Senin, 27 Juli 2026

MAKSUD SEBENARNYA BERBICARA YANG BAIK/DIAM

Posted by Abah Ngapakudin  |  at  Juli 27, 2026


BERKATA BAIK ATAU DIAM
 
Di kalangan umat Islam, nasihat Rasulullah ﷺ tentang berbicara dengan baik atau memilih diam sudah sangat masyhur. Hal ini tertuang dalam Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Juz 1 halaman 49:
 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman sempurna kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."
 
Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut dalam Syarah Muslim Juz 2 halaman 19: Apabila seseorang hendak berbicara, perhatikanlah isinya. Jika pembicaraan itu jelas baik (bermanfaat), mendatangkan pahala baik yang wajib maupun sunnah (udah fiks) maka silakan berbicara. Namun jika belum jelas manfaat dan pahalanya (bimbang), sebaiknya tahan ucapan, baik itu sifatnya haram, makruh, maupun sekadar boleh namun tidak membawa kebaikan (masih mergaukan). Bahkan pembicaraan yang diperbolehkan pun disarankan untuk ditinggalkan dan menahan diri/diam (yang meragukan kebaikan nya)

Pandangan ini sejalan dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu dalam Qomi’ At-Tugyan halaman 11: "Apabila salah seorang dari kalian ingin berbicara, pikirkanlah dulu ucapannya. Jika jelas mendatangkan kebaikan, barulah berbicara. Jika masih ragu, janganlah berbicara sampai kebaikannya tampak nyata."
 
Lalu, mana yang lebih utama: diam atau berkata baik? Syekh Nawawi menjelaskan dalam Nashoihul ‘Ibad halaman 44: Diam dari hal yang tidak mendatangkan pahala adalah pemimpin segala akhlak yang mulia, karena menjauhkan diri dari ghibah dan kesalahan lisan lainnya. Namun, jika berbicara atau beraktivitas yang membawa pahala seperti berzikir, membaca Al-Qur’an, atau menuntut ilmu maka hal itu lebih utama daripada diam

ENGLISH

SPEAK GOOD OR REMAIN SILENT
 
Among Muslims, the advice of Rasulullah ﷺ to speak good or choose silence is widely known. This teaching is recorded in an authentic hadith narrated by Imam Muslim in his collection, Volume 1, Page 49:
 
From Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ said: "Whoever believes perfectly in Allah Ta’ala and the Last Day, let them speak good or remain silent."
 
Imam An-Nawawi explained the meaning of this hadith in Syarah Muslim, Volume 2, Page 19: When you intend to speak, consider the content first. If your words are clearly good and beneficial bringing reward, whether for obligatory or recommended acts then you may speak. But if the benefit and reward are unclear, it is better to hold back your speech. This applies whether the matter is forbidden, disliked, or merely permissible yet brings no good. Even speech that is allowed is advised to be left unspoken, if its goodness is doubtful.
 
This view aligns with the words of Imam Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu in Qomi’ At-Tugyan, Page 11: "When any of you wishes to speak, reflect upon your words first. If it clearly brings good, then speak. If you are in doubt, do not speak until its goodness becomes evident."
 
Then which is more virtuous: silence or speaking good? Syekh Nawawi clarified in Nashoihul ‘Ibad, Page 44: Silence from matters that bring no reward is the chief of all noble character, for it protects one from backbiting and other faults of the tongue. However, speaking or engaging in acts that bring reward such as remembrance of Allah, reciting the Quran, or seeking knowledge is more virtuous than silence

DALIL

عن أبي هريرة عن رسول الله ﷺ قال : «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت، الحديث. 

Diriwayatkan oleh Shohabat Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu, Dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda "Barangsiapa yang beriman (dengan keimanan yang sempurna) kepada Alloh Ta'ala dan Hari Akhir Maka hendaknya ia berkata Baik atau diam".(Al-hadits)

Narrated by the Companion Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, from Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, who said: "Whoever believes with perfect faith in Allah Ta’ala and the Last Day, let him speak good or remain silent." (Al-Hadith)

وأما قوله فليقل خيرا أو ليصمت فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه واجبا اومندوبا فليتكلم، 

"Adapun dawuh kanjeng nabi فليقل خيرا أو ليصمت maknanya ialah sesungguhnya apabila seseorang menghendaki berbicara, maka jika pembicaraan nya itu baik secara nyata dan nanti mendapatkan pahala berupa wajib atau sunnah maka hendaklah berbicara"

"As for the saying of the Prophet ﷺ: 'Let him speak good or remain silent', its meaning is: when one intends to speak, if what they say is clearly good and will bring reward whether for an obligatory or a recommended act then let them speak"

وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين 

Dan apabila tidak tampak bagi seseorang bahwa pembicaraan nya itu mungkin mendapatkan pahala maka hendaknya ia menahan diri untuk berucap, baik yang tampak tersebut haram, makruh atau boleh yang sama arahnya

And if it is not clear to a person that their speech will bring reward, then they should refrain from speaking whether the matter appears to be forbidden, disliked, or merely permissible with no clear benefit

فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه. 

Dengan demikian pembicaraan yang diperbolehkan itu diperintahkan untuk meninggalkan nya dan disunnahkan untuk menahan nya karena dikhawatirkan terjerumus pada haram dan makruh

Therefore, even speech that is merely permissible is advised to be abandoned, and it is recommended to refrain from speaking, for fear that it may lead one into what is forbidden or disliked

وقال الشافعي إذا أراد أحدكم الكلام فعليه أن يفكر في كلامه فإن ظهرت المصلحة تكلم وإن شك لم يتكلم حتى تظهر. 

Imam Asy-Syafi'i berkata "Jika salah satu dari kalian menghendaki berbicara maka seharusnya ia berpikir terhadap ucapan akan dibicarakan, jika jelas mashlahatnya maka ia berbicara, dan jika ragu maka ia tidak patut berbicara sehingga kemashlahatan tampak padanya"

Imam Asy-Syafi'i said: "When any of you wishes to speak, let him reflect upon what he is about to say. If its benefit is clear, then speak; and if you are in doubt, you should not speak until its goodness becomes evident"

السُّكُوتُ عَمَّا لَا ثَوَابَ فِيه سيد الأخلاق الحسنة لسلامة صاحِبِهِ مِنَ الغيبة ونحوها، أما الاشْتِغَالُ بِمَا فِيْهِ ثَوَابُ من نحو ذكر وقراءة قرآن وعلم فهو أفضل من الصُّمْتِ

"Diam dari perkara yang tidak ada pahala didalamnya adalah pemimpin akhlak yang baik, karena menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari ghibah (menggunjing orang lain) dan semisalnya. Adapun Sibuk dengan sesuatu yang ada pahalanya seperti dzikir, membaca Al-Qur'an dan Ngaji maka hal tersebut lebih afdhol dibanding diam

"Silence regarding matters that bring no reward is the foremost of good character, for it protects a person from backbiting and similar faults. However, engaging in deeds that carry reward such as remembrance of Allah, reciting the Quran, and seeking knowledge is more virtuous than silence"

APAKAH AS-SHOMT DAN AS-SUKUT SAMA-SAMA BERARTI DIAM? INI PERBEDAANNYA
 
Kita sering mendengar dua lafadz Arab yang sama-sama diterjemahkan sebagai "diam", yaitu الصَّمْتِ (As-Shomt) dan السُّكُوتِ (As-Sukut). Padahal keduanya memiliki makna yang tidak persis sama.
 
Sebelum membahas perbedaannya, ada ungkapan indah dalam kitab Nashoihul ‘Ibad halaman 44:
 
الصمت زين للعالم وستر للجاهل
"Diam adalah perhiasan bagi orang berilmu, dan penutup aib bagi orang yang tidak berilmu."
 
Syekh Nawawi menjelaskan maknanya: Diam melahirkan wibawa dan ketenangan yang pantas dimiliki oleh para ulama, sehingga saat orang berilmu diam, ia tampak semakin mulia. Bagi yang belum berilmu, diamlah yang menutupi aib mu, selama ia tidak melontarkan perkataan yang keliru.
 
Kemudian Imam Zakaria Al-Anshori membedakan makna keduanya dalam kitab Al-Guror Al-Bahiyyah juz 2 halaman 28:
 
- As-Shomt maknanya lebih umum dan sempurna. Istilah ini mencakup segala bentuk tidak berbicara: baik bagi orang yang memang tidak mampu bicara (seperti orang bisu), maupun orang yang mampu bicara namun memilih untuk diam.
- As-Sukut maknanya lebih khusus. Istilah ini hanya digunakan bagi orang yang mampu berbicara, namun dengan sengaja menahan diri dan memilih untuk tidak berucap (menahan diri/mikir sebelum bicara)
 
Kesimpulannya: As-Shomt mencakup segala kondisi tidak bersuara, sedangkan As-Sukut khusus untuk pilihan diam dari orang yang sebenarnya bisa berbicara

ENGLISH

DO AS-SHOMT AND AS-SUKUT BOTH MEANING SILENCE? HERE IS THE DIFFERENCE
 
We often hear two Arabic terms that are both translated as "silence": As-Shomt (الصَّمْتِ) and As-Sukut (السُّكُوتِ). Yet their meanings are not exactly the same.
 
Before explaining the difference, there is a beautiful saying recorded in the book Nashoihul ‘Ibad, page 44:
 
الصمت زين للعالم وستر للجاهل
"Silence is an adornment for the knowledgeable, and a covering for the unlearned."
 
Syekh Nawawi explains its meaning: Silence brings dignity and composure that befits the scholars. Thus, when a person of knowledge remains silent, they appear even more noble. For those who have not yet gained knowledge, silence conceals their shortcomings, as long as they do not speak words that are wrong.
 
Imam Zakaria Al-Anshori further clarifies the distinction between the two terms in Al-Guror Al-Bahiyyah, Volume 2, Page 28:
 
- As-Shomt has a broader and more complete meaning. It covers every form of not speaking: whether someone is naturally unable to speak (such as a person born mute), or someone who is able to speak but chooses to remain silent.
- As-Sukut has a more specific meaning. It refers only to those who are fully capable of speaking, yet intentionally hold back and choose not to speak out of careful thought and self-restraint.
 
In summary: As-Shomt includes all states of being silent, while As-Sukut specifically describes the conscious choice to stay silent by someone who actually has the ability to speak

DALIL

الصمت زين للعالم وستر للجاهل. 

"Diam (tidak berbicara) itu perhiasan bagi orang yang berilmu dan penutup bagi orang yang tidak mempunyai ilmu"

"Silence is an adornment for the knowledgeable, and a covering for the unlearned."

وذلك لما في الصمت من الوقار أي الرزانة المناسبة لحق العلم ولأن المرء جهله مستور مالم يتكلم 

"Hadits diatas menjelaskan karena memandang sesuatu yang ada di dalam diam, yakni kewibawaan yang dihormati dan layak bagi haknya ilmu (sehingga ketika orang alim diam maka Mulia) . Dan karena seseorang yang tidak tahu akan ditutupi ketidaktahuannya dengan diam selama ia tidak berbicara (Sehingga diam menjadi sebab penutup bagi orang yang tidak berilmu)"

"This saying explains that silence holds a noble quality: it brings dignity and reverence that truly befits knowledge so when a learned person remains silent, they appear all the more noble. Furthermore, silence conceals the ignorance of one who does not know, as long as they do not speak; thus silence becomes a covering that protects those who lack knowledge"

الْفَرْقُ بَيْنَ الصَّمْتِ، وَالسُّكُوتِ، وَالْإِنْصَاتِ، وَالْإِصَاخَةِ أَنَّ الصَّمْتَ أَبْلَغُ لِأَنَّهُ قَدْ يُسْتَعْمَلُ فِيمَا لَا قُوَّةَ فِيهِ لِلنُّطْقِ، وَفِيمَا لَهُ قُوَّةُ النُّطْقِ، وَلِذَا قِيلَ: لَمَّا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُطْقُ الصَّامِتِ، وَالسُّكُوتُ لِمَا لَهُ نُطْقٌ فَتَرَكَ اسْتِعْمَالَهُ،

Perbedaan antara Ashomthu dan Assukut, Al-Inshot dan AI-ishokhoh ialah bahwa Ashhomtu itu lebih sempurna, karena lafadz As-shomtu terkadang digunakan terhadap sesuatu yang tidak mampu diucapkan dan yang mampu diucapkan. Oleh karena itu lafadz Ashhomtu boleh diucapkan bagi perkara yang tidak bisa diucapkan oleh orang yang tidak bicara. Sedangkan Lafadz As-sukut itu digunakan untuk perkataan yang mampu diucapkan, namun seseorang memilih untuk tidak berucap"

"The difference between As-Shomt, As-Sukut, Al-Insat, and Al-Isakhah is that As-Shomt carries a more complete meaning. This term is used both for those who are unable to speak, as well as those who have the ability to speak. Therefore, As-Shomt may be applied to anyone who does not utter words, regardless of whether they can speak or not. Meanwhile, As-Sukut is specifically used for one who is fully capable of speaking, yet intentionally chooses not to speak"

Tagged as:
About the Author

Write admin description here..

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.

GIMANA MENG GUNAKAN AL QUR'AN YANG BENAR

back to top