CARA MANDI JUNUB KETIKA TIDAK ADA AIR
Latar Belakang
Di masa kini, pasokan air sering kali menipis akibat perubahan iklim dan penggunaan air tanah yang berlebihan. Dalam Islam, orang yang berhadats besar (junub) diwajibkan melakukan mandi wajib. Namun, jika air tidak tersedia atau jumlahnya sangat terbatas, ada solusi hukum dalam syariat Islam.
Jenis Bersuci
- Terdapat dua jenis hadats: hadats besar (junub) yang membutuhkan mandi besar, dan hadats kecil yang membutuhkan wudhu.
- Jika tidak bisa menggunakan air karena kekurangan, sakit, atau perjalanan, maka pengganti bersuci adalah tayamum.
Pengertian Tayamum
- Secara bahasa: Berarti niat atau tujuan.
- Secara syariat: Mengusap debu yang suci ke wajah dan kedua tangan dengan syarat yang ditetapkan.
- Dasar hukum bersumber dari Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 6: "Lalu kalian tidak menemukan air, maka hendaklah bertayamum dengan debu yang suci."
- Menurut Ibnu Abbas ra., tayamum boleh dilakukan juga dalam kondisi sakit atau saat sedang dalam perjalanan.
Tata Cara Tayamum
1. Mengambil debu yang suci.
2. Melakukan dua kali tepukan:
- Tepukan pertama untuk mengusap wajah.
- Tepukan kedua untuk mengusap kedua tangan hingga ke siku.
3. Harus dilakukan secara berurutan antara mengusap wajah dan tangan.
4. Berlaku sama baik sebagai pengganti wudhu, mandi besar, maupun basuhan anggota tubuh.
Kesimpulan
Tayamum menjadi jalan keluar yang sah dan diperbolehkan oleh syariat bagi orang junub yang tidak mendapatkan air, sebagai pengganti mandi wajib
ENGLISH
HOW TO PERFORM RITUAL BATH WHEN NO WATER IS AVAILABLE
Background
In present times, water supplies often run low due to climate change and excessive use of groundwater. In Islam, anyone in a state of major ritual impurity (junub) is obligated to perform the ritual bath. However, when water is unavailable or extremely scarce, Islamic law provides a prescribed solution.
Types of Purification
- There are two categories of ritual impurity: major impurity (junub), which requires the full ritual bath; and minor impurity, which requires ablution (wudhu).
- When water cannot be used due to its unavailability, illness, or travel dry ablution (tayammum) serves as the substitute method of purification.
Definition of Tayammum
- Linguistic meaning: Intention or purpose.
- Religious meaning: The act of applying clean dust to the face and hands, following specific conditions and procedures.
- Scriptural basis: Found in the Quran, Surah Al-Ma'idah verse 6: "If you find no water, perform dry ablution with clean dust."
- According to Ibn Abbas (may Allah be pleased with him), tayammum is also permitted when one is ill or traveling.
Procedure for Tayammum
1. Take a handful of clean dust.
2. Perform two separate applications:
- First application: Wipe the entire face.
- Second application: Wipe both hands up to and including the elbows.
3. Maintain the correct sequence: wipe the face first, then the hands.
4. This method applies equally as a substitute for ablution, the full ritual bath, or for washing specific body parts.
Conclusion
Tayammum is a valid, permitted alternative ordained by Islamic law for those in a state of major impurity who cannot access water, serving as a proper substitute for the ritual bath
DALIL
والثاني والثالث مسح الوجه ومسح اليدين مع المرفقين ويكون مسحهما بضربتين الأولى للوجه والثانية لليدين والرابع الترتيب بين الوجه واليدين، ولا فرق في ذلك بين أن يكون التيمم بدلا عن وضوء أو غسل أو غسل عضو
Artinya, “Kedua dan ketiga adalah mengusap wajah dan mengusap kedua tangan hingga siku. Usapan pada keduanya dilakukan dengan dua tepukan, tepukan pertama untuk wajah dan tepukan kedua untuk kedua tangan. Keempat tertib tepukan pada wajah dan kedua tangan. Tidak ada bedanya pada semua itu apakah tayamum sebagai pengganti wudhu, pengganti mandi wajib, atau pengganti basuhan anggota wudhu,” (KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-As‘adiyyah: 2014 M/1434 H], halaman 25)
Meaning: "The second and [third steps] are wiping the face and wiping both hands up to the elbows. Wiping both is done with two strikes: the first strike is for the face, and the second strike is for both hands. The fourth [rule] is maintaining the order of striking the face and both hands. There is no difference in all of this, whether tayammum is used as a substitute for ablution, as a substitute for the full ritual bath, or as a substitute for washing parts of ablution,"
(KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo: Al-Maktabah Al-As‘adiyyah, 2014 CE / 1434 AH], page 25)
التيمم لغة هو القصد يقال يممك فلان بالخير إذا قصدك وفي الشرع عبارة عن إيصال التراب إلى الوجه واليدين بشرائط مخصوصة...والأصل في ذلك قوله تعالى فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا قال ابن عباس رضي الله عنهما المعنى وإن كنتم مرضى فتيمموا وإن كنتم على سفر ولم تجدوا ماء فتيمموا
Artinya, “Tayamum secara bahasa berarti tujuan atau maksud misalnya sebuah kalimat diucapkan, ‘Yammamaka fulanun bil khairi’ bila si fulan bermaksud baik terhadapmu. Tayamum secara syariat adalah menyampaikan debu ke wajah dan kedua tangan dengan syarat khusus …Dasar hukum tayamum adalah firman Allah pada Surat Al-Maidah ayat 6, ‘Lalu kalian tidak menemukan air, maka hendaklah bertayamum dengan debu yang suci.’ Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, ‘Maknanya jika kalian sakit, tayamumlah. Jika kalian bersafari, tayamumlah. Dan kalian tidak menemukan air, tayamumlah,’ ” (Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 42)
Meaning: “Linguistically, tayammum means intention or purpose. For example, it is said, ‘Fulanun yammamaka bil khairi’ – meaning that someone intends good for you. Legally in Sharia, tayammum means applying pure dust to the face and both hands, according to specific conditions… The basis of the ruling for tayammum is the Word of Allah in Surah Al-Ma'idah, verse 6: ‘If you find no water, then perform dry ablution with pure dust.’ The Companion Ibn Abbas (may Allah be pleased with him) said: ‘The meaning is: if you are ill, perform tayammum; if you are traveling and find no water, perform tayammum.’”
(Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut: Darul Fikr, 1994 CE / 1414 AH], Volume I, page 42)

About the Author