Latest Posts

Senin, 27 Juli 2026


BERKATA BAIK ATAU DIAM
 
Di kalangan umat Islam, nasihat Rasulullah ﷺ tentang berbicara dengan baik atau memilih diam sudah sangat masyhur. Hal ini tertuang dalam Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Juz 1 halaman 49:
 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman sempurna kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."
 
Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut dalam Syarah Muslim Juz 2 halaman 19: Apabila seseorang hendak berbicara, perhatikanlah isinya. Jika pembicaraan itu jelas baik (bermanfaat), mendatangkan pahala baik yang wajib maupun sunnah (udah fiks) maka silakan berbicara. Namun jika belum jelas manfaat dan pahalanya (bimbang), sebaiknya tahan ucapan, baik itu sifatnya haram, makruh, maupun sekadar boleh namun tidak membawa kebaikan (masih mergaukan). Bahkan pembicaraan yang diperbolehkan pun disarankan untuk ditinggalkan dan menahan diri/diam (yang meragukan kebaikan nya)

Pandangan ini sejalan dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu dalam Qomi’ At-Tugyan halaman 11: "Apabila salah seorang dari kalian ingin berbicara, pikirkanlah dulu ucapannya. Jika jelas mendatangkan kebaikan, barulah berbicara. Jika masih ragu, janganlah berbicara sampai kebaikannya tampak nyata."
 
Lalu, mana yang lebih utama: diam atau berkata baik? Syekh Nawawi menjelaskan dalam Nashoihul ‘Ibad halaman 44: Diam dari hal yang tidak mendatangkan pahala adalah pemimpin segala akhlak yang mulia, karena menjauhkan diri dari ghibah dan kesalahan lisan lainnya. Namun, jika berbicara atau beraktivitas yang membawa pahala seperti berzikir, membaca Al-Qur’an, atau menuntut ilmu maka hal itu lebih utama daripada diam

ENGLISH

SPEAK GOOD OR REMAIN SILENT
 
Among Muslims, the advice of Rasulullah ﷺ to speak good or choose silence is widely known. This teaching is recorded in an authentic hadith narrated by Imam Muslim in his collection, Volume 1, Page 49:
 
From Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ said: "Whoever believes perfectly in Allah Ta’ala and the Last Day, let them speak good or remain silent."
 
Imam An-Nawawi explained the meaning of this hadith in Syarah Muslim, Volume 2, Page 19: When you intend to speak, consider the content first. If your words are clearly good and beneficial bringing reward, whether for obligatory or recommended acts then you may speak. But if the benefit and reward are unclear, it is better to hold back your speech. This applies whether the matter is forbidden, disliked, or merely permissible yet brings no good. Even speech that is allowed is advised to be left unspoken, if its goodness is doubtful.
 
This view aligns with the words of Imam Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu in Qomi’ At-Tugyan, Page 11: "When any of you wishes to speak, reflect upon your words first. If it clearly brings good, then speak. If you are in doubt, do not speak until its goodness becomes evident."
 
Then which is more virtuous: silence or speaking good? Syekh Nawawi clarified in Nashoihul ‘Ibad, Page 44: Silence from matters that bring no reward is the chief of all noble character, for it protects one from backbiting and other faults of the tongue. However, speaking or engaging in acts that bring reward such as remembrance of Allah, reciting the Quran, or seeking knowledge is more virtuous than silence

DALIL

عن أبي هريرة عن رسول الله ﷺ قال : «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت، الحديث. 

Diriwayatkan oleh Shohabat Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu, Dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda "Barangsiapa yang beriman (dengan keimanan yang sempurna) kepada Alloh Ta'ala dan Hari Akhir Maka hendaknya ia berkata Baik atau diam".(Al-hadits)

Narrated by the Companion Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, from Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, who said: "Whoever believes with perfect faith in Allah Ta’ala and the Last Day, let him speak good or remain silent." (Al-Hadith)

وأما قوله فليقل خيرا أو ليصمت فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه واجبا اومندوبا فليتكلم، 

"Adapun dawuh kanjeng nabi فليقل خيرا أو ليصمت maknanya ialah sesungguhnya apabila seseorang menghendaki berbicara, maka jika pembicaraan nya itu baik secara nyata dan nanti mendapatkan pahala berupa wajib atau sunnah maka hendaklah berbicara"

"As for the saying of the Prophet ﷺ: 'Let him speak good or remain silent', its meaning is: when one intends to speak, if what they say is clearly good and will bring reward whether for an obligatory or a recommended act then let them speak"

وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين 

Dan apabila tidak tampak bagi seseorang bahwa pembicaraan nya itu mungkin mendapatkan pahala maka hendaknya ia menahan diri untuk berucap, baik yang tampak tersebut haram, makruh atau boleh yang sama arahnya

And if it is not clear to a person that their speech will bring reward, then they should refrain from speaking whether the matter appears to be forbidden, disliked, or merely permissible with no clear benefit

فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه. 

Dengan demikian pembicaraan yang diperbolehkan itu diperintahkan untuk meninggalkan nya dan disunnahkan untuk menahan nya karena dikhawatirkan terjerumus pada haram dan makruh

Therefore, even speech that is merely permissible is advised to be abandoned, and it is recommended to refrain from speaking, for fear that it may lead one into what is forbidden or disliked

وقال الشافعي إذا أراد أحدكم الكلام فعليه أن يفكر في كلامه فإن ظهرت المصلحة تكلم وإن شك لم يتكلم حتى تظهر. 

Imam Asy-Syafi'i berkata "Jika salah satu dari kalian menghendaki berbicara maka seharusnya ia berpikir terhadap ucapan akan dibicarakan, jika jelas mashlahatnya maka ia berbicara, dan jika ragu maka ia tidak patut berbicara sehingga kemashlahatan tampak padanya"

Imam Asy-Syafi'i said: "When any of you wishes to speak, let him reflect upon what he is about to say. If its benefit is clear, then speak; and if you are in doubt, you should not speak until its goodness becomes evident"

السُّكُوتُ عَمَّا لَا ثَوَابَ فِيه سيد الأخلاق الحسنة لسلامة صاحِبِهِ مِنَ الغيبة ونحوها، أما الاشْتِغَالُ بِمَا فِيْهِ ثَوَابُ من نحو ذكر وقراءة قرآن وعلم فهو أفضل من الصُّمْتِ

"Diam dari perkara yang tidak ada pahala didalamnya adalah pemimpin akhlak yang baik, karena menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari ghibah (menggunjing orang lain) dan semisalnya. Adapun Sibuk dengan sesuatu yang ada pahalanya seperti dzikir, membaca Al-Qur'an dan Ngaji maka hal tersebut lebih afdhol dibanding diam

"Silence regarding matters that bring no reward is the foremost of good character, for it protects a person from backbiting and similar faults. However, engaging in deeds that carry reward such as remembrance of Allah, reciting the Quran, and seeking knowledge is more virtuous than silence"

APAKAH AS-SHOMT DAN AS-SUKUT SAMA-SAMA BERARTI DIAM? INI PERBEDAANNYA
 
Kita sering mendengar dua lafadz Arab yang sama-sama diterjemahkan sebagai "diam", yaitu الصَّمْتِ (As-Shomt) dan السُّكُوتِ (As-Sukut). Padahal keduanya memiliki makna yang tidak persis sama.
 
Sebelum membahas perbedaannya, ada ungkapan indah dalam kitab Nashoihul ‘Ibad halaman 44:
 
الصمت زين للعالم وستر للجاهل
"Diam adalah perhiasan bagi orang berilmu, dan penutup aib bagi orang yang tidak berilmu."
 
Syekh Nawawi menjelaskan maknanya: Diam melahirkan wibawa dan ketenangan yang pantas dimiliki oleh para ulama, sehingga saat orang berilmu diam, ia tampak semakin mulia. Bagi yang belum berilmu, diamlah yang menutupi aib mu, selama ia tidak melontarkan perkataan yang keliru.
 
Kemudian Imam Zakaria Al-Anshori membedakan makna keduanya dalam kitab Al-Guror Al-Bahiyyah juz 2 halaman 28:
 
- As-Shomt maknanya lebih umum dan sempurna. Istilah ini mencakup segala bentuk tidak berbicara: baik bagi orang yang memang tidak mampu bicara (seperti orang bisu), maupun orang yang mampu bicara namun memilih untuk diam.
- As-Sukut maknanya lebih khusus. Istilah ini hanya digunakan bagi orang yang mampu berbicara, namun dengan sengaja menahan diri dan memilih untuk tidak berucap (menahan diri/mikir sebelum bicara)
 
Kesimpulannya: As-Shomt mencakup segala kondisi tidak bersuara, sedangkan As-Sukut khusus untuk pilihan diam dari orang yang sebenarnya bisa berbicara

ENGLISH

DO AS-SHOMT AND AS-SUKUT BOTH MEANING SILENCE? HERE IS THE DIFFERENCE
 
We often hear two Arabic terms that are both translated as "silence": As-Shomt (الصَّمْتِ) and As-Sukut (السُّكُوتِ). Yet their meanings are not exactly the same.
 
Before explaining the difference, there is a beautiful saying recorded in the book Nashoihul ‘Ibad, page 44:
 
الصمت زين للعالم وستر للجاهل
"Silence is an adornment for the knowledgeable, and a covering for the unlearned."
 
Syekh Nawawi explains its meaning: Silence brings dignity and composure that befits the scholars. Thus, when a person of knowledge remains silent, they appear even more noble. For those who have not yet gained knowledge, silence conceals their shortcomings, as long as they do not speak words that are wrong.
 
Imam Zakaria Al-Anshori further clarifies the distinction between the two terms in Al-Guror Al-Bahiyyah, Volume 2, Page 28:
 
- As-Shomt has a broader and more complete meaning. It covers every form of not speaking: whether someone is naturally unable to speak (such as a person born mute), or someone who is able to speak but chooses to remain silent.
- As-Sukut has a more specific meaning. It refers only to those who are fully capable of speaking, yet intentionally hold back and choose not to speak out of careful thought and self-restraint.
 
In summary: As-Shomt includes all states of being silent, while As-Sukut specifically describes the conscious choice to stay silent by someone who actually has the ability to speak

DALIL

الصمت زين للعالم وستر للجاهل. 

"Diam (tidak berbicara) itu perhiasan bagi orang yang berilmu dan penutup bagi orang yang tidak mempunyai ilmu"

"Silence is an adornment for the knowledgeable, and a covering for the unlearned."

وذلك لما في الصمت من الوقار أي الرزانة المناسبة لحق العلم ولأن المرء جهله مستور مالم يتكلم 

"Hadits diatas menjelaskan karena memandang sesuatu yang ada di dalam diam, yakni kewibawaan yang dihormati dan layak bagi haknya ilmu (sehingga ketika orang alim diam maka Mulia) . Dan karena seseorang yang tidak tahu akan ditutupi ketidaktahuannya dengan diam selama ia tidak berbicara (Sehingga diam menjadi sebab penutup bagi orang yang tidak berilmu)"

"This saying explains that silence holds a noble quality: it brings dignity and reverence that truly befits knowledge so when a learned person remains silent, they appear all the more noble. Furthermore, silence conceals the ignorance of one who does not know, as long as they do not speak; thus silence becomes a covering that protects those who lack knowledge"

الْفَرْقُ بَيْنَ الصَّمْتِ، وَالسُّكُوتِ، وَالْإِنْصَاتِ، وَالْإِصَاخَةِ أَنَّ الصَّمْتَ أَبْلَغُ لِأَنَّهُ قَدْ يُسْتَعْمَلُ فِيمَا لَا قُوَّةَ فِيهِ لِلنُّطْقِ، وَفِيمَا لَهُ قُوَّةُ النُّطْقِ، وَلِذَا قِيلَ: لَمَّا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُطْقُ الصَّامِتِ، وَالسُّكُوتُ لِمَا لَهُ نُطْقٌ فَتَرَكَ اسْتِعْمَالَهُ،

Perbedaan antara Ashomthu dan Assukut, Al-Inshot dan AI-ishokhoh ialah bahwa Ashhomtu itu lebih sempurna, karena lafadz As-shomtu terkadang digunakan terhadap sesuatu yang tidak mampu diucapkan dan yang mampu diucapkan. Oleh karena itu lafadz Ashhomtu boleh diucapkan bagi perkara yang tidak bisa diucapkan oleh orang yang tidak bicara. Sedangkan Lafadz As-sukut itu digunakan untuk perkataan yang mampu diucapkan, namun seseorang memilih untuk tidak berucap"

"The difference between As-Shomt, As-Sukut, Al-Insat, and Al-Isakhah is that As-Shomt carries a more complete meaning. This term is used both for those who are unable to speak, as well as those who have the ability to speak. Therefore, As-Shomt may be applied to anyone who does not utter words, regardless of whether they can speak or not. Meanwhile, As-Sukut is specifically used for one who is fully capable of speaking, yet intentionally chooses not to speak"

MAKSUD SEBENARNYA BERBICARA YANG BAIK/DIAM


BERKATA BAIK ATAU DIAM
 
Di kalangan umat Islam, nasihat Rasulullah ﷺ tentang berbicara dengan baik atau memilih diam sudah sangat masyhur. Hal ini tertuang dalam Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Juz 1 halaman 49:
 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman sempurna kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."
 
Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut dalam Syarah Muslim Juz 2 halaman 19: Apabila seseorang hendak berbicara, perhatikanlah isinya. Jika pembicaraan itu jelas baik (bermanfaat), mendatangkan pahala baik yang wajib maupun sunnah (udah fiks) maka silakan berbicara. Namun jika belum jelas manfaat dan pahalanya (bimbang), sebaiknya tahan ucapan, baik itu sifatnya haram, makruh, maupun sekadar boleh namun tidak membawa kebaikan (masih mergaukan). Bahkan pembicaraan yang diperbolehkan pun disarankan untuk ditinggalkan dan menahan diri/diam (yang meragukan kebaikan nya)

Pandangan ini sejalan dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu dalam Qomi’ At-Tugyan halaman 11: "Apabila salah seorang dari kalian ingin berbicara, pikirkanlah dulu ucapannya. Jika jelas mendatangkan kebaikan, barulah berbicara. Jika masih ragu, janganlah berbicara sampai kebaikannya tampak nyata."
 
Lalu, mana yang lebih utama: diam atau berkata baik? Syekh Nawawi menjelaskan dalam Nashoihul ‘Ibad halaman 44: Diam dari hal yang tidak mendatangkan pahala adalah pemimpin segala akhlak yang mulia, karena menjauhkan diri dari ghibah dan kesalahan lisan lainnya. Namun, jika berbicara atau beraktivitas yang membawa pahala seperti berzikir, membaca Al-Qur’an, atau menuntut ilmu maka hal itu lebih utama daripada diam

ENGLISH

SPEAK GOOD OR REMAIN SILENT
 
Among Muslims, the advice of Rasulullah ﷺ to speak good or choose silence is widely known. This teaching is recorded in an authentic hadith narrated by Imam Muslim in his collection, Volume 1, Page 49:
 
From Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ said: "Whoever believes perfectly in Allah Ta’ala and the Last Day, let them speak good or remain silent."
 
Imam An-Nawawi explained the meaning of this hadith in Syarah Muslim, Volume 2, Page 19: When you intend to speak, consider the content first. If your words are clearly good and beneficial bringing reward, whether for obligatory or recommended acts then you may speak. But if the benefit and reward are unclear, it is better to hold back your speech. This applies whether the matter is forbidden, disliked, or merely permissible yet brings no good. Even speech that is allowed is advised to be left unspoken, if its goodness is doubtful.
 
This view aligns with the words of Imam Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu in Qomi’ At-Tugyan, Page 11: "When any of you wishes to speak, reflect upon your words first. If it clearly brings good, then speak. If you are in doubt, do not speak until its goodness becomes evident."
 
Then which is more virtuous: silence or speaking good? Syekh Nawawi clarified in Nashoihul ‘Ibad, Page 44: Silence from matters that bring no reward is the chief of all noble character, for it protects one from backbiting and other faults of the tongue. However, speaking or engaging in acts that bring reward such as remembrance of Allah, reciting the Quran, or seeking knowledge is more virtuous than silence

DALIL

عن أبي هريرة عن رسول الله ﷺ قال : «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت، الحديث. 

Diriwayatkan oleh Shohabat Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu, Dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda "Barangsiapa yang beriman (dengan keimanan yang sempurna) kepada Alloh Ta'ala dan Hari Akhir Maka hendaknya ia berkata Baik atau diam".(Al-hadits)

Narrated by the Companion Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, from Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, who said: "Whoever believes with perfect faith in Allah Ta’ala and the Last Day, let him speak good or remain silent." (Al-Hadith)

وأما قوله فليقل خيرا أو ليصمت فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه واجبا اومندوبا فليتكلم، 

"Adapun dawuh kanjeng nabi فليقل خيرا أو ليصمت maknanya ialah sesungguhnya apabila seseorang menghendaki berbicara, maka jika pembicaraan nya itu baik secara nyata dan nanti mendapatkan pahala berupa wajib atau sunnah maka hendaklah berbicara"

"As for the saying of the Prophet ﷺ: 'Let him speak good or remain silent', its meaning is: when one intends to speak, if what they say is clearly good and will bring reward whether for an obligatory or a recommended act then let them speak"

وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين 

Dan apabila tidak tampak bagi seseorang bahwa pembicaraan nya itu mungkin mendapatkan pahala maka hendaknya ia menahan diri untuk berucap, baik yang tampak tersebut haram, makruh atau boleh yang sama arahnya

And if it is not clear to a person that their speech will bring reward, then they should refrain from speaking whether the matter appears to be forbidden, disliked, or merely permissible with no clear benefit

فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه. 

Dengan demikian pembicaraan yang diperbolehkan itu diperintahkan untuk meninggalkan nya dan disunnahkan untuk menahan nya karena dikhawatirkan terjerumus pada haram dan makruh

Therefore, even speech that is merely permissible is advised to be abandoned, and it is recommended to refrain from speaking, for fear that it may lead one into what is forbidden or disliked

وقال الشافعي إذا أراد أحدكم الكلام فعليه أن يفكر في كلامه فإن ظهرت المصلحة تكلم وإن شك لم يتكلم حتى تظهر. 

Imam Asy-Syafi'i berkata "Jika salah satu dari kalian menghendaki berbicara maka seharusnya ia berpikir terhadap ucapan akan dibicarakan, jika jelas mashlahatnya maka ia berbicara, dan jika ragu maka ia tidak patut berbicara sehingga kemashlahatan tampak padanya"

Imam Asy-Syafi'i said: "When any of you wishes to speak, let him reflect upon what he is about to say. If its benefit is clear, then speak; and if you are in doubt, you should not speak until its goodness becomes evident"

السُّكُوتُ عَمَّا لَا ثَوَابَ فِيه سيد الأخلاق الحسنة لسلامة صاحِبِهِ مِنَ الغيبة ونحوها، أما الاشْتِغَالُ بِمَا فِيْهِ ثَوَابُ من نحو ذكر وقراءة قرآن وعلم فهو أفضل من الصُّمْتِ

"Diam dari perkara yang tidak ada pahala didalamnya adalah pemimpin akhlak yang baik, karena menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari ghibah (menggunjing orang lain) dan semisalnya. Adapun Sibuk dengan sesuatu yang ada pahalanya seperti dzikir, membaca Al-Qur'an dan Ngaji maka hal tersebut lebih afdhol dibanding diam

"Silence regarding matters that bring no reward is the foremost of good character, for it protects a person from backbiting and similar faults. However, engaging in deeds that carry reward such as remembrance of Allah, reciting the Quran, and seeking knowledge is more virtuous than silence"

APAKAH AS-SHOMT DAN AS-SUKUT SAMA-SAMA BERARTI DIAM? INI PERBEDAANNYA
 
Kita sering mendengar dua lafadz Arab yang sama-sama diterjemahkan sebagai "diam", yaitu الصَّمْتِ (As-Shomt) dan السُّكُوتِ (As-Sukut). Padahal keduanya memiliki makna yang tidak persis sama.
 
Sebelum membahas perbedaannya, ada ungkapan indah dalam kitab Nashoihul ‘Ibad halaman 44:
 
الصمت زين للعالم وستر للجاهل
"Diam adalah perhiasan bagi orang berilmu, dan penutup aib bagi orang yang tidak berilmu."
 
Syekh Nawawi menjelaskan maknanya: Diam melahirkan wibawa dan ketenangan yang pantas dimiliki oleh para ulama, sehingga saat orang berilmu diam, ia tampak semakin mulia. Bagi yang belum berilmu, diamlah yang menutupi aib mu, selama ia tidak melontarkan perkataan yang keliru.
 
Kemudian Imam Zakaria Al-Anshori membedakan makna keduanya dalam kitab Al-Guror Al-Bahiyyah juz 2 halaman 28:
 
- As-Shomt maknanya lebih umum dan sempurna. Istilah ini mencakup segala bentuk tidak berbicara: baik bagi orang yang memang tidak mampu bicara (seperti orang bisu), maupun orang yang mampu bicara namun memilih untuk diam.
- As-Sukut maknanya lebih khusus. Istilah ini hanya digunakan bagi orang yang mampu berbicara, namun dengan sengaja menahan diri dan memilih untuk tidak berucap (menahan diri/mikir sebelum bicara)
 
Kesimpulannya: As-Shomt mencakup segala kondisi tidak bersuara, sedangkan As-Sukut khusus untuk pilihan diam dari orang yang sebenarnya bisa berbicara

ENGLISH

DO AS-SHOMT AND AS-SUKUT BOTH MEANING SILENCE? HERE IS THE DIFFERENCE
 
We often hear two Arabic terms that are both translated as "silence": As-Shomt (الصَّمْتِ) and As-Sukut (السُّكُوتِ). Yet their meanings are not exactly the same.
 
Before explaining the difference, there is a beautiful saying recorded in the book Nashoihul ‘Ibad, page 44:
 
الصمت زين للعالم وستر للجاهل
"Silence is an adornment for the knowledgeable, and a covering for the unlearned."
 
Syekh Nawawi explains its meaning: Silence brings dignity and composure that befits the scholars. Thus, when a person of knowledge remains silent, they appear even more noble. For those who have not yet gained knowledge, silence conceals their shortcomings, as long as they do not speak words that are wrong.
 
Imam Zakaria Al-Anshori further clarifies the distinction between the two terms in Al-Guror Al-Bahiyyah, Volume 2, Page 28:
 
- As-Shomt has a broader and more complete meaning. It covers every form of not speaking: whether someone is naturally unable to speak (such as a person born mute), or someone who is able to speak but chooses to remain silent.
- As-Sukut has a more specific meaning. It refers only to those who are fully capable of speaking, yet intentionally hold back and choose not to speak out of careful thought and self-restraint.
 
In summary: As-Shomt includes all states of being silent, while As-Sukut specifically describes the conscious choice to stay silent by someone who actually has the ability to speak

DALIL

الصمت زين للعالم وستر للجاهل. 

"Diam (tidak berbicara) itu perhiasan bagi orang yang berilmu dan penutup bagi orang yang tidak mempunyai ilmu"

"Silence is an adornment for the knowledgeable, and a covering for the unlearned."

وذلك لما في الصمت من الوقار أي الرزانة المناسبة لحق العلم ولأن المرء جهله مستور مالم يتكلم 

"Hadits diatas menjelaskan karena memandang sesuatu yang ada di dalam diam, yakni kewibawaan yang dihormati dan layak bagi haknya ilmu (sehingga ketika orang alim diam maka Mulia) . Dan karena seseorang yang tidak tahu akan ditutupi ketidaktahuannya dengan diam selama ia tidak berbicara (Sehingga diam menjadi sebab penutup bagi orang yang tidak berilmu)"

"This saying explains that silence holds a noble quality: it brings dignity and reverence that truly befits knowledge so when a learned person remains silent, they appear all the more noble. Furthermore, silence conceals the ignorance of one who does not know, as long as they do not speak; thus silence becomes a covering that protects those who lack knowledge"

الْفَرْقُ بَيْنَ الصَّمْتِ، وَالسُّكُوتِ، وَالْإِنْصَاتِ، وَالْإِصَاخَةِ أَنَّ الصَّمْتَ أَبْلَغُ لِأَنَّهُ قَدْ يُسْتَعْمَلُ فِيمَا لَا قُوَّةَ فِيهِ لِلنُّطْقِ، وَفِيمَا لَهُ قُوَّةُ النُّطْقِ، وَلِذَا قِيلَ: لَمَّا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُطْقُ الصَّامِتِ، وَالسُّكُوتُ لِمَا لَهُ نُطْقٌ فَتَرَكَ اسْتِعْمَالَهُ،

Perbedaan antara Ashomthu dan Assukut, Al-Inshot dan AI-ishokhoh ialah bahwa Ashhomtu itu lebih sempurna, karena lafadz As-shomtu terkadang digunakan terhadap sesuatu yang tidak mampu diucapkan dan yang mampu diucapkan. Oleh karena itu lafadz Ashhomtu boleh diucapkan bagi perkara yang tidak bisa diucapkan oleh orang yang tidak bicara. Sedangkan Lafadz As-sukut itu digunakan untuk perkataan yang mampu diucapkan, namun seseorang memilih untuk tidak berucap"

"The difference between As-Shomt, As-Sukut, Al-Insat, and Al-Isakhah is that As-Shomt carries a more complete meaning. This term is used both for those who are unable to speak, as well as those who have the ability to speak. Therefore, As-Shomt may be applied to anyone who does not utter words, regardless of whether they can speak or not. Meanwhile, As-Sukut is specifically used for one who is fully capable of speaking, yet intentionally chooses not to speak"


5 SERUAN BUMI SETIAP HARI KEPADA MANUSIA
 
Bumi tempat kita berpijak ternyata setiap hari menyampaikan pesan peringatan sebanyak lima kali kepada kita, anak cucu Adam. Pesan ini tercatat dalam kitab Tanbihul Ghafilin halaman 14, mengingatkan kita pada hakikat kehidupan yang sering terlupakan:
 
1. "Wahai anak Adam, engkau berjalan di atas punggungku, namun kelak engkau akan kembali dan berada di dalam perutku."
2. "Wahai anak Adam, engkau menikmati berbagai makanan yang tumbuh di atasku, namun kelak tubuhmu akan dimakan ulat di dalam perutku."
3. "Wahai anak Adam, engkau sering tertawa riang di atasku, namun kelak engkau akan menangis pilu sendirian di dalam perutku."
4. "Wahai anak Adam, engkau bersuka cita merayakan kebahagiaan di atasku, namun kelak engkau akan berduka dan terasing di dalam perutku."
5. "Wahai anak Adam, engkau melakukan berbagai perbuatan dosa di atasku, namun kelak engkau akan menerima balasan dan siksaan di dalam perutku."
 
Semoga seruan ini menjadi pengingat agar kita tidak terlalu terpaku pada kesenangan dunia sementara, melainkan bersiap menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal kelak.
 
📚 Sumber: Tanbihul Ghafilin, Halaman 14

ENGLISH

5 DAILY CALLS OF THE EARTH TO HUMANITY
 
The very earth we walk upon calls out five times each day as a reminder to us, the children of Adam. This message is recorded in the classical work Tanbihul Ghafilin (page 14), awakening us to truths about life that we so often overlook:
 
1. "O child of Adam, you walk upon my back, but in the end you will return to rest within my depths."
2. "O child of Adam, you enjoy all manner of food that grows upon me, yet one day your own body will feed the worms within me."
3. "O child of Adam, you laugh and rejoice openly upon me, but soon you will weep alone in sorrow within me."
4. "O child of Adam, you celebrate and delight in your joys upon me, yet you will soon know grief and isolation within me."
5. "O child of Adam, you commit every kind of wrong and sin upon me, but you will face your account and recompense within me."
 
May these words serve as a gentle reminder: do not cling too tightly to the fleeting pleasures of this world. Instead, prepare good deeds and righteousness now as provision for the eternal life that follows
 
📚 Source: Tanbihul Ghafilin, Page 14

BUMI MEMANGGIL MANUSIA DALAM KITAB TIAP HARI


5 SERUAN BUMI SETIAP HARI KEPADA MANUSIA
 
Bumi tempat kita berpijak ternyata setiap hari menyampaikan pesan peringatan sebanyak lima kali kepada kita, anak cucu Adam. Pesan ini tercatat dalam kitab Tanbihul Ghafilin halaman 14, mengingatkan kita pada hakikat kehidupan yang sering terlupakan:
 
1. "Wahai anak Adam, engkau berjalan di atas punggungku, namun kelak engkau akan kembali dan berada di dalam perutku."
2. "Wahai anak Adam, engkau menikmati berbagai makanan yang tumbuh di atasku, namun kelak tubuhmu akan dimakan ulat di dalam perutku."
3. "Wahai anak Adam, engkau sering tertawa riang di atasku, namun kelak engkau akan menangis pilu sendirian di dalam perutku."
4. "Wahai anak Adam, engkau bersuka cita merayakan kebahagiaan di atasku, namun kelak engkau akan berduka dan terasing di dalam perutku."
5. "Wahai anak Adam, engkau melakukan berbagai perbuatan dosa di atasku, namun kelak engkau akan menerima balasan dan siksaan di dalam perutku."
 
Semoga seruan ini menjadi pengingat agar kita tidak terlalu terpaku pada kesenangan dunia sementara, melainkan bersiap menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal kelak.
 
📚 Sumber: Tanbihul Ghafilin, Halaman 14

ENGLISH

5 DAILY CALLS OF THE EARTH TO HUMANITY
 
The very earth we walk upon calls out five times each day as a reminder to us, the children of Adam. This message is recorded in the classical work Tanbihul Ghafilin (page 14), awakening us to truths about life that we so often overlook:
 
1. "O child of Adam, you walk upon my back, but in the end you will return to rest within my depths."
2. "O child of Adam, you enjoy all manner of food that grows upon me, yet one day your own body will feed the worms within me."
3. "O child of Adam, you laugh and rejoice openly upon me, but soon you will weep alone in sorrow within me."
4. "O child of Adam, you celebrate and delight in your joys upon me, yet you will soon know grief and isolation within me."
5. "O child of Adam, you commit every kind of wrong and sin upon me, but you will face your account and recompense within me."
 
May these words serve as a gentle reminder: do not cling too tightly to the fleeting pleasures of this world. Instead, prepare good deeds and righteousness now as provision for the eternal life that follows
 
📚 Source: Tanbihul Ghafilin, Page 14

Minggu, 26 Juli 2026




MAKAN SENDIRI DAN MAKAN BERSAMA
 
Saat mengikuti pengajian sore, kita membahas kitab As-Syama'il Al-Muhammadiyyah karya Imam At-Turmudzi. Pada halaman 51, terdapat hadits riwayat Abdullah bin Abdurrahman dari Anas bin Malik:
 
"Tidak pernah terkumpul di sisi Nabi ﷺ makanan pagi atau sore berupa roti dan daging, kecuali dilakukan secara berkumpul bersama. Sebagian ahli hadits menjelaskan bahwa makna 'berkumpul bersama' adalah banyaknya tangan yang ikut makan."
 
Dari hadits tersebut, kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga mengenai adab makan dalam Islam.
 
Berdasarkan Al-Qur'an Surat An-Nur ayat 61:

"Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama-sama atau sendiri-sendiri."
 
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya: "Ayat ini memberikan kemudahan dari Allah SWT, bahwa seseorang boleh makan sendiri maupun bersama orang lain. Namun, makan bersama justru lebih berkah dan memiliki keutamaan yang lebih tinggi."
 
Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari:
 
Rasulullah ﷺ bersabda: "Makanan untuk dua orang itu cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang itu cukup untuk empat orang."
 
Dari penjelasan ulama, diketahui bahwa disunnahkan untuk berkumpul saat makan (makan bareng2) dan sebaiknya tidak makan sendirian. Dalam Sunan Ibnu Majah juga disebutkan sabda Nabi ﷺ: (lebih berpahala makan bersama)
 
"Makanlah bersama-sama dan jangan berpisah-pisah (bukan per piring tapi nampan/satu piring buat semua), sesungguhnya keberkahan berada di tengah-tengah jamaah."
 
Bahkan dari riwayat Sahabat Jabir, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
"Sesungguhnya makanan yang paling dicintai Allah adalah makanan yang banyak tangan yang ikut memakannya (makan bersama)"
 
Para ulama menyebutkan ada tiga manfaat utama makan bersama:
 
1. Menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan antar sesama
2. Mendatangkan rezeki dan keberkahan yang melimpah
3. Menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya
 
Sebagai kesimpulan: Makan sendiri maupun makan bersama, keduanya diperbolehkan dan tidak ada yang dilarang. Namun, makan bersama memiliki keistimewaan tersendiri berupa keberkahan pahala dan rezeki.
 
Makan bersama bisa dilakukan dengan cara makan dalam satu wadah yang sama, atau sekadar berkumpul pada waktu yang berbeda namun dalam satu kesempatan. Keutamaan ini berlaku bagi siapa saja, terutama jika dilakukan bersama keluarga terdekat dan teman yang ta'at

ENGLISH 

EATING ALONE AND EATING TOGETHER
 
During our evening study circle, we discussed the book As-Syama'il Al-Muhammadiyyah by Imam At-Tirmidhi. On page 51, there is a hadith narrated by Abdullah bin Abdurrahman from Anas bin Malik:
 
"Never was morning or evening food consisting of bread and meat gathered in the presence of the Prophet ﷺ, except that it was eaten together. Some scholars of Hadith explained that 'eating together' means having many hands partaking of the same meal."
 
From this hadith, we can draw a very valuable lesson regarding the etiquette of eating in Islam.
 
Based on the Quran, Surah An-Nur, verse 61:

"There is no blame upon you whether you eat together or separately."
 
Imam Ibn Kathir explained in his Tafsir: "This verse is a concession from Allah SWT, meaning that a person is permitted to eat either alone or with others. However, eating together carries greater blessings and has higher merit."
 
This is consistent with a hadith narrated in Sahih Al-Bukhari:
 
The Prophet ﷺ said: "The food of two people is sufficient for three, and the food of three is sufficient for four."
 
From the explanations of scholars, we learn that it is Sunnah to gather while eating, and it is better not to eat alone. In Sunan Ibn Majah, the Prophet ﷺ also said:
 
"Eat together and do not eat separately (meaning do not have separate plates; rather, share from the same serving platter). Indeed, blessings are found in the company of the group."
 
Furthermore, from the narration of Sahabah Jabir, the Prophet ﷺ said:
 
"Verily, the food most beloved to Allah is that which is partaken of by many hands."
 
Scholars mention three main benefits of eating together:
 
1. It fosters love and brotherhood among people.
2. It brings abundant provision and blessings.
3. It fulfills the command of Allah and His Messenger.
 
Conclusion:
Eating alone or eating together both are permissible and there is no prohibition in either. Nevertheless, eating together has its own special virtue, bringing blessings to both rewards and provision.
 
Eating together can be done by sharing from the same container/platter, or simply gathering at the same time even if eating from separate places. This merit applies to everyone, especially when done with family members and righteous friends

DALIL

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَجْتَمِعْ عِنْدَهُ غدَاءٌ وَلَا عَشَاءٌ مِنْ خُبْزٍ وَلَحْمٍ إِلَّا عَلَى ضَفَفٍ» قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: «قَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ كَثْرَةُ الْأَيْدِي»

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin malik, Sesungguhnya kanjeng nabi Sholallahu 'alaihi Wasallam itu tidak terkumpul disamping nya makanan pagi dan sore dari Roti dan daging terkecuali dengan cara dhofaf. Abdulloh bin Abdurrahman berkata, sebagian ahli hadits berkata "Adhofaf ialah banyaknya tangan orang yang makan"

Narrated from Sahabat Anas bin Malik: ''Never was morning or evening food consisting of bread and meat gathered in the presence of the Prophet ﷺ, except that it was eaten together.' Abdullah bin Abdurrahman said: 'Some scholars of Hadith explained that dhofaf means having many hands partaking of the same meal"

﴿لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا﴾ 

"Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri"

"There is no blame upon you whether you eat together with them or separately"

فهذه رخصة من الله تعالى في أن يأكل الرجل وحده ومع الجماعة، وإن كان الأكل مع الجماعة أبرَك وأفضل.

"Ayat ini adalah Kemurahan (Rukhsoh) dari Alloh Ta'ala tentang seseorang makan sendiri dan bersama orang banyak, Dan jika seseorang makan bersama orang banyak maka hal itu lebih berkah dan lebih utama" 

"This verse is a concession and ease granted by Allah Ta'ala regarding eating alone or with others. However, eating together brings greater blessings and holds higher merit"

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : (طَعَامُ الاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ)

Diriwayatkan dari Sahabat abi Hurairah Radiyallahu 'anhu sesungguhnya beliau berkata : kanjeng Rasulalloh Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda "Makanan dua orang itu mencukupi tiga orang dan makanan tiga orang mencukupi empat orang"

Narrated from Sahabah Abu Hurairah (may Allah be pleased with him), that the Messenger of Allah ﷺ said: 'The food of two people is sufficient for three, and the food of three is sufficient for four"

وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: يُؤْخَذُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ اسْتِحْبَابُ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الطَّعَامِ، وَأَنْ لَا يَأْكُلَ الْمَرْءُ وَحْدَهُ، اهـ.

Syekh Ibnu mundzir berkata "Diambil dari hadits Shohabat Abi Hurairah bahwa disunnahkan berkumpul untuk makan (makan bersama) dan tidak makan sendiri"

Sheikh Ibn Al-Mundhir said: ''From the Hadith of the Companion Abu Hurairah, it is derived that it is Sunnah to gather for eating (to eat together), and it is not recommended to eat alone"

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -: «كُلُوا جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، فَإِنَّ الْبَرَكَةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ» 

Kanjeng nabi Sholallahu 'alaihi wasallam dawuh "Makanlah bersama-sama dan jangan berpisah-pisah, karena sesungguhnya keberkahan itu serta orang banyak"

"Eat together and do not eat separately, for indeed blessings are with the group"

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -: ««إِنَّ أَحَبَّ الطَّعَامَ إِلَى اللَّهِ مَا كَثُرَتْ عَلَيْهِ الْأَيْدِي»»

Diriwayatkan dari Shohabat jabir, ia berkata : Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda "Sesungguhnya makanan yang paling disukai oleh Alloh Ta'ala ialah makanan yang banyak tangan"

Narrated by Sahabah Jabir, who said: "The Prophet ﷺ stated, 'Indeed, the food most beloved to Allah the Almighty is that which is partaken of by many hands"

FAKTA RASULULLAH KALA MAKAN




MAKAN SENDIRI DAN MAKAN BERSAMA
 
Saat mengikuti pengajian sore, kita membahas kitab As-Syama'il Al-Muhammadiyyah karya Imam At-Turmudzi. Pada halaman 51, terdapat hadits riwayat Abdullah bin Abdurrahman dari Anas bin Malik:
 
"Tidak pernah terkumpul di sisi Nabi ﷺ makanan pagi atau sore berupa roti dan daging, kecuali dilakukan secara berkumpul bersama. Sebagian ahli hadits menjelaskan bahwa makna 'berkumpul bersama' adalah banyaknya tangan yang ikut makan."
 
Dari hadits tersebut, kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga mengenai adab makan dalam Islam.
 
Berdasarkan Al-Qur'an Surat An-Nur ayat 61:

"Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama-sama atau sendiri-sendiri."
 
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya: "Ayat ini memberikan kemudahan dari Allah SWT, bahwa seseorang boleh makan sendiri maupun bersama orang lain. Namun, makan bersama justru lebih berkah dan memiliki keutamaan yang lebih tinggi."
 
Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari:
 
Rasulullah ﷺ bersabda: "Makanan untuk dua orang itu cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang itu cukup untuk empat orang."
 
Dari penjelasan ulama, diketahui bahwa disunnahkan untuk berkumpul saat makan (makan bareng2) dan sebaiknya tidak makan sendirian. Dalam Sunan Ibnu Majah juga disebutkan sabda Nabi ﷺ: (lebih berpahala makan bersama)
 
"Makanlah bersama-sama dan jangan berpisah-pisah (bukan per piring tapi nampan/satu piring buat semua), sesungguhnya keberkahan berada di tengah-tengah jamaah."
 
Bahkan dari riwayat Sahabat Jabir, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
"Sesungguhnya makanan yang paling dicintai Allah adalah makanan yang banyak tangan yang ikut memakannya (makan bersama)"
 
Para ulama menyebutkan ada tiga manfaat utama makan bersama:
 
1. Menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan antar sesama
2. Mendatangkan rezeki dan keberkahan yang melimpah
3. Menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya
 
Sebagai kesimpulan: Makan sendiri maupun makan bersama, keduanya diperbolehkan dan tidak ada yang dilarang. Namun, makan bersama memiliki keistimewaan tersendiri berupa keberkahan pahala dan rezeki.
 
Makan bersama bisa dilakukan dengan cara makan dalam satu wadah yang sama, atau sekadar berkumpul pada waktu yang berbeda namun dalam satu kesempatan. Keutamaan ini berlaku bagi siapa saja, terutama jika dilakukan bersama keluarga terdekat dan teman yang ta'at

ENGLISH 

EATING ALONE AND EATING TOGETHER
 
During our evening study circle, we discussed the book As-Syama'il Al-Muhammadiyyah by Imam At-Tirmidhi. On page 51, there is a hadith narrated by Abdullah bin Abdurrahman from Anas bin Malik:
 
"Never was morning or evening food consisting of bread and meat gathered in the presence of the Prophet ﷺ, except that it was eaten together. Some scholars of Hadith explained that 'eating together' means having many hands partaking of the same meal."
 
From this hadith, we can draw a very valuable lesson regarding the etiquette of eating in Islam.
 
Based on the Quran, Surah An-Nur, verse 61:

"There is no blame upon you whether you eat together or separately."
 
Imam Ibn Kathir explained in his Tafsir: "This verse is a concession from Allah SWT, meaning that a person is permitted to eat either alone or with others. However, eating together carries greater blessings and has higher merit."
 
This is consistent with a hadith narrated in Sahih Al-Bukhari:
 
The Prophet ﷺ said: "The food of two people is sufficient for three, and the food of three is sufficient for four."
 
From the explanations of scholars, we learn that it is Sunnah to gather while eating, and it is better not to eat alone. In Sunan Ibn Majah, the Prophet ﷺ also said:
 
"Eat together and do not eat separately (meaning do not have separate plates; rather, share from the same serving platter). Indeed, blessings are found in the company of the group."
 
Furthermore, from the narration of Sahabah Jabir, the Prophet ﷺ said:
 
"Verily, the food most beloved to Allah is that which is partaken of by many hands."
 
Scholars mention three main benefits of eating together:
 
1. It fosters love and brotherhood among people.
2. It brings abundant provision and blessings.
3. It fulfills the command of Allah and His Messenger.
 
Conclusion:
Eating alone or eating together both are permissible and there is no prohibition in either. Nevertheless, eating together has its own special virtue, bringing blessings to both rewards and provision.
 
Eating together can be done by sharing from the same container/platter, or simply gathering at the same time even if eating from separate places. This merit applies to everyone, especially when done with family members and righteous friends

DALIL

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَجْتَمِعْ عِنْدَهُ غدَاءٌ وَلَا عَشَاءٌ مِنْ خُبْزٍ وَلَحْمٍ إِلَّا عَلَى ضَفَفٍ» قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: «قَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ كَثْرَةُ الْأَيْدِي»

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin malik, Sesungguhnya kanjeng nabi Sholallahu 'alaihi Wasallam itu tidak terkumpul disamping nya makanan pagi dan sore dari Roti dan daging terkecuali dengan cara dhofaf. Abdulloh bin Abdurrahman berkata, sebagian ahli hadits berkata "Adhofaf ialah banyaknya tangan orang yang makan"

Narrated from Sahabat Anas bin Malik: ''Never was morning or evening food consisting of bread and meat gathered in the presence of the Prophet ﷺ, except that it was eaten together.' Abdullah bin Abdurrahman said: 'Some scholars of Hadith explained that dhofaf means having many hands partaking of the same meal"

﴿لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا﴾ 

"Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri"

"There is no blame upon you whether you eat together with them or separately"

فهذه رخصة من الله تعالى في أن يأكل الرجل وحده ومع الجماعة، وإن كان الأكل مع الجماعة أبرَك وأفضل.

"Ayat ini adalah Kemurahan (Rukhsoh) dari Alloh Ta'ala tentang seseorang makan sendiri dan bersama orang banyak, Dan jika seseorang makan bersama orang banyak maka hal itu lebih berkah dan lebih utama" 

"This verse is a concession and ease granted by Allah Ta'ala regarding eating alone or with others. However, eating together brings greater blessings and holds higher merit"

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : (طَعَامُ الاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ)

Diriwayatkan dari Sahabat abi Hurairah Radiyallahu 'anhu sesungguhnya beliau berkata : kanjeng Rasulalloh Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda "Makanan dua orang itu mencukupi tiga orang dan makanan tiga orang mencukupi empat orang"

Narrated from Sahabah Abu Hurairah (may Allah be pleased with him), that the Messenger of Allah ﷺ said: 'The food of two people is sufficient for three, and the food of three is sufficient for four"

وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: يُؤْخَذُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ اسْتِحْبَابُ الِاجْتِمَاعِ عَلَى الطَّعَامِ، وَأَنْ لَا يَأْكُلَ الْمَرْءُ وَحْدَهُ، اهـ.

Syekh Ibnu mundzir berkata "Diambil dari hadits Shohabat Abi Hurairah bahwa disunnahkan berkumpul untuk makan (makan bersama) dan tidak makan sendiri"

Sheikh Ibn Al-Mundhir said: ''From the Hadith of the Companion Abu Hurairah, it is derived that it is Sunnah to gather for eating (to eat together), and it is not recommended to eat alone"

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -: «كُلُوا جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، فَإِنَّ الْبَرَكَةَ مَعَ الْجَمَاعَةِ» 

Kanjeng nabi Sholallahu 'alaihi wasallam dawuh "Makanlah bersama-sama dan jangan berpisah-pisah, karena sesungguhnya keberkahan itu serta orang banyak"

"Eat together and do not eat separately, for indeed blessings are with the group"

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -: ««إِنَّ أَحَبَّ الطَّعَامَ إِلَى اللَّهِ مَا كَثُرَتْ عَلَيْهِ الْأَيْدِي»»

Diriwayatkan dari Shohabat jabir, ia berkata : Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda "Sesungguhnya makanan yang paling disukai oleh Alloh Ta'ala ialah makanan yang banyak tangan"

Narrated by Sahabah Jabir, who said: "The Prophet ﷺ stated, 'Indeed, the food most beloved to Allah the Almighty is that which is partaken of by many hands"




MENULIS ADALAH MENGIKAT ILMU
 
Mencatat ilmu, baik dengan menuliskan makna penjelasan (gandul) pada kitab maupun menambah catatan di pinggir halaman, adalah tradisi mulia yang diajarkan para ulama sejak masa lampau. Hal ini bersumber dari pesan mulia sahabat Nabi, Sayyidina Umar bin Khattab dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma:
 
"Ikatlah ilmu dengan tulisan."
(Ta'qid Al-‘Ilmi karya Imam Khatib Al-Baghdadi 1/69 dan Musnad Ad-Darimi 1/437)
 
Sebagian ulama juga menyandarkan kalimat ini sebagai sabda Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama pun menjelaskan alasan mengapa menulis ilmu sangatlah penting. Imam Al-Munawi menerangkan:
 
"Ilmu itu diikat terlebih dahulu, baru kemudian dihafal. Sifat lupa itu memang tersimpan dalam hati. Karena takut ilmu itu hilang, maka ikatlah ia dengan tulisan."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)
 
Ada pula perumpamaan indah dari Ishaq bin Hammad:
 
"Pena bagi penulis, ibarat pedang bagi orang pemberani."
(Hikmah Al-Isroq 1/42)
 
Sedangkan Ibnu Al-Mu‘taz berkata:
 
"Pena melayani kehendak, tak pernah lelah diminta bertambah luas. Ia berdiri tegak saat diam, dan terus berbicara saat berjalan. Di hamparan putih ia menjadi penunjuk jalan, dan di goresan hitam ia memancarkan cahaya."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)
 
Hal ini sejalan dengan prinsip yang sering disampaikan Romo Kiyai:
 
"Ilmu itu awalnya ada di goresan tulisan, baru kemudian menetap di dalam dada"

ENGLISH 

WRITING IS BINDING KNOWLEDGE
 
Recording knowledge — whether by writing explanatory notes (known as gandul) in the margins of religious texts or adding personal comments beside the main text — is a noble tradition taught by scholars since ancient times. This practice is rooted in the wise counsel of the Prophet’s Companions, Sayyidina Umar bin Khattab and Ibnu Abbas (may Allah be pleased with them both):
 
"Bind knowledge with writing."
(Ta'qid Al-‘Ilmi by Imam Khatib Al-Baghdadi 1/69 and Musnad Ad-Darimi 1/437)
 
Some scholars also attribute this saying to the Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him). The scholars have further explained why writing down knowledge is so vital. Imam Al-Munawi stated:
 
"Knowledge is first secured, then memorized. The tendency to forget lies deep within the heart. For fear that knowledge may slip away, bind it fast with writing."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)
 
Ishaq bin Hammad offered this beautiful comparison:
 
"The pen to a writer is like a sword to a brave warrior."
(Hikmah Al-Isroq 1/42)
 
While Ibnu Al-Mu‘taz said:
 
"The pen serves one’s will, and never tires of being asked to give more. It stands firm when silent, and speaks as it moves. Upon the blank page it marks the path, and through its dark strokes it sheds light."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)
 
This aligns perfectly with the principle often shared by our revered teacher:
 
"Knowledge begins in the lines of writing, and only then settles deep within the heart"

DALIL

قيدوا العلم بالكتاب. 

"Ikatlah ilmu dengan tulisan"

"Bind knowledge with writing"

العلم يعقل ثم يحفظ، والنسيان كامن في القلب، فلخوف ذهاب العلم قيد بالكتابة. 

Imam Al-munawi berkata "ilmu itu diikat kemudian dihafal, dan lupa itu terpendam didalam hati. karena khawatir hilangnya ilmu maka ilmu dicatat dengan tulisan" (Hikmah Al-isroq 1/32)

Imam Al-Munawi said: "Knowledge is first secured, then memorized; forgetfulness lies hidden within the heart. For fear that knowledge may be lost, it is recorded in writing."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)

وقال إسحاق بن حماد: القلم للكاتب، كالسيف للشجاع

Ishaq bin Hammad berkata : "pena bagi seorang penulis seperti halnya pedang bagi pemberani". (Hikmah Al-isroq 1/42)

Ishaq bin Hammad said: 'The pen to a writer is like a sword to a brave warrior" (Hikmah Al-Isroq 1/42)

وقال ابن المعتز: القلم يخدم الإرادة، ولا يمل الاستزادة، يسكت قائما وينطق سائرا، في أرض بياضها مظلم، وسوادها مضيء.

Ibnu Al-Mu'taj berkata "pena akan melayani kemauan, dia tidak pernah bosan untuk diminta bertambah. Berdiri ketika diam dan berbicara ketika berjalan. Di permukaan putih ia menjadi tempat berteduh dan di permukaan hitam ia menyinari" (Hikmah Al-isroq 1/41)

Ibnu Al-Mu'taz said: "The pen serves one’s will, and never grows weary of being asked to give more. It stands firm when still, and speaks as it moves. Upon the white surface it becomes a place of refuge, and through its dark strokes it sheds light."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)

العلم في السطور ثم في الصدور 
"Belajar ilmu itu permulaannya di tulisan, kemudian didalam hati"

"Knowledge begins in writing, and only then takes root in the heart"

MEMAKNAI KITAB PERNAH DI SEBUT UMAR BIN KHATAB




MENULIS ADALAH MENGIKAT ILMU
 
Mencatat ilmu, baik dengan menuliskan makna penjelasan (gandul) pada kitab maupun menambah catatan di pinggir halaman, adalah tradisi mulia yang diajarkan para ulama sejak masa lampau. Hal ini bersumber dari pesan mulia sahabat Nabi, Sayyidina Umar bin Khattab dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma:
 
"Ikatlah ilmu dengan tulisan."
(Ta'qid Al-‘Ilmi karya Imam Khatib Al-Baghdadi 1/69 dan Musnad Ad-Darimi 1/437)
 
Sebagian ulama juga menyandarkan kalimat ini sebagai sabda Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama pun menjelaskan alasan mengapa menulis ilmu sangatlah penting. Imam Al-Munawi menerangkan:
 
"Ilmu itu diikat terlebih dahulu, baru kemudian dihafal. Sifat lupa itu memang tersimpan dalam hati. Karena takut ilmu itu hilang, maka ikatlah ia dengan tulisan."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)
 
Ada pula perumpamaan indah dari Ishaq bin Hammad:
 
"Pena bagi penulis, ibarat pedang bagi orang pemberani."
(Hikmah Al-Isroq 1/42)
 
Sedangkan Ibnu Al-Mu‘taz berkata:
 
"Pena melayani kehendak, tak pernah lelah diminta bertambah luas. Ia berdiri tegak saat diam, dan terus berbicara saat berjalan. Di hamparan putih ia menjadi penunjuk jalan, dan di goresan hitam ia memancarkan cahaya."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)
 
Hal ini sejalan dengan prinsip yang sering disampaikan Romo Kiyai:
 
"Ilmu itu awalnya ada di goresan tulisan, baru kemudian menetap di dalam dada"

ENGLISH 

WRITING IS BINDING KNOWLEDGE
 
Recording knowledge — whether by writing explanatory notes (known as gandul) in the margins of religious texts or adding personal comments beside the main text — is a noble tradition taught by scholars since ancient times. This practice is rooted in the wise counsel of the Prophet’s Companions, Sayyidina Umar bin Khattab and Ibnu Abbas (may Allah be pleased with them both):
 
"Bind knowledge with writing."
(Ta'qid Al-‘Ilmi by Imam Khatib Al-Baghdadi 1/69 and Musnad Ad-Darimi 1/437)
 
Some scholars also attribute this saying to the Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him). The scholars have further explained why writing down knowledge is so vital. Imam Al-Munawi stated:
 
"Knowledge is first secured, then memorized. The tendency to forget lies deep within the heart. For fear that knowledge may slip away, bind it fast with writing."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)
 
Ishaq bin Hammad offered this beautiful comparison:
 
"The pen to a writer is like a sword to a brave warrior."
(Hikmah Al-Isroq 1/42)
 
While Ibnu Al-Mu‘taz said:
 
"The pen serves one’s will, and never tires of being asked to give more. It stands firm when silent, and speaks as it moves. Upon the blank page it marks the path, and through its dark strokes it sheds light."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)
 
This aligns perfectly with the principle often shared by our revered teacher:
 
"Knowledge begins in the lines of writing, and only then settles deep within the heart"

DALIL

قيدوا العلم بالكتاب. 

"Ikatlah ilmu dengan tulisan"

"Bind knowledge with writing"

العلم يعقل ثم يحفظ، والنسيان كامن في القلب، فلخوف ذهاب العلم قيد بالكتابة. 

Imam Al-munawi berkata "ilmu itu diikat kemudian dihafal, dan lupa itu terpendam didalam hati. karena khawatir hilangnya ilmu maka ilmu dicatat dengan tulisan" (Hikmah Al-isroq 1/32)

Imam Al-Munawi said: "Knowledge is first secured, then memorized; forgetfulness lies hidden within the heart. For fear that knowledge may be lost, it is recorded in writing."
(Hikmah Al-Isroq 1/32)

وقال إسحاق بن حماد: القلم للكاتب، كالسيف للشجاع

Ishaq bin Hammad berkata : "pena bagi seorang penulis seperti halnya pedang bagi pemberani". (Hikmah Al-isroq 1/42)

Ishaq bin Hammad said: 'The pen to a writer is like a sword to a brave warrior" (Hikmah Al-Isroq 1/42)

وقال ابن المعتز: القلم يخدم الإرادة، ولا يمل الاستزادة، يسكت قائما وينطق سائرا، في أرض بياضها مظلم، وسوادها مضيء.

Ibnu Al-Mu'taj berkata "pena akan melayani kemauan, dia tidak pernah bosan untuk diminta bertambah. Berdiri ketika diam dan berbicara ketika berjalan. Di permukaan putih ia menjadi tempat berteduh dan di permukaan hitam ia menyinari" (Hikmah Al-isroq 1/41)

Ibnu Al-Mu'taz said: "The pen serves one’s will, and never grows weary of being asked to give more. It stands firm when still, and speaks as it moves. Upon the white surface it becomes a place of refuge, and through its dark strokes it sheds light."
(Hikmah Al-Isroq 1/41)

العلم في السطور ثم في الصدور 
"Belajar ilmu itu permulaannya di tulisan, kemudian didalam hati"

"Knowledge begins in writing, and only then takes root in the heart"

Kamis, 23 Juli 2026

Photo of kh abdul hamid pasuruan

WIRID: KEBIASAAN BAIK YANG TAK TERBATAS WAKTU
 
Wirid merupakan salah satu kebiasaan baik yang mulia, berupa amalan membaca ayat Al-Qur'an maupun bacaan lainnya seperti sholawat, istigfar, dan sejenisnya.
 
Sebagaimana tertulis dalam kitab Mishbah Al-Munir jilid 2 halaman 655 karya Syekh Al-Fayumi:
 
"Wirid adalah kebiasaan rutin berupa bacaan atau hal serupa. Kata jamak dari wirid adalah aurod, sama seperti kata himlin yang jamaknya menjadi ahmalin."
 
Secara umum, pengamalan wirid tidak memiliki batas waktu tertentu. Jika kita sudah mulai melakukannya, sebaiknya terus dijaga dan tidak ditinggalkan begitu saja.
 
Ada sebuah kisah yang menyentuh tentang hal ini. Suatu ketika, ada seseorang yang datang menemui Simbah Yai Abdul Hamid dari Pasuruan untuk meminta ijazah sebuah wirid tertentu. Setelah beliau mengijazahkan wirid tersebut, tamu itu bertanya: "Mbah, wirid ini diamalkannya sampai kapan?"
 
Dengan tenang, Mbah Yai Abdul Hamid menjawab: "Tidak usah diamalkan." Lalu beliau menyuruh tamu itu pulang. Melalui jawaban singkat ini, beliau ingin mengajarkan bahwa wirid bukanlah amalan yang hanya dilakukan sesaat, atau sekadar saat sedang membutuhkan sesuatu saja.
 
Oleh karena itu, sepatutnya kita menjadikan wirid sebagai kebiasaan yang terus dilakukan sepanjang hidup. Manfaat dan keutamaannya akan terus kita rasakan selama kita mengamalkannya dengan istiqomah. Hal ini tentu tidak menafikan pandangan ulama terdahulu yang terkadang menyusun metode latihan berwirid dengan batasan waktu dan jumlah yang bertahap, biasanya disesuaikan dengan kondisi usia atau kemampuan seseorang

ENGLISH

WIRID: A GOOD HABIT WITHOUT TIME LIMITS
 
Wirid is one of the most noble good habits. It refers to regular devotional practices, such as reciting verses from the Quran, or other sacred phrases like Sholawat (praises for the Prophet Muhammad), Istigfar (prayers for forgiveness), and similar supplications.
 
As written in the book Mishbah Al-Munir, Volume 2, Page 655, by Shaykh Al-Fayumi:
 
"Wirid means a regular practice of recitation or similar acts of worship. The plural form of wirid is aurod, just as the plural of the word himlin is ahmalin."
 
In general, there is no fixed time limit for practicing wirid. Once you have started it, you should keep doing it consistently and never abandon it carelessly.
 
There is a meaningful story that illustrates this well. Once, a man came to visit the respected scholar Simbah Yai Abdul Hamid of Pasuruan, Indonesia, to ask for permission and guidance to practice a specific wirid. After the scholar granted him this guidance, the visitor asked: "Teacher, how long should I keep practicing this wirid?"
 
Calmly, Simbah Yai Abdul Hamid replied: "You do not need to practice it at all." Then he asked the visitor to go home. Through this seemingly strange answer, he wanted to teach an important lesson: wirid is not something you do only for a short while, or only when you need something or are facing a problem.
 
Therefore, we should make wirid a lifelong habit. Its benefits and blessings will continue to unfold as long as we keep practicing it with steadfastness. This does not contradict the approach of earlier scholars, who sometimes designed practice methods with gradual stages, specific durations, or set numbers of repetitions these are simply adjustments made to suit a person’s age, ability, or spiritual progress

DALIL

وَالْوِرْدُ الْوَظِيفَةُ مِنْ قِرَاءَةٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْجَمْعُ أَوْرَادٌ مِثْلُ حِمْلٍ وَأَحْمَالٍ.

"Wirid Adalah Prilaku baik yang berupa Membaca Al-Qur'an atau semisalnya, Jamak Lafadz Wirid Adalah Aurod yang seperti lafadz Himlin dan jamaknya lafadz Ahmalin"

"Wirid refers to a virtuous practice consisting of reciting the Quran or similar devotions. The plural form of the word 'wirid' is 'aurod', just as the plural of 'himlin' is 'ahmalin"

SAMPAI KAPAN AMALAN DI AMALKAN?

Photo of kh abdul hamid pasuruan

WIRID: KEBIASAAN BAIK YANG TAK TERBATAS WAKTU
 
Wirid merupakan salah satu kebiasaan baik yang mulia, berupa amalan membaca ayat Al-Qur'an maupun bacaan lainnya seperti sholawat, istigfar, dan sejenisnya.
 
Sebagaimana tertulis dalam kitab Mishbah Al-Munir jilid 2 halaman 655 karya Syekh Al-Fayumi:
 
"Wirid adalah kebiasaan rutin berupa bacaan atau hal serupa. Kata jamak dari wirid adalah aurod, sama seperti kata himlin yang jamaknya menjadi ahmalin."
 
Secara umum, pengamalan wirid tidak memiliki batas waktu tertentu. Jika kita sudah mulai melakukannya, sebaiknya terus dijaga dan tidak ditinggalkan begitu saja.
 
Ada sebuah kisah yang menyentuh tentang hal ini. Suatu ketika, ada seseorang yang datang menemui Simbah Yai Abdul Hamid dari Pasuruan untuk meminta ijazah sebuah wirid tertentu. Setelah beliau mengijazahkan wirid tersebut, tamu itu bertanya: "Mbah, wirid ini diamalkannya sampai kapan?"
 
Dengan tenang, Mbah Yai Abdul Hamid menjawab: "Tidak usah diamalkan." Lalu beliau menyuruh tamu itu pulang. Melalui jawaban singkat ini, beliau ingin mengajarkan bahwa wirid bukanlah amalan yang hanya dilakukan sesaat, atau sekadar saat sedang membutuhkan sesuatu saja.
 
Oleh karena itu, sepatutnya kita menjadikan wirid sebagai kebiasaan yang terus dilakukan sepanjang hidup. Manfaat dan keutamaannya akan terus kita rasakan selama kita mengamalkannya dengan istiqomah. Hal ini tentu tidak menafikan pandangan ulama terdahulu yang terkadang menyusun metode latihan berwirid dengan batasan waktu dan jumlah yang bertahap, biasanya disesuaikan dengan kondisi usia atau kemampuan seseorang

ENGLISH

WIRID: A GOOD HABIT WITHOUT TIME LIMITS
 
Wirid is one of the most noble good habits. It refers to regular devotional practices, such as reciting verses from the Quran, or other sacred phrases like Sholawat (praises for the Prophet Muhammad), Istigfar (prayers for forgiveness), and similar supplications.
 
As written in the book Mishbah Al-Munir, Volume 2, Page 655, by Shaykh Al-Fayumi:
 
"Wirid means a regular practice of recitation or similar acts of worship. The plural form of wirid is aurod, just as the plural of the word himlin is ahmalin."
 
In general, there is no fixed time limit for practicing wirid. Once you have started it, you should keep doing it consistently and never abandon it carelessly.
 
There is a meaningful story that illustrates this well. Once, a man came to visit the respected scholar Simbah Yai Abdul Hamid of Pasuruan, Indonesia, to ask for permission and guidance to practice a specific wirid. After the scholar granted him this guidance, the visitor asked: "Teacher, how long should I keep practicing this wirid?"
 
Calmly, Simbah Yai Abdul Hamid replied: "You do not need to practice it at all." Then he asked the visitor to go home. Through this seemingly strange answer, he wanted to teach an important lesson: wirid is not something you do only for a short while, or only when you need something or are facing a problem.
 
Therefore, we should make wirid a lifelong habit. Its benefits and blessings will continue to unfold as long as we keep practicing it with steadfastness. This does not contradict the approach of earlier scholars, who sometimes designed practice methods with gradual stages, specific durations, or set numbers of repetitions these are simply adjustments made to suit a person’s age, ability, or spiritual progress

DALIL

وَالْوِرْدُ الْوَظِيفَةُ مِنْ قِرَاءَةٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَالْجَمْعُ أَوْرَادٌ مِثْلُ حِمْلٍ وَأَحْمَالٍ.

"Wirid Adalah Prilaku baik yang berupa Membaca Al-Qur'an atau semisalnya, Jamak Lafadz Wirid Adalah Aurod yang seperti lafadz Himlin dan jamaknya lafadz Ahmalin"

"Wirid refers to a virtuous practice consisting of reciting the Quran or similar devotions. The plural form of the word 'wirid' is 'aurod', just as the plural of 'himlin' is 'ahmalin"

Rabu, 22 Juli 2026


HUKUM MEMBACA KITAB SUCI AGAMA LAIN & PERTANYAAN TERKAIT
 
1. HUKUM MEMBACA KITAB SUCI AGAMA LAIN
 
- Bagi orang awam: Haram membaca Injil, Taurat, Bibel, dan kitab suci agama lain, karena pemahaman keislaman masih dangkal.
- Bagi ulama: Boleh membaca dengan tujuan menjelaskan pemalsuan isi kitab tersebut kepada umat Islam atau sebagai metode dakwah.
- Status: Pelanggaran larangan ini tidak menyebabkan murtad, selama hati tetap beriman kepada Allah.
- Dalil: Hadits Umar bin Khattab, larangan bertanya pada Ahli Kitab, serta QS Al-An'am:68, Al-Baqarah:75, Huud:113.
 
2. PERTANYAAN LAIN & JAWABANNYA
 
1. Mandi wajib/wudhu belum sempurna karena tidak tahu: Shalat sah, ketidaktahuan dimaafkan seperti ketidaksengajaan.
2. Menghina Allah karena lupa: Tidak murtad, lupa termasuk kondisi yang dimaafkan syariat.
3. Mengucapkan "Haleluya": Haram karena khusus ibadah Kristen, tidak murtad selama hati tetap beriman dan tidak membenarkan agama lain.
4. Menonton acara perayaan agama lain: Tidak murtad, namun haram karena dilarang dan bisa mengganggu keimanan.
5. Memanggil pacar "istriku" sebelum nikah: Tidak murtad, namun berduaan/pacaran fisik adalah haram.
6. Mengucap "Dunia ini hanya milik kita": Tidak murtad, tidak mempengaruhi akidah.
7. Jin dan kerasukan: Jin bisa masuk tubuh manusia; kerasukan bisa karena jin, penyakit, atau faktor psikologis.
8. Mengatakan desa "seindah surga": Tidak berdosa, hanya ungkapan rasa syukur.
9. Menyebut teman "dari Mars/Bulan": Tidak murtad; haram jika diucapkan untuk menghina.
10. Memanggil teman muslim dengan nama khas orang kafir: Tidak murtad; haram jika bermaksud menghina, boleh jika sekadar panggilan biasa

ENGLISH

THE LAW OF READING OTHER RELIGIONS' SCRIPTURES & RELATED QUESTIONS
 
1. LAW OF READING OTHER RELIGIONS' SCRIPTURES
 
- For ordinary Muslims: It is forbidden to read the Gospel, Torah, Bible, or other religions' holy books, as their understanding of Islam is still basic.
- For Islamic scholars: It is permitted to read them for the purpose of explaining textual distortions in these books to the Muslim community, or as a method of Islamic outreach (dakwah).
- Status: Violating this prohibition does not make one an apostate, as long as one’s heart remains firm in faith in Allah.
- Scriptural basis: Hadith regarding Umar bin Khattab, the command not to seek guidance from the People of the Book, plus Quran verses: Surah Al-An'am: 68, Surah Al-Baqarah: 75, Surah Hud: 113.
 
 
 
2. OTHER QUESTIONS & ANSWERS
 
1. Incomplete ritual bathing or ablution due to unawareness: Prayer is valid; ignorance is excused the same way as unintended error.
2. Speaking disrespectfully of Allah out of forgetfulness: Not apostasy; forgetfulness is among the conditions excused by Islamic law.
3. Saying "Hallelujah": Forbidden, as this phrase is exclusive to Christian worship. Not apostasy, so long as one remains faithful in heart and does not validate other religions.
4. Watching other religions' ceremonies: Not apostasy, yet forbidden by Islamic teachings and may weaken one’s faith.
5. Calling one’s unmarried partner "my wife": Not apostasy, but being alone with a non-mahram or intimate dating is forbidden.
6. Saying "The world belongs only to us": Not apostasy, and has no negative effect on one’s creed.
7. Jinn and spirit possession: Jinn are able to enter the human body; possession may be caused by jinn, illness, or psychological conditions.
8. Saying a village is "as beautiful as paradise": Not sinful; this is simply an expression of gratitude.
9. Joking that someone is "from Mars/the Moon": Not apostasy; forbidden only if spoken to insult or mock.
10. Calling a Muslim friend by a name associated with non-Muslims: Not apostasy; forbidden if intended to insult, permissible if used as an ordinary nickname

DALIL

أن عمر بن الخطاب جاء إلى الرسول صلى الله عليه ‏وسلم فقال: يا رسول الله إني مررت بأخ لي من بني قريظة، فكتب لي جوامع من التوراة ‏ألا أعرضها عليك؟ قال: فتغير وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم. فقال عمر: ‏رضينا بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولاً. قال: فسري عن ‏رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: والذي نفس محمد بيده. لو أصبح فيكم موسى ثم ‏اتبعتموه وتركتموني لضللتم، أنتم حظي من الأمم، وأنا حظكم من النبيين

Artinya: Umar bin Khatab pernah datang pada Nabi ia berkata: "Wahai Rasulullah aku bertemu dengan saudaraku dari kabilah Bani Quraizhah lalu ia menulis beberapa ayat dari kitab Taurat, apakah aku tunjukkan padamu?" Abdullah bin Tsabit berkata, "Maka berubahlah wajah Nabi." Umar berkata, "Aku ridha Allah sebagai Tuhan, dan Islam sebagai agamaku, Muhammad sebagai Rasulku." Abdullah bin Tsabit berkata, "Nabi gembira mendengar itu." Nabi berkata, "Demi Allah, kalau kalian bertemu Musa lalu kalian mengikutinya niscaya kalian tersesat. Kalian adalah bagian umatku. Dan aku adalah Nabi kalian"

Umar ibn al-Khattab once came to the Prophet and said: "O Messenger of Allah, I met a brother of mine from the tribe of Banu Qurayzah, and he wrote down some verses from the Torah. Shall I show them to you?'
 
Abdullah ibn Thabit related: 'At this, the expression on the Prophet’s face changed.'
 
Umar then said: 'We are pleased with Allah as our Lord, with Islam as our religion, and with Muhammad as our Messenger.'
 
Abdullah ibn Thabit added: 'Upon hearing this, the Prophet’s countenance brightened.'
 
The Prophet then said: 'By Him in Whose hand is the soul of Muhammad, if Moses were to appear among you today and you were to follow him and leave me, you would surely go astray. You are my portion of the nations, and I am your portion among the prophets"

لا تسألوا أهل الكتاب عن شيء، فإنهم لن ‏يهدوكم وقد ضلوا. إنكم إما أن تصدقوا بباطل، وإما أن تكذبوا بحق

Artinya: Nabi bersabda, "Janganlah kalian bertanya sedikitpun pada Ahli Kitab. Mereka tidak akan memberimu petunjuk (karena) mereka telah tersesat. Kalian akan percaya pada perkara batil atau tidak percaya perkara haq"

The Prophet muhammad (peace be upon him) said: "Do not ask the People of the Book about anything at all. They will never guide you, for they themselves have gone astray. You will either end up believing what is false, or disbelieving what is true"

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya: Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)

And when you see those who engage in false discourse about Our verses, withdraw from them until they turn to a different topic. If Satan causes you to forget, then once you remember, do not sit with the wrongdoing people
 
أفتطمعون أن يؤمنوا لكم وقد كان فريق منهم يسمعون كلام الله ثم يحرفونه من بعد ما عقلوه وهم يعلمون

Artinya: Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?



Meaning: Do you still hope that they will believe in you, while a group of them used to hear the word of Allah, then altered it after they had understood it, and they knew full well what they were doing?

وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاء ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ

Artinya: Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan

Meaning: And do not incline toward the wrongdoers, lest the Fire should touch you, and you will have no protectors besides Allah; then you will not be helped

MEMPELAJARI KITAB AGAMA LAIN


HUKUM MEMBACA KITAB SUCI AGAMA LAIN & PERTANYAAN TERKAIT
 
1. HUKUM MEMBACA KITAB SUCI AGAMA LAIN
 
- Bagi orang awam: Haram membaca Injil, Taurat, Bibel, dan kitab suci agama lain, karena pemahaman keislaman masih dangkal.
- Bagi ulama: Boleh membaca dengan tujuan menjelaskan pemalsuan isi kitab tersebut kepada umat Islam atau sebagai metode dakwah.
- Status: Pelanggaran larangan ini tidak menyebabkan murtad, selama hati tetap beriman kepada Allah.
- Dalil: Hadits Umar bin Khattab, larangan bertanya pada Ahli Kitab, serta QS Al-An'am:68, Al-Baqarah:75, Huud:113.
 
2. PERTANYAAN LAIN & JAWABANNYA
 
1. Mandi wajib/wudhu belum sempurna karena tidak tahu: Shalat sah, ketidaktahuan dimaafkan seperti ketidaksengajaan.
2. Menghina Allah karena lupa: Tidak murtad, lupa termasuk kondisi yang dimaafkan syariat.
3. Mengucapkan "Haleluya": Haram karena khusus ibadah Kristen, tidak murtad selama hati tetap beriman dan tidak membenarkan agama lain.
4. Menonton acara perayaan agama lain: Tidak murtad, namun haram karena dilarang dan bisa mengganggu keimanan.
5. Memanggil pacar "istriku" sebelum nikah: Tidak murtad, namun berduaan/pacaran fisik adalah haram.
6. Mengucap "Dunia ini hanya milik kita": Tidak murtad, tidak mempengaruhi akidah.
7. Jin dan kerasukan: Jin bisa masuk tubuh manusia; kerasukan bisa karena jin, penyakit, atau faktor psikologis.
8. Mengatakan desa "seindah surga": Tidak berdosa, hanya ungkapan rasa syukur.
9. Menyebut teman "dari Mars/Bulan": Tidak murtad; haram jika diucapkan untuk menghina.
10. Memanggil teman muslim dengan nama khas orang kafir: Tidak murtad; haram jika bermaksud menghina, boleh jika sekadar panggilan biasa

ENGLISH

THE LAW OF READING OTHER RELIGIONS' SCRIPTURES & RELATED QUESTIONS
 
1. LAW OF READING OTHER RELIGIONS' SCRIPTURES
 
- For ordinary Muslims: It is forbidden to read the Gospel, Torah, Bible, or other religions' holy books, as their understanding of Islam is still basic.
- For Islamic scholars: It is permitted to read them for the purpose of explaining textual distortions in these books to the Muslim community, or as a method of Islamic outreach (dakwah).
- Status: Violating this prohibition does not make one an apostate, as long as one’s heart remains firm in faith in Allah.
- Scriptural basis: Hadith regarding Umar bin Khattab, the command not to seek guidance from the People of the Book, plus Quran verses: Surah Al-An'am: 68, Surah Al-Baqarah: 75, Surah Hud: 113.
 
 
 
2. OTHER QUESTIONS & ANSWERS
 
1. Incomplete ritual bathing or ablution due to unawareness: Prayer is valid; ignorance is excused the same way as unintended error.
2. Speaking disrespectfully of Allah out of forgetfulness: Not apostasy; forgetfulness is among the conditions excused by Islamic law.
3. Saying "Hallelujah": Forbidden, as this phrase is exclusive to Christian worship. Not apostasy, so long as one remains faithful in heart and does not validate other religions.
4. Watching other religions' ceremonies: Not apostasy, yet forbidden by Islamic teachings and may weaken one’s faith.
5. Calling one’s unmarried partner "my wife": Not apostasy, but being alone with a non-mahram or intimate dating is forbidden.
6. Saying "The world belongs only to us": Not apostasy, and has no negative effect on one’s creed.
7. Jinn and spirit possession: Jinn are able to enter the human body; possession may be caused by jinn, illness, or psychological conditions.
8. Saying a village is "as beautiful as paradise": Not sinful; this is simply an expression of gratitude.
9. Joking that someone is "from Mars/the Moon": Not apostasy; forbidden only if spoken to insult or mock.
10. Calling a Muslim friend by a name associated with non-Muslims: Not apostasy; forbidden if intended to insult, permissible if used as an ordinary nickname

DALIL

أن عمر بن الخطاب جاء إلى الرسول صلى الله عليه ‏وسلم فقال: يا رسول الله إني مررت بأخ لي من بني قريظة، فكتب لي جوامع من التوراة ‏ألا أعرضها عليك؟ قال: فتغير وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم. فقال عمر: ‏رضينا بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولاً. قال: فسري عن ‏رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: والذي نفس محمد بيده. لو أصبح فيكم موسى ثم ‏اتبعتموه وتركتموني لضللتم، أنتم حظي من الأمم، وأنا حظكم من النبيين

Artinya: Umar bin Khatab pernah datang pada Nabi ia berkata: "Wahai Rasulullah aku bertemu dengan saudaraku dari kabilah Bani Quraizhah lalu ia menulis beberapa ayat dari kitab Taurat, apakah aku tunjukkan padamu?" Abdullah bin Tsabit berkata, "Maka berubahlah wajah Nabi." Umar berkata, "Aku ridha Allah sebagai Tuhan, dan Islam sebagai agamaku, Muhammad sebagai Rasulku." Abdullah bin Tsabit berkata, "Nabi gembira mendengar itu." Nabi berkata, "Demi Allah, kalau kalian bertemu Musa lalu kalian mengikutinya niscaya kalian tersesat. Kalian adalah bagian umatku. Dan aku adalah Nabi kalian"

Umar ibn al-Khattab once came to the Prophet and said: "O Messenger of Allah, I met a brother of mine from the tribe of Banu Qurayzah, and he wrote down some verses from the Torah. Shall I show them to you?'
 
Abdullah ibn Thabit related: 'At this, the expression on the Prophet’s face changed.'
 
Umar then said: 'We are pleased with Allah as our Lord, with Islam as our religion, and with Muhammad as our Messenger.'
 
Abdullah ibn Thabit added: 'Upon hearing this, the Prophet’s countenance brightened.'
 
The Prophet then said: 'By Him in Whose hand is the soul of Muhammad, if Moses were to appear among you today and you were to follow him and leave me, you would surely go astray. You are my portion of the nations, and I am your portion among the prophets"

لا تسألوا أهل الكتاب عن شيء، فإنهم لن ‏يهدوكم وقد ضلوا. إنكم إما أن تصدقوا بباطل، وإما أن تكذبوا بحق

Artinya: Nabi bersabda, "Janganlah kalian bertanya sedikitpun pada Ahli Kitab. Mereka tidak akan memberimu petunjuk (karena) mereka telah tersesat. Kalian akan percaya pada perkara batil atau tidak percaya perkara haq"

The Prophet muhammad (peace be upon him) said: "Do not ask the People of the Book about anything at all. They will never guide you, for they themselves have gone astray. You will either end up believing what is false, or disbelieving what is true"

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya: Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)

And when you see those who engage in false discourse about Our verses, withdraw from them until they turn to a different topic. If Satan causes you to forget, then once you remember, do not sit with the wrongdoing people
 
أفتطمعون أن يؤمنوا لكم وقد كان فريق منهم يسمعون كلام الله ثم يحرفونه من بعد ما عقلوه وهم يعلمون

Artinya: Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?



Meaning: Do you still hope that they will believe in you, while a group of them used to hear the word of Allah, then altered it after they had understood it, and they knew full well what they were doing?

وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاء ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ

Artinya: Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan

Meaning: And do not incline toward the wrongdoers, lest the Fire should touch you, and you will have no protectors besides Allah; then you will not be helped


MENGAPA SANTRI BARU TIDAK BOLEH DIJENGUK SELAMA 40 HARI?
 
Banyak yang bertanya, mengapa santri baru di pesantren umumnya tidak boleh dijenguk selama 40 hari pertama? Ternyata tradisi ini memiliki landasan yang kuat dari dalil dan riwayat.
 
Sejarahnya tertuang dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 142. Setelah Nabi Musa a.s. dan kaumnya selamat dari kejaran Firaun, Beliau melakukan latihan batin: menjauhi hiruk-pikuk dunia dan berfokus bermunajat kepada Allah. Nabi Musa mengasingkan diri di Bukit Sinai selama 40 hari, hingga akhirnya menerima amanah Kitab Taurat, lalu kembali membimbing Bani Israil.
 
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW berwasiat kepada Sayyidina Ali: "Wahai Ali, jika seorang mukmin sudah melewati 40 hari tanpa berhubungan dengan ulama tidak bersilaturahim, tidak mendengarkan nasihat, tidak hadir di majelis ilmu maka hatinya akan mengeras, dan ia berani melakukan dosa besar. Sebab sesungguhnya ilmu adalah kehidupan bagi hati."
 
Berdasarkan hal tersebut, santri baru diwajibkan menjalani masa penyesuaian diri. Selama 40 hari ini, mereka diminta melupakan kebiasaan di rumah, tidak memikirkan urusan keluarga, hingga hati dan jiwanya benar-benar terbiasa dengan suasana, aturan, dan kehidupan pesantren.
 
Sumber: Ceramah Ustadz Muhammad Syafiqul Anam (HMC Lirboyo)

ENGLISH

WHY ARE NEW STUDENTS NOT ALLOWED VISITORS FOR 40 DAYS?
 
Many ask why new students at traditional Islamic boarding schools (pesantren) are generally not allowed to receive visitors during their first 40 days. This tradition is rooted firmly in religious texts and prophetic teachings.
 
Its basis is found in the Quran, Surah Al-A'raf verse 142. After Prophet Musa (Moses) and his people were saved from Pharaoh’s pursuit, he undertook spiritual training: stepping away from the noise and distractions of the world to focus entirely on calling upon Allah. Prophet Musa secluded himself on Mount Sinai for 40 days, where he was eventually entrusted with the Torah, before returning to guide the Children of Israel.
 
In another narration, the Prophet Muhammad SAW advised Sayyidina Ali: "O Ali, if a believer goes more than 40 days without connecting with scholars without keeping ties with them, listening to their counsel, or attending gatherings of knowledge their heart will harden, and they will grow bold in committing major sins. For truly, knowledge is the very life of the heart."
 
Drawing from these examples, new students are required to go through a period of adjustment. During these 40 days, they are encouraged to set aside old habits from home and put aside family concerns, so their hearts and spirits may fully adapt to the atmosphere, rules, and way of life at the boarding school.
 
Source: Lecture by Ustadz Muhammad Syafiqul Anam (HMC Lirboyo)

KENAPA ADA TRADISI SANTRI BARU DI LARANG DI JENGUK SELAMA 40 HARI


MENGAPA SANTRI BARU TIDAK BOLEH DIJENGUK SELAMA 40 HARI?
 
Banyak yang bertanya, mengapa santri baru di pesantren umumnya tidak boleh dijenguk selama 40 hari pertama? Ternyata tradisi ini memiliki landasan yang kuat dari dalil dan riwayat.
 
Sejarahnya tertuang dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 142. Setelah Nabi Musa a.s. dan kaumnya selamat dari kejaran Firaun, Beliau melakukan latihan batin: menjauhi hiruk-pikuk dunia dan berfokus bermunajat kepada Allah. Nabi Musa mengasingkan diri di Bukit Sinai selama 40 hari, hingga akhirnya menerima amanah Kitab Taurat, lalu kembali membimbing Bani Israil.
 
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW berwasiat kepada Sayyidina Ali: "Wahai Ali, jika seorang mukmin sudah melewati 40 hari tanpa berhubungan dengan ulama tidak bersilaturahim, tidak mendengarkan nasihat, tidak hadir di majelis ilmu maka hatinya akan mengeras, dan ia berani melakukan dosa besar. Sebab sesungguhnya ilmu adalah kehidupan bagi hati."
 
Berdasarkan hal tersebut, santri baru diwajibkan menjalani masa penyesuaian diri. Selama 40 hari ini, mereka diminta melupakan kebiasaan di rumah, tidak memikirkan urusan keluarga, hingga hati dan jiwanya benar-benar terbiasa dengan suasana, aturan, dan kehidupan pesantren.
 
Sumber: Ceramah Ustadz Muhammad Syafiqul Anam (HMC Lirboyo)

ENGLISH

WHY ARE NEW STUDENTS NOT ALLOWED VISITORS FOR 40 DAYS?
 
Many ask why new students at traditional Islamic boarding schools (pesantren) are generally not allowed to receive visitors during their first 40 days. This tradition is rooted firmly in religious texts and prophetic teachings.
 
Its basis is found in the Quran, Surah Al-A'raf verse 142. After Prophet Musa (Moses) and his people were saved from Pharaoh’s pursuit, he undertook spiritual training: stepping away from the noise and distractions of the world to focus entirely on calling upon Allah. Prophet Musa secluded himself on Mount Sinai for 40 days, where he was eventually entrusted with the Torah, before returning to guide the Children of Israel.
 
In another narration, the Prophet Muhammad SAW advised Sayyidina Ali: "O Ali, if a believer goes more than 40 days without connecting with scholars without keeping ties with them, listening to their counsel, or attending gatherings of knowledge their heart will harden, and they will grow bold in committing major sins. For truly, knowledge is the very life of the heart."
 
Drawing from these examples, new students are required to go through a period of adjustment. During these 40 days, they are encouraged to set aside old habits from home and put aside family concerns, so their hearts and spirits may fully adapt to the atmosphere, rules, and way of life at the boarding school.
 
Source: Lecture by Ustadz Muhammad Syafiqul Anam (HMC Lirboyo)

Category

Cari Blog Ini

gus wahyu. Diberdayakan oleh Blogger.
back to top