HUKUM MEMELIHARA ANJING BAGI SEORANG MUSLIM
Secara umum, anjing dianggap sebagai hewan yang najis, terutama liur dan kotorannya, sehingga proses mensucikannya dianggap lebih sulit menurut Madzhab Syafi’i. Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa barangsiapa memelihara anjing tanpa keperluan khusus, maka pahalanya akan berkurang sebanyak dua qirath setiap harinya.
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai status hukumnya:
- Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa memelihara anjing tanpa hajat tertentu adalah haram. Namun, diperbolehkan jika digunakan untuk keperluan berburu, menjaga tanaman, atau menjaga ternak. Sebagian ulama juga membolehkan untuk menjaga rumah dengan cara melakukan qiyas (penyamaan hukum) berdasarkan illah (sebab) adanya kebutuhan yang mendesak.
- Imam Malik dan Madzhab Maliki berpendapat bahwa memelihara anjing pada dasarnya bukan haram, melainkan makruh. Larangan dalam hadits dimaknai sebagai upaya preventif agar pahala tidak berkurang, bukan berarti perbuatan tersebut dosa besar atau haram.
Prinsip lainnya yang perlu diperhatikan adalah perlakuan terhadap hewan tersebut. Berbuat baik dan adil kepada anjing akan mendatangkan pahala, sebagaimana sabda Nabi bahwa "pada setiap makhluk yang berjiwa terdapat pahala". Sebaliknya, berbuat aniaya atau menzalimi hewan tersebut akan mendatangkan dosa.
Sebagai kesimpulan, disarankan untuk saling menghargai perbedaan pendapat ulama. Bagi yang berniat memelihara, disarankan berkonsultasi dengan ahli fiqih mengenai cara bersuci dari najis, serta berkonsultasi dengan pakar hewan demi keamanan dan perawatan yang layak
ENGLISH
THE RULING ON KEEPING DOGS FOR A MUSLIM
In general, dogs are considered ritually impure (najis), particularly their saliva and excrement, making the process of purification more difficult according to the Shafi'i school of thought. A hadith narrated by Imam Muslim states that whoever keeps a dog without a specific necessity will have their rewards decreased by two qirath (a measure of good deeds) every day.
There are differing opinions among scholars regarding the legal status of keeping dogs:
- The Shafi'i School holds the view that keeping a dog without a specific necessity is forbidden (haram). However, it is permitted if the animal is used for hunting, guarding crops, or guarding livestock. Some scholars also permit keeping dogs for home security by applying qiyas (analogical reasoning), based on the illah (reason) of urgent necessity.
- Imam Malik and the Maliki School argue that keeping dogs is fundamentally not forbidden, but rather disliked (makruh). The prohibition mentioned in the hadith is interpreted as a preventive measure to avoid the reduction of rewards, rather than implying that the act itself is a major sin or forbidden.
Another important principle to consider is the treatment of the animal. Treating dogs with kindness and fairness will bring rewards, as the Prophet said, "There is a reward for (kindness shown to) every living being." Conversely, mistreating or oppressing an animal will incur sin.
In conclusion, it is advised to respect the differing opinions among scholars. For those who intend to keep dogs, it is recommended to consult with Islamic jurists (fuqaha) regarding purification methods, as well as animal experts for safety and proper care. However, we choose to be cautious; it is better not to keep dogs, yet without being cruel to them. For example, if a dog is hungry, it may still be fed without making physical contact
DALIL
وفي رواية لمسلم من اقتنى كلبا ليس بكلب صيد، ولا ماشية ولا أرض، فإنه ينقص من أجره قيراطان كل يوم.
Artinya, “Dalam riwayat Muslim Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang memelihara anjing bukan anjing pemburu, penjaga ternak, atau penjaga kebun, maka pahalanya akan berkurang sebanyak dua qirath setiap hari"
Meaning: "In the narration of Muslim, the Messenger of Allah SAW said, 'Whoever keeps a dog, other than a hunting dog, a livestock guard dog, or a farm guard dog, their reward will be decreased by two qirath every day."
وأما اقتناء الكلاب فمذهبنا أنه يحرم اقتناء الكلب بغير حاجة ويجوز اقتناؤه للصيد وللزرع وللماشية وهل يجوز لحفظ الدور والدروب ونحوها فيه وجهان أحدهما لا يجوز لظواهر الأحاديث فإنها مصرحة بالنهى الا لزرع أو صيد أو ماشية وأصحها يجوز قياسا على الثلاثة عملا بالعلة المفهومة من الاحاديث وهى الحاجة
Artinya, “Adapun memelihara anjing tanpa hajat tertentu dalam madzhab kami adalah haram. Sedangkan memeliharanya untuk berburu, menjaga tanaman, atau menjaga ternak, boleh. Sementara ulama kami berbeda pendapat perihal memelihara anjing untuk jaga rumah, gerbang, atau lainnya. Pendapat pertama menyatakan tidak boleh dengan pertimbangan tekstual hadits. Hadits itu menyatakan larangan itu secara lugas kecuali untuk jaga tanaman, perburuan, dan jaga ternak. Pendapat kedua–ini lebih shahih–membolehkan dengan memakai qiyas atas tiga hajat tadi berdasarkan illat yang dipahami dari hadits tersebut, yaitu hajat tertentu,” (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim ibnil Hajjaj, [Kairo, Al-Mathba’ah Al-Mishriyyah: 1929 M/1347 H], cetakan pertama, juz X, halaman 236)
Meaning:
"As for keeping dogs, according to our school of thought (Madhhab), it is forbidden (haram) to keep a dog without a specific necessity. However, it is permissible to keep one for hunting, guarding crops, or guarding livestock.
Regarding keeping dogs for guarding houses, pathways, and similar purposes, our scholars hold two different opinions:
- The first opinion states that it is not permitted, based on the apparent wording of the Hadith, which explicitly mentions the prohibition except for guarding crops, hunting, or guarding livestock.
- The second opinion – and this is the more correct one – permits it by applying Qiyas (analogical reasoning) to the three previously mentioned purposes, based on the Illah (effective cause) understood from the Hadith, which is the existence of a genuine necessity."
(See: Al-Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim ibnil Hajjaj, [Cairo, Al-Mathba’ah Al-Mishriyyah: 1929 CE / 1347 AH], First Edition, Volume X, Page 236)
وأجاز مالك اقتناء الكلاب للزرع والصيد والماشية وكان بن عمر لا يجيز اتخاذ الكلب إلا للصيد والماشية خاصة ووقف عندما سمع ولم يبلغه ما روى أبو هريرة وسفيان بن أبي زهير وبن مغفل وغيرهم في ذلك
Artinya, “Imam Malik membolehkan pemeliharaan anjing untuk jaga tanaman, perburuan, dan jaga hewan ternak. Sahabat Ibnu Umar tidak membolehkan pemeliharaan anjing kecuali untuk berburu dan menjaga hewan ternak. Ia berhenti ketika mendengar dan hadits riwayat Abu Hurairah, Sufyan bin Abu Zuhair, Ibnu Mughaffal, dan selain mereka terkait ini tidak sampai kepadanya” (Lihat Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘ li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Kairo Darul Wagha dan Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], cetakan pertama, juz XXVII, halaman 193)
Meaning: “Imam Malik permitted keeping dogs for guarding crops, hunting, and guarding livestock. The Companion Ibn Umar did not allow keeping dogs except for hunting and guarding livestock. He stopped (his opinion) when he heard (the relevant evidence), and the hadiths narrated by Abu Hurairah, Sufyan bin Abu Zuhair, Ibn Mughaffal, and others regarding this matter had not reached him.” (See Ibn Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘ li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Cairo Darul Wagha and Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], first edition, vol. XXVII, page 193)
وفي هذا الحديث دليل على أن اتخاذ الكلاب ليس بمحرم وإن كان ذلك الاتخاذ لغير الزرع والضرع والصيد لأن قوله من اتخذ كلبا - [ أو اقتنى كلبا ] لا يغني عنه زرعا ولا ضرعا ولا اتخذه للصيد نقص من أجره كل يوم قيراط يدل على الإباحة لا على التحريم لأن المحرمات لا يقال فيها من فعل هذا نقص من عمله أو من أجره كذا بل ينهى عنه لئلا يواقع المطيع شيئا منها. وإنما يدل ذلك اللفظ على الكراهة لا على التحريم والله أعلم
Artinya, “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa memelihara anjing haram sekalipun bukan untuk kepentingan jaga tanaman, ternak perah, dan berburu. Maksud redaksi hadits ‘Siapa saja yang menjadikan anjing’ atau ‘memelihara anjing’ bukan untuk jaga tanaman, jaga ternak perah, atau berburu maka akan berkurang pahalanya sebanyak satu qirath, menunjukkan kebolehan bukan pengharaman. Pasalnya, pengharaman tidak bisa ditarik dari pernyataan, ‘Siapa yang melakukan ini, maka akan berkurang amalnya atau pahalanya sekian.’ Larangan itu dimaksudkan agar Muslim yang taat tidak jatuh di dalamnya. Lafal ini menunjukkan larangan makruh, bukan haram. Wallahu a‘lam,” (Lihat Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘ li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Kairo Darul Wagha dan Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], cetakan pertama, juz XXVII, halaman 193-194)
Meaning: "In this hadith, there is evidence that keeping dogs is not prohibited (haram) even if it is not for the purpose of guarding crops, dairy livestock, or hunting. The meaning of the phrase in the hadith, 'Whoever keeps a dog' or 'owns a dog' not for guarding crops, guarding dairy livestock, or hunting will have their reward decreased by one qirath, indicates permissibility rather than prohibition. This is because prohibition cannot be inferred from a statement such as, 'Whoever does this, his deeds or rewards will be reduced by such and such amount.' The restriction is intended so that obedient Muslims do not fall into it. This wording indicates that it is disliked (makruh), not forbidden (haram). And Allah knows best." (See Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘ li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Cairo Darul Wagha and Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], first edition, vol. XXVII, pages 193-194)
وقد يكون في التقصير في الإحسان إلى الكلب لأنه قانع ناظر إلى يد متخذه ففي الإحسان إليه أجر كما قال صلى الله عليه وسلم في كل ذي كبد رطبة أجر وفي الإساءة إليه بتضييقة وزر
Artinya, “Terkadang terjadi kelalaian untuk berbuat baik terhadap anjing. Hal ini cukup dilihat dari tangan orang yang memeliharanya. Berbuat baik terhadap anjing bernilai pahala sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ‘Pada setiap limpa yang basah terdapat pahala.’ Berbuat jahat dengan kezaliman tertentu terhadap anjing bernilai dosa,” (Lihat Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘ li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Kairo Darul Wagha dan Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], cetakan pertama, juz XXVII, halaman 194)
Meaning: "Sometimes there is negligence in doing good to a dog. This is clearly seen from the hand of its keeper. Doing good to a dog yields reward, as the Messenger of Allah SAW said, 'There is reward for (kindness shown to) every living creature.' Doing evil by way of oppression towards a dog incurs sin," (See Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar Al-Jami‘ li Madzahibi Fuqaha’il Amshar, [Halab-Cairo Darul Wagha and Beirut, Daru Qutaibah: 1993 M/1414 H], First Edition, Volume XXVII, page 194)

About the Author