MENULIS ADALAH MENGIKAT ILMU
Mencatat ilmu, baik dengan menuliskan makna penjelasan (gandul) pada kitab maupun menambah catatan di pinggir halaman, adalah tradisi mulia yang diajarkan para ulama sejak masa lampau. Hal ini bersumber dari pesan mulia sahabat Nabi, Sayyidina Umar bin Khattab dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma:
"Ikatlah ilmu dengan tulisan."
(Ta'qid Al-‘Ilmi karya Imam Khatib Al-Baghdadi 1/69 dan Musnad Ad-Darimi 1/437)
Sebagian ulama juga menyandarkan kalimat ini sebagai sabda Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama pun menjelaskan alasan mengapa menulis ilmu sangatlah penting. Imam Al-Munawi menerangkan:
"Ilmu itu diikat terlebih dahulu, baru kemudian dihafal. Sifat lupa itu memang tersimpan dalam hati. Karena takut ilmu itu hilang, maka ikatlah ia dengan tulisan."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)
Ada pula perumpamaan indah dari Ishaq bin Hammad:
"Pena bagi penulis, ibarat pedang bagi orang pemberani."
(Hikmah Al-Isroq 1/42)
Sedangkan Ibnu Al-Mu‘taz berkata:
"Pena melayani kehendak, tak pernah lelah diminta bertambah luas. Ia berdiri tegak saat diam, dan terus berbicara saat berjalan. Di hamparan putih ia menjadi penunjuk jalan, dan di goresan hitam ia memancarkan cahaya."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)
Hal ini sejalan dengan prinsip yang sering disampaikan Romo Kiyai:
"Ilmu itu awalnya ada di goresan tulisan, baru kemudian menetap di dalam dada"
ENGLISH
WRITING IS BINDING KNOWLEDGE
Recording knowledge — whether by writing explanatory notes (known as gandul) in the margins of religious texts or adding personal comments beside the main text — is a noble tradition taught by scholars since ancient times. This practice is rooted in the wise counsel of the Prophet’s Companions, Sayyidina Umar bin Khattab and Ibnu Abbas (may Allah be pleased with them both):
"Bind knowledge with writing."
(Ta'qid Al-‘Ilmi by Imam Khatib Al-Baghdadi 1/69 and Musnad Ad-Darimi 1/437)
Some scholars also attribute this saying to the Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him). The scholars have further explained why writing down knowledge is so vital. Imam Al-Munawi stated:
"Knowledge is first secured, then memorized. The tendency to forget lies deep within the heart. For fear that knowledge may slip away, bind it fast with writing."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)
Ishaq bin Hammad offered this beautiful comparison:
"The pen to a writer is like a sword to a brave warrior."
(Hikmah Al-Isroq 1/42)
While Ibnu Al-Mu‘taz said:
"The pen serves one’s will, and never tires of being asked to give more. It stands firm when silent, and speaks as it moves. Upon the blank page it marks the path, and through its dark strokes it sheds light."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)
This aligns perfectly with the principle often shared by our revered teacher:
"Knowledge begins in the lines of writing, and only then settles deep within the heart"
DALIL
قيدوا العلم بالكتاب.
"Ikatlah ilmu dengan tulisan"
"Bind knowledge with writing"
العلم يعقل ثم يحفظ، والنسيان كامن في القلب، فلخوف ذهاب العلم قيد بالكتابة.
Imam Al-munawi berkata "ilmu itu diikat kemudian dihafal, dan lupa itu terpendam didalam hati. karena khawatir hilangnya ilmu maka ilmu dicatat dengan tulisan" (Hikmah Al-isroq 1/32)
Imam Al-Munawi said: "Knowledge is first secured, then memorized; forgetfulness lies hidden within the heart. For fear that knowledge may be lost, it is recorded in writing."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)
وقال إسحاق بن حماد: القلم للكاتب، كالسيف للشجاع
Ishaq bin Hammad berkata : "pena bagi seorang penulis seperti halnya pedang bagi pemberani". (Hikmah Al-isroq 1/42)
Ishaq bin Hammad said: 'The pen to a writer is like a sword to a brave warrior" (Hikmah Al-Isroq 1/42)
وقال ابن المعتز: القلم يخدم الإرادة، ولا يمل الاستزادة، يسكت قائما وينطق سائرا، في أرض بياضها مظلم، وسوادها مضيء.
Ibnu Al-Mu'taj berkata "pena akan melayani kemauan, dia tidak pernah bosan untuk diminta bertambah. Berdiri ketika diam dan berbicara ketika berjalan. Di permukaan putih ia menjadi tempat berteduh dan di permukaan hitam ia menyinari" (Hikmah Al-isroq 1/41)
Ibnu Al-Mu'taz said: "The pen serves one’s will, and never grows weary of being asked to give more. It stands firm when still, and speaks as it moves. Upon the white surface it becomes a place of refuge, and through its dark strokes it sheds light."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)
العلم في السطور ثم في الصدور
"Belajar ilmu itu permulaannya di tulisan, kemudian didalam hati"
"Knowledge begins in writing, and only then takes root in the heart"

About the Author