Sources
 
- This sholawat is very popular and widely practiced in West Java region.
- Included at the end of the Ratib Al-Haddad supplication.
- Full reference: Book Afdhol As-Sholawat, Page 86

DALIL

هاتان الصلاتان الشريفتان لقطب الأقطاب سيدي أحمد البدوي نفعنا الله به. 

"Dua Sholawat ini (Sholawat Nuroniyyah dan Sholawat Nuril Anwar) yang mulia itu Milik Qutb Al-Aqthab Sayyidi Ahmad Al-badawi Nafa'na Allohu bihi, Aamiin"

"These two great daily devotions originate from the Quthb al-Aqthab, Sayyid Ahmad al-Badawi may Allah be pleased with him"

وأما الصلاة الثانية التي أولها : اللهم صل على نور الأنوار وسر الأسرار إلى آخرها فقد قال الأستاذ السيد أحمد دحلان في مجموعته المذكورة بعد ذكر الصلاة السابقة وفوائدها ومما ينسب أيضا إلى سيدنا القطب الكامل السيد أحمد البدوي رضي الله عنه هذه الصلاة أيضا. وبعد أن ذكرها قال: ذكر كثير من العارفين أنها مجربة لقضاء الحاجات وكشف الكربات ودفع المعضلات وحصول الأنوار والأسرار بل مجربة لجميع الأشياء؛ وعدة وردها مائة مرة كل يوم. وينبغي أن يبتدئ المريدون في أول سلوكهم باستعمالها، وفي انتهائهم بالصيغة الأولى. اهـ

"Regarding the second sholawat (Sending blessings upon the Prophet), which begins with the phrase “Allohuma sholli ‘ala Nuril Anwar wa sirril Asror” and continues to its end, the scholar Sayyid Ahmad Dahlan stated the following in his previously mentioned collection of sholawats after discussing the first sholawat and its benefits: “This sholawat belongs to the Qutb Al-Aqthab, Sayyid Ahmad Al-Badawi, may Allah be pleased with him.”
 
Sheikh Ahmad Dahlan (Mufti of Makkah and teacher of Sheikh Nawawi) also noted:
“Many eminent islamic saint (Wali) mention that this sholawat is proven effective for fulfilling needs, relieving distress, resolving difficulties, and attaining divine light and spiritual secrets. In fact, it is proven beneficial for all matters. The recommended recitation is one hundred times daily. Practitioners should recite this sholawat (100 times), and conclude it with the formula of Sholawat An-Nuroniyyah"

KISAH KETAWADUKAN KIAI MARZUQI: UJIAN & KEHEBATAN DI BALIK KERENDAHAN HATI
 
 
 
📚 Apa Itu Metode Ngaji Bandongan?
 
Dalam tradisi pesantren, ngaji bandongan adalah cara belajar di mana guru membacakan teks kitab lengkap beserta arti nya, lalu sesekali memberi penjelasan kepada para santri (soal makna entah itu karena di kitab cuma berisi kiasan. makna di hidup dll)
 
 
 
👤 Sosok Kiai Marzuqi: Tampak Sederhana, Penuh Kerendahan Hati
 
Kiai Marzuqi adalah pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo (menantu KH. Abdul Karim). Beliau dikenal:
 
- Bacaan kitabnya terlihat lugu dan sederhana
- Sering tidak menampakkan kemahiran luar biasa
- Pernah dianggap kurang bakat (menyampaikan) oleh sebagian orang, bahkan ada kiai yang meragukannya
- Punya sifat tawadhu, bersahaja, dan suka merendah
 
 
 
📖 Permintaan Santri: Membuka Kitab Ihya' Ulumudin
 
Di awal tahun 1957, para santri dan pengurus sangat berharap beliau mengaji kitab besar karya Al-Ghazali: Ihya' Ulum ad-Din.
 
- Kiai Marzuqi awalnya menolak halus: "suatu hari nanti saja... biar Idris saja yang membaca" (menunjuk putranya yang masih kecil/dia di masa depan (dewasa) yang akan membacakan)
- Namun desakan terus berlanjut, bahkan pengurus sempat menyatakan akan pindah pondok jika tidak terlaksana
- Akhirnya, atas desakan lurah pondok saat itu, beliau bersedia
 
 
 
✨ Peristiwa Luar Biasa: Tanpa Persiapan, Tanpa Makna
 
Pada Jumat, 25 Januari 1957, terjadilah hal yang menggetarkan Lirboyo:
 
- Kiai Marzuqi mengaji tanpa persiapan sedikit pun
- Kitab yang dibawa masih baru dari toko, belum ada makna, lembarannya masih menempel
- Beliau membawa silet sendiri untuk membuka lembaran yang belum terpotong
- Hadirin heran, di situ juga hadir kiai-kiai sekitar Kediri termasuk yang pernah meragukan beliau
 
 
 
⏳ Ketekunan & Kesempurnaan Selama 3,5 Tahun
 
- Pengajian berlangsung 2 jam setiap hari secara berkelanjutan
- Berjalan lancar hingga selesai sempurna dalam waktu tiga setengah tahun
- Setelah tamat, diadakan syukuran meriah oleh seluruh santri pesantren
 
 
 
💡 Pelajaran Penting dari Kisah Ini
 
✅ kehebatan seseorang tidak selalu terlihat dari penampilan luar atau kemahiran
✅ Ketawadukan tidak melemahkan, justru menyimpan kekuatan yang tak terduga
✅ Di balik kerendahan hati seringkali tersembunyi keagungan yang allah berikan
 
Teruntuk Kiai Marzuqi, al-Fatihah...
 
Referensi: Buku Tiga Tokoh Lirboyo, Hal. 45–48

ENGLISH

THE HUMILITY OF KIAI MARZUQI: A TEST & GREATNESS BEHIND HUMILITY
 
📚 What Is the "Ngaji Bandongan" Method?
 
In pesantren (Islamic boarding school) tradition, ngaji bandongan is a learning method where the teacher recites the full text of a book along with its meaning, then provides occasional explanations to students including clarifying figurative language, contextual meanings, and practical applications.
 
👤 The Figure of Kiai Marzuqi: Simple Appearance, Deep Humility
 
Kiai Marzuqi was a caretaker of Lirboyo Islamic Boarding School (son-in-law of KH. Abdul Karim). He was known as:
 
- His recitation of texts appeared plain and unassuming
- Rarely displayed extraordinary skill outwardly
- Once thought by some to lack teaching ability; even some scholars doubted him
- Deeply humble, unpretentious, and modest
 
📖 The Students’ Request: Opening the Ihya' Ulum ad-Din
 
In early 1957, students and administrators earnestly asked him to teach the great work Ihya' Ulum ad-Din by Imam Al-Ghazali:
 
- He gently declined at first: "Someday... let Idris be the one to teach it later" referring to his young son, saying he would do so when grown
- Pressure continued; administrators even threatened to move to another school if the request was denied
- Finally, at the urging of the head of the boarding school at that time, Ghozali, he agreed
 
✨ An Extraordinary Event: No Preparation, No Annotations
 
On Friday, January 25, 1957, a remarkable event unfolded in Lirboyo:
 
- Kiai Marzuqi began teaching without any prior preparation
- The book he brought was brand-new, unannotated, with pages still uncut
- He even carried a razor blade to slice open pages as he read
- The audience was astonished; present were scholars from across Kediri including those who had once doubted him
 
⏳ Perseverance & Perfection Over 3.5 Years
 
- Lessons continued 2 hours daily, without interruption
- Completed the entire book flawlessly in three and a half years
- A grand celebration was held by the entire community upon completion
 
💡 Key Lessons from This Story
 
✅ True mastery is not always visible through outward appearance or apparent skill
✅ Humility never weakens it conceals unexpected strength
✅ Behind deep humility often lies greatness bestowed by Allah
 
Al-Fatihah, in honor of Kiai Marzuqi...
 
Reference: Three Figures of Lirboyo, pp. 45–48

MENGENAL KITAB FATHUL QORIB MUJIB & PENULISNYA
 
 
 
📚 Tentang Kitab Fathul Qorib
 
Fathul Qorib Mujib adalah syarah daripada kitab dasar At-Taqrib. kitab fathul qarib Sangat populer dan menjadi rujukan utama bagi pengikut Madzhab Syafi’i, terutama di Indonesia.
 
 
 
✍️ Biografi Penulis
 
Nama: Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qosim bin Muhammad Al-Gozi Al-Qohiri Asy-Syafi’i, dikenal pula sebagai Ibnu Al-Gorobili
 
- Lahir: Bulan Rajab 859 H di Guzzah
- Wafat: Tahun 918 H
- Masa Muda: Tumbuh di Guzzah, dan meng hafal Al-Qur’an, As-Syatibiyyah, Al-Minhaj, Alfiyah Hadits, Alfiyah Nahwu, sebagian Jam’ul Jawami’, dan kitab penting lainnya
 
 
 
📖 Para Guru Beliau
 
Beliau belajar secara mendalam kepada banyak ulama terkemuka:
 
1. Syaikh Ibnu Al-Hamshi → Fikih, Bahasa Arab, dan ilmu terkait lainnya.
2. Syaikh Al-Kamal Bin Abi Syarif → Fikih, Ushuluddin, dan Kitab Syarah Mahalli. Beliau dipuji sebagai santri yang cerdas dan berilmu luas.
3. Imam Al-‘Ubadi → Fikih dengan metode bandongan & sorogan.
4. Syaikh Al-Jujuri → Ushul Fikih & Ilmu ‘Arud hingga tamat.
5. Syekh ‘Ala Al-Hisni → Syarah ‘Aqoid, Syarah Tashrif, Mantiq, & Al-Muthowwal.
6. Syaikh Al-Badri Al-Marodani → Ilmu Faroid, Hisab, & Matematika.
7. Syaikh Zain Zakaria → Bab Qiyas dalam Kitab Jam’ul Jawami’.
8. Syekh Jamal Al-Kauroni → Syarah Asykal At-Ta’sis.
9. Syaikh Muhammad Bin Qodiri → Ilmu Qiro’ah (bersama & privat).
10. Syaikh Az-Zain Ja’far → Qiro’ah Sab’ah (metode An-Nasr), Qiro’ah 14 (termasuk yang Syadz), & istilahnya hingga pertengahan Surat An-Nisa.
11. Syaikh Ibnu Al-Hamshoni → Qiro’ah Asyroh sampai Surat Al-Hijr.
12. Syaikh As-Sanhuri → Qiro’ah Sab’ah sampai Surat Al-‘Ankabut.
13. Imam As-Sakhowi → Alfiyah Hadits, Al-Adzkar, Al-Qoul Badi’, & lainnya. Beliau juga menyusun Hasyiah Aqoid yang mendapat apresiasi dari gurunya.
 
 
 
📌 Sumber
 
- Ad-Dhou Allami’ 8/286
- Dar Al-Ifta Al-Mishriyyah

ENGLISH

GETTING TO KNOW THE BOOK FATHUL QORIB MUJIB & ITS AUTHOR
 
📚 About the Book Fathul Qorib
 
Fathul Qorib Mujib is a more detailed commentary on the book At-Taqrib. It is extremely popular and serves as a primary reference for followers of the Shafi’i School, especially in Indonesia.
 
✍️ Biography of the Author
 
Full Name: Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qosim bin Muhammad Al-Gozi Al-Qohiri Asy-Syafi’i, also known as Ibnu Al-Gorobili
 
- Born: Rajab, 859 AH, in Guzzah
- Died: 918 AH
- Early Life & Learning: Grew up in Guzzah; memorized the Quran, As-Syatibiyyah, Al-Minhaj, Alfiyah of Hadith, Alfiyah of Nahwu, major parts of Jam’ul Jawami’, and other essential texts.
 
📖 His Teachers & Fields of Study
 
He studied deeply under many prominent scholars:
 
1. Syaikh Ibnu Al-Hamshi → Fiqh, Arabic Language, and related sciences
2. Syaikh Al-Kamal Bin Abi Syarif → Fiqh, Ushuluddin, and Syarah Mahalli; praised as a brilliant, highly knowledgeable student
3. Imam Al-‘Ubadi → Fiqh, taught via bandongan & sorogan methods
4. Syaikh Al-Jujuri → Ushul Fiqh & Ilmu ‘Arudh (fully completed)
5. Syekh ‘Ala Al-Hisni → Syarah ‘Aqoid, Syarah Tashrif, Logic (Mantiq), & Al-Muthowwal
6. Syaikh Al-Badri Al-Marodani → Inheritance Law (Faroid), Arithmetic, & Mathematics
7. Syaikh Zain Zakaria → The Qiyas section of Jam’ul Jawami’
8. Syekh Jamal Al-Kauroni → Syarah Asykal At-Ta’sis
9. Syaikh Muhammad Bin Qodiri → Recitation (Qiro’ah) in group & private settings
10. Syaikh Az-Zain Ja’far → Seven Recitations (Sab’ah) via An-Nasr method; 14 modes (including rare/Shadhdh); terminology up to mid-Surah An-Nisa
11. Syaikh Ibnu Al-Hamshoni → Asyroh recitation up to Surah Al-Hijr
12. Syaikh As-Sanhuri → Seven Recitations (Sab’ah) up to Surah Al-‘Ankabut
13. Imam As-Sakhowi → Alfiyah Hadith, Al-Adzkar, Al-Qoul Badi’, etc. He also authored a Hasyiah (gloss) on Theology (Aqoid) that received his teacher’s high praise.
 
📌 Sources
 
- Ad-Dhou Allami’ 8/286
- Dar Al-Ifta Al-Mishriyyah

DOA NABI MUSA AS SAAT MELINTASI LAUTAN
 
 
 
📖 Riwayat Hadis
 
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda:
 
"Maukah kalian aku ajari doa yang dibaca Nabi Musa as saat melintasi (membelah) lautan bersama Bani Israil?"
 
Kami menjawab: "Tentu, ya Rasulullah."
 
Beliau bersabda: Ucapkanlah:
 
✨ Lafaz & Arti
 
Arab:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Latin:
Allahumma lakal hamdu wa ilaikal musytaka, wa antal musta’aanu, wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.
 
Artinya:
"Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu. Hanya kepada-Mu tempat kami mengadu, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."
 
 
 
💡 Keteladanan Syaikh A’masy
 
Syaikh A’masy berkata:
 
"Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak mendengarnya dari Syaqiq Al-Asadiy Al-Kufiy, dan dia dari 'Abdullah ra"
 
Suatu ketika (di waktu lain) ada seorang datang padaku waktu aku tidur... dalam mimpi, ia menyerukan menambahkan
 
Lafaz Tambahan:
وَنَسْتَعِينُكَ عَلَى فَسَادٍ فِينَا , وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كُلهُ
 
Artinya:
"Dan kami mohon pertolongan-Mu atas segala kerusakan yang ada pada diri kami, serta memohon kebaikan bagi seluruh urusan kami."
 
 
 
📚 Sumber: Kitab Nasho'ihul Ibad, Halaman 9

ENGLISH

THE PRAYER OF PROPHET MUSA (AS) WHEN CROSSING THE SEA
 
📖 Hadith Narration
 
Narrated from Abdullah bin Mas’ud ra, the Messenger of Allah SAW said:
 
"Shall I teach you the prayer that Prophet Musa (AS) recited when he crossed (parted) the sea along with the Children of Israel?"
 
We replied: "Certainly, O Messenger of Allah."
 
He said: Recite this:
 
✨ Text & Meaning
 
Arabic:
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
 
Transliteration:
Allahumma lakal hamdu wa ilaikal musytaka, wa antal musta’aanu, wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.
 
Meaning:
"O Allah, all praise belongs to You alone. To You alone do we complain, and from You alone do we seek help. There is no power nor strength except with Allah, the Most High, the Most Great."
 
 
 
💡 The Example of Sheikh A’masy
 
Sheikh A’masy said:
 
"I have never abandoned this prayer since I heard it from Syaqiq Al-Asadiy Al-Kufiy, who narrated it from ‘Abdullah ra."
 
Later, someone came to him in a dream while he was sleeping and instructed him to add:
 
Additional Text:
وَنَسْتَعِينُكَ عَلَى فَسَادٍ فِينَا ، وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كُلَّهُ
 
Meaning:
"And we seek Your help against the corruption within us, and we ask You for the well-being and rectification of all our affairs."
 
 
 
📚 Source: Book Nasho'ihul Ibad, Page 9

DALIL

أَلَا أُعَلِّمُكُمْ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَكَلَّمَ بِهَا مُوسَى عَلَيْهِ السَلامَ حِينَ جَاوَزَ الْبَحْرَ مَعَ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ فَقُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ الله. قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. 
 
Maukah kalian aku ajari tentang kalimat-kalimat yang dibaca oleh Musa as ketika ia melintasi lautan bersama Bani Israil ?

Kami menjawab: Tentu, ya Rasulallah.

Kemudian Rasulullah Saw menjawab:
Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. 

Allahumma Lakal Hamdu Wa ilaikal Musytaka, Wa Antal Musta'aanu, Wa La Haula Wa la Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil 'Adzimi

“Would you like me to teach you the words that Musa (peace be upon him) recited when he crossed the sea with the Children of Israel?" We replied, "Yes, O Messenger of Allah." He then said, Say:: ‘Allāhumma lakal-ḥamdu wa ilaikal-mushtakā, wa antal-musta‘ānu, wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāhil-‘aliyyil-‘aẓīm"

قَالَ الْأَعْمَشُ: فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ شَقِيقٍيْ الْأَسَدِي الكُوْفِي وَهُوَ عَنْ عَبدِ الله رَضِيَ الله عَنهُ. قَالَ الْأَعْمَشُ: أَتَانِي آتٍ فِي الْمَنَامِ فَقَالَ: يَا سُلَيْمَانُ , زِدْ فِي هٰذِهِ الْكَلِمَاتِ: وَنَسْتَعِينُكَ عَلَى فَسَادٍ فِينَا , وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كُلهُ
 
A’masy berkata:
Aku tidak pernah meninggalkan kalimat- kalimat tersebut sejak aku mendengar kalimat itu dari Syaqiq Al-Asadiy Al-Kufiy, dan dia dari 'Abdullah ra.
 
A’masy berkata:
Kemudian ada orang yang datang kepadaku saat aku tidur. Ada yang mengatakan: Tambahilah kalimat berikut ini:

وَنَسْتَعِينُكَ عَلَى فَسَادٍ فِينَا , وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كُلهُ

Wa Nasta’inuka ‘Ala Fasadin Fina’ Wa Nas’aluka Shalaha Amrina Kullihi

Al-A‘mash said: "I have never left these pray since I heard them from Shaqiq al-Asadi al-Kufi, who reported them from ‘Abdullah (may Allah be pleased with him)
 
Al-A‘mash added: *"Someone came to me in a dream and said: 'O Sulayman, add these words: "Wa nasta‘inuka ‘ala fasadin fina, wa nas'aluka salaha amrina kullihi" [meaning:] "And we seek Your help against the corruption within us, and we ask You for the rectitude of all our affairs"

PENGARANG KITAB NADZAM AQIDATUL AWAM
 
1. Nama Lengkap & Gelar
 
Nama lengkap pengarang Aqidah Al-Awam adalah Sayyid Ahmad bin Sayyid Romdhon Al-Maliki Al-Marzuki.
 
- Dari jalur ayah: Al-Hasani
- Dari jalur ibu: Al-Husaini
- Kunyah: Abul Fauz — diberi oleh Syaikh Abul Iqbal Ahmad Wafa
- Laqob (julukan): Al-Marzuki — dinisbatkan kepada kakek beliau yang arif billah/orang salih, Marzuki Al-Kafafi
 
2. Kelahiran & Kedudukan
 
- 📍 Lahir di Sinbath, tahun 1205 H
- 🕌 Menjadi Mufti Madzhab Maliki di Makkah, menggantikan saudaranya Sayyid Muhammad yang wafat tahun 1261 H
- Imam yang wara’ dan zuhud; mengajar di Masjidil Haram dengan banyak santri
- Mempunyai 104 Zawiyah (lingkaran) di berbagai daerah 
 
3. Karya-Karya Beliau
 
Ulama yang sangat produktif, di antaranya:
✅ Nadzam Aqidatul Awam
✅ Syarah Maulid Syaroful Anam
✅ Bayan Al-Asli
✅ Syarah Tashil Al-Adhan
✅ Al-Fawaid Al-Marzukiyyah ‘Ala Syarhi Al-Jurumiyyah
✅ Dan karya lainnya
 
4. Murid-Murid & Wafat
 
- Murid beliau: Syaikh Ahmad Dahlan, Sayyid Ahmad Dahlan, Syaikh Thohir At-Takruri, Syaikh Ahmad Al-Hawani Qurro As-Syami
- Di akhir hayat: mengajarkan Kitab Tafsir Al-Allamah Al-Baidhowi
- Wafat di Makkah Al-Mukarromah, tahun 1262 H
 
 
 
📚 Sumber: Kitab An-Nur Az-Zahr, hal. 113–114

ENGLISH

AUTHOR OF THE POEM NADZAM AQIDATUL AWAM

1. Full Name & Titles
 
The full name of the author of Aqidah Al-Awam is Sayyid Ahmad bin Sayyid Romdhon Al-Maliki Al-Marzuki.
 
- Paternal lineage: Al-Hasani
- Maternal lineage: Al-Husaini
- Kunya (patronymic): Abul Fauz — bestowed by Shaykh Abul Iqbal Ahmad Wafa
- Laqab (epithet): Al-Marzuki — attributed to his pious, saintly grandfather, Marzuki Al-Kafafi
 
 
 
2. Birth & Position
 
- 📍 Born in Sinbath, in the year 1205 AH
- 🕌 Served as Mufti of the Maliki School of Jurisprudence in Makkah, succeeding his brother Sayyid Muhammad, who passed away in 1261 AH
- An Imam known for his scrupulous piety and asceticism; taught at the Masjid al-Haram with a large number of students
- Established 104 zawiyyah (study circles) across various regions
 
 
 
3. His Works
 
A remarkably prolific scholar, his writings include:
✅ Nadzam Aqidatul Awam
✅ Syarah Maulid Syaroful Anam
✅ Bayan Al-Asli
✅ Syarah Tashil Al-Adhan
✅ Al-Fawaid Al-Marzukiyyah ‘Ala Syarhi Al-Jurumiyyah
✅ And many other works
 
 
 
4. Students & Passing
 
- His students included: Shaykh Ahmad Dahlan, Sayyid Ahmad Dahlan, Shaykh Thohir At-Takruri, Shaykh Ahmad Al-Hawani Qurro As-Syami
- In his final years: He taught the book Tafsir Al-Allamah Al-Baidhowi
- Passed away in Makkah Al-Mukarramah, in the year 1262 AH
 
 
 
📚 Source: Kitab An-Nur Az-Zahr, pp. 113–114
 
 
RAHASIA SABUN MANDI & KEBERKAHAN ILMU
 
Ada seorang kiyai sering mengingatkan: keberkahan ilmu diperoleh lewat 3 jalan:
 
1. Istiqomah
2. Khidmah
3. Sholat Berjamaah
 
Beliau sendiri membuktikannya dengan berkhidmah kepada para ulama mengisi air, menimba, menyapu, dan hal-hal yang dianggap sepele.
 
 
 
📖 Cerita Tentang Sabun Mandi
 
Suatu hari, sang khodam (rekan ghaib) bertanya
 
"Yai, apa rahasianya hingga Yai bisa seperti ini?"
 
Romo Yai menjawab dengan lembut:
 
"Dulu saat saya masih mondok, kala saya mengisi air di bak mandi Yai Zam.. saya melihat sabun dia sudah habis. pada waktu itu uang saya kebetulan hanya cukup buat membeli sabun saja (tidak punya uang). saya melihat merek sabun kiyai lalu Saya belikan sabun yang sama persis, lalu saya taruh di kamar mandinya. Sebab-sebabnya banyak, tapi salah satunya karena saya beli sabun tadi (membantu kebutuhan guru) yang membuat ilmu saya diberkahi"
 
 
 
💡 Pelajaran Penting
 
- Keberkahan tidak selalu dari hal besar justru dari kepekaan pada hal kecil di sekitar guru
- Tidak butuh harta banyak; uang terakhir pun jika diniatkan mengabdi karena Allah, bisa menjadi jalan berkahnya ilmu
- Hal yang dianggap remeh seperti melengkapi kebutuhan kecil guru adalah pintu khidmah yang paling nyata
 
 
 
Semoga kita bisa meneladani kepekaan dan ketulusan Romo Yai, serta mendapatkan keberkahan ilmu melalui khidmah yang tulus. Semoga beliau senantiasa sehat dan selamat. Aamiin

ENGLISH

THE SECRET OF THE BATH SOAP & THE BLESSING OF KNOWLEDGE
 
A respected Kiai often reminded us: the blessing of knowledge is obtained through three paths:
 
1. Istiqomah — Steadfastness
2. Khidmah — Sincere Service
3. Congregational Prayer
 
He himself proved this by serving the scholars: fetching water, drawing from the well, sweeping the courtyard, and doing tasks that many would think small.
 
 
 
📖 The Story of the Bath Soap
 
One day, his trusted companion asked him:
 
"Yai, what is the secret that has made you who you are today?"
 
With a gentle voice, Romo Yai replied:
 
"When I was still a student at the pondok, I was filling water into Yai Zam’s bath basin… and I noticed his soap had run out. At that moment, I had barely enough money — just enough to buy that one bar of soap. I saw what brand he used, bought exactly the same one, and placed it in his bathroom. There are many reasons, but this was one of them — tending to such a small need of my teacher — that is how my knowledge became blessed."
 
 
 
💡 Key Lessons
 
- Blessings do not always come from great deeds they come from being attentive to the small things around your teacher
- Great wealth is not needed; even your last coin, when offered in service for the sake of Allah, can become the path to blessed knowledge
- What seems insignificant — like meeting a tiny need of your teacher — is the truest form of service
 
 
 
May we follow the example of his awareness and sincerity, and receive the blessing of knowledge through sincere service. May he always be granted health, peace, and well-being. Ameen

ABUYA DIM CIDAHU MENANGIS
 
 
 
Abuya pernah mengaji Kitab Jam'ul Jawami' kepada Abuya Aliyuddin Ciomas selama kurang lebih 4 bulan. Setelah itu, beliau mengajarkan kitab tersebut saat berkhidmah (mondok) di Pondok Pesantren Watucongol, asuhan Simbah Dalhar.
 
Suatu ketika kala mengaji Kitab Jam'ul Jawami', Pangersa Aa bercerita tentang Abuya Dim Cidahu. Suatu hari, Abuya tiba-tiba menangis. Para hadirin pun bertanya
 
Pertanyaan; "Apa yang membuat Abuya menangis?"
 
Beliau (Abuya) menjawab dengan penuh cemas:
 
"Saya khawatir para santri tidak mengaji Ushul Fiqih."
 
 
 
✅ Poin Penting: Mengapa Ushul Fiqih Sangat Diperlukan?
 
1. Fungsi Ushul Fiqih
Sangat dibutuhkan dalam memahami Fiqih, terutama dalam Istbat Al-Hukmi (menetapkan hukum)
2. Langkah Menetapkan Hukum
Sebelum memvonis sesuatu, wajib:
- Memahami peristiwa  kondisi dsb (Fahmul Waqi')
- Meninjau Illat nya
- Menerapkan kaidah-kaidah besar maupun kecil (Qowaid Kubro & Sugro)
- Mengutamakan pendapat yang paling kuat dan dapat dipegang (Qoul Rojih)
3. Beda dengan Mengaji Fiqih Biasa (tanpa latihan serius)
- Mengaji Fiqih biasa → mengarah pada mengetahui hukum itu saja (Bayan Al-Hukmi)
- Mengaji Ushul Fiqih (mengkaji kaidah dan dalil2 umum)→ memahami cara hukum itu ditetapkan sehingga bisa diterapkan pada berbagai peristiwa baru

ENGLISH 

ABUYA DIM CIDAHU WEPT
 
Abuya studied the book Jam'ul Jawami' under Abuya Aliyuddin Ciomas for approximately four months. Afterward, he taught this book while serving as a resident scholar at Pondok Pesantren Watucongol, under the guidance of Simbah Dalhar.
 
One day, during the recitation of Jam'ul Jawami', Pangersa Aa shared a story about Abuya Dim Cidahu. At one point, Abuya suddenly began to weep. Those present asked him:
 
"What has made you weep, Abuya?"
 
With deep concern, he replied:
 
"I fear that the students are not studying Ushul Fiqih."
 
 
 
✅ KEY POINTS: Why Ushul Fiqih Is So Essential
 
1. The Purpose of Ushul Fiqih
It is indispensable in understanding Fiqih—especially in Istbat Al-Hukmi: the proper process of establishing Islamic legal rulings.
 
2. The Steps of Establishing a Ruling
Before issuing any judgment, one must:
 
- Fully understand the reality and circumstances of the matter (Fahmul Waqi')
- Examine its underlying effective cause (Illat)
- Apply both major and minor governing principles (Qowaid Kubro & Sugro)
- Give priority to the most reliable and sound scholarly opinion (Qoul Rojih)
 
3. How It Differs from Studying Fiqih Alone
 
- Studying Fiqih without Ushul → focuses only on what the ruling is (Bayan Al-Hukmi)
- Studying Ushul Fiqih → teaches how rulings are derived, equipping one to apply Islamic guidance to new and different situations

Berikut teks yang sudah disusun, diperindah bahasanya, mudah dipahami, tanpa mengubah makna:
 
 
 
TENTANG TAFSIR JALALAIN
 
Tafsir Al-Jalalain adalah kitab tafsir yang disusun oleh dua imam besar, keduanya bernama Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.
 
 
 
✅ 1. Biografi Dua Penyusunnya
 
Imam Jalaluddin Al-Mahalli
 
- Lahir tahun 791 H, wafat tahun 864 H di usia 73 tahun
- "Al-Mahalli" berarti berasal dari kota Mahalla Al-Kubro, Mesir
 
Imam Jalaluddin As-Suyuthi
 
- Lahir di Kairo, Mesir, setelah maghrib malam Ahad (hari minggu) awal Rajab 849 H
- Wafat tahun 911 H di usia tepat 62 tahun
 
 
 
✅ 2. Cara Penyusunannya
 
- Imam Al-Mahalli: menafsirkan (yang pertama disusun) Surah Al-Fatihah, lalu Surah Al-Kahfi sampai Surah An-Nas
- Beliau wafat sebelum menyelesaikan seluruh Al-Qur'an
- Imam As-Suyuthi menyempurnakannya: Surah Al-Baqarah sampai Surah Al-Isra, diselesaikan dalam 40 hari, saat usia sekitar 20 tahun Masya Allah! (Luar biasa)
 
 
 
✅ 3. Hubungan Guru–Murid
 
Imam As-Suyuthi adalah santri Imam Al-Mahalli. Sorogan (mana seorang santri menghadap guru atau kiai secara bergiliran untuk membaca) dan menerima ijazah (bentuk perizinan, wewenang, atau sanad dari seorang kiai kepada santri untuk mengamalkan) kitab-kitab penting, antara lain:
 
- Umdah Al-Ahkam
- Minhaj At-Tholibin (Imam An-Nawawi)
- Al-Fiyyah Ibnu Malik
- Minhaj Al-Baidhowi
 
 
 
✅ 4. Berprinsip dari mana
 
Dalam bukunya Bughyah Al-Wu'at, Imam As-Suyuthi menjelaskan:
 
- pada Tafsir Imam Muwafiquddin Al-Mushili
- Imam As-Suyuthi sendiri merujuk pada:
- Tafsir Al-Mushili
- Tafsir Al-Wazij
- Tafsir Al-Baidhowi
- Tafsir Ibnu Katsir
 
 
 
📚 Sumber:
 
- Hasyiah As-Showi, hal. 1/7
- Bughyah Al-Wu'at, 1/141

ENGLISH

ABOUT TAFSIR AL-JALALAIN
 
Tafsir Al-Jalalain is a renowned commentary on the Qur'an compiled by two great scholars both named Jalaluddin: Imam Jalaluddin Al-Mahalli and Imam Jalaluddin As-Suyuthi.
 
 
 
✅ 1. Biographies of the Two Compilers
 
Imam Jalaluddin Al-Mahalli
 
- Born in 791 AH, passed away in 864 AH at the age of 73
- "Al-Mahalli" denotes origin from the city of Mahalla Al-Kubro, Egypt
 
Imam Jalaluddin As-Suyuthi
 
- Born in Cairo, Egypt, after Maghrib on Sunday, the start of Rajab 849 AH
- Passed away in 911 AH at the age of exactly 62
 
 
 
✅ 2. How It Was Compiled
 
- Imam Al-Mahalli began the work: he commented on Surah Al-Fatihah, then from Surah Al-Kahfi through to Surah An-Nas
- He passed away before completing the entire Qur'an
- Imam As-Suyuthi completed the rest: from Surah Al-Baqarah to Surah Al-Isra finished in just 40 days, when he was around 20 years old Masha Allah! Truly extraordinary.
 
 
 
✅ 3. Teacher–Student Relationship
 
Imam As-Suyuthi was a direct student of Imam Al-Mahalli. He studied in the sorogan style where a student sits before their teacher, reading in turn and received formal ijazah authorization and transmission chain for these major works:
 
- Umdah Al-Ahkam
- Minhaj At-Tholibin by Imam An-Nawawi
- Al-Fiyyah Ibnu Malik
- Minhaj Al-Baidhowi
 
 
 
✅ 4. Sources and References
 
In his book Bughyah Al-Wu'at, Imam As-Suyuthi explained:
 
- Imam Al-Mahalli based his work primarily on the tafsir of Imam Muwafiquddin Al-Mushili
- Imam As-Suyuthi himself drew from:
- Tafsir Al-Mushili
- Tafsir Al-Wazij
- Tafsir Al-Baidhowi
- Tafsir Ibnu Katsir
 
 
 
📚 Sources:
 
- Hasyiah As-Showi, p. 1/7
- Bughyah Al-Wu'at, 1/141

KEISTIMEWAAN IMAM AN-NAWAWI SEJAK KECIL
 
 
 
✅ Siapa Beliau?
 
- Nama lengkap: Imam Muhyiddin Syarofuddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi
- Lahir: Muharram 631 H di desa Nawa, Damaskus — dikenal sebagai "An-Nawawi" karena beliau dan ayahnya menetap di sana
- Wafat: 676 H, usia 46 tahun
 
 
 
✅ 1. Melihat Lailatul Qadar di Usia 7 Tahun
 
Imam Tajuddin As-Subki mencatat kisah istimewa ini:
 
Pada 27 Ramadhan, saat berusia 7 tahun, Imam An-Nawawi tidur di samping ayahnya. Di tengah malam, beliau terbangun dan bertanya:
 
"Wahai Ayah, cahaya apa ini yang menyinari rumah kita?"
 
Semua yang ada di rumah terbangun, namun tidak ada yang melihat cahaya tersebut. Ayahnya pun menyimpulkan: putranya telah menyaksikan Lailatul Qadar.
 
 
 
✅ 2. Tidak Suka Bermain, Lebih Memilih Al-Qur'an
 
Guru beliau menceritakan:
 
- Di usia 15 tahun, Imam An-Nawawi tidak suka bermain dengan teman sebayanya
- Jika diajak bermain, beliau menghindar sambil menangis, lalu menyibukkan diri membaca Al-Qur'an
- Bahkan saat dibawa ayahnya ke toko, beliau tetap sibuk membaca Al-Qur'an
 
 
 
📖 Sumber: Tabaqot Syafi'iyyah Kubro, 8/395

ENGLISH 

THE SPECIAL DISTINCTIONS OF IMAM AN-NAWAWI FROM CHILDHOOD
 
✅ Who Was He?
 
- Full name: Imam Muhyiddin Sharafuddin Yahya bin Sharaf An-Nawawi
- Born: Muharram 631 AH in the village of Nawa, Damascus — known as "An-Nawawi" because he and his father resided there
- Passed away: 676 AH, at the age of 46
 
 
 
✅ 1. Witnessing Lailatul Qadar at Age 7
 
Imam Tajuddin As-Subki recorded this remarkable story:
 
On the 27th of Ramadhan, at just 7 years old, Imam An-Nawawi was sleeping beside his father. In the middle of the night, he woke up and asked:
 
"O Father, what is this light that is illuminating our home?"
 
Everyone in the house woke up, but no one else saw the light. His father concluded: his son had witnessed Lailatul Qadar.
 
 
 
✅ 2. Disliking Play, Preferring the Qur'an
 
His teacher narrated:
 
- At 15 years old, Imam An-Nawawi did not like playing with children his age
- When invited to play, he would withdraw while weeping, then occupy himself with reciting the Qur'an
- Even when his father took him to the shop, he remained engrossed in reading the Qur'an
 
 
 
📖 Source: Tabaqat Syafi'iyyah Kubra, 8/395

Tagged as:
About the Author

Write admin description here..

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.

GIMANA MENG GUNAKAN AL QUR'AN YANG BENAR

back to top