WIRID: KEBIASAAN BAIK YANG TAK TERBATAS WAKTU
Wirid merupakan salah satu kebiasaan baik yang mulia, berupa amalan membaca ayat Al-Qur'an maupun bacaan lainnya seperti sholawat, istigfar, dan sejenisnya.
Sebagaimana tertulis dalam kitab Mishbah Al-Munir jilid 2 halaman 655 karya Syekh Al-Fayumi:
"Wirid adalah kebiasaan rutin berupa bacaan atau hal serupa. Kata jamak dari wirid adalah aurod, sama seperti kata himlin yang jamaknya menjadi ahmalin."
Secara umum, pengamalan wirid tidak memiliki batas waktu tertentu. Jika kita sudah mulai melakukannya, sebaiknya terus dijaga dan tidak ditinggalkan begitu saja.
Ada sebuah kisah yang menyentuh tentang hal ini. Suatu ketika, ada seseorang yang datang menemui Simbah Yai Abdul Hamid dari Pasuruan untuk meminta ijazah sebuah wirid tertentu. Setelah beliau mengijazahkan wirid tersebut, tamu itu bertanya: "Mbah, wirid ini diamalkannya sampai kapan?"
Dengan tenang, Mbah Yai Abdul Hamid menjawab: "Tidak usah diamalkan." Lalu beliau menyuruh tamu itu pulang. Melalui jawaban singkat ini, beliau ingin mengajarkan bahwa wirid bukanlah amalan yang hanya dilakukan sesaat, atau sekadar saat sedang membutuhkan sesuatu saja.
Oleh karena itu, sepatutnya kita menjadikan wirid sebagai kebiasaan yang terus dilakukan sepanjang hidup. Manfaat dan keutamaannya akan terus kita rasakan selama kita mengamalkannya dengan istiqomah. Hal ini tentu tidak menafikan pandangan ulama terdahulu yang terkadang menyusun metode latihan berwirid dengan batasan waktu dan jumlah yang bertahap, biasanya disesuaikan dengan kondisi usia atau kemampuan seseorang
ENGLISH
WIRID: A GOOD HABIT WITHOUT TIME LIMITS
Wirid is one of the most noble good habits. It refers to regular devotional practices, such as reciting verses from the Quran, or other sacred phrases like Sholawat (praises for the Prophet Muhammad), Istigfar (prayers for forgiveness), and similar supplications.
As written in the book Mishbah Al-Munir, Volume 2, Page 655, by Shaykh Al-Fayumi:
"Wirid means a regular practice of recitation or similar acts of worship. The plural form of wirid is aurod, just as the plural of the word himlin is ahmalin."
In general, there is no fixed time limit for practicing wirid. Once you have started it, you should keep doing it consistently and never abandon it carelessly.
There is a meaningful story that illustrates this well. Once, a man came to visit the respected scholar Simbah Yai Abdul Hamid of Pasuruan, Indonesia, to ask for permission and guidance to practice a specific wirid. After the scholar granted him this guidance, the visitor asked: "Teacher, how long should I keep practicing this wirid?"
Calmly, Simbah Yai Abdul Hamid replied: "You do not need to practice it at all." Then he asked the visitor to go home. Through this seemingly strange answer, he wanted to teach an important lesson: wirid is not something you do only for a short while, or only when you need something or are facing a problem.
Therefore, we should make wirid a lifelong habit. Its benefits and blessings will continue to unfold as long as we keep practicing it with steadfastness. This does not contradict the approach of earlier scholars, who sometimes designed practice methods with gradual stages, specific durations, or set numbers of repetitions these are simply adjustments made to suit a person’s age, ability, or spiritual progress
DALIL
وَالْوِرْدُ الْوَظِيفَةُ مِنْ قِرَاءَةٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْجَمْعُ أَوْرَادٌ مِثْلُ حِمْلٍ وَأَحْمَالٍ.
"Wirid Adalah Prilaku baik yang berupa Membaca Al-Qur'an atau semisalnya, Jamak Lafadz Wirid Adalah Aurod yang seperti lafadz Himlin dan jamaknya lafadz Ahmalin"
"Wirid refers to a virtuous practice consisting of reciting the Quran or similar devotions. The plural form of the word 'wirid' is 'aurod', just as the plural of 'himlin' is 'ahmalin"
About the Author